Obrolan Pengangguran

By: centongkaleng

Pagi2 sekali Jempoltangan udah nongkrong di warungnya Madlani, maklum dia gak punya kerjaan tetap.

Pagi mad….! Kata Jempoltangan

Pagi…….jawab Madlani sambil jalan tanpa menoleh sedikitpun pada Madlani, karena dia di panggil istrinya yang cerewetnya minta ampun.

Mad bikinin kopi ya……..!

Tiba2 istrinya Madlani menjawab:

Jangan ngutang ya! Duit buat blanjanya udah habis. Sekalian bayar utang kopi yang kemarin…………….!

Jempoltangan merrem melek aja di tagih sama istrinya Madlani.

Iya mpok nanti saya bayar…..! jawab Jempoltangan.

Klintring2 suara kopi sedang di aduk, aromanya sangat menggugah selera para pecandu kopi.

Padahal kopi yang diseduh adalah kopi kualitas nomer sepuluh, yang banyak campuran jagungnya di banding kopinya, maklum kopi para penganggur yang kantongnya cekak.

Warnijem mendekati Jempoltangan sambil cewawakan mulutnya, menyuruh Madlani supaya mengangkat kasur anak nya untuk di jemur, karena semalam anak bungsunya ngompol.

Madlani angkat tuh sekalian kasurnya, jemur dekat jemuran baju…..!

Ucapannya yang tanpa embel2 aa, atau mas pada suaminya membuat Jempoltangan senyum-senyum sambil berucap dalam hati;

Dasar Warnijem sok cantik, nyuruh suami seenaknya. Gak pake aa atau mas. Coba kalau di cerai nangis tuh….!

Tapi yang namanya pasangan atau jodoh ya nerima aja lagi tuh si Madlani…..!

Kalau saya sih sori2 aja kalau digituin………

Gak seberapa lama datang Mang Haji yang sebenarnya bukan haji dari hasil ibadah ke Makkah tapi kebetulan namanya Hajidar disingkat Haji, Hajidar ini salah seorang petani kahot di desa tempat tinggal mereka.

Assalamu alaikum kata Mang Haji, dengan gaya islaminya, membuat orang yang baru ketemu bisa tertipu dengan gaya bicaranya dan penampilannya seperti haji beneran. Padahal kerjaannya suka ngadu ayam, main kartu dan main judi dadu.

Waalaikum salam serentak Madlani dan Jempoltangan menjawab!

Warnijem bikinin kopi susu satu gelas…..! pesan Mang Haji pada istrinya Madlani.

Iya ji, kata Warnijem sekenanya.

Gimana yah pemerintah kita ini, kok semakin kesini semakin ribut yah…! Buka Mang Haji pada Madlani dan Jempoltangan.

Alah kamu, kok sibuk mikirin Negara sih, mikirin utang sebungkus rokok aja bekas semalam belum beres!! Sambar istrinya Madlani yang cerewet, sambil menyerahkan kopi pesenan Mang Haji.

Jempoltangan dan Madlani ketawa cekakakan mendengar ucapan Warnijem.

Hahahahahaha…………, makanya kalau ngomong sesuai dengan kelasnya dong. Mikir jalan usaha buat sendiri aja gak becus, mikirin Negara lagi….! Ucap Jempoltangan.

Iya tuh, dasar Mang Haji, sok iye, sok pinter timpal Madlani.

Bukan begitu, paling tidak saya kan ikut membayar pancen. Kelit Mang Haji yang gak mau kalah.

Mang Haji gak tahu kalau pancen itu gak masuk kas pemerintah pusat, tapi di gunakan untuk pembangunan desa.

Dan kalaupun masuk pemerintah pusat juga hanya seper sekian persennya, malah mungkin bisa di anggap nol dalam ilmu matematika.

Sementara orang yang bayar pajaknya beribu kali lipat dari Mang Haji, gak begitu menuntut haknya untuk “mengelola” pemerintahan.

Masih gak mau kalah dengan omongan kedua temannya, Mang Haji nyerocos bilang:

Coba kalau harga gabah dinaikan oleh pemerintah, kan…………….

Belum selesai ngomong Madlani udah jawab,

Boro2 naikin harga gabah ji, nurunin harga pupuk aja kaga bisa…….! Vonis Madlani. Dia juga lupa kalau dia sendiri gak bisa ngatur pengeluaran bulanan istrinya. Sampai sampai modal dagangannya tambah susut.

Hahahhaa……., Jempoltangan tertawa dengan renyahnya.

Coba terusin dulu dong Mang Haji ngomong jangan main putus aja!!!  Ucap Jempoltangan berusaha menjadi moderator debat kusir versi warung kopi.

Gini……, kata Mang Haji, di sela helaan nafas kesalnya karena di potong omongannya oleh Madlani.

Coba kalau harga gabah di naikan, sehingga menarik masyarakat pedesaan untuk bercocok tanam padi, karena keuntungannya yang besar. Maka para pemuda desa tentu tidak akan mencari kerja ke kota. Tapi mereka berkecimpung di dunia pertanian. Karena sebagian besar masyarakat kita petani efek dominonya penghasilan masyarakat desa banyak, pengangguran berkurang, gak ada istilah malu jadi petani……., ucap Mang Haji dengan berapi-api, sampai menggunakan istilah efek domino segala. Maklum semalam dia melihat berita bank century yang di duga akan mengakibatkan efek domino apabila tidak segera di tangani.

Baru selesai Mang Haji bicara, istrinya Madlani cewawakan lagi,

Madlaniiiiiiiiiiiiiii……………, gimana sih kok jemuran kasurnya malah basah kena kopi….!!

Makanya kalau kerja yang teliti!!

Pasti gara gara Jempoltangan dan Mang Haji yang ngajak ngobrol suami saya, sampai2 kopinya lupa gak di bawa dan sekarang tumpah mengenai kasur….!

Sambil menelan ludah kecut karena dijadikan kambing hitam, Mang Haji dan Jempoltangan pergi meninggalkan Madlani yang di marahin istrinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s