Lembah Patah Hati

Cerita silat ini saya dapatkan dari blog sebelah.

silahkan dinikmati

~ dh : Lembah Beracun ~
Karya : Khu lung (Chin Yung ) ???
Saduran : OPA
Jilid 1
SUATU MALAM……..
Itu merupakan suatu malam yang seram, kesunyian
meliputi seluruh jagad. Kilat dan guntur saling meyusul
memecahkan suasana sunyi malam itu.
Keadaan pada saat itu sungguh menakutkan.
Pada suatu gunung yang tinggi dengan jurangnya yang
curam dan berhutan belukar tidak kelihatan barang seekor
binatang buas sekalipun. seolah2 disitu sudah tidak ada
penghuninya.
Sesosok bayangan manusia yang pendek kecil, dapat
kelihatan bergerak atau lebih mirip kalau dikatakan tengah
merayap keatas gunung yang seram sunyi itu.
Bayangan itu sebentar jatuh sebentar bangun, terus
merayap keatas gunung, gerakannya seperti juga gerakan
binatang liar yang sedang melarikan diri dari kurungannya
dan hendak kembali ke hutan.
Pakaiannya compang camping, pada badannya disana
sini kedapatan banyak luka dan berlumuran darah……
Tetapi ia seperti didorong oleh suatu pengaruh gaib, ia
masih dapat bertahan terus atas semua penderitaan.
Kilat yang menyambar nyambar menyeramkan, disusul
oleh suara geledek yang mengelegar2 membuat gunung
tersebut rasanya seakan2 hendak ambruk, tetapi hujan turun
dengan sangat lebatnyaa.
Bayangan kecil itu kelihatan berhenti dibawah sebuah
pohon yang besar yang rindang, rupanya hendak meneduh
sejenak untuk beberapa saat disitu. Sesaat kemudian, ia
mendongakan kepalanya mengawasi langit yang gelap
gulita.
“Oh Ayah… ayah……….” terdengar ia mengeluh
perlahan.
Ia ternyata seorang anak tanggung yang usianya kira2
baru tiga belas atau empat belas tahun. Sehelai kain yang
menutupi badannya kelihatan sudah mesum dan compang
camping, kini sudah menjadi basah kuyup karena
kehujanan.
Air hujan yang menerpa wajahnya yag kecil cakap, telah
membuat penglihatannya menjadi guram. Dengan perasaan
sedih, ia memesut air hujan dimatanya dengan lengan
bajunya.
Apakah itu air mata atau air hujan, ia sendiri juga tidak
dapat membedakannya lagi.
Keletihan dan kedukaan dengan tajam telah menggilas
gilas jiwa bocah yang masih belum dewasa ini.
Ia melanjutkan perjalanannya, tidndakan kakinya makin
lama makin berat.
Sebentar2 ia menoleh kebelakang sambil menghela napas
panjang. ia ingin secepat mungkin dapat memasuki rimba
guna mencari tempat untuk meneduh dari serangan air
hujan.
Sayang sebelum maksudnya tercapai, ia telah rubuh
karena amat lelah dan lapar.
Ia kertak gigi, berkata pada dirinya sendiri:
“Ho kie, Ho Kie, kau tidak boleh mati, kau pasti akan
dapat bertahan sampai melewati bukit Pek-Kat Nia didunia
ini! Kau harus secepatnya mencapai puncak gunung Sin
hong untuk mencari itu orang aneh berkepandaian tinggi
yang sedang menyembunyikan diri disana……..”
Apa mau, ketika ia mementang matanya, didepan hanya
kelihatan deretan gunung yang menjulang tinggi yang pada
saat itu tengah disirim air dari langit.
“Akh! Dimana adanya puncak gunung Sin hong?
Dimana adanya temapt untuk mencari orang aneh yang
berkepandaian tinggi itu?” kembali ia berkata2 sendirian.
Ia coba berbangkit, hendak meneruskan perjalanannya.
Kakinya semakin lama semakin berat bertindak.
Tenaganya yang terakhir sudah hampir digunakan habis.
Tetapi ia kuatkan hati dan paksa berjalan terus.
Mendadak telinganya mendengar suara seorang yang
tertawa dingin. Dalam suasana yang menyeramkan, suara
tertawa itu membuat bulu roma pada berdiri.
Dengan bergemetaran, ia menghentikan tindakaannya.
Ia memasang telinganya, kemudian berpikir dengan
perasaan takut..Aaaa, apakah mereka mengejar aku?
Perasaan takut membikin ia tidak perdulikan lagi adanya
geledek dan hujan, dengan sisa tenaganya yang masih ada,
ia terus lari keatas gunung.
Dijalanan pergunungan itu penuh dengan lumpur. Belum
berapa jauh ia lari kakinya terpeleset, badannya yang kecil
itu tergelincir kedalam lumpur.
Tetapi ia terus keraskan hatinya. ia bangkit kembali dan
lari lagi. Sebentar saja ia sudah berhasil mencapai jarak
sepuluh tombak lebih.
Mendadak dilihatnya disebelah depan ada bayangan
hitam yang sedang mendatangi dan menghampiri dirinya.
Ia niat menyingkir, tetapi bajunya kena kecandak. Ia
menjerit kaget, lal berbalik dan tangannya yang kecil
menyerang. Apa maum tangannya kontan dirasakan sakit.
Ketika ditegasinya rombongan bayangan hitam itu ternyata
cuma pohon yang banyak durinya, yang dikiranya orang
yang menghampirinya, padahal ia sendiri yang lari
menghampiri pohon2 itu.
Bajunya robek dan badannya berdarah, napasnya
tersengal2. Dalam keletihannya ia coba melongok lagi
kebawah gunung.
Gelap gulita, tak tampak bayangan seorang manusia pun
disana.
Ia sesali dirinya sendiri. Nyalinya terlalu kecil. Meskipun
gerakan mereka lebih cepat, tetapi untuk mencapai jenazah
ayaj, setidak2nya harus makan waktu satu jam lebih. tidak
mungkin mereka dapat mengejar kemari.
Tetapi belum lenyap pikirannya itu, mendadak
didengarnya suara orang berkata:
“Be Tongcu, jangan kasih lolos anjing kecil itu, sebag
dibadan bangsat tua tiu tidak kita dapati barang yang
dicari.”
Bocah itu ketakutan setengah mati. Sepasang matanya
berjelilatan didalam kegelapan.
Badannya gemearan, diam2 ia mendoa: “Ayah, mohon
kau melindungi Kie-jie supaya bisa lolos dari cengkraman
mereka….”
Pada saat itu, kilat telah menerangi jalanan gunung yang
kecil. dari penerangn itu kelihatan beberapa bayangan
hitam yang sedang lari dengan cepat ke atas gunung.
Si bocah tidak dapat melihat tegas wajah mereka, ia
hanya dapat melihat bergemerlapannya sinar golok yang
terkena sinar kilat.
Sudah terang, bahwa orang2 itu sedang mengejar
kearahnya dan hendak mengambil jiwanya. Untuk sesaat
lamanya, ia berdiri dengan wajah ketakutan, tetapi dalam
hatinya masih terus berkata : Aku tidak boleh mati!
Keturunan keluarga Ho cuma tinggal aku seorang. Kalau
aku mati, siapa yang akan menuntut balas untuk kematian
ayah yang menggenaskanitu? Lagi pula sebelum ayah
menutup mata, beliau telah suruh aku lekas menyingkirkan
diri, malah beliau mengatakan bahwa atas diriku ada
sangkut pautnya tentang mati hidup sembilan partai besar
dalam rimba persilatan……benarkah aku ada sangkut
pautnya dengan nasib seluruh rimba persilatan? Benarkah
kedudukanku sedemikian pentingnya?
Rupa2 pertanyaan, kekuatiran dan rasa ketakutan yang
tercampur aduk dalam otaknya.
Ketiak ia tersadar dari pikirannya yang mleayang, ia
dapatkan bahwa orang2 yang mengejar padanya sudah
terpisah kira2 1 tombak jauhnya.
Bukan kepalang kaget dan takutnya dia, buru2 ia angkat
kaki dan mabur lagi….
Air hujan terus seperti dituang dari langit. Gunung itu
seolah2 seekor binatang yang hendak menelan bocah yang
belum apa2 itu.
Mendadak ia dengar pula suara orang yang bicara
dengan nada yang menyeramkan.
“Anjing kecil, ajalmu sudah didepan mata, kau masih
mau kabur kemana?”
Suara itu kedengarannya sangat nyata. terang pengejar
sudah berdada dekat dibelakang dirinya.
Bocah itu nyalinya hampir copot, dengan kekuatan yang
masih ada, dia terus lari sambil berseru
“Tolong….tolong…..”
Tetapi suara permintaan tolongnya itu telah ditelan oleh
sang malam yang gelap, oleh air hujan dan guntur yang
bersambung tak henti2nya.
Dipergunungan yang sepi, siapa yang bisa dengar
seruannya? Dan andai kata ada yang mendengar, siapakah
yang mau mencampuri urusan2 orang lain?
Saat itu kembali terdengar pula suara yang seram itu.
“Tongcu, anjing kecil itu sudah dekat dipuncak gunung!
Kita harus lekas turun tangan, sekalian jangan biarkan dia
lolos dari tangan kita….!”
Sibocah thau bahwa orang yang bicara tadi tentunya
adalah kauwcu dari Hian kui kauw yang mempunyai gelar
Cian Tok Cian Mo atau Manusia Iblis Sangat Jahat, yang
sedang menggunakan ilmunya menyampaikan suara sampai
ribuan lie, untuk memberi perintah pada orang2nya supaya
segera menangkap atau membinasakan diriny sibocah yang
bernasib malang itu.
Ayahnya sibocah sudah binasa ditangan merea!
Mereka itu sungguh kejam. sesudah membinasakan
ayahnya sekarang mereka masih hendak menumpas
keturunannya. Mereka anggap hidupnya bocah itu seperti
juga menanam bibit bencana bagi mereka dikemudian hari.
Dari suaranya kauwcu yang memberi komand itu,
sibocah sekarang sudah tahu bahwa dirinya sudah berada
diujung paling tinggi dari bukit Pek-Kut nia. Jadi puncak
gunung Sin hong tempat kediaman orang aneh ang
berkepandaian tinggi itu sudha tidak jauh lagi dari situ.
Ini ada merupakan suatu titik sinar pengharapan bagi
jiwanya Ho Kie yang terancam bahaya maut itu.
Maka, ia lari terus sambil berteriak-teriak minta
tolong.”Cianpwe, tolong…..!”
Tetapi pada saat itu terdengar suara guntur. hingga suara
permintaan tolongnya ditelan oleh bunyi guntur.
Apakah itu sudah kemauan takdir, Ho Kie harus binasa
digunung yang sepi itu dalam usianya yang masih begitu
muda?
Suara seram tadi terdengar pula:
“Anjing kecil, sekalipun kau berteriak sampai pecah
tenggorokanmu, siapa yang akan mendengar? Perintah
kauwcu sudah keluar. sebaiknya kau menyerah saja. Kami
tongcu mungkin masih memandang usiamu yang masih
begitu muda, dapat memberi kelonggaran membinasakan
kkau dalam keadaan tubuhmu utuh.”
Pada saat waktu suara itu berhenti. orangnya sudah
dibelakang Ho Kie.
si bocah ketika menoleh kebelakang, melihat tidak jauh
darinya ada beridir seorang tua yang berbadan tegap dan
wajahnya keren sambil menyoren golok.
Dibawah sinar kilat. Ho Kie melihat wajah yang sudah
serem. ketika tertawa lebih menyeramkan lagi tampaknya.
Wajah itu masih teringat betul dalam otaknya Ho Kie,
peristiwa berdarah yang masih belum lama terjadi kembali
terlintas dalam otakknya.
Belum lama berselang, ketika sang malam baru tiba,
orang ituah yang memimpin sekawanan manusia buas
berkepandaian tinggi, mengejar dan membunuh ayahya.
Dan sekarang ia kembali muncul didepan matanya,
sudah tentu bermaksud hendak membinasakannya sekalian.
Ho Kie ketakutan, ia berteriak dan lari ke luar lagi….
Mendadak terdengar pula suara perintah kauwcu:
“Bo tongcu, lekas turun tangan, jangan biarkan bocah itu
sampai menginjak tanah telarang sisetan tua Cit Cie Sijari
Tujuh.!”
Orang tua itu tertawa dingin, lalu gerakan badannya,
secepat kilat sudah memburu ke arah sibocah tadi.
Ho Kie tiba diatas gunung, mendadak didepan matanya
tampak semua kosong. Ia hentikan larinya dan apa yang
terlihat, membikin semangatnya terbang seketika.
Ternyata ia sudah tiba ditepi sebuah jurang yang sangat
dalam.
Keadaan jurang itu sangat berbahanya, di kanan dan
dikiri tebing jurang tampak menjulang tinggi, kecuali itu
jalanan kecil yang barusan dilalui, sudah tidak ada jalan
keduanya lagi.
Ho Kie berpaling ke belakang dengan penuh ketakutan,
dimana orang tua berwajah seram itu sudah berada dekat
sekali dibelakangnya, seolah2 terus dia dibuntuti, seperti
kucing mempermainkan tikus.
Ho kie sekarang menghadapi jalan buntu.Didepan ada
jurang, dibelakang sudah tidak ada jalan untuk mundur…..
Kecuali terjun kedalam jurang, jalan mundur berarti
mengantarkan jiwanya kedalam tangannya orang tua yang
kejam itu.
Ho Kie gemetaran bdannya menekankan rasa takut dan
ngeri, tanpa sadar ia mundur dua tindak, terpisah dengan
jurang cuma tinggal 1 tombak saja.
“Anjing kecil, aku ingin tahu kau masih bisa lari
kemana?” demikian orang tua berwajah seram itu berseru.
Menganggap sudah tidak ada harapan untuk hidup, Ho
Kie jadi nekad. Dengan mata mendelik lebih dulu ia
memaki orang tua itu.
“Bangsat tua! Kejam benar kau. Ayahku ada
permusuhan apa dengan kau? mengapa kau bunuh dia? Aku
seorang anak kecil saja kau masih tidak mau lepaskan, apa
kau bermaksud hendak menumpas habis seluruh keluarga
Ho?”
“Ayahmu si anjing tua itu, sejak menjadi anggota Hian
Kui kauw. kauwcu dengan kami semua perlakukan
padanya dengang baik, siapa nyana dia telah menghianati
perkumpulan dan hendak mabur. Selain daripada itu, dia
juga mencuri sebuah….” belum habis ucapan orang tua itu,
kembali terdengar suara kauwcu yang amat dingin.
“Be tongcu, lekas turun tangan! Jangan sampai si setan
tua Cit-Cie Lo kui nanti dapat dengar perkataannya dan
memberi pertolongan kepadanya.!”
Orang tua yang dipanggil Bo Tongcu itu lantas
menjawab sambil bungkukkan badan,
“Bo Pin menjunjung tinggi perintah kauwcu!”
Orang she Bo itu lantas angkat kepalanya, matanya
memancarkan sorot beringas.
Ho Kie terkejut, Ia pernah mengikuti ayanya yang
menjadi anggota perkumpulan Hian Kui kauw hingga ia
tahu benar sifat2 orang she Bo yang bergelar Pai Lui Khiu
atau sitangan geledek ini. Orang ini ada memangku jabatan
sebagai kepala badan hukum dari perkumpulan Huan kui
kauw, boleh dibilang mirip seorang tukang pukul.
pada waktu biasa, sukar sekali untuk mengetahui wajah
orang she Bo ini.
Oleh karena ayahnya terbinasa justru oleh orang she Bo
ini, maka timbul niatnya Ho Kie untuk mengawasi dulu
dengan sepuas hati ia mencongor pembunuh ayahnya itu
sebelum ia menemui ajahnya.
Apa mau, pada saat itu sinar kilat sudah tidak kelihatan
lagi, malam juga semakin gelap. Kecuali cambang dan
alisnya yang putih yang nyata sekali kelihatan, wajah orang
she Bo itu tidak dapat dilihat dengan tegas.
Ho Kie sambil mengertek gigi, berkata gentas:
“Orang she Bo, Aku ingat benar bagimana raut muka
cecongormu ini. Sekalipun aku menjadi setan dialam baka,
aku juga akan menangkap kau untuk menuntut balas
dendam sakit hati ayahku…”
Perkataan Ho Kie belum keluar habis, Bo Pin sudah
keluarkan bentakan keras sambil menyerang dan
menjambret pundak kirinya.
Ho Kie kegusarannya sudah meluap.
“Bangsat tua, aku akan adu jiwa dengan kau..!”
bentaknya nyaring.
Dengan cepat tangannya menghajar perut Bo Pin.
Ho Kie tau kekuatannya sendiri, yang tentu saja tidak
sebanding dengan kekuatan Bo Pin. tetapi ia tidak mau
mandah menerima kemaitan dengan begitu saja.
Serangan itu telah dilancarkan dengan menggunakan
kekuatan tenaga sepenuhnya.
Sebagai tukang pukul, ilmu silat Bo Pin sudha tentu
diatas kepandaian kawan2nya, maka dengan cara
bagaimana sibocah dapat menjamah tubuhnya?
Bo Pin hanya ganda ketawa atas serangan Ho Kie, lalu
menangkis dengan seenaknya. Ho Kie mundur terhuyung2
dan jatuh ditanah.
Ingin mempertahankan jiwanya, Ho Kie telah
melupakan keadaan dirinya sendiir. Baru saja terjatuh ia
sudha lompat bangun lagi, dan kali ini ia telah
menggunakan kakinya menendang bagian bawah tubuh Bo
Pin.
Ho Kie cuma mengerti ia tidak mau mati begitu saja,
maka kepandaian ilmu silatnya yang serba sedikit sudah
dikeluarkan semua untuk menyerang musuhnya.
Bo Pin sungguh tidak menyangka bahwa bocah sekecil
itu juga berani turun tangan terhadap dirinya.
Dalam gusarnya, setelah menghindaran satu serangan
dari Ho Kie, ia menyerang kepala bocah tersebut.
Siapa sangka, sibocah sudah berlaku nekad benar2.
Ketika satu tendangan Bo Pin sudah meluncur keluar,
bukannya mundur, sebaliknya malah maju menerjang.
Ia mementang kedua tangannya, maksudnya hendak
merangkul kaki lawannya dan hendak digigitnya sekuat
tenaga.
“Anjing kecil, serahkan jiwamu!” Bo Pin membentak
sangat gusar.
Ho Kie terkejut, ternayta tubrukannya tadi telah
mengenai tempat kosong. Mendadak ia merasakan
gegernya disambar oleh angin yang sangat kuat.
Ho Kie memang sudah mengerti, bahwa kalau cuma
mengandal pada kepandaiannya yang tidak berarti, suka
untuk ia dapat melawan Bo Pin. Tetapi ia mempunyai
kemauan yang keras, ia tidak mau mandah binasa begitu
saja.
Pada saat2 demikian itu, telinganya seperti mendengar
pesan ayanya pula waktu hendak menutup mata.
“Kie-jie, kau tdak boleh mati! Kau harus lekas lari! Awas
dirimu bukan saja ada menyangkut keluarga Ho, tapi juga
kau mempunyai hubungan erat dengan bangun atau
jatuhnya sembilna partai besar dalam rimba persilatan.”
Semua perkataan itu sepatah demi sepatah seperti jarum
yang menusuk ulu hatinya…..
Dengan tabah ia kuatkan diri. Karena ia ditugaskan
untuk hidup, sekali2 ia tidak boleh binasa.
Selagi berpikir demikian, serangan Bo Pin yang hebat
tiba2 menggempur belakang dirinya.
Entah dari mana datangnya kekuatan tenaganya,
mendadak semangatnya bangun untuk melawan musuhnya.
Tetapi serangan itu seperti juga telur menghantam batu.
Terdengar suara Beleduk. Matanya berkunang2,
mulutnya berteriak2 ketakutan. Ia hanya merasakan bahwa
tubuhnya telah terlempar ketengah udara, sementara
mulutnya sudah menyemburkan darah segar….Matanya
makin gelap, dan badannya melayang masuk kedalam
jurang.
Dalam keadaan separuh sdara lapat2 Ho Kie ingat,
dirinya seperti sudah meninggalkan dunia yang fana ini,
badannya seperti kosong, melayang ditengah udara.
Diantaranya kosong, tidak ada apa2 yang dapat dijambret
untuk menolong dirinya. Ia terus meluncur turun kebawah.
Dalam keadaan demikian hatinya malah menjadi tenang.
Air muka orang yang dikenal betuh oelhnya dengan tegas
terbayang didalam otaknya.
Siapa dia? itu adalah ayahnya sendiri yang berlepotan
darah, sepasang matanya yang sayu memandang padanya
dengan penuh kasih sayang.
Sang ayah mengharapkan sangat agar anaknya bisa
meloloskan diri dari cengkraman kawanan manusia iblis
itu, karena perlu untuk menyambung turunan keluarga Ho
dan penting artinya buat jatuh bangunnya sembilan partai
besar dalam dunia rimba persilatan.
Tetapi akhirnya ia tidak terlepas dari kemauan takdir.
Sesudah dekat berada dipuncak gunung Sin hong, sehingga
terjerumus masuk kedalam jurang.
Kesemuanya itu telah terbayang dalam otaknya yang
makin lama makin tidak nyata, dan akhirnya perlahan2
kehilangan perasaannya sendiri..
-oo0dw0oo-
MALAM, tanpa dirasakan lagi telah berlalu perlahan.
Hujan angin, kilat dan geledek telah berhenti dengan
sendirinya. suasana mulai terang kembali.
Entah berapa lama sang waktu telah berlalu…. Ho Kie si
bocah itu, perlahan2 telah tersadar dari impiannya yang
buruk.
Ia mengucak2 matanya dan mengawasi keadaan
disekitarnya.
Ia melihat bahwa tempat tersebut ternyata adalah suatu
tempat yang amat sunyi. Tak ada hujan, tidak ada angin,
tidak ada kilat ataupun geledek, juga tidak lagi terdengar
suara Pun-Lui khiu yang amat menyeramkan….
Tempat apakah ini?
Itu seolah2 suatu tempat yang tenang tentram, bebas dari
segala gangguan dunia, juga seperti suatu kuburan kuno
yang luas. Gelap dan sunyi.
Ia mendadak terkejut, hatinya berdebaran, maka lantas
bertanya2 kepada dirinya sendiri: “Ah.. apa aku sudah
mati? atau mungkinkah aku sedang mimpi…?””
Benar! tapi ia pernah dikejar2 oleh Bo Pin, terdesak
sampai ditepi jurang dari bukit Pek Kut-nia, dan kemudian
diserang oleh orang she Bo itu.
semua kejadian yang sudah lalu kembali berlintasan
didalam otaknya. Apakah dirinya berada didalam
akherat…?
Mendadak ia angkat tangannya, dengan sekuat tenagan
ditepokkan keatas batok kepalanya sendiri….
“Plak..” terdengar suara nyaring, kepalanya dirasakan
sakit
Ia tertawa, sebab dengan rasa sakit itu membuktikan
bahwa ia belum mati, juga bukan sedang mimpi, melainkan
sadar sesadar2nya. Ia masih berada didalam dunia.
Kembali ia pentang lebar kedua matanya, ia dapatkan
dirinya berada didalam sebuah goa yang dingin hawanya.
Disekitar goa itu berdinding batu hijau terang, diatas ada
sebuah pelita yang memancarkan sinar hijau.
Dalam goa itu dipenuhi oleh sinar hijau, angin dingin
meniup sepoi2, orang yang berada didalam goa seperti
berada didalam air laut….
Disitu tidak kelihatan bayangan seorangpun juga,
sesungguhnya amat sunyi, barang perabotan rumah tangga
seperti meja atau kursi juga tidak terdapat sama sekali.
Dengan perasaan heran ia berduduk, lalu menanya
kepada dirinya sendiri: “Ah! ini tempat apa?”
“Ini adalah Lembah Patah Hati.”
Jawaban yang tidak terduga2 itu terdengar dibelakang
Ho Kie.
Dalam kagetnya ia lantas berpaling. Dan apa yang
disaksikan, membuat ia hampir saja menjerit.
Dibelakang dirinya kira2 berjaram enam kaki jauhnya,
ada berdiri satu orang yang aneh bentuknya.
Orang aneh itu dari ujung kepala sampai kakinya
dibungkus oleh kain berwarna putih dan hitam, kecuali
sepasang amtanya yang memancarkan sinart tajam,
rambutnya juga terbungkus rapat.
Nampaknya ia tengah mengawasi Ho Kie dengan heran,
sorot matanya yang tajam terus menatap wajah Ho Kie,
sementara mulutnya terus mengeluarkan suara tertawa yang
sangat aneh.
Ho Kie dengan hati berdebaran mulai memikir, mana
boleh jadi didalam dunia ada makhluk yang aneh seperti
ini? Apakah itu bukan setan atau dedemit yang biasanya
terdapat didalam akherat?
Berputarlah rupa2 pertanyaan dalam otaknya pada saat
itu.
Kalau mau dikatakan akherat, mengapa pula orang itu
menyebut tempat ini sebagai Lembah Patah Hati? Apakah
diakherat ini ada lembahnya yang dinamakan Lembah
Patah Hati?
Ia lalu besarkan nyalinya dan coba2 bertanya:
“Hai, kau ini manusia atau setan?”
Makhluk itu kembali perdengarkan suaranya yang aneh
seram, sampai bulu romanya Ho Kie pada berdiri semua
dan badannya terasa mengigil.
Mendadak makhluk itu menghentikan ketawanya dan
berkata perlahan:
“Kalau aku setang, siang2 sudah aku bawa kau keneraka.
Tapi malah sebaliknya, aku sudah bisa narik kembali
dirimu dari ancaman bahaya maut.!”
Suaranya kedengaran sangat dining, sedikitpun tidak
seperti orang yang mempunyai perasaan welas asih.
Ho Kie adalah seorang anak yang cerdik. Dari
keterangan itu segera ia mengerti bahwa jiwanya tentu
sudah ditolong dari ancaman bahaya maut oleh siorang
aneh.
Apakah orang ini adalah orang aneh yang berkepandaian
tinggi yang pernah disebut oleh ayahnya ketika masih
hidup?
Ia sebenarnya hendak menanyakan nama orang aneh itu.
tetapi perasaannya telah dibikin takut oleh sorot mata orang
tersebut yang bercahaya begitu bengis dan kejam, sehingga
akhirnya dia tidak berani membuka mulut, sampaipun
ucapan terima kasih tidak berani di keluarkan dari
mulutnya.
Kiranya orang aneh itu bukan hanya tajam
penglihatannya, dikedua matanya juga seperti
memancarkan sinar biru seperti binatang buas diwaktu
malam hari. Kalau dilihat dari sini, mana dia mirip dengan
manusia? Adalah elbih mirip kalau mau dikatakan sebagai
makhluk jejadian atau setan.
Karena perasaan takut yang menghingapi dirinya, sesaat
lamanya ia seperti orang kesima. Orang aneh itu mendadak
tertawa serta berkata:
“Setan cilik! kau takut apa? aku toh tidak akan menelan
kau? Apa kau sekarang sudah merasa sedikit enakan?”
Meskipun pertanyaan itu mengandung maksud perhatian
yang ditujukan si anak kecil itu, tetapi karena pada logat
suaranya itu agak ketus dan dingin, maka orang yang
mendengarkan bisa menjadi merasa kurang enak.
Dalam hati Ho Kie merasa agak mendongkol dan timbul
dalam pikirannya dugaan begini: Orang ini pasti bukan
yang disebuh ayah dulu, karena dari suaranya yang ketus,
kelihatannya seperti orang yang tidak mempunyai perasaan
terhadap sesama manusia. Maka ia juga lantas menjawab
dengan suara dingin:
“Atas perbuatanmu yang sudah menolong selembar
jiwaku itu, disini aku Ho Kie mengucapkan banyak2 terima
kasih. Tetapi kalau kau anggap adanya aku disini akan
mengganggu ketentramanmu, mengapa tidak kau antarkan
aku kelembah Muikok lagi supaya aku dibunuh oleh
kauwcu Hian Kui-kauw?”
Orang aneh itu tertawa terbahak2, kemudian berkata:
“Kau mau mati? Tidak begitu gampang. Sekarang
kematianmu sudha lewat. Sekalipun kau ingin mati, raja
akherat belum tentu mau menerima kau. Hai setan kecil,
siapa namamu?”
“Namaku Ho Kie”
Orang aneh itu tiba2 ketawa pula bergelak2.. Dengan
tangannya ia menuding Ho Kie seraya berkata:
“Ho Kie.. Ho Kie.. Nama ini boleh juga! Mo ciok wie kie
(apa yang perlu diherankan) Cuma satu bocah cilik yang
tiada berarti. Apa yang perlu dibuat heran?”
Ho Kie yang digoda demikian, hatinya semakin
mendongkol. Ia pikir ia hendak berlalu dari depan orang
aneh iut. Tetapi baru saja bergerak. kepalanya mendadak
dirasakan puyeng, badannya dirasakan tidak lagi bertenaga,
maka akhirnya ia terjatuh numprah lagi ditanah.
“Setan kecil, kau mau apa?” tanya orang aneh itu dengan
suaranya yang dingin ketus.
“aku mau perti dari sini!”
“Aku disini mempunyai satu aturan, orang hidup yang
datang kemari berarti mencari kematian, tetapi kalau orang
yang mau mati masuk kemari, itu berarti akan terbuka jalan
hidup baginya. Kalau ada salah satu orang yang mau mati
dapat ku pungut dilembah Patah Hati ini, maka selanjutnya
orang itu cuma bisa mengikuti aku melewati penghidupan
antara mati tidak, hiduppun tidak. Kau mau pergi? Tidak
begitu mudah! lebih baik kau berdiam disini dengan
tenang.”
“Itu toh kau sendiri yang suka menolong aku bukan?
Pada saat itu aku sendan dikejar dan dipukul orang”
“Jikalau kau tidak bermaksud mencari aku, mana bisa
kau lari ke Lembah Patah Hati yang jarang didatangi oleh
manusia ini.”
“Ngaco! Maksudku hendak mencari orang aneh
berkepandaian tinggi yang berdiam dipuncak gunung Sin
hong. Aku sendiri tidak mengetahui kau ini setan atau
manusia, mana bisa lantas kau kata aku mencari kau?”
“ha..Ha…! Apa orang yang ingin kau cari itu bukannya
orang berjari tujuh si tua bangka Cit cie?”
“Aku tidak mengetahui nama orang tua itu, tapi ayah
menyuruh aku….”
“Apa kau kira ia lebih kuat dari pada aku? Kita bertiga
adalah : Sin hong, Kui kok, dan Toan Theng Gay (Lembah
Patah Hati). kekuatannya ada berimbang. Siapapun tidak
ada yang lemah dari yang lainnya. Lebih baik kau
mengikuti aku, mungkin ada lebih baik dari pada mencari
dia..”
Ho Kie merasa sedikit heran, maka lalu bertanya lagi:
“Tempat ini mengapa sampai bisa dinamakn Lembah
Patah Hati?”
Siapa tahu, dengan dikeluarkannya pertanyaan itu si
orang aneh badannya kelihatan gemetaran dengan beruntun
ia mundur dua langkah dan lantas membentak dengan
suara tertahan:
“Aku melarang kau menanyakan soal ini lagi!”
Ho Kie tambah tidak mengerti, maka lalu bertanya pula:
“kalau begitu, siapa namamu?”
Orang aneh itu kelihatan terperanjat, dengan terhuyung2
ia mundur lagi tiga tindak. sinar matanya yang biru
kelihatan bertambah menakutkan. Dengan perasaan aneh
Ho Kie kembali bertanya:
“Kau telah menolong selembar jiwaku, apakah terhadap
nama saja kau berkeberatan memberitahukan padaku?”
Mendadak orang aneh itu bergerak badannya, dengan
cepat sudah berada disampingnya Ho Kie. Tangannya
sudah mencekal pundak Ho Kie, Lantas ia membentak
dengan suaranya yang keras:
“Aku tidak ijinkan kau bertanya….”
Ho Kie yang merasa pundaknya dicekal merasakan
tulang pundaknya seolah2 telah hancur.
Ia tidak mengerti, apa kesalahan dari pada pertanyaan
tadi. Apakah menanyakan anma saja juga tidak boleh
sehingga telah membuat orang itu gusar sedemikian rupa?
Apakah ia mempunyai rahasia yang tidak boleh
diketahui oleh orang kedua?
Kalau benar demikian halnya, orang itu benar2
merupakan orang aneh nomor satu dalam dunia.
Pertanyaan itu telah berputaran didalam otaknya, tetapi
selalu tidak mendapatkna jawaban yang tepat. Rasa sakit
dipundaknya itu telah menambah penderitaan pada dirinya
sehingga keringat dingin membasahi sekujur badannya.
Tetapi kemudian ia balik berpikir: Jikalau telah ditolong
olehnya, kalau ia tidak suka ditanya, buat apa aku mesti
menanyakan terus? Begitulah maka terpaksa ia menahan
rasa sakit dipundaknya itu.
Sambil menunjukkan ketawa getir, lalu berkata dengan
perlahan,
“Baiklah kalau kau tidak sudi mengatakan padaku, aku
akan ingat2 saja pakaianmu yang akan kuukir selamanya
dalam hatiku. Aku tidak akan melupakan budimu yang
telah menolong jiwaku, begitu saja rasanya sudah cukup.”
Mendadak badan orang aneh itu menggetar, ia
melepaskan tangannya dan mundur tiga tindak. Karena
wajah orang aneh ini terbungkus oleh kain hitam dan putih,
maka siapapun jadi tidak dapat melihat perubahan apa
sebenarnya yang terjadi diwajahnya itu.
Hanya, dari sinar mata orang tersebut yang dari bringas
telah berubah menjadi guram, dapat diduga rupanya hati
orang ini sedang mengalami penderitaan hebat.
Ho Kie sambil memijit2 pundaknya yang kembali terasa
sakit, lalu berkata sambil tertawa getir:
“Kau… kau pasti pernah mengalami penderitaan hidup
pada masa yang lalu, menyesal karena aku ingin dapat
membalas budimu, sehingga pertanyaanku tadi agak
menusuk persaanmu. Locianpwe, sudkah kau tidak
sesalkan perbuatanku tadi?”
Orang aneh itu mendadak menghela napas panjang,
dikelopak matanya telah mengembang air matanya.
Ho Kie terperanjat, dalam hatinya diam2 ia berpikir:
“Benar saja, dugaan ku ternyata tidak keliru, ia psati
pernah…..”
Selagi Ho Kie berpikir demikian, tiba2 ia mendengar
orang aneh itu berkata sambil menghela napas:
“ah, sudah beberapa puluh tahun lamanya tidak pernah
ada orang yang menanyakan namamku, sampai aku sendiri
rasanya sudah melupakan namaku.”
“Locianpwe, akalu kau sudah tidak ingat namau, ya
sudahlah. Jangan locianpwe terlalu memikirkan hal itu
lagi.” kata Ho Kie sambil ketawa getir.
Meskipun dimulutnya Ho Kie mengatakan demikian,
tetapi dalam hatinya tidak mau percaya bahwa dalam dunia
ini ada orang yang melupakan namanya sendiri.
Tetapi orang aneh itu setelah mendengar perkataan Ho
Kie, sebaliknya malah berkata sambil menganggukan
kepala.
“Kalau kau kepingin tahu juga namaku dan siapa aku ini,
Panggil saja aku Toan-theng lojin”
Toan-theng Lojin sama artinya dengan Orang tua yang
patah hati. Alangkah menyedihkan sebutan nama itu.
Bagaimana ia bisa menggunakan nama sebutan yang kejam
ini? Soal apakah sebetulnya yang telah membuat ia sampai
patah hati?
Ho Kie benar2 tidak habis mengerti, karena ia masih
kecil, sudah tentu ia tidak mengerti banyak urusan dalam
dunia.
Toan-theng lojin kembali berkata:
“Disini ada berdiam seorang tua yang berhati duka
karena pengalaman hidupnya menyedihkan. Hampir segala
penderitaan hidup dalam dunia telah menimpa diri orang
tua yang bercelaka itu. Akh… Habis nama apalagi yang
akan kupakai. kalau tidak menyebut begitu? Dan
bagaimana pula kalau aku tidak menyebut tempat
kediamanku sebagai Lembah Patah Hati?”
Perkataan yang diucapkan dengan nada menyedihkan,
segala penderitaan hidup yang menyedihannya, seolah2
telah terbayang kembali didepan matanya.
Meskipun Ho Kie masih merupakan seorang anak kecil
dan belum mengerti seluk beluknya penghidupan orang
dewasa, namun hatinya merasa sedih juga mendengar
penuturan orang tua itu, sehingga terhadap orang aneh
tersebut mendadak telah bersemu dihatinya semacam
perasaan simpati.
Hening sejenak, orang aneh itu lantas berkata pula :
“Enam puluh tahun lamanya, pengalaman hidup ku
boleh dikatakan sangat tidak beruntung. Hampir semua
perkara membuat aku patah hati… Akh. aku barangkali
merupakan satu-satunya manusia yang paling tidak
beruntung didalam dunia ini…”
Ho Kie mengangguk2kan kepalanya, lama sekali barulah
ia dapat menjawab sambil tertawa getir
“Locianpwe, dunia ini memang selalu kejam..”
Ia sebetulnya masih ingin mengeluarkan beberapa patah
lagi untuk menghiburi orang tua itu. tetapi ia tidak mengerti
perkataan apa yang rasanya paling tepat untuk menghibur
hati orang tua tersebut.
ORang aneh itu mengangguk2kan kepalanya seraya
berkata lagi:
“Aku lihat, diwajahmu nampak gelap. Rupa-rupanya
dalam keluargamu pernaht erjadi sesuatu pembunuhan
yang sangat hebat. Kalau aku mau menduga, kau tentunya
pernah mengalami penderitaan yang sangat hebat dalam
penghidupanmu. Tetapi kalau kau merasa susah hati, lebih
baik jangan kita bicara soal ini.:
Mendadak hati Ho Kie tergerak :
“Tidak!! Aku pasti akan memberitahukan kepadamu.
Meskipun peristiwa itu sangat menggenaskan, tetapi aku
tidak akan terlalu sedih kalau cuma menuturkan saja……”
Sekalipun mulutnya mudah mengatakan perkatan
demikian, tetapi air matanya telah mengalir bercucuran.
Toan-theng lojin angguk2an kepalanya, ia menghampiri
Ho Kie, lalu mengulurkan tangan kanannya, dengan
perlahan tangan itu diletakkan diatas jalan darah Kiu bwee
hiat dibadan Ho Kie.
“Kalau begitu, kau jangan terlalu bersedih. Kau boleh
beritahukan padaku secara perlahan2 saja. Bagaimana kau
bisa menaruh permusuhan dengan Hian-kui kauw? Dan
perlu apa kau hendak pergi kepuncak gunung Sin hong
untuk mencari Cit-cie siorang tua?”
Dari telapak tangan orang aneh itu, Ho Kie telah
merasakan hawa hangat yang mengalir ke dalam dirinya,
Hawa hangat tersebut telah membuat badannya terasa lebih
segar. Sebentar saja hawa hangat itu telah menyusuri
sekujur badannya. Kelihatannya Ho Kie sekarang
bersemangat, ekduaan yang menggetarkan hatinya tadi kini
juga sudah lenyap sebagian, maka ia dapat menuturkan
kejadian2 yang dialaminya dengan tenang.
“Dalam usia tujuhtahun aku telah ditinggal mati oleh
ibuku. Oleh karena kami adalah keluarga miskin, maka
untuk mengubur jenazah ibuku, ayahku telah menjual
semua harta bendanya. sejak aku berusia sepulu tahun, aku
lantas mengikuti ayah merantau didunia kangouw….”
“siapa nama ayahmu?” orang tua aneh itu mendadak
memotong.
“Ayahku bernama In Bo. dulu beliau pernah belajar silat
dari seorang padri, beliau mengajak aku merantau didunia
Kang ouw setengah tahun lamanya, kemudian karena
bujukan orang lain, beliau telah masuk ke dalam
perkumpulan Hian-kui kauw.”
“Aaaa.. ia tidak seharusnya berbuat demikian..” nyeletuk
Toan-theng lojin.
“Ayah dan aku berdiam di lembah Kui kiok, empat
tahun lamanya. Ayah menjabat kedudukan sebagai Hiacu
dari bagian tata hukum Hian kui kauw. Kemudian ayah
dapat melihat bahwa Hian kui kauw mengandung maksud
jahat untuk menjagoi rimba persilatan, dimana pengaruh
Hian-kui kauw juga sudah mulai meluas dan akhirnya pasti
akan menimbulkan bencana bagi orang2 dalam rimba
persilatan. Meskipun ayah mengetahu hal itu, tetapi beliau
tidak mampu membebaskan dirinya.”
“Kemudian bagaimana mendadak bisa tertanam
permusuhan dengan Hian kui kauw?” tanya Toan-Theng
lojin.
“Tentang hal ini, aku juga tidak mengetahui dengan jelas
apa maksudnya, Aku hanya mengetahui bahwa pada suatu
malam, mendadak ayah mengajak aku pergi. Beliau
mengatakan bahwa kami tidak bisa berdiam lama2
dilembah Kui kiok. Kami harus segera meninggalkan
tempat tersebut. Tidak disangka, ditengah perjalanan kami
telah dikejar oleh utusan Kauwcu kami. Kasihan, ayah
telah binasa ditangan Bo Pin, kepala dari bagian tata hukum
yang mempunyai gelar, Si Tangan Geledek…” bicara
sampai disitu, peristiwa berdarah yang sangat
menggenaskan diatas gunung pada malam yang sangat
menggenaskan itu, kembali terbayang dipelupuk matanya….
Wajah yang menyedihkan dari ayahnya ketika
mendekati ajalnya setelah terkena serangan tangan Bo Pin
membuat Ho Kie tidak mampu lagi mengendalikan
perasaan dukanya. Air mata kembali menitik keluar, terus
membasahi pipinya.
Dengan perlahan orang aneh itu mengusap kepala Ho
Kie dan kemudian ia berkata dengan suara lemah lembut.
“ayahmu setelah mengetahui tidak bisa tinggal lama2
dibawah pengaruhnya Hian-kui kauw, tentu ada banyak
tempat yang dapat dikunjungi olehnya. Tapi mengapa ia
lari justru menuju keatas gunung belukar ini?”
“Menurut kata ayah, kami datang kegunung belukar ini
maksudnya ialah hendak mencari seorang aneh yang
mengasingkan diri diatas puncak gunung ini, ayah
mengatakan pula bahwa ada satu persoalan penting yang
menyangkut mati hidupnya sembilan partai besar dalam
rimba persilatan.”
Mendadak orang aneh itu terkejut.
“Akh..Ada kejadian begitu janggal? Apa kau mengetahui
urusan apa itu. yang ada begitu penting?”
“Tentang hal ini sebelum ayah binasa tidak keburu
beritahukan kepadaku, ia hanya menyuruh aku lari untuk
menyelamatkan diri. kalau jiwaku masih hidup, soal itu
nanti pasti akan kuketahui sendiri, katanya.”
“Tidak apa. Aku nanti akan turun gunung sebentar,
sudah tentu akan dapat tahu persoalannya. Hanya…
Ayahmu telah terbunuh oleh Bo Pin, orangnya Cian tok Lo
Mo, sakit hatimu ini barangkali suliat untuk kau tuntut.”
Ho Kie terperanjat.
“Ini apa sebabnya?”
“Kau tidak mengetahui kelihayan Cian tok La Mo.
Kepandaian ilmu silatnya iblis tua itu mungkin berimbang
dengan si orang tua Cit cie yang berdiam dipuncak gunung
Sin hong ini. sekalipun aku yang turun tangan sendiri,
belum bisa diramalkan siapa yang akan menang dan siapa
yang akan kalah.”
“Locianpwe apa ucapanmu ini benar?”
“Perlu apa aku membohongi kau? Mengenai kepandaian
ilmu silat kami bertiga, sebetulnya berasal dari satu cabang.
Semuanya berasal dari kitab ilmu silat Hian ku pit kip. Iblis
tua itu mempelajari ilmunya dari jilid kedua dan aku dari
jilid ketiga, sedangkan jilid pertama jatuh ditangan si orang
tua Cit-cie yang berdiam diatas puncak gunung Sin hong.
Pelajaran-pelajaran yang terdapat dalam ketiga jilid kitab
itu, sebetulnya masing-masing sama hebatnya. Siapapun
tidak dapat memenangkan yang lainnya. Jilid pertama
mengutamakan gerak tipu yang aneh2, yang penting untuk
gerak melindungi diri. Jilid kedua merupakan pelajaran
gerak tipu serangan yang diutamakan untuk menyerang
musuh, sedangkan jilid ke tiga yang aku dapatkan ada
mengutamakan pelajaran ilmu Iweekang. kalau
dibandingkan yang satu dengan yang lainnya, meskipun
ada beberapa bagian yang melebihi dari jilid yang berlainan,
tetapi dalam hal ilmu menyerang, tidak sehebat dari
pelajaran yang terdapat dalam jilid kedua dan pertama. Kau
pikir saja, Taruh kata kau berhasil mempelajari ilmu silat
dari aku, bagimana kau dapat mempergunakannya untuk
menuntut balas?”
Ho Kie yang mendengar keterangan yang panjang lebar
itu, hatinya jadi sangat berduka, Air matanya lantas
mengalir dengan deras, lalu berkata dengan terisak2.
“Kalau begitu, kematian ayah tentu akan sangat kecewa
dan musuh ini untuk selamanya tidak dapat kubunuh.”
Toan-theng lojin lantas berkata sambil menepok2 pundak
Ho Kie:
“Kau juga tidak perlu terlalu bersusah hati. Untuk
menuntut balas, bukan tertutup jalannya sama sekali, itu
harus dilihat pada kegiatan dan keberuntungan sendiri
bagaimana.
Hati Ho Kie agak tergerak, lalu berlutut ditanah sambil
meratap
“Locianpwe, harap kau suka menerima aku, bocah yang
bernasib malang ini, aku hendak angkat kau sebagai guru
untuk belajar ilmu silat yang nanti akan kugunakan untuk
menuntut balas sakit hati ayahku”
Orang aneh itu mendadak mundur dua tindak. Dengan
perlahan dia kebutkan lengan bajunya, angin kuta yang
tidak kelihatan dapat menahan dirinya Ho Kie. Dengan
suara besar orang aneh ini selanjutnya berkata:
“Aku belum memikirkan untuk memungut murid.
Urusanku sangat menyedihkan, sudah lama pikiranku
seperti telah terpendam. Sekalipun kau anggukkan
kepalamu sampai pecah juga tidak akan ada gunanya.”
“Locianpwe, kalau kau tidak mau menerima kau, aku
akan berlutut disini untuk selama-lamanya.”
“Kalau begitu, kau boleh berlutut terus! Aku akan keluar
untuk mengadakan penyelidikan, barang kali tiga hari
kemudian baru bisa pulang.” kata siorang aneh itu.
Tanpa menanti jawaban Ho Kie lagi ia sudah
menghilang dari situ.
Dengan seorang diri Ho Kie berlutut dalam goa itu.
Mengingat apa yang telah terjadi barusan, ia seperti berada
dalam mimpi.
Dengan perasaan murung ia mengawasi dinding tembok,
tempat yang penuh rahasia itu telah membuat dalam
pikirannya timbul semacam perasaan yang sukar dikatakan.
Semuanya dengan sebisa-bisanya ia ingin supaya dapat
menggunakan ketulusan hatinya untuk menggerakkan hati
orang aneh yang sangat kukoay itu.
Tetapi hatinya mendadak bergolak. ia tidak dapat
menenangkan pikirannya lagi. Semua kejadian yang
menggenaskan telah terbayang2 begitu nyata didepan
kelopak matanya, kesemua itu seperti juga gambar hidup
yang terpeta jelas sekali didepan matanya. Jiwanya yang
masih muda bergelora terpengaruh oleh adanya kejadian
buruk yang menimpa dirinya itum dengan mendadak ia
berteriak:
“Ayah! Ayah! Tolong!!Tolong!” tetapi ia tidak
mendapatkan jawaban dan apa yang terbayang didepan
matanya sudha lenyap semuanya.
Ia masih tetap berlutut didalam goa yang disekitarnya
dikelilingi oleh dinding biru, dibawahnya ada batu keras
dingin, sedangkan diatasnya ada tergantung sebuah pelita
kecil yang memancarkan sinarnya yang biru pula..
Keringat sudah mulai turun bermanik2, kedua lututnya
dirasakan sakit sekali, perutnya sudah mulai keroncongan.
Pada saat itu, kalau dia diberikan kesempatan untuk
melonjorkan kakinya atau makan barang sejenak atau
minum seteguk air alangkah segarnya.
Tetapi….. ia tidak mau berbuat demikian.
Sebab, jika ia tidak bisa berlutut sampai tiga hari, tidak
nanti ia akan dapat menggerakkan hati orang kukoay itu,
juga akan berarti tidak dapatkan pelajaran yang tinggi
sebagai bekal untuk menuntut balas sakit hati ayahnya.
Ia bertekad bahwa ia harus dapat bertahan dan harus
sanggup menerima penderitaan, harus tahan berlutut
dengna hati sujut…..
Berlutut terus sampai tiga hari. Ya, sampai tiga hari,
yaitu sampai orang tua Patah hati itu kembali.
Pinggangnya dirasakan sudah mulai sakit, tetapi ia
kertak gigi, ia bertahan terus tanpa bergerak.
Sehari lewat sehari, hari telah berlalu dengan tenang.
Hanya detakan ulu hatinya yang seolah2 masih
memberitahukan padanya bahwa ia pada saat itu masih
hidup.
Kesengsaraan badan sudah membuat matinya perasaan
Ho Kie. Kelaparan sudah melampaui batas. Kecuali ulu
hatinya yang masih tetap berdenyut, semuanya seperti
dirasakan sudah kaku.
Didalam goa itu tidak kelihatan muncul dan terbenam
matahari. Berapa lama sebenarnya ia sudha berlutut itu, ia
sendiri juga tidak lagi mengetahuinya.apa yang
diketahuinya adalah si orang tua Patah Hati itu masih
belum juga kembali.
Dengan kemauannnya yang keras seperti baja, ia tidak
mau melepaskan janjinya sendiri. Ia tetap berlutut dengan
kedua lututnya diatas batu yang keras dan dingin.
Akhirnya, matanya dirasakan berkunang2, badannya
rubuh tersungkur….
Tepat pada saat itu, satu bayangan orang berkelebat. Si
orang tua Patah HAti kembali muncul didepan matanya.
Ho Kie seolah2 masih mempunyai sedikit ingatannya.
Dengan susah payah ia dongakkan kepalanya, sambil
berkata hambar:
“Locianpwe, Locianpwe, akhirnya aku dapat
menantikan kau kembali.”
Orang tua yang aneh itu menatap wajah Ho Kie dengan
pandangan matanya yang sayu lalu menganggukkan
kepalanya, kemudian berkata sambil menghela napas:
“Benar saja ada satu anak yang berkemauan keras. Tapi
mengapa kau berbuat begitu bodoh sekali, mau terus
berlutut terus tujuh hari lamanya?”
“sudah lewat tujuh hari?” Ho Kie lompat bangun bahna
kagetnya. Locianpwe apa sejak kau pergi dilu sampai
sekarang ini sudah ada tujuh hari?”
“Benar.Aku telah menyerapi rahasia yang dikatakan
ayahmu ada menyangkut mati hidupnya sembilan partai
besar didunia rimba persilatan. Didekat pusat perkumpulan
Hian Kui-kauw, di lembah Kui kiok, aku sudah
bersembunyi tujuh hari lamanya… akh.. aku sungguh tidak
menyangka bahwa kau sibocah goblok ini sudah berlutut
terus selama tujuh hari itu.”
“Apakah locianpwe sudah mendapatkan keterangan
jelas?”
“aku mencoba mencari keterangan dari berbagai pihak,
mengetahui bahwa Hian kui kauw pernah mendapatkan
sebuah benda yang berharga sekali yang telah dibawa kabur
oleh ayahmu, sehingga mereka lantas…”
“Aaaa…. tidak! Locianpwe kau jangan dengar ucapan
merak yang mengaco belo! ayahku tidak pernah mau
mencuri barang sesuatu apapun milik mereka.” menyela Ho
Kie.
“Cian tok Lo Mo juga merasa bersangsi sebab benda itu
dibawa kabur oleh ayahmu, sebab dibadan ayahmu mereka
tidak dapat menemukan benda yang dicari itu. tepapi benda
itu memang betul sangat berharga. Kalau tidak dapat
diketemukan, benar2 memang akan menyangkut nasibnya
sembilan partai besar dalam kalangan persilatan.”
“Benda apakah itu?”
“Benda itu benda apa. aku sendiri juga tidak tahu dengan
jelas, Kabarnya adalah suatu peristiwa yang terjadi pada
seratustahun berselang. Bit cie dari daerah See hek telah
menyerbu Tionggoan, sembilan partai besar yang terkenal
kuta pada masa itu karena bermaksud hendak secara
bersama2 melwana musuh dari luar itu, bersama2 telah
membuat semacam benda. Siapa yang membawa benda itu
dapat memberikan perintah apapun yang ia mau pada
siapapun orang2 sembilan partai besar itu, tidak peduli
hidup atau mati, harus ditaati benar. Kau pikir sendiri, apa
bila benda itu benar2 berada dalam Hian kui Kauw, itu
berarti runtuhnya kita.”
Ho Kie terperanjat. Seketika itu ia lantas melupakan
keletihan dalam dirinya.
“Kiranya benda itu ada begitu penting. Tetapi mengapa
ayah cuma menyuruh aku supaya dapat melepaskan diri
dari cengkraman mereka? Dan apakah hubungannya urusan
itu dengan diriku?”
“Barang kali ia inginkan kau menyampaikan berita ini
kepada Cit-cie si orang tua itu, tetapi sudah tidak keburu
menjelaskan lagi.”
“Kalau begitu, kematian ayah lebih tidak jelas lagi
sebabnya. Locianpwe, aku mohon kau supaya sudi
menerima aku sebagai muridmu.”
Orang tua itu berpikir sejenak lalu berkata sambil
tertawa:
“Mengingat akan ketulusan hatimu, menyimpang dari
kebiasaan ku, aku bersedia hendak memberikan beberapa
rupa pelajaran ilmu silat untuk kau. Ini mungkin sudah
jodohnya. tetapi hanya sekedar sebagai peringatan atas
pertemuan kita ini. Kau tidak usah anggap aku sebagai
gurumu”
Ho Kie merasa sangat girang, dengan perasaan yang
sangat terharu, ia berkata:
“Locianpwe, kau telah melepas begitu banyak budi
kepadaku, sebaliknya tidak memberikan sedikit
kesempatanpun kepadaku supaya aku dapat membalas
budimu.”
“Maksudmu toh cuma ingin bisa menuntut balas sakit
hati atas kematian ayahmu bukan? Apa perlunya kau harus
merecoki segala soal tentang ilmu silatku ini kau dapatkan
dari mencuri atau memungut? Aku juga tidak menghendaki
kau untuk membalas budi, satu sama lain tidak ada
sangkutan apa2, bukankah ada lebih baik? cuma kalau kau
hendak menuntut balas untuk ayahmu, dengan hanya
menganadalkan kepandaiaan yang kau dapatkan dari aku si
orang tua, sebetulnya tidak cukup untuk memenangkan
Cian-tok lo mo. Sebaiknya kau belajar lagi dari Cit-cie si
orang tua itu. Kalau kau sudah dapatkan kepandaian orang
tua itu, itu berarti juga bahwa kau dua lawan satu dan
harapan untuk menang ada lebih besar.”
Ho Kie yang pada saat itu sudah terlalu lelah
keadaannya, sesudah mendengarkan keterangan si orang
tua, hatinya mulai lega dan rasa ngantuknya lantas
menghebat dan akhirnya tertidur pulas sekali.
Toan-theng lojin menyaksikan Ho Kie tidur pulas, lalu
berkata seorang diri sambil menghela napas:
“Ah, Bocah! Kau tidak mengetahui bahwa paling lama
aku cuma bisa mengajar kau satu bulan saja. Sekalipun aku
berikan pelajaran padamu siang malam tanpa berhenti2.
tetap saja tidak cukup waktunya untuk menurunkan
pelajaranku semuanya. Dan sekarang kau telah tertidur, apa
ini bukan berarti menelantarkan pelajaranmu……”
Dalam tidurnya itu Ho Kie lapat2 seperti mendengar
perkatan orang tua aneh itu. Tiba2 hatinya terkejut lalu
bertanya sambil membuka matanya:
“Locianpwe, kau tadi kata apa?”
Toan-theng lojin mengambil sebutir pil dan diberikan
kepada Ho Kie.
“Obat ini boleh kau makan.” katanya. Selambatlambatnya
satu bulan, aku akan muncul di dunia kangouw
lagi. Sekarang waktunya itdak banyak lagi. Selama satu
bulan ini aku akan memberitahukan padamu semua isi
pelajaran dalam kitabku Hian kui Pit kip, jilid ketiga. Tetapi
sampai dimana kau dapat memahaminya, itu semuanya
tergantung atas kecerdasan otakmu. WAktunya sudah
terlalu mendesak. Kita tidak perlu banyak bicara lagi,
supaya kau bisa berhasil dengan cepat, aku sudah
berkeputusan dengan tidak menyayangi kekuatan tenaga
gdalamku, telbih dulu aku akan membuka otot2 dan urat2
nadimu supaya dapat menyalurkan kekuatan tenaga
dalamku.”
Ho Kie yang mendengar itu, bukan kepalang rasa
girangnya, maka ia lantas makan obat berbentuk pil itu. ia
hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri,
sebab kalau urat nadinya sudah terbuka dan dapat
menerima saluran kekuatan tenaga dalam, itu artinya
bahwa dia sudah mendapatkan dasar ilmu kepandaian yang
tinggi.
Sedangkan tokoh2 rimba persilatan yang tinggi
kepandaian ilmu silatnya setingkat dengan itu, sungguh
sedikit sekali jumlahnya.
Ia seperti bersangsi atas dirinya sendiri, semnetara Toantheng
lojin sudah berkata lagi sambil anggukkan kepalanya:
“Setan kecil, keu kemari!”
Pada saat itu, Ho Kie sudah merasakan bahwa panggilan
Setan kecil itu tidak terlalu menusuk hatinya lagi.
Sebaliknya sebutan itu dianggapnya lebih meriah dan
lebih sedap didengarnya, maka ia lantas menghampiri orang
tua anhe itu sambil ketawa berseri2.
Toang-theng lojin dengan cepat mengerakkan jari2
tangannya, sebentar saja sudah dapat menguasai tiga ratus
enam puluh tempat jalan darah dibadan Ho kie.
Darah disekujur badan Ho kie seolah2 berhenti mengalir
dengan mendadak. Stelah berdiri kaku sejenak, badannya
lantas rubuh dalam pelukan siorang tua. Toan-theng lojin
lantasi mulai memale.
Sebentar kemudian, dari telapakan tangannya telah
mengeluarkan hawa putih semcam kabut tebal. Kabut itu
hanya mengurung kepalanya Ho Kie dan telapakan tangan
si orang tua. Sebentar kelihatan tebal, sebentar kemudian
tipis. KemudiaN masuk ke jalan darah Pek-Hwee hiat.
Orang tua itu tidak bergerak barang sedikitkpun juga. sorot
matanya yang hijau kelihatan semakin mencorong.
Mulutnya terkancing, kadang2 mengeluarkan suara
keretekan.
Keadaan demikian itu berlangsung sesaat lamanya,
diwajah orang aneh yang terbungkus kain hitam dan putih
itu kelihatannya sudah basah dengan air keringat.
Ho Kie berdiri sambil pejamkan matanya seolah2 tengah
tidur nyenyak.
Lewat lagi sejenak, orang tua itu perlahan-lahan
menggeserkan telapakan tangan kanannya. ia dapat
melepaskan napas lega. Sinar matanya yang Tajam sudah
mulai berkurang. Mata itu bahkan kelihatannya
mengembang air. Ia meletakkan dirinya Ho Kie di atas
tanah dengan sangat hati2. Kembali dari sakunya ia
mengeluarkan tiga butir pil yang seperti tadi, lantas
dimasukkan kedalam mulutnya Ho Kie.
-oo0dw0ooo-
Jilid 2
SELANJUTNYA ia lantas membebaskan dirinya Ho
Kie dari totokan tadi.
Ho Kie mula2 pernapasannya kelihatan memburu, tetapi
sebentar kemudian keadaan telah berobah menjadi sabar
dan kemudian tertidur nyenyak pula. Diwajahnya terlintas
senyumannya yang manis, badannya dirasakan sangat
nyaman.
Toan-theng lojin memandang Ho kie sejenak, lantas
angguk2kan kepalnya dan berkata kepada dirinya sendiri.
“Sudah empat puluh tahun, sekarang aku kembali
menciptakan suatu kemukjijatan dalam rimba persilatan,
tapi entah kali ini akan memusingkan kepalaku atau tidak?”
Ucapan itu seolah2 mengandung banyak arti. Sayang Ho
kie tengah tidur nyenyak sekali, hingga tidak mungkin
dapat mendengar atau melihat sikap orang aneh itu.
Kalau ia tahu, barang kali ia tidak akan dapat melupakan
untuk selamanya.
Toan theng lojin duduk disampingnya Ho kie, agaknya
seluruh perhatiannya tengah dicurahkan melulu untuk
sibocah yang sedang tidur nyenyak tersebut. sebagai suatu
kewajiban tetap, setiap 2 jam sekali, ia menyalurkan
kekuatan tenaga dalamnya kedalam diri bocah itu.
Ho kie dalam tidurnya nampak seperti tersenyum,
wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi merah.
Sepuluh hari lamanya ia berada dalam keadaan
demikian.
Toan-theng lojin selama itu tidak makan, tidak minum,
tanpa tidur, tanpa ngaso, sorot matanya main lama makin
sayu.
Seperti pelita yang hampir kehabisan bahan
pembakarnya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya telah
disalurkan ke dalam badan Ho Kie.
Wajah Bocah itu perlahan-lahan kelihatan menjadi
merah, hingga nampaknya sangat segar dan tambah cakap
kalau dilihat.
Orang tua itu ketawa bangga. Wajahnya tertutup rapat,
tapi dari sorot matanya kelihatan jelas kebanggaannya.
Ia tahu bahwa tindakannya hari itu akna membuat bocah
ini nanti akan menjadi seorang kuat yang sukuar dicari
tandingannya didalam dunia rimba persilatan.
Sepuluh hari kemudian, ia sudah kehabisan tenaga, ia
duduk numprah, napasnya tersengal-sengal.
Ho Kie perlahan-lahan membuka matanya. Sekarang
sudah sangat berlainan keadaannya dengan Ho Kie pada 10
hari berselang.
Dalam matanya yang jernih, nampak memancarkan
sinar terang tajam, jidatnya samar2 ada sinarnya, setiap
gerakannya menunjukkan kegesitannya.
Tapi, perubahan besar itu ia sendiri agaknya masih
belum tahu.
Apa yang ia dapat rasakan ialah badannya seperti sangat
ringan dan lincah, didalam badannya seperti mempunyai
semacam kekuatan yang tidak kelihatan.
Ketika ia melihat orang tua Patah Hati itu duduk
numprah, diam2 merasa kaget, maka lalu bertanya:
“Locianpwe, apa kau merasa kurang enak badan?”
Orang tua itu gelengkan kepalanya, menjawab dengan
perlahan”
“Setan kecil, otot dan urat2 nadi mu sudah kusaluri
dengan kekuatan tenaga dalam yang dinamakan Giok liong
Cao Khie! Dengan kekuatan tenaga dalam yang kau miliki
sekarang. meskipun belum dapat menandingin kekuatan
Cian tok Lo mo, tapi sudah cukup untuk menjagoi dunia
rimba persilatan…” ia berhenti sejenak, kemudian berkata
pula:”Setan kecil, sekarang kita tidak boleh membuang
tempa lagi. WAktu sangat berharga, satu bulan sudah kita
gunakan sepuluh hari, tinggal 20 hari lagi. Aku harus
memberikan pelajaran kepadamu dengan ilmu silat yang
terdapat dalam ktiba Hian kui Pit kip jilid ke tiga, kau harus
memperhatikan baik-baik”
Ho kie duduk bersila ditanah.
Orang tua itu setelah mengheningkan cipta sejenak,
dengan perlahan dan jelas sekali ia menerangkan dan
mengajarkan semua pelajaran ilmu silat yang terdapat
dalam kitab ilmu silat Hian kui Pit kip jilid ketiga kepada
Ho Kie.
Tiga hari berlalu cepat.
Selama tiga hari itu, Toan theng lojin tanpa kenal lelah
memberikan pelajarannya yang ia miliki kepada Ho Kie,
bocah itu karena kemauannya yang keras, ditambah lagi
dengan kecerdasan otakknya yang luar biasa, maka dalam
waktu sesingkat itu telah dapat mengingat semua pelajaran
dengan baik.
Tiga hari kemudian, orang tua itu berkata kepada Ho kie
dengan bersungguh-sungguh:
“SEmua kepandaian ilmu silat yang ada pada dirimu,
sudah aku wariskan semua kepadamu. Kalau kau bisa ingat
dan gunakan dengan baik-baik, dalam tempo singat kau
akan menjadi seorang kuat kelas satu dalam rimba
persilatan. Tapi pelajaran-pelajaran yang agak sulit seperti
tipu silat Hoa ing sie sek dan Hu kut hien kang, serta tipu
serangan untuk menundukan musuh yang luar biasa
hebatnya. Hian kui Cap she sek Kin na khiu harus kau
pelajari lebih teliti. SEdangkan ilmu silat Giok liong Hoa
khie masih kudu memakan tempo yang agak lama,
pelajaran ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang sangat
singat. Tapi kalau kau sudha mahir tiga tipu silat itu, sudah
cukup untuk kau melindungi dirimu tidak samapi dapat
dikalahkan oleh musuhmu. Selain dari pada itu, selama 40
tahun aku berdiam disini, aku telah menciptakan serupa
ilmu silat yang kunamakan Tay Iet Kim kong ciang hoat,
meski cuma tiga jurus, tapi sudah cukup untuk melayani
musuh yang bagaimanapun tangguhnya. Semua ini kau
harus ingat baik2 dan melatih dengan rajin.”
Ho kie terima baik pesan orang tua itu dengan perasan
terharu.
Toan theng lojin anggukkan kepala dan berkata pula :
“Sejak hari ini, kau harus bertekun dalam pelajaranmu
didalam lembah yang sukar diinjak oleh manusia ini, kau
harus baik2 meyakinkan semua pelajaran yang sudah
kuturunkan padamu. Waktuku cuma msaih ada setengah
bulan, sekarang kekuatan tenaga dalamku sudah
dihamburkan terlalu banyak, maka aku harus menutup diri
untuk 10 hari lamanya guna memulihkan kekuatanku.
Setelah satu bulan cukup, aku nanti akan menguji kau
lagi…”
Demikianlah, selanjutnya Ho Kie dengan tekun setiap
hari melatih ilmu silatnya dari pelajaran Taon theng Lojin.
Karena ia tidak memperhatikan lewatnya waktu, maka ia
tidak mengetahui sudah berapa lama ia belajar sendiri
secara demikian.
Didalam goa itu kadang2 ada banyak nyamuk dan lalat
yang sering menggangu Ho kie pada waktu ia melatih
ilmunya.
Semula ia dibikin jengkel oleh adanya gangguan
binatang-binatang kecil itu. Lama-kelamaan mendadak ia
dapatkan suatu pemikiran. Mengapa aku tidak
menggunakan binatan terbang ini untuk melatih ilmu Kin
na khiu dan Hu kut Hian kang?
Didalam goa sinarnya tidak cukup terang, tetapi mata
Ho kie sekarang sudah menjadi terang. Ia sudah mulai
dapat mengenal barang yang bagaimana halusnya sekalipun
dalam keadaan remang-remang. Ia menggunakan binatang
terbang itu sebagai musuh dirinya melancarkan ilmu Kinna0khiu-
nya, sebentar ia menangkap dan sebentar
kemudian ia melepaskannya lagi. Perbuatan demikian itu
agaknya menggembirakan hatinya.
Tidak antara lama, dengan mudah ia dapat menangkap
binatang nyamuk yang halus, gerakannya itu belum pernah
gagal.
Setelah ia mahir betul mempelajari ilmunya itu, nyamuknyamuk
atau lalat-lalat sudah tidak berdaya untuk
mengganggu dirinya lagi.
Ada kalanya kalau ia sedang bergembiri, ia lantas
bergerak kesana dan kemari diantara gerombolan nyamuknyamuk,
tetapi tidak memberikan kesempatan pada
nyamuk-nyamuk itu menyenggol badannya.
Didalam goa yang tidak ada isinya apapun, kala itu
dimata Ho kie sedikitpun tidak merasakan kekosongan. Ia
telah mendapatkan kawan berupa nyamuk, lalat dan
binatang-binatang kecil lainnya sebagai teman karib selama
ia melatih ilmu silatnya.
Pada suatu hari, selagi Ho kie sedang asyik melatih ilmu
silatnya dengan cara yang luar biasa itu, tiba-tiba dibelakang
dirinya terdengar oarang yang memberikan pujian
kepadanya:
“Tidak nyana kau sisetan kecil ini telah mendapatkan
pikiran untuk melatih dengan cara demikian”
Ho kie berpaling. Dilihatnya Toan-theng lojin sudah
berdiri dimulut goa. Ia buru-buru menghampiri dan berlutut
dihadannya sembari berkata:
“Locianpwe, coba locianpwe uji aku. Selama beberapa
hari ini apakah aku telah mendapatkan kemajuan?”
“Aku sudah lama mencuri lijat, caramu melatih ini
memang cukup baik, tidak perlu ku uji lagi. Tetapi cara
melatih serupa ini hanya dapat menambah kelincahan
gerakan tubuh, sedangkan ilmu pukulan yang dapat
membuat lawan mundur kau rupanya tidak
memperhatikannya.”
“Aku hanya mengetahui kalau aku menggunakan
binatang nyamuk dan lalat ini untuk melatih ilmu Kin na
khiu dan Hin Kut hian kang…. tipu serangan, meskipun ku
latih dengan tidka berhenti-hentinya, tetapi aku masih
belum mengetahui ilmuku ini apakah telah mendapat
kemajuan atau tidak.
“Ini mudah saja! Asal kau dapat menangkap binatang itu
satu demi satu kemudain kau hajar dengan kekuatan
telapakan tangan mu, kalau kau mampu menghajar sampai
binatang-binatang itu terpental keluar dari dalam goa ini,
maka kekuatan tangan mu itu sudah tidak perlu disangsikan
lagi.”
“Berapa si kekuatan binatang-binatang seperti nyamuknyamuk
itu? Aku akan segera mencobanya.”
Orang itu hanya kedengaran suara ketawanya tidak
menjawab. Ia mengeluarkan sebuah kantung kecil dan
menyuruh Ho kie melancarkan ilmu Kin-na-khiu-nya untuk
menangkapi binatang-binatang nyamuk kemudian
diletakkan di dalam kantong tersebut.
Dengan sangat mudah sekali Ho kie sudah berhasil
menangkap tiga-empat puluh ekor nyamuk yang kecil-kecil
itu.
“Bagus! Sekarang kau lepaskan lagi satu demi satu.
Kalau kau sudha melepaskan seekor, kau boleh terus
menghajar dengan telapakan tanganmu. Apa kau mampu
membikin terpental binatang itu atau tidak?”
Ia lalu mengajak ho kie berdiri disuatu temapt terpisah
kira-kira 10 tombak dari mulut goa untuk sebagai temapt
latihan. Dengan penuh keyakinannya Ho kie melakukan
apa yang diperintahkan oleh orang tua itu.
Ketika ia mengeluarkan serangannya yang pertama,
memang betul hebat sekali serangan dari telapakan
tangannya itu. Dinding-dinding batu yang berdekatan
dalam lingkaran satu tombak lebih sampai pada hancur
berantakan, tetapi ketika ia melihat nyamuk tadi, ia lantas
merasakan kaget dan terheran-heran.
Kiranya binatang kecil itu meskipun kecil badannya dan
juga enteng, karena dapat berterbangan ditengah udara,
maka serangan Ho kie yang pertama kali itu walaupun
cukup keras, tetapi ternyata masih belum mampu membuat
nyamuk itu terpental sampai sejarak lima kaki. Bukan saja
tidak mati, malah nyamuk itu berterbangan berputar-putar
tidak henti-hentinya.
ORang tua itu lantas tertawa bergelak-gelak.
“Gedung besar mudah dirubuhkan, tapi selembar bulu
susah dicabut!” katanya ” Kau jangan pandang enteng
binatang kecil ini. Dengan kekuatan tenaga yang kau miliki
sekarang ini, untuk dapat membikin terpental binatang keicl
itu sampai sepuluh tombak jauhnya, rasanya masih harus
berlatih beberapa tahun lagi.”
Ho kie merasa agak malu, ia mencoba sekali lagi dengan
melepaskan sepuluh lebih nyamuk-nyamuk itu. Tetapi
meskipun kali ini kekuatannya sudha ditambah lagi, tetap ia
tidak berhasil membuat nyamuk-nyamuk tersebut terpental
keluar ke mulut goa.
“Kekuatan dengan kekerasan mudah dilatih, tetapi kalau
mau memusatkan kekuatan pada satu tempat, pada satu
tangan atau satu jari misalnya, sungguh tidak mudah. Apa
kau mengerti sebabnya teori ini?” kata siorang tua Patah
Hati.
Ho kie meskipun mau menerima pelajaran itu smabil
membungkukkan badannya, tetapi dalam hatinya masih
merasa penasaran. Sebagai satu bocah, ia tidak terluput dari
sifatnya yang tidak mau mengalah mentah-mentah.
Mendadak ia mengerahkan kepandaiannya, sebentar saja ia
sudah berhasil menangkapi kembali beberapa puluh
nyamuk itu dan dibinasakan semuanya…
Toan-theng lojin yang menyaksikan perbuatan Ho kie
dalam hatinya bercekat. Dengan mata tidak berkedip ia
menatap wajah Ho kie, sedangkan mulutnya mendumel:
“Bocah, Napsu membunuhmu sungguh keterlaluan. Ini
agak menakutkan.”
Mendengar perkataan itu HO kie buru-buru berlutut
seraya berkata:
“Locianpwe, aku hanya membunuh beberapa ekor
nyamuk ini saja, apakah itu bisa dibilang keterlaluan?”
“Seekor nyamuk atau semut sekalipun, juga ada
mempunyai jiwa. Kau telah mempelajari ilmu silat, kalau
ilmu silatmu digunakan untuk membasmi kejahatan atau
untuk menuntut balas sakit hati ayahmu itu memang tidak
dapat disalahkan. Tetapi kalau kepandaianmu itu kau
pergunakan hanya untuk mengambil jiwa yang tidak
berdosa, itu terang sudah melanggar hukum Tuhan.”
“Locianpwe, sekarang aku telah mengerti akan
kesalahanku. Lain kali aku tidak berani berbuat kesalahan
semacam itu lagi.” Ho kie mengakui kekeliruannya.
“Sekarang batas waktu satu bulan sudah cukup, aku
harus segera turun gunung untuk menyelidiki itu persoalan
yang menyangkut nasibnya sembilan partai besar dalam
rimba persilatan. Baik-baiklah kau melatih diri didalam goa
ini. Sampai pada waktu kau sudah bisa membikin terpental
nyamuk sehingga sepuluh tombak jauhnya, itulah tandanya
bahwa latihanmu sudah cukup sempurna dan pada waktu
itu lah kau baru boleh turun gunung.”
“Locianpwe, kapan kau akan kembali?”
“Selambat-lambatnya ya setengah tahun, secepatcepatnya
tiga bulan. Tetapi kalau lewat batas waktu yang
kutetapkan itu aku masih belum kembali. kau juga tidak
perlu menantikan aku lagi. kau boleh pergi turun gunung.
Tetapi ada satu hal yang harus kau ingat betul-betul.
Sebelum kau dapatkan kitab pelajaran ilmu silat Hian-Kui
pit-kip jilid pertama, sekali-kali kau jangan coba-coba
melanggar dirinya Cian-tok lo mo di lembah Kui-kok!
mengerti kau maksudku?”
“Locianpwe, Aku pasti akan menunggu kau. Harap kau
supaya lekas kembali.”
Orang tua itu berdiri sekian lama, agaknya mereka
sangat terharu akan perpisahan itu. Tangannya mengelus
kepala Ho kie, ia berkata sambil menghela napas:
“Akh.. Bocah! Sudah cukup aku mengalami berbagai
kedukaan, apakah sebelum meninggalkan tempat ini kau
hendak menyuruh au menjumpai kedukaan orang yang
akan berpisahan lagi?”
Sehabis berkata demikian mata orang tua itu
mengembang air.
Ho kie lebih terharu lagi, ia sudha menangis tersengguksenguk..
“Locianpwe” katanya” kau tidak mau menerima aku
sebagai muridmu, setidak-tidaknya kau harus
memberitahukan kepadaku kemana kau hendak pergi.
Supaya kalau aku nanti sudah berhasil dengan latihanku,
aku bisa mencari padamu.”
Toan-theng lojin mendadak mengertak gigi, ia
mengibaskan tangannya dan mundur beberapa tombak
jauhnya, lalu berkata sambil tertawa dingin:
“Satu laki-laki dimana saja dapat mendirikan rumah
tangganya. Kau boleh pergi dengan urusanmu sendiri, aku
akan melakukan tugasku pula. Taruh kata kau dapat
menemukan aku, apa yang akan kau perbuat? Lebih baik
kau melatih ilmu silatmu dengan rajin. Perlu apa
mengambil sikap seperti anak perempuan?”
Sehabis mengucapkan perkataannya yang terakhir itu ia
lantas menggerakkan kakinya, sebentar kemudian ia sudah
menghilang dari mulut goa.
Dengan hati sedih, Ho kie terus berlutut ditanah, dengan
hormat sekali lagi ia mengangguk-anggukan kepalanya
sampai tiga kali….
Satu tahun berlalu dengan pesatnya.
Orang tua yang patah hati itu telah pergi meninggalkan
Ho kie seorang diri, sedikitpun tidak ada lagi kabar
beritanya.
Hari berganti hari, bulan bertemu bulan. Setahun
kembali sudah dilewatkan lagi oleh Ho kie didalam goa itu,
tetapi kekuatan tangan Ho kie hanya mendapat kemajuan
sedikit, cuma dapat membikin nyamuk terpental lima
tombak saja jauhnya.
Sering kali ia berdiri bingung dimulut goa, memandang
gunung-gunung dan bagai tiada bertepi, ia memandang
segala perubahan alam, karena bergantinya musim demi
musim. Ia sendiri hampor-hampir tidak mengetahui sudah
berapa lama ia telah melewatkan penghidupannya didalan
goa yang sesunyi itu.
Mengingat akan kematian ayahnya dan mengingat
dirinya siorang tau Patah Hati yang sudah lama
meninggalkan dirinya, rasa duka didalam hatinya sungguh
sukar untuk dapat ditindasnya, maka kadang-kadang ia
tidak dapat lagi menahan perasaan dukanya.
Ia percaya bahwa orang tua Patah Hati itu tentunya
sudah mengalami nasib buruk. Sebab kalau tidak demikian,
tidak nantinya sampai sudah begitu lamanya belum
kembali.
“Akh! kalau sampai terjadi apa-apa atas diri orang tua
itu, bukankah itu berarti akulah yang telah mencelakai
dirinya?” Ho kie ngedumel sendiri.
Sebab jika ia tidak datang ke lembah patah hati itu,
sudah dengan sendirinya orang tua itu tidak akan
mengetahui duduk persoalan yang menyangkut sembilan
partai besar dalam dunia persilatan dan dengan sendirinya
pula orang tua itu juga tidak akan dengan secara mendadak
meninggalkan goa-nya yang sudah didiami empat puluh
tahun lamanya.
Ia menyesalkan dirinya sendiri, ia menyesal tidak
terhingga.
Ditahun ketiga ia sudah mampu membikin terpental
binatang nyamuk sampai lewat lebih dari tujuh tombak
jauhnya. Ia sudah tidak sabaran buat menantikan lebih
lama lagi, maka ia lantas mengambil keputusan untuk
keluar dari Lembah Patah Hati.
Sejak ia mendapatkan kepandaian ilmu dari siorang tua,
ditambah lagi dengan latihannya yang rajin tanpa mengenal
lelah, badan dan tulang seta otot-ototnya telah mengalami
banyak perubahan.
Ketika ia terjerumus di Lembah Patah Hati, ia masih
merupakan satu bocah yang belum cukup empat belas
tahun, tetapi sekarang ia sudah merupakan jejaka yang
sudah hampir tujuh belas tahun usianya.
Parasnya cakap dan badannya tegap kekar. IA sudah
seperti seorang pemuda cakap, ganteng yang sudah berusia
dua puluh tahunan.
Dengan perasaan duka ia memandang semua keadaan
didalam goa itu meskipun dalam goa itu tidak ada apaapanya,
tetapi setelah hendak ditinggalkan, hatinya merasa
berat. Disatu sudut ia menemukan satu bungkusan kecil.
Tatkala dibukanya, isinya ternyata adalah satu stel pakaian
dan sedikit uang. Karena ia sedang membutuhkan pakaian
dan uang untuk bekal dalam perjalanannya, maka ia lantas
mengambil bungkusan tersebut.
Dengan Hati berat ia meninggalkan goa Pek-Giok-Kiong
di dalam Lembah Patah HAti itu yang sudah didiami
hampir tiga tahun lamanya.
Dalam perjalanan satu hari ia baru tiba disebuah kota
kecil.
Dengan tindakan perlahan ia memasuki sebuah rumah
makan dan memesan beberapa rupa hidangan. Seorang diri
juga ia makan dan minum hidanganannya. Selagi enakenaknya
makan telinganya tiba-tiba menangkap suatu suara
yang kedengarannya sangat menyenangkan.
“Hei pelayam! hitung uangnya!”
Ho kie terperanjat oleh suara tadi, Ketika ia
memperhatikan dengan seksama, disatu meja yang terletak
didekat jendela, ada duduk seorang diri pemuda yang
berdandan seperit anak sekolah dalam pakaian seragam
putih. Pemuda itu juga usianya paling-paling juga baru
delapan belas tahun.
Wajahnya yang putih bersih bersemu dadu serta dikedua
pipinya ada sebuah sunyen dengan bibirnya yang merah.
ada lebih mirip dengan seorang wanita. Anak muda itu
dengan tenang mengipas-ngipas dirinya dengan kipasnya
yang indah.
Baik parasnya, maupun sikapnya kelihatan sangat
menarik hati bagi siapa saja yang menghadapinya.
Ho Kie seumur hidupnya belum pernah melihat pemuda
secakap demikian, dengan tidak sadar mulutnya lantas
memberikan pujiannya:
“Aaaa, sungguh cakap pemuda itu!”
Meskipun suaranya itu diucapkan perlaha, siapa sangka
anak sekolah berbaju putih itu mempunyai pendengaran
yang sangat tajam. Dengan mendadak ia lantas melipat
kipasnya lalu menegur:
“Dari mana datangnya manusia liar yang begitu kasar?
sungguh menjemukan!”
Ho kie yang mendengar teguran yang serupa itu,
parasnya merah seketika, pada pikirnya: “Aku toh memuji
dirimu dan bukan bermaksud menjeleki! kenapa sebaliknya
kau malah memaki-maki tidak keruan?”
Ia juga tidak mau mengalah mentah-mentah, dengan
suara dihidung ia berkata:
“Dasar dogol, Anak tidak tahu adat!!”
Pemuda berbaju putih berdiri alisnya, mendadak ia
lompat bangun. sambil menuding dengan kipasnya pada Ho
kie ia membentak.
“hei manusia liar, kau memaki siapa?”
Ho kie mendongkol, lantas menjawab dengan suara agak
heran:
“Aku suka memaki siap saja, perduli apa dengan kau?”
Pemuda berbaju putih itu agaknya sudah gusar benarbenar:
“Kalau tidak karena didepan umum ini ada rasa kurang
pantas, hari ini tentu aku sudah memberi sedikit hajaran
pada kau si manusia liar yang tidak mengenal aturan!”
“Apa kalau tidak dihadapan umum kau kira aku takut
padamu?”
“Kalau kau mempunyai kepandaian sebentar malam jam
tiga kau boleh datang di Cit-Lie kang!”
“Baik! aku nanti tepati janjimu!”
Pada saat itu pelayan rumah makan sudah berdiri dekat
pemuda berbaju putih itu untuk menantikan bayaran.
Pemuda berbaju putih itu juga tidak berkata apa-apa lagi,
ia memberikan sedikit uang pada pelayan rumah makan,
kemudian lantas berlalu.
Selagi melewati Ho kie, mendadak ia menghentikan
tindakan kakinya dan berkata dengan suara dingin:
“Pertempuran antara mati dah hidup! kalau tidak
mendapatkan keputusan, aku tidak mau sudah.”
Setelah mengucapkan perkataannya itu, ia lantas berlalu
dengan langkah lebar.
Ho kie jadi ketawa geli, diam-diam berpikir: “Bocah ini
sungguh sombong. Entah orang golongan apa?”
Karena hatinya sedang mendongkol, maka napsu
makannya juga berkurang. Dengan cepat ia membayar
rekening dan kembali kerumah penginapannya.
Entah sudah berapa lama ia rebahkan dirinya
dipembaringan. secara begitu, tetapi tidak juga tidur pulas.
Hatinya selalu memikirkan itu pemuda sekolah berbaju
putih. Kalau dilihat dari paras dan sikapnya, kelihatannya
ia bukan orang jahat. Tetapi kenapa ia begitu jumawa?
Apakah ia mempunyai kepandaian yang luar biasa?
Berpikir sampai disitu, ia merasa geli sendiri, ia
menganggap bahwa pemuda itu hanya mempunyai
pengertian sedikit tentang ilmu silat yang tidak mungkin
dibandingkan dengan kepandaian yang dimilikinya.
Baru pertama kali ia keluar lembah sudah lantas diajak
bertanding, maka dalam hatinya merasa sangat gembira,
karena itu adalah merupakan suatu kesempatan untuk
menguji kepandaiannya. Oleh karena itu juga ia tidak dapat
tidur pulas.
Kentongan baru berbunyi sekali, ia sudah turun dari
pembaringannya lalu membuka jendela dan lompat keatas
genteng.
Menurut jurusan yang ditunjul oleh pelayan rumah
makan ia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
lari ke Cit-lie kung.
Malam itu ada malaman terang bulan. Keadaan diluar
kota sangat terang benderang. Ho Kie yang sedang berlarilarian
menuju ketempat yang telah dijanjikan, dalam hati
merasa sangat gembira, tetapi juga merasa agak kuatir.
Bukan disebabkan karena tidak mengetahui dimana
tingginya kepandaian ilmu silat pemuda baju putih itu,
tetapi karena sejak ia mendapatkan pelajaran ilmu silatnya
dari si orang tua Patah Hati, serta sudah memahami
ilmunya yang terdapat dalam kitab Hian kui Pit-kip, boleh
dikatakan ia masih belum mendapat kesempatan untuk
digunakna dalam menghadapi lawan dalam arti kata
pertempuran yang sebenarnya. Maka malam itu dapatlah
diartikan sebagai suatu ujian untuk menjajal kepandaiannya
yang telah dipelajari dengan rajin selama hampir tiga tahun
itu, maka diam-diam ia mengharapkan supaya kepandaian
pemuda itu ada lebih tinggi sedikit daripada kepandaian
dirinya sendiri, sebab kalau kepandaian pemuda itu
berselisih terlalu banyak dengan kepandaian yang
dimilikinya, juga tidak akan ada artinya.
Tidak antara lama kemudian ia sudah sampai pada
sebuah rimba yang lebat. Rimba itulah yang dinamakan Cit-
Lie kang!
Tiba-tiba ia mendengar orang menegur dengan suara
merdu, yang kedengarannya keluar dari dalam rimba:
“Siapa?”
Pertanyaan itu lalu disusul oleh munculnya satu
bayangan putih yang bergerak dengan gesit, menghadang
didepan mata Ho kie.
Ketika mendengar suara itu, Ho kie sudah lantas
menghentikan gerakan kakinya. Ternyata orang yang
sedang berdiri didepan matanya itu adalah seorang pemuda
berbaju putih seperti anak sekolah yang tadi siang dijumpai
dirumah makan.
“Kau datang terlalu pagi sahabat!” Ho kie ketawa dingin.
Anak sekolah berbaju putih itu menunjukkan sikap yang
terperanjat, lantas menyahut dengan suara dingin:
“Kedatanganku cepat atau lambat, ada hubungan apa
dengan kau?”
“Mengapa tidak ada hubungannya? Aku justru datang
kesini hendak menepati janjimu”
Anak sekolah berbaju putih itu kembali tercengang.
“Menepati janji? Dengan siapa kau berjanji?”
Mendengar ucapan yang ketus dingin yang seolah-olah
tidak memandang dirinya sama sekali, hati Ho kie merasa
mendongkol.
“Anak dogol yang jumawa!” katanya gemas,”Apa kau
sudah hitung pasti bahwa kepandaiannya ada diatas
kepandaianku?”
Anak sekoah itu kelihatannya seperti benar-benar heran.
“Sama-sanam anak sekolahan, dengan alasan apa kau
memaki aku anak dogol?” tanyanya.
“Alasan apa? Itulah karena sikapmu yang terlalu jumawa
yang telah kau unjukkan dirumah makan tadi siang,
rasanya tidak cukup dengan hanya memaki kau saja,
andaikan aku hajar kau sampai pingsan juga sudah
sepantasnya…”
Anak sekolahan berbaju putih itu berpikir sejenak, ia lalu
ketawa sehingga kelihatan kedua baris giginya yang putih
berkilat.
“apa kau ingin berkelahi? Coba saja kau turun tangan”.
“Itulah yang dijanjikan, aku datang kemari. Apa kau
hendak mangkir?”
Anak sekolah berbaju putih itu menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Kapan aku janji kepadamu? Dengan caramu gerabk
gerubuk seperti ini, apa kau kira aku suka janjikan kau?”
“Anak dogol, kau mau berpura-pura?”
“Hai! kita sama-sama orang sekolahan, sebaiknya kau
jangan membuka mulut sembarangan. Kalau aku anak
dogol, lalu kau sendiri anak apa?”
Ho kie sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia
berseru:
“Bocah yang mengingkari janji! kita tidak usah banyak
mulut lagi. Mari kita adu kekuatan!” Berbareng Ho kie
menyerang.
Serangan itu adalah tipu serangan Tay-Lek kin kong
ciptaan Toan-theng lojin yang diyakinkan si orang tua
selama empat puluh tahun lamanya. Tidak heran kalau
serangannya itu sangat hebat, sehingga tujuh atau delapan
batang pohon telah tersapu rubuh oleh kekuatan angin
serangan itu.
Ho Kie tidak menyangka bahwa kekuatan serangannya
itu ada begitu hebat, maka ia sendiri juga lantas kesima.
Dalam hatinya agak menyesali dirinya, pada pikirannya
“Ah, kalau aku mengetahui seranganku bakal begitu heba,
aku tidak akan turun tangan sembarangan. Aku dengan dia
tidak mempunyai permusuhan apa-apa. kalau aku sampai
memukul mati padanya, apakah itu bukan keterlaluan?”
Siapa sangka, belum lenyap peikirannya itu,
disampingnya terdengar suara anak sekolah berbaju putih
itu:
“Aaaa, dengan mengandalkan kepandaian yang begini
saa, kau lantas hendak menyombongkan dirimu untuk
mengadu kekuatan? he.. he… masih belum cukup bung!”
Bukan main kagetnya Ho kie, dengan lekas ia memutar
tubuhnya, Ia meliaht anak sekolah itu sedikitpun tidak
terluka. Ia sedang berdiri dengan tenang sambil goyanggoyangkan
kipasnya dan memandang Ho kie sambil
tertawa.
Karena terkejut oleh kepandaian yang aneh dari si
pemuda itu, dalam hatinya Ho Kie merasa terheran-heran.
“Aku masih mempunyai urusan penting!” kata pemuda
baju putih ketawa.
Aku tidak mempunyai waktu untuk melayani segala
orang kasar seperti kau ini, Melihat sikapmu yang begitu
galak, benar-benar telah membuat orang tiga hari tidak enak
makan. Ingatlah lain kali kau jangan terlalu gegabah
menunjukkan kepandaianmu dihadapan orang lain.”
Sehabis berakata begitu, ia lalu berkelebat menghilang ke
dalam rimba.
“Jangan pergi” bentak Ho kie.
Tetapi sang lawan sudah tidak kelihatan lagi
bayangannya sekalipun.
Ia telah dibikin mendongkol oleh ucapan anak sekolah
baju putih yang terakhir itu.
Ia coba mengerahkan seluruh kepandaian yang
dimilikinya untuk mengejar anak sekolah itu.
Mengejar orang didalam rimba sesungguhnya tidak
mudah, apa lagi pemuda baju putih itu kelihatannya
mempunyai kepandaian yang sangat luar biasa.
Dengan perasaan mendongkol Ho Kie berputaran
didalam rimba, tetapi ia tdiak dapat menemukan anak
sekolah tersebut. maka mulutnya lantas mulai memaki-maki
tidak berhentinya. KArena tidak berhasil menemukan orang
yang sedang dicarinya, terpaksa ia pulang ke rumah
penginapannya dengan perasaan gemas serta masgul..
Keesokan harinya, pagi-pagi seklai hawa udaranya sejuk.
Pagi-pagi itu juga Ho kie sudah melanjutkan perjalannya.
Ketika ia melewati sebuah rimba, tiba-tiba ia mendengar
orang berakat:
“Manusia tidak tahu malu! kalau merasa takut, jangan
terima baik perjanjian orang. Mengapa kau mengingkari
janji seenaknya saja? Apa itu juga perbuatannya satu lakilaki?”
Ho kie terkejut. mana kala ia menegasi siapa orangnya
yang bicara itu, bukan main gusarnya.
Kiranya orang itu sedang berdiri menggendong tangan.
Ia adalah sianak sekolah berbaju putih yang telah
menjanjikan padanya untuk bertanding di Cit-lie kang.
Mengingat semua kejadian tadi malam, hati Ho kie
semakin gusar. Maka dengan cepat ia menghampiri anak
sekolah itu, mulutnya memaki dan membentak:
“Anak dogol, tadi malam hitung-hitung kau tahu gelagat
sudah kabur dengan cepat. Sekarang kita bertemu lagi, aku
harus memberikan hajaran padamu sepuas-puasnya.”
Sehabis berkata demikian, ia lantas hendak menyerang.
Pemuda berbaju puth itu menggeser kakinya dan minggir
kesamping dua tindak, kemudian berkata:
“Hmmn, tadi malam kenapa kau tidak berani menepati
janji untuk datang ke Cit lie kang?”
“Ngaco! adalah kau sendiri yang telah kabur lebih dulu.
Kau hendak menyuruh aku mencari kemana?”
“Tadi malam, sejak jam tiga aku menantikan kau sampai
jam empat. Sam sekali aku tidak pernah melihat batang
hidungmu. Dan toh kau sekarang berani gede bacot lagi.
Sungguh tidak tahu malu.!”
Ho kie terkejut, seketika lamanya ia berdiri melongo.
“Mana bisa?!” katanya “Kau sendirilah yang ngaco belo!
Lama aku mencari, kemudian aku pikir barang kali kau
takut sehingga kau tidak berani menepati janjimu, aku lalu
mencari kau diseluruh rumah penginapan dalma kita,
sampai pagi aku tidak bisa menemukan tempat
persembunyianmu. Coba kau jelaskan dimana kau
sembunyi tadi malam? Kalau berani mengoceh lagi tidak
keruan aku tidak mau gampang-gampang mengampuni
kau”
Ho kie kelihatan semakin gusar, alisnya berdiri,
kemudian ia membentak:
“Terang kau sendiri yang memutar balik dudukan
perkara. sebaliknya menuduh orang mengoceh tidak
keruan. Kita tidak perlu banyak rewel, biar ku hajar dulu
kau buat melampiaskan kemendongkolanku!”
Dengan cepat HO kie lantas mementang kelima jari
tangannya menyambar pundak kiri si anak sekolahan
berbaju putih.
Menyaksikan tipu serangan Ho kie yang aneh itu, sianak
sekolahan agaknya terkejut. Ia tidak berani berlaku ayal
lagi, dengan cepat ia sudah menggeser tubuhnya sampai
lima tindak untuk menghindarkan sambaran tangan Ho kie.
Sepasang matanya yang jernih dengan keheran-heranan
menatap wajah Ho kie dengan tidak berkedip.
Ternyata begitu turun tangan Ho kie lantas
menggunakan tipu serangan Hian-kui cap sha sek na khiu,
karena menurut keterangan Toan-theng lojin, serangan itu
sangat luar biasa, dengan serangan mana sudah cukup
untuk menjagoi dirimba persilatan. Siapa sangka, untuk
pertama kalinya ia mengunakan serangan itu untuk
menghadapi musuh, ternyata telah mengalami kegagalan.
Ia heran, apakah anak sekolahan itu kegesitannya
melampaui binatang nyamuk atau serangannya sendiri yang
kurang tepat.
Ia lantas mengerahkan seluruh kekuatannya dengan
secepat kilat ia maju menyerang lagi. Kali ini tangan
kanannya mengarah jalan darak Ciok tie hiat. Sebentar saja
sudah menekan sikut kiri anak sekolah berbaju putih itu.
Dalam pikirannya kali ini pasti berhasil.
ooo0dw0ooo
SIAPA NYANA, kesudahannya adalah diluar
dugaannya. Kelima jarinya baru saja tiba, sang lawang
badannya tiba-tiba berkelit kekiri, sebentar saja seperti
sudah berubah menjadi tiga bayangan putih…
Ho kie terperanjat. Dalam kagetnya ia sudah kehilangan
jejaknya si pemuda berbaju putih.
“Tahan dulu!” bentak sibaju putih.
“Kenapa kau suruh aku hentikan serangan? apa kau takut
akan aku gebuk?”
“Hmnn,apa kau kira aku takut kepadamu?”
“Dan mengapa kau suruh aku menghentikan
seranganku?”
“Aku merasa gerak tipu silatmu ini mirip dengan salah
seorang yang berkepandaian tinggi, maka aku ingin
menanyakan dulu siapa nama suhumu?”
“Kau tidak berhak menanyakan apapun dalam hal ini.
Aku justru hendak menanya kau”.
“Kalau begitu, kau harus bisa memenangkan kau dulu,
baru kau boleh bertanya.”
“Hmmn, bocah yang terlalu jumawa!”
“Kau jangan mengiri bahwa kepandaianmu lebih hebat
daripada kepandaianku. Kalau dalam tiga jurus aku tidak
mampu menundukkan kau, aku segera angkat kau menjadi
guru. Bagaimana?”
Ho kie pikir, bocah dihadapannya ini terlalu tidak
memandang mata kepadanya, maka lantas menjawab
sambil tertawa dingin:
“Sekarang kita tetapkan seperti katamu tadi. Kalau
dalam tiga jurus, kau tidak bisa menangkan kau, kau harus
berlutut dihadapanku untuk manggut-manggut sampai tiga
kali. Maukah kau berjanji?”
“Ehm.. jangan kata cuma tiga kali, tiga puluh kali juga
tidak akan ku pungkiri.”
“Kalau begitu, siap sedialah!”
Sehabis berkata demikian, kembali Ho kie pentang
kelima jari tangannya untuk mengarah jalan darah Kian kie
hiat. Mulutnya berkaok “Awas! ini adalah jurus pertama”
Siapa nyana, jarinya hampir saja mengenai pundak
pemuda berbaju putih itu, mendadak terdengar suaranya
yang nyaring, pemuda itu dengan caranya yang sama
seperti pertama sudah berhasil mengelakkan serangannya.
Ho kie celingukan, kali ini ia tidak berhasil menemukan
kemana perginya anak mudah sekolahan berbaju putih tadi.
Keadan disekitar tempat mereka bertempur amat sunyi.
Pemuda berbaju putih itu seolah-olah setan yang bisa
menghilang dengan mendadak.
Dia tiba-tiba bergidik. Mulutnya lantas berseru:
“Anak dogol itu manusia atau setan?”
Mendadak didengarnya suara orang ketawa:
“Nah! Aku ada disini!”
Ho kie buru-buru berpaling, wajahnya berubah seketika,
kiranya pemuda berbaju putih tadi sudah berdiri diatas
ranting sebuah pohon kira-kira satu tombak jauhnya dari
situ. Dengan sikapnya yang tenang sekali pemuda tersebut
mengawasi Ho kie sambil tersenyum. Ho kie gusar bukan
kepalang, mendadak ia lompat maju, tangannya
mengeluarkan serangan yang sangat hebat ditujukan keatas
pohon sambil berseru :
“Baik! kau sambutlah serangan ku yang kedua ini.”
Serangan itu ternyata hebat sekali. ranting-ranting dan
daun-daun pohon yang ditempati pemuda berbaju putih
tadi sampai pada putus terkena sambaran angin serangannya,
tetapi si pemuda berbaju putih ternyata telah
menghilang lagi entah kemana.
Sekali lagi Ho kie mencari keatas pohon lainnya, tidak
disangka pemuda itu sudah berada dibelakang dirinya, siapa
telah berkata kepadanya sambil tertawa dingin:
“Anak sombong, Perlu apa kau menghajar segala batangbatang
pohon yang tidak bisa apa-apa untuk mengumbar
amarahmu?”
Ho kie benar-benar telah dibikin tidak berdaya oleh
kegesitan anak muda tadi, dalam keadaan apa boleh buat ia
ingin mencoba sekali lagi. Dengan gesit sekali ia telah
memutar tubuhnya.
Pemuda baju putih itu kelihatannya sangat tenang, ia
berdiri disitu sambil mengipas dan ketawa-ketawa
mengawasi pada Ho kie.
Karena sudah dua kali serangannya gagal selalu,
sekarang Ho kia tidak berani sembarangan turun tangan
lagi. Sambil memikirkan bagaimana caranya yang baik
untuk menjatuhkan lawannya, ia berkara:
“Dalam tiga jurus, dua jurus seranganku sudah lewat.
Kalau kau masih menggunakan cara berlompat-lompatan
seperti caranya monyet, setelah tiga jurus ini lewat, kau
dihitung kalah. Kau berhati-hatilah.”
Pemuda berbaju putih tersebut, mendadak ketawa
cekikikan..
“Aku liaht, kau hanya satu bocah yang baru turun dari
atas gunung. Tiga jurus itu cuma boleh dihitung aku sengaja
membiarkan kau menyerang. Setelah cukup tiga jurus, aku
nanti baru turun tangan, supaya kau tahu bahwa diatas
langit masih ada langit lagi, diatas manusia, masih ada
manusia yang lebih tinggi lagi.”
“Ooo.. jadinya kau hendak mengingkari janjimu yang
tadi?”
“Bagaimana aku pungkir janji? Tadi sudah kita tentukan,
bahwa dalam tiga jurus aku akan tundukkan kau. Yang ku
maksudkan, sudah tentu mesti aku yang turun tangan
sampai tiga jurus, bukannya kau yang menyerang untuk tiga
jurus.”
Ho kie lalu berpikir, Apakah bocah ini hendak mencari
tahu asal usul ilmu silatku kemudian mencari akal pula
hedak memperdayaiku?
Berpikir sampai disitu, ia lalu menjawab sambil ketawa
dingin,
“Sekarang kau harus berhati-hati benar! Jurus ketiga ini
namanya Malaikat menangkap setan, makanya kau harus
waspada.”
Pemuda berbaju putih dongakkan kepalanya dan ketawa
terkekeh-kekeh.
“Kau boleh turun tangan sepuas hatimu. Sebentar lagi
kita lantas bisa dapat tahu…!” jawabnya.
Ho kie ternyata sangat nakal. selagi pemdua berbaju
putih itu masih mendongak dan ketawa, tiba-tiba ia sudah
menggerakkan kedua tangannya untuk meyerang pada
tujuh tempat bagian jalan darah dibadan pemuda berbaju
putih tersebut.
Serangan secara demikian itu benar-benar diluar dugaan
si pemuda berbaju putih.
Ketika ia tersadar kalau dirinya sudah diakali, Ho kie
sudah berada dekat sekali didepan matanya. Kedua tangan
lawannya itu sudah menghantam bagian-bagian yang
berbahaya pada badannya.
Dalam keadaan demikian, ia sudah tidak mampu lagi
mengeluarkan gerak badannya yang gesit tadi, terpaksa ia
berlaku nekad dan merangsek Ho kie.
Tangan kanannya bergerak menyerang dada Ho kie,
sedangkan ia sendiri menggunakan kesempatan selagi
mengirim serangannya , badannya sudah melompat
mundur.
Ho kie ketawa dingin. Tiba-tiba ia memutar tangan
kirinya, kakinya digeser maju, denganmudah saja dapat
mengelakkan serangan pemuda berbaju putih itu.
Bersamaan dengan itu, ia mengulurkan tangan kanannya
menotok jalan darah Ciang Tay hiat didada kiri lawannya.
Selagi jari tangannya itu menempel pada dada kiri
pemuda berbaju putih itu, mendadak dirasakan seperti ada
apa-apa yang tidak wajar, sebab jarinya seperti menyentuh
barang lunak yang agak melembung.
Semacam barang yang seperti balon melembung,
bentuknya sebesar kepalan tangan.
Tadinya ia ingin menjambret, tetapi suatu pikiran
mendadak terkilas dalam otaknya.
Ia terperanjat hampir lompat dan buru-buru tarik kembali
serangannya. Telinganya mendengar suara bentakan
pemuda itu:
“Kau mau mampus!” kemudian Ho kie merasa matanya
berkunang-kunang karena pipinya kean tamparan dengan
telak. Cepat ia mundur tiga tindak sambil mengusap-usap
pipinya, dengan bingung ia mengawasi pemuda berbaju
putih itu.
Sipemuda berbaju putih tampaknya selembar wajahnya
berubah merah, ia tundukkan kepalanya, agaknya merasa
sangat malu…
Tetapi sebentar saja ia kelihatannya sudah mulai tenang
kembali. Setelah merapikan pakaiannnya lantas berkata:
Sekarang tiga jurus sudah berlalu, tibalah gilirannya
untuk menghajar kau!”
Setelah dengan susah payah Ho kie menenangkan
pikirannya kembali, lantas menjawab dengan perasaan
tidak puas.
“Dalam jurus ketiga tadi kau sudah berhasil menepuk
jalan darahmu. Kau sudah kalah, bagimana masih punya
muka untuk bertanding lagi?”
“Ngaco! kapan aku terkena totokanmu? Bukankah kau
lihat sendiri aku masih berdiri disini dalam keadaan segar
bugar?”
“Kau ini juga ada sedikit keterlaluan. Kau mau menang
sendiri saja, sudah kalah masih tidak mau ngaku. Barusan
terang-terangan aku sudah berhasil menotok jalan daran
Ciang tay hiat didadamu. Kaalu bukan karena didadamu
ada menyimpan suatu benda, niscaya siang-siang aku
sudah….”
Pemuda berbaju putih itu tidak menunggu sampai Ho kie
bicara habis, dengan wajah kemerah-merahan ia
membentak.
“anak sombong! lihat seranganku!”
Badannya benar saja telah bergerak melancarkan satu
serangan.
Saat itu ia sudah seperti melupakan perjanjian bahwa
siapa yang menang dalam tiga jurus, yang kalah harus
berlutut dan manggut-manggut tiga kali dihadapan yang
menang.
Anak muda itu terus melancarkan serangannya yang
bertubi-tubi.
Sebentar saja tujuh atau delapan jurus sudah dilalui, saat
itu cuma kelihatan bayangan putih yang berkelebatan serta
sambarang anginnya yang hebat.
Ho kie tidak berlaku ayal, dengan menggunakna ilmu
silat Hoan eng-sie-sek-nya, semacam ilmu yang
memerlukan kelincahan gerak badan, terus ia
menghindarkan setiap serangan pemuda berbaju putih itu.
“Tahan dulu!” tiba-tiba Ho kie berkata dan lompat
mundur..
“Perlu apa berhenti? Kalau belum ada keputusannya,
jangan harap kau bisa lari!”
kata sang lawan, gemas kelihatannya.
“Kita tadi sudah berjanji hanya boleh bertempur dalam
tiga jurus, sekarang kau sudah melancarkan serangan
sampai delapan jurus dan toh masih belum mampu
menundukkan aku, kenapa kau tidak lekas-lekas berlutut
dihadapanku?”
Pemuda berbaju putih itu melongo, tetapi kemudian ia
lantas menjawab sambil ketawa dingin:
“Siapa kata aku kalah, dalam setiap jurus seranganku
mengandung enam belas rupa perubahan. Delapan jurus
tadi cuma bisa dihitung delapan rupa, sebetulnya satu
juruspun belum ada.”
“Apa ucapanmu semula boleh dipercaya?”
“Mengapa tidak? kalau benar-benar kau mempunyai
kepandaian, sambuti serangan-seranganku yang tiga jurus
ini sampai habis dulu.”
“karena kau tetap hendak mengingkari janji, biarlah kita
adu tenaga sampai ada keputusan.”
“Kau sendiri yang tidak tahu malu msaih berani memaki
orang lagi.”
Karena tidak ada yang mau mengalah, maka keduanya
lantas saling menyerang lagi.
Lewat lagi sepuluh jurus, Ho kie diam-diam terkejut,
sebab kepandaian ilmu silat pemuda berbaju putih itu
memang benar masih berada diatas kepandaiannya sendiri.
Dan apa yang mengherankan, ialah semua gerak tipu
silatnya mirip dengan ilmu silatnya sendiri, maka sangat
sukar untuk ia menjatuhkan lawannya yang tangguh itu.
Dalam jengkelnya, ia mencoba mengeluarkan seluruh
kepandaiannya. Beberapa kali ia sudah mengganti cara
bersilatnya supaya dapat menundukkan lawannya.
Siapa tahu, pemuda berbaju putih itu sangat licin. Setiap
kali serangan Ho kie hampir mengenakan dirinya, selalu
dapat dielakkan dengan cara yang enak sekali.
Pada suatu ketika, anak muda berbaju putih itu
mendadak telah lompat mundur beberapa tindak sembari
bertanya:
“Apakah kau anak murid golongan Hian kui kauw?”
Ho kie tercengang. Ia lantas menghentikan serangannya,
menjawab:
“Mungkin kau sendiri ada muridnya Hian kui kauw.
Apakah lantaran tidak mampu merebut kemangan, kau
lantas hendak mencari alasan untuk kabur?”
“Kalau kau bukan anak murid Hian kui kauw, bagimana
kau dapat menggunakan tipu serangan Kin-na-khiu hoat
dalam kitab pelajaran Hian kui pit kip, dengan baik?”
Hati Ho kie curiga, diam-diam ia berpikir:
Bocah ini tinggi sekali ilmu silatnya, bahkan dalam setiap
serangan dia selalu mencoba mengatasi seranganku.
Apakah dia sendiri anak murid golongan Hian kui kauw?”
Begitu mengingat Hian kui kauw, ia lantas ingat
kematian ayahnya, maka rasa gemasnya lantas timbul
seketika itu. Dengan suara keras ia lantas menjawab:
“Aku dengan Hian kui kauw mempunyai permusuhan
yang sangat dalam. Kalau kau murid Hian kui kauw, hari
ini aku akan membunuhmu terlebih dahulu!”
Pemuda berbaju putih itu tidak marah, sebaliknya malah
menunjukkan roman girang.
“Kalau kau bukannya anak murid Hian kui kauw,”
katanya. “Kenapa ilmu silatmu mirip seperti ilmu silat dari
kitab pelajaran Hian kui Pit kip? Kau tentunya mempunyai
hubungan dengan Toan-theng lojin di Lembah Patah Hati.”
Ho kie terperanjat. “Kau siapa? Bagaimana kau
mengetahui nama Toan-theng Lojin?”
“Bukan cuma mengetahui saja, aku malah bertetangga
dengan dia, dan tidak cuma sekali saja aku melihat padanya
yang mengenakan pakaiannya yang aneh itu yang kadangkadang
berlari-lari diatas bukit Pek-kut nia…”
Mendadak ia menghela napas perlahan:
“Tetapi.. ia agaknya ketimpa oleh nasib malang, seperti
seorang yang sedang dirundung kedukaan hebat. Kadangkadang
ia menangis seorang diri, bahkan tidak mau
menemui orang, juga tidak mau bicara…”
HO kie semakin heran, sebab kepandaian ilmu silat
Toan-theng lojin itu sangat luar biasa hebatnya. Adatnya
juga sangat aneh. Menurut keterangan Toan-theng lojin
sendiri, ia sembunyi dibukit Pek-kut-nia sudah lebih dari
empat puluh tahun lamanya, sedang anak sekolah berbaju
putih ini, usianya masih belum cukup dua puluh tahun.
Bagaimana ia bisa berada dibukit Pek-kut nia dan cara
bagaimana ia bisa melihat Toan-theng lojin serta dapat
mengetahui semua sifat-sifatnya begitu jelas? Hatinya mulai
tergerak, maka lantas ia menanyakan dengan suara
terputus-putus:
“kau… kau siapa?”
“Aku sejak masih kecil sudah berdiam di bukit Pek-kut
nia, terpisah tidak jauh dari tempat tinggalnya Toan-theng
lojin. kau boleh menerka aku ini siapa?”
“Ouw… sekarang kau tahu. Kau pasti murid Cit-cie Sin
hong locianpwe di puncak gunung Sin hong.”
Pemuda berbaju putih itu tertawa dan menganggukanggukan
kepalanya.
“Benar saja! Dengan demikian, juga berarti kau telah
mengakui bahwa kau adalah muridnya Toan-theng
locianpwe.”
“Pantas ilmu silatmu hampir setiap jurus dapat merebut
kesempatan lebih dahulu. Gerak tipu silatmu sangat aneh.
Aku benar-benar sangat tolol, sudah melupakan pada Citcie
Sin hong Locianpwe..”
Ho kie lalu angkat tangan memberi hormat, kemudian
berkata pula:
“Orang yang tidak mengetahui, tidak boleh dianggap
bersalah. Aku ingin numpang tanya, siapakah nama
saudara yang mulia?”
“Aku orang she Lim, namaku Kheng” Jawab sianak
muda. “Sejak aku masih kecil telah belajar ilmu silat di
puncak gunung Sin Hoa. tentang diri Toan theng
locianpwe, meskipun sudah lama aku mengenalnya, tetapi
aku belum pernah medengar kalau dia ada menerima
murid.”
Ho kie lalu memberitahukan namanya sendiri, kemudian
sambil menghela napas berkata:
“Ilmu silat ku meskipun dapat pelajaran darinya, tetapi
aku belum mengangkat guru padanya. Aku berdiam disana
dengan dia hanya satu bulan saja…”
“Aku benar-benar telah kesalahan mengira kau murid
golongan Hian-kui kauw. Sekarang sudah terang,
sebetulnya kita masih terhitung orang-orang sendiir. Tetapi
entah apa sebabnya saudara Ho meninggalkan lembah
seorang diri? Ada urusan penting apa yang hendak
dilakukan?”
Ho kie lalu menceritakan hal ikhwalya Toan-theng lojin,
yang kin telah muncul lagi didunia kang ouw. dan sudah 3
tahun belum kembali. Karena ia merasa kuatir atas dirinya,
maka lantas keluar lembah untuk menyelidiki dimana
adanya orang tua yang bernasib malang itu.
Lim Kheng lalu berkata:
“Sekarang Hian-kui kauw sangat menonjol didunia
rimba persilatan.” kata Lim Kheng.
“Mereka ingin menjagoi dunia persilatan. Toan-theng
lojin karena urusan Hian kui kauw telah meninggalkan
lembah, mengapa saudara Ho tidak langsung menuju
kesarangnya Hian kui kauw untuk mencari kabar?”
“Aku sebenarnya juga ada itu maksud. tapi karena
Toanotheng lojin waktuk pergi telah meninggalkan pesan,
sebelum pelajaran ilmu silatku mahir, tidak boleh
sembarangan masuk kesarangnya Hian-kui kauw untuk
mencari setori, maka sehinggal saat ini aku masih merasa
bimbang.”
“Apasih kepandaian Hian kui kauw yang bisa
dibanggakan? Kalau saudara Ho tidak keberatan, aku
mesipun seorang yang tidak berguna, juga ingin memberi
sedikit bantuan tenaga kepada saudara Ho untuk
mengadakan penyelidikan.”
Sudah tentu Ho kie tidak keberatan atas tawaran
tersebut. Saat itu ia mendadak ingat kejadian aneh yang tadi
malam telah dialami di Cit-lie kang, dimana ada seorang
pemuda lain yang mengenakan pakaian serupa dengan Lim
Kheng.
Lim Kheng yang diberitahukan hal itu lantas menjadi
gusar.
“Manusia siapa yang tidak tahu malu begitu rupa, beraniberani
menyaru pakaian lain orang? mari kita pergi cari lagi
dimana adanya bocah itu sekarang?”
“Aku lihat pemuda itu ilmu silatnya sangat luar biasa.
kepandaiannya tidak dibawah aku dan kau, apakah dia
mungkin…”Ho kie berkata.
“Tidak perlu kita menduga-duga, mari kita lekas cari,
jangan sampai dia kabur” memotong Lim Kheng, yang
lantas gerakkan kakinya dan sebentar saja sudah berada
kira-kira tiga tombak jauhnya.
Ho kie terpaksa mengikuti, hingga dua orang itu berlarilarian
dijalanan yang sunyi itu. Sebentar saja mereka sudha
meninggalkan bukit.
Sedang enak-enaknya mereka berlari-larian, tiba-tida
mendengar suara beradunya senjata tajam.
Lim Kheng lalu hentikan tindakannya, ia berpaling dan
berkata kepada kawannya:
“Saudara Ho, disana ada orang mari kita pergi lihat!”
“Baiklah..!”
Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, Lim Kheng
sudah lompat melesat keatas bukit.
Dari atas bukit kecil itu mereka dapat lihat seorang taoto
dengan wajahnya yang keren, sedang memutar senjata
Siantung(tongkat) bertempur dengan seorang laki-laki tua
yang kurus kering.
Taoto itu badannya tinggi besar, dandannya cukup
mewah. Di pinggangnya maish ada membawa sebilah golok
Kayto yang sangat berat tampaknya. Putaran tongkatnya itu
mengeluarkan sambaran angin yang sangat hebat
mengurung dirinya siorang tua, mulutnya tidak berhentihentinya
membentak-bentak.:
“Anjing, apakah kau sudah buat? berani menggerayangi
kanto aku?”
Laki-laki kurus kering itu juga tidak mau mengalah
mentah-mentah. ia balas memaki:
“Kaulah yang buat. Toaya mu disini banyak uang,
dirumah ada mempunyai 4 orang istri, masakan
memerlukan uang segala kurcaci seperti kau ini?”
“Anjing tua, kau masih berani mungkir?” bentak pula si
taoto sambil ayun tongkatnya yang berat menyerang
lawannya.
Orang tua itu mengerakan badannya, seolah-olah belut
nyelusup dari bawah ketiaknya Taoto, kemudian dengan
sebat sekali tangannya menyambar gagang golok si Taoto
yang menyelip dipingganya. Sebenar saja golok itu sudah
berada ditangannya si orang tua.
Taoto itu terperanjat, sambil mundur beberapa tindak ia
lantas berkata:
“tidak nyana aku Sam Ciok To oh solah mata, Anjing
tua, beritahukan namamu.”
Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang seperti
jenggot kambing, sambil ketawa cengar dengir menjawab,
“aku adalah cukongmu, perlu apa harus memberitahukan
nama?”
Taoto itu semakin mendongkol, “Aku tahu kau tentunya
orang yang diminta bantuan tenaga oleh orang Hoa-sanpay.
kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh pergi ke
Ngo-ku cio. Orang tua seperti kau yang bisanya cuma
melakukan perbuatan mencuri, merampas, apa kau tidak
takut membikin rusak nama Hoa-san pay salah satu partai
terbesar dari 9 partai besar dirimba persilatan?”
“Kalau Hoa-san pay medapat malu ada hubungan apa
dengan aku si orang tua?”
Taoto itu merasa dirinya digoda, kegusarannya semakin
memuncak, maka ia lantas menyerang dengan cepat sambil
membentak keras:
“Anjing tua! Kau cari mampus?”
Kali ini orang tua itu tidak menyingkir atau berkelit,
sebaliknya malah menyambut serangan lawannya dengan
goloknya:
Setelah terdengar suara beradunya senjata. masingmasing
lantas mundur tiga tindak. Orang tua itu memeriksa
senjatanya, ternyat pada senjatanya itu telah kedapatan
sedikit kerusakan, maka wajahnya lantas berubah seketika.
Ia lantas melemparkan goloknya sambil mendumel: “Aku
kira golok pusaka, tak tahunya golok rongsokan.”
Taoto itu yang melihat goloknya rusak, hatinya merasa
duka, sambil kertak gigi, ia memaki-maki.
“akau aku tidak mampu membikin hancur kepalamu,
benar-benar aku tidak puas.”
Kembali ia memutar tongkatnya menyerang orang tua
itu.
Si orang tua melompat tinggi mundur satu tombak lebih,
kemudian lari kabur keatas bukit, sambil sebentar-sebentar
menolej dan mengejek taoto.
“Hai taoto, kalau berani, kau boleh naik kemari.”
Si taoto memungut goloknya sambil berseru keras ia
mengejar keatas bukit.
Ho kie yang menyaksiakn kejadian itu sudah ingin
bertindakk, tetapi telah dicegah oleh Lim Kheng.
Orang tua itu dengan cepat telah berada dibelakang Ho
kie, dengan perlahan ia mendorong tubuh anak muda itu
sambil berkata:
“Saudara kecil, tolong bantu aku. Taoto itu bukan orang
baik-baik.”
Ho kie belum menjawab, orang tua itu sudah melesat
kebelakang Lim Kheng dan berkata dengan suara cemas.
“Kongcuya, Hweesio itu hendak membunuh orang. Apa
kalian tidak mau menolong aku?”
Lim Kheng agaknya merasa kurang senang. selagi ia
hendak menjawab orang tua itu tiba-tiba ketawa dan lantas
mundur tiga tindak.
Gerakannya geist sekali, sebentar saja ia sudah melesat
sejauh sepuluh tombak lebih. Lapat-lapat masih terdengar
suara ketawanya dan nyanyiannya.
“Ngo-kui-Khio, Ngo-kui-Khio segalamacam orang
berkumpul disitu, masing-masing saling berebut, tetapi apa
yang didapat? semua hampa belaka…”
Suaranya itu kedengarannya makin lama semakin jauh,
dan perkataannya yang terakhir itu kedengarannya sudah
tidak nyata lagi.
Ho kie karena melihat si taoto itu terus mengejar, maka
setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata:
“Lim heng, ditempat yang disebut Ngo-Kui-Khio itu
tentu akan terjadi apa-apa, mari kita juga pergi kesana, kau
pikir bagaimana?”
“Tidak! kita cari dulu itu manusia yang tidak tahu
malu..!”
Tetapi pikirannya mendadak tergerak, buru-buru ia
merogoh sakunya. Sebentar wajahnya berubah dan lantas
berseru:
“Aaa… benar-benar dia!”
“Lim-heng, kau katakan siapa?”
“Jalan..! mari kita ke Ngo kui Khio. Bangsat tua itu
sungguh jahat….”
“Siapa? siapa yang kau maksudkan dengan Bangsat tua?”
“Coba kau raba sakumu, Apa barangmu masih ada?”
Ho kie meraba-raba sakunya, seketika ia lantas melongo,
“Celaka !! uangku sudah tidak ada lagi.”
“Demikian juga dengan kau. Sudah dicuri oleh sibangsat
tua tadi.”
“Apakah itu perbuatannya orang tua tadi?”
“Mengapa tidak? Dia adalah sicopet sakti yang terkenal
dikalangan golongan hitam. si taoto tadi sudah memakimaki
dengan nyata, dan toh sekarang kita masih kena
diingusi.”
“kalau begitu, kita jangan buang-buang tempo lagi, mark
lekas kejar.”
“Tidak apa! Dia pasti ke Ngo-kui-khio! kita juga kesana
saja.”
Keduanya lalu meninggalkan bukit itu dengan mengikuti
jejak orang tua tadi mereka dengan cepat mengejar.
Setelah berjalan kira-kira enam atau tujuh lie jauhnya,
jalanan sudah sepi, tidak kelihatan bayangan seorang pun
juga.
-oo0dw0oo-
Jilid 3
HO KIE lalu merasa kurang enak, maka lalu bertanya
“Lim-heng, kemana kita harus mencari Ngo-kui-Khio?”
“Tempat yang disebut Ngo-kui Khio itu rasanya tentu
ada suatu tempat yang ditanami lima batang pohon Kui.
mari lekas kita kejar. Kita coba lihat-lihat keadaan
disekitarnya.”
Masing-masing lalu mengeluarkan kepandaian lari
melesatnya, maka sebentar saja mereka sudah melalui lima
atau enam lie.
Makin lama keadaan makin sunyi. Disepanjang jalan,
yang dapat dilihatnya lapangan yang luas tidak kelihatan
sebuah rumahpun juga.
Mendadak Ho kie mengehentikan gerakan kakinya,
sambil menuding ke tempat tinggal sejauh kira-kira sepuluh
tombak ia berkata:
“Coba kita berada ditempat yang agak tinggi itu, nanti
kita mencari daya upaya lagi.”
Lim Kheng mengangguk, keduanya lantas menuju
ketempat yang ditunjukkan oleh Ho kie.
Di sebelah barat, sejarak kira-kira lima lie dari tempat
mereka berdiri itu, kedapatan suatu lapangan yang luas.
Disitu terdapat suatu bangunan, semacam perkampungan.
Dipingirnya bangunan itu terlihat berdiri lima batang
pohon Kui yang teratur rapi. Ho kie lantas berkata dengan
giran
“Lim-heng, kau lihat? Apa itu bukan tempat yang dsebut
Ngo-Kui-khio?”
sehabis berakta lantas ia lari menuju ke tempat tersebut.
Ketika mereka tiba didepan perkampungan itu, keduaduanya
lantas terperanjat.
Mereka lantas menghentikan tindakan kaki mereka
dengan perasaan terheran-heran.
Karena tempat itu sangat sunyi. Tidak ada suara
manusia maupun binatang. Ditanah lapang kosong
kelihatan beberapa puluh bangkai manusia yang telah mati
menggeletak dalam keadaan yang tidak utuh tubuhnya.
Dimana-manadarah berhamburam. Senjata-senjata
berserakan ditanah. Terang bahwa ditempat tersebut belum
lama berselang sudah terjadi suatu pertempuran yang sangat
hebat. sehingga telah meminta korban yang begitu banyak.
Orang-orang itu kesemuanya adaah orang-orang dari
dunia Kangouw. Tetapi sekrang mereka sudah rebah
bergelimpangan dengan tidak bernyawa. Siapakah mereka
itu? Mengapa mereka bertempur ditanah lapang ini? Sudah
berapa lama mereka binasa?
Lim Kheng mengawasi keadaan disekitarnya sejenak,
lalu berkata dengan menghela napas.
“ah! kita terlambat sedetik saja!”
“Tempat ini sungguh aneh, Apakah orang-orang didalam
rumah binasa semuanya?”
Mendadak angin dingin meniup, sehingga badan Ho kie
mengigil.
“Lim-heng, mari kita masuk untuk melihat-lihat” kata Ho
kie dengan perlahan.
Lim Kheng mengawasi keadaan kampung sejenak lantas
menyahut sambil angguk-anggukkan kepala:
“Baiklah! sebaiknya kau ikuti aku saja, kita jangan
bertindak sembarangan.”
Ho kie merasa tersinggung, Pikirnya, Apa kau kira aku
ini lebih rendah darimu? Tetapi selagi ia hendak menjawab,
ia telah menyaksikan sorot mata yang halus dari mata Lim
Kheng yang sedang menatap wajahnya…
Hati Ho kie lantas berdebaran, dengan tidak terasa lantas
tundukkna kepalanya dan menjawab:
“Baiklah! silahkan Lim-heng jalan lebih dulu!”
Lim Kheng anggukkan kepala sambil tersenyum,
kemudian dengan gerakan gesit ia lompat melesat melalui
lapangan dan telah berdiri didepan pintu perkampungan.
Ho kie sangat kagum menyaksikan kepandaian
meringankan tubuh Lim Kheng, kemudian dia juga
bergerak menyusul padanya.
Pintu itu tertutup dari sebelah dalam, tetapi keadaan
dalam sangat sunyi, sedikitpun tidak kedengaran suara
manusia. Seluruh perkarangan seperti tempat kuburan yang
luas, tidak mirip dengan tempat kediaman manusia.
Lim Kheng mengulur tangan kirinya, dengan perlahan
ditempelkan keatas pintu sambil mengerahkan kekuatan
tenaga dalamnya.
Mendadak telapak tangannya digerakkan, setelah
mendengar barang patah, tulak pintu yang berada disebelah
dalam ternyata sudah dibikin patah. Lim Kheng lalu
menoleh dan tersenyum pada Ho kie, pintu lantas
dipentang dan orangnya lantas melompat masuk.
APA yang terlihat didalamnya? Sungguh merupakan
pemandangan yang mengejutkan. Karena didekat pintu
masuk ada berdiri tiga laki-laki berbadan tegap dengan
masing-masing tangan membawa golok atau pedang, telah
berdiri tegak tanpa bergerak.
Ho Kie lalu menegur dengan suara perlahan :
“Sahabat……..”
“Sttttt……….” Lim Kheng dengan telunjuk jarinya
ditempelkan pada bibirnya memberi isyarat supaya Ho Kie
tidak mengeluarkan suara.
Hening sejenak. Heran, ketiga orang itu tidak
menunjukkan gerakan apa-apa dan kelihatannya mereka
sekarang berdiri seperti patung.
Lim Kheng lalu ketawa seorang diri, kemudian berkata
pada Ho kie.
“Saudara Ho, coba kau periksa, apa sebabnya mereka
tidak dapat bergerak?”
Ho kie lalu memeriksa hidung ketiga orang itu, lantas
berseru kaget:
“Aaaaa, kiranya mereka sudah binasa semuanya.”
“Kalau merek bukan karena sudah binasa, bagaimana
mereka mau membiarkan kita masuk begitu saja?” kata Lim
Kheng sambil tertawa.
“Lim-heng sungguh cerdik! Mengaap aku tidak
memikirkan soal itu sehinggal hampir saja kena tertipu.”
Lim Kheng lalu mulai masuk kedalam untuk memeriksa
rumah itu.
Disitu ternyata ada satu ruangan yang luas dikanan
kirinya berdiri banyak kursi, dikedua sisinya ada pintu yang
menghubungi ruangan luar dengan ruangan dalam.
Kursi dan lantainya kelihatan sangat bersih. Terang
bahwa ruangan itu sudah pernah ditinggali orang belum
lama berselang.
Lim Kheng berpikir sejenak lalu berkata dengan
perlahan.
“Kalau dugaanku tidak keliru, disini pasti sudah terjadi
peristiwa hebat. Musuh kuat sudah masuk kedalam. ketiga
orang tadi tentunya hendak keluar untuk mengadakan
pemeriksaan, tidak dinyana, sebelum membuka pintu.
mereka sudha kena ditotok oleh tangan jahat dari
musuhnya sehingga mereka binasa semua.”
“Dugaan Lim-heng memang ada beralasan. Sudah terang
kalau disini pernah didatangi oleh musuh yang kuat.
Dilapangan tadi terdapat banyak orang yang sudah binasa,
dalam rumah ini sekarang mungkin sudah tidak ada
manusianya lagi yang hidup yang dapat kita mintakan
keterangan”
“Ini masih susah dikatakan. Menurut dugaanku, bangsat
tua dan taoto tadi, pasti ada hubungannya dengan peristiwa
berdarah ini. Tetapi mereka toh hanya lebih dulu sedetik
dari kita, sesudah menyaksiakn pemandangan ini, kemana
pula mereka pergi?” kata Lim Kheng sambil
menganggukkan kepalanya dan lalu mengadakan
pemeriksaan yang teliti pada dirinya ketiga orang yang
sudah binasa tadi. Mendadak ia berkata dengan suara kaget:
“Eeeiii Apa ini bukannya perbuatan orang-orang dari
Hian kui kauw?”
Ketika mendengar disebutnya nama Hian kui kauw,
semangat Ho kie lantas terbangun.
“Bagaimana Lim kheng bisa tahu kalau itu adalah
perbuatan orang-orang Hian-kui kauw?” ia bertanya pada
lim kheng.
“Coba kau lihat dibadannya orang-orang itu. Bukankah
ada tanda matang biru bekas telapakan tangan, yang kini
sudah mulai menyenyah?” Lim kheng sambil menunjuk
pada salah satu mayat.
Ho kie lantas membuka baju mayat yang diunjuk, benar
saja digegernya orang itu ada tanda telapak tangan yang
mengandung darah hitam yang pada saat itu sudah mulai
menyenyah.
Ia bercekat dan berseru:
“Benar saja! orang ini binasa karena serangan ilmu Husie
biat kut ciang dari golongan Hian-kui kauw.”
“Orang yang melakukan serangna ini masih belum cukup
hebat kekuatan tenagnya. Jikalau yang melakukan
Kauwcunya sendiri, Cian-tok lo mo, serangannya dapat
menembusi badan sehingga isi dada hancur semua,
dadanya juga menyenyeh dan sebentar saja akan menjadi
darah hitam.”
Mendadak Ho kie mengingat kembali akan kematian
ayahnya ditangan Bo Pin, dan Bo Pin ini yang
kedudukannya semacam algojo dari Hian-Kui Kauw,
sepantasnya mempunyai kekuatan yang cukup tinggi. Kalau
begitu, kematian ayahnya juga tentunya menggenaskan
seperti orang-orang ini. Perasaan gemas dan gusar lalu
timbul diotaknya, sambil kertak gigi ia berkata kepada
kawannya:
“Lim-heng,kalau benar dalam peristiwa ini adalah
perbuatan orang-orang Hian-kui kauw. kita tidak boleh
berpeluk tangan saja.”
“Ini sudah tentu! Kita yang sudah menyaksikan dengan
mata kepala sendiri, biar bagaimana harus menyelidiki
sampai kedasar-dasarnya.”
Sehabis berkata demikian, ia lalu pentang kipasnya untuk
melindungi dadanya, kemudian ia melesat kedepat pintu
disebelah kiri lalu menoleh dah berkata kepada kawannya.
“Saudara Ho, kita masing-masing memasuki satu pintu,
kita lihat didalmnya ada terjadi apa lagi yang aneh”
Ho kie yang menyaksikan ketawa kawannya, tiba-tiba
hatinya berdebaran. Diotaknya lantas terbayang gerakgeriknya
yang mengarahkan dari tingkah laku seorang
wanita. Mungkinkah kawannya ini adalah seorang wanita
yang menyaru menjadi seorang pria?
Selagi Ho Kie bepikir demikian Lim Kheng sudah masuk
jauh kedalam maka ia terpaksa masuk kelain pintu.
Dari pintu yang dimasuki Ho kie terdapat jalan yang
lurus, dipinggir jalan ada tanaman rumput dan bunga-bunga
yang lebat.
Ho kie memasang telinganya, sedikit suara pun tidak
kedengaran, maka ia terus masuk kedalam salah satu kamar
yang ada disitu.
Dengan sangat hati-hati sekali, Ho kie mengadakan
penyelidikan, ia mendapat perasaan bahwa keadaan
ditempat itu sangat seram. Kecuali suatu angin yang
membuat daun pintu dan jendela bergoyang, seluruh tempat
disekitarnya sangat sunyi.
Tidak lama kemudian, ia sudah dapat melalui tiga buah
bangunan rumah, tetapi tetap ia belum berhasil menemukan
bayangan seorangpun juga.
Setelah berjalan kesana kemari, ia tiba disebuah ruangan
kecil yang indah pemandangan dari kamarnya.
Dalam kamar itu terdapat dua buah lemari buku, sebuah
meja besar, didinding ada banyak gambar-gambar dan
tulisan-tulisan orang terkenal, sehingga Ho kie dapat
menduga bahwa kamar itu adalah kamar bagi tuan rumah.
Selagi ia hendak keluar berlalu, tiba-tiba melihat sehelai
kertas tulis diatas meja yang masih ada bekas tanda belum
lama orang menulisnya.
Karena merasa tertarik, ia lantas memeriksa tulisan
tersebut. ternyata tulisan itu adalah surat yang belum selesai
ditulis semuanya.
Karena sepasang mata Ho Kie dapat melihat dalam
keadaan gelap dengan tidak usah menggunakan penerangan
apa-apa, maka ia dapat membaca bunyi surat itu dengan
berbunyi demikian.
“Rahasia tentang Kalajengking emas sudah terbuka.
Musuh-musuh yang kuat sekarang sedang mengepung,
sehingga sukar untuk bertindak barang sedikitpun juga. Hal
ini harap supaya lekas disampaikan kepada Ciang-bun-jiu
supaya segera mengutus….”
Surat itu masih belum selesai ditulis semuanya, maka ia
tidak mengetahui surat itu ditujukan pada siapa. Barangkali
orang yang menulis surat itu sudah berlalu dengan sangat
tergesa-gesa dan tidak akan kembali lagi, maka surat itu
ditinggalkan begitu saja diatas meja.
Tetapi siapakah orangnya yang menulis surat itu, Benda
apakah yang dimaksudkan dengan Kalajengking emas itu?
Apakah orang itu juga sudah binasa ditangan musuhnya?
Rupa-rupanya dugaan timbul dalam otaknya Ho Kie, ia
menduga bahwa Kalajengking mas itu adalah sebuah benda
pusaka yang sangat berharga yang sudah didapatkan oleh
majikan dari rumah gedung ini.
Semula tentunya benda itu ingin diberikan kepada Ciang
bun jiu partainya, tetapi kemudian telah diketahui oleh
orang lain yang timbul maksudnya hendak merampas
benda tersebut, maka ia lantas meninggalkan surat untuk
minta bantuan ….
Kalau dugaannya itu tidak salah. Cungcu dari
perkampungan ini tentunya juga adalah orang dari rimba
persilatan.
Ho Kie masukkan surat itu kedalam sakunya, lalu
memandang keadaan diatas meja. Diujung kanan meja ada
terdapat sebuah kotak kecil. Ketika ia coba mengangkat,
ternyata sangat berat.
Ia kelihatan bersangsi.
Menurut pantas, barang yang ada didalam peti, sudah
tentu kepunyaan orang lain yang tidak seharusnya dibuka
sembarangan. Tetapi karena disini sekarang tidak ada
seoraug manusiapun yang masih bernyawa, suatu perasaan
ingin tahu mendorong padanya untuk membuka kotak itu.
Tepat pada saat itu, dibelakangnya seperti terdengar
suara orang ketawa dingin.
Ho Kie terperanjat. Ia cepat-cepat memutar tubuhnya
dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Diluar pintu kamar tampak seperti ada berkelebat
bayangan hitam yang telah menghilang dengan cepat.
cepat2 ia meletakkan kotak itu diatas meja, segera ia
lompat melesat untuk memburu kaarah bayangan tersebut.
Tetapi diluar kamar ternyata sudah kosong melompong,
tidak kelihatan bayangan seorang pun juga.
Diam-diam Ho Kie merasa kaget. Karena suara tadi
memang benar adalah suara orang, tidak disangkanya
bahwa gerak geriknya sendiri sudah dalam pengintaian
orang.
Kalau orang itu adalah orang-orangnya Hian-kui kauw,
pasti ia akan hajar mampus, maka ia sengaja ketawa dingin
juga lalu berkata :
“Hai, kawanan tikus. Perlu apa main sembunyisembunyi?
Kalau betul berani, lekas kau unjukkan diri !”
Tetapi biar bagaimanapun ia sudah mengejek, tetap tidak
ada orang yang menjawab. Ia lalu balik lagi kedalam kamar
dan hendak membuka kotak itu untuk melihat apa isinya.
Rupa-rupa pikiran telah mengaduk dalam otak Ho Kie.
Hampir semua benda yang sangat berharga itu diingininya.
Tetapi akhirnya pikiran sehat dapat menindas semua
perasaan serakahnya, ia lantas membungkus barang2
berharga itu dengan sehelai kain dan diletakkan kembali
ditempat asalnya.
Ia mengerahkan kekuatannya dengan sekali tepok saja ia
sudah dapat menghancurkan kotak itu.
Apa yang dilihatnya? Ho Kie kesima, kiranya isi kotak
itu adalah mutiara, berlian, emas dan batu giok yang sangat
berharga.
Ia menghela napas dalam-dalam, sesaat lamanya ia
hampir-hampir tidak mau melepaskan barang2 berharga itu.
Dalam hatinya berpikir, bahwa keadaan dirinya sendiri dan
Lim Kheng berdua, pada saat itu sudah tidak mempunyai
uang barang sepeser dan emas beserta barang permata itu
justru sangat dibutuhkan oleh mereka untuk ongkos dalam
perjalanan. Apa lagi jika benar Lim Kheng adalah seorang
wanita yang sedang menyaru, batu batu giok ini pasti
disukainya”
Benda-benda ini mungkin sudah tidak ada pemiliknya
lagi. Bukankah sangat sayang kalau diletakkan didalam
rumah kosong……..?
Diantara barang-barang berharga itu ia telah menemukan
dua buah kunci kecil yang terbuat dari emas murni. Kuncikunci
itu sangat halus buatannya, mungkin bukan barang
perhiasan biasa, ia lalu mengantongi kedua buah kunci itu
kemudian keluar dari dalam kamar itu.
Karena disitu ia sudah membuang banyak waktu, ia
kuatirkan kalau kawannya, Lim Kheng mendapat bahaya,
maka dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas cepat melesat
ke-atas genteng.
Ia melihat dirumah paling belakang ada berkelebat sinar
terang, tetapi ketika ia memasang telinganya, kembali ia
sudah tidak ragu-ragu ia lantas lompat melesat kebagian
rumah yang ada berkelebat sinar terang tadi.
Dengan sangat hati hati ia memeriksa keadaan rumah
tersebut, ternyata rumah itu di bangun diatas sebuah bukit
kecil yang terpisah agak jauh dari pada rumah rumah yang
terdapat dibagian depan. Ia berdiri ditengah tengah,
terpisah oleh sebuah lapangan yang seluas sepuluh tumbak
lebih, sehingga bangunan tersebut kelihatannya mencil
sendirian.
Karena Ho Kie ada seorang yang berkepandaian tinggi
dan bernyali besar, maka ketika ia melihat bahwa pintu
rumah itu tidak terpalang, ia lantas mendorong dengantangan
kanannya. Setelah berada didalam rumah, baru
diketahuinya bahwa keadaan di dalam situ ternyata banyak
berlainan dengan yang sudah-sudah ia masuki,
ternyata rumah itu sangat sederhana. Di dalamnya tidak
terdapat perlengkapan perabot apa-apa, hanya dibagian
yang berdekatan dengan bukit, ada sebuah bangunan
berupa kuburan besar yang terbuat dari batu pualam.
ooo0dw0ooo
HO KIE TERPERANJAT.
Ia heran, mengapa kuburan bisa terdapat didalam
rumah? Kalau mau dikatakan bahwa tempat itu digunakan
untuk tempat abu leluhur, tidak perlu dibuat berbentuk
semacam kuburan. Apa lagi seluruh rumah itu, kecuali
sebuah bangunan berupa kuburan, sudah tidak ada lagi
tempat abu yang lain-lainnya.
Ia menduga bahwa batu kuburan itu pasti mengandung
rahasia, maka dengan sikap yang hati-hati sekali ia maju
mendekati.
Didepan batu kuburan itu berdiri sebuah batu kecil yang
bertulisan sudah tidak kelihatan lagi apa dan bagaimana
bunyinya.
Ho Kie memeriksa mengitari kuburan tersebut, Tetapi
tetap ia tidak mendapatkan apa-apanya yang aneh.
Selagi berada dalam keragu-raguan, tiba2 kedengaran
lapat-lapat suara tindakan kaki orang.
Ia terkejut, buru2 bersembunyi dibelakang kuburan.
Sebentar kemudian, dari luar pintu telah muncul seorang
jangkung dan seorang cebol.
Ho Kie yang mengintai dari belakang kuburan telah
mengenali orang yang jangkung itu adalah padri buas yang
menyebut dirinya Sam-ciok Taoto, sedangkan yang cebol
berpakaian hijau berusia kira-kira 40 tahun.
Taoto itu tidak kelihatan membawa tongkatnya.
Ditangannya hanya memegang sebilah golok, matanya
memandang buas dan sikapnya sangat keren. Sedangkan
kawannya sangat aneh bentuknya, badannya dibagian atas
tidak berbeda dengan badan orang biasa umumnya tetapi
kedua kakinya amat pendek, sehingga kelihatan seperti
anak-anak yang masih belum dewasa.
Begitu masuk, Taoto itu lantas bertanya dengan suara
rendah :
“Shao-heng, kau kira apa kita tidak datang terlambat?
Dalam kuburan ini apa tidak ada orang lain yang sudah
masuk lebih dahulu?”
Si Cebol memandang sepasang matanya yang tajam lalu
menyahut sambil anggukkan kepalanya :
“Tidak salah! Kelihatannya seperti sudah ada orang lain
yang masuk lebih dahulu. Barang itu masih ada atau tidak,
susah dikatakan.”
“Ini semua gara3 simaling tua yang mau mampus itu.
Kalau dia tidak mencuri uang dan senjata rahasia kita,
bagaimana aku bisa terlambat sampai sekarang baru
menemui kau?”
“Aku sudah tahu bahwa kau kalau melihat arak lantas
lupa daratan. maka begitu mendengar beritanya tentang
siorang tua she Lo itu, aku lantas memanggil kau kemari
dan memesan wanti-wanti jangan sampai kau minum
arak.., Kau tahu, selama beberapa hari ini berapa cemas
hatiku, disuatu pihak aku harus melayani Lo su ie. jangan
sampai dia mengabarkan kepada Hoa-san. dilain pihak aku
harus berhati-hati terhadap orang-orangnya Hian kui-kauw,
jangan sampai mereka menganggap aku ini berkomplot
dengan orang she Lo itu dan mereka turun tangan lebih
dulu kepadaku….Akh! Sekarang ini kukatakan semuanya
juga sudah tidak ada gunanya. Mudah-mudahan usaha kita
tidak didahului oleh lain orang, sehingga benda pusaka itu
dibawa kabur.”
“Shao heng, kau sudah mengetahui benar jalan masuk
kedalam kuburan ini? Apa kau pikir tidak bisa salah?”
“Kalau kau takut akan terjebak, kau tunggu saja, aku
diatas jangan turut masuk.”
“Mana bisa begitu! Kita merupakan sahabat-sahabat dari
banyak tahun. Senang dan susah kita rasakan bersama-sama
bagaimana aku tidak mau ikut masuk?”
Si cebol ketawa dingin, dengan tindakan lebar ia berjalan
kedepan kuburan. Dengan kedua tangannya ia mengangkat
batu kuburan, Ia coba goyang sampai dua kali, mendadak
wajahnya berubah.
Si cebol tegang sendiri sikapnya, ia memutar-mutar batu
itu kekanan dan kekiri, mendadak memaki sendiri :
“Kurang ajar! Sungguh aneh. Rasanya benar2 seperti
sudah ada orang yang masuk kedalam batu kuburan ini,
mari kita lekas sedikit”
Pada saat itu, dari dalam kuburan mendadak telah
terdengar suara keresekan.
Mata si cebol membelalak “Cilaka” ia berseru dengan
suara perlahan.
Setelah berseru, dengan cepat ia lalu lompat mundur
kesampingnya si Taoto. Keduanya lalu sama-sama lompat
melesat keatas penglari rumah.
Ho Kie yang menyaksikan kegesitan si Taoto dan sicebol
diam-diam merasa gusar.
Sebentar kemudian suara tadi kedengarannya semakin
nyaring. Batu kuburan itu perlahan-lahan menjeblak
kebelakang, disitu lantas kelihatan sebuah pintu goa. Tidak
lama kemudian, dari dalam goa itu lantas kelihatan
munculnya seorang ,tinggi kurus berpakaian hitam yang
berjalan sempoyongan.
Orang itu sekujur badannya penuh darah, rambutnya
kusut, wajahnya mesum, pada pakaiannya dibadannya
terdapat beberapa bagian yang pecah. Ia membawa sebilah
golok Kui taoto terang ia sedang menderita luka-luka.
Baru berjalan kira-kira 5 tindak, mendadak ia muntahkan
darah segar. Tapi ia masih kuatkan dirinya dengan golok
untuk menunjang tubuh jangan sampai rubuh.
Setelah mengaso sejenak, lalu memesut darah
dimulutnya, kembali ia berjalan hendak keluar pintu,
Mendadak si cebol dan si Taoto melayang turun dan
menghadang didepannya.
Orang itu terkejut, buru-buru angkat goloknya untuk
melindungi dadanya, lalu mundur dua tindak,
“Ko hiocu, aku yang rendah adalah Shao Cu Bung, apa
kau sudah tidak kenal aku lagi ?” si cebol berkata.
Orang itu memandang dengan mata yang layu, setelah
mengeluarkan seruan kaget, lantas turunkan goloknya dan
berkata sambil tertawa getir :
“Kiranya Shao Losu, kau…. kau kenapa juga datang
kemari ?”
Si cebol dengan tajam mengawasi orang itu, tidak
menjawab pertanyaannya, sebaliknya balas bertanya:
“Ko hiocu baru keluar dari dalam kuburan ini, kiranya
Ko tancu juga sudah datang sendiri, apa sekarang masih
berada didalam?”
Orang she Ko itu berdiam sejenak, lantas menjawab
sambil menganggukkan kepala;
“Dengan terus terang, tancu sekarang ini sedang
terkurung dibawah tanah, dia suruh aku melarikan diri
untuk meminta bala bantuan Hoa-san-pay ada mempunyai
beberapa orang kuat yang melindungi, fihak kita sudah ada
4 atau 5 orang yang binasa.”
“Apa benar? Kalau begitu kita harus lekas masuk
kedalam lobang untuk membantu Li tancu!”
“Kalau Shao losu mau berbuat demikian, kita Hiau-kuikauw
pasti akan mengucapkan banyak terima kasih kepada
Shao losu di kemudian hari pasti akan membalas budimu
ini.”
“Tak usah kuatir. Ko hiocu boleh lekas minta bala
bantuan, disini ada aku si orang she Shao yang akan
membantu Li Tancu, tidak nanti meleset!”
Orang she Ko itu tampaknya merasa sangat berterima
kasih atas bantuan kedua orang itu, dengan tanpa curiga
apa-apa, ia lantas memberi hormat sambil angkat
tangannya, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan
sempoyongan.
Si cebol terus mengawasi, setelah orang itu berjalan kirakira
5 tindak, sicebol tiba-tiba menyerang dan tepat
mengenakan gegernya orang she Ko itu, hingga tengkurap
ditanah dan binasa seketika,
Ho Kie yang menyaksikan kejadian itu, hatinya merasa
bergidik. Dalam hati berpikir orang she Ko itu meski
seorang dari Hian-kui-kauw yang sudah sepantasnya
mendapat bagian karena dosa-dosanja, tapi sicebol juga
agaknja terlalu telengas, terang dia bukan bangsa baik-baik.
Si cebol setelah membinasakan orang she Ko itu lalu
berkata kepada sitaoto:
“Hun tancu dari Hian-kui-kauw Lie Hui Hauw, sekarang
sedang berada didalam lobang kuburan. Orang itu
mempunyai kekuatan tenaga pemberian alam yang luar
biasa. Sekarang ternyata dia telah terkurung, dari partay
Hoa-san-pay pasti ada datang orang-arang yang
berkepandaian sangat tinggi. Kita sebaiknya menggunakan
kesempatan kedua pihak itu bertarung mati-matian lekaslekas
turun tangan, kalau terlambat nanti tidak keburu lagi!”
Taoto itu menganggukkan kepala sebagai tanda
menyetujui usul kawannya, ia buru-buru membuka kantong
senjata rahasianya dari badan Ko hiocu yang sudah jadi
bangkai, lalu diikatkan pada pinggangnya sendiri.
Berjalan belum beberapa tindak, si taoto mendadak
berhenti dan bertanya:
“Ya, kau tadi mengatakan orang tua kurus kecil yang
mencuri uang dan senjata rahasiamu, apakah bukan
seorang tua yang mempunyai jenggot seperti kambing dan
matanya sebelah kiri agak kurang leluasa kalau berkedip?”
“Benar, dia memang mempunyai jenggot seperti
kambing, Tapi bagaimana keadaan matanya kurang jelas…

“Kalau begitu pasti itu pencuri ulung si Auw-yang Khia,
yang namanya sangat kesohor dalam kalangan hitam,
Bangsat tua itu banyak akalnya, kekuatannya juga hebat,
pula merupakan kakek moyangnya pencuri, terhadap kita,
ancamannya tidak lebih kurang dari pada Lie Hui Hauw.
Kita harus lebih berhati-hati terhadapnya.”
Bersama si taoto ia lantas mulai masuk ke dalam lobang
kuburan itu.
Ho Kie yang melihat pintu rahasia lubang itu tidak
ditutup, ia tidak mau menghilangkan kesempatan sebaik ini,
maka diam2 ia mengikuti dibelakang kedua orang tadi.
Jalanan masuk kedalam lobang itu merupakan suatu
lorong sempit yang berliku-liku. Oleh karena Ho Kie
mengintai segala tindak tanduknya kedua orang tadi, maka
ia sengaja berjalan sangat perlahan dan harus menahan
napas supaya jangan sampai dipergoki.
Lorong itu kira-kira ada dua tombak panjangnya.
Sehabis melalui lorong itu, ada terdapat sebuah kamar batu
yang luas. Ho Kie dengan jalan sembunyi mengawasi
keadaan kamar itu.
Begitu melihat, ia menjadi bingung sendirinya, sebab
dalam kamar itu, selain jalanan masuk dari lorong tadi,
ketiga dinding lainnya juga ternyata masih mempunyai
pintu yang berderet deret yang tidak kurang dari tujuh
lubang banyaknya.
Karena kedatangannya itu sedikit terlambat, maka ia
sudah tidak dapat melihat si cebol dan si taoto itu tadi
memasuki pintu yang sebelah mana.
Ini membuat ia bingung sendiri, Ia berdiri ditengah
tengah ruangan dan mengawasi keadaan disekitarnya,
tetapi juga tidak kedengaran suara gerakan apa-apa.
Dalam keadaan yang demikian itu terpaksa ia harus
mencari sendiri. Dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas
mendorong pintu ketiga didinding sebelah kanannya.
Dalam pintu itu, kelihatan juga seperjalanan lorong yang
sangat dalam.
Setelah merasa ragu-ragu sejenak, ia lalu bertindak maju
lagi. Dengan cepat ia sudah berjalan kira-kira tujuh atau
delapan tombak jauhnya, kembali ia tiba disebuah kamar
batu, Kamar ini kelihatannya lebih kecil dari pada kamar
yang pertama sekali ditemuinya, dan apa yang
mengherankan ialah, disitu juga terdapat kira-kira enam
atau tujuh buah pintu.
Ho Kie berpikir keheranan. Berapa luasnaja kuburan ini,
diingat dari perjalananku tadi, saat ini barangkali sudah
berada jauh dari luar gedung tadi.
Pada saat itu, ia agaknya lantas mengerti apa sebabnya
gedung dalam perkampungan ini dibangun menurut
keadaan dibawah kaki bukit dan apa pula sebabnya
dibagian depannya terdapat sebidang tanah lapang yang
sepuluh tumbak lebih luas.
Menurut perhitungannya sendiri, pada saat itu ia
seharusnya sudah berada ditengah-tengah bukit.
Ia merasa menyesal tadi telah mengikuti tindakannya
sicebol, Ia lebih menyesal lagi, mengapa tadi ia tidak mau
mengintai dari jarak dekat, sehingga sekarang ini dirinya
berada dalam suatu tempat yang tidak mengetahui menuju
kemana.
Apakah Lim Kheng juga memasuki jalanan dibawah
tanah ini? Kalau ya, sekarang ini dia entah berada dibagian
mana?
Hatinya menjadi jeri. Ho Kie tidak berani gegabah lagi,
sebab didalam tanah itu, jalanan simpang terlalu banyak
jumlahnya, sekali saja salah bertindak ia tentunya akan
kesasar.
Selagi berada dalam keadaan bingung, suara jeritan
mengerikan mendadak masuk kedalam telinganya. Ia
mencoba mengamat-amati suara itu, rasanya keluar dari
pintu keempat, Ia lalu maju mendekati dan menyerang
pintu batu dengan menggunakan kedua tangannya.
Ketika pintu itu terpukul hancur dan terbuka, dari dalam
telah menerobos keluar sesosok bayangan orang,
Ho Kie dengan cepat mundur empat tindak, lalu
menegur dengan keras ; “Siapa?”
Orang yang ditanya tidak menjawab. Hanya dengan
kedua tangannya mendekap kepalanya, Ia berputaran
didalam kamar sambil menjerit jerit, agaknya sedang
menderita rasa sakit yang agak hebat.
Setelah lari berputaran dua kali putaran-orang itu
mendadak menubruk Ho Kie….
Sambil membentak keras Ho Kie lalu mengayun
tangannya menyerang.
Orang itu setelah terserang jatuh bergelimpangan dan
jungkir balik, tubuhnya dengan tepat telah membentur
dinding, sehingga kepalanya pecah dan ia binasa seketika
itu juga.
Ho Kie mengambil batu api. Setelah menyalakan api, ia
telah menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan.
Kiranya, sekujur badan orang itu penuh digerumuti
semut besar-besar, sehingga keadaan badannya sudah tidak
karuan macam.
Pada saat itu, dari dalam lubang pintu itu merayap
keluar puluhan ribu binatang semut.
Ho Kie yang menyaksikan itu, hatinya berdebaran
badannya sampai dirasakan bergetar, buru-buru ia
padamkan apinya dan masuk kedalam pintu yang lain.
Dalam keadaan tergesa-gesa ia sudah tidak keburu
melihat pintu mana yang telah dimasukinya, ia segera
menutup pintunya. Setelah kakinya tenang kembali, barulah
ia memeriksa keadaan tempat yang dimasukinya. Apa
lacur, pintu itu ternyata merupakan jalan buntu yang
disekitarnya terkurung oleh dinding batu yang tebal.
Ia menghela napas dalam-dalam. Sekarang, kecuali
menempuh bahaya dengan jalan menerjang kepungan
binatang semut dan menerobos keluar diri situ, sudah tidak
ada jalan lain lagi baginya,
Tetapi kalau diingatnya bagaimana keadaan orang yang
dikerubuti oleh semut-semut tadi, bulu romannya telah
berdiri dengan tidak terasa lagi.
Ia lebih suka mati terkurung dalam kamar itu dari pada
dirinya dibuat santapan oleh binatang semut itu. Dalam
keadaan demikian. Ia lantas duduk bersemedi sambil
memikirkan jalan keluar.
Kira-kira tiga jam sudah berlalu, keadaan di luar kamar
mungkin sudah, hampir malam. Entah dimana adanya Lim
Kheng sekarang? Apakah ia dapat menemukan jalanan
dibawah tanah itu? Andaikata ia dapat menemukan jalanan,
ia juga tidak akan mengetahui kalau dirinya sekarang
sedang terkurung disitu. Memikir sampai disitu, ia lantas
mulai putus asa.
Tetapi apakah ia pun mandah binasa didalam kamar
kecil itu? Tidak! Ia masih harus mencari dimana adanya itu
orang tua yang memberikan pelajaran padanya ilmu silat
yang demikian tingginya dan ia masih memerlukan belajar
ilmu silat lebih tinggi lagi untuk dapat menuntut balas pada
Hian kui-kauw atas kematian ayahnya.
Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia telah mengingat
kembali pesannya siorang tua Toan theng Lojin yang
menyuruh ia belajar silat dari Cit-cie Sin-hong. Bukanlah
Lim Kheng itu mengaku sebagai muridnya Cit-cie Sinhong?
Tetapi apakah, ia mau mengajak dia untuk belajar
ilmu silat pada Cit-cie Sin hong suhunya itu?
Tetapi kemudian ia merasa geli sendirinya, sebab untuk
meloloskan dirinya sendiri sekarang ini saja ia sudah tidak
mampu, bagaimana ia mau memikirkan belajar ilmu silat
pada Cit-cie Sin hong?
Entah berapa lama telah berlalu dalam keadaan
demikian.
Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang amat
perlahan, Ia coba memasang telinganya, benar saja, suara
itu terdengar dari dinding sebelah kanannya. Meskipun
suara itu halus, tetapi terdengarnya nyata didalam
telinganya.
Ho Kie girang, ia buru buru mendekati dinding dan
mengetuk ngetuk dua kali.
Benar saja, suara ketukan dilain kamar itu lantas
berhenti.
Sebentar lagi, Ho Kie coba mengetuk sambil menanya
dengan suara perlahan :
“Siapa disana?” Berulang-ulang ia memanggil, tetapi ia
tidak mendapat jawaban.
Ho Kie melompat bangun, dengan seluruh kekuatan
tenaga ia coba menggempur dinding tersebut. tetapi kecuali
ada sebagian yang runtuh batunya, dinding itu tidak
mendapat keretakan lainnya.
Selagi ia merasa putus asa, mendadak mendengar suara
orang bicara padanya:
“Kau berbuat demikian, sekalipun kau gempur sampai
satu tahun juga tidak bisa bikin hancur tembok dinding ini!”
Ho Kie kaget, ia bertanya ;
“Kau siapa?”
“Siapa aku? Sama dengan kau yang harus menantikan
kematian didalam kamar ini!”
Suara itu agaknya pernah ia dengar, tapi sesaat itu Ho
Kie sudah tidak ingat lagi di-mana ia pernah dengar suara
itu.
“Pembicaraan antara kita bisa dapat di dengar dengan
jelas, disekitar kamar ini tentunya ada terdapat lobang
angin, coba kau periksa dengan teliti!” berkata Ho Kie.
“Kau sendiri bagaimana tidak bisa cari, kita belum kenal
sudah berani memerintahi orang!” jawabnya orang itu
dingin.
Ho Kie merasa mendongkol dan geli sendiri. Tanpa
banyak bicara, ia lantas keluarkan ilmunya merayap
didinding, dengan hati hati ia mencari lobang hawa. Benar
saja, di ujung bagian atas kamar itu, terdapat tiga buah
lobbang kecil.
Ia coba mengintai dari lobang itu, tapi keadaan gelap
gulita, tidak dapat ia melibat apa-apa.
Ho Kie lompat turun dan berkata dengan suara agak
keras ;
“Hai! Sahabat! Aku sudah menemukan lobang hawa!”
“Kau bisa berbuat apa dengan lubang hawa itu, Siangsiang
aku juga sudah menemukan, Semua ada tiga lobang
tapi dirimu tokh tidak bisa berubah menjadi binatang kecil
lalu kau bisa keluar dari lubang sekecil itu.”
“Kau ini bagaimana sih? Kita berdua terkurung dalam
kamar tutupan, namun tampaknya sedikit pun tidak
memiliki perasan?”
“Kau suruh aku berbuat bagaimana? memangnya aku
harus bertekuk lutut dihadapanmu yang dibatasi oleh
tembok dinding itu?”
Kalau aku bisa lihat kau, aku pasti sedikit memberi
sedikit hajaran padamu seorang yang sombong, congkak?”
“Kau jangan banyak lagak siapa yang sombong congkak
?”
Sekarang Ho Kie mendadak ingat, bahwa suara itu
ternyata sama dengan suaranya si anak muda yang
berdandan seperti anak sekolah yang mirip dengan Lim
Kheng.
Dengan penuh perhatian ia berseru ;
“Apakah Lim Kheng?”
Orang itu ketawa geli. “MaAf, aku bukan seorang she
Lim”
Ho Kie tercengang, ia mencoba sekali lagi :
“Lim Kheng, apa kau sudah tidak kenali suaraku? Aku
Ho Kie di sini.”
“Maaf, aku juga tidak kenal siapa Ho Cit atau Hopat.”
Ho Kie menjadi gusar. Dengan gemas ia menggempur
dinding dengan kepalannya.
tanpa memperdulikan runtuhnya reruntuh batu dinding,
ia terus menggempur secara berulang-ulang, akan tetapi
dindingnya sedikitpun tidak bergeming. Tapi Ho Kie yang
keras kepala benar-benar tidak memperdulikan bisa
membikin runtuh dinding itu atau tidak, terus menggempur
tidak hentinya. sehingga benar saja. dalam kamar itu sudah
penuh pecahan batu dan abu.
Mungkin karena lelah. Ho Kie berhenti sendiri, napasnya
memburu.
Orang itu tidak mendengar suara Ho Kie lagi, ia lantas
menegur sambil tertawa dingin;
“Mengapa tidak menggempur lagi? Kalau kau terus
berbuat demikian, barangkali tidak usah menunggu tiga
tahun, kau benar-benar sudah bisa bikin ambruk gedung ini.
coba saja terus! Siapa tahu ?” Sehabis berkata demikian ia
lantas tertawa bergelak.
Ho Kie yang sudah letih, membiarkan diri-nya diejek
seolah-olah tidak mendengarnya.
Lama, setelah tenaganya pulih kembali, dengan tidak
disengaja ia menemukan sebuah lubang anak kunci kecil,
disebuah tempat yang sudah runtuh, ia telah mendapatkan
suatu lubang kunci yang sangat terrahasia. Kalau tidak
karena temboknya pada berarakan lubang itu sungguh tidak
mudah dapat dilihat,
Ia lalu ingat pada kedua anak kunci emas yang
didapatnya dari kotak kecil, ia lalu keluarkan dari sakunya
dan dicoba satu demi satu kelubang itu.
Tiba-tiba terdengar suara Greeek, benar saja dinding itu
telah memperlihatkan sebuah pintu. Dengan tidak berayal
iagi Ho Kie lantas melompat masuk kedalam kamar
disebelahnya sembari membentak :
“Bocah kau……….”
Siapa nyana, ketika ia berhadapan dengan orang yang
berada disebelah kamar, seketika lantas melongo dan tidak
dapat melanjutkan ucapannya bahwa kagetnya.
Ho Kie anggap orang itu Lim Kheng, tapi sebenarnya ia
itu adalah anak sekolah yang mirip Lim Kheng, maka ia
berkata :
“Di Cit-cie-kang, Kau sudah kabur dari tanganku tapi
sekarang kita sama terkurung dalam kamar ini, kemana kau
mau lari?”
“Apa kau kira aku takut padamu ?” demikian jawab anak
sekolah itu dengan tenang.
Ho Kie yang mengingat bagaimana dirinya telah
dipermainkan oleh anak muda itu, ia sudah tidak dapat
mengendalikan lagi amarannya. Dengan cepat ia mengulur
tangan kirinya untuk menyambar tangan anak sekolah itu.
Anak muda berbaju putih itu mementang kipasnya
menangkis tangan Ho Kie, kakinya bergerak secara cepat,
dengan aneh pula telah berbelit kesamping.
“Kau cari mampus!” ia membentak keras.
“Siapa mampus, siapa hidup? Sekarang masih terlalu
pagi untuk diramalkan. Bocah tolol, sambuti seranganku!”
jawab Ho Kie sumbil ketawa dingin.
Ia lantas maju menyerang dengan ilmu silatnya Hiankui-
cap-sa-sek-kin-na-khiu, ia ingin dalam segebrakan saja
dapat menundukkan lawannya.
Tetapi- sang lawan secara indah sekali sudah dapat
menghindarkan serangan Ho Kie.
Ho Kie terus mendesak dan melancarkan serangan
bertubi-tubi, apa mau lawannya itu sangat licin. Ia terus
terusan berkelit kesana kemari, kegesitannya ternyata tidak
berada dibawahnya Lim Kheng.
Hampir sepuluh jurus Ho Kie telah melancarkan
serangannya, tetapi semuanya dapat dielakkan oleh anak
sekolah itu dengan caranya yang enak sekali.
Sambil ketawa dingin anak muda itu mengejek Ho Kie :
“Hanya mempunyai kepandaian sebegini saja kau sudah
berani unjukkan diri didunia Kang-ouw. Hmm! Benar-benar
tidak tahu diri.”
Ho Kie yang sudah mendongkol benar-benar, lantas
mengeluarkan tipu serangannya warisan Toan-theng Lojin
yang dinamakan Tay-lek kim kong-ciang.
Benar saja, dengan menggunakan tipu serangan ini, telah
membuat anak sekolah baju putih itu sukar menyingkirkan
diri. maka terpaksa ia harus menyambuti dengan kekerasan.
Setelah kekuatan kedua tangan beradu, masing masing
mundur satu tindak. Diantara sambaran angin dari
beradunya serangan tersebut, lantas tercium hawa busuk
yang memenuhi dalam kamar. Ho Kie terkejut, dalam
hatinya diam-diam telah berpikir. Apakah bocah ini bukan
orang Hian kui kauw?
Selagi ia memikirkan diri lawannya, anak sekolah itu
sudah menggetarkan badannya dan mencelat dari lubang
pintu masuk kekamar bekas kurungan Ho Kie. Sambil
membentak keras Ho kie mengejar, tetapi gerakan anak
sekolah itu gesit sekali, sebentar saja sudah berada dipintu.
Ho kie coba mencegah sembari membentak:
“Jangan bergerak! Pintu itu tidak boleh dibuka……. ”
Tapi anak sekolah baju putih itu tanpa menghiraukan
peringatan Ho Kie, dengan cepat tangannya sudah menarik
pintu yang tertutup rapat.
Begitu pintu terbuka, dikamar sebelah, terlihatlah
binatang semut yang bergerak-gerak diseluruh ruang dalam
kamar itu.
Anak sekolah baju putih itu sambil ketawa lantas melesat
dan di tengah udara ia memutar tubuhnya dengan
menggunakanilmunya merembet ditembok, sekali bagus
seklai ia sudah geser tubuhnya ke dekat pintu.
Ho Kie kesima menyaksikan perbuatan anak muda itu,
ketika ia melongok kebawah, bangkai yang dikerubuti
semut tadi ternyata cuma tinggal tulangnya saja dan
binatang semut yang demikian banyaknya itu kini sudah
mulai merayap masuk kedalam kamarnya.
Ia tidak berani meniru cara anak muda tadi, terpaksa
mundur ke dalam kamar bekas terkurungnya anak muda
tadi dan buru-buru menutup pintunya.
Dengan demikian, anak sekolah baju putih tadi
sebaliknya sudah berhasil keluar dari dalam kurungan,
sedang ia sendiri lantas terkurung sendirian dalam kamar
kecil yang gelap itu.
Dengan perasaan sangat masgul ia duduk ditanah,
mendadak ia ingat anak kuncinya. ia coba mencari cari
lubang kunci, untung di situ juga terdapat sebuah lubang
kunci.
Dengan tidak ayal lagi, ia keluarkan anak
kuncinya…dimasukkan kedalam lubang kunci dan lantas
telah terbuka sebuah pintu. Sinar yang dari luar situ lantas
menyorot masuk, ternyata disitu terdapat sebuah lorong
yang dikanan kirinya terdapat obor api. Disana pula
menggeletak bergelimpangan enam-tujuh mayat manusia.
Dengan demikian ia telah memperlihatkan segenap tempat
tersebut.
Tanpa banyak berpikir pula Ho Kie lantas melewati dan
lari mengikuti jalan lorong itu.
Disuatu tikungan, ia mendengar dari depannya seperti
ada orang ketawa. Dengan cepat ia sembunyikan dirinya,
badannya digeser maju dengan perlahan.
Ia mendengar ada seorang berkata dengan suaranya yang
keras:
“Kalajengking emas pemunah racun itu adalah benda
pusaka yang jarang terdapat dalam dunia. Aku siorang she
Li dengan mengambil resiko menanam bibit permusuhan
dengan orang-orang Hoa-san pay setelah aku membunuh
mati Lo Su le, benda itu sekarang ada dibadanku. Kalau
kalian tidak takut, kekuatan Tay-lek sin-koan ku kalian
boleh mencoba.”
Kemudian suata itu disusul oleh suara orang lain.
“Li tan cu, kita bukannya takuti kau! Sebetulnya karena
melihat kau sedang terluka parah, tidak pantas kita turun
tangan, sehingga kau nanti akan binasa dengan mata tidak
meram ”
Terdengar pula suaara orang yang pertama bicara;
“Baik! kalau begitu, kalian boleh coba saja,”
Setelah suara ini berhenti, lalu disusul oleh suara
menderunya angin dan beradunya tenaga……
Ho Kie karena mengira Lim Kheng ada di situ, maka
tubuhtnya terus mendesak masuk kedalam,
Disitu ternyata adalah sebuah kamar yang luas,
keadaannya terang benderang.
Baru saja ia tiba didepan pintu, tiba2 terdengar
beradunya dua kekuatan tenaga yang keras, disusul oleh
suara rubuhnya tubuh orang……….
Ho Kie terperanjat, ia tidak dapat menduga siapa adanya
orang yang telah jatuh terluka itu. Mendadak ia mendengar
suara orang berkata;
“Kalian orang-orang dari Hian kui-kauw semuanya
ganas dan telengas. Aku siorang she Shao, meskipun tidak
berguna, juga ingin mencoba-coba kekuatan kalian”
Ho Kie mendengar suara orang itu adalah suara si cebol
Shao Cu Beng, seketika itu lantas masuk kedalam kamar.
Disitu ternyata sudah terdapat banyak mayat yang
berserakan di tanah, sedangkan Sam ciok Taoto tengah
duduk bersamadi untuk mengatur pernapasannya.
Shao Cu Beng dengan mata beringas mengawasi seorang
berewokan yang berbadan besar yang sedang berdiri
dihadapannya,
Wajah orang itu keren sekali, usianya kira-kira 40 tahun.
Dididpan dadanya sudah terdapat banyak darah, tetapi
wajahnya masih bisa perlihatkan ketawa dingin.
Munculnya Ho Kie secara tiba-tiba telah mengagetkan
Shao Cu Beng dan orang tinggi besar itu.
Shao cu Beng menggeser tubuhnya dan mundur tiga
tindak.
Ho Kie memandang mereka sambil tertawa dingin.
Tidak usah menanya, ia sudah mengetahui bahwa orang
laki berewokan itu adalah Li Hai Houw dan Shao Cu Beng
semuanya tidak mengenal Ho Kie, sehingga mereka pada
saling pandang, masing-masing pada menduga, siapakah
yang akan dibantu oleh anak muda itu?
Ho Kie tiba2 bertanya kepada Lie Hui Houw ;
“Apakah kau orang Hian kui kauw?”
Lie Hui Houw terkejut, ia buru buru siapkan diri,
kemudian menjawab dengan suara dingin :
“Benar! Aku si orang she Lie, salah satu tancu dari Hiankui-
kauw,”
Ho Kie lalu berpaling dan berkata kepada sicebol.
“Aku tahu, kau adalah Shao Cu Beng. betul tidak?”
Shao Cu Beng juga terkejut, buru buru ia melindungi
dada dengan kedua tangannya dan menjawab :
“Benar! Bagaimana saudara kecil bisa mengetahui
namaku?”
Ho Kie ketawa dingin, kemudian berkata, dengan
perlahan lahan ;
“Hian-kui-kauw telah merusak ketentraman dunia,
Sudah sepantasnya kalau ditumpas. Shao Cu Beng? kau
bunuhlah dia!”
Lie Hui Houw terperanjat, dalam hatinya-berpikir : “Aku
sudah terluka berat, anak buahku sudah terbinasa
semuanya, Meskipun aku sudah berhasil melukai Sam-ciok
Taoto, tetapi dengan Shao Cu Beng seorang saja sudah
sukar melayani, dan bocah ini kelihatannya ada
permusuhan dengan Hian-kui-kauw, pasti ada orang Hoasan-
pay, Kalau benar demikian, sangat berbahaya bagi
diriku.”
Sebaliknya bagi Shao Cu Beng, ia lantas bisa bernapas
lega. Sambil ketawa ia menyahut :
“ucapan saudara kecil ini sedikitpun tidak salah.
Dosanya Hian kui kauw sudah terlalu banyak. Sudah
sepantasnya kalau ditumpas. Aku si orang she Shao,
meskipun tidak berguna, ingin menghajar kaki tangannya
Hian kui-kauw ini sampai mampus untuk mengamankan
dunia rimba persilatan ………”
Ho Kie menjawab sambil ketawa dingin :
“Sungguh enak didengarnya perkataanmu, hanya saja
aku mengetahui juga, kau ini ada seorang yang ganas dan
telengas, lagi pula sangat licik, juga bukan merupakan
manusia baik2……”
Shao Cu Beng wajahnya berubah seketika, dalam hati
diam-diam berpikir : “Meskipun bocah ini tidak akan
membantu ia, tetapi kelihatannya juga menghendaki
kalajengking emas itu juga, maka aku harus menjaga jaga
dirinya.
Ho Kie melihat berubahnya wajah sicebol.
“Kau jangan takut!” katanya ketawa. “Meskipun aku
mengatakan kau bukan orang baik-baik, tetapi dengan kau,
aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Tidak nanti
aku membantu dia untuk membinasakan kau!”
Hati Shao Cu Beng agak lega, maka lantas bisa berkata
sambil tertawa bergelak-gelak:
“Kalau begitu, saudara kecil bermaksud hendak
menonton atau sebagai saksi kita?”
Shao Cu Beng diam-diam sudah mendapat pikiran,
Sambil mengerahkan kekuatannya, perlahan-lahan ia
mendekati Lie Hui Houw.
Lie Hui Houw merasa kuatir, ia coba menggertak
padanya:
“Shao Cu Beng, kau jangan terlalu mendesak. Aku
siorang tua she Lie juga tidak akan mandah dipermainkan
begitu saja.”
“Lie Tancu, dalam keadaan demikian ini aku tidak bisa
berbuat lain………”
Shao Cu Beng seorang yang kejam. Baru saja ia menutup
mulutnya, orangnya sudah menerjang Lie Hui Houw
laksana macan kelaparan, sebentar saja ia sudah mengirim
empat kali serangannya saling susul.
Serangannya itu semuanya ditujukan pada bagian-bagian
terpenting didadanya Lie Hui Houw. sedikitpun ia tidak
memberikan kesempatan pada lawannya untuk bergerak.
Lie Hui Houw terpaksa menggunakan sisa tenaganya
yang penghabisan, sambil membelakangi tembok dia
menyambuti serangan si cebol.
Ketika kekuatan kedua pihak itu beradu. Shao Cu Beng
telah terpental mundur lima tindak, hampir saja jatuh
ditanah, sedangkan Lie Hui Hauw, karena ia membelakangi
dinding tidak mempunyai tempat mundur lagi, maka
serangan si cebol itu telah membuat lukanya didalam
bertambah hebat, sehingga mulutnya mengeluarkan darah.
Ho Kie yang menyaksikan hal itu, dalam hati merasa
girang. Sambil bertepuk tangan ia berkata :
“Benar! Shao Cu Beng! Hajarlah lagi Orang-orang Hiankui-
kauw harus dibunuh mampus semuanya.”
Shao Cu Beng sangat girang, sambil menggeram hebat ia
menyerang lagi.
Lie Hui Houw mengetahui bahwa dirinya sudah tidak
mempunyai harapan untuk hidup lagi, maka sambil
mengertek gigi ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya
untuk menyambuti sekali lagi serangan sicebol.
Kali ini Shao Cu Beng telah dibikin terpental sejauh satu
tombak lebih dan lantas terjatuh ditanah, sedangkan Lie
Hui Hauw sendiri, lukanya bertambah parah, tenaganya
sudah habis, maka setelah menyemburkan banyak darah, ia
juga rubuh ditanah……
Dengan susah payah dan mengorbankan banyak jiwa, ia
baru berhasil mendapatkan benda pusaka yang sangat
langka itu. Kasihan baginya belum sampai ia keluar dari
jalanan dibawah tanah, ia sudah terbinasa ditangan Shao
Cu Beng.
Sebelum menarik napas yang penghabisan, ia masih bisa
menanyakan pada Ho Kie dengan suara keras:
“Kau!…… Kau mempunyai permusuhan apa dengan
Hian-kui kauw?”
“Dalam laksana lautan!” jawab Ho Kie dengan dingin.
Mendengar jawaban itu, Lie Hui Hauw lantas
menggeram dan putus nyawanya.
Shao Cu Beng yang telah jatuh terluka parah, ketika
menyaksikan Lie Hui Hauw sudah binasa dengan tidak
memperdulikan lukanya sendiri, ia lantas merangkak
menghampiri mayatnya Lie Hui Hauw. Dari saku mayat itu
ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbuat dan emas
murni, tetapi sebelum ia pindahkan kedalam sakunya
sendiri, Ho Kie sudah membentak:
“Bawa kemari,”
“Saudara kecil mau apa?” Shao Cu Beng masih berpurapura
bertanya:
“Kalajengking emas,”
“Apa saudara kecil ini adalah orang Hoa San pay ?”
“Bukan!! Tetapi kalajengking emas ini juga bukan
kepunyaanmu, bagaimana kau dapat memilikinya?”
“Kalau begitu, kau juga mempunyai hati temaha hendak
merampas benda pusaka ini.”
“Ah, tidak!! Aku hanya tidak menginginkan benda ini
terjatuh ditangan orang jahat dan ganas seperti kau ini.”
Shao Cu Beng sudah mempunyai rencana sendiri, ia
berpikir sejenak, sedikitpun tidak melawan. Tetapi baru saja
ia hendak menyerahkan benda itu, tiba-tiba ditariknya
kembali dan berkata:
“Kua telah menganggap aku seorang jahat, aku juga
tidak membantah! Tetapi benda ini adalah benda pusaka
yang jarang ada didalam dunia. Sebelum kau bawa pergi,
bolehkah kau menyembuhkan lukanya sahabatku ini?”
Ho Kie mengerti bahwa sicebol ini tentu mempunyai
maksud tertentu, tetapi karena sudah memajukan
permintaan, hatinya lalu merasa tidak enak, maka ia lantas
menjawab:
“Sebetulnya, Taoto ini juga bukannya orang baik, Tetapi
karena mengingat benda ini kau dapatkan boleh merebut
dari tangan Lie Hui Houw, baiklah!! Aku terima
permintaanmu, menggunakan benda ini sekali saja.”
Shao Cu Beng lantas berdiri menghampiri Sam-ciok
Taoto. Ia berlega mengobati Sam-ciok Taoto sambil berdiri
membelakangi Ho Kie, tetapi kotak itu diam-diam telah
dimasukkan kedalam sakunya.
Diam2 ia menotok jalan darahnya Sam-ciok Taoto itu
supaya tidak banyak bicara-sehingga menggagalkan
rencananya.
Ho Kie ingin melihat bagaimana ia mengobati kawannya
memakai benda pusaka itu. Baru saja melongok sicebol
yang kejam itu lantas membalikkan badan, dengan secepat
kilat ia menyerang pusarnya Ho Kie.
Dalam keadaan tidak menduga duga itu, hampir saja Ho
Kie terluka ditangannya. Untung ia keburu lompat mundur.
Shao Cu Beng yang melihat seranganna tidak berhasil,
buru buru lantas angkat kaki hendak kabur.
Ho Kie gemas sekali melihat perbuatannya sicebol ini,
maka lantas membentak. “Mau kemana?” kemudian sudah
mengirimku satu serangan dahsyat.
Shao Cu Beng mengeluarkan satu jeritan ngeri, lalu
mundur sempoyongan. Kedua tangannya menekap
dadanya, keringat dingin mengucur dari jidatnya.
ooo0dw0ooo
MELIHAT KEADAAN Shao Cu Beng itu, ia seperti
terkena serangan didepan pintu, Ho Kie merasa girang,
maka lantas menjambret dirinya dan menampar pipinya
sambil memaki :
“Manusia busuk!! Kau berani membokong-tuan rumah
mudamu.”
Shao Cu Beng mulutnya mengeluarkan darah, giginya
rontok, tetapi ia masih bisa berkata,
“Cilaka!! Ada setan. Ada setan!……”
Mendengar disebutnya setan, Ho Kie juga heran. Setelah
menotok jalan darahnya si cebol, ia lalu melongok keluar.
Didepan pintu ternyata ada berdiri seorang tua yang
rambutnya sudah putih semua dengan badan berlumuran
darah.
Ho Kie terkejut, ia buru-buru kerahkan kekuatan dikedua
lengannya dan lantas membentak dengan suara keras :
“Kau siapa?”
Orang tua itu kelihatan menggerakkan pundaknya lalu
maju sempoyongan dan menjawab dengan suara dingin:
“Aku Lo Su le.”
“Lo So le?……….”
Ho Kie terkejut tidak mengetahui siapa adanya Lo Su le,
maka ia lantas mundur satu tindak.
Orang tua itu lantas anggukkan kepalanya lalu berkata
pula dengan suaranya yang parau :
“Aku adalah Khungcu dari gedung ini. Aku telah binasa
ditangannya Lie Hui Houw, Rohku belum buyar, maka aku
hendak menagih jiwanya……….”
Ho Kie mendadak ingat bahwa orang tua itu adalah yang
telah meninggalkan surat di kamar bukunya untuk orangorang
Hoa-san-pay,
Meskipun bernyali besar, tetapi menyaksikan orang yang
sudah mati bisa hidup kembali, bulu roma Ho Kie juga
berdiri, dengan tidak dirasa ia lantas mundur lagi dua
tindak sembari membentak:
“Kau mau apa?”
“Aku hendak menuntut balas!”
“Orang she Lie itu sudah binasa.”
“Orang she Lie sudah binasa ? Aku hendak berhitungan
dengan kau!” sehabis berkata orang tua itu lantas pentang
kedua tangannya dengan gerakan yang kaku ia menerjang
Ho Kie.
Dalam ketakutannya, Ho Kie menyambuti serangan
orang tua dengan kedua tangan sambil memejamkan
matanya.
Orang tua yang hidup kembali itu telah dibikin terpental
dan jatuh disatu sudut karena serangan Ho Kie yang hebat.
Tiba-tiba ia mendengar suara orang ketawa yang kemudian
disusul oleh perkataannya;
“Benar-benar tidak mempunyai nyali. Baru melihat orang
mati saja sudah ketakutan.”
Ho Kie terperanjat, ketika membuka matanya, didepan
telah berdiri seorang pemuda anak sekolah baju putih yang
bukan lain adalah Lim Kheng.
Ia baru tersadar bahwa tadi semua adalah perbuatan
nakal dari Lim Kheng ini yang bermaksud untuk menggoda
dirinya.
Ho Kie merasa kurang senang, lalu berkata kepada
kawannya itu :
“Barusan seandainya aku kesalahan tangan, bukankah
akan mencelakakan diri Lim heng?”
“Baru saja ketakutan setengah mati, sekarang sudah
omong besar! Kalau bukan aku, apa sisetan cebol ini kau
kira mau balik mundur padamu? Kau tidak mengucapkan
terima kasih padaku, sebaliknya menyesalkan aku.” jawab
Lim Kheng sambil tertawa cekikikan.
“Orang she Lo itu toh sudah mati, buat apa kau
permainkan mayatnya?”
“Orang she Lo dari Hoa san pay ini juga bukan manusia
baik-baik. Didalam salah satu kamar gedung ini aku telah
menemukan beberapa wanita muda cantik2. mereka itu
semuanya adalah wanita baik-baik yang dirampas
kemudian dibuat gundik oleh Lo Su Ie … Oleh karena
wanita-wanita itu aku telah membuang banyak waktu.
Didalam pekarangan aku tidak dapat menemukan kau,
dengan susah payah baru menemukan kuburan ini, dan
kemudian tiba disini. Tidak nyana baru saja tiba diluar
pintu, aku lantas dapat lihat sicebol ini telah menotok jalan
darah si Taoto, setelah tidak berhasil membokong kau,
lantas hendak kabur maka aku lantas menggunakan mayat
Lo Su Ie untuk menakuti dia !”
Dari dalam sakunya Shao Cu Beng. H0 Kie mengambil
kotak yang berisi kalajengking emas.
“Dua manusia ini juga bukan dari golongan baik2, kau
pikir bagaimana membereskan mereka?”
“Mereka cuma karena temaha hendak memiliki benda
pusaka itu saja, tidak ada kejahatan lainnya yang kita lihat,
kita tutup saja pintu batu itu, biar mereka menentukan
nasibnya sendiri.”
Lim Kheng dan Ho Kie lalu turun tangan menutup pintu
dari batu itu, kemudian berlalu dari tempat tersebut.
-oo0dw0oo-
Jilid 4
BARU saja keluar dari jalanan dibawah tanah, Ho Kie
mendadak ingat sesuatu ia lantas hentikan tindakannya dan
berkata kepada kawannya ;
“Nanti dulu, masih ada seorang penting, entah dia sudah
keluar atau belum, mari kita cari dulu sebenar !”
“Siapa yang kau maksudkan?”
“Dia adalah itu anak muda berbaju putih yang dulu aku
pernah cerita padamu.”
“Dia? Mari kita lekas cari! jawab Lim Kheng terkejut,
dan gusar, kemudian dengan cepat lompat masuk kelubang
kuburan.
Siapa tahu baru bergerak, dari atas penglari mendadak
dengan suara tertawa dingin :
“Tak usah dicari lagi, orangnya toh sudah lama
berlalu……….”
Ho Kie dan Lim Kheng urungkan maksudnya, mereka
mendongak keatas payon, dari atas penglari melayang turun
satu orang.
Ketika melihat orang itu, mereka lantas naik darah. Ho
Kie yang lebih dulu lari menghampiri dan berkata kepada
kawannya :
“Lim-heng, jangan kasih dia pergi dari sini !”
Lim Kheng menghadang dimulut kuburan sembari
berkata :
“Tak usah kuatir, aku tanggung bangsat tua ini tidak bisa
lolos dari tanganku.”
Orang itu ketawa, satu tangannya mengurut jenggot
kambingnya, lain tangannya mengangkat tinggi sebuah
bungkusan, kemudian berkata :
“Aku si tua bangka sengaja datang untuk mengantar
harta kepada kalian berdua, mengapa kalian perlakukan aku
begini macam?”
Orang tua itu adalah si pencuri kenamaan dari golongan
hitam, Auw-yang Khia.
Ho Kie menampak bungkusan ditangannya itu adalah
barang-barang permata yang ia letakan diatas meja dikamar
tulis, seketika itu lantas gusar:
“Auw yang Khia, berkali kali kau mencuri, hari ini
dengan harap kau bisa lolos dari tanganku!” bentaknya.
Dengan cepat ia menghajar dirinya orang tua itu.
Auw yang Khia wajahnya berubah seketika, dengan
cepat ia memutar tubuhnya, dengan cara demikian ia lolos
dari ketiak Ho Kie.
“Hai, jangan keburu napsu, mari kita bicara dulu secara
baik-baik, bagaimana baru bertemu lantas turun tangan, apa
kau memang sengaja hendak memereteli tulangku yang
sudah tua ini?”
“Kami dengan kau tidak ada permusuhan apa-apa,
mengapa kau mencuri uang kami?”
“Ini benar-benar penasaran, kapan aku mencuri uang
kalian ?”
“Kau masih hendak pungkir?” bentaknya Lim Kheng,
lantas bergerak tangannya menyekal urat nadi si orang tua.
Auw-yang khia melenggakan dirinya kebelakang, dengan
satu tangan menunjang tubuhnya ia memutar laksana
gasing, kemudiaa melesat dan menyelusup di sampingnya
Lim Kheng. Kemudian ulapkan tangannya sembari berkata
;
“jangan menuduh orang secara sembarangan, coba
kalian periksa dulu badan sendiri, kalau uang kalian kurang
sepeser saja, aku Auw-yang Khia bersedia mengganti
sepenuhnya!”
“Lim heng jangan dengar mulutnya, bangsat tua ini
mengaco belo…….” berkata Ho Kie dengan sengit. Tapi
diam-diam ia meraba sakunya, benar saja lantas dapat
meraba benda keras, yang ternyata adalah bungkusan
uangnya sendiri!. Maka seketika itu lantas melongo.
Lim Kheng yang menyaksikan itu, juga lantas meraba
sakunya, ternyata uangnya sendiri juga sudah balik sendiri.
Meski ia tahu bahwa pencuri ulung itu sedang
permainkan mereka, tapi mau tidak mau merasa kagum
juga atas kepandaiannya copet ulung itu.
“Meski kau sudah kembalikan uang kami yang kau curi,
tapi didalam tanganmu masih terdapat barang curian, nyata
tabiatmu masih belum diubah.” berkata Ho Kie.
“Aku si tua bangka malang melintang dari Selatan
sampai utara, badanku tidak pernah membawa uang barang
sepeser, perlu apa dengan barang emas berlian ini? Aku
cuma hendak menggunakan barang ini untuk membeli
sebuah barang pusaka saja.”
“Barang pusaka apa yang mempunyai harga begitu
besar?”
“Barang itu ada dibadan kalian, berdua!”
Ho Kie lantas mengerti, maka lantas meraba kotak
dibadannya.
“Owh! yang kau maksudkan adalah kalajengking
pemunah racun ini?” demikian Ho Kie bertanya.
“cepat!! Kalajengking emas ini merupakan benda pusaka
didalam dunia, dalam 50 tahun cuma kedapatan seekor
saja. Binatang ini sangat berbisa, tapi dapat memunahkan
segala racun apa saja dari dunia. Buat kalian berdua, untuk
sementara mungkin tidak ada gunanya, mengapa tidak
kalian jual saja kepada aku situa bangka, untuk menolong
jiwanya seorang yang sedang menderita luka berat?”
“Kau tokh seorang pencuri yang terkenal, mengapa tidak
bisa turuti tangan sendiri untuk mengambil? Sebaliknya
hendak membeli dari tangan orang lain? Dan cara
bagaimana kau bisa tahu kalau barang itu ada pada kami?”
tanya Lim Kheng.
“Sebelum kalian berdua masuk kedalam perkampungan
ini aku si tua bangka sudah dapat tahu dari tempat
sembunyiku, cuma oleh karena Lie Hui Houw si cebol Shao
Cu Beng dan Sam-ciok Toato. semuanya ada merupakan
manusia yang kejam dan ganas, maka aku si orang tua
merasa segan berhadapan dengan mereka. Apa lagi sudah
ada kalian berdua, perlu apa aku harus turun tangan sendiri
untuk merampas dari tangan mereka?” jawab Auw yang
Khia sambil ketawa.
“Hm ! Kau sungguh pintar, kau membiarkan lain orang
yang susah payah dan kau sendiri mau menerima eunaknya
saja! Kuberi tahukan padamu, kami tidak kenal barang
pusaka itu?” kata Lim Kheng tegas.
“Mengapa saudara kecil mengambil keputusan begitu
getas? Barang pertama dalam buntalanku ini hampir
semuanya merupakan barang yang tidak ternilai harganya,
sudah cukup untuk membeli benda pusaka itu.”
“Barang dalam buntalan itu bukan kepunyaanmu, siapa
sudi berurusan dengan seorang yang berlagak kaya dengan
kekayaan orang lain?” berkata Ho Kie sambil ketawa
dingin.
“Kalian berdua meski tidak kepingin barang berharga,
tapi menolong jiwa manusia, berarti sudah menunaikan
perikemanusiaan. Apakah kalian tega menyaksikan orang
yang terluka kena racun itu binasa begitu saja?” berkata
Auw-yang Khia sambil angkat pundak.
“Siapakah sahabatmu yang terluka itu? cara bagaimana
dia terluka kena racun?” tanya Lim Kheng heran.
Auw-yang Khia menghela napas panjang, dalam
matanya mengembang air!
Lama ia berdiam, baru bisa menjawab dengan perlahan
lahan :
“Dia adalah seorang yang benar-benar paling dikasihani
dalam dunia ini, tidak mempunyai kawan, tidak
mempunyai keluarga. Meskipun dalam dirinya mempunyai
kepandaian yang sudah tidak ada taranya, tapi tidak nyana
telah kena dibokong oleh orang, sudah setahun lebih
lamanya berada dalam keadaan mati tidak hiduppun tidak,
sejengkal saja tidak bisa bergerak dari tempatnya……..”
Ho Kie merasa tertarik, selagi hendak bertanya, tidak
nyana sudah didahului oleh Lim Kheng :
“Dalam perkataanmu ini terdapat banyak pertentangan,
kau katakan dia tidak mempuyai kawan dan keluarga, kalau
begitu kau ini pernah apa dengan dia? Buat apa begitu repot
terhadap dia?”
“Empat penjuru lautan, semua merupakan saudara. Aku
si orang tua meski tidak kenal dia, tapi ketika dengan tidak
sengaja aku ketemukan dia menderita kesengsaraan dalam
tempat persembunyiannya, setelah kita beromong-omong,
baru tahu kalau dia adalah seorang aneh didalam dunia,
buat dewasa ini….” “Dia siapa?” tanya Ho Kie agak gelisah,
Auw yang Khia menghela napas, lalu menjawab dengan
perlahan :
“Dia kata tidak mempunyai she dan nama, cuma
mempunyai gelar katanya adalah Toan-theng Lojin, atau
orang tua patah hati….”
Ho Kie terperanjat, wajahnya berubah seketika,
badannya gemetar…..
Lim Kheng melirik ia sejenak, lalu berkata dengan suara
perlahan ;
“Apa benar dia……?”
Mendadak dengan secepat kilat Ho Kie melesat dan
menyekal pergelangan tangan Auw yang Khia, kemudian
bertanya dengan suara gemetar :
“Dia ada dimana? Lekas antar kita ketemui padanya……

Menampak sikapnya yang aneh itu, Auw-yang Khia lalu
bertanya dengan suara heran.
“Apa kalian berdua kenal padanya……?”
Ho Kie pejamkan matanya, dari kelopak matanya
merembes keluar air mata.
“Kau tidak usah tanya lagi!!……lekas ajak kita…. ketemui
dia….!”
“Baiklah, menolong jiwa seperti juga menolong
kebakaran, kita harus lekas berangkat!!”
Mereka bertiga dengan Auw-yang Khia yang selaku
petunjuk jalan berlari-larian dengan cepat menunjuk
ketempat sembunyinya Toan theng Lojin
Ho Kie yang paling gelisah, ia mengharap bisa lekas
berada disamping orang tua yang bernasib malang itu.
Sebab dalam hatinya Ho Kie, eorang tua itu sudah dianggap
sebagai satu-satunya orang yang pernah membesarkan dan
mendidiknya, kalau tidak ada orang tua yang aneh itu,
mungkin jiwanya sudah melayang di tangan Bo Pin,
sitangan geledek.
Kalau tidak ada orang tua itu, ia tidak hidup sampai
sekarang, yang sudah merupakan seorang gagah yang
mempunyai kepandaian sangat tinggi. Maka jiwa dan
semua harapannya, seolah olah dihidupkan oleh orang tua
itu.
Dan kini, orang tua itu telah menderita luka parah,
bagaimana ia tidak gelisah dan berduka?… Ia merasa heran,
mengapa Toan theng Lojin yang mempunyai kepandaian
luar biasa juga bisa terluka?
Dengan hati kusut Ho Kie sepanjang jalan menanyakan
keterangan kepada Auw-yang Khia, tapi orang tua itu cuma
bisa gelengkan kepalanya sembari menjawab.
“Aku sendiri juga kurang jelas, sebab ketika aku bertemu
padanya, sudah dalam keadaan terluka parah, hanya dari
keterangannya saja aku dapat tahu Ia dibokong oleh Siang
koan Tuat, dan Hian-kui-kauw. sehingga dalam badannya
terkena racun yang sangat berbisa. Dengan seorang diri dia
kabur kedalam gunung, akhirnya tidak tahan dan jatuh.
Selama itu, cuma mengandalkan kekuatan tenaga
Lweekangnya yang sangat sempurna, dapat menutup
setengah dari jalan darah dibadannya, sehingga jiwanya
tidak binasa. Sekarang kedua kakinya sudah tidak bisa
digerakkan, setiap hari duduk dimulut goa dengan binatang
burung dan air mancur untuk menangsal perut…….”
“Kau tahu dia luka begitu berat mengapa tidak dibawa
berobat kadalam kota yang terdekat?” berkata Ho Kie
sembari mengucurkan air matanya.
“Aku juga bermaksud demikian, tapi dia tidak mau. Dia
kata bahwa Kaucu Hian-kui-kauw sudah mengetahui
tempat sembunyinya, barangkali tidak lama lagi akan
datang padanya untuk paksa dia mengeluarkan sebuah
benda. Dia suruh aku lekas mencarikan obat yang bisa
memunahkan racun. Aku lalu meninggalkan dia, secara
kebetulan aku dapat dengar bahwa disini ada terhadap
kalajengking emas yang bisa memunahkan segala racun,
maka aku lantas datang kemari.”
“Sudah berapa lama kau meninggalkan dia?” tanya Ho
Kie,
“Kira-kira sudah 4 atau 5 hari lamanya!”
Ho Kie nampak semakin gelisah, sebab ia tahu bahwa
Toan-theng Lojin kali ini turun, maksudnya ialah hendak
mencari benda yang ada menyangkut nasibnya 9 partai
besar dalam rimba persilatan. Menurut keterangan Auwyang
Khia, mungkin Toan-theng Lojin sudah menemukan
benda itu, tapi di ketahui oleh kaucu Hian-kui-kauw, hingga
dengan rupa-rupa akal muslihat hendak paksa ia
menyerahkan benda tersebut.
Selagi berlari larian dengan cepatnya, Lim Kheng
mendadak berkata dengan suara perlahan :
“Tunggu dulu, didepan ada orang.”
Ho Kie dan Auw-yang Khia hentikan tindakannya,
ketika mereka pasang telinganya, benar saja ada dengar
suara gerakannya kaki orang. Ia jadinya tidak mau ambil
pusing, tapi Auw-yang Khia beranggapan lain. berkata
dengan sungguh-sungguh.
“Orang yang menandingi itu rupa-rupanya bukan cuma
seorang saja, sebaiknya kita sembunyi dulu, setelah mereka
berlalu, baru melanjutkan perjalanan kita.”
Ho Kie terpaksa menurut. Baru saja berada
dibelakangnya sebuah pohon besar, dijalanan sudah
kelihatan 3 imam lari mendatangi.
Imam itu pada membawa pedang, dari sinar mata
mereka dapat diduga bahwa imam-imam itu ada
mempunyai kepandaian tinggi. Mereka sudah merupakan
orang-orang yang usianya lebih dari setengah abad, satu
diantaranya bahkan rambutnya sudah putih semua, diduga
usianya sudah lebih dari 50 tahun, tapi gerakan badannya
ringan sekali, boleh jadi merupakan orang terkuat dari
mereka bertiga.
Tiga imam itu ketika tiba didepan tempat Ho Kie
smbunyi, mendadak berhenti. Satu diantaranya lantas
berkata dengan suara perlahan-lahan.
“Terang tadi ada suara orang bicara. mengapa dalam
sekejap saja sudah tidak kelihatan?”
Seorang imam lainnya lantas berkata dengan nyaring;
“Sahabat dari mana? Mengapa tidak mau unjukan diri?”
Ho Kie sudah ingin unjukan diri, tapi di cegah oleh Lim
Kheng.
Karena tidak mendapat jawaban, masing-masing imam
itu lantas menghunus pedangnya. Imam yang bicara lebih
dulu tadi lantas berkata pula:
“Main sembunyi, pasti ada orang-orangnya Hian kuikauw,
Toa suheng, mari kita cari!” dengan cepat imam itu
lantas hendak bertindak.
Imam rambut putih itu lantas ulapkan tangannya dan
berkata sambil ketawa dingin.
“Perlu apa kita cari?”
“Jika ia tidak lantas unjukkan diri, tidak perlu banyak
basa-basi lagi!” sehabis berkata lalu ia itu.
Dengan cepat salah seorang imam menggerakan
tangannya mengeluarkan serangan dahsyat kearah
rimbunan pohon tersebut.
Ho Kie tahu bahwa jejak mereka sudah kepergok, maka
lantas sambuti serangan si imam.
Kedua kekuatan lantas saling bentur, imam tua tadi
tampak mundur sempoyongan dua tindak, wajahnya
berubah seketika.
Ho Kie juga terdesak mundur dua tindak. diam-diam
juga merasa terkejut.
Imam tua itu memandang wajahnya Ho Kie dari atas
sampai kebawah, ia agaknya tidak menduga bahwa orang
yang mampu membikin mundur dirinya tadi ternyata ada
satu pemuda belia. Dalam kagetnya, ia mundur lagi dua
tindak dan berkata dengan suara dingin:
“Siao sicu, kau tergesa-gesa melakukan perjalanan,
sebetulnya hendak kemana?”
“Kau tidak perlu tahu urusan orang lain” jawab Ho Kie
ketus.
“Toa suheng, mereka datang dari Ngo-kui khio, pasti ada
hubungannya dengan soal permintaan bantuan dari Lo
sutee, buat apa banyak bicara, Hajar saja habis perkara”
berkata lagi imam lainnya.
Ho kie mengerti bahwa imam ini tentunya adalah
bantuan yang dikirim oleh Hoa san pay untuk menolong Lo
Su Ie.
“Apakah kalian berasal dari Hoa-San pay?” demikian ia
bertanya.
Tiga imam ini saling pandang, lalu berkata “Kami adalah
Hoa san pay Sam kiam, dan kau siapa anak
muda ?”
“Bukankah kalian, hendak ke Ngo kui khio untuk
menolong Lo Su Ie?, Sayang sungguh sayang sudah
terlambat. Lo sutee kalian itu siang-siang sudah binasa
ditangannya Li Hui Houw..”
Mendengar keterangan Ho Kie, ketiga Imam seketika itu
wajahnya pada berubah.
“Apa bicaramu ini benar?” tanya imam yang berambut
putih,
“Kalau kalian tidak percaya, boleh pergi lihat sendiri.”
“Toa suheng, kita benar telah datang terlambat.” kata
salah satu imam itu dengan cemas.
“Orang ini pasti komplotan Hian kui kauw, sebaiknya
kita tangkap padanya dulu!” kata seorang imam lainnya,
yang lalu menghunus pedangnya dan menyerang Ho Kie.
Dengan ilmu Hoan-eng-sie-sek, Ho Kie telah berhasil
singkirkan diri dari serangan pedang imam itu. Kedua
imam yang lainnya, ketika menyaksikan caranya Ho Kie
mengegoskan diri, mereka pada terperanjat. Buru-buru pada
menghunus pedangnya untuk membantu kawannya.
Ketiga imam itu sekarang sudah mengurung dan
mengerubuti Ho Kie, Gerakan pedang mereka kelihatan
sangat rapi, rupanya Sam kiam (tiga pedang) dari Hoa sanpay
ini benar benar sudah mempunyai latihan yang
istimewa.
Tetapi Ho Kie adalah seorang yang mempunyai
kepandaian luar biasa, meskipun ketiga orang imam itu
lihay semuanya, tetapi masih tidak dipandang mata
olehnya. Dengan kegesitannya yang luar biasa, ia
menyelusup ke sana dan kemari diantara sambaran pedang
lawannya, seolah-olah sengaja ia mempermainkan
lawannya itu.
Pertempuran secara demikian itu sebentar saja sudah
berlalu sepuluh jurus lebih. Pedang panjang para imam itu
sedikitpun tidak berhasil menyentuh bajunya Ho Kie.
Lim Kheng dan Auw-yang khia juga sejak tadi belum
mau unjukkan diri, telah keluar dan tempat sembunyinya.
Auw-yang Khia lalu membentak dengan suaranya yang
keras :
“Hai, para Imam!! Apa kalian tidak malu mengerubuti
seorang Bocah?”
Imam berambut putih itu ketika melihat Auw yang Khia,
wajahnya berubah seketika,
“Ahaaaa, kau si bangsat tua juga berada disini!!”
katanya.
“It Tim, kau boleh datang, mengapa aku Auw-yang Khia
tidak?” jawab Auw-yang Khia sambil ketawa.
“Bangsat Auw yang Khia turut campur tangan dalam
urusan Ngo-kui-khio. Kalajengking emas pasti sudah
hilang. Jiewie sutee, kita sekali kali jangan membiarkan
mereka lolos!” berseru si imam berambut putih.
“Hal ini, kalian tak usah banyak kuatir. Kalau tidak kami
berikan sedikit pelajaran kepada kalian, tentunya kalian
tidak tahu kami ini siapa!”
Lim Kheng ikut bicara sambil ketawa, lalu membuka
kipasnya dan menyerbu kedalam kalangan pertempuran.
Ho Khie dengan seorang diri saja melawan tiga orang itu
masih tidak kalah, apa lagi sekarang mendapat bantuan
Lim Kheng, terang Imam-imam itu merasa kewalahan.
It Tim Tojin yang lompat keluar dan menghadapi Auwyang-
Khia, kelihatannya Auw yang-Khia yang dengan
tangan kosong melawan pedangnya si imam, sudah mulai
keteter.
Ho Kie yang pikrrannya selalu mengingat kepada Toan
theng Lojin, tidak mau membuang tempo melayani para
imam itu, maka ia lantas lompat mundur dan berkata
kepada lawannya:
“Kita masih mempunyai urusan penting, tidak ada waktu
untuk melayani kalian. Kalau kalian masih tidak tahu diri,
jangan sesalkan aku nanti berlaku telengas.”
“Hari ini kalau kalian tidak menyerahkan itu
kalajengking emas, jangan harap kalian bisa pergi dari sini!”
jawab seorang imam.
Ho Kie jadi mendongkol, lalu berkata sambil kertek gigi:
“Baik! Tuan mudamu nanti kasih kau sedikit rasa!” Lalu
ia mengeluarkan ilmu serangannya yang paling hebat: Tay
shio Kim kong khiang, menyerang iman tadi.
Imam itu merasa kaget, dengan cepat taruh pedangnya di
belakang sikut, telapakan tangan kanannya dipakai untuk
mendorong- Ia menggunakan 100% kekuatannya bertekad
hendak menyambuti serangan Ho Kie!!
Kedua lawan terpisah cuma kira-kira 3 kaki, begitu angin
dari kekuatan kedua pihak beradu lalu terdengar suara
benturan keras :
Si imam merasakan dadanya seperti tertindih barang
berat, seketika itu badannya lantas mundur sempoyongan
sampai 4 tindak dan mulutnya menyemburkan darah segar.
It Tim Tojin yang menyaksikan keadaan demikian,
segera meninggalkan Auw-yang thia lompat memburu
sambii melintangkan pedangnya untuk melindungi dirinya
sang sutee.
“It Siu sutee, kau rasakan bagaimana?” ia bertanya
dengan gugup.
It Siu Tojin gelengkan kepalanya, menjawab:
“Bocah itu ada mempunyai tenaga gaib. Tadi, ketika aku
menyambuti dengan kekerasan, serangannya seperti
menembus kedalam dadaku. Sekarang dadaku rasanya
seperti tergoncang hebat.”
It Tim Tojin yang berambut putih itu, hampir berdiri
semua rambutnya, badannya bergemetaran. Dengan mata
mendelik ia mengawasi Ho Kie.
“Bocah, perbuatanmu agak sedikit telengas!” katanya
dengan suara dingin.
Imam ini merupakan salah seorang imam terkuat dari
golongan Hoa-san-pay. Baik ilmu pedangnya, maupun
kekuatan Iweekangnya, semua sudah mencapai
kepuncaknya kesempurnaan. Kekuatan tenaga dalamnya,
diantara murid-murid Hoa san-pay, ia hanya berada
dibawah ketua dan Hoa-san-pay Tian Hian Totiang.
Kali ini, menghadapi Ho Kie, merasa tidak mudah
merebut kemenangan, maka ia tidak berani memandang
ringan lagi.
Ho Kie juga tidak berani berlaku sembrono lagi. ia lalu
mengeluarkan ilmunya Ho-kut-hian-kang, sambil memutar
kakinya, sebentar saja sudah berada dibelakangnya It Tim
Tojin. It Tim Tojin yang mengirim serangannya, telah
kehilangan sasarannya dari dibelakangnya dengan
mendadak ada satu tangan yang menotok jalan darahnya
Yu-hong bu-hiat.
Bukan main kagetnya It Tim Tojin, cepat-cepat ia
membungkukkan badannya, kaki kanannya melangkah
maju, pedangnya lalu membalik membacok lawannya.
Diserang secara demikian, mau tidak mau Ho Kie lantas
urungkan serangannya. Dengan cepat It Tim Tojin sudah
membalikkan badannya untuk menghadapi Ho Kie.
Tetapi, ketika ia memutar tubuhnya, Ho Kie ternyata
sudah menghilang lagi dari depan matanya.
It Tim Tojin dibikin terkejut lagi, tengah ia merasa
terheran-heran, kembali jalan darah Hong ga hiat-nya sudah
diserang lawan.
Ilmu Ho kut hian kang ini hanya terdapat didalam kitab
pelajaran ilmu silat Hian kui pit kip, jilid ketiga, maka Lim
Kheng sendiripun yang menyaksikannya tidak
mengenalnya.
Beberapa jurus telah berlalu, It Tim Tojin sudah mulai
kewalahan benar-benar. Pedangnya teruskan menyapu
kebelakang, tetapi selalu saja mengenakan tempat kosong.
Selagi dalam keadaan bingung itu, mendadak terdengar
suara tertahan, kemudian disusul oleh meluncurnya sesosok
bayangan yang menyambar padanya……..
Dengan tidak banyak pikir lagi, It Tim Tojin lantas
mengayun tangannya, sehingga bayangan orang lantas
terlempar jatuh ditanah, kemudian disusul oleh suara
ketawanya Lim Kheng cekikikan.
“Iman tua!! Ini adalah kau sendiri yang turunkan tangan
kejam. Kau tidak boleh sesalkan aku….” kata Lim Kheng.
Ketika pertama kali Ho Kie menggunakan kepandaian
menghadapi Lim Kheng, dua kali ia telah menggunakan
ilmunya Hian-kui-cap sha-sek-na-cjhiu, tetapi tidak berhasil,
maka dalam hatinya lantas menganggap bahwa apa yang
dipelajarinya itu tidak begitu hebat seperti apa yang
dikiranya semula. Siapa kira, kali ini menggunakan ilmu
Hu-kui-thian-kangnya kelihatannya ada begitu hebat,
sampai lawannya kerepotan. Karena ilmu ini se-olah-olah
kutu yang melekat ditulang, sekalipun memutar kemana
saja, tidak bisa terlepas.
It Tim Tojin terperanjat, ketika ia mengawasi orang yang
terpental jatuh tadi ternyata adalah suteenya sendiri, It Beng
Tojin.
Pada saat itu, It Beng Tojin menutup matanya, napasnya
lemah, ia telah dihajar pingsan oleh tangan suhengnya
sendiri.
It Tim Tojin dalam pikiran kalut, pundak kirinya telah
kena terhajar oleh Ho Kie, Ia mundur sempoyongan sampai
lima tindak. separuh badannya dirasakan mati kaku,
sehingga pedangnya terlepas dari tangannya.
It Tim Tojin yang mempunyai nama juga didalam
kalangan Kang-ouw, hari itu dalam tempo sekejap saja
sudah terjungkal ditangannya dua anak muda, membuat
nama baiknya Hoa-san-Sam-kiam seketika itu, menjadi
guram,
Ia sangat berduka, beberapa kali ia menghela napas
menantikan kematiannya.
Ho Kie yang sudah merasa gemas terhadap imam tua
itu, sudah mengangkat tangan kanannya hendak menepok
batok kepala It Tim Tojin.
Mendadak terdengar suara orang berseru ;
“Ho Siaohiap jangan!”
Ho Kie tercengang, ia menarik kembali tangannya. Pada
saat itu, Auw-yang Khia tampak sudah menghadang
didepannya.
“Hoa-san-pay merupakan partay dari golongan orang
baik-baik dalam rimba persilatan. Dengan mereka kita tidak
mempunyai permusuhan apa-apa. Oleh karena kejadian ini
disebabkan kesalahan paham, sebaiknya Ho Siaohiap
ampuni jiwa mereka.” demikian kata Auw-yang Thia.
“Baiklah! Dengan memandang muka auw yang Losu,
hari ini aku ampuni jiwa kalian. Hayo lekas pergi!!”
It Tim Tojin merasa sangat malu, Karena kedua suteenya
sudah terluka parah, maka dengan menahan malu ia
memondong kedua Suteenya. Sebelum berlalu ia masih
berkata dengan penasaran :
“Pinto hari ini mengaku kalah. Tetapi untuk selanjutnya
Hoa-san-pay akan bermusuhan dengan kalian. Apakah
kalian berani meninggalkan nama?”
Ho Kie tertawa dingin.
“Aku she Ho nama Kie, kalau kau merasa tidak puas
dikemudian hari kau boleh cari aku saja.”
“Lambat, atau cepat, Hoa-san pay pasti akan membuat
perhitungan dengan kalian!” berkata It Tim Tojin pula,
yang lantas berlalu meninggalkan musuh-musuhnya.
Setelah imam itu berlalu, Ho Kie mengajak Auw-yang
Khia melanjutkan perjalanannya.
Hari itu, mereka tiba disebuah kota kecil. Karena cuaca
sudah mulai gelap, hati Ho Kie amat cemas, maka dia lalu
bertanya kepada Auw yang Khia :
“Apa kau ingat benar dan tidak salah jalan?”
“Nama tempat itu, meskipun aku tak mengetahuinya,
tetapi jalanan ke tempat itu harus melalui jalanan puncak
gunung Tay pek san sebelah selatan, Ini tidak bisa salah
lagi” jawab Auw-yang Khia,
“Tay pek san masih berapa jauh dari sini?”
“Kalau kita dapat jalan cepat, tiga hari saja. rasanya
sudah sampai.”
“Kalau begitu, kita terburu buru juga tidak ada gunanya.
Lebih baik malam ini kita bermalam disini, besok baru
melanjutkan perjalanan kita.”
Mereka lalu mencari rumah penginapan. Apa mau
dalam kota itu hanya ada satu rumah penginapan dan
tempatnyapun hanya ada dua buah kamar kosong.
Auw yang Khia lantas berkata secara bergurau :
“Untuk satu malam saja, biarlah kita tidur berdekatan.
Dua kamar juga rasanya sudah cukup,”
“Aku mau sendirian, kalian boleh berdua dalam satu
kamar.” Lim Kheng nyeletuk.
Ho Kie lantas berkata sambil tertawa “Lim-heng,
mengapa kau tidak mau tinggal sama-sama satu kamar
dengan aku saja, supaya kita bisa mengobrol untuk
melewatkan sang malam.”
Mendadak Lim Kheng merasa jengah dan kelihatan
dimukanya, agaknya merasa tidak senang. Tetapi kemudian
ia dapat menindas perasaannya sendiri dan menjawab
sambil ketawa :
“jangan salah mengerti, aku mempunyai semacam
penyakit. Aku harus tidur sendiri, baru bisa pulas”
“Tadi aku katakan juga untuk melewatkan waktu. Justru
kalau tidak bisa tidur, Kita bisa mengobrol satu malaman.”
“Siapa mau mengobrol dengan kau. Tadi malam aku
sudah tidak tidur dan besok masih melanjutkan perjalanan.”
“Orang seperti kita sudah cukup dengan duduk semedi
sebentar saja, Dua tiga hari tidak tidur juga tidak menjadi
soal.”
Lim Kheng kewalahan sampai tidak bisa menjawab lagi,
sehingga akhirnya ia terima tinggal satu kamar dengan Ho
Kie.
“Kau tidurlah sendiri, aku menyender dikursi saja sudsh
cukup.” kata Lim Kheng telah berada dalam kamar.
Ho Kie melihat sikap Lim Kheng yang kemalu maluan,
dugaannya semakin kuat bahwa kawannya ini adalah
seorang wanita yang menyaru sebagai pria, tetapi masih
berlagak pilon.
“Ini mana boleh,” katanya. “Kau dengan aku sudah
seperti saudara saja. Kalau kau suruh aku tidur sendiri
ditempat tidur, aku juga tidak akan dapat tidur pulas.
Sebaiknya kita sama-sama saja!”
“Aku tiba-tiba telah mengingat satu pelajaran ilmu
Iweekang. Diwaktu sunyi nanti aku akan mencoba melatih
dan kau jangan mengganggu aku.”
“Kalau begitu terpaksa aku menurut. Sebaiknya setelah
Lim heng menyelesaikan pelajaranmu, boleh naik saja
dipembaringan.”
Lim Kheng menyahut dengan sembarangan, lantas
duduk dikursi. Apakah betul Lim Kheng melatih ilmunnya?
Tidak. Ia hanya pejamkan mata, tetapi hatinya dak dik duk
tidak keruan.
Setelah Ho Kie meaggeros, diam-diam ia membuka
matanya melongok kepembaringan. Ketika menyaksikan
kecakapan Ho Kie dalam hati diam-diam berpikir: Pemudia
ini, baik wajahnya maupun kelakuannya sungguh tidak
tercela. Apalagi dia juga murid Toan-theng lodin.
Dipandang dari kelakuannya atau kepandaiannya, cukup
pantas untuk menjadi jodohku, tapi….
Tapi apa? Ia sendiri tidak mampu meneruskan katakatanya.
Ia cuma merasa kalut pikirannya hampir tidak
mamu mengendalikan.
ooo0dw0ooo
TIBA – TIBA DARI MULUT Ho Kie mencetuskan
perkataan :
“Lim Kheng, kau lagi ngapain?”
Lim Kheng terperanjat, kembali pejamkan matanya. Ia
kira Ho Kie telah mengetahui perbuatannya. Tapi
kemudian terdengar suaranya pula ;
“…..Suhu…..suhu….kau sungguh tidak
beruntung….ai….”
Lim Kheng baru merasa lega, kiranya anak muda itu
sedang mengigo.
Ia membuka matanya pula, ketika melihat wajah Ho Kie
yang nampaknya berduka, dalam hati lalu berpikir: anak ini
sungguh mengenal budi, dengan Toan-theng Lojin ia tidak
mempunyai hubungan guru dengan murid, tapi mendengar
orang tua itu dalam bahaya, hatinya lantas gelisah begitu
rupa.
Selagi melamun, Lim Kheng dengar suara Ho Kie pula :
“Lim-heng……Lim-heng!”
Lim Kheng terkejut, tapi Ho Kie tidak melanjutkan
perkataannya.
Hatinya Lim Kheng berdebaran, pikirnya, dia dengan
aku belum erat perhubungannya mengapa dalam mimpinya
dia menyebut nyebut namaku?
tiba-tiba ia dengar suara Ho Kie pula :
“Lim heng, ah, aku lihat kau agak mengherankan……”
Lim Kheng betul-betul terkejut, hampir lompat dari
kursinya, wajahnya berubah seketika. Pikirnya : apakah dia
sudah tahu rahasiaku?
Sebentar kemudian kembali ia dengar suara Ho Kie :
“Adik….” dan sebentar pula memanggil “Enci……”
Lim Kheng mulai bingung. Entah siapa yang dimaksud
dengan adik dan enci itu. Apakah ia sudah mempunyai
kenalan seorang wanita?
“Mengingat sampai disitu, agaknya ia merasa terharu,
maka dengan tidak dirasa, dengan gemas ia lantas berseru :
“Hmmmm……”
“Lim Heng kau, kenapa?”
Lim Kheng membuka matanya, melihat Ho Kie sedang
mengawasi padanya dengan mata terbuka lebar. Lim Kheng
gugup, buru-buru ia memejamkan matanya lagi.
“Lim Kheng, aku tadi dengar kau seperti sedang gusar
kepada seseorang, Siapa dia?? ” Tanya Ho Kie sambil
ketawa.
Wajah Lim Kheng mendadak berubah merah, sambil
tundukkan kepalanya ia bicara dengan suara perlahan,
“Perlu apa kau mau ketahui rahasia orang?”
“Aku bukannya mau tahu rahasia orang, aku tanya
karena kau aku dikejutkan dari mimpiku. Tadinya aku
mengira tengah melatih ilmumu, sehingga keluarkan
rintihan”
Perkataan HO kie itu membuat Lim Kheng berdebaran.
“Bohong!” katanya sambil ia kerlingkan matanya yang
bagus.
Ho kie jadi ketawa bergelak.
Suara ketawa itu telah mengejutkan Auw yang khia yang
berada dilain kamar. Orang itu kucek-kucek matanya,
sambil geleng-gelengkan kepalanya ia berkata seorang dari :
“Dasar anak muda, lagi senang, tidak perduli tengah malam
buta juga bisa ketawa begitu keras……..”
Gunung Tay pek san yang mempunyai banyak puncak
yang tinggi-tinggi, kelihatan berdiri megah diantara
gumpalan awan.
Dibawah kaki gunung itu ada berjalan tiga orang yang
sedang mendaki melalui jalanan yang berliku liku. Mereka
itu adalah si pencuri sakti Auw yang Khia, si baju putih
Lim Kheng dan Ho Kie yang hatinya sangat berduka.
Ketika tiba ditengah tengah gunung, Auw-yang Khia
menghentikan tindakan kakinya, kelihatan berdiri sejenak
memeriksa keadaan, lalu berkata kepada kedua kawannya :
“Jalanan yang kita lalui sedikitpun tidak salah. Aku
masih ingat dengan jelas, ketika aku turun gunung, aku
pernah melalui itu tebing tinggi. Cari sini keatas kira kira
berjalan lagi setengah hari, kita bisa sampai kegoa tempat
Toan theng Lojin menyembunyikan dirinya.”
Ho Kie hanya menganggukkan kepalanya, matanya
memandang keadaan disekitarnya lalu berkata dengan
suara sedih:
“Tempat ini keadaaanya begitu menyedihkan, rupanya
jarang didatangi manusia. Entah bagaimana dia seorang tua
bisa datang kemari?”
“Sebetulnya gunung Tay-pek-San ini, ke selatan bisa
menembus ke Hut-peng, ke Utara dengan melalui Kok-koan
bisa sampai dikota Cao toan. Kadang- ada juga tukang kayu
yang sampai keatas gunung, tidak sesunyi seperti apa yang
kau duga. Hanya saja, goa yang didiami Toan-theng Lojin,
keadaannya agak terpencil sendiri” berkata Auw-yang Khia
sambil tertawa.
“Mudah-mudahan orang tua itu tidak mendapat
halangan apa-apa.” berkata Ho Kie sambil ketawa getir.
“Kau jangan memikiri yang bukan-bukan. Dia si orang
tua, meskipun terkena racun, tetapi kekuatannya belum
tentu musnah. Kalau tidak, bagaimana dia bisa lolos
didalam gunung ini sampai setahun lebih?” berkata Lim
Kheng.
Ho Kie diam-diam anggukkan kepala, Ia mengikuti
Auw-yang Khia terus mendaki gunung.
Kelihatannya orang tua itu jarang mengunjungi gunung
ini, maka berjalan belum lama sudah berhenti untuk
mengenali atau, mengingat-ingat jalanannya. Dengan
demikian maka perjalanan mereka itu sangat lambat,
Sepanjang jalan itu Ho Kie yang kelihatannya paling
gelisah. Ia tidak berani membayangkan bagaimana keadaan
orang tua Toan-theng Lojin itu yang pada dua tahun
berselang pernah memberikan pelajaran ilmu silat padanya.
Apa ia masih mengenakan pakaian Hitam putih yang aneh
itu? Apakah ia masih tetap suka menghela napas? Apakah
sorot matanya yang hijau masih tetap berpengaruh seperti
dulu?…-. Bermacam-macam pertanyaan itu telah mengaduk
didalam otaknya.
Pada saat itu, ia benar-benar sudah ingin lekas-lekas
menemui orang tua yang pernah melempar budi padanya
itu. Meskipun ia membawa benda Kalajengking emas untuk
memunahkan racun, tetapi apakah benda itu dapat
menyembuhkan lukanya juga masih merupakan
pertanyaan,
Makin dekat pada tujuannya, pikirannya dirasakan
makin gelisah. Setelah melalui baberapa puncak gunung,
matahari keiihatan sudah mendoyong ke barat.
Mendadak Auw-yang Khia menghentikan tindakan
kakinya, matanya mengawasi suatu tempat yang letaknya
kira-kira sepuluh tumbak lebih jauhnya, Sikapnya tiba2
berubah, mulutnya mendumel sendiri. “Eh, Kenapa salah?”
Ho Kie terperanjat lalu bertanya dengan cemas :
“Salah bagaimana?”
“Aku masih ingat betul, ketika aku berlalu, tatkala aku
berjalan sampai ditempat ini, aku pernah menoleh
mengawasi padanya. Dari sini menengok keatas, masih bisa
melihat setengah badannya……Tetapi, kenapa……goa itu
sekarang kelihatannya seperti kosong?”
Ho Kie berdebaran hatinya, dengan tidak dirasa ia telah
menyambar lengannya Auw-yang Khia seraya bertanya :
“Bagaimana, dimana?? Dimana adanya goa?”
“Disana, Dibawah batu batu gunung.” jawab Auw yang
Khia sambil menunjuk kesebuah batu gunung menonjol
yang letaknya beberapa puluh tumbak jauhnya.
Ho Kie memasang matanya. benar saja, dibawah itu batu
gunung terdapat sebuah mulut goa, tetapi kelihatan kosong,
tidak kelihatan bayangan manusia.
Dalam cemasnya, ia lalu mendorong diri Auw yang Khia
sampai orang tua itu hampir jatuh tergelincir.
Lim Kheng lalu berseru kaget : “Saudara Ho….”
Ho Kie sudah melesat terbang laksana burung, sebentar
saja kelihatan orangnya sudah berada dimulut goa yang
ditunjuk Auw yang Khia.
Dimulut goa itu benar kosong, tidak kelihatan bayangan
Toan theng Lojin.
Auw yang Khia pernah mengatakan bahwa orang tua itu
badannya sudah kena racun.
Sudah setahun lebih tidak bisa bergerak, tetapi kenapa
sekarang bisa mendadak menghilang? Pertanyaan itu selalu
mengaduk didalam otak Ho Kie.
Ketika ia memeriksa lebih jauh keadaan dalam goa itu,
Ho Kie terperanjat, karena di situ terdapat banyak tanda
darah.
Bagaimana nasibnya orang tua itu? Ini masih merupakan
suatu pertanyaan besar. Tetapi hatinya Ho Kie sudah
hancur luluh. Ia buru-buru masuk kedalam goa sembari
berseru:
“Lociaapwe!! Locianpwe !”
Tetapi hanya suaranya saja yang berkumandang sebagai
jawabannya.
Hatinya penuh dengan rasa kuatir, ia berdiri bengong
dengan tubuh menggigil.
Pada saat itu Lim Kheng dan Auw yang Khia juga sudah
tiba dimulut goa.
Lim Kheng melihat Ho Hie sudah masuk kedalam goa,
lantas berseru :
“Saudara Ho hati-hati kalau didalam ada orang
bersembunyi.”
“Tidak apa. Goa ini tidak terlalu dalam,” kata Auw-yang
Khia,
Selagi mereka berbicara, Ho Kie tampak keluar dari
dalam dengan tindakan lesu sambil kertak gigi.
“Bagaimana? Apa dia seorang tua ada di dalam?” Lim
Kheng bertanya.
Ho-Kie tidak menjawab, seperti yang hilang ingatannya
setindak demi setindak keluar dari dalam goa.
Lim Kheng terperanjat, buru-buru menyambar
tangannya dan bertanya dengan suara keras :
“Bagaimana, apa dia tidak ada didalam goa?”
Ho Kie geleng-geleng kepala, kemudian menjawab
dengan suara perlahan :
“Didalam goa tidak ada orang. Dia……. dia, siorang tua
pasti sudah diketahui oleh orang-orang Hian kui kauw, dan
dibikin- celaka oleh mereka… ”
“Kau jangan berkata sembarangan. Kau tidak melihat
sendiri, bagaimana kau sudah tahu kalau dia mendapat
kecelakaan?” kata Lim Kheng.
“Kau lihat!! Darah ini adalah darahnya yang mengalir
dari badannya…. ” berkata Ho Kie sambil menunjuk darah
yang bercecer ditanah.
“Ho Siaohiap jangan menduga sembarangan, tanda
darah ini adalah bekas dia si orang tua, ketika membunuh
burung-burung untuk santapannya …” berkata Auw yang
Khia,.
Siapa nyana, belum lagi habis ucapannya, Ho Kie
mendadak mendelikkan matanya dan lantas tangannya
menyambar pergelangan tangan Auw-yang Khia dan
berkata dengan suara bengis :
“Mengapa kau tinggalkan, padanya seorang diri didalam
goa ini? Mengapa kau tidak membawa dia berlalu dari
sini,……… Ini adalah kau yang telah mencelakakan dirinya.
Kau yang membunuh dia…?”
Setelah berkata demikian, Ho Kie lantas mengayun
tangan kanannya hendak menghajar kepala Auw yang
Khia.
Sekalipun Auw yang Khia mempunyai seratus mulut,
pada saat itu tentu tidak bisa membantah. Karena
pergelangan tangannya sudah tercekal, ia sudah tidak
berdaya lagi, maka terpaksa ia hanya dapat menghela napas
untuk menantikan kematiannya …..
Justru saat itu Lim Kheng maju menghalangi :
“Saudara Ho, kau hendak berbuat apa?” ia bertanya.
“Aku hendak membunuh dia untuk mengganti jiwa Toan
theng Lojin.” jawab Ho Kie beringas.
Lim Kheng yang mendengar itu, merasa jengkel dan geli
sendiri.
“Sungguh kecewa” katanya, Kau membunuh dia,
menganggap dirimu sebagai seorang gagah. Saudara Hokau
harus ingat, ketika Toan-theng Lojin mendapat
kecelakaan, Auw-yang Losu dengan menempuh segala
bahaya telah mencari obat pemunah racunnya, Secara
kebetulan telah memberikan kabar padamu yang kemudian
membawa kau kemari untuk memberikan pertolongan.
Kesemuanya ini, apakah ada yang dibuat salah oleh Auw
yang Losu?”
“Meskipun dia tidak membunuh Toan-theng Lojin, tetapi
mengapa dia membiarkan orang yang sudah terkena racun
itu berdiam sendiri dan didalam goa sesunyi ini sampai dia
telah diketemukan oleh musuh-musuhnya ?”
“Sebelum diketemukan oleh Auw-yang Losu, bukanlah
Toan-theng Lojin berdiam sendiri disini sudah setahun lebih
lamanya? Jikalau pada saat itu ada kejadian apa-apa, kau
harus menyalahkan kepada siapa?”
Ho Kie yang mendapat pertanyaan demikian, seketika
itu lantas bungkam. Lama ia berdiam, dalam keadaan itu
kemudian ia melepaskan tangannya Auw-yang Khia.
Sambil memesut air matanya ia berkata :
“Kalau begitu, adalah aku yang telah mencelakakan
dirinya si oraag tua. Mengapa aku tidak bisa datang lebih
cepat….?”
“Diantara kata siapapun tidak ada yang salah. Kalau dia
binasa, cuma kaucu Hian-kui kauw yang dapat
membinasakan dirinya.” berkata Lim Kheng.
Ho Kie lompat dan berkata dengan suara beringas.
“Benar! Kita harus segera ke Kui-kok mencari padanya!”
sehabis berkata lalu kabur turun gunung, sekejap saja ia
sudah berada 10 tumbak lebih jauhnya.
Lim Kheng segera keluarkan ilmunya lari pesat dengan
cepat sudah dapat menyusul.
“Kau hendak kemana ?” tegurnya.
“Aku mau pergi ke Kui-kok untuk menolong Toan-theng
Lojin.”
Lim Kheng merasa geli, sambil menghela napas ia
berkata :
“Siaoyaku, Kui-kok terpisah dari sini tokh bukan cuma
beberapa puluh kaki saja. perlu apa kau demikian tergesagesa?
Marilah kita pikirkan dulu daya upaya dengan tenang
dan yang paling sempurna.”
Ho Kie yang sudah kalut pikirannya, tat-kala mendengar
Lim Kheng lantas melongo.
“Apa yang harus kita pikirkan lagi? Paling betul kita
segera pergi ke Kui-kok supaya bisa lekas-lekas menolong
jiwanya siorang tua ,…..”
Lim Kheng agak jengkel, ia berkata sambil ketrukkan
kakinya :
“Aih! Kau ini bagaimana sih… ?” ia hentikan ucapannya,
matanya celingukan. “Eh, kemana dia?”
“Siapa? Kau maksudkan siapa yang pergi?” tanya Ho Kie
heran.
“Celaka, bagaimana dalam waktu sekejapan saja, Auwyang
Khia losu sudah menghilang?”
Mendengar jawaban itu Ho Kie terperanjat, ia menengok
kearah belakang, benar saja Auw-yang Khia sudah tidak
kelihatan bayangannya!
Kepandaian Ho Khie dan Lim Kheng semuanya
didapatkan dari kitab ilmu silat Hian-kui-pit-kip boleh
dikatakan sudah termasuk jago kelas satu didunia Kangouw,
tetapi bagaimana sampai menyingkirkannya Auwyang
Khia saja tidak diketahuinya? Ini benar-benar aneh.
Mendadak wajah Ho Khie berubah. Dengan, cepat ia
mencari ditempat-tempat sekitarnya, tetapi hasilnya nihil
semua, maka ia lantas berkata dengan suara gusar:
“Jangan-jangan si bangsat tua memancing kita kemari
dan mempunyai lain maksud,”
setelah berpikir sejenak. Lim Kheng lantas menjawab
sambil gelengkan kepala :
“Rasanya tak mungkin. Kalau dilihat dari sikapnya, tidak
bisa jadi dia hendak menipu kita.”
“Kalau begitu, mengapa dia berlalu secara diam-diam?”
Mendadak Lim Kheng seperti ingat sesuatu
“Celaka” serunya. “Coba kau lihat, itu kalajengking emas
apa masih ada?”
Ho Kie merogoh sakunya, seketika itu lantas pucat
wajahnya.
“Bagaimana? masih ada atau tidak?” tanya Lim Kheng
pula,
Dari dalam sakunya Ho Kie mengeluarkan sebuah
benda, tetapi benda itu bukannya kotak emas yang berisikan
kalajengking emas, melainkan sepotong papan hitam yang
kira-kira tiga Khun besarnya.
Lim Kheng lalu memeriksa papan itu, ternyata hanya
sepotong papan biasa warna hitam diatasnya ada terlukis
tiga tangan orang yang disusun menjadi bentuk tiga segi.
Selain dari itu kelihatan juga empat huruf kecil yang
berbunyi “Biauw Khiu Kong Kong.”
“Tidak nyana, benar dia telah mengambilnya.” kata Lim
Kheng sambil menghela napas.
“Bangsat tua itu memang bukan orang baik-baik tentunya
dia inginkan benda pusaka itu, maka lantas mengarang
cerita bohong demi menipu kita datang kemari, lalu
mencari kesempatan untuk turun tangan. Mari lekas kita
kejar.” kata Ho Kie dengan gusar,
Lim Kheng berpikir sejenak, baru menjawab:
“Meskipun benda pusaka itu betul dia yang mencurinya,
tetapi kelihatan apa yang dikatakan olehnya belum tentu
dusta.”
“Apa kau masih tetap percaya akan obrolannya?”
“Menurut pikiranku, dia bisa menyebutkan namanya
Toan-theng Lojin serta dapat melukiskan wajahnya si orang
tua, sudah tentu bukan bohong. Dia rupanya merasa tidak
enak dirinya dipersalahkan dan kau suruh dia mengganti
jiwa Toan-theng Lojin, maka dalam keadaan gusarnya dia
lantas kabur sambil membawa lari benda pusaka itu.”
“Kalau dugaanku tidak keliru dia tentu pergi ke Kuikok.”
“Apa iya?” Ho Kie kaget, “Kalau begitu mari kita kejar !”
“Betapapun cepatnya dia lari, aku yakin dia tidak nanti
bisa lebih cepat dari kita. Tapi lebih lebih dulu aku perlu
nasehat padamu, setelah kita berhasil menyandak dia sekali
kali kau jangan timbulkan urusan lagi. Sebaiknya kita
berunding secara tenang untuk pergi ke Kui kok.”
“Sekarang kita jangan bicarakan soal itu dulu. Paling
penting kita kejar dia dulu.” kata Ho Kie sambil anggukanggukkan
kepala, Kemudian lalu mengajak kawannya itu
lari kebawah gunung.
Dalam hal ilmu lari pesat, kedua pemuda itu sama-sama
mahir, maka dalam waktu sekejap saja, mereka sudah
mencapai perjalanan dua puluh lie lebih.
Lim Kheng bermata tajam. Didalam sebuah rimba
pohon cemara yang jauhnya kira-kira sepuluh tumbak lebih,
agaknya dapat melihat berkelebatnya sesosok bayangan
manusia maka ia lalu memberitahukan kepada Ho Kie apa
yang telah dilihatnya.
Ho Kie lalu lari menuju ketempat yang ditunjukkan Lim
Kheng,
Benar saja. bayangan orang itu sudah lari menyeberangi
sebuah sungai kecil. Ho Kie dan Lim Kheng dengan cepat
mengejarnya, sebentar kemudian mereka sudah berada
didepan rimba.
Lim Kheng yang pertama bergerak, ia lompat melesat
menyeberangi sungai kecil itu.
Selagi masih berada ditengah udara, matanya sudah.
dapat melihat bahwa orang itu sedang lari memutari sebuah
bukit secara tergesa-gesa, maka ketika ia turun diseberang
sana, lalu berkata kepada Ho kie,
“Kau jangan ribut. Kau boleh mengintai dibelakang dan
aku akan mencegat dari depan.”
Ho Kie anggukkan kepala, maka ia lantas mengejar
dengan cepat.
Maksudnya Lim kheng menyuruh Ho Kie yang mengejar
dan ia sendiri yang akan mencegat didepannya, itu
hanyalah untuk mencegah supaya Ho kie jangan turun
tangan melukai Auw Yang khia yang kelihatannya masih
sangat mendongkol terhadap orang tua itu.
Siapa sangka, karena dalam diri Ho kie sudah mendapat
warisan ilmu Toan-theng lojin, maka dalam hal ilmu lari
pesat dan kekuatan tenaga Iweekang sebetulnya ia masih
berada diatas Lim kheng.
Maka tatkala kedua orAng itu berpencaran, dengan cepat
sekali Ho Kie sudah tiba dibelakangnya batu gunung.
Ia sudah benci sekali terhadap Auw-yang Khia yang
sudah mencuri kalajengking emasnya, maka kali ini ia
sudah bertekad tidak akan melepaskan padanya begitu saja.
Begitu melesat, setelah melalui sebuah batu gunung,
dengan tidak melihat lagi siapa orangnya, ia lantas angkat
tangannya menyerang belakang orang itu.
Sesudah turun tangan, ia baru membentak dengna suara
keras:
“Bangsat tua, kau mau lari kemana?”
Meskipun ia hanya menggunakan tiga bagian dari
kekuatannya, tetapi sambaran angin serangannya cukup
hebat.
Orang itu karena sedang lari dan tidak berjaga-jaga,
maka serangan Ho kie telah mengenai sasarannya dengan
telak. Setelah mengeluarkan seruan kaget, orang itu telah
dibikin terpental dan setelah jungkir-balik ditengah udara
lantas jatuh ngusrak setumbah lebih jauh………
Ho Kie segera nunyusul, tetapi apa yang dilihatnya telah
membuat kesima.
Kiranya tidak jauh dari tempat itu yang tadinya
kealingan oleh batu gunung, ternyata tebing jurang yang
sangat dalam, dan orang yang jatuh tadi hampir
menggelinding kebawah jurang.
Ho Kie merasa menyesal atas perbuatannya, tetapi pada
saat itu, karena terpisah agak jauh ia tidak berdaya
menolong diri orang tersebut.
Mendadak kelihatan berkelebatnya bayangan putih
bayangan itu ternyata adalah bayangan Lim kheng yang
tibanya pada saat yang tepat.
Karena ia mengambil jalan memutar, maka Ho Kie
sudah muncul duluan. Ketika menyaksikan orang itu
dibikin terpental, ia lantas menyambar dengan tangannya.
tetapi badan orang itu ternyata sangat berat, sehingga
hampir saja ia sendiri ikut menggelinding kedalam jurang.
APA MAU,selagi ia hendak menegur Ho kie, orang itu
mendadak membentuk keras dan menyerang perut Lim
Kheng sembari berseru:
“Anak kurang ajar. Kau berani membokong orang
tuamu?”
Karena kejadian itu secara mendadak, Lim kheng juga
tidak menyangka orang itu berani menyerang padanya,
maka dengan cepat ia melepaskan tangannya dan melompat
mundur.
Tetapi baru saja ia melewatkan serangan pertama,
serangan kedua sudah menyusul.
Lim Kheng berkelit ke samping ketika ia menegasi, baru
tahu kalau itu bukan nya Auw yang Khia, melainkan
seorang laki-laki bermuka hitam dan berbadan tegap.
Dalam kagetnya, ia lantas menyabut kipasnya seraya
berkata:
“Tahan! kau siapa?”
Laki-laki hitam itu mendelikkan matanya, lantas
keluarkan senjatanya berupa pecut baja yang sangat berat.
Ia memaki-maki Lim Kheng sambil menuding-nuding:
“Bocah busuk! kau sudah memukul orang, sekarang
masih berani menggunakan senjata? Sekarang orang tuamu
ingin mencoba-coba kepandaianmu beberapa puluh jurus
saja.”
Pada saat itu, Ho kie juga sudah dapat melihat tegas
orang itu dan sudah mengetahui kalau ia sudah kesalahan
tangan, maka buru-buru ia menghadang didepannya orang
itu sambil berseru:
“Saudara. Perkenalkan dulu kau siapa?”
Bukan main gusarnya laki-laki hitam itu, ia membentak
dengan sengit:
“Kurang ajar! Siapa adanya orang tua mu juga tidak kau
kenali, dan toh kau berani lancang turun tangan.”
“Justru, kesalahan lihat, maka dengan tidak sengaja aku
telah melukai kau” kata Ho kie sambil ketawa.
“Kentut! kesalahan lihat orang, apa kau sudah cukup
dengan begitu saja?”
Lim Kheng yang menyaksikan orang itu sangat kasar,
dalam hatinya juga merasa sangat mendeluh, maka lantas
turut nyeletuk:
“Dia kesalahan tangan memukul kau, memang tidak
seharusntya, tetapi aku turun tangan menolong kau menarik
dirimu dari pinggir jurang, mengapa kau lantas memukul
aku?”
Laki-laki itu delikkan matanya.
“Aku perduli apa itu semuanya? Kalian adalah
merupakan satu kelompotan, satu pun tidak kuberi
keampunan!” katanya dengan tembereng.
“Manusia yang tidak tahu adat! Beritahu kan namamu
supaya aku bisa memberikan hajaran kepadamu!” kata Lim
Kheng gusar.
“Bocah busuk! Kau mau tahu nama orang tuamu?
Rasakan dulu lima puluh pecutan ini!”
orang itu berkata sambil mainkan pecutnya, tangan
kirinya menotok dada dan pecut ditangan kanannya
membabat pinggang Lim Kheng. Serangan itu hebat
dibarengi dengan menderunya angin keras, nyata seklai
kalau tenaga orang itu sangat besar.,
Menyaksikan serangan yang sangat hebat itu Lim Kheng
tidak berani menggunakan kegesitannya, ia hanya
menggunakan kegesitannya, berkelit dan lompat kebelakang
orang itu.
Ketika serangannya mengenakan tempat kosong, sihitam
melongo.
“Bocah busuk, kau licik!” ia memaki Lim Kheng dengan
sengit, lalu menyerang kembali dengan sangat gencarnya.
Lim Kheng sangat gesit gerakannya, dengan secara
lincah pula ia dapat menghindarkan tiap-tiap serangan
sihitam. Ketika ia mendapat kesempatan, kipasnya lantas
mengetok pundak kirinya orang itu.
Kipas itu adalah barang yang ringan, tetapi dalam
tangannya Lim Kheng, ketokan itu berarti sedikit beratnya
ratusan kati.
Siapa sangka, keMka serangannya itu mengenakan
sasarannya dengan telak, orang itu hanya kelihatan mundur
dua tindak, lalu berkata sambil meraba2 pundaknya:
“Kurang ajar!!Apa kau betul2 berani?”
Lim Kheng mengetahui kalau lawannya itu adalah
seorang kasar dan dogol, maka ia lantas maju lagi sambil
ketawa, kipasnya menotok berkali-kali sehingga sebentar
saja, badan orang itu sudah terkena totokan tujuh atau
delapan tempat, tapi ia masih rasakan semua totokan itu.
Ho kie yang menyekalkan itu lantas berseru kepada
kawannya:
“Lim heng, lekas rubuhkanlah padanya. Kita toh masih
mempunyai urusan.”
Perkataan Ho kie itu justru telah membuat orang itu
bertambah gusar, ia lantas lemparkan pecutnya, dengan
tangan kosong ia menubruk Lim kheng.
Serangan itu kelihatannya tidak teratur nampaknya
hanya main seruduk main tubruk, main sambar dan kalau
bisa dia mau bergulat saja.
Kipas Lim kheng berulang-ulang telah mengenai dirinya
tetapi ia kelihatan tidak takut, agaknya seperti tidak
merasakan apa-apa. Ia terus merangsek lawannya dengan
tangan kosong.
Lim kheng sudah mulai mendongkol, dengan kegesitan
ia menyelinap kebelakang lawan dan menendang pantat
orang itu.
Sang lawan jungkir balik, tetapi dengan tidak ragu-ragu
ia bangkit dan menerjang Lim kheng lagi.
Dalam tempo sekejapan saja kipas ditangan Lim Kheng
telah dipakai berkali-kali menghajar dirinya laki-laki itu,
sehingga harus jatuh bangun berulang kali sampai hidung
dan mukanya pada matang biru.
Tetapi adan orang itu betul-betul kebal. sedikitpun ia
tidak mengeluh. Kalau ia belum mati, rupanya ia maish
mau melawan terus. Dengan jatuh bangun iat erus melawan
dengan sangat bandel.
Lim kheng sudah timbul amarahnya, lalu pentang
senjata kipasnya. Ho Kie mengetahui kalau kawannya ini
hendak menurunkan tangan kejam, hatinya merasa tidak
tega.
Selagi hendak mencegah, kipasnya Lim Kheng yang
tajam seperti pisau itu sudah menyambar leher laki-laki
tersebut.
Tetapi sungguh mengherankan. Kipas yang demikian
tajam itu yang menggores lehernya hanya meninggalkan
goresan putih tetapi sedikitpun tidak luka. Baok Ho kie
maupun Lim Kheng, kedunia merasa terkejut.
Mereka segera mengerti bahwa orang dogol ini
mempunyai ilmu kebal Kim Ciong co yang tidak mempan
senjata tajam.
Lim Kheng yang masih dalam kesima, tiba-tiba
badannya kena sambar oleh orang itu dan bajunya sudah
kena dirobek pecah sehingga kelihatan pakaian dalamnya.
Ho kie sekarang bisa mengetahui betul, bahwa pukulan
dalam yang dipakai oleh Lim Kheng itu ternyata
adalahkain sutera yang sebagaimana umumnya dipakai
oleh kaum wanita. Dibelakang kainnya yang putih itu
kelihatan tegas dua buah dadanya yang montok menonjol.
-ooo0dw0oooJilid
5
LIM KHENG selebar wajahnya menjadi merah seketika,
ia berseru kaget lalu menutupi kedua dadanya dengan
kedua tangannya dan mundur dengan cepat.
Ketika laki-laki itu mengetahui bahwa pemuda itu
sebenarnya adalah kaum hawa yang sedang menyari, buruburu
ia melepaskan tangannya dan berkata sambil nyengir:
“Huh! kiranya kau seorang perempuan!”
Lim Kheng merasa malu dan gusar, lalu memutar
tubuhnya dan lari kedalam rimba.
Ho kie coba mencegah sambil katanya:
“Kau… kau kenapa?”
Tetapi Lim kheng lantas menyambuti dengan serangan
tangannya sehingga Ho kie harus mundur dua langkah, Lim
kheng menggunakan kesempatan itu lantas kabur lagi. Ho
kie jadi bingung, lalu berseru:
“Kau hendak kemana?”
Dengan tidak menoleh lagi,Lim kheng menyahut:
“Kau ini bagaimana sih! orang toh harus tukar pakaian.”
Ho kie baru sadar: “kalau begitu, kau lekas-lekas
kembali.”
“Biar bagaimana, kau harus tahan manusia dogol ini,
jangan sampai dia kabur.”
Ho kie terima baik permintaan Lim kheng.
Laki-laki itu rupanya merasa tidak enak sendiri, maka
lantas maju menghampiri HO kie dan berkata sambil
tertawa:
“Aku sungguh tidak mengetahui kalau dia adalah
istrimu. Kalau aku tahu, sungguh mati aku tidak berani
menyobek bajunya.”
Ho kie hanya mengawasi padanya sambil menutup
mulutnya membisu.
“Aku Gouw Toaya, benar-benar tidak takut segala apa
juga, aku hanya takut kaum wanita yang bercampuran
dengan kaum pria. Kali ini aku benar-benar sial. Lain kali,
kalau kau bawa nyonyamu berpergian jauh, sebaiknya
suruh dia berpakaian wanita dan suruh dia duduk didalam
tandu…”
Sebab berkata demikian, ia lantas hendak berlalu.
“Jangan pergi dulu!” Tiba-tiba Ho kie membentak.
Laki-laki itu tercengan, “kenapa? aku toh cuma
membikin robek sepotong bajunya, apa kau mau suruh kau
mengganti?”
“Enak benar kau bicara. Kau sudah berbuat salah, mana
boleh hendak berlalu begitu saja.”
Laki-laki itu mendelikkan matanya. “Apa kau kata? Kau
tadi sudah memukul aku dan dia bahkan sudah menyerang
aku dengan gagang kipasnya berulang-ulang. Sekarang aku
sudah ampuni kau. Apa kau masih belum mau terima?”
Ho kie yang melihat lagak dan bicaranya orang laki-laki
itu. memang benar adalah seorang dogol, merasa tidak enak
terlalu menyalahkan padanya, maka lantas berakat:
“Kau jangan pergi dulu. Aku hendak minta sedikit
keterangan dari kau.”
“Kau jangan coba-coba gunakan perkataan manis untuk
menipu aku. Jangan-jangan dia nanti kembali lagi hendak
membikin perhitungan dengan kau. Aku memberitahukan
padamu, aku si orang she Gouw, benar tidak takut mati!
kalau mau ajak aku berkelahi, mari kita berkelahi.”
“Dia adalah seorang nona. Bukan apa-apaku. kalau kau
terus ribut begini kau harus hati-hati dia nanti benar-benar
tidak mau mengerti.”
“Mana aku tahu dia ada apamu. BAgaimanapun juga,
kalian wanita dan pria yang berjalan bersama-sama, sedikit
banyak tentu ada apa-apa yang tidak beres.”
Ho kie hanya ganda ketawa, ia coba alihkan
pembicaraan ke lain soal.
“Sahabat, aku lihat ilmu kebalmu sungguh hebat sekali.
Siapakah namamu?”
“Namaku Gouw ya Pa. Didunia kangouw tidak boleh
diganggu. Siapa saja yang berani mengganggu aku biarpun
sampai sepuluh atau seratus tahun, aku tidak mau sudah.”
Ho kie tercengang.”Apa? Namamu Ya Pa?”
“Kau tidak tahu, Ibuku pernah melahirkan sebelas anak,
tetapi lahir satu mati satu. Tidak ada yang hidup.
Kemudian ketika ibu mengandung aku, ayah ingin sekali
mendapatkan anak perempuan dulu supaya anak
selanjutnya ada yang bantu mengurus. Siapa tahu ibu telah
melahirkan aku. Ketika bidan memberi tahukan dan
memberi selamat kepada ayah, ayah yang mendengar
kembali lahir satu anak laki-laki lantas menghela napas
sambil mengeluh, :”Ah Ya Pa! (artinya: Yah Sudahlah).
Maka selanjutnya ayah memberi nama padaku Ya Pa.
Ho kie yang mendengarkan keterangan itu lantas ketawa:
“Dan mengapa kau bisa hidup sampai dewasa?” tanya
Ho kie.
Gouw Ya Pa lalu menyahut sambil gelengkan kepala.
“Aii, au mana tahu. Ayahku karena menganggap aku
tidak bisa dipelihara sampai besar, maka aku diberikan
kepada seorang hweesio yang kemudian menjadi suhuku.
Selama masih kanak-kanak, aku sudah banyak mengalami
penderitaan.”
“Hweeshio dari kelenteng mana?”
“Tidak perlu kusebut, rasanya kau juga tahu. Itu adalah
kelenteng Siao lim sie di bukit Siong-san yang sudah banyak
orang-orang yang mengetahuinya.
Ho kie yang mendengar disebutnya Siao-lim sie hatinya
lantas bergetar. Sebab didalam rimba persilatan, meskipun
banyak terdapat partai persilatan dan tidak sedikit
jumlahnya orang-orang yang mempunyai kepandaian
tinggi, tetapi diantara sembilan partai terbesar dalam dunia
persilatan, Siao lim pay adalah merupakan pemimpin dari
berbagai partai itu. Siao lim sie banyak mempunyai muridmurid
dari golongan orang biasa. sedangkan padri-padrinya
yang berada didalam gereja hampir semuanya mempunyai
kepandaian yang luar biasa. Didalam duni kang ouw,
banyak orang merasa kagum dan jeri terhadap murid-murid
siao-lim sie. Diam-diam ia lalau berpikir : Pantas ilmu
kebalnya sudah mahir betul. Tidak nyana kalau dia adalah
anak murid Siao lim sie.
Berpikir demikian, ia lantas berkata sambil tertawa:
“Nama Siao lim pay sangat terkenal diseluruh jagad.
Didalam rimba persilatan juga sangat dijunjung tinggi.
Tetapi entah saudara Gouw ini ada muridnya siapa?”
“Apa kau kenal hweesio-hweesio didalam gereja itu?”
tanya Gouw Ya Pa heran.
“Meskipun aku belum pernah kebukit Siong-san. tetapi
aku tahu Ciangbunjin dari Siao lim pay itu adalah Tay
Goan Taysu. Beberapa padri angkatan tua yagn menjabat
sebagai pelindung hukum dibagian Tat mo ie siapa bukan
jago-jago yang terkenal didalam rimba persilatan, sedikit
banyak aku pernah mendengar.”
“Tetapi suhuku itu pasti kau tidak mengenalnya.”
“Siapa dia?”
“Dia bukan ketua, juga bukan golongan tetua dari Tatmo-
ie tetapi ketua dari golonga tertua dari Tat mo ie serta
hweesio lainnya. semuanya harus mengandalkan dia untuk
makanan mereka.”
Ho kie terkejut. “Aaaa, entah dia siapa? Apakah hweesio
tertua yang sudah mengundurkan diri?”
“Juga bukan. Dia adalah hweesio yang pangkatnya
sebagai Tukang masa. Namanya Laytao Hweesio”
Ho kie masih mengira bahwa orang dogol ini sedang
bergurau, maka ia merasa tidak senang. Tidak nyana,
Gouw Ya Pa berkata pula dengan suara sungguh-sungguh.
“Dia sebetulnya memang bukan hweesio dari Siao lim sie
menurut keterangannya. Dia datang dari See hek (Daerah
barat) yang berpesiar ke bukit Siong san. Karena disini
sangat ramai baginya, maka dia lantas berdiam di Siao lim
sie. Didalam mata suhuku, kepandaian silat Siao lim sie
benar-benar tidak merupakan apa-apa.”
Selagi mereka lagi asyik mengobrol itu, terbawa tiupan
angin tiba-tiba terdengar suara berkereseknya orang
berjalan. Ho kie terperanjat, lalu bertanya:
“saudara Gouw, apa kau masih ada kawan lain?”
“Cuma aku sendiri” jawab Gouw ya pa heran.
Ho kie buru-buru menoleh kearah rimba.
ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya Lim kheng
lagi.
“Dia pasti sudah pergi sendiri” kata Ho kie cemas.
“Siapa? siapa yang sudha pergi? mari kita tengok!” Gouw
ya pa bertanya dengan heran.
Ho kie sudha tidak mempunyai napsu untuk meladeni
Gouw ya pa, maka ia lantas lompat melesat menuju
kebelakang rimba.
Benar saja disitu hanya kedapatan baju Lim kheng yang
sudah robek, tetapi Lim kheng sendiri sudah tidak kelihatan
lagi mata hidungnya.
Dengan pikiran bimbang, Ho kie berdiri menjublek.
Gouw Ya Pa yang menyusul dan tiba disitu, lantas
bertanya dengan suara heran.:
“Ei! Mengapa nyonyamu tidak kelihatan?”
Ho kie tidak menjawab, sebaliknya lantas lompat melesat
untuk mencari Lim kheng.
“Hei, Tunggu sebentar! Aku hendak ikut mencari
bersama-sama.!” kata Gouw ya pa.
Tetapi Ho kie sudah berada pada jarak sepuluh tombak
lebih jauhnya,
Kala itu pikiran Ho kie sangat kalut: Toan theng lojin
entah masih hidup atau sudah mati dan dimana adanya dia
sekarang, sedangkan Auw yang khia sudah kabur
meninggalkannya sambil membawa benda pusakanya,
Kalajengking Emas, dan sekarang Lim kheng juga
meninggalkan padanya tanpa pamitan….
Semua kejadian yang tidak menyenangkannya itu sangat
menindih perasaannya dan ketenangannya. Seperti orang
yang sudah kalap, ia kabur tidak melihat arah. Dia cuma
mempunyai satu maksud: Biar apa yang akan terjadi, ia
harus mencarai dimana adanya Lim kheng.
Ia sudah merasa seperti kehilangan apa2, meskipun
antara ia dan Lim kheng belum mengadakan suatu
perjanjian yang tegas.
Dengan larinya yang tidak melihat arah itu. entah sudah
berapa jauh yang sudah dilaluinya, ia cuma lari terus
seolah2 sudah melupakan lapar, haus dan letih. Dalam
otaknya, hanya ada satu suara ialah suara orang yang
berjalan kaki perlahan sekali. SEbetulnya suara itu sudah
tidak ada, sudah lenyapp entah kemana. Dalam keadaan
demikian, Ho kie mendadak berpapasan dan dicegat oleh
tiga orang tua yang mengenakan pakaian imam dengna
wajah yang seram.
Dalam uring2annya, Ho kie segera menegur dengan
suara ketus:
“Kalian hendak berbuat apa?”
Kiranya diantara ketiga orang imam itu, satu adalah It
Tim tojin, salah satu dari Hoa-san-Sam kiam.
Sambil ketawa dingin, It Tim tojin berkata kepada kedua
imam yang disisinya
“Jiwi susiok, Ini adalah bocah she Ho yang didalam Ngo
kui khio sudah membunuh Lo sute, merampas kalajengking
emas dan kemudian melukai It Siu dan It Beng sute. Semua
adalah perbuatan dia seorang.”
Kedua imam yang dipanggil susiok itu mengangguk2an
kepalanya, dengan sorot mata tajam mereka menatapi
wajah Ho kie.
Sedikitpun Ho kie tidak merasa takut, sebaliknya malah
ketawa dingin kemudian berkata:
“Dari mana kau dapat begitu banyak cerita? Kalau kau
kenal gelagat, lekas minggir. Kalau tidak, jangan kau
sesalkan aku siorang she Ho akan berindak dengan tidak
mengenal kasihan lagi.”
Seorang imam yang berambut putih berkata sambil
mengangguk2an kepalanya:
“Benar saja, ada satu bocah yang sangat jumawa. It Tim
sutit, menurut perintah Ciang bun jin kita harus
menggunakan ilmu perguruan kita, keliningan emas yang
membikin kabur semangat untuk menangkap padanya.”
It Tim Tojdin menyahut sambil membungkukkan
badannya.
“Baik. It Tim menerima titah susiok.”
Sehabis berkata, ia lalu mencabut pedangnya, tangannya
yang lain lalu mengeluarkan sebuah benda yang
mengeluarkan sinar gemerlapan dari dalam sakunya.
Dengan menggengam benda tersebut, ia maju setindak dan
membentak dengan suara keras:
“Bocah she Ho, kau bukannya lekas menyerah!”
HO kie yang melihat sikapnya si tojin yang nampaknya
tidak kuatir sama sekali, tidak dapat menduga benda apa
yang digengam dalam tangannya itu dan apa gunanya.
Tetapi, pada saat itu pikirannya sedang dicurahkan ke
suatu tujuan saja, ialah:
Lekas2 mencari Lim kheng kembali. Ia tidak
memperdulikan musuh kuat yang berdiri didepannya.
Dengan tidak banyak bicara lagi, ia lantas bergerak dan
maju menyerang.
Kedua imam rambut putih itu masing2 kebutkan
jubahnya, mundur beberapa tindak.
It Tim tojin segera putar pedangnya, mengarah
tenggorokan Ho kie.
Ho kie dengan ilmu silatnya Hoan-sing-sie sak yang aneh
luar biasa, sekejap saja sudah berada disamping It Tim.
Ia sudah bertekad hendak mempercepat jalannya
pertempuran, tidak mau mengulur waktu, maka setelah
mengerahan seluruh kekuatannya dilengan kanan, ia lantas
menyerang punggung It Tim tojin.
It Tim tojin buru2 tarik kembali pedangnnya dan
badannya memutar dengan cepat, siapa nyana bahwa
serangan Ho ie itu dilakukan dengan kekuatan sepenuhnya,
sekalipun It Tim tojin sudah berkelit dengan cepat, tidak
urung pundaknya tersapu. It Tim tojin lantas keluarkan
seruan tertahan, badannya mundur sempoyongan beberapa
tindak.
Ho kie terus membayangi, sebentar saja tangan kanannya
sudah bergerak hendak menghajar batok kepalanya.
Mendadak terdengar seruan bentakan keras:
“Bocah!! kau mencari mampus!!”
Kemudian disusul datangnya sambaran angin yang amat
dahsyat, menyerang sisi perut Ho kie, siapa terpaksa tarik
kembali serangannya, dengan memutar tubuh ia
menyambuti serangan tersebut.
Mendadak telapakan tangan Ho kie dirasakan
kesemutan, seolah2 ketusuk barang tajam.
Dalam kagetnya, Ho kie lantas lompat mundur. Setelah
memeriksa tangannya, ia lihat ditengah2 telapakan
tangannya ada terdapat titik hitam yang ekcil sekali.
“Kau sudah kena senjata pinto yang dinamakan Toanbeng-
coa-hoan, Hari ini jangan harap kau bisa lolos.”
berkata siimam tua sambil ketawa dingin.
Ho kie tau bahwa tangannya sudah terkena senjata
beracun. Ia buru2 menutup jalan darahnya. Sambil
membentak keras ia maju menyerang lagi.
Selagi bergerak, dadanya mendadak dirasakan sesak,
kekuatan tenaga dalamnya yang baru dipusatkan telah
lenyap secara tiba2.
Bukan kepalang kagetnya Ho kie, selagi belum mendapat
kesempatan mundur, mendadak dengan ketawa It Tim tojin
kemudian menyerang dengan beberapa buah benda yang
mengeluarkan sinar berkerdepan….
-oo0dw0oo-
KEPALA Ho Kie sudah kleyengan, badannya
sempoyongan, dilihatnya kliningan emas pada berterbangan
diudara, ia tahu rupanya sukar untuk meloloskan diri, maka
ucma bisa menghela napas dan pejamkan matanya.
Beberapa puluh kliningan Ie-han Kim-lang saling beradu,
menimbulkan suara ting-ting, tang-tang, yang sangat riuh,
sebentar saja sudah berada diatas kepala Ho kie.
Tapi dengan tiba2 suara kliningan itu mendadak
berhenti.
Selagi Ho kie berada dalam keheran2an mendadak bau
harum telah menusu hidungnya, kemudian lantas rubuh
tidak ingat orang.
It Tim tojin lantas maju menghampiri dengan pedang
terhunus, tapi seorang imam tua yang berambut putih telah
mencegah sambil membentak:
“Sutit, jangan kau ganggu jiwanya, kita tangkap saja dan
bawa pulang kegunung Hoa-san, biarlah ciangbunjin yang
mengambil keputusan.”
It Tim tojin yang benci sekali terhadap Ho kie terpaksa
tidak bisa berbuat apa2, ia lantas kempit dirinya Ho kie
dibawah ketiaknya.
Tiga imam itu selagi hendak berlalu, mendadak
mendengar orang membentak dengan suara yang seperti
geledek.
“Hai kawanan kurcaci, tengah hari bolong kalian berani
melakukan perampokan, sungguh besar nyali kalian.”
Tiga imam itu terkejut, lalu hentikan tindakannya.
Ketika berpaling, mereka lihat seorang muda berbadan
kekar dah berwajah hitam, matanya melotot memandang
mereka sambil menggengam dengan senjata pecutnya Kiu
Ciat Pian.
Pemuda hitam itu adalah Gouw Ya Pa.
Dengan sangat murka Gouw Ya Pa membentak lagi
sambil menuding kawanan imam itu.:
“Manusia keparat, lekas tinggalkan orang itu.”
It Tim tojin mundur 2 tindak, sambil menghunus
pedangnya ia bertanya dengan suara dingin:
“Kau siapa?”
“Kau tidak usah perdulikan siapa tuanmi ini! Aku suruh
kau tinggalkan orang, kau harus segera menurut. Kalau kau
bermain2 banyak bicara, tunamu nanti akan menghajar kau
dulu sampai mampus!”
It Tim tojin sangat mendongkol, ia mengawasi
susioknya, agaknya hendak bertanya apakah ia boleh turun
tangan atau tidak?
Imam yang menggunakan senjata Toat-beng Coa hoat
mempunyai nama gelasr Tee Tian, Dengan Jin Hian
Totiang dan Cangbinjin dari Hoa san pay ada dewasa ini
Thian Hian totiang merupakan tiga serangkai dari golongan
tetua yang masih hidup. Ketiga orang imam itu didunia
Kang ouw disebuat sebagai Sam Hian tojin.
Diantara ketiga Hian itu, adalah Tee Hian totiang yang
meyakinkan ilmu silat dari golongan keras(Gwa kang).
Adatnya paling berangaasan. Melihat sikap Gouw Ya Pa
yang sangat kasar, maka lantas ia berkata dengan suara
dingin:
“Sutit, letakkan dulu bocah She Ho itu. Hajarlah
manusia goblok ini.”
It Tim tojin sangat girang mendengar perkataan
susioknya, segera Ho kie diletakkan diatas tanah dan lantas
lompat menghampiri Gouw Ya pa.
Gouw Ya Pa mendengar dirinya dimaki sebagai manusia
goblok, bukan main gusarnya.
“Manusia kepara! Siapa yang kau katakan goblok?”
It Tim tojin menyahuti:
“Manusia sekasar kau ini, kalau bukannya manusia
goblok habis apa?”
“Fui!! Apa tenggorokanmu itu cakap. kamu cuma
merupakan imam busik yang dimulutnya saja membaca
doa, tetapi dalam hatinya yang dipikiri selalu kaum
wanita.”
“Manusia goblok mulut kotor, lihat pedang ini. Aku
nanti cincang dirimu!”
Setelah memaki demikian, It Tim tojin dengan
pedangnya lalu menusuk kedada Gouw Ya Pa.
Pedang It Tim tojin itu tidak dipandang sama sekali oleh
Gouw Ya Pa, bahkan ia menyerang leher dan kaki It Tim
dengan sepasang pecutnya.
It Tim tojin agak kesima atas keberanian pemuda itu,
dengan cepat ia mengelakkan dirinya dan sudah berada
dikiri Gouw Ya Pa.
Gerakan badan Gouw Ya Pa memang agak kurang gesit,
bahkan kelihatannya sangat kaku.
Sebelum ia keburu memutar tubuhnya, pedang It Tim
tojin sudah membacok pinggangnya.
It Tim tojin tidak menghendaki jiwanya Gouw Ya Pa,
maka untuk serangan itu hanya menggunakan tiga bagian
kekuatan saja.
Siapa tahu, serangan pedang itu cuma membikin robek
baju Gouw Ya Pa saja, sedangkan kulitnya tidak apa2.
“Hai, Imam keparat! Rupanya kau tukang jahit
kampungan, dengan sengaja kau membikin robek bajuku!”
kata Gouw Ya Pa sambil ketawa bergelak2.
Bukan kepalang kagetnya It Tim tojin, dengan cepat ia
memburu, sambil memutar kedua pecutnya ia mengarah
batok kepala It Tim tojin.
Tee Hian dan Jin-hian, kedua imam tua yang
menyaksikan kejadian itu, wajah mereka keduanya lantas
berubah, mereka lalu berseru:
“Sutit, hati2!”
It Tim tojin menyambuti serangan pecut Gouw Ya Pa
dengan pedangnya, ketika kedua senjata beradu, ia
merasakan kesemutan dan pedangnya terlepas dari
tangannya.
Gouw Ya Pa tidak mau memberi hati lagi, kaki
kanannya digeser maju kedepan, pecut ditangan kirinya
kembali telha menyabet pinggang It Tim tojin.
Selagi It Tim tojin berada dalam bahaya, tiba2 kelihatan
sinar putih berkeredepan yang datang mengancam wajah
Gouw Ya Pa.
Meskipun mempunyai ilmu kebal, yaitu badannya tidak
mempan akan segala macam senjata tajam, tetapi untuk
panca inderanya, ancaman itu tidak boleh dibuat main2.
Oleh karena pada kedua tangannya membawa dua pecut,
maka pecutnya yang berada ditangan kanannya masih tetap
mengarah It Tim tojin, sedang pecut yang ada ditangan
kirinya dipergunakan untuk menyampok senjata yang
mengancam mukanya.
It Tim tojin berseru tertahan, gegernya dengan telak telah
terkena pecutan Gouw Ya Pa, matanya berkunang-kunang,
badannya jatuh ngusruk kedua langkah mulutnya telah
mengeluarkan darah segar.
Bersamaan dengan itu, pecut ditangan kiri Gouw Ya Pa
telah kebentrok dengan bendan yang lunak. Benda itu
adalah seutas benang yang terbuat dari pada emas muri,
diujungnya ada serupa senjata baja yang berbentuk kepala
ular, besarnya kira2 tiga dim. Lidah ular kelihatan berwarna
hitam. Benang dilain ujung berada ditangan Tee hian Tojin.
Gouw Ya Pa kibaskan tangannya, senjata berupa kepala
ular lantas melibat pecutnya Gouw Ya Pa dan telah
mengenakan lengan kirinya.
Gouw Ya Pa lompat mundur sambil berseru:
“Eiii, bisa mengigit orang.”
Karena ia mempunyai ilmu kebal yang sudah mencapai
puncak kesempurnaan, maka jarum berbisa yang berada di
ujung lidah senjata itu ketika mengenakan lengannya, ia
hanya merasakan seperti ditusuk paku saja dan hanya
meninggalkan bekas bintik putih kecil pada lengannya itu.
Gouw Ya PA memutar lagi pecutnya, sekarang ia
hendak melibat benang emasnya Tee Hian totiang.
Imam tua itu ketawa dingin, ia menarik kembali senjata
Toat Beng Coa hoannya kemudian menggeser maju
kakinya, tangannya menghajar batok kepala Gouw Ya Pa.
Meskipun badan Gouw Ya Pa tidak mempan dengan
senjata tajam, tetapi serangan Tee-hian tojin yang disertai
kekuatan tenaga dalam dan diarahkan kepada jalan darah
Thian leng hiat, dibagian batok kepala Gouw ya Pa, jika
serangan itu mengenakan dengan tepat, ilmu kebal Gouw
Ya pa akan buyar seketika dan orangnya juga tentu binasa.
Gouw Ya Pa yang merupakan seorang kasar dan bodoh,
sudah tentu ia tidak mengenal akna serangan imam tua itu.
Sedikitpun ia tidak mau mengambil perhatian atas
ancaman lawannya, sebaliknya malah maju merangsek dan
kedua senjatanya mengarah kaki Tee hian lojin, sedangkan
mulutnya lantas mengeluarkan bentakan:
“Imam keparat! rasakan pecut Toayamu!”
Tee hian Tojin ganda ketawa dingin dan mengerahkan
seluruh kekuatannya untuk menyerang batok kepala Gouw
Ya Pa….
Dalam saat yang sangat berbahaya bagi dirinya Gouw
Ya Pa, mendadak kedengaran suara bentakan halus yang
kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan putih
dan disertai oleh sambaran angin yang sangat dahsyat.
Kekuatan Lweekang Tee hian Tojin ketika saling bentur
dengan sambaran angin tadi, seketika telah terpental balik,
bersamaan dengan itu, ditengah udara lantas penuh dengan
hawa busuk.
Tee hian Tojin berubah wajahnya, buru2 ia mundur
sejauh mungkin.
Ketika ia membuka lebar- matanya, lantas melihat
seorang pemuda berdandan seperti anak sekolah sedang
berdiri didepan Gouw Ya Pa, sambil tersenyum menggoyang2kan
kipasnya.
Tee hian Tojin diam2 menyedot napasnya. ia merasakan
bahwa jalan pernapasannya telah terhalang, maka
wajahnya lantas pucat seketika, buru2 ia berkata kepada
suteenya:
“Cilaka!! Bocah ini mempunyai ilmuu Hu-sie hiat kut
cang lek. Pasti dia adalah orang Hian kui kauw.”
Belum selesai perkataannya, badannya dirasakan
sempoyongan, maka buru-buru ia mengambil obat dari
dalam sakunya dan segera di telannya.
Jin hian Tojin terperanjat, dengan cepat ia menghunus
pedangnya.
Pemuda sekolahan itu lantas berkata sambil ketawa ;
“Tidak perlu begitu tergesa gesa. Kaiau aku mau
mengambil jiwanya, dapat kulakukan dalam tempo
sekejapan saja, Seranganku tadi hanya memakai empat
bagian dari kekuatan tenagaku dan sudah cukup untuk dia
mengaso beberapa bulan lamanya.”
Gouw Ya Pa yang melihat pemuda seperti anak sekolah
itu ternyata Lim kheng adanya, wajahnya lantas berubah
marah karena malunya, kemudian ia berkata sambil
nyengir:
“Nona, kau pergi tukar baju kenapa begitu lama?”
Pemuda itu mendadak berubah wajahnya dan
membentak dengan suara keras ;
“Apa kau kata?”
“Baiklah!! Aku tidak akan berkata apa2 lagi. Aku nanti
panggil kau Kongcuya. Kau bukanlah satu nona, akulah
baru yang harus disebut nona……..”
Pemuda itu selembar wajahnya menjadi merah padam,
lalu membentak :
“Jangan kau ngaco belo! Lekas gendong dia dan ikut
aku.”
Gouw Ya Pa lalu menghampiri Ho Kie dan
menggendongnya.
Jin hian Tojin lintangkan pedangnya dan berkata sambil
tertawa dingin :
“Sicu! Orang kau boleh bawa, tetapi kau harus tinggalkan
nama supaya pinto setelah kembali kegunung bisa memberi
laporan kepada Ciang bun-jin.”
“Kalian sudah tahu nama ilmu serangan tanganku tadi,
apa kalian tidak dapat menduga siapa adanya aku ini?”
jawab anak muda seperti anak sekolah itu sambil ketawa
hambar.
“Kalau begitu, Sicu benar2 adalah murid dari Hian-kui
kauw yang disebut oleh orang2 sebagai Giok-sie-seng Jie le
Peng.” berkata Jin-hoan Tojin dengan suara berat.
“begitulah kiranya” Anak muda itu mengangguk.
Jin-hian lojin ketika mendengar jawaban itu, matanya
lantas beringas, badannya lantas gemetaran, berulang ulang
ia tertawa dingin kemudian berkata :
“Baik! Hoa-san-pay dengan Kian kui kauw tidak
mempunyai permusuhan apa2, tapi kalian telah menyerbu
Ngo-kui khio dan merampas kalajengking emas dari
perguruan kami serta sudah membunuh banyak sekali
orang2 kami, dan sekarang kembali dengan mengandalkan,
…..”
“Urusan itu tidak ada hubungannya dengan aku.”
Pemuda itu memotong ucapan Jin hian Tojin sambil
tertawa. “Kalau kalian mempunyai kepandaian, datang saja
ke Kui-kok untuk membikin perhitungan.”
“Apa kau sudah pastikan bahwa kami Hoa san pay tidak
berani menyerbu Kui-kok?”
“Aku tokh tidak bilang demikian. Setiap waktu kalian
boleh datang.”
“Kalau begitu persoalan hari ini nanti kami akan
bereskan di Kui kok sekalian.”
Sehabis berkata, Jin hian Tojin lalu membimbing Tee
hian Tojin dari It Tim Tojin yang terluka segera berlalu
dengan perasaan mendongkol.
Pemuda itu hanya melihat mereka sambil ketawa dingin,
kemudian mengawasi Gouw Ya Pa. Pemuda tolol itu
ternyata sedang mengawasinya dengan melongo dan mulut
ternganga.
Pemuda itu wajahnya merah seketika lalu membentak
dengan suara perlahan:
“Kau lihat apa? Lekas jalan..”
Gouw Ya Pa sebetulnya sedang mengagumi wajah dan
kulitnya pemuda itu yang cakap putih dan bersih laksana
salju. Hatinya merasakan tidak keruan, entah apa yang
dipikirkan. Ketika mendengar bentakan si anak muda, ia
tersadar dari lamunannya dan buru buru angkat kaki,
Ketika menyaksikan keadaan Gouw Ya Pa seperti
seorang linglung, diam2 pemuda itu ketawa geli, kemudian
bertanya kepadanya:
“Kau hendak kemana?”
“Tadi, bukankah kau yang suruh aku jalan.”
Sambil berkata demikian. Gouw Ya Pa melongo dan
buru2 menghentikan tindakannya.
“Aku suruh kau berjalan kemari, siapa suruh kau
mengikuti kawanan imam tadi.”
Gouw Ya Pa seperti baru tersadar dari mimpinya, sambil
memondong Ho Kie ia mengikuti pemuda seperti anak
sekolah itu, menuju kearah rimba lebat.
Pemuda itu menyuruh Gouw Ya Pa meletakkan Ho Kie,
kemudian ia mengangkat mukanya Ko Kie dan
diperiksanya dengan teliti, kemudian ia berkata pada diri
sendiri : “Tidak nyana imam tua keparat itu juga satu akhli
racun. Masih untung ia ketemu dengan aku, Kalau tidak
sungguh sukar di obati.”
Gouw Ya Pa tidak mengerti apa yang dikatakan
sipemuda, lalu bertanya :
“Kecuali kau siapa lagi yang harus mengobati?”
Pemuda itu tidak msmpedulikan padanya lagi. dari
dalam sakunya lalu mengeluarkan dua buah botol berisi
obat. Ia melongok mengawasi keadaan disekitarnya
sejenak, tiba2 berkata kepada Gouw Ya Pa dengan suara
dingin;
“Pergilah cari sedikit air!!”
Siapa njana dua kali ia menyuruh, Gouw Ya Pa masih
tetap tidak bergerak.
Pemuda itu merasa jengkel, maka lantas membentak;
“Hai tolol! Aku suruh kau pergi cari air. Dengar tidak!”
“Cari air sih gampang, mengapa kau bilang aku tolol ?”
“Kau tidak tolol!! Lekas pergi cari air. Kalau kau tidak
mau, jangan sesalkan aku nanti berlaku tidak sungkan2 lagi
padamu.”
Gouw Ya Pa dalam hati sangat mendongkol, Ia
menggerutu sendiri. “Aku siorang she Gouw apapun tidak
takut, sayang aku hanya takuti seorang perempuan yang
bercampur dengan orang laki”……..
Anak muda itu mempunyai pendengaran yang sangat
tajam. ia telah mendengar semua apa yang diucapkan oleh
Gouw Ya Pa tadi, maka ia segera membentak :
“Diam! Siapa yang kau katakan orang perempuan.”
Gouw Ya Pa juga sudah mulai gusar, maka lantas
menjawab dengan kasar.
“Kecuali kau siapa lagi? Ehh, aku beritahukan padamu,
aku bukannya takut kepadamu, cuma aku merasa menyesal
telah merobek bajumu dan kedua karena aku memandang
muka Ho Toako. Kau jangan berlagak main perintah
kepada Gouw Toayamu seperti terhadap seorang budak,
barangkali pecut ini akan mampir dibadanmu untuk
membikin patah……….”
Sebetulnya ia ingin mengucapkan membikin patah
tulangmu yang rendah, Tapi untungnya mendadak ia bisa
berpikir dan bisa kendalikan amarahnya, Baru saja sampai
ditenggorokkannya, perkataan itu sudah dapat ditelan
kembali.
Matanya sipemuda kelihatan berputaran, ia tidak gusar,
sebaliknya malah ketawa. “Aaaaa Kau pasti salah lihat
orang,”
Dalam hati Gouw Ya Pa berpikir. Salah? sekalipun kau
dibakar sampai hangus juga masih tetap dapat kukenali.
Meskipun dalam hatinya ia berpikir demikian, tetapi
dimulutnya berkata :
“Taruh kata aku salah lihat orang, apa kau sendiri juga
bisa salah lihat orang? Kalau kau tidak kenal, apa perlunya
mencari Ho Toako.,……”
Pemuda seperti anak sekolah itu tidak mau memberikan
penjelasan, ia hanya berkata sambil ulapkan tangannya ;
“Jangan banyak mulut, lekas pergi cari air. Kita perlu
menolong orang ”
Gouw Ya Pa pergi mencari air, setelah mendapatkan
yang dicari, lekas2 ia balik kembali.
Tetapi baru saja ia sampai dipinggjr rimba, ia lantas
berdiri kesima.
Kiranya ia telah dapat melihat pemuda seperti anak
sekolah itu sedang mengangkat wajah Ho Kie sambil
dekatkan mulutnya kepada mulut pemuda itu……
Meskipun betul Gouw Ya Pa itu seorang yang tolol,
tetapi juga mengerti tentang urusan percintaan, maka dalam
hati lantas berkata sendiri. Bagus, Apa kau masih hendak
mungkir ? Sekarang aku lihat dengan mata kepala sendiri.
Ia lantas membuang airnya, dengan tindakan indap2 ia
berjalan menghampiri mereka.
Pemuda anak sekolah iiu rupanya sedang terbenam
dalam pikirannya sendiri. Sambil memeluk Ho Kie, ia
menciumi ber-ulang2. Meskipun ia adalah seorang
berkepandaian tinggi, tetapi saat itu ia tidak merasa ketika
Gouw Ya Pa sudah berada didekatnya.
Gouw Ya Pa menyaksikan kelakuan pemuda itu dengan
hati berdebaran tidak keruan.
Sebentar kemudian, ia mendengar pemuda seperti anak
sekolah itu berkata seorang diri. “Ah! Akhirnya aku dapat
kesempatan yang baik juga. Kemesraan dalam waktu
sesingkat ini, sekalipun aku mati juga sudah merasa puas.”
Gouw Ya Pa terperanjat!! dalam hati dia berpikir “Eh!!
Orang tidak apa apa mengapa pikirkan mati?”
Pemuda itu dengan mata guram mengawasi Ho Kie,
kembali berkata seorang diri ; “Dalam dunia, banyak orang
laki laki mengapa aku cuma cintai dirimu seorang. Aiii,
cinta semacam ini sesungguhnya amat menyulitkan diriku,
tetapi aku rela menerima, aku tidak menyesal.”
Mendadak wajahnya kelihatan seperti orang gusar, lalu
mendorong Ho Kie yang tidak tahu apa apa, mulutnya
berkata sendiri lagi : “Hmm, kau masih anggap aku sebagai
musuh saja, Sudah tentu kau ada dia yang mengawani.
Bagaimana bisa ingat diriku, siperempuan yang bernasib
malang ini?”
Gouw Ya Pa diam diam merasa geli sendiri karena
pemuda seperti anak sekolah itu sudah mengaku sendiri
sebagai seorang wanita.
Pemuda itu berkata pula dengan suara gemas. “Aku
benar2 ingin membunuh kau, supaya kau benar2 tidak bisa
bersama sama dengan dia ……”
Gouw Ya Pa terperanjat, ia mengertak gigi. Dalam
hatinya menyumpahi. “Sungguh kejam hati kaum wanita.
Kalau kau benar2 membunuh dia. aku Gouw Toaya akan
adu jiwa denganmu.
Sebentar kemudian, pemuda seperti anak sekolah itu
kembali memeluk diri Ho Kie dan berkata pula dengan
suara terharu. “Aaaa bagaimana aku bisa berlaku kejam
terhadapmu?? Sejak malam itu kita bertemu didalam rimba
Cit jie kang, aku sudah merasa bahwa aku jatuh cinta
padamu, tetapi kau sedikit pun tidak ambil tahu.”
Pada saat itu, ketika orang itu berlainan keadaannya. Ho
Kie berada dalam keadann pingsan, sudah tentu tidak
mengetahui apa yang telah terjadi, sedangkan pemuda
saperti anak sekolah tu sudah seperti orang mabuk,
mulutnya mengoceh sendiri ia telah tenggelam dalam
arusnya gelombang asmara. Hanya Gouw Ya Pa yang
keadaannya sangat tidak enak. Ia yang menyaksikan adegan
demikian, sebentar merasa girang sendiri, sebentar merasa
kuatir dan sebentar lagi merasa gusar.
Ia sudah lupa kalau ia disuruh ambil air, dan pemuda
seperti anak sekolah itu agaknya juga sudah lupa pada air
yang dimintanya itu……
Mendadak pemuda itu tersadar, ia ingat akan airnya,
maka lalu mendorong tubuh Ho Kie dari berkata seorang
diri pula. “He!!!Mana airnya ?”
Gouw Ya Pa juga terperanjat, ia mengeluh “Celaka,
airnya tadi sudah kubuang.”
Dengan cepat ia lari kepinggir kali untuk mengambil air,
ia balik lagi kepada pemuda seperti anak sekolah tadi.
Setelah menyambuti air, mendadak wajah pemuda itu
berubah merah dan bertanya dengan suara perlahan:
“Mengapa kau pergi bwgitu lama?”
“Perjalanan sangat jauh. Aku harus lari dua kali, baru
kembali.” jawab Gouw Ya Pa membohong.
Pemuda itu lalu mengeluarkan tiga butir obat berbentuk
pil yang segera dimasukan ke dalam mulut Ho Kie. Ia lalu
berbangkit dan memberi pesanan kepada Gouw Ya Pa :
“Kira2 setengah jam nanti, ia pasti akan berak2. Kau
harus siap ssdia, setelah racunnya keluar semua, suruh ia
beristirahat dulu, jangan melanjutkan perjalananya.”
“Kalau begitu, kau sendiri?” tanya Gouw Ya Pa dengan
heran.
“Aku hendak pergi!”
“Dengan susah payah baru bisa ketemu lagi! biar
bagaimana kau tidak bisa tinggalkan dia.”
“Kau hendak menahan aku? Kalau nanti dia sudah
siuman, pasti akan sesalkan kau.”
“Aku tidak perduli, Biar bagaimana kau jangan pergi
lagi.”
“Tidak! Lebih baik aku pergi”
Gouw Ya Pa lantas gusar. sambil lintangkan pecutnya ia
berkata :
“Kalau kau memaksa mau pergi juga, terpaksa aku mau
menahan dengan kekerasan.”
“Apa kau mampu?” tanya pemuda itu sambil ketawa geli.
“Tidak mampu juga harus kutahan sebisanya-.”
“Kalau begitu, kau boleh coba saja ”
Setelah menyelesaikan perkataannya pemuda itu lantas
melesat beberapa kaki jauhnya.
Kembali Gouw Ya Pa melintangkan pecutnya seraya
berkata :
“Aku tidak ingin turun tangan terhadap kau, Kau……”
Siapa nyana, belum selesai ucapannya Gouw Ya Pa,
pemuda seperti anak sekolah itu sudah menggerakan
badannya dan mlayang melalui samping dirinya.
Gouw Ya Pa sangat gelisah, ia lantas mengejar sambil
menggenggam pecutnya.
Tetapi baru saja ia berjalan beberapa tindak mendadak
didengarnya suara Ho Kie muntah2 mengeluarkan air
kuning dari dalam mulutnya.
Gouw Ya Pa lantas berpaling, tetapi pemuda seperti
anak sekolah tadi sudah lantas menghilang. Gouw Ya Pa
lalu memaki-maki dalam hati. “Benar2 satu perempuan
yang tidak tahu diri. Dibelakang orang berlaku begitu
mesra, tetapi didepan orang berlagak alim.”
Ia menghela napas, terpaksa ia kembali, karena hendak
menolong Ho Kie yang muntah2 dan berak2.
Setelah keluar semua racun dan tubuhnya per-lahan2 Ho
Kie membuka matanya. Menyaksikan keadaan sendiri, ia
merasa agak heran, lantas bertanya kepada Gouw Ya Pa :
“Hei! Di mana itu semua kawanan imam ?”
Gouw Ya Pa yang rupanya sedang mendongkol, lalu
menjawab dengan suara dingin :
“Imam? Imam tokh adanya didalam kuil!! Buat apa
kemari, apa mau minta makan ?”
Ho Kie melongo. Ia seperti ingat tatkala dirinya kena
racun, maka lantas berduduk dan berkata pula :
“Kiranya saudara Gouw yang menolong aku…….”
“Sudah!! Sudah! Aku sendiri hampir cilaka. Siapa sih
yang mempunyai kepandaian menolong dirimu?”
“Aku masih ingat betul, bahwa aku ini telah dilukai oleh
senjata rahasianya imam itu. Siapa sebetulnya yang telah
menolong aku?”
“Siapa lagi kalau bukannya nyonyamu itu.”
Ho Kie terperanjat, “Kau maksudkan Lim Kheng ?”
“Sudah tentu dia, kecuali dia, siapa lagi yang masih
mempunyai kepandaian begitu yang tinggi? Dia telah
melukai dua orang imam dari Hoa san pay dan satunya lagi
lari terbirit birit,”
Bukan main kagetnya Ho Kie, ia lantas lompat bangun
tetapi segera dicegah oleh Gouw Ya Pa.
“Jangan bergerak! Nyonyamu tadi sudah memesan
supaya kau banyak mengaso dulu, jangan sembarangan
bergerak.” demikian kata sitolol,
“Dia, dia… dia sekarang ada di mana ?”
“Kau tanya aku, dan aku harus bertanya kepada siapa?”
“Gouw Toako, tadi bukankah kau yang mengatakan….
Adakah dia yang datang menolong aku??…”
“Siapa kata bukan.”
“Kalau begitu, sekarang kemana orangnya?”
“Orangnya sudah pergi,”
“Mengapa kau biarkan dia pergi?” Ho kie mulai cemas
lagi,
“Apa kau sesalkan aku? Siapa tahu hubungan apa yang
ada diantara kau berdua. Satu hendak pergi, satunya lagi
mengejar. Bukankah baik kalau tinggal bersama2. didepan
orang pura2 malu, tetapi dibelakang orang berlagak begitu
mesra. Mengapa sekarang kau sesalkan aku? Tadi kalau
bukan karena melihat kau banyak muntah dan berak ,
siang2 aku sudah menghajar nyonyamu itu dengan pecutku
itu!!” jawab Gouw Ya Pa yang sudah mendongkol, maka
ucapannya juga kasar.
Karena sudah tahu kalau Gouw Ya Pa ini seorang yang
tolol, maka Ho Kie tidak mau banyak ribut dengan dia, ia
hanya merasa sedikit cemas, mengapa Lim Kheng yang
sudah kembali lagi, entah apa sebabnya pergi lagi. Karena
hatinya sangat gelisah maka ia hendak lompat bangun lagi,
Gouw Ya Pa lalu berkata dengan suara keras :
“Aku suruh kau rebah, kau dengar atau tidak?”
“Lekas kita kejar padanya! Biar bagaimana aku harus
dapat mengejar dia.”
“Orang perempuan begituan, apa perlunya di-kejar?,
Sudahlah!! Kau jangan pikirkan saja dia. Kalau kau malan
tidak bisa tidur karena tidak ada kawan perempuan, aku
nanti carikan yang lebih cantik”
Ho Kie tidak mau ambil pusing akan perkataannya. ia
balikkan badan hendak lompat bangun. Tetapi baru saja ia
berdiri, kepalanya dirasakan puyeng, matanya ber-kunang2
hampir saja jatuh lagi.
Gouw Ya Pa mulai jengkel, ia lantas menghantam perut
Ho Kie. Karena badan Ho Kie masih lemas maka seketika
lantas jatuh lagi.
“Kau sungguh bandel!! Orang suruh kau rebah, mau
keluyuran saja. Sekarang rebahlah dulu baik2. Aku nanti
carikan air untukmu-”
demikian kata Gouw Ya Pa yang lalu meninggalkan Ho
Kie seorang diri.
Kasihan keadaannya Ho Kie yang badannya sudah
lemas, kembali harus kena hajaran si tolol, maka ia hanya
dapat rebah telentang, dengan hati yang sangat gelisah. Ia
tidak habis mengerti memikirkan dirinya Lim Kheng, sebab
dalam hubungan mereka, ia belum pernah berlaku salah
terhadap Lim Kheng, tetapi mengapa karena bajunya
terobek oleh Gouw Ya Pa sehingga terbuka rahasianya,
lantas kabur tidak mau balik lagi padanya.
Ia juga merasa heran, kalau seandainya benar Lim
Kheng meninggalkan padanya, mengapa ia menolong
dirinya dari kekuasaan orang2 Hoa san pay .
Tetapi setelah berhasil menolong dirinya mengapa harus
berlalu lagi?
Pikir punya pikir, ia tidak dapat menduga duga hati Lim
Kheng,
Gouw Ya Pa yang sedang mencari air, setelah ia sendiri
sudah minum sepuas puasnya. dengan hati2 sekali ia
menyenduk air sedikit untuk diberikan kepada Ho kie.
Selagi dalam perjalanan kembali melalui rimba itu,
mendadak didengarnya suara seram, didepan matanya
seperti ada berkelebat bayangan orang.
Gouw Ya Pa hentikan tindakan kakinya, coba pasang
mata dan telinganya, tetapi disitu ternyata sunyi sepi tidak
kelihatan bayangan seorang manusiapun juga.
“Kurang ajar!! Apa dalam rimba ada setannya?”
demikian sitolol itu menggerutu seorang diri, lalu
melanjutkan perjalanannya.
Mendadak suara tadi itu terdengar pula dan kali ini dapat
dilihatnya dengan tegas satu bayangan orang yang sedang
melesat lari disampingnya, kira2 setumbak lebih dan
melayang turun kedalam gerombolan rumput alang alang.
Gouw Ya Pa lantas menegur, ia lalu mengejar kedalam
gerombolan rumput itu.
Rumput alang2 luas. Ketika Gouw Ya Pa tiba disini, ia
melihat bayangan orang tadi sedang mendekam didalam
gerombolan rumput dengan tidak bergerak.
Dengan tidak banyak pikir ia lantas menyerang
punggung orang itu sambil memaki maki ;
“Kurang ajar kau masih mau berlagak?”
Katika serangan itu mengenakan sasarannya, orang itu
kelihatan terpental, tetapi tidak menunjukkan reaksi apaapa.
Gouw Ya Pa heran, ketika ia pergi memeriksa, hampir
saja ia lompat mundur kiranya orang itu adalah It Tim
Tojin dari hoa san pay, yang entah sudah dibinasakan oleh
siapa dan meringkuk disitu sebagai mayat.
Ia merasa sangat heran, karena ia sudah tahu sendiri
bahwa imam itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi,
entah siapa orangnya yang kepandaiannya melebihi dari si
imam dan membinasakan padanya demikian rupa?
Ia melihat keadaan disekitarnya, dari rimba yang
jauhnya kira2 beberapa tumbak, Ia dengar suara orang
ketawa perlahan.
Gouw Ya Pa buru2 memutar tubuhnya dan membentak
dengan suara keras;
“Manusia keparat dari mana yang main gila didepan
Toayamu?”
Ketika mendengar bentakan Gouw Ya Pa, suara ketawa
itu lantas berhenti, sebagai gantinya sebuah benda
melayang menyambar batok kepala Gouw Ya Pa,
Dengan cepat Gouw Ya Pa tundukkan kepalanya
tangannya lantas menyambar benda tersebut. dan ternyata
itu cuma selembar daun saja.
Bukan kepalang kagetnya Gouw Ya Pa, ia menduga
orang itu pasti adalah pembunuh si imam, karena dengan
kepandaiannya yang sudah mampu menyambit dengan
daun enteng seperti batu yang berat, sudah tentu
kepandaiannya pun lebih tinggi dari pada imam itu.
“Manusia dari mana yang main sembunyi2an!! Keluar
Gouw Ya Pa-mu ingin menguji kepandaianmu”
Tapi tantangannya itu cuma dijawab dengan suara
ketawa dingin, tidak kelihatan ada orang muncul.
Mendadak ia ingat diri Ho Kie, karena lukanya masih
belum sembuh, jika dapat dilihat oleh orang itu, bukankah
runyam? Maka dengan cepat ia lantas larit keluar rimba!
Baru saja bergerak, dibelakangnya tiba2 mendengar
suara orang ketawa geli, kemudian disusul oleh
perkataannya:
“Eh, tolol, apa kau hendak mencari kawanmu itu?”
Suara itu ternyata adalah suara seorang perempuan, yang
sangat merdu kedengarannya, maka Gouw Ya Pa lantas
berhenti dengan mendadak,
Benar saja tidak lama lantas muncul seorang wanita yang
berjalan dengan perlahan dari dalam rimba.
Wanita itu memakai pakaian warna merah, rambutnya
terurai kepunggungnya diikat dengan seutas tali sutera.
Mukanya tertutup oleh kain sutera tebal, Hingga orang
tidak bisa lihat tegas paras mukanya, Hanya dari gerakan
dan tindak tanduknya, bisa diduga bahwa wanita itu masih
muda usianya.
Ketika ia muncul dari dalam rimba, gerakan badannya
yang sangat menggairahkan membuat Gouw Ya Pa kesima.
“Tolol, apa namamu?” tanya wanita itu sambil ketawa.
Kalau pertanyaan itu keluar dari mulut orang lain, Gouw
Ya Pa pasti berjingkrak tidak mau mengerti, tapi karena
keluar dari mulutnya seorang wanita muda dan
kedengarannya begitu merdu, Gouw Ya Pa hatinya lemas
berdebaran. setelah keluarkan ketawanya ia menjawab agak
gelagapan ;
“Aku..,.,…..aku she Gouw!”
“Dan namamu?”
“Namaku Ya Pa!”
“Benar? Koko lucu!!! Ada juga baik, tidak adapun sudah,
bukan begitu artinya?”
Gouw Ya Pa mengangguk. Mendadak ia ingat sesuatu,
maka lantas berkata ;
“Apakah imam itu kau yang membunuhnya?”
“Tidak salah!!” jawab si wanita sambil anggukkan kepala
dan kemudian keluar dan rimba dengan tindakan perlahan,
Gouw Ya Pa terperanjat, karena seorang wanita yang
begitu lemah gemulai dan cantik pula kira2nya, mengapa
hatinya begitu ganas dan kejam?
“Tahukah kau, bahwa imam ini adalah orang dari Hoa
san-pay…?” tanya Gouw Ya Pa sambil memburu,
“Aku tahu dia adalah It Tim Tojin dari Hoa san pay,
kenapa kalau dia Hoa-san-pay? Apa kau kira aku takut pada
mereka? Kepandaian orang2 dari partay persilatan terbesar
tokh cuma sepele saja. Tolol, tahukah kau siapa aku ini?”
“Ini …… aku tidak tahu.” jawabnya gugup.
“Kalau aku sebutkan, kau pasti lompat kaget.”
“Ah, yang benar?? coba sebutkan siapa kau?”
“Aku she Siu…..”
Wanita baju merah itu cuma mengatakan she Siu saja
lantas tutup mulutnya, sepasang matanya memandang
dingin kepada Gouw Ya Pa.
“Aku lihat kepandaian ilmu silatnya mirip dengan kaucu
dari Hian kui kauw, kalau sahabatmu she Ho itu
berkepandaian serupa dengan dia, apakah kalian orang2
dari Hian kui kauw?”
Ya Pa, kemudian bertanya dengan suara ketus:
“Gouw Ya Pa, pemuda disana itu apamu?”
“Dia she Ho bernama Kie, sahabat karib ku!”
“Dan siapakah itu pemuda baju putih yang berdandan
seperti anak sekolah?”
Gouw Ya Pa kira yang ditanyakan itu adalah Lim
Kheng, maka lantas menjawab dengan hati mendongkol:
“Nona Siu, kau tak usah sebut2 dia, pemuda itu bukan
seorang laki2, tetapi seorang wanita muda yang menyaru,
namun ada seorang wanita yang tidak tahu malu…..”
Mendadak ingat bahwa nona baju merah ini juga adalah
seorang wanita, kerena kuatir menyinggung perasaannya,
tiba2 ia tutup mulutnya.
Tapi nona baju merah itu tidak gusar, sebaiknya malah
ketawa sambil anggukkan kepalanya.
“Aku bukan orang2nya Hian kui kauw, engko Ho Kie
juga bukan. Wanita itu dari golongan mana, aku juga tidak
tahu. Dia mungkin adalah orang dari Hiau kui kauw!”
Wanita baju merah itu berdiam sekian lamanya, baru
berkata pula sambil ketawa:
“Kalau begitu, aku beritahukan padamu juga tidak
halangan. Aku she Siu, yaya-ku Thian sat Sin kua, Siu It Cu
yang namanya menggetarkan dunia pada 50 tahun
berselang. Cian tok Jin mo (manusia iblis berbisa ) Jie Hui,
kaucu dari Hian kui kauw yang sekarang, adalah murid
yaya yang telah murtad pada waktu itu. Apa kau pernah
dengar?”
Gouw Ya Pa terperanjat. Meski ia belum pernah dengar
nama Thian sat Sin kun, tapi tentang Thian tok Jin mo yang
mendirikan perkumpulan Hian kui kauw hendak menjagoi
dunia persilatan, hampir semua orang sudah tahu, Kalau
keterangan wanita ini benar kepandaiannya wanita ini
tentunya ada hebat.
Tapi ia aganya tidak mau percaya keterangan wanita itu.
Wanita she Siu rupanya dapat menebak jalan pikiran si
tolol, ia diam sejenak, lalu bertanya ,
“Apa kau tidak percaya?”
“Aku pernah dengar orang cerita, kaucu Hian kui kauw
Cian tok Jin mo, kepandaiannya didapatkan dari kitab
pelajaran ilmu silat, tidak ada seorang yang mengatakan dia
punya guru.”
“Itu semua bohong, Jin Hui sebelum mendapatkan Hiankui
pit-kip, sebagai murid yayaku, memang sudah
mempunyai kepandaian luar biasa. Kemudian yaya
dapatkan kitab Hian-kui-pit-kip jilid II. Jie Hiu timbul
pikiran jahatnya, ia diam2 telah mencelakakan diri yaya,
kemudian mencuri kitab Hian kui-pit-kip dan mendirikan
perkumpulan Hian kui kauw..,……..,.” ketika bicara sampai
disini, wanita itu nampaknya gemas, setelah mengertek gigi,
lalu berkata pula:
“Kepandaian yaya yang luar biasa hebatnya sudah akan
selesai, ada satu hari nanti akan bikin Cian tek Jin mo Jie
Hui tidak dapat lolos dari pembalasannya……….”
Dengan gusar ia lantas meninggalkan rimba itu untuk
menghampiri Ho Kie rebah, sambil diikuti oleh Gouw Ya
Pa.
Ho Kie saat itu masih tidur nyenyak, terang racunnya
sudah habis dikuras keluar.
Wanita baju merah itu berhenti disisinya, ia mengawasi
Ho Kie sejenak, tiba2 menghela napas, lalu berkata kepada
Gouw Ya Pa :
“Gouw Ya Pa kau gendong dia!!”
“Apa perlunya menggendong dia?” tanya Gouw Ya Pa
heran,
“Kau tak usah tanya, aku suruh kau gendong, gendong
saja!”
“Dia sudah bisa berjalan sendiri, suruh dia bangun!” ia
lalu goyangkan tubuh Ho Kie
“Hai..Hai… bangun!! mengapa tidur seperti orang mati?”
Tidak nyana Ho Kie cuma balikkan badannya sebentar
lantas tidur lagi. Menyaksikan keadaan demikian, Gouw Ya
Pa merasa sangat heran.
-oo0dw0oo-
GOUW YA PA sudah tahu benar bahwa racun dalam
diri Ho Kie sudah keluar semua, tapi mengapa sekarang
kembali berada dalam keadaan seperti pingsan ?
Ia tidak mau mengerti berulang ulang ia goyang2kan
badannya sembari memanggil-manggil.
“Hai, engko Ho, bangun !”
Wanita baju merah itu lalu berkata dengan suara dingin :
“Tidak perlu dibangunkan, dia sudah kutotok jalan
darahnya, kalau aku tidak buka mana bisa mendusin?”
Gouw Ya Pa yang mendengar keterangan itu, lantas
lompat bangun. Meski ia agak jeri terhadap wanita baju
merah itu, tapi karena dengan Ho Kie, ia sudah mengikat
tali persahabatan yang akrab, bagaimana ia mau mengerti
sahabatnya diperlakukan begitu rupa?
Dengan nekad ia menyerang kepada wanita baju merah
itu.
“Kau mencari mampus!” bentuk wanita baju merah itu.
Lalu gerakkan pundaknya, dengan secara gesit sekali sudah
bisa mengelakan serangan si tolol. Kemudian kebutkan
lengan bajunya. menggulung pergelangan tangan Gouw Ya
Pa.
Lengan baju itu meski tidak cukup satu kaki panjangnya,
tapi ketika diputar, ternyata dapat mengeluarkan angin yang
amat dahsyat. Gouw Ya Pa ketika agak lalai, pergelangan
tangan kirinya sudah kena digulung.
Gouw Ya Pa terperanjat, ia menarik sekuat tenaga, tapi
ia merasakan bahwa lengan baju wanita itu seolah olah ular
berbisa yang melibat tangannya, jalan darahnya segera
dapat dikuasai, sebingga tidak bisa mengeluarkan tenaga.
Mendadak ia menggeram, tangan kanannya kembali
menyerang dengan hebat.
Wanita baju merah itu ketawa, dengan lengan baju
tangan kirinya kembali ia melibat tangan kanan Gouw Ya
Pa.
Gouw Ya Pa seorang yang kasar dan sangat handal,
karena mempunyai ilmu kebal, ia bisa bertempur secara
membabi buta tanpa takuti senjata musuhnya. Kala itu
meski kedua tangannya sudah terlibat, tapi ia masih
melawan terus dengan kedua kakinya menendang perut
lawannya.
Wanita baju merah itu nampaknya sudah sangat
mendongkol, mendadak ia tarik kembali lengan kirinya,
sedang tangan kanannya ia kebutkan. Dengan demikian,
maka tubuhnya Gouw Ya Pa yang besar lantas terlempar
sejauh tiga tumbak dan jatuh menggeletak ditanah.
“Gouw Ya Pa, kau menyerah apa tidak?” tanya wanita
itu dingin.
Tapi Gouw Ya Pa pantang menyerah kepada musuh,
kembali ia merangkak bangun, kemudian nyeruduk seperti
banteng.
Wanita baju merah itu sangat gusar, dengan cepat
egoskan dirinya, sehingga Gouw Ya Pa kenjukejuk sampai
kira2 1 tindak baru bisa tancap kakinya.
Wanita itu lalu kebutkan lengan bajunya dengan telak
mengenakan pantatnya.
Serangannya itu ada hebat, bagi lain orang barangkali
sudah tidak ampun lagi, pasti disaat itu juga melayang
jiwanya. tapi bagi Gouw Ya Pa yang mempunyai ilmu
kebal, cuma sempoyongan dan akhirnya jatuh ngusruk
ditanah.
Tapi ia tidak mau sudah, kembali merangkak bangun
nyeruduk lagi!
Untuk sementara wanita baju merah itu tidak bisa
berbuat apa-apa terhadap dirinya, sekalipun jungkir balik
ber-ulang , si tolol itu tetap membandel tidak mau
menyerah.
Wanita itu tiba2 mendapatkan suatu akal, setelah
memancing lagi supaya Gouw Ya Pa menyeruduk, ia lalu
menyambar tubuhnya dan melibat lehernya, setelah itu
dengan kencang ia mencekik leher Gouw Ya Pa seraya
berkata:
“Kau menyerah mau tidak? Kalau kau tidak mau
menyerah, aku nanti jerat mampus padamu!!”
-oo0dw0oo-
Jilid 6
GOUW YA PA tetap berkepala batu, meskipun lehernya
sudah kena jerat, tetapi kaki dan tangannya masih bisa
digunakan untuk melawan, tetapi lama kelamaan ia
merasakan seperti sudah sukar bernapas tenaganya sudah
mulai berkurang, lehernya dirasakan terjerat semakin erat,
sehingga keringat dingin mengalir membasahi tubuhnya.
Wanita baju merah itu kembali membentak: “Menyerah
atau tidak !”
Dalam keadaan demikian itu, sudah tidak ada jalan lain
bagi Gouw Ya Pa kecuali menyerah. Karena ia sudah tidak
bisa mengeluarkan suara ,maka ia hanya menganggukan
kepalanya.
Wanita baju merah itu lalu melepaskan tangannya dan
mundur beberapa langkah. berkata kepada Gauw Ya Pa :
“Gendong dia !”
Kasihan keadaannya Gouw Ya Pa, seorang yang
pantang menyerah kepada musuhnya kini terpaksa harus
menyerah terhadap seorang wanita, bahwa hampir saja
jiwanya melayang. Kalau memikir itu, hatinya merasa malu
dan mendongkol. dengan terpaksa ia menurut semua
perintah wanita itu, ia menggendong diri Ho Kie.
Wanita itu kemudian mengajak Gouw Ya Pa masuk lagi
kedalam rimba.
Rimba yang letaknya dikaki bukit ternyata sangat luas,
sehingga keadaannya dalam rimba itu sangat gelap. Wanita
itu yang berjalan lebih dulu, setelah melalui jalanan
berliku2, kira2 setengah jam lamanya, tibalah mereka
didepan mulut sebuah goa.
Mulut goa itu terpisah lima tumbak tingginya dari
permukaan tanah. Lamping gunung kelihatan licin seperti
cermin, sukar untuk didaki oleh manusia, tetapi sekali
dengan enak saja dapat melalui rintangan itu.
“Aku tidak bisa naik.” kata Gouw Ya Pa sambil kerutkan
alisnya.
“Kau letakan dia ditanah, kemudian naik dulu sendiri.”
kata wanita itu sambil tonjolkan separuh badannya.
“Begini tinggi aku tidak bisa naik.”
Wanita itu mengomel sendiri, lantas melayang turun
kebawah lagi, dengan tangannya ia menjambret lengan baju
Gouw Ya Pa dan lantas melesat lagi keatas.
Sebentar kemudian Gouw Ya Pa sudah di bawa kedepan
mulut goa.
Gouw Ya Pa terheran, Wanita yang mempunyai bentuk
badan yang begitu langsing bagaimana bisa dengan secara
enak saja menenteng badannya dua orang sambil melesat
begitu tinggi, betul-betul merupakan suatu Kepandaian
yang sangat luar biasa.
Dengan seksama Gouw Ya Pa melihat keadaan dalam
goa itu, dinding goanya ternyata sangat licin seperti kaca
saja. Dalam goa itu tidak terdapat penerangan api, tetapi
penerangan dari luar goa dapat masuk kedalamnya melalui
dindingnya yang seperti kaca muka itu.
Wanita itu berjalan didepan sebagai penuntun. Tidak
lama kemudian tibalah mereka kedalam sebuah kamar batu
yang sangat luas.
“Letakkan dia disana!” Dengan sikap dan suara dingin
wanita itu memerintah Gouw Ya Pa sambil menuding
dengan jarinya ke suatu tempat.
Gouw Ya Pa hanya bisa, menurut saja, wanita baju
merah itu lantas masuk kesebuah pintu kecil. Ia tidak
mengucapkan perkataan apa apa. seolah olah tidak
kuatirkan dirinya Gouw Ya Pa. juga tidak takut kalau
Gouw Ya Pa bisa kabur.
Gouw Ya Pa yang sudah mempunyai tekad membela diri
Ho Kie, duduk disampingnya,
Setelah menanti begitu lama, ternyata Gouw Ya Pa tidak
melihat bayangan wanita baju merah itu lagi.
Ho Kie berbaring merasakan matanya sepat, maka lantas
tidur lagi,
Dalam keadaan demikian ia hanya mengharapkan
kedatangan seorang penolong. Kembali waktu telah berlalu
dengan cepat. Hampir kira-kira satu jam lamanya, goa itu
keadaannya masih tetap sunyi, seolah olah kuburan yang
tidak ada orangnya.
Gouw Ya Pa bangkit, mulutnya memaki-maki tidak
berhentinya.
“Kurang ajar! Apa artinya ini semua? Tawanan bukan
tawanan, tamu tidak diperlakukan seperti tamu !”
Ia berjalan mundar mandir dimulut goa, mulutnya terusterusan
mengomel saja,. tetapi perutnya dirasakan suduh
lapar sekali.
Dengan perasaan mendongkol ia menghampiri Ho Kie,
lalu berkata sambil menendang dengan kakinya.
“Hai? Kau juga harus bangun untuk mencari daya upaya,
kau tidak boleh tidur terus terusan begitu rupa!”
Siapa nyana, tendangan itu justru membikin sadarnya
Ho kie dengan tiba-tiba sambil kucek-kucek matanya Ho
Kie lantas bertanya dengan heran :
“Hai Gouw Toako, ini tampat apa?”
“Sssst……..”
Dengan tiba2 Gouw Ya Pa menjadi punya pikiran sehat,
ia memberi isyarat kepada Ho Kie supaya tidak bersuara,
kemudian ia memeriksa keadaan dalam goa lalu berbisik
ditelinga Ho Kie :
“..Ssssttt! jangan ribut ya!! Kita berdua sudah kena
tertawan.”
Ho Kie terperanjat lantas lompat bangun,
“Apa benar? Siapa yang menawan kita?” tanyanya.
“Aku juga tidak tahu siapa dia. Dia adalah seorang
wanita cantik. Menurut keterangannya, engkongnya adalah
suhunya Kauwcu dari Hiau-kui-kauw……….”
Bukan main kagetnya Ho Kie, lantas ia mengeluh;
“Mengapa bisa terjatuh kedalam-tangan orang Hian kui
kauw. Ia coba bersemedi, ternyata tidak mendapat
rintangan apa2, sedangkan racun yang berada ditubuhnya
juga sudah tidak ada lagi. Ia merasa lega dan mencoba
melihat lihat keadaan sekitarnya. ternyata keadaannya
dalam goa itu amat terang.
“Gouw Toako, apa kita tidak bisa kabur?” ia bertanya,
“Benar, mengapa kita tidak kabur saja?”
“Benar- aku sangat goblok…….” tapi kemudian ia
menghela napas ;
“Ah! Kita tidak bisa kabur. Mulut goa ini berada
dilamping gunung kira2 lima tumbak tingginya, barangkali
aku tidak bisa melompat turun………..”
Ho Kie lalu menarik tangannya Gouw Ya Pa :
“Gouw toako, mari kita pergi lihat!”
Sapa nyana belum sempat mereka bertindak, dibelakang
ada orang berkata dengan suara dingin.
“Apa yang mau dilihat? Mulut goa ini meski tidak ada
apa-apanya tapi kalau kalian hendak pergi, benar2 tidak
begitu mudah.”
Ho Kie putar tubuhnya dan menengok ke dalam, hatinya
bergoncang…..
Dipinggir pintu kecil dalam goa, ada berdiri seorang
wanita muda yang parasnya jelek sekali, hidungnya pesek,
bibirnya tebal, pipinya bopeng. Tapi, dengan dandanannya
baju merah, tubuhnya yang ceking langsing itu sungguh
sangat menggairahkan.
Wanita jelek itu dengan tindakan kakinya yang lemah
gemulai menghampiri mereka sambil ketawa hambar.
Ho Kie hatinya berdebaran, sedangkan Gouw Ya Pa
memandang dengan mulut menganga,
Lama sekali, Ko Kie baru berani bertanya dengan heran.
“Kau…. kau siapa?”
Wanita itu ketawa cekikikan,
“Aku she Shiu, namaku Gwat Eng. Sahabatmu ini sudah
mengetahui asal usulku, apa dia tidak memberi tahukan
padamu?” demikian ia berkata.
Gouw Ya Pa melompat, membuka lebar matanya seolah2
tidak percaya akan penglihatannya.
“Oh Tuhan………Kau adalah………,.” ia mengeluh tak
lampias.
“Aku adalah Siu Gwat Eng, cucu perempuan Thian sat
Sin kun, Siu It ciu. Kenapa memangnya? Gouw Ya Pa, apa
kau sudah tidak kenali aku lagi?”
Gouw Ya Pa masih merasa heran dalam hatinya, ia
menjawab sambil gelengkan kepala;
“Tidak, tidak… Dia bukannya kau dan kau bukannya
dia.,.. ”
“Mengapa bukan? Barusan aku memakai kerudung kain
maka kau tidak bisa melihat wajah asliku. Nah, lihatlah
ini!”
Siu Gwat Eng lalu mengenakan kain kerudungnya dan
dipakai untuk menutupi wajahnya yang jelek, dengan
demikian ia lantas berubah menjadi seorang wanita yang
berbadan langsing dan kelihatannya menarik.
Gouw Ya Pa sungguh tidak menyangka bahwa wanita
yang mempunyai bentuk badan begitu bagus, tetapi
wajahnya begitu jelek.
Ho Kie menenangkan pikirannya.
“Apa kalian adalah orang2nya Hian kui kauw?” ia
bertanya.
“Cuma boleh dibilang kalau Hian kui kauw adalah orang
kami.” jawab si wanita jelek sambil ketawa dingin.
“Aku dengan Hian kui kauw ada mempunyai hubungan
dengan Hian kui kauw, paling baik kau segera kenal
gelagat. Kalau tidak jangan sesalkan kami akan berlaku
kurang sopan terhadapmu,”
“Kau juga bermusuhan dengan Hian-kui kauw?”
“Benar ! Cian tok Jin-mo telah membinasakan ayahku,
aku sedang mencari dia untuk menuntut balas,”
“Kalau begitu sungguh kebetulan, Mari, mari, aku akan
ajak kau temui Yaya”
“Kita satu sama lain tidak mempunyai sangkut paut,
perlu apa harus menemui Yaya mu?”
“Bagaimana kau kata tidak ada sangkut pautnya? Kami
juga menpunyai permusuhan dalam dengan Cian-tok Jinmo.
Mari ikut aku, Yaya pasti akan memberitahukan suatu
kebaikan, yang tidak akan kau sangka2.”
Setelah berkata begitu ia lalu menggapaikan tangannya
dan masuk kedalam.
Ho Kie merasa tertarik, ia berkata kepada kawannya
dengan suara perlahan ;
“Gouw Toako bagaimana kalau kita pergi lihat?”
“Melihat saja tidak menjadi soal, cuma wajahnya itu
perempuan jelek yang membikin aku mual.”
Ho Kie tertawa, ia lalu menarik tangan kawannya dan
lantas mangikuti jejaknya nona Siu.
Begitu mereka melalui sabuah pintu batu, didalamnya
ternyata masih terdapat lorong yang panjang. jalanan itu
sangat bersih, terang adalah buatan manusia.
Dikedua sisi lorong ada terdapat tujuh atau delapan
pintu batu yang semuanya tertutup. Ketiga orang itu setelah
melalui jalanan lorong tadi, Siu Gwat Eng tiba2 berhenti
dan berkata sambil tertawa :
“Yayaku sudah empat puluh tahun menutup diri. Belum
pernah menemui orang luar. Kalau nanti kalian masuk.
harap suka sedikit bersabar.”
Setelah berkata ia lalu membuka sebuah pintu batu yang
ternyata diperlengkapi dengan pesawat rahasia.
Ho Kie dan Gouw Ya Pa saling pandang, mereka
sungguh tidak menyangka bahwa didalam goa tersembunyi
itu juga diperlengkapi dengan pesawat rahasia. Barangkali
orang tua yang dinamakan Thian-sat Sin kun itu bukannya
orang sembarangan.
Belum habis mereka berpikir, mata mereka telah
disilaukan oleh pemandangan didepan nya. Ternyata saat
itu mereka sudah berada didepan pintu sebuah ruangan
yang luas dan mentereng,
Dengan perasaan ter-heran2 Ho Kie melangkah masuk
dengan tindakan perlahan. Mendadak Siu Gwat Eng
berbisik :
“Lekas kalian berlutut!!”
Ia sendiri lalu berlutut lebih dulu dan berkata dengan
suara perlahan;
“Yaya, Gwat Eng sudah ajak mereka datang kemari
untuk menemui Yaya.”
Mengingat pantas menghormati orang tua, bersama
Gouw Ya Pa lantas Ho Kie turut berlutut.
Mendadak dari depan mereka terdengar suara orang
ketawa berat. Meskipun suara itu rendah, tetapi ditelinga
kedengaran sangat nyata. sehingga diam2 Ho Kie
terperanjat atas ketinggian Ilmu Iweekang orang tua itu.
Maka ia lantas berkata sambil tundukan kepalanya:
“Boanpwee, Ho Kie dan Gouw Ya Pa di sini memberi
hormat kepada Locianpwe.”
Suara ketawa lantas berhenti, disusul dengan suara yang
dingin ;
“Baik! Bangunlah !”
Ketika Ko Kie angkat mukanya, seketika lantas berdiri
kesima!
Didepannya, sejauh kira2 delapan kaki, diatas sebuah
tempat tidur duduk bersila seorang tua kurus kering yang
rambutnya sudah putih seluruhnya.
Orang tua itu karena badannya kurus dan pakaiannya
gerombongan, maka kelihatannya agak lucu. Apa yang
lebih menarik perhatian Ho Kie ialah sepasang matanya
yang tajam yang pada saat itu tengah mengawasi dirinya
dengan tidak berkesip.
Orang tua itu dengan perlahan mengulapkan tangannya
yang kurus, Siu Gwat eng segera mengambil dua kursi
untuk kedua tamunya.
Sekarang Ho Kie tidak berani angkat kepala lagi, sambil
tunduk ia berkata pula ;
“Boanpwe, atas ajakan nona Siu datang kemari untuk
menjumpai Locianpwee,”
Orang tua itu lantas menjawab dengan perlahan ;
“Lohu mengasingkan diri disini sudah hampir lima puluh
tahun lamanya. Hari ini baru dapat bertemu dengan orang
luar. Kalian berdua murid dari golongan mana?”
Belum lagi Ho Kie menjawab Siu Gwat Eng sudah
menghampiri Yayanya dan berbisik bisik ditelinganya entah
apa yang diucapkannya.
Orang tua itu angguk-anggukkan kepalanya, wajahnya
yang kisut telah menunjukkan sikap yang seperti ketawa
tapi bukan ketawa.
“Baik!! Kalau begitu memang ada jodoh.” katanya.
Ho Kie merasakan seperti sedang duduk diatas duri,
entah apa sebabnya ia merasa sangat jemu terhadap orang
tua dan cucuaya itu, maka ia lantas berbangkit dan berkata ;
“Boanpwe merasa telah mengganggu ketentraman
Locianpwe, dalam hati merasa tidak enak sendiri, maka
sekarang pula Boanpwe ingin minta diri.”
Orang tua itu mendengar perkataan Ho Kie, wajahnya
mendadak berubah.
“tunggu dulu, Lohu ingin bertanya kepadamu!” ia
menahan.
Terpaksa Ho Kie harus duduk lagi. Ketika ia melirik
kepada Gouw Ya Pa, sang kawan itu sedang mengawasi
padanya, maka keduanya lantas ketawa getir dan angkat
pundak. Orang tua itu dengan tiba2 bertanya:
“Lohu sudah lama tidak pernah dengar urusan dunia,
apa Cian tok Jin mo Jie Hai ada baik?”
Ho Kie tidak senang mendengar pertanyaan itu maka
lalu menjawab dengan suara dingin:
“Apakah Locianpwee menanyakan si iblis itu? Dia
sekarang sudah menjadi kauwcu dari Hian kui kauw.
Kambratnya tersebar dimana mana sehingga bisa malang
melintang didunia dan merupakan satu iblis nomor satu
pada dewasa mi ……. .”
Orang tua itu perdengarkan suara ketawanya yang aneh.
“Bagus! Bagus! Dia adalah seorang yang berhati kejam
dan telengas, merupakan seorang luar biasa yang jarang ada
dalam dunia.” kata pula orang tua itu.
Ho Kie membisu. Hanya dalam hati saja ia berpikir.
“Apa orang tua ini sedang memikirkan hubungan antara
murid dan guru sehingga mau bekerja sama dengan Cin tok
Jin mo?”
Selagi masih berpikir, orang tua itu mendadak berkata
pula sambil mengawasi padanya dengan sorot mata yang
tajam,
“Apa kau ingin ke Kui kok untuk menuntut balas?”
“Aku yang rendah dengan Hian kui kauw mempunyai
permusuhan yang sangat dalam, maka pasti aku hendak
menuntut balas.” jawab Ho Kie dengan mendongkol,
Pada saat itu, terhadap orang tua itu dalam hati
mempunyai perasaan agak bimbang, maka kalau tadi
membahasakan dirinya dengan boanpwe, sekarang telah
merubahnya dengan perkataan “Aku yang rendah” yang
mengandung maksud kurang menghormat.
Tetapi orang tua itu yang sedang mengawasi padanya
dengan penuh perhatian, sedikitpun tidak menunjukkan
rasa kurang senangnya terhadap sikap Ho Kie itu.
Setelah perdengarkan suara ketawanya yang aneh, ia lalu
bertanya pula :
“Apa kau sudah yakin benar, dengan kepandaian yang
sekarang kau miliki ini kau bisa menangkan Jie Hui?”
“Aku yang rendah, meskipun mengetahui kepandaian
masih rendah, belum cukup untuk menjatuhkan diri si iblis
tua, tetapi permusuhan itu dalam laksana lautan, tidak mau
aku mundur.”
“Bagus!!- Kau mempunyai nyali dan ambekan yang
besar. Lohu sudah mempunyai daya upaya untuk
membantu kau melaksanakan cita2mu. Tetapi entah kau
suka atau tidak?”
Ho Kie merasa kaget dan girang, maka segera ia berseru
“Locianpwe!! Kau kata bisa membantu aku menuntut
balas?”
Orang tua itu menganggukkan kepalanya.
“Lohu sejak dibikin celaka oleh murid durhaka, Jie Hui
itu, maka lantas mengasingkan diri ditempat ini yang
sampai saat ini sudah hampir lima puluh tahun lamanya.
Kau mau pergi ke Kui-kok, ini juga berarti mewakili Lohu
menghukum murid murtad itu. Hanya saja kau dan aku
masih belum begitu kenal betul. Kalau usaha untuk
menundukkan Jie Hui itu kuajarkan padamu, siapa yang
bisa tanggung kalau hatimu berubah serupa dengan
perbuatan Jie Hui yang telah mencelakakan Lohu?”
“Kalau Locianpwe mau memberi bantuan, aku berani
angkat tangan bersumpah, pasti tidak akan mengingkari
janji atas budimu ini!……”
Tetapi orang tua itu ber-ulang2 menggelengkan
kepalanya.
“Lohu sudah tertipu sekali, maka sekarang sudah tidak
percaya lagi terhadap segala sumpah!”
Ho Kie merasa putus asa, ia berkata sambil menghela
napas :
“Kalau Locianpwe mengatakan demikian, aku juga tidak
berani memaksa.”
Mendadak orang tua itu berkata sambil ketawa dingin ;
“Lohu cuma mempunyai satu cucu perempuan. Kalau
kau mau membantu Lohu untuk meneruskan bebanku ini,
terhadap dirinya cucu perempuan. Lohu akan menurunkan
padamu semacam ilmu kepandaian luar biasa yang telah
kuyakinkan selama beberapa puluh tahun lamanya. Saat
itu, jangan kata kau hanya hendak menuntut balas terhadap
Jie Hui, sekali pun kau ingin menjagoi dunia apa susahnya?
Ho Kie tergerak juga hatinya, ia bertanya;
“Locianpwee, suruh aku bagaimana mengatur diri nona
Siu? Apa suruh aku ajak dia bersama2 pergi ke Kui kok ?”
Mendadak orang tua itu tertawa tergelak-gelak:
“Sudah tentu suruh kau bawa dia sama2 pergi ke Kui
kok, bahkan kau harus bawa dia pergi merantau didunia
supaya dia bisa membantu kau menjagoi dunia,”
Ho Kie tidak mengerti apa maksud orang tua itu:
“Ha! ini…….”
Tetapi orang tua itu mendadak memotong;
“Penemuan yang luar biasa ini, bagi orang lain yang
meratap setiap hari juga mungkin sukar didapatinya, kau
masih hendak berkata apa lagi?” Eng-jie kau antarkan dia
kekamar dulu. untuk siap sedia. Yayamu akan segera keluar
dunia lagi untuk menyelesaikan urusan besar ini.”
Siu Gwat Eng mendadak seperti orang malu2, ia
menjawab sambil tundukkan kepala, kemudian
menghampiri Ho Kie dengan tindakan perlahan:
Ho Kie melihat gelagat kurang baik, maka buru2 berkata
pula:
“Apa maksud Locianpwee itu, aku masih belum
mengerti.”
“Anak bodoh. Mulai hari ini dan untuk selanjutnya kau
adalah seorang jago dan orang kuat nomor satu didunia.
juga menjadi cucu menantunya Thian sat Sia kun. Apa kau
tidak merasa girang?”
Bukan main kagetnya Ho Kie. dengan cepat lantas
lompat bangun dari kursinya, Gouw Ya Pa juga lantas
lompat berdiri, sambil menepuk pundaknya Ho Kie ia
berkata :
“Saudara Ho, kau jangan sekali2 terima permintaannya.
Nona itu parasnya menakutkan orang,”
Ho Kie berkata dengan suara gusar:
“Kalau locianpwe benar2 hendak membantu diriku yang
rendah sudah tentu aku merasa sangat berterima kasih,
tetapi suatu perkawinan adalah soal besar. Harus mendapat
persetujuan kedua pihak yang bersangkutan dulu,
bagaimana bisa dipaksa?”
“Kalau begitu, apa kau tidak suka?” tanya Thian sat Sin
Kun dengan suara dingin.
“Maaf Locianpwe, aku ada seorang rendah tidak pantas
untuk menjadi kawan hidup nona Siu.” jawab Ho Kie
sambil angkat tangan memberi hormat.
“Tidak apa. ucapan lohu sudah dikeluarkan, tidak pantas
juga harus dibikin pantas.”
Ho Kie jadi gusar :
“Dengan terus terang kukatakan, dengan wanita seperti
cucu perempuan ini…,”
“Lohu tahu!!” orang tua itu memotong. “Soal jelek bagus
kalau jodoh itulah takdir. Kau tidak perlu memikirkan soal
ini.”
Ho Kie yang mendengar itu, benar2 merasa kewalahan.
Setelah malongo sekian lamanya. ia baru bisa berkata
dengan suara bengis ;
“Locianpwee, dalam segala hal aku boleh menurut,
hanya dalam hal perjodohan, maafkan aku tidak sanggup
menerima.”
Orang tua itu matanya mendelik.
“Apa? Apa kau sudah mempunyai pacar lain ?” ia
membentak.
Ho Kie hatinya bergerak, maka lalu menjawab :
“Memang benar, aku sudah mempunyai tunangan, maka
soal perjodohan ini aku tidak dapat menerima.”
“Ini juga tidak apa. Lohu bukan seorang yang berpikiran
cupat.. Seorang laki2 boleh mempunyai tiga atau empat
isteri, maka lohu berikan ijin untuk kau kawin lagi saja
sudah.”
Keterangan itu agaknya sudah merupakan suatu
keputusan yang susah untuk dirobah.
Terpaksa Ho Kie harus berlaku keras juga. ia tetap
dengan penolakannya, tidak mau mengalah sedikitpun juga,
“Cianpwe, paling baik jangan memaksa-Aku yang
rendah tidak bermaksud apa2 dengan nona Siu. maka tidak
dapat menerima soal perkawinan ini. Sampai disini saja.
kami ingin minta diri.!!” Sehabis berkata Ho Kie lalu
menarik tangan Gouw Ya Pa dan berjalan keluar dengan
tindakan lebar.
Thian-sat Sin-kun tiba2 perdengarkan suara tertawanya
yang aneh, lalu berkata dengan suara keras :
“Binatang! Sungguh besar sekali nyalimu!! Apa kau
anggap Lohu ada satu patung? Disini kau tidak boleh
berbuat sesuka hatimu. Eng-jie tangkap mereka !”
Siu Gwat Eng dengan cepat lantas bertindak, ia
menghadang didepan mereka.
Gouw Ya Pa tahu kalau perempuan jelek ini sangat
lihay, maka buru2 sembunyi dibelakang Ho Kie sambil
berkata dengan suara perlahan :
“Saudara Ho, kedua lengan baju perempuan ini sangat
lihay. Kau harus sangat hati hati”
Ho Kie ketawa dingin, sambil melangkah maju ia
berkata dengan suara sungguh2.
“Nona, karena kami memandang kau sebagai kaum
wanita, kami tidak suka turun tangan terhadapmu. Harap
kau jangan mendesak keterlaluan.”
“Yayaku sangat memandang tinggi dirimu” Siu Gwat
Eng menjawab dengan gusar. “Tidak nyana kau adalah
seorang yang tidak kenal budi orang, Hari ini nonamu akan
suruh kau membuka mata.”
Gouw Ya Pa yang berada dibelakang Ho Kie lantas
memaki dengan suaranya yang kasar:
“Perempuan jelek tidak tahu malu!! Kau sudah menjadi
gila ingin mendapatkan laki2. Orang sudah tidak suka kau,
kenapa masih mau memaksa terus.”
Siu Gwat Eng merasa sangat malu, maka setelah
membentak keras, lengan kirinya lantas bergerak
menyerang muka Gouw Ya Pa.
Ho Kie menggeram, ia lalu tarun tangan untuk
menyambuti serangan Siu Gwat Eng,
Siu Gwat Eng terperanjat, dengan gerakannya yang gesit
ia menghindarkan serangan Ho Kie dan lompat mundur
tiga langkah-
Sambil menarik diri Gouw Ya Pa, Ho Kie berkata
dengan suara perlahan:
“Gouw Toako lekas jalan!?”
Kedua orang itu dengan cepat lari menuju kepintu.
Mendadak terdengar suara nyaring, pintu yang
mempunyai perlengkapan pesawat rahasia itu dengan cepat
telah menutup sendirinya.
Ho Kie terperanjat, sambil menarik tangan Gouw Ya Pa
ia memutar tubuhnya sehingga berdiri membelakangi pintu.
Thian sat Sin kun lalu berkata sambil tertawa aneh:
“Bocah ! Hari ini kalau kau tidak mau menurut, jangan
harap bisa keluar dari kamar ini.”
“Kalian dengan cara yang tidak tahu malu mendesak
orang. Sekalipun mati, aku Ho Kie juga tidak akun
menurut.”
“Satu bocah yang sangat bandel!! Eng jie lekas turun
tangan. Suruh mereka merasai rasanya Thian mo Sin
ciang.”
Sui Gwat Eng kakinya lalu berputaran, dengan bajunya
yang panjang saling mengibas dan dengan secepat kilat
sudah maju menotok tujuh jalan darah dibadan Ho Kie dan
Gouw Ya Pa.
Ho Kie mengetahui kalau ia tidak mengeluarkan
kepandaiannya sukar untuk menundukkan kedua orang itu.
maka setelah mengeluar bentakan keras, lalu sikutnya
diputar, dengan menggunakan gerak tipu Liu sie thian tiaw,
terus menyambar lengan bajunya Siu Gwat Eng.
Siapa sangka, ketika jari dan tangannya sudah hendak
mengenai ujung lengan baju lawannya, mendadak terdengar
ketawa dinginnya Siu Gwat Eng, lengan bajunya ditarik
kembali, tangannya yang tadinya disembunyikan didalam
lengan bajunya dengan cepat bagaikan kilat lantas keluar
menyerang.
Ho Kie terperanjat, dengan cepat kibaskan tangan
kirinya untuk menyambuti serangan lawan. Setelah
terdengar suara nyaring, kedua orang itu lantas masing2
mundur tiga langkah.
Siu It Cin yang menyaksikan pertempuran itu juga lantas
berkata dengan heran :
“Kiranya kau hendak mengandalkan kepandaian yang
tidak berarti ini,”
Setika Ho Kie mendapatkan kepandaian dari warisan
Toan theng Lojin. Ia percaya akan kekuatan sendiri, tidak
nyana, setelah mengadu kekuatan dengan perempuan jelek
itu, ia telah terdorong sampai mundur tindak, sehingga
diam2 juga merasa terkejut.
Siu Gwat Eng juga kelihatannya terperanjat, tetapi ia
lantas menghentikan serangannya dan tidak mendesak
terus.
“Eng jie, kenapa tidak menggunakan Thian mo ciang
hoat untuk membekuk dia?” Perintah Thian sat Sin kun.
Siu Gwat Eng agaknya segan menggunakan ilmunya itu,
ia berada dalam keragu-raguan tidak mau turun tangan.
“Kalau kau tidak mau turun tangan lagi, nanti kalau
yayamu sampai gusar, bocah itu tidak bisa hidup lagi……”
kata Thian Sat Sin kun pula sambil ketawa dingin.
Siu Gwat Eng yang mendengar perkataan itu, mendadak
keluarkan bentakan, kedua lengan bajunya menggetar,
orangnya mundur selangkah.
Ho Kie tidak mengetahui sampai dimana kelihayan ilmu
silat yang dinamakan Thian mo ciang hout, itu ia lantas
siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan,
Ia melihat Siu Gwat Eng mengangkat kedua tangannya
dengan perlahan, sehingga lengan bajunya bergerak gerak
dan mengeluarkan suara berisik.
Entah dengan cara bagaimana, baju luarnya mendadak
terlepas, hanya ketinggalan baju dalamnya saja. Gouw Ya
Pa lantas berseru :
“Kurang ajar!!! Perempuan tidak tahu malu.”
Belum habis ucapannya Gouw Ya Pa, telinganya
mendadak seperti mendengar suara barang beradu, didepan
matanya berseliweran sinar emas sehingga membuat silau
mata yang melihatnya.
Ho Kie dan Gouw Ya Pa terkejut, ketika mereka melihat
lebih jauh, ternyata pakaian dalam Siu Gwat Eng yang
ringkas itu penuh dengan potongan2 kaca kecil beraneka
warna. Kalau badannya bergerak, bukan saja menerbitkan
suara berisik, bahkan potongan2 kaca di seluruh badannya
itu memancarkan sinar beraneka warna yang menyilaukan
mata.
Selagi berada dalam keadaan keheran heranan,
mendadak ada berkelebat sinar, dan Siu Gwat Eng sudah
maju menyerang dengan cepat. Dalam keadaan gugup dan
tidak mengetahui dimana sang lawan, Ho Kie hanya
menyambuti serangan itu dengan sembarangan.
Maka kedua serangannya meluncur, telinganya kembali
mendengar suara kerincingan, sambaran angin yang sangat
hebat sudah berada dibelakang dirinya.
Ko Kie buru2 memutar tubuh, tetapi selagi ia bermaksud
hendak turun tangan, suara itu ternyata sudah pindah ke
samping kirinya dan matanya dirasakan berkunang kunang.
Ho Kie tidak mengetahui ilmu silat apa itu yang
kelihayannya tidak berada di bawahnya ilmw Hu-kut-hiankangnya.
Selagi dalam bingung, suatu kekuatan tenaga yang hebat
sudah menyerang dadanya.
Ho Kie membabat dengan tangannya, tetapi tiba
didengarnya suara Gouw Ya Pa yang ternyata sudah rubuh
ditanah,
Gouw Ya Pa yang mempunyai latihan ilmu kebal dan
sudah mencapai tingkat kesempurnaan, bagaimana dalam
waktu segebrakan saja bisa dirubuhknn oleh Siu Gwat Eng?
Ho Kie merasa bingung sendiri, mendadak didengarnya
suara ketawa Siu Gwat Eng yang sekarang berada disebelah
kanannnya. selagi menoleh, sikutnya dirasakan kesemutan,
jalan darah Tay-hian-hiat ditubuhnya sudah kena serangan.
Kekuatan dalam badan lantas lenyap dan lantas ia jatuh
numprah di tanah………
Thian sat Sin-kun setelah perdengarkan suara ketawanya
yang aneh, sebentar kemudian Ho Kie sudah kehilangan
ingatannya.
Tatkala ia siuman kembali, telah mendapatkan dirinya
sudah berada diatas pembaringan yang empuk. Lampu dari
sepasang lilin kemanten telah menyilaukan matanya,
Diam2 ia terkejut, “apakah aku sudah……..”
Sebenarnya ia ingin bangun, tetapi badannya tidak bisa
digerakkan, ternyata totokan pada jalan darahnya belum
dibuka. Ia menghela napas panjang, rupa2, pikiran
mengaduk dalam hatinya. Sungguh tidak disangka kalau
dirinya akan dijodohkan dengan perempuan jelek itu.
Untuk sesaat lamanya hayangan Lim Kheng berkelebat
di depan matanya, Lim Kheng adalah seorang perempuan
yang cantik, kalau dibandingkan dengan Siu Gwat Eng.
perbedaannya seperti langit dengan bumi, tetapi sekarang
ini dimana adanya Lim Kheng? Mungkin hanya bisa
didapatkan dalam kenangan dan impian saja?!
Tetapi andaikata dikemudian hari bisa menemukan Lim
Kheng, karena disamping ada perempuan jelek itu, apakah
ia masih punya muka untuk menemui padanya? Ia sungguh
tidak berani membayangkan masa yang akan datang yang
menyeramkan itu.
Rasa gamas dan sedih serta pikiran untuk menuntut
balas sakit hati ayahnya, dalam menghadapi keadaan
demikian itu, dadanya dirasakan seolah2 mau meledak.
Mendadak pintu kamar terbuka. lalu masuk satu
bayangan orang.
Tidak perlu diduga lagi siapa orangnya, orang itu sudah
tentu Siu Gwat Eng adanya, pikir Ho Kie.
cepat2 Ho Kie memejamkan matanya, ia tidak mau
melihatnya.
Orang itu perlahan2 mendekati pembaringannya, lalu
mengusap2 jidatnya, kemudian bertanya dengan suara
perlahan.
“Saudara Ho, apakah kau masih belum mendusin?”
Ho Kie terkejut, cepat2 matanya dibuka orang itu
ternyata adalah Gouw Ya Pa.
Pada saat itu Gouw Ya Pa mengenakan pakaian warna
merah. Ketika ia memeriksa badannya Ho Kie pada
wajahnya kelihatan perasaan yang tidak keruan.
“Gouw Toako, apa perlunya kau mengenakan pakaian
begini?” tanya Ho Kie dengan heran.
“Bukankah karena kau? Engkongnya perempuan jelek itu
mengatakan, tidak ada orang yang membantunya. Ia suruh
aku membantu membereskan soal perkawinan ini dan ia
memaksa aku memakai pakaian ini.” jawab Gouw Ya Pa
sambil tertawa getir.
“Ah!! Kau sendiri juga sengaja hendak menggoda aku?”
kata Ho Kie dengan sangat mendongkol
“Apa mau dikata. kita tokh boleh tidak menurut? Orang
tua iiu lebih lihay daripada cucunya. Baru sepatah aku maki
padanya, hampir saja tulang punggungku dibikin patah……”
“Aku sudah di…. dikawinkan dengan dia. apa belum?”
tanya Ho Kie.
“Masih belum. Hari baiknya katanya masih belum tiba.
Perempuan jelek itu benar- sudah seperti kemanten baru,
Sikapnya malu2 ia tidak mau menengoki kau, sehingga
orang tua itu menyuruh aku kemari.”
“Lekas kau buka totokanku. Kita segera kabur!!”
“Adikku yang baik, kalau aku mampu membuka totokan
jalan darahmu, bagaimana mereka mau percayakan aku
datang kemari?”
Hatinya Ho Kie sangat gelisah.
“Gouw Toako, benarkah kau hendak menyaksikan aku
benar2 menikah dengan perempuan itu?”
“Sekarang keadaan sudah jadi begini, tidak bisa tidak
harus menurut”
“Pergilah kau. Kenapa kau tidak kawin dengan dia?” kata
Ho Kie dengan gusar, tetapi mendadak ia bisa berpikir lain,
maka lantas berkata pula ;
“Gouw Toako, kau mau tolong aku atau tidak?”
“Aku ingin sekali dapat menolongi kau untuk binasa
saja, tetapi sekarang….”
“Gouw Toako. kalau kau mau menolong aku, aku disini
ada mempunyai suatu akal.”
“Akal apa? Coba kau sebutkan.”
Ho Kie lantas bisik- ditelinga Gouw Ya Pa wajahnya
mendadak menjadi merah, ia lantas berkata ;
“Aku tidak mau. Kau sendiri anggap dia jelek, tetapi kau
lantas mau geser kepadaku. Kalau begitu kau mau enaknya
sendiri saja.”
“Ini tokh cuma satu akal saja, bukan benar2 aku suruh
kau kawin dengan dia. kalau kita berhasil, sudah tentu kita
bisa kabur bersama-sama.”
Gouw Ya Pa berpikir sejenak, lalu berkata :
“Taruh kata aku bisa berlaku menurut rencanamu, tetapi
jalan darahmu masih belum bisa terbuka, juga percuma
saja.”
“Kita main sandiwara harus sungguh2, Pergilah kau
beritahukan kepada mereka, katakan aku sudah menurut,
tetapi harus buka totokanku dulu, baru bisa melakukan
upacara.”
“Akan kucoba,” jawab Gouw Ya Pa sambil anggukkan
kepala dan ia lantas berlalu.
Belum berapa lama, benar saja Gouw Ya Pa sudah balik
kembali bersama2 dengan Thian-sat Sin kun.
Thian Sat Sin Kun yang ternyata kakinya hanya tinggal
sebelah, menunjang dengan tongkatnya perlahan lahan
berjalan masuk kamar.
Lebih dulu ia memandang Ho Kie dengan sorot mata
yang tajam, Kemudian berkata sambil ketawa dingin.
“Apa kau sudah mau benar?”
Dengan menahan perasaan gusarnya, Ho Kie menjawab
sambil ketawa ;
“Boanpwe yang bertekad hendak menuntut balas sakit
hati ayah, karena mengingat Locianpwe sanggup memberi
bantuan, bagaimana boanpwe bisa menyia nyiakan maksud
baikmu itu. Meskipun paras nona Siu itu jelek. tetapi jodoh
yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kita tidak bisa berbuat
apa2. Maka boanpwe terima baik maksud locianpwe untuk
melangsungkan perkawinan ini.”
Thian sat Sin kun diam saja mendengarkan, setelah
mendengar habis ucapan Ho Kie baru ketawa dan
kemudian berkata :
“Semua ucapanmu ini agaknya sudah kau pikirkan
masak2, kau tentu hendak menipu Lohu”
“Ucapan boanpwe ini adalah sejujurnya. harap
locianpwe jangan banyak curiga.”
“Kalau kau benar2 bermaksud mengawini cucu
perempuanku, mengapa kau selalu menyebut perkataan
locianpwe? Ini nyata benar kalau maksudmu itu tidak
sejujurnya.”
Ho Kie bungkam. Sebaliknya Gouw Ya Pa yang berdiri
disampingnya yang ber-ulang2 memberi isyarat kepadanya,
Ho Kie terpaksa tebalkan muka untuk memanggil Yaya.
Thian sat Sin kun lantas ketawa ber-gelak2.
“Itulah baru benar!” katanya puas. Tiba-tiba ia lantas
mengangkat tongkatnya, dengan cepat menotok kelima
jalan darah ditubuh Ho Kie, kemudian mundur kepintu,
lalu berkata pula sambil tertawa;
“Lohu hendak peringatkan kau. Tidak perduli
perkataanmu ini benar atau bohong, jikalau kalian hendak
kabur dengan sebelum melakukan upacara pernikahan,
jangan kau sesalkan kalau Yayamu ini akan berlaku tidak
pandang keluarga.”
Sehabis berkata ia lalu ketawa bergelak. Ho Kie cepat2
lompat bangun, diam-diam coba kekuatannya, ternyata
tidak ada halangan. Maka lantas berkata kepada Gouw Ya
Pa;
“Tindakan pertama sudah berhasil, Gouw toako,
sekarang aku mengandal bantuanmu sepenuhnya.”
“Harap saja kau jangan tinggalkan aku setengah jalan!!”
mengeluh sihitam
Tidak antara lama, upacara perkawinan telah
dilansungkan.
Siu Goat Eng dengan pakaian kemantennya karena
wajahnya tertutup, dipandang dari potongan tubuhnya
memang nampaknya sangat menarik. Dengan tindakan
malu2 ia masuk kekamar dan berduduk dipinggir
pembaringan.
“Anak2 dunia kang ouw, tidak usah memakai segala
upacara yang memusingkan kepala, kamu berdua saling
menyoja, kemudian berlutut dan anggukkan kepala tiga kali
di depanku sudah cukup.”
Demikian kata Thiun sat Sin kun.
Dengan keadaan terpaksa, Ho Kie cuma bisa menurut
saja. Setelah selesai upacara, Thian Sat Sin kun dan Gouw
Ya Pa meninggalkan kamar kemantin. cuma tinggal Ho Kie
dan Siu Goat Eng berdua.
Siu Goat Eng masih merasa malu, ia terus tundukkan
kepalanya. Ho Kie diam2 merasa kasihan kepada nona
kemantin yang nasibnya jelek itu.
ia segan membuka tutup wajah Siu gwat Eng dengan
tindakan perlahan ia menghampiri pintu kamar pura2
menutup kamarnya, kemudian padamkan api lilin,
Siu Goat Eng tiba2 berkata :
“Engko Kie, kenapa kau bikin padam lampu lilin.
Padahal itu harus dinyalakan sampai terang tanah!!”
“Aku tidak bisa tidur kalau ada penerangan!” jawab Ho
Kie.
Siu Goat Eng berkata pula sambil menghela napas.
“Aku tahu bahwa parasku sangat jelek, kau tentunya
tidak suka melihat wajahku yang jelek itu. Ah meski
wajahku jelek, tapi aku nanti bisa menyinta kau dengan
setulus hati, supaya kau tidak membuang buang aku……..”
Ho Kie yang mendengarkan ucapan nona kemantin itu
hatinya merasa pilu. hampir saja ia memeluk nona itu. tapi
kemudian di urungkan.
“Sudahlah, mari kita tidur!” demikian ia berkata sambil
kertak gigi,
Siu Gwat Eng kembali menghela napas panjang. lalu
membuka pakaian kamantinnya dan merebahkan diri
dipembaringan.
tepat pada saat itu pintu kamar telah terbuka dengan
perlahan, sesosok bayangan manusia telah berkelebat
masuk,
Ho Kie menggeser tubuhnya kepinggir pembaringan,
kemudian menarik tangan orang itu dan menunjuk
kepembaringan.
Orang itu tidak berkata apa2 lantas naik
dipembaringan…………
Ho Kie dengan secara gesit sekali sudah lompat turun
menghampiri pintu dan menantikan sambil menahan
napas……..,.
Sang waktu perlahan-lahan telah berlalu, tidak diantara
lama diatas tempat tidur terdengar suara keresekan!
Hati Ho Kie berdebaran, ia harus memperhatikan
gerakan diatas pembaringan, dilain pihak harus pasang
telinganya untuk memperhatikan keadaan diluar kamer.
Diluar pintu mendadak terdengar suara ketukan tongkat
yang sangat perlahan, kalau tidak pasang telinga benar2,
suara itu hampir sukar didengarnya. Mendadak suara
tongkat berhenti didepan pintu,
Ho Kie tidak berani bernapas, ia takut di ketahui oleh
orang tua yang sangat lihay itu.
Mendadak diatas pembaringan terdengar suara orang
merintih :
“Aaaaaah. engko….”
Ho Kie terperanjat, diam2 herdoa ;
“Tolol!! kali ini kau jangan sampai timbulkan urusan…..,
.”
Suara rintihan terdengar pula, diluar pintu tongkat
terdengar lagi, tapi perlahan-lahan kedengarannya makin
jauh.
Ho Kie lantas menghela napas lega. Tapi ia masih belum
berani berlaku sembrono. dengan hati2 ia terus menunggu
satu jam lamanya. Mendadak dari atas pembaringan lompat
turun satu bayangan orang,
Ho Kie lantas bertanya dengan suara perlahan :
“Bagaimana apa sudah berhasil?”
“Sudah!! mari kita pergi!!” terdengar suara Gouw Ya Pa.
Ho Kie sangat girang, dengan perlahan ia membuka
pintu lantas keluar dari kamar kemanten.
Dengan sangat hati2 mereka berdua melalui jalan lorong,
diujung lorong ada mulut goa yang menghadap jurang yang
sangat dalam.
Tapi baru saja hendak keluar dari mulut goa, mendadak
terdengar suara bentakan
“Mau kemana? Berhenti!”
Dua orang itu terperanjat, buru2 hentikan kakinya,
ketika mereka menoleh, seketika itu lantas berdiri terpaku.
-oo0dw0oo-
TERNYATA Thian-sat Sin-kun saat itu sudah berdiri
sambil lintangkan tongkatnya dimulut goa.
“Oh, Tuhan! ……” berteriak Gouw Ya Pa, dan lantas
hendak kabur balik ke-dalam.
Ho Kie menyambar tubuh Gouw Ya Pa dengan tangan
kirinya, sambil lintangkan tangan kanannya diatas dadanya,
ia berkata kepada si orang tua :
“Locianpwee. kau dengan aku tokh tidak ada
permusuhan apa2, harap kau jangan terlalu mendesak!”
“Sungguh besar nyalimu, kau… kau perlakukan
bagaimana dengan cucuku?”
“Nona Siu masih berada dalam kamar, boanpwee
tidak…”
“Tutup mulut” membentak si orang tua itu, kalau ia
masih berada didalam kamar dalam keadaan tidak apa2,
dengan kepandaian yang dipunyai olehnya, masakan kamu
bisa kabur dengan leluasa? Tidak usah banyak mulut, sudah
tentu kalian sudah turun tangan kejam terhadap dirinya !”
“Boanpwe meskipun tidak suka menikah padanya tapi
juga tidak perlu harus mencelakakan dirinya. Kalau
locianpwe tidak percaya, boleh periksa sendiri….” jawab Ho
Kie gusar.
“Baik! Mari ikut aku masuk !”
Ho Kie dalam hati lantas berpikir, hanya satu orang tua
ini saja sudah sulit dihadapi, kalau Siu Gwat Eng
mendusin, kita terpaksa akan tertawan lagi.
Karena berpikir demikian, maka ia lantas menjawab
sambil ketawa ber-gelak2.
“Silahkan Locianpwe periksa sendiri, maaf karena
boanpwe masih ada urusan penting, terpaksa tidak bisa
turut….”
Thian-sat sin-kun mendadak ketawa bergelak2. Setelah
berhenti ketawa, sepasang matanya nampak sangat
beringas, dengau sikap keren ia berkata:
“bocah she Ho. lohu sangat hargakan kau, hingga cucu
perempuanku satu-satunya kujodohkan dengan kau. Bukan
saja sudah membantu kau mendirikan rumah tangga
bahkan hendak membantu kau menuntut balas untuk sakit
hati ayahmu. Budi yang sebesar gunung ini kau anggap
sepi, malahan dengan tangan keji menyelakakan diri
cucuku, dan kemudian hendak melarikan diri? Malam ini
kau menyerah secara baik, masih tidak apa tapi kalau kau
tidak mau dengar kata. jangan sesalkan kalau aku nanti
membuka pantangan membunuh. aku nanti bikin tubuhmu
hancur lebur di bawah tongkatku!”
Perkataan itu setiap patah seperti martil yang mengetok
hati nurani Ho Kie dan Gouw Ya Pa. diucapkannya meski
sangat perlahan, tapi kedengarannya sangat nyata dan
seram.
Ho Kie bergidik, Tanpa terasa, kakinya mundur satu
tindak, ia coba membantah.
“Perkawinan adalah urusan besar, bagaimana dapat
dipaksa?”
“Perintah orang tua itu tidak boleh di bantah. Perkataan
yang keluar dari mulutku aku tidak mengijinkan kau
membantah!”
Ho Kie diam2 mengerahkan seluruh kekuatannya
“Kalau locianpwe mau memaksa dengan kekerasan,
jangan sesalkan kalau boanpwee berlaku kurang ajar!!”
“Kau mempunyai kepandaian apa. coba berani main gila
didepan lohu……..?”
Ho Kie mengerti bahwa sal ini tidak bisa dibikin beres
secara damai. Selagi orang tua itu masih meleng, ia lantas
keluarkan bentakan keras dan menyerang dengan
menggunakan ilmu Tay lek-kim kong ciang.
Dalam pikirannya Ho Kie, si orang tua yang berdiri
membelakangi mulut goa apa lagi didalam lorong yang
sempit ini, serangannya itu meski tidak bisa membinasakan
jiwanya, tapi setidak tidaknya tentu ia akan menyingkir
untuk mengelakkan serangannya. sehingga ia dapat
kesempatan untuk menerjang keluar dari mulut goa yang
dirintangi oleh orang tua itu.
Siapa nyana siorang tua itu ternyata tidak menyingkir
atau berkelit, bahkan menyambutipun tidak. Ia masih tetap
berdiri sambil ketawa dingin…..
Sebentar kemudian, kekuatan angin yang ditimbulkan
oleh serangan Ho Kie telah menyambar pada orang tua itu.
Thian sit Sin kun cuma tergoyang sedikit pundaknya.
tapi sedikitpun tidaK berkisar dari tempat berdirinya !
Ho Kie kesima, Karena serangannya itu dilancarkan
dengan menggunakan tenaga lebih dari 10 bagian, Jangan
kata manusia, batu cadaspun mungkin hancur karenanya.
Tapi bagaimana orang tua itu tidak bergeming barang
sedikit.
Selagi masih berada dalam keheran heranan, tiba2
mendengar suara Thian sat Sin-kun:
“Dengan kepandaianmu yang cuma seupil ini, kalau lohu
berniat membunuh mati kau, sangat mudah seperti
membalikkan telapakkan tangan. Tapi malam ini lohu mau
suruh kau merasa takluk benar2, sekarang lohu berdiri
disini, akan menyambuti seranganmu sampai tiga kali, kau
boleh coba saja.”
“Baik, kalau 3 seranganku tidak mampu merubuhkan
kau, aku terima meyerah?” jawab Ho Kie gusar.
“Saat itu, sekalipun kau tidak mau menyerah juga sudah
tidak ada lain jalan. Gouw Ya Pa, kau sekarang menjadi
saksinya!”
Ho Kie sangat mendongkol, kembali ia hendak
menggunakan tipu serangannya semula untuk menyerang si
orang tua, tapi kali ini ia menggunakan tenaga sepenuhnya.
Serangan dahsyat telah dilancarkan oleh Ho Kie, kali ini
badannya orang tua itu nampak tergoncang hebat, darah
bergolak didadanya dan hampir keluar dari
tenggorokkannya, kakinya tidak bisa berdiri tetap, hingga
akhirnya mundur satu tindak…..
Orang tua itu lantas berubah wajahnya, ia berkata
dengan suara dingin :
“bocah, kau benar hebat! Lohu sekarang hendak
pertaruhkan tulang2 lohu yang sudah bangkotan, untuk
menyambuti seranganmu lagi !”
Ho Kie semakin heran, karena kekuatan serangannya
warisan dari Toan-theng Lojin, sudah cukup untuk
menghadapi jago kelas satu yang mana saja didunia Kang
ouw, tapi mengapa tidak mampu merubuhkan orang tua
ini?
Ini sungguh Ajaib!
Selagi hendak melancarkan serangannya lagi, tiba2 ia
ingat pelajarannya menghantam binatang nyamuk ketika
masih berada di Lembah Patah Hati.
Karena serangannya kedua kali tadi tidak berhasil, maka
sekarang ia hendak mencoba serangan yang biasa
digunakan untuk menghantam binatang nyamuk.
Setelah mengambil keputusan tetap, ia lantas tarik
kembali semua kekuatannya, lalu dipusatkan ketangan
kanannya. Kemudian melancarkan serangan dengan
perlahan.
Serangan Itu tidak menimbulkan suara apa-apa, tidak
keras seperti yang duluan.. Tapi orang tua itu mendadak
merasakan ada semacam tenaga yang sukar ditahan,
menyerbu dengan hebat!
Ia buru-buru kerahkan kekuatannya dikedua kakinya,
siapa nyana serangan Ho Kie- kali ini jauh berlainan
dengan yang duluan, agaknya mengalir terus tidak
hentinya.
Thian sat Sin kun terperanjat, kekuatan coo Khie dalam
dirinya ia perhebat sampai 80% untuk menahan serangan
tersebut. Tapi ketika kedua kekuatan itu saling beradu, ia
rasakan seperti membentur tembok baja yang sangat kokoh,
hingga dirinya sendiri yang terdorong mundur.
Ia semakin heran, selagi hendak melawan lagi, tapi
sudah terlambat!
Kakinya terangkat dari tanah, badannya mundur
sempoyongan….. sebentar saja, sudah mundur kemulut goa-
Thian sat Sin kun membentak keras, ia ayun tangan
kirinya menyambuti serangan Ho-Kie yang luar biasa itu.
Ketika kedua kekuatan tenaga dalam itu beradu, lalu
terdengar suara bergemuruh.
Lengan kanan Ho Kie dirasakan kesemutan, ia buruburu
tarik kembali serangannya dan mundur beberapa
langkah.
Tapi Thian sat Sin kun sebaliknya mundur beberapa
langkah. mulutnya menyemburkan darah segar, badannya
sudah ada ditepi jurang. Gouw Ya Pa kegirangan-,
“Saudara Ho mari lekas kita serbu!” ‘ia berseru.
Berbareng dengan itu, kakinya juga lantas melesat
menubruk dirinya Thian -sat Sin kun.
Si orang tua saat itu sudah tidak punya tempat mundur,
apa lagi ia terluka didalam ketika menyambuti serangan Ho
kie, hingga serbuannya Gouw Ya Pa yang dilakukan seperti
kerbau gila membuat ia berada dalam keadaan yang
berbahaya sekali.
Tapi, biar bagaimana ia seorang jago tua yang sudah
kenamaan, dalam keadaan sangat berbahaya seperti itu, ia
masih bisa menahan supaya luka dalamnya tidak
menghebat. Kemudian dengan menggunakan kekuatan
yang dinamakan “Eng-jiaw-lek” (Kekuatan kuku Garuda)
jari2- kanannya ditancapkan dibahu gunung, badannya
melengak dengan gaya Thio pan-kio hingga dirinya
bergelantungan disamping jurang.
Ketika serbuannya menemui tempat kosong, Gouw Ya
Pa tidak mau mengerti. Lalu maju lagi satu tindak
tangannya menghantam kaki tunggal si orang tua.
Thian-sat Sin-kun dalam keadaan menggelantung sambil
mendongak, ia menyapu dengan tongkatnya, Justru
serangannya itu berbareng dengan datangnya serangan
tangan Gouw Ya Pa.
Kalau Gouw Ya Pa bukannya Gouw Ya Pa, pasti akan
menarik kembali serangan tangannya, hingga Thian-Sit Sinkun
bisa balik lagi ke jalan goa. Menghadapi kekuatan si
orang tua itu, buat Ho Kie dan Gouw Ya Pa bisa keluar
dari mulut goa itu, sesungguhnya bukan soal gampang?!
Tapi Gouw Ya Pa ada mempunyai ilmu kebal ia selalu
tidak menghiraukan segala senjata tajam musuhnya yang
ditujukan kepada dirinya. maka terhadap serangan tongkat
si orang tua itu, ia juga tidak menggubris sama sekali.
Bukan saja tidak menarik kembali serangannya, bahkan
memperhebat serangannya.
Serangan itu dengan cepat mengenakan kaki Thian-sat
sin Kun, Sehingga tubuh orang tua itu meluncur kedalam
jurang……
Tapi serangan tongkat si orang tua juga mengenakan,
pinggang kanan Gouw Ya Pa, apa mau ilmu kebalnya
Gouw Ya Pa kali ini tidak sanggup menerima serangan
tongkat si orang tua, hingga pinggangnya dirasakan sakit
dan mundur sempoyongan, kemudian duduk tumprah
ditanah, jidatnya mengucurkan keringat dingin!
Ho Kie lalu menghampiri sambil membimbing bangun,
ia suruh kawannya itu mencoba menjalankan
pernapasannya.
“Tidak apa, cuma pinggangku sedikit sakit!”
demikian jawabnya pemuda bandel itu sambil ketawa
meringis-.
“KEKUATAN tenaga lweekang Thian-sat Sin-kun
bukan main hebatnya, jangan2 kau terluka bagian
dalamamu.”
“Dia sudah kuhajar sampai jasuh kedalam jurang,
mungkin lukanya juga tidak ringan, mari kita lekas pergi!”
Ho Kie melongok kebawah jurang, ternyata dalamnya
cuma kira2 5-6 tumbak saja, dalam hati merasa cemas.
“jurang ini tidak dalam, Bagaimana bisa melukai dia ?
Mari kita lekas berlalu dari sini!” Ia mengajak kawanya.
Lalu melayang turun dari mulut goa.
Ketika ia berada dibawahm ia menemukna tanda darah,
tapi Thian-sat sin kun sudah tidak kelihatan lagi
bayangannya!
Ia mendongak keatas, tapi Gouw Ya Pa tidak keliatan
turun.
“Gouw toako, lekas turun.” Ia berkata kepada kawannya.
Dua kali ia memanggil, baru kelihatan Gouw Ya Pa
tongolkan kepalanya.
“Aku… aku tidak… bisa turun… “Jawabnya.
Ia tampak Gouw Ya pa tengan kesakitan, kedua
tangannya memegangi pinggangnya, napasnya memburu.
Tanpa banyak bicara, Ho kie lantas memondong sang
kawan lantas meloncat turun ke bawah.
Ia terus lari kira2 tiga atau empat lie jauhnya, mendadak
dirasakan Gouw Ya pa sudah tidak ada suaranya, Ia lalu
hentikan kakinya, Gouw ya pa diletakkan ditanah. Ia coba
periksa pernapasannya, ternyata sangat lemah, sudah terang
bahwa luka kawannya ini sangat berat.
Ia lalu duduk bersila, telapakan tangan kirinya diletakkan
diatas jalan darah Leng thay-hiat, dengan kekuatan tenaga
Iweekangnya sendiri ia salurkan kedalam dirinya Gouw Ya
pa, untuk menyembuhkan lukanya.
Kira2 satujam lamanya diatas kepala Ho kie nampak
mengepul ada hawa panas, napasnya tersengal2, maka ia
terpaksa hentikan usahanya untuk sementara.
Ia coba memeriksa keadaan sekitarnya, ternyata disitu
ada tempat yang penuh tumbuh2an rumput tebal dan
bunga2 yang beraneka warna. Tidak nyana setelah
berlalunya malam, ia dapat menemukan tempat yang
seindah itu.
Kala itu, disebelah timur sudah kelihatan sedikit sinar
kuning, nampaknya sudah dekat terang tanah.
Ho kie menghela napas, selagi hendak melanjutkan
usahanya untuk mengobati kawannya, mendadak terdengar
suara orang berjalan, ia segera tarik kembali tangannya dan
lompat bangun.
Ketiak ia membuka matanya tidak jauh dari tempat itu
ada sebuah pohon, maka ia lantas gendong Gouw Ya Pa,
dibawa sembunyi dibelakang pohon tersebut.
Tidak antara lama, kelihatan satu bayangan orang
menghampiri padanya dengan gerakan yang amat gesit.
Orang itu memakai pakaian serba putih, tangannya
membawa kipas. bukankah itu Lim kheng? tanya Ho kie
pada dirinya sendiri.
Ho kie sungguh tidak nyana dalam keadaan demikian
bisa bertemu dengan Lim kheng lagi, maka lantas lompat
keluar dan memanggil padanya.
“Lim heng…”
Tapi mendadak ia ingat bahwa Lim kheng sebetulnya
seorang wanita, tidak seharusnya ia panggil hengte. maka
buru2 merubah:
“Enci Lim, aku mencari kau setengah mati.”
-ooo0dw0ooJilid
7
ORANG BERBAJU PUTIH itu hentikan tindakannya,
tapi ketika mengawasi Ho kie, parasnya menunjukkan
perasaan heran, lantas hendak berlalu lagi.
Ho Kie sangat cemas, ia memanggil pula dengan suara
keras :
“Enci Lim, harap suka tunggu sebentar, aka ada sedikit
perkataan hendak disimpaikan padamu!”
Tapi orang itu tidak menoleh sama sekali, bahkan lari
pergi dengan cepat.
Ho Kie terus mengejar, sebentar saja sudah melalui
perjalanan beberapa lie jauhnya.
Ho Kie kuatir ia tidak dapat menyandak, ia juga
kuatirkan lukanya Gouw Ya Pa, maka sambil mengejar ia
terus bicara hampir meratap :
“Enci, aku mohon sukalah kau beri kesempatan padaku
untuk menjelaskan duduknya perkara… ”
Tapi orang yang diajak bicara terus kabur seolah2 tidak
dengar perkataannya.
Ho kie tambah penasaran, ia terus meratap:
“Enci, apa salahnya aku? apa kau tidak sudi memberi
kesempatan untuk aku untuk menjelaskan? Berilah aku
kesempatan, selanjutnya kau tidak mau perdulikan aku lagi,
aku juga rela…”
Ucapannya itu agaknya menggerakan hatinya pemuda
baju puti itu, maka lantas menhentikan tindakan kakinya.
Ho kie girang sekali hendak mendekati, pemuda baju
putih itu lantas membentak:
“Berdiri disitu!”
Ho kie terpaksa berhenti. “enci, mau kah kau detar
bicaraku?”
“Kau hendak bicara apa, kau bole ucapkan disitu saja,
kalau kau berani maju lagi selangkah saja, aku akan segera
menyingkir lagi!” jawabnya dengan tenang.
“Baiklah aku menurut, asal kau jangan lari lagi.”
Pemuda itu ketawa.
Mereka berdiri terpisah kira2 tiga tumbak, tapi Ho kie
merasakan seperti terpisah jauh sekali. Ia ingin maju
mendekati, tapi tidak berani. Maka ia cuma bisa mengawasi
dengan hati mendelu.
Pemuda baju putih itu lama menantikan, agaknya sudah
tidak sabaran, maka lantas berkata dengan suara dingin:
“Bukankah kau hendak bicara? Mengapa kini membisau
saja?”
“Yah.” Ho kie menjawab sambil anggukkan kepalanya.
Banyak perkataan yang hendak diucapkan, tapi saat itu
mulutnya seperti terkancing, ia tidak tahu harus bagaimana
memulainya.
Pemuda itu melirik, lalu berkata pula:
“Aku masih banyak urusan, kalau kau tidak lekas bicara,
aku sekarang hendak pergi lagi.”
“Mau…! Harap tunggu sebentar. aku nanti jelaskan…”
kata Ho kie cemas. Tapi apa yang hendak diucapkan? Ia
tidak tahu.
“Katakanlah!” tegur lagi sipemuda berbaju putih.
“Enci, aku hanya ingin bertanya, dalam hal apa aku telah
membuat kesalahan terhadap kalian?” akhirnya Ho kie
beranikan hati bertanya juga.
“Hanya itu saja?”
“Yah! aku hanya mohon kau suka memberitahukan
padaku, kalau aku benar2 bersalah terhadap kau, sekalipun
kau hendak memaki atau memukul, aku akan terima. Tapi
aku mohon kau jangan perlakukan aku secara demikian.
Saudara Gouw Ya Pa itu ada sebangsa orang kasar, dia
tidak tahu kalau kau…. oh… dia telah bikin robek bajumu!
Terang ini…. kau juga tidak boleh sesalkan kau…”
Pemuda baju putih itu setelah mendengar ucapannya.
hatinya tergoncang Pikirnya: “Ah!! dia begitu erat
perhubungannya dengan perempuan she Lim itu. kalau dia
tau aku bukanlah Lim kheng…”
Saat itu, ia sudah kepingin menjelaskan bahwa ia
bukanlah Lim Kheng, melainkan Giok Sie seng Jie Peng
dari Hian kui kauw.
Tapi, mendadak ia berpikir pula. Ho kie bermusuhan
dengan Hian kui kauw, juga mungkin masih gemas pada
kejadian di Cit lie peng, maka lebih baik tidka dijelaskan.
Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas
menjawab dengan suara dingin:
“Sepotong baju berapa harganya? Sama sekali aku tidak
taruh di hati.”
Mendengar keterangan itu, Ho kie merasa girang.
“Mengapa kau mendadak tinggalkan aku?” Demikian
katanya.
Jie peng diam2 merasa geli, tapi mulutnya berkata
dengan suara dingin
“kalau aku berbuat demikian, siapa yang bisa melarang?”
Ho kie melongo, “tpai perbuatanmu ini pasti ada
sebabnya, apakah itu?”
“Tidak ada sebab apa2!”
Sehabis ucapkan perkataannya yang terakhir itu, ia
hendak berlalu lagi.
Perasaan jelus telah menguasai dirinya, ketia Ho kie
mengejar, karena dianggapnya dirinya Lim kheng, perasaan
jelusnya ini semakin tebal, hingga akhirnya berubah
menjadi benci….
Kalau ia tidak lekas2 tinggalkan pemuda itu, barang kali
akan terbuka rahasianya yang ia telah mengaku sebagai
dirinya Lim Kheng.
Dilain pihak, Ho kie yang anggap Jie Peng adalah Lim
kheng, benar2 hatinya semakin gelisah, maka ketika melihat
pemuda baju putih itu hendak berlalu lagi, ia lantas berkata
pula:
“Enci, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
“Apa yang harus dijawab? Aku benci padamu!!”
Ho kie merasa seperti disambar geledek, ia menjerit:
“Enci, apa salahku sehingga kau mempunyai benci aku
sedemikian rupa…?”
“Tidak ada, pendeknya aku merasa benci sekali padamu,
sebabnya apa kau juga tidak tahu. Aku tidak kepingin
bertemu lagi dengan kau, semoga selama hidupku ini aku
bisa menyingkir dari kau, kau boleh anggap saja tidka
pernah bertemu aku, aku tidak akan menjumpai kau lagi!”
Jawaban yang tidak terduga2 itu telah merupakan suatu
pukulan yang hebat bagi Ho kie, sehingga seketika itu juga
lantas berdiri terpaku disitu.
Apa sebabnya Lim kheng mendadak membenci padanya
sedemikian rupa?
Apa lantaran bajunya dibkin robek oleh Gouw Ya Pa?
Tidak mungkin! Tidak mungkin karena urusan sepele itu
ia mendendam begitu rupa!
Tapi ucapannya itu begitu tegas, bukannya bikinan.
Lama ia berdiri bingung sendiri smabil pejamkan mata.
Apa sebabnya Lim kheng berbuat demikian? Pertanyaan ini
selalu berputaran diotakknya, tapi siapa yang mampu
menjawab?
Ho kie memikirkan itu kepalanya seperti mau pecah dan
tatkala ia membuka mata, Lim kheng sudah tidak kelihatan
bayanganya.
Lim kheng sudah pergi jauh, mungkin seperti apa
katanya sendiri, ia tidak akan menjumpainya lagi…
Yang ada cuma tinggal kenang2annya, yah.. suatu
kenangan yang mengharukan. Dalam kenaan dan
pergaulan yang terjadi dalam watu singkat antara Lim
kehng tidak disangka akan meninggalkan bekas yang
tidak enak buat dirinya.
Ia merasa benci, bencinya terhadap dunia yang kejam
ini…
Sudah tentu ia tidak menduga sama sekali bahwa
pemuda dengan sikap yang dingin yang mengaku Lim
kheng, sebetulnya adalah Jie Pang dari Hian kui kauw.
Entah berapa lama Ho kie berdiri bingung demikian rupa
mendadak terdengar suara rintihan dari seorang wanita,
yang kedengarannya makin lama makin dekat.
“Engko Kie!! Engko Kie…” suara itu tegas terdengar
dalam telinganya.
Ho kie terperanjat, badannya gemetaran dengan tiba2.
“Aaa.!! itu ada suaranya Siu Goat Eng!”
demikian ia berkata kepada dirinya sendiri.
Benar! itu memang Siu Goat Eng, yang oleh Thian-sat
sin kun dinikahkan padanya secara paksa.
Bukankah ia sudah ditotok jalan darahnya oleh Gouw
Ya pa? Mengapa bisa datang kemari?
Ho kie lantas ingat dirinya Gouw Ya pa yang masih
terluka, maka buru2 balik menghampiri padanya. Tapi
ketika ia tiba ditempat belakang pohon, disitu telah berdiri
seorang tua dengan satu kaki sambil menunjang dengan
tongkatnya. Orang tua itu adalah Thian sat sin kun yang
jatuh kedalam jurang.
Ho kie diam2 mengeluh. Gouw Ya pa telah
menghajarnya sehingga orang tua itu terjatuh ke dalam
jurang dan sekarang Gouw Ya pa yang sedang terluka
parah telah terjauh dalam tangannya sudah tentu banyak
bahayanya.
Ah, kalau Gouw Ya Pa terbinasa didalam tangan orang
tua itu, bukankah ia sendiri yang telah mencelakakan
dirinya?
Mengingat sampai disitu, ia lantas maju menghampiri si
orang tua dan memohon padanya dengan suara
mengharukan.
“Locianpwe, semua yang telah terjadi telah timbul
karena diriku seorang she Ho seorang,Harap kau mau
melepaskan dia!”
Thian sat sinkun melirik padanya sejenak, lalu berkata
dengan suara dingin:
“Kau juga sudah tahu berbuat salah?”
“Aku merasa tidak pernah berbuat yang sangat
keterlaluan terhadap locianpwe…”
Orang tua itu mendadak membentak dengan suara
bengis dan memotong perkataan Ho kie:
“Bocah she Ho, kalau kau tidak suka menikah dengan
cucuku, mengapa kau cemarkan kehormatannya?”
Pertanyaan itu seperti geledek menyambar kepala,
sehingga Ho kie gelagapan seketika lamanya.
“Perkataan locianpwe ini, sungguh aku kurang paham…”
“Kau masih hendak berlagak pilon dihadapanku? Malam
ini yang kau membiarkan kau berdua anjing berlalu dari
sini. aku akan bunuh diri dengan tongkatku ini…!”
Seiring dengan ucapannya, orang tua itu lantas
membabat Ho kie dengan tongkatnya.
Ho kie menggunakan ilmu Hoan-in sie sek, mengelakan
serangan tersebut.
“Aku… aku tidak…” ia coba membantah.
Tapi serangan si orang tua terus mengancam jiwanya.
Sekejap saja, ia sudah terdesak mundur sampai 10
tombak lebih jauhnya.
Ho kie kini merasa sangat gelisah, Ia masih belum tahu
bagaimana nasibnya Gouw Ya Pa. Kembali harus berdaya
menghindarkan diri dari serangan siorang tua yang
nampaknya sudah kalap. Ia lebih2 heran atas pertanyaan
orang tua itu yang tentang dirinya Siu Goat Eng.
Terang ia belum pernah menjamah diri nona itu,
mengapa orang tua itu mengatakan padanya sudah
mencemarkan diri sinona?
MEndadak ia ingat sesuatu. Ah!! Cilaka!! Apakah itu
bukan perbuatan si tolol Gouw Ya Pa?
Ia masih ingat ketika sidogol itu menggantikan dirinya
naik keatas pembaringan pernah dengar suara rintihan
sinona, bukankah itu perbuatannya?
Mengingat itu, perasaannya jadi kalut sendiri.
Pada saat itu Tongkatnya si orang tua sudah mengancam
didepan matanya.
Ho kie buru2 miringkan kepalanya, tapi lantas
mendengar bentakan siorang tua. “Rebah!!!” ujung
tongkatnya sudah mengenakan pundak kirinya.
Ho kie yang merasakan sakit dipundak kirinya, terpaksa
mundur tiga empat tindak.
“Bocah she Ho, lohu suruh kau merasakan bagaimana
harus menebus dosa atas perbuatanmu yang menodakan
diri gadis orang!” kata si orang tua, lalu menyerang pula
dengan tongkatnya.
Ho kie yang pundaknya sudah sakit, hanya
mengandalkan caranya berkeliat yang sangat luar biasa, tapi
belum 10 jurus, ia sudah mandi keringat karenanya.
Dalam keadaan demikian, mendadak terdengar suara
yang mengharukan
“Engko Kie, Engko kie, kau ada dimana?”
Thian sat sin kum yang mendengar suara itu hatinya
merasa pilu, serangannya lantas menjadi kendor.
Menggunakan kesempatan itu, Ho kie lantas berakta:
“Locianpwe, kau dengar dulu keterangan ku, aku benar2
tidak…”
Belum habis ucapannya itu, sudah dipotong oleh suara
yang memilukan:
“Engko kie, Ah! kau ada disini…”
Berbarengan dengan itu, sesosok bayangan merah lari
menghampiri.
Thian-sat sin kun yang menyaksikan keadaan demikian,
cuma bisa menghela napas.
Siu Goat Eng masih mengenakan pakian kemantinnya,
hanya rambutnya saja yang awut2an menutupi
wajahnya, ia lari sambil pentang tangannya hendak
menubru Ho kie.
“Nona siu, harap mengenal sedikit aturan!” berkata Ho
kie sambil mundur.
Siu Goat Eng tercengang dan hentikan tindakannya, ia
mengawasi dengan sepasang matanya yang bening
“Eh!! kita diantara suami istri masakan masih malu2..?”
Ketiak ia menampak yayanya berdiri disitu dengan sinar
mata gusar, ia agaknya mengerti, maka lantas berkata pula
sambil ketawa:
“Ouw!! kiranya yaya ada disini, kau takut dicela oleh dia?
Tidak apa, yaya paling sayang padaku. selanjutnya kau
akan menjadi cucu menantunya, malu apa…”
Thian Sat Sin kun yang mendengar perkataan cucunya ,
air matanya mengalir turun dari kelopak matanya, sambil
menuding dengan tongkat, ia berkata kepada Ho kie:
“Manusia berhati kejam, apa kau masih ada muka untuk
Bertemu dengan dia?”
Siu Goat Eng bingung mendengar perkataan
engkongnya, dengan perlahan ia mendekati engkongnya,
lalu berkata dengan suara lemah lembut:
“Yaya, mengapa kau begitu marah? sekalipun dia salah,
yaya juga harus pandang cucumu, ampunilah padanya!”
Thian Sat Sin kun hatinya seperti diiris2, sambil
merangkul cucunya ia berkata dengan suara sedih:
“Anak tolol, apa kau masih membantui dia? Bocah
berhati binatang ini….. Dia….. dia sudah tidak sudi kau
lagi…. dia sekarang hendak kabur…!”
Siu Goat Eng agak tercengang, ia berpaling mengawasi
Ho kie.
Ho kie menampak pandangan nona itu agaknya tidak
mengandung rasa kebencian, bahkan lemah lembut, hingga
hatinya merasa tidak enak sendiri.
Sambil ketawa getir, Siu Goat Eng berkata kepadanya:
“Engko kie, aku tahu parasku jelek, tidak pantas turut
menjadi istrimu, tapi….”
tiba2 ia menghela napas “Tapi….paras jelek itu
pembawaan dari lahir, karunia Tuhan, bagaimana aku bisa
merubah? Kalau kau tidak menampik, seumur hidupku ini
aku bisa melayani kau setulus hatiku, aku akan bantu
mengurus rumah tanggamu, mencuci pakaianmu, memasak
untuk kau. Kalau kau hendak kawin lagi dengan wanita
yang cantik, aku juga tidak melarang, aku cuma
menginginkan bisa merawat keturunan kita yang bagus dan
cantik.. itu saja aku sudah puas….!”
Thian Sat Sin kun hatinya semakin pilu, dengan suara
sedih ia berkata:
“Anak tolol, buat apa kau meminta2 padanya demikian
rupa, dia ada seorang yang tidak berbudi dan tidak
mempunyai perhatian, biarlah yayamu binasakan padanya.
yayamu nanti carikan laki2 lain yang lebih cakap darinya…”
“yaya, kau jangan berkata demikian, Pepatah ada kata”
Nikah dengan ayam harus mengikuti ayam, nikah dengan
Anjing, harus mengikuti anjing. Eng ji meskipun jelek, tapi
juga mengerti apa artinya kesucian dan kewajiban sebagai
seorang perempuan. Hidupku menjadi orang keluarga Ho,
mati juga aku akan menjadi setannya keluarga Ho!”
Thian Sat Sin kun menghela napas panjang, ia kerutkan
alisnya, yang sudah putih cuma bisa menjawab sambil
anggukkan kepalanya::
“Anak baik!! anak baik!!”
Ho kie merasa malu dan pilu serta menyesal, ia lalu
berkata sambil menyoja:
“Budi dan kecintaan nona, aku siorang she Ho merasa
banyak2 terima kasih. tapi………..”
Tapi Siu Goat Eng lantas memotong:
“Tidak usah pakai tapi2 lagi, kalau kau merasa aku
terlalu jelek, bawalah aku disampingmu, aku bisa
membawa diri sebagai bujangmu yang akan melayani kau,
tidak akan nanti aku akan membuat kau malu….”
Ho kie merasa sangat terharu, ia hampir tidak dapat
menahan air matanya:
“Aku siorang she Ho, bukannya orang yang pamer paras
cantik dan jemu terhadap paras jelek, cuma saja aku merasa
tidak ada mempunyai peruntungan untuk menerima
kebaikan nona!”
“Mengapa? kita toh sudak menikah.. bahkan sudah…”
“Ho kie mendadak memotong dengan suara agak keras:
“Noan Siu, harap kau suka dengar keteranganku,
dimalam perkawinan kita itu, orang yang tidur bersama2
dengan nona bukanlah aku si orang she Ho..”
Ucapan itu telah membuat Thian Sat Sin kun dan Siu
Goat Eng pada pucat, mereka lompat mundur beberapa
tindak dan bertanya hampir berbareng:
“Apa benar? dan siapa dia?”
-oo0dw0oo-
DENGAN perasaan sangat malu Ho kie menjawab
dengan suara perlahan:
“Dia adalah sahabat ku, ialah saudara Gouw Ya Pa yang
terluka dibawah tongkat locianpwe!”
Siu Goat Eng mendengar keterangan itu lantas menjerit
seketika dan jatuh pingsan….
Thian Sat Sin kun repot, buru2 menolongi dan menotok
jalan darah sang cucu, kemudian berbangkit sambil pegang
erat2 tongkatnya.
“Manusia rendah yang tidak tahu malu!” Bentaknya
dengan sangat gusar,
“Bagus sekali kalau mengandalkan akal bangsatmu, kau
anggap apa si orang she Siu ini?”
“locianpwee aku…..” perkataannya Ho kie belum
lampias, Thian sat sin kun sudah menggeram sambil
menyapu dengan tongkatnya.
Lengan kirinya Ho kie sudah tidak leluasa digerakkan,
tapi dengan menggunakan kegesitan kakinya ia berhasil
menghindarkan serangan tersebut.
“Locianpwee, kasihlah kesempatan aku untuk berikan
penjelasan..”
“Binatang.. apa lagi yang kau hendak bicarakan?”
Orang tua itu rupanya sudah gelap pikirannya, ia
menyerang lagi dengan senjata kalap. Ia kepingin bisa
membinasakan Ho kie pada seketika itu juga.
Ho kie merasa sakit dan gelisah, dengan terpaksa ia
mengandalkan kegesitannya berkelitan, tapi nampaknya
sudah hampir kewalahan.
Mendadak ia dapat satu pikiran, “soal ini adalah sulit
untuk dijelaskan, sebaiknya aku menyingkir dulu, kemudian
mencari kesempatan suruh Gouw Ya Pa yang menebus
dosa ini”.
Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas
mengeluarkan serangannya sambil mundur dan berseru:
“Locianpwee, harap kau jangan terlalu mendesak.”
“Kalau kau mempunyai kepandaian boleh keluarkan,
kalau aku si orang tua tidak bisa membinasakan kau,
bagaimana ada muka untuk menemui cucuku?”
Ho kie pura2 gusar, ia melancarkan serangannya yang
hebat, Thian sat sin kun terpaksa berlaku hati2. tapi tidak
urung Ho kie dengan menggunakan ilmunya yang aneh
sekali dapat meloloskan diri dari bawah tongkatnya
kemudian dengan cepat melesat ke tempatnya Gouw Ya Pa
dibelakang pohon besar.
Keadaan Gouw Ya Pa sungguh menggenaskan,
wajahnya kering pucat,ia rebah terlentang dengan napas
sudah hampir hilang.
Ho kie tidak mempunyai waktu untuk memeriksa
lukanya Gouw Ya Pa, dengan cepat ia pondong pergi…….
“Binatang, kau masih mengharap kabur?”
Suaranya si orang tua sudah sampai disusul oleh
serangannya.
Dalam keadaan kepepet, Ho kie terpaksa menggunakan
ilmu Kim-na-khiu hoat, dengan tangan kirinya ia merebut
ujung tongkat siorang tua.
Siapa nyana, siorang tua itu sudah seperti kerbau
gila, dengan sekuat tenaga ia mendorong tongkat yang
dicekal ujungnya oleh Ho kie. sehingga anak muda itu
mundur sempoyongan beberapa tindak, akhirnya jatuh
duduk ditanah.
Thian sat sin kun perdengarkan suara ketawanya yang
aneh, tongkatnya diayun, membabat kepalanya kedua
pemuda itu.
Selagi dalam keadaan sangat berbahaya mendadak
terdengar suara bentakan, kemudian disusul oleh
munculnya dua bayangan orang. Satu berpakaian putih,
satu lagi berpakaian kelabu.
Orang berpakaian kelabu itu kakinya belum menginjak
tanah, nampak sudah mengebutkan lengan bajunya, dari
situ meluncur sebuah benda berkeredepan menyerang
tongkat siorang tua.
“Trang!” Suara beradunya barang keras terdengar
nyaring. Thian sat sin kun dan orang yang menyerang
sama2 pada mundur dua tindak.
Thian sat sin kun terkejut. Ketiak ia menegasi siapa
lawannya ternyata seorang wanita tua yang wajahnya sudah
keriputan, rambutnya putih seperti perak. Bersama seorang
pemuda yang berdandan seperti anak sekolah, sedang
berdiri melintang didepan Ho kie dan memandang padanya
dengan mata mendelik.
Siorang tua mendadak ingat dirinya seseorang:
Dalam kagetnya, kakinya mundur lagi setindak, lalu
berkata dengan suara keren:
“Owh!! Kiranya kau masih belum mampus!”
Nenek2 itu ketawa dingin, matanya mengawasi dengan
sorot mata keheran2an.
“Aku kira siapa? Kiranya adalah kau si tua bangka!”
Jawabnya dengan suara dingin.
“Kau Hun lie-go, adatmu yang kukoay itu benar2 masih
seperti dulu! Apa kau masih ingat pertemuan kita diatas
Cay Sak kie? Tidak nyana kita bertemu lagi disini.
Nampaknya kau masih tetap merupakan seorang wanita tua
yang masih cantik!” kata Thian sat sin kun dengan ketawa
bergelak2.
“Pantas muridku mencari kau dimana2 tidak bisa
menemukan., kiranya kau umpetkan diri sini? Aku siorang
tua karena menghormati kau sebagai orang tingkatan tua,
aku tidak jadi kecil hati. Tapi harap kau tahu diri sedikit,
jangan nyeloncong tidak keruan!” jawabnya si nenek dingin.
“Tidak nyana Kau lun lie mo si wanita genit yang dulu
pernah membikin banyak laki2 tergila2, sekarang juga
mengerti apa artinya tahu diri. Sungguh aneh bin ajaib.
Hahahahaha…!” mengejek siorang tua.
“Tua bangka she Siu, kau hidup sampai begini tua,
agaknya sudah masih tetap kotor mulutmu, apakah kau
sudah bosan hidup?”
“Mendengar perkataan mu, apa barangkali kau sudah
bekerja sama dengan muridku yang durhaka, Jie Hui itu,
dalam perkumpulan Hian kui kauw?”
“Jie Hui ada sagat menghargakan orang2 tua, didalam
Hian kui kauw khusus disediakan satu tempat yang disebut
Cun-Hian-Koan, mengundang semua jago dari golongan
tua untuk diberi kenikmatan dihari tuanya. Diantara begitu
banyak jago2 tua, hanya kurang kau satu orang tua yang
pernah menjadi gurunya. Disini ternyata kau punya adat
dan martabat, bagaimana kau bisa sesalkan orang lain kalau
tidak mau anggap kau sebagai sahabat, sedangkan muridmu
sendiri juga tidak anggap kau sebagai guru?”
“Kalau begitu, murtadnya Jie Hui adalah karena diogok
oleh bangsa kalian orang2 jahat. Bagus sekali lohu kepingin
mengunjungi Kui kok. untuk menyaksikan orang2 tua yang
dipandang jago2 tua itu sebenarnya orang macam apa?”
“Siu It Ciu, barang kali kau tidak cukup panjang
umurmu untuk mencapai maksudmu itu!”
“Sekarang aku hendak mencoba kekuatan siwanita
genit!” Siu It Ciu membentak sambil delikkan matanya.
Sedang tongkatnya juga tidak kelihatan, lantas membabat
kepalnya sinenek.
Si nenek yang disebut Kau Lun Lo mo itu tertawa
dingin, sambil kakinya menyambuti serangan siorang tua
dengan tongkatnya juga.
“Trang!!” Suara keras terdengar nyaring. sinenek dibuat
mundur tiga tindak. sedang Siu It Ciu sediri juga mundur
beberapa tindak.
“Kau lun lie mo, sungguh tidak kecewa kau menjadi
pujaan dalam Cun Hian koan, kekuatanmu ternyata lebih
hebat dari dulu. coba kau sambut seranganku sekali lagi.!”
Demikian Thian sat sin kun mengejek, kemudian
tongkatnya diangkat untuk menyerang lagi.
Kau lun lie mo berdiri tegak dengan sepenuh tenaga ia
menyambuti lagi serangan siorang tua.
“Trang!” kembali suara beradunya kedua senjata tongkat
terdengar nyaring. Kedua fihak mundur beberapa tindak.
Tapi Siu It Ciu masih berdiri tegak diatas kaki tunggalnya,
sedangkan Kau lun lie mo karena kekuatannya masih kalah
setingkat, berdiri agak sempoyongan. mulutnya
mennyemburkan darah segar!
“Kau lun lie mo, sekarang kau sudah merasakan sendiri
bagaimana tongkatku ini?”
bertanya Thian sat sin lun sambil ketawa puas.
Kau lun lie mo wajahnya pucat, tangannya yang
digunakan untuk memegang tongkat bergemetaran.
“Siu It Cin, kapan kau hendak ke kui kok?”
“Setelah membereskan persoalanku, nanti aku akan
kesana untuk melihat sahabat lamaku!”
“Baik!! Aku nanti yang akan menunggu kedatanganmu!”
Siu It Cin dengan gemas memandang Ho kie dan Gouw
Ya Pa, lalu memondong cucunya dan lari laksana terbang.
Sinenek lalu berkata kepada sipemuda baju putih yang
berada disampingnya:
“Nona Peng mari kita pergi!”
Ho kie tadinya masih menganggap pemuda baju putih itu
adalah Lim kheng, ketika mendengar panggilan si nenek ,
Nona Peng, hatinya hampir lompat keluar.
Lantas Gouw Ya Pa diletakkan ditanah dan ia sendiri
lompat bangun.
Pemuda baju putih yang bukan lain dari pada Giok Sie
seng Jie Peng melirik kepada Ho kie lalu menghampiri
padanya dengan tindakan perlahan.
Ho kie buru2 melintangkan tangannya didepan dada dan
bertanya dengan suara tidak lampias.
“Kau…kau adalah….”
“Aku adalah orang yang pernah kau jumpai didalam Thit
lie kang dan dalam kuburan di Ngo kui-Cie. Apa kau sudah
lupa?”Jawab Jie Peng sambil tertawa.
Bukan main herannya Ho Kie, sampai ia berseru dan
kemudian mengedumel sendiri, “Ya Allah, mengapa begitu
mirip?”
Dengan sikapnya yang lemah lembut, Jie Peng berdiri
sejarak lima kaki dihadapan Ho kie lalu berkata sambil
menunjuk Gouw Ya Pa dengan kipasnya:
“apakah sahabatmu ini lukanya parah?”
“Benar! ilmu kebalnya sudah dibikin buyar oleh orang
tua itu, lukanya tidak ringan.”
Jie Peng keluarkan sebotol obat dalam sakunya, lalu
disodorkan kepada Ho kie sambil berkata:
“Ini adalah obat yang khusus digunakan untuk luka di
dalam. kau boleh berikan kepadanya!”
Ho kie ulurkan tangannya, tetapi mendadak hatinya
tercekat, Tangannya ditarik kembali dengan cepat dan
berkata dengan suara keras:
“Apakah kau orangnya Hian kui kauw?”
“Ini ada hubungan apa dengan Hian kui kauw?” Balas Jie
Peng sambil tersenyum.
“Kita dengan Hian kui kauw adalah mempunyai
permusuhan yang dalam. Barusan meskipun kalian pernah
memberi pertolongan kepada kami, tetapi rasanya tidak
pantas memakan obat pemberianmu ini.”
Kau hun lie mo yang mendengar perkataan itu, dalam
hati merasa gusar, ia lantas berkata sambil tertawa dingin:
“Nona Peng, obat Kiu-Coan wan ini dibuat oleh ayahmu
secara tidak mudah. Manusia yang tidak kenal budi ini,
perlu apa kau perlakukan baik padanya. Sayang2 obat
demikian mujarabnya.”
Jie peng tidak ambil perduli omongn Kau hun lie mo, ia
berkata pada Ho kie sambil tertawa manis.
“Meskipun betul kau mempunyai permusuhan dalam
dengan Hian kui kauw, tetapi tidak demikian dengan
sahabatmu ini. Obat ini aku berikan padanya, tolong kau
yang memberikan, apakah itu tidak boleh?”
“Aku si orang She HO karena merasa pernah menerima
bantuanmu, hari ini aku tidak mempersoalkan permusuhan
kita. Tentang luka sahabatku ini, aku percaya masih bisa
mengobatinya sendiri. Tidak perlu kau turut capaikan diri.”
Jie Peng wajahnya berubah merah, terpaksa obatnya
disimpan lagi, diam2 pula putar tubuhnya dan berlalu
dengan tindakan perlahan. Tetapi belum berapa jauh ia
berjalan mendadak ia memutar tubuhnya dan bertanya
dengan suara pilu:
“Kau sebetulnya ada permusuhan apa dengan Hian kui
kauw?”
Ho kie menatap wajah Jie Peng. dilihatnya dikedua pipi
nona itu sudah basah dengan air mata. sehingga membuat
pikirannya agak terguncang…
Tetapi kematian ayahnya yang sangat menggenaskan
kembali terbayang diotaknya, pengalamannya sendiri yang
mengerikan telah menimbulkan rasa dendam yang sangat
dalam.
Dendam. Dendam!!! ini merupakan suatu dendam Sakit
hati yang tidak dapat dihapus untuk selama2nya dan harus
dicuci dengan darah.
“Permusuhan aku si orang she Ho dengan orang2 Hian
kui kauw mungkin tidak bisa dibikin habis untuk
selama2nya. Ini saja keterangan yang dapat ku katakan.
Bagaimana pikiran nona, itu terserah!” jawab Ho kie sambil
angkat kepala.
Kelihatan Jie Peng sangat berduka, Ia menghela napas
berulang2, lama baru ia bisa berkata pula:
“Aku tidka bisa berkata apa2, aku hanya mengharap
supaya permusuhan diantara mereka dari golongan tua
jangan diperhitungkan dipundaknya golongan muda seperti
kita. Ho Siao hiap, meskipun kau pandang musuh padaku,
demikian rupa, tetapi aku masih menganggap kau sebagai
sahabat baik.”
Ho kie tertegun, Dengan tidak sadar ia lalu mundur
beberapa langkah. Kedua matanya memancarkan sinar
aneh. semua perkataan Jie Peng seperti palu besar yang
mengetuk hatinya.
Memang sebenarnya meskipun ia sendiri bermusuhan
dengan Kauwcu hian kui kauw, begitu pula dengan Pun-tui
ciu, Do Pao, tetapi dengan cara Jin Peng yang lemah
lembut ini ada permusuhan apa?
Hian kui kauw masih mempunyai ratusan, bahkan
ribuan pengikut, apakah mereka itu semua adalah
musuh2nya?
Dengan pikiran sangat kalut Ho kie mengawasi Jie Peng
yang tengah terlalu meninggalkan padanya. Ia merasa
seperti tenggorokannya terkancing. Sebetulnay banyak
perkataan hendak diucapkan. Tetapi tidak bisa dikeluarkan.
Bayangan Jie Peng makin lama makin jauh dan akhirnya
hilang dari pandangan matanya.
Hati Ho kie merasa bingung seolah2 sedang berada
ditengah kabut tebal yang tidak dapat membedakan jurusan
mana yang hendak ditemptuh.
Kau lun lie mo mengawasi padanya, Lama baru berkata
dengan suara dingin:
“Seorang bodoh yang tidak kenal budi!”
Ho kie terperanjat, ketika pentang matanya si nenek
sudah melesat menyusul majikannya.
Ia menghela napas panjang, lalu menghampiri Gouw Ya
Pa. Setelah digendong lagi,ia lantas berlalu dengan tindakan
lebar.
Malam sudah berlalu, sang pagi mendatangi. Ho kie
berjalan sambil tundukkan kepala, kakinya dirasakan sangat
berat untuk melangkah. Selama dalam perjalanan sudah 2
kali ia mengobati Gouw Ya Pa, tetapi hasilnya nihil.
Ia sangat kuatir dan gelisah. Sambil kertak gigi ia
menahan penderitaan dalam dirinya. Auw Yang khia sudah
mencuri kalajengking emas, pemunah racun. Lim kheng
juga sudah berlalu tanpa pamit. Sekarang ditambah lagi
lukanya Gouw Ya Pa yang sukar disembuhkan oleh
usahanya sendiri. Bagaimana Ho kie tidak jadi jengkel?
Sudah dua hari Gouw Ya Pa tidak makan dan minum,
napasnya semakin lemah seperti orang mau mendekati
ajalnya. Ternyata ia mencari tempat sunyi dibawah kaki
gunung untuk mengobati Gouw Ya Pa dengan kekuatan
Lweekangnya.
Setelah berkutet satu jam lamanya. Ho kie dijidatnya
sudah bermandikan keringat, napasnya tersengal2. Tapi
Gouw Ya Pa saat itu parasnya sudah kelihatan merah,
kemudian bisa mebuka matanya perlahan2 dan menatp
wajah Ho Kie.
Ho kie menampak sorot mata Gouw Ya Pa ternyata
suram, dalam hati merasa kaget, ia buru2 bertanya:
“Gouw Toako, apa kau merasakan sudah agak baikan?”
Gouw Ya Pa menjawab dengan susah payah sambil
gelengkkan kepalanya.
“Aku… aku barang kali……. sudah tidak ada harapan
lagi…”
Hati Ho kie seperti diiris2 dengan tanpa dirasa air
matanya mengalir keluar.
“Gouw Toako, ini adalah gara2 aku yang mencelakakan
dirimu…” demikian Ho kie berkata dengan suara pilu.
“Bagaimana bisa salahkan kau? Aku dengan kau sudah
bergaul sudah seperti saudara saja. Untuk kau sekalipun aku
sudah mati seratus kali aku juga merasa senang. Hanya…
Dalam hatiku masih mempunyai sedikit urusan yang belum
bisa dapat kulepaskan begitu saja…”
“Kau masih ada urusan apa? Katakan saja kepadaku.
ASal aku masih punya tenaga, sekalipun harus terjun
kelautan api juga akan kulakukan…”
“Aku juga tidak mempunyai sanak keluaraga. Dengan
kau sudah kuanggap sebagai saudara sendiri, Jika urusan ini
hanya dapat diberitahukan kepadamu saja.”
“Gouw toako, katakan saja, Pasti kubantu
menyelesaikannya.”
Gouw Ya Pa kelihatan susah untuk mengeluarkan
ucapannya, lama baru ia bisa berkata dengan perlahan.
“Apa yang dalam hatiku kurasakan sukar dilepaskan
adalah itu nona jelek didalam goa..”
Ho kie terperanjat:
“kau maksudkan, apakah cucu perempuan Thian sat sin
kun itu?” tanyanya?
Gouw Ya Pa anggukkan kepalanya.
“Benar! adalah cucu perempuannya orang tua itu.
Dengan terus terang malam itu aku telah berbuat gelo!” ia
mengakui dosanya.
Ho kie lantas ingat apa yang dikatakan oleh Thian sat sin
kun yang mengatakan bahwa ia telah mencemarkan
kehormatan cucunya.
“Kau kata, apakah malam itu kau sudah berbuat tidak
pantas dengan dia?”
“Eii, mengapa kau sudah tahu?”
“Toako, kau tidak usah bilang apa2 lagi. Soal ini aku
sudah mengerti. Selanjutnya kau adalah cucu menantunya
Thian sat sin kun. asal ada ksempatan sudah tentu aku akan
menjelaskan persoalan itu padanya.”
Gouw Ya Pa anggukkan kepala dengan perasaan
bersyukur. Sambil menghela napas ia berkata pula:
“Ah! seumur hidup aku belum pernah mendekati orang
perempuan. Tetapi pada saat itu entah apa sebabnya aku
sudah berbuat begitu gelo. Saudara Hoa, kau toh tidak akan
sesalkan aku?”
“Kenapa aku mesti sesalkan kau? soal ini…….”
Pada saat itu mendadak ada orang memotong sambil
ketawa dingin:
“Ho siaohiap, Lolap sudah lama menunggu kau.”
HO kie terperanjat, ketika ia mengangkat wajahnya
bukan main kagetnya. Ternyata ia sudah dikurung oleh
segerombolan manusia, diantara meraeka terdapat orang2
biasa, imam dan padri. Jumlahnya tidak kurang dari dua
puluh orang dan masing2 pada membawa senjata tajam.
Orang yang berdiri dibarisan terdepan ada tiga, satu
memakai pakaian padri berwaran kuning, satu berdandan
seperti orang biasa, dan yang satunya lagi memakai pakaian
imam dan di punggungnya membawa pedang tua.
Terhadap orang2 ini, satupun tidak ada yang ia kenal, ia
tidak mengerti, mengapa mereka mengetahui namanya dan
apa maksud mereka mengurung dirinya?
Ia berbangkit dengan perlahan, matanya menyapu
kawanan orang2 itu dan akhirnya mengawasi si padri baju
kuning.
Padri itu kira-kira sudah berusia tujuh puluhan tahun,
alisnya yang panjang kelihatan menurun, matanya
memancarkan sinar tajam. Terang ia adalah seorang tua
yang mempunyai dasar Iweekang yang sudah sempurna.
Ho kie bertanya dengan tenang:
“Lo suhu dari mana? mengapa mengetahui namaku yang
rendah?”
“Ho siaohiap dalam waktu yang sangat singkat dengan
mengandalkan kepandaianmu yang luar biasa telah
membuat namamu terkenal di dunia kangouw. Sudah lama
lolap mendengar kabar tentang dirimu, tetapi hari ini baru
ada jodoh untuk kita saling bertemu.” jawab sipadri baju
kuning itu sambil tersenyum.
“Apa itu betul? Dan Lo suhu ada orang dari golongan
mana?” HO kie bertanya kaget.
“Lolap bergelar Hui-kat ketua dari Ngo bie pay.”
Ho kie terperanjat, diam2 ia berpikir “Mengapa ciang
bun jin Ngo bie pay juga datang kemari?”
Secepat2nya ia menindan perasaannya yang tegang lalu
berkata pula sambil menyoja:
“Aku yang rendah baru saja terjun ke dunia kangouw,
sehingga belum mengenal lo suhu. Harap supaya Lo suhu
suka memberi maaf.
Hui kak siansu cepat2 membalas hormat sambil
merangkapkan kedua tangannya dan berkata sambil
tertawa.:
“Mana bisa begitu, sebaliknya adalah lolap yang terlalu
ceroboh. Harap Ho siaohiap tidak kecil hati.”
Ho kie lalu mengawasi orang tua yang berdandan biasa
yang berdiri dikiri padri tadi, lalu berkata sambil menyoja
dihadapannya:
“Harap cianpwe ini memberitahukan nama cianpwe
yang mulia.”
Orang tua yang berwajah kelimis dan berbadan kurus
kering itu lantas menjawab sambil membalas hormat.
“Aku siorang tua bernama Tio Thian Ek, sekarang
memangku jabatan ketua partay Tian-cong pay.”
Kembali Ho kie terkejut. Kemudian memandang orang
tua berpakaian imam.
Belum membuka mulutnya, orang tua itu telah berkata
dengan suara dingin:
“Nama pinto yang rendah, kiranya Ho siaohiap sudah
pernah dengar!”
“Aku yang rendah masih belum mempunyai pengalaman
apa2, bagaimana pernah dengar? ” menjawab Ho kie heran.
“Pinto Thian-hian, ketua Hoa san pay, Ho siaohiap
sudah melukai orang2 kami, dan menjatuhkan kedua sute
pinto, apakah sudah lupa?”
Mendengar keterangan itu, Ho kie terkejut. Ia menyapu
orang2 disekitarnya. mereka pada mengawasi padanya
dengan sorot mata beringas, dengan tanpa banyak bicara
mengurung dirinya.
Ia memang ada seorang muda beradat tinggi,
menyaksikan keadaan demikian, sebaliknya lantas hilang
rasa kedernya, lantas menjawab sambil ketawa dingin:
“Apa maksudmu totiang mengajak ketua Ngo-bie dan
Tiam khong serta banyak orang ini mengurung aku yang
rendah?”
“Ho siaohiap kita sebagai orang terang tidak perlu
berbuat menggelap. Di Ngo kui cio kau telah
membinasakan banyak jiwa, merampas benda pusaka
kalajengking emas, kejadian ini belum berapa hari saja.
apakah kau sudah lupa semuanya?” jawab Thian hian
totiang sambil ketawa menyindir.
“Peristiwa di Ngo kui khiu, kenapa kau tidak berani
menanyakan kepada Hian kui kauw?”
“Hian tancu dari Hian kui kauw, Li Hui Hoaw, juga
terbinasa dalam kuburan tua. Ho siaohiap yang masih
begini muda sungguh tidak nyana ada begitu cerdik, bisa
menggunakan akal untuk melimpahkan dosanya kepada
orang, supaya Hian kui kauw dengan Hoa san pay kedua
partay saling bunuh dan kau sendiri akan memungut
untungnya?”
Ho kie mendengar perkataan imam tua itu lantas gusar
seketika.
“Totiang cuma berani menghina yang lemah dan takuti
yang kuat. Kau tidak berani mengganggu Hian kui kauw,
sebaliknya berlaku begini garang kepada diriku seorang
yang lemah. Heh.. heh.. kau siorang she Ho meskipun
cuma seorang diri, tapi tidak nanti takut kepada Hoa san
pay yang mengandalkan jumlah banyak.”
“Tutup mulut! Apa kau kira pinto tidak berani
menempur kau sendirian?”
Hui kak siansu yang melihat kedua pihak sudah mau
bergebrak cepat2 berkata dengan suara nyaring:
“Omitohud! Bolehkah Ho siaohiap dengar perkataan
Lolap dulu?”
“Lo suhu adalah salah satu ketua dari partai besar, sudah
tentu aku si orang she Ho akan hargakan perkataanmu!”
jawab Ho kie.
“Hoa san pay telah kehilangan banyak orangnya di Ngo
kui cio. Ho siaohiap boleh mengatakan tidak tahu tentang
ini, tetapi itu kalajengking emas yang sangat berharga,
apakah Ho siaohiap yang mengambil dari kuburan?”
Ho kie tercengang, dengan tidak berasa ia telah mundur
satu tindak, Ia hanya bisa menjawab: “Tentang ini…..”
Ketua Tiam khong pay, Tio Thian Ek tiba2 nyeletuk:
“Orang she Ho! Seorang laki2 berani berbuat harus
berani pula bertanggung jawab. Apakah kau hendak
menurut perbuatannya manusia yang tidak tahu mau itu
yang hendak cuci tangan begitu saja?”
Ho kie sangat gusar, mendadak ia mendongak dan
ketawa bergelak-gelak..
Thian Hian totiang dengan sorot matanya yang beringas
mendadak membentak dengan suara bengis
“Bocah sombong! apa yang kau ketawakan?”
“Ho kie adalah seorang laki2 sejati. Bagaimana tidak
berani mengaku perbuatannya sendiri? Memang benar
benda pusaka kalajengking emas itu adalah aku siorang she
Ho yang mendapatkan. Tetapi bukannya didapatkan dari
tangan orang2 Hoa san pay Lo Su Ie.”
“Dari tangan siapa kau dapatkan barang itu?” memotong
Thian hian Totiang.
“Aku dapat benda itu dari tangan siorang cebol, Shao Cu
beng.”
Thian hian totinga lalu mengawasi Hui kak siansu dan
berkata padanya sambil ketawa dingin:
“Siansu sekarang kau bolehlah percaya bahwa ucapan
pinto tidak bohong! Bocah she Ho ini perkataannya
melantur tidak keruan. Benar2 menggemaskan.”
“Omitohud! Anak muda jangan suka membohong.”
“Perlu apa siansu banyak capaikan hati?”
Tio Thian Ek menyelak. “Aku situa bangka sungguh
tidak suka dengan sikap bocah yang kurang ajar ini. Lebih
baik tangkap saja dan geledah dirinya.”
Ho kie yang mendengar perkataan itu naik darah
seketika.
“Ho siaohiap.” Hui kak Siansu berkata pula kepada Ho
kie. “Lolap hendak mengatakan sepatah kata yang mungkin
tidak enak didengar. Kalajengking emas itu adalah
kepunyaan Hoa san pay, sudah seharusnya kalau
dikembalikan kepada Thian hian totiang. Dengan
demikian, permusuhan kedua pihak boleh segera
dihapuskan…..”
“Tadi sudah kujelaskan dengan tegas, Benda itu
sebenarnya bukan kepunyaan Hoa san pau, apalagi aku
dapatkan itu dari tangannya si orang she Shao” Jawab Ho
kie gusar.
“Ho siaohiap tidak perlu membantah, Shao Cu beng
sudah menjelaskan semua persoalan kepada Hoa san pau.
Tidak seharusnya Ho siaohiap membunuh mati Lo
Khungcu dan membawa kabur kalajengking emasnya.”
“Mereka semua telah memfitnah aku. Apa yang bisa ku
perbuat?”
“Orang she Ho, jangan banyak rewel. Kau mau
keluarkan atau tidak?” membentak Tio Thian Ek.
“taruh kata kalajengking emas itu benar ada dibadanku,
kau mau apa?” Ho kie tetap tidak mau mengalah.
“Aku si tua bangka nanti suruh kau rasakan sendiri!”
Bentak Tio thian Ek yang lantas menghunus pedangnya.
Ho kie lantas ketawa bergelak2 seraya berkata:
“Tuan2 telah mengandalkan pengaruh yang besar dan
mendesak aku sedemikian rupa. Terpaksa aku melawan.”
Tio Thian Ek hanya ketawa dingin. ia lantas memutar
pedangnya, dengan tipu serangan, Lo ma Hun ciong,
pedangnya menikam dada Ho kie.
Ho kie hanya bertangan kosong, tidak membawa senjata
apa2. tetapi ia tidak takut…Kakinya digeser dan tangannya
diputar, dengan berani ia menyambuti tangan Tio Thian Ek
yang memegang pedang.
Gerak tipu anak muda itu yang sangat luar biasa
cepatnya, membuat Tio Thian Ek terperanjat, sekalipun
sudah merupakan seorang tua dengan banyak pengalaman
ia juga masih merasa jeri. Maka cepat2 ia menarik kembali
serangannya dan sekali ini pedangnya digunakan untuk
menyabet.
Ho kie yang sudah panas hatinya, telah turun tangan
tanpa ragu2 lagi. Dengan menggunakan tipu silatnya Hoan
Eng sie sek, secara gesit sekali berseliweran diantara sinar
pedang, sehingga membuat kawannya agak ripuh, Belum
sampai lima jurus tangannya sudah berhasil nyelusup dan
menepok sikut kanan lawannya.
Pedang lantas terlepas dari tangannya Tio Thian ek jatuh
ketanah. Tio Thian Ek hanya bisa berdiri menganga,
keringat dingin membasahi badannya.
Orang2 yang mengepung Ho kie lantas pada berteriak,
sebentar saja sudah ada lima atau enam, orang yang maju
menyerang berbareng.
Ho kie kembali menggunakan tangan kosong
menyambuti serangan setiap orang. Setelah terdengar
beberapa kali suara benturan keras disusul oleh beberapa
kali suara jeritan. Ada empat atau lima orangnya Tiam
cong pay yang sudah dibikin terpental dan jatuh ke tempat
yang jauhnya lebih dari satu tombak.
“Sudah lama kudengar, sembilan partai besar yang
katanya ada mempunyai banyak orang kuat. Tidak tahunya
hanya begini saja!” Kata Ho kie sambil ketawa dingin.
Orang2nya Ngo bie pay semua telah dibikin kesima oleh
kekuatan Ho kie yang luar biasa itu, sehingga tidak ada
seorang pun yang berani berlaku gegabah lagi.
Hui Kak siansu lalu berkata sambil rangkapkan
tangannya:
“Omitohud! Ho siaohiap turun tangan terlalu kejam.
Sebentar saja sudah melukai banyak orang. Kekejaman
demikian barangkali akan menimbulan marahnya banyak
orang!”
“Aku sebetulnya si orang she Ho tidak ingin melukai
orang. Adalah kalian sendiri yang mendesak aku berbuat
demikian. ” Jawab Ho kie sambil ketawa dingin.
Tiba2 terdengar suara bentakan keras dan Thian hian
Totiang sudah melompat menghadapi Ho kie.
“Bocah she Ho, jangan terlalu jumawa. Pinto hendak
menghajar kau.!”
“Boleh coba saja!” Ho kie menantang.
Thian hian totiang lalu berseru kepada orang2nya
dengan suara nyaring.
“Semua anak murid Hoa san hanya diperbolehkan
menonton, dilarang bergerak jika tidak ada perintah.”
Kiranya ia sudah mengetahui kekuatan Ho kie yang
demikian hebat, ia kuatirkan jika dirinya sendiri kalah,
nanti anak muridnya akan menyerbu dan tentu
mengakibatkan jatuhnya banyak korban seperti apa yang
telah terjadi pada anak muridnya Tiam cong pay.
“Sebetulnya Totiang tidak usah terlalu merendah, suruh
saja mereka maju berbareng, aku tidak takut!”
Thian-hian Totiang yang sudah gusar benar benar lalu
melancarkan serangannya dengan hebat.
Begitu juga Ho Kie yang sangat benci kepada imam yang
hendak memfitnah dirinya ini, ia sengaja tidak menyingkir
maupun berkelit, dengan kedua tangannya ia menyambut
serangannya Thian-hian Totiang.
Kedua pihak telah menggunakan kekuatan lebih dari
tujuh bagian, maka sebelum kedua kekuatan saling beradu,
angin keras sudah mengaung lebih dulu.
Sebentar kemudian lalu kedengaran suara benturan
hebat. Ho Kie mundur satu tindak, pundaknya tergoyang,
sedangkan Thian hian Totiang harus mundur sampai tiga
tindak baru bisa berdiri tegak lagi.
Ketua Hoa-san-pay itu hatinya merasa kaget bukan
main. Pantas bocah ini berani berlaku begitu jumawa.
Dalam usia yang begini muda ternyata sudah mempunyai
kekuatan begitu hebat. Demikian siimam itu berpikir, dan
seketika itu lantas tidak berani memandang ringan
lawannya, diam2 ia memusatkan seluruh kekuatannya
dikedua tangannya.
Ho Kie memandang gerak gerik Thian-hian Totiang
dengan tidak bergerak-
Mendadak terdengar bentakan Thian-hian Totiang yang
dibarengi dengan serangan tangannya.
Kembali Ho Kie menyambuti serangan itu, sehingga
suara benturan terdengar pula. Sekarang masing2 mundur
tiga tindak.
Ho Kie merasa luka lama dilengan kirinya jadi linu
kembali, cepat2 ia mengatur pernapasannya untuk
menghadapi kembali serangan lawannya,
Sebaliknya Thian hian Totiang merasakan isi perutnya
seperti diudal. Hampir saja ia mengeluarkan darah segar
dari dalam mulutnya.
Kini ia telah mengerti, bahwa anak muda dihadapannya
ini mempunyai kekuatan yang tidak dibawah kekuatannya
sendiri. Kecuali terluka kedua duanya, ia sebetulnya sudah
merasa tidak ungkulan untuk menundukkan padanya.
Dalam kedudukan sebagai ketua, jika sampai ia
dikalahkan oleh musuhnya yang muda ini, bukankah akan
menjadi buah tertawaan dunia rimba persilatan?
Otaknya diasah mencari akal, diam2 timbul pikiran
jahatnya, bahkan lantas berkata sambil ketawa dingin ;
“Binatang, apa kau berani bertanding pedang dengan
pinto?”
“Kau hendak menggunakan pedang? Terserah padamu
sendiri ! Aku siorang she Ho selamanya tidak pernah
menggunakan senjata.”
Thian hian totiang tidak menantikan Ho Kie selesai
bicara, lantas ulapkan tangannya dan berseru :
“Minta pedang!”
Seorang laki laki berpakaian imam lantas menyahut dan
melemparkan sebilah pedang Ceng kong kiam.
Thian hian Totiang menyambuti, kemudian
ditancapkannya ditengah dan lantas berkata dengan suara
dingin :
“Kalau pinto menggunakan pedang sendiri-meskipun
dapat merebut kemenangan, tetapi itu tidak jujur. Sekarang
kau boleh menggunakan pedang ini, mari kita main main
beberapa jurus.”
Ho Kie melihat pedang yang menancap itu masih
menggetar, maka diam2 lantas berpikir. “Kalau aku tidak
mau menggunakan pedang, tentunya akan ditertawakan
orang.”
Setelah berpikir demikian ia lalu mengulurkan lengannya
untuk mencabut pedang tersebut.
-oo0dw0oo-
Jilid 8
THIAN HIAN Totiang ketawa bergelak gelak.
“bocah she Ho, kalau kita bertempur nanti, kau tidak
usah sungkan2. Pinto akan pertaruhkan jiwa yang sudah tua
ini. Kalau masih belum mendapatkan keputusan, siapapun
tidak boleh berhenti !” sehabis berkata lantas menghunus
pedangnya.
Pedang tua itu, seluruhnya memperlihatkan warna ungu
kehitam hitaman serta memancarkan sinar yang berwarna
serupa pula. Terang pedang itu pedang pusaka,
Sebaliknya pedang ditangan Ho Kie hanya merupakan
pedang biasa saja, dengan perbandingan itu saja pedang Ho
Kie bukannya tandingan pedang lawannya. Thian-hian
Totiang sebagai ketua dari salah satu partai besar, ternyata
tidak malu menggunakan akal muslihat yang begitu rendah
untuk merebut kemenangan. jika hal itu tersiar di dalam
Kang-ouw, pasti akan menjadi buah tertawaan orang
banyak.
Tetapi pada saat itu ia sudah bernapsu benar hendak
mengambil jiwanya Ho Kie, maka ia sudah tidak
memikirkan lagi dirinya nanti akan dicaci maki dan
mendapatkan nama busuk.
Setelah mempersilahkan Ho Kie bersiap, ia lantas mulai
menyerang dengan pedangnya.
SejaK Ho Kie belajar ilmu silat dilembah Toa-thenp gay,
belum pernah ia menggunakan senjata tajam, maka ilmu
pedangnya tidak dapat dibandingkan dengan ilmu pedang
Thiau hian Totiang yang sudah terkenal sebagai akhli
pedang.
Ketika melihat pedang Thian hian Totiang sudah
menikam dirinya, dengan tidak banyak pikir pula ia cepat2
menangkis dengan pedangnya.
Thian-hian Totiang ketawa dingin, ia memutar
pedangnya sehingga membuat lingkaran besar.
Ho Kie terperanjat, dengan sendirinya lantas
mengeluarkan serangan tangannya sambil mundur beberapa
tindak……
Thian hian Totiang semula sabetannya hendak memapas
pedang ditangan lawannya yang kemudian akan mengambil
jiwa lawannya itu. Sungguh tidak disangkanya Ho Kie ada
demikian cerdik dan tangkas, begitu melihat gelagat kurang
menguntungkan lantas mundur sambil mengeluarkan
serangan tangannya, sehingga dapat mencegah maksud
siimam yang jahat itu.
Thian hian Totiang sudah kalap benar. Setelah
serangannya yang pertama dibikin gagal, kembali
mengeluarkan serangannya beruntun tiga kali,
Ilmu pedang Hoa-san-pay memang sudah sangat terkenal
didunia persilatan. jangan kata Ho Kie yang tidak pernah
menggunakan pedang sebelumnya, sekalipun bagi orang
yang sering menggunakan pedang juga masih sukar
menandingi Thian hian totiang yang sudah mempunyai
latihan beberapa puluh tahun lamanya.
Betul saja, serangan pedang itu sudah membuat Ho Kie
kelabakan. Ia merasa seperti dirinya sudah terkurung oleh
pedang imam itu.
Dalam kagetnya, mendadak ia dapatkan satu pikiran
yang aneh.
Sekarang ia tidak lagi menangkis atau menyambuti, juga
tidak balas menyerang, hanya dengan menggeser2kan
kakinya ia melepaskan diri dari ancaman pedang lawannya
dan perlahan lahan sudah berada dibelakaug imam itu.
Thian hian Totiang yang sedang merasa bangga,
mendadak telah kehilangan lawan, kemudian
dibelakangnya tiba2 suara Ho Kie berkata :
“Totiang, lihat pedang!” dan ternyata ujung pedang
sudah menempel, dipunggungnya.
Thian hian Totiang terkejut, secepat kilat ia membalikan
tangannya dan menyambuti.
Setelah suara Tranngg!! Terdengar nyaring, tangan Ho
Kie mendadak dirasakan ringan, ternyata pedangnya sudah
terpapas kutung.
Dalam kagetnya, Thian hian Totiang sudah
membalikkan badannya dan membabat dengan pedangnya.
Ho Kie terperanjat- Kembali ia menggunakan ilmu Hui
kat hian kangnya dengan cepat kembali sudah berada
dibelakang dirinya Thian hian Totiang,
Kali ini ia sudah mempunyai pengalaman, ia tidak
menggunakan pedangnya lagi, melainkan dengan tangan
kirinya ia menyerang punggung si Imam.
Thian hian Totiang yang seumur hidupnya belum pernah
menyaksikan ilmu silat yang demikian aneh, dengan cepat
memutar kembali tubuhnya, tetapi kembali Ho Kie juga
sudah menghilang. Ia tahu, bahwa Ho Kie pasti sudah
berada dibelakang dirinya.
Selagi hendak menyerang dengan pedangnya tiba2 Ho
Kie sudah mengancam jalan darah Leng tay hiat pada
panggungnya.
Bukan main terkejutnya imam itu, ia tidak keburu
memutar tubuhnya lagi. terpaksa harus lompat melesat
tinggi dan setelah berjungkir balik ditengah udara lalu
melayang turun sejauh satu tumbak lebih.
Meskipun gerakannya itu sudah cukup gesit, tetapi ketika
orangnya melesat keatas, paha kirinya sudah kena
serangannya Ho Kie sehingga ketika melayang turun
ditanah ia sempoyongan dan hampir saja jatuh duduk
ditanah.
Ho Kie ketawa dingin, ia lantas lemparkan pedangnya
yang tinggal sepotong, kemudian memburu sambil ayun
tangannya.
“jangan lari!! Sambut lagi seranganku!!” katanya
Tian hian Totiang sudah tidak mempunyai tempat untuk
menyingkirkan diri lagi.
jika ia menyambuti dengan tangannya, pasti akan terluka
dibawah serangan Ho Kie yang hebat. Oleh karenanya,
maka ia lantas hendak berlaku nekad, pedangnya
disambitkan dan meluncur kearah Ho Kie.
Tiba2 terdengar bentakan keras:
“Jangaa !!!”
Sesosok bayangan kuning dengan cepat telah maju,
tangan kirinya diputar untuk menyambuti pedang Thian
hian Totiang. sedangkan tangan kanannya digunakan untuk
menghalau serangan Ho Kie.
Meskipun tindakannya itu telah berhasil, tetapi karena
kekuatan tangan dan pedang tadi ada sangat hebat, maka
tidak urung dirinya sendiri juga terdorong sampai tiga
tindak jauhnya.
Ho Kie melihat bahwa orang yang memisahkan tadi
ternyata adalah ketua dari Ngo bie pay, Hui Kak Siansu.
Dalam hati ia merasa tidak senang, maka ia lantas berkata
sambil tertawa dingin :
“Apa kalian hendak mengandalkan jumlah orang banyak
hendak menghadapi aku siorang she Ho secara bergiliran?”
Setelah membalikkan pedangnya Thian hian Totiang,
Hui Kak Siansu lalu menjawab pertanyaan Ho Kie sambil
rangkapkan kedua tangannya
“Omitohud! Lolap karena memandang Buddha yang
welas asih, hanya mengharapkan supaya permusuhan
kalian kedua pihak dibikin habis sampai disini saja,”
“Tidak usah banyak bicara dihadapanku, sekalipun
kalian maju semua, aku si orang she Ho juga tidak takut”.
“Ho siauhiap demikian mengagulkan diri sendiri, apa
kau sudah menganggap bahwa kepandaianmu ini sudah
tidak ada orang lagi yang mampu menandingi?”
“Apa kau juga ingin mencoba?”
“Meskipun lolap seorang bodoh dan tidak berguna, tetapi
ingin mencoba kekuatan Siaohiap.”
“Baiklah. Sambutlah seranganku ini !!” Dengan cepat Ho
Kie lalu mengerahkan serangannya yang segera disambut
oleh Hui kak Siansu.
Ketika kedua kekuatan saling beradu, lantas terdengar
suara nyaring.
Hui kak Siansu terdorong mundur dua tindak,
maka dalam hati juga merasa heran. “Sungguh
hebat!” Demikian pikirnya.
Ho Kie juga terpental mundur sampai tiga tindak, darah
segar hampir saja keluar dari mulutnya, tetapi ia tidak mau
menunjukkan kelemahannya, maka darah itu ditelan
kembali dan kemudian berkata sambil tertawa :
“Siansu, kau rasa bagaimana?”
“Siancay!! Siancay!! Hampir saja lolap tidak sanggup.”
“Toa suhu, sekarang sambut lagi seranganku!!”
Adu kekuatan untuk kedua kalinya telah terjadi,
Meskipun Ho Kie mempunyai kekuatan sangat tinggi,
tetapi ia yang sudah dengan beruntun menghadapi tiga
musuh kuat. kekuatan tenaganya sudab tentu berkurang.
Apa lagi harus menghadapi Hui-kak Siansu yang
kekuatannya masih diatas kekuatan Thian hian Totinag dan
Tio Thiao Ek, maka ketika mengadu kekuatannya yang
kedua kali, Hui-kak Siansu terdampar mundur satu sampai
lima tindak, dadanya dirasakan sakit, tetapi Ho Kie sendiri
sudah terdampar sampai tujuh tindak, dan sekali ini darah
segar sudah keluar dari mulutnya, maka ia lantas cepat2
duduk bersemedi untuk mengatur pernapasannya.
Tio Thian Ek yang menyaksikan itu, hatinya merasa
girang, dengan tidak banyak rewel lagi ia lantas lari
menghampiri.
Ia sudah napsu besar untuk mendapatkan Kalajengking
emas itu, maka dangan tidak memperdulikan Ho Kie yang
sedang terluka itu, ia lantas merobek bajunya.
Baju Ho Kie robek menjadi dua potong. Selagi tangan
Tio Thian Ek hendak mengambil Kalajengking emas, siapa
tahu telah menemukan sesuatu benda yang tidak terdugaduga…
Ketika ia menyaksikan benda tersebut, wajahnya
berubah seketika, kedua tangannya gemetaran, perasaannya
menegang, kedua kakinya lemas kemudian berlutut
dihadapan Ho Kie dengan lakunya yang sangat hormat
seraya berkata:
“Ciang bun-jin Tiam-khong pay keturunan ketiga puluh,
Tio Thian Ek disini menerima dosa.”
Thian-hian totiang yang menyaksikan keadaan demikian
merasa bingung sendiri ia buru2 menghampiri dan ketika ia
dapat lihat benda itu, wajahnya juga berubah seketika,
kemudian berlutut sembari berkata dengan sikap hormat :
“Ciang bun jin Hoa-san-pay keturunan ke-7 Thian Hian
menerima dosa!”
Hui Kak Siansu mengerutkan alisnya setelah
mengebutkan bajunya, ia lantas maju menghampiri. Ketika
menampak benda tersebut, buru2 mundur 3 tindak, sambil
rangkapkan kedua tangannya. Dengan sikap yang
menghormat sekali ia berlutut sambil berkata:
“Ciang bun jin Ngo-bie pay keturunan ke 40, Hui Kak
disini menerima dosa!”
Kejadian ini telah mengejutkan semua orang yang
menjadi murid2nya ketiga partai besar itu. mereka saling
memandang, tidak mengerti apa sebabnya ketua mereka itu
mendadak berlaku demikian terhadap lawannya!
Tapi, karena mereka semua merupakan anak murid
ketiga partai besar itu, menampak ketua mereka berlaku
demikian, terpaksa pada melemparkan senjata masing2 dan
lantas berlutut dibelakang ketuanya.
-oo0dw0oo-
SETELAH hening sekian lamanya, Ho Kie per-lahan2
membuka mata.
Ketika ia menampak semua orang2 dari ketiga partai itu
berlutut dihadapannya, hatinya menjadi heran, maka lantas
lompat bangun.
Mendadak ia rasakan dadanya dingin, ia baru tahu kalau
bajunya telah terobek, hingga kelihatan dadanya. Ia jadi
semakin heran, apakah mereka semua sudah gila? Tentu
tidak!! Hal ini mesti ada sebabnya.
Ia coba memeriksa keadaan dirinya sendiri, kecuali
rantai dan tanda emas yang dikalungkan dilehernya oleh
ayahnya, tidak kedapatan apa2 lagi
Apakah benda ini yang menyebabkan orang2 ketiga
partay berlutut dihadapannya? ia bingung sendiri lalu
meraba-raba kalungnya itu.
Itu hanya sembilan buah rantai yang terbuat dari emas
biasa, dibawah masing2 rantai ada tergantung sebuah
lempengan emas kecil yang ada lukisannya 9 orang dengan
ber-macam2 dandanannya. Ada yang berpakaian paderi,
imam dan biasa …
Benda itu tidak ada apa2 yang aneh apakah benda ini
mempunyai pengaruh gaib? Ia menebak2 dalam hati
sendiri.
Ia memang ada seorang cerdas, setelah berpikir lagi,
lantas dapat menduga bahwa sembilan buah rantai ini pasti
ada mempunyai riwayatnya yang penting.
Ia coba berlaku tenang, dengan suara dingin ia berkata
kepada mereka ; “Apa kalian sudah tahu dosa sendiri?” Hui
Kak Siansu buru2 menjawab sanbil tundukan kepala:
“Kami sesungguhnya tidak tahu kalau Ho Siaohiap
adalah Kiu hoa Sang. jeng Lengcu (pemegang kuasa tanda
pusaka 9 partay), atas kedosaan kami, kami semua rela
menerima hukuman!”
Ho Kie terperanjat. Benda dilehernya itu kiranya adalah
Kiu-hoan Seng-leng yang dibuat oleh 9 partay besar dirimba
persilatan.
Mengenai benda ini dahulu pernah diberitahukan kepada
Toan-theng Lojin, tidak tahunya kalau itu berada
dibadannya sendiri. Kalau waktu itu ia tahu benda tersebut
dibadannya, niscaya Toan-theng Lojin tidak perlu turun
gunung lagi, sehingga dibikin celaka oleh orang- Cian-tok
Jin-mo yang sampai sekarang belum ketahuan nasibnya.
Dengan pikiran kusut Ho Kie memegang rantai
kalungnya itu. setelah termenung sekian lamanya,
mendadak ia ingat pesan ayahnya tentang benda yang
menyangkut nasibnya 9 partai besar dirimba persilatan.
Itu adalah Kiu-hoan Seng leng! Kalau tidak karena benda
ini, ayahnya tidak akan binasa dilembah Kui-kok, Toantheng
Lojin juga tidak akan menderita kecelakaan……
Kalau mengingat itu, Ia benci kepada 9 partai besar itu
mengapa menciptakan benda yang membawa malapetaka
demikian?
Ia bolak balik memeriksa benda emas itu, 9 orang yang
terukir diatas lempengan emas adalah “Ciang- bun Cowsu
dari 9 partai yang menciptakan Kiu-goan Seng-leng ini.
Mereka telah mengukirnya pada masing2 lempengan
emas ini sebagai tanda perhubungan erat antara kesembilan
partai supaya anak muridnya dari masing2 partai
dikemudian hari menjunjung tinggi dan menghormati orang
yang membawa tanda ini.
Tetapi benda itu sekarang dimata Ho Kie merupakan
tanda yang telah menyebabkan kematian ayahnya, sehingga
ia menjadi seorang piatu yang ter luntah2. Perasaan itu
telah membuat ia benci kepada Kiu hoan leng.
Mendadak ia menarik benda itu dari lehernya.
Para ketua dari Ngo bie, Hoa san dan Cian khong semua
pada berseru kaget, Hui Kak Siansu lantas menanya dengan
gelisah :
“Ho Siaohiap, kau menghendaki apa?”
Ho Kie tidak menjawab, ia hanya memegang Kiu hoan
lengnya erat2. Akhirnya ia berkata :
“Baik! Aku hendak……..”
Semula ia pikir hendak menghancurkan benda yang
membawa malapetaka ini, tetapi kemudian dapat berpikir
lain, benda ini adalah peninggalan ayahnya yang diberikan
kepadanya dengan taruhan jiwa. Kalau sekarang dirusak,
bukankah itu berarti akan mengecewakan roh ayahnya?
Pada saat itu ia mendadak ingat Gouw Ya Pa yang
sedang terluka parah, maka ia berkata dengan perlahan :
“Diantara kalian siapa yang membawa obat luka didalam
?”
Hui Kak Siansu menjawab dengan segera:, “Lolap ada
membawa Sam-yang Pek-po wan. obat dan Ngo-bie-pay,
khusus untuk luka dalam, Apa Ho siauhiap ingin
menggunakannya?”
“Lekas kau keluarkan dan coba obati sahabatku yang
luka itu.”
“Baiklah.”
Hui Kak Siansu lalu memeriksa luka Gouw Ya Pa, tetapi
ia kemudian mengerutkan alisnya yang panjang dan berkata
dengan suara sungguh2 ;
“Ho Siaohiap ilmu yang dilatih oleh sahabatmu ini telah
dibikin buyar, ditambah lagi karena banyak bicara,
barangkali,…….”
“Bagaimana? Apa masih bisa disembuhkan dengan
obatmu?” tanya Ho Kie cemas.
“Untuk menyembuhkan saja sih bisa tetapi harus dibantu
oleh orang yang mempunyai ilmu lwekang yang mahir
sekali supaya lekas berhasil”. jawab sipaderi.
“Kalau begitu, tolong Toa suhu saja yang melaksanakan
itu.”
“Kekuatan Lolap seorang ada batasnya, mungkin tidak
sanggup melaksanakannya.”
Ho Kie lantas berkata kepada Hoa-san dan Tiam khong
dengan suara nyaring. :
“Ciang bun jin Hoa san dan Tiam khong dengar perintah
!”
Thian hian totiang dan Tio Thian Ek lalu majukan diri
berbareng dan menjawab:
“Murid Hoa san dan Tiam khong disini menantikan
perintah Lengcu.”
“Kalian berdua membantu Hui Kak Siansu dengan
secara bergiliran mengobati luka sahabatku itu!”
Kedua orang itu saling pandang, tidak ada yang berani
membantah, lalu menghampiri Hui Kak Siansu.
Ho Kie mengawasi sambil berdiri. Kini telah didapatkan
kenyataan bahwa Ciang bun-jin dan ketiga partai besar itu
sudah menurut segala perintahnya, maka dalam hatinya
diam diam merasa senang juga.
Pada taat itu ia telah melihat anak muridnya ketiga
partai itu masih terus berlutut, maka lantas diperintahkan
supaya bangun semua. Sekarang ia merasa seperti dirinya
sudah menjadi seorang yang berkuasa atas semua orang dari
ketiga partai itu.
Dua tahun berselang, ia masih merupakan satu anak
piatu yang dikejar kejar oleh malaikat elmaut, tetapi hari
ini, dua tahun kemudian, sungguh tidak disangka ia telah
menjadi Bengcu dari sembilan partai besar, yang setiap
waktu dapat memberikan perintahnya kepada orang2nya
sembilan partai itu.
Pada saat itu, Hui Kak Siansu sudah mulai mengobati
luka Gouw Ya Pa sehingga keadaan disitu menjadi sunyi
sekali.
Sang waktu perlahan2 sudah berlalu. Wajahnya Gouw
Ya Pa per-lahan2 kelihatan memerah. Ketika ia membuka
matanya. Ho Kie angkat bicara sambil tertawa;
“Gouw toako apa kau merasa baikan?”
Gouw Ya Pa tidak menjawab, sebaliktnya malahan
bertanya;
“Ini.. ..apakah artinya?”
“Tidak apa2, aku hanya minta beberapa siansu ini untuk
menolong mengobati lukamu!!”
Gouw Ya Pa mengawasi ketiga Ciang bun jin itu, lantas
bertanya dengan terheran-:
“Eh. Dari mana kau dapatkan kawanan imam dan
kepala gundul ini?”
Thian hian Totiang, Thio Thian Ek dan Hui Kak Siansu
wajahnya merah seketika tetapi tidak berani buka suara.
“Gouw Toako.” Ho Kie berkata dengan sungguh2
“jangan membikin sakit hati orang. Siansu dan Totiang ini
sudah menghamburkan tenaga dalam yang tidak sedikit
untuk menyembuhkan lukamu.”
Gouw Ya Pa lantas lompat bangun.
“Apa betul?” katanya dengan keheran heranan. cepat ia
memberi hormat kepada Hui Kak, Thian hian dan Tio
Thian Ek bertiga untuk mengucapkan terima kasihnya
sambil menyoja.
Hui Kak Siansu sambil rangkapkan kedua tangannya
berkata :
“Omitohud! Gouw Sicu adalah seorang yang berwatak
polos. Semua perkataannya hanya dimulut saja, tetapi tidak
disengaja, maka tidak perlu dikesalkan!”
Setelah berpikir sejenak Ho Kie lalu berkata.:
“Sekarang kaki tangan- Hian kui kau telah tersebar luas,
Mereka sangat bernapsu hendak menguasai dunia, mengapa
kalian orang dari sembilan partai besar seolah olah seperti
menutup mata dan tutup telinga sehingga tidak ada
seorangpun yang berani bertindak terhadap mereka?”
Hui Kak Siansu sambil bungkukkan badan, menjawab ;
“Lolap sekalian, meskipun sudah mampunyai pikiran
begitu, tetapi apa mau Cian tok Jin mo itu mempunyai ilmu
silat yang tinggi sekali, pengaruh Hian kui kauw juga sangat
besar………”
“Menumpas kejahatan harus sungguh2 hati, bagaimana
boleh merasa takut? Sekarang aku sebagai Kiu hoan leng
Lengcu memerintahkan kalian, orang2 dari ketiga partai,
supaya segera memberitahu kepada para ketua dari enam
partai besar lainnya, dalam waktu satu bulan semua sudah
harus berkumpul dilembah Kui kok untuk mendengar
perintahku lebih lanjut.
Thian hian Totiang dan lain2 ketika mendengar itu, pada
berubah wajahnya.
“Perintah Lengcu sudah seharusnya kami taati.” Hui Kak
Siansu berkata. “Tetapi orang2 dari enam partai lainnya itu
ada tersebar diseluruh dunia. satu bulan saja barang kali
tidak cukup untuk menyampaikan perintah ini!!”
“Biar bagaimana, nanti pada tanggal sembilan bulan
sembilan semua harus sudah berkumpul dilembah Kui kok.
Siapa yang melanggar akan dapat hukuman berat!”
“Lolap akan perhatikan perintah ini, sekarang lolap akan
segera memberi tahukan kepada Bu tong dan Kun lun yang
terdekat dan sini.” jawab Hui Kak sambil anggukkan kepala
:
“Pinto akan menyampaikan perintah ini kepada Ceng sia
dan Siauw Lim.”
Tio Thian Ek juga berjanji,
“Aku situa bangka ingin mengabarkan kepada Khong
thong dan Kiong Say ”
“Baiklah! Harap Cuwie segera berangkat.” Ho Kie
berkata sambil ketawa. “Pada tanggal sembilan bulan
sembilan nanti kita bertemu lagi dibawah bukit Pek kut
nia!”
Setelah memberi hormat, ketua dari ketiga partai itu
dengan mengajak anak murid masing2 lantas berlalu untuk
melakukan kewajiban mereka sendiri2,
Gouw Ya Pa yang menyaksikan para imam dan padri itu
begitu hormat sikapnya terhadap Ho Kie. dalam hati
merasa heran dan tidak habis mengerti. Mengapa
sababatnya ini mempunyai pengaruh yang begitu besar.
Ho Kie lantas menanyakan bagaimana keadaan Gouw
Ya Pa saat itu, siapa segera menjawab sambil anggukkan
kepala :
“Kawanan kepala gundul itu benar2 mempunyai ilmu
gaib. Sekarang keadaanku sudah sama seperti sebelum
terluka.”
Setelah mengetahui bahwa luka sahabat itu sudah
sembuh benar, Ho Kie lantas ajak ia melanjutkan
perjalanannya……
Beberapa bulan telah berlalu. Ho Kie dau Gouw Ya Pa
telah tiba dikaki bukit Pek kut nia. Ho Kie menghitung
waktunya yang di janjikan dengan sembilan partai besar itu,
maka ia lantas mengajak Gouw Ya Pa dengan jalan
memutar mereka pergi kelembah Patah hati.
Lembah yang merupakan tempat yang digunakan oleh
Ho Kie untuk belajar ilmu silat, keadaannya sama seperti
dahulu, sedikitpun tidak ada yang berubah. Hanya untuk
kedua kalinya Ho Kie datang disitu semua terjadi semua
yang lampau.
Dengan tindakan perlahan ia ajak Gouw Ya Pa kegoa
Pek giok kiong yang pernah di diami dua tahun lamanya.
Baru saja mereka tiba dimulut goa, mendadak hati Ho Kie
terguncang. ia hentikan tindakan kakinya dengan segera ia
telah mendapat kenyataan bahwa keadaan dalam goa itu
sudah berbeda sama sekali.
Dalam goa yang luas, yang tadinya kosong melompong,
sekarang sudah penuh dengan segala perabotan rumah
tangga, keadaan lantainyapun amat bersih.
Ho Kie memandang dengan melongo sebentar.
mendadak timbul rasa gusarnya sambil kertak gigi ia
berkata :
“Siapa orangnya yang mempunyai nyali begitu berani
menempati Pek giok kiong ini? Nanti kuberikan hajaran
tanpa ampun1!!”
Dengan tindakan lebar ia terus berjalan masuk. Ketika ia
sudah berada didalam, dilihatnya pada satu sudut terdapat
sebuah meja sembahyang. Ho Kie lalu lompat
menghampiri. ketika ia dongakkan kepala ia merasa heran,
dengan tidak merasa ia telah mundur tiga tindak.
Gouw Ya Pa cepat2 menghampirinya.
“Lautee, apa yang telah terjadi?” tanyanya heran.
Ho Kie menjawab sambil manunjuk pada meja
sembahyang :
“Entah ini perbuatan siapa……?”
Gouw Ya Pa mengawasi keatas meja sembahyang,
kepapan yang bertulisan dengan tinta mas : Thoan theng
Lojin, penghuni Pek giok kiong di Lembah Patah Hati.
“Aaa..! Apakah dia siorang tua sudah binasa?” Gouw Ya
Pa berseru kaget.
“Ngaco !” Ho Kie membentak, “Bagaimana dia bisa
binasa? Ini pasti adalah perbuatan orang dengan sengaja,
aku harus bisa menangkap orang yang menulis ini supaya
bisa kuhajar mampus baru aku puas!!.”
Dalam sengitnya Ho Kie sudah hendak menghajar meja
sembahyang abu tersebut.
Tapi Gouw Ya Pa cepat2 mencegah sembari berkata :
“Sabar dulu……”
Ho Kie lantas urungkan maksudnya dan bertanya
dengan mata mendelik :
“Kenapa?”
“Kita masih belum tahu benar tentang mati hidupnya
Thoan Theng Lojin, maka meja sembahyang ini baiknya
kita biarkan dulu. Kalau kau hajar berantakan kemudiaa
ternyata hal itu memang benar, bukankah kita harus
membuat meja sembahyang lagi?”
Tapi Ho Kie tidak ambil pusing pikiran Gouw Ya Pa.
sebab ia sudah menghajar meja sembahyang itu sehingga
hancur berantakan.
“Sayang! Sayang!” Gouw Ya Pa berkata sambil
gelengkan kepala. “Kalau aku yang binasa, barangkali tidak
ada orang yang mau membuatkan meja sembahyang yang
seperti ini.”
Ho Kie yang masih belum reda amarahnya, lalu
memeriksa keadaan disekitarnya. Ketika mendapat
kenyataan bahwa disitu sudah tidak ada orang lagi, ia lalu
masuk ke bagian dalam.
Goa bagian dalam itu memang tidak begitu luas, dulu
digunakan oleh Toan-theng Lojin untuk melatih ilmunya.
Waktu Ho Kie seorang diri tinggal disitu dua tahun
lamanya, ia tahu bahwa dalam ruangan itu hanya terdapat
sebuah kasur tua yang digunakan untuk bersemedi, tetapi
sekarang, ketika ia tiba ditempat itu, sesaat lamanya ia telah
dibuat kesima,
Dalam ruangan itu, lantainya digelari permadani indah,
sebuah tempat tidur baru diletakkan disitu sudut. Diatas
pembaringan ada kasur lengkap dengan bantal gulingnya,
serta bau harum yang semerbak. Didekat pintu ada sebuah
meja tulis besar, dua meja teh dan dua kursi besar. Diatas
meja terdapat lengkap dengan perabot tulisnya serta
beberapa jilid buku. Diatas meja teh, situ diantaranya ada
tempat hio yang masih mengepulkan asap. Dari situ
ternyata bahwa orang yang memasang hio itu mungkin
belum lama berlalu.
Dengan diliputi oleh teka teki, Ho Kie, dengan tindakan
perlahan berjalan masuk kedalam kamar, Diatas meja tulis
terdapat sepotong kertas yang ada tulisannya berbunyi
sebagai berikut ;
Sudah kuduga, Longkun (sebutan wanita bagi kaum pria)
pasti akan kembali, maka telah kusediakan tempat tidur dan
hio. Suhumu telah pulang kerakhmatulah karena lukanya.
Sebelum menarik napas yang penghabisan dia telah
meninggalkan pesan kepada Ciat (sebutan diri sendiri bagi
kaum wanita), jangan sekali kali Longkun sembarangan
menempuh bahaya memasuki lembah Kui-kok sebelum
berhasil dengan kepandaianmu sendiri, harus bisa menahan
sabar.
Tulisan ini terang ditujukan kepada Ho Kie, tetapi tidak
disebutkan namanya, begitu juga penulisnya, maka ia juga
tidak mengetahui siapa orangnya yang meninggalkan surat
itu.
Dengan badan bergemetaran dan air mata bercucuran
Ho Kie terus mengawasi surat itu. Akhirnya ia gelengkan
kepala berulang2 sambil berkata sendiri :
“Tidak!!! ini tidak benar….”
Gouw Ya Pa lalu mendekati ketika melihat tulisan diatas
kertas, ia lantas menggeram.
“Ini pasti adalah perbuatan bangsat, Kita jangan pencaya
saja!!!”
Ho Kie berkata pula dengan suara sedih,
“Gouw Toako, aku minta tolong kau menyelesaikan satu
urusan, apa kau terima?”
“Adikku yang baik, kau masih ada urusan apa? Apa bila
aku mampu mengerjakan, apa juga perintahmu aku
lakukan!” si tolol pelembungkan dada.
Ho Kie lantas membuka rantai kalungnya dan
diserahkan kepada Gouw Ya Pa sembari berkata ;
“Aku minta tolong kau, tiga hari kemudian dengan
membawa tanda ini kau mewakili aku untuk mengadakan
pertemuan dengan orang2 dari sembilan partai besar,
kemudian ajak mereka langsung kelembah Kui-kok.”
“Dan kau sendiri ?” tanya Gouw Ya pa heran.
“Aku sudah tidak sabaran dalam hal Toan Kheng Lojin.
Aku akan berangkat dengan segera kelembah Kui kok.
Kalau orangnya masih ada aku akan menemui orang, tetapi
kalau orangnya sudah binasa, aku akan menemukan
bangkainya……,.”
“Ho Lauwtee, kau jangan perbuat demikian. Biar
bagaimana kita harus tunggu dulu tiga hari dengan orang
banyak mudah untuk kita turun tangan. kalau kau pergi
seorang diri bukankah seperti mengantarkan jiwa dengan
percuma? Bila pergi tidak bisa kembali.”
“jiwaku ini memang dulu ditolong Toan theng Lojin,
sekalipun aku harus binasa di lembah Kui-kok, aku rela
hitung2 membalas budinya dia siorang tua……..”
Sehabis berkata ia sudah lantas berlalu meninggalkan
ruangan,
Gouw Ya Pa cepat2 mengejar.
“Lauwtee, tunggu sebentar……Aku akan pergi bersama2
dengan kau….” serunya.
“Gouw Taoko, kalau kau anggap aku sebagui
saudaramu, sukalah kau turut pesanku. Kau terus berdiam
disini. jika dalam waktu tiga hari aku masih belum kembali,
aku minta kau lantas pimpin para ketua dan sembilan partai
besar pergi kelembah Kui-kok untuk menuntut balas. Kalau
kau tidak mau, itu berarti kau tidak pandang saudara
denganku!!”
“Aku….. Aku sebetulnya tidak tega melepaskan kau
seorang diri,.
“Mati atau hidup, itulah sudah di takdirkan Tuhan.
Gouw Toako, kau adalah seorag laki2 mengapa berlaku
seperti orang perempuan?”
Gouw Ya Pa membisu. Dengan sorot mata terkuatir ia
mengawasi berlalunya Ho Kie.
Hari sudah mulai malam, Kabut tebal menutupi bukit
Pek-kut-Nia yang menjulang tinggi diatas awan.
Lembah Kui-kok merupakan suatu lembah yang
menyeramkan dikaki bukit tersebut.
Disuatu tempat yang luasnya kira2 beberapa puluh lie
persegi, yang ditutupi oleh pohon2 rindang, disitulah ada
markas besar perkumpulan Hian-kui-kauw.
banyak kamar2 dan rumah2 dibangun disekitar lamping
jurang yang sukar didatangi oleh sembarang orang. Hanya
mulut lembah dibagian depan merupakan jalanan masuk
dau keluar tempat tersebut.
Terpisah sepuluh lie dari tempat itu, hampir setiap
jengkalnya didadakan pesawat pesawat baik yang
menggelap, maupun yang terang2an untuk memperkokoh
penjagaan tempat tersebut.
Sejak munculnya Hian-Kui-kauw di rimba persilatan,
sudah sepuluh tahun lebih lamanya tidak ada orang lagi
yang berani secara sembarangan memasuki lembah Kuikok,
tetapi pada malam itu. Sesosok bayangan manusia
dengan cepat lari kemulut lembah, bayangan itu adalah
bayangan Ho Kie yang dengan bertangan kosong dan
seorang diri pula telah menerjang lembah Kui-kok yang
sangat menyeramkan ini.
Kedukaan dan kegusaran telah membuat dia lupa, bahwa
setiap jengkal tanah yang diinjak itu adalah tempat yang
sangat berbahaya setiap saat bisa menjebloskan dirinya ke
jurang neraka!
Ketika tiba didekat mulut goa, tiba2 ada dua laki2 tinggi
besar yang membawa golok telah mencegat ia sembari
membentak!
“Siapa? jangan bergerak !!”
Ho Kie lantas melayang turun ke bawah sebatang pohon
besar, setelah mengawasi kedua laki2 itu sejenak, lalu
berkata dengan suara dingin.
“Kalau kalian masih belum kepingin mampus, lekas
memberi jalan untukku! Jangan mencari mati sendiri!!”
Kedua laki2 itu memandang Ho Kie sejenak, dalam hati
merasa heran dengan cara bagaimana anak muda ini bisa
melalui segala rintangan dan tiba dimulut lembah dalam
keadaan selamat?
Satu diantara mereka lantas berkata sambil lintangkan
goloknya :
“Bocah, tahukah tempat apa ini? Bagaimana bisa
sembarangan masuk ?”
“Kui- ok yang tidak ada artinya, tokh bukan goa macan,
apa yang dibuat heran? Dengan kekerasan kalian coba
hendak merintangi kau. Apakah kalian hendak meniru itu
contohnya beberapa orang yang sembunyi di tempat
ruangan dibagian depan?”
Orang itu terkejut mendengar ucapan Ho Kie, ia buru
buru berkata kepada kawannya dengan suara rendah :
“Lie Hiocu, lekas bunyikan kentongan. bocah ini ada
sedikit kepala batu!”
Siapa nyana Ho Kie bertindak lebih dulu, dengan
kecepatan bagaikan kilat ia sudah berhasil menyekal sikut
kedua orang itu.
“Kalau kalian masih menginginkan jiwa, jangan ribut2”
demikian ia mengancam.
Orang tadi wajahnya berubah seketika, ia coba
melawan, Golok ditangan kanannya, lantas dipakai untuk
membabat.
Orang yang diparggil Lie Hiocu buru2 mengambil alat
tanda bahaya dari dalam sakunya…………….
Ho Kie miringkan badannya untuk mengelakkan
serangan golok orang itu, dengan sikutnya ia menumbuk,
sedang tangan kirinya ia mengirim satu serangan dari jarak
jauh kepada orang yang akan meniup alat tanda bahaya
tadi.
Serangan dilancarkan sekaligus terhadap dua lawannya
ini, Ho Kie telah lakukan dengan kecepatan bagaikan kilat,
hingga kedua orang itu tidak ampun lagi lantas rubuh
ditanah.
Setelah membereskan kedua perintang itu Ho Kie lantas
melanjutkan perjalanannya.
Ia yang memang dibesarkan dilembah Kui-kok, Sudah
tentu mengenal baik semua jalan dilembah tersebut, maka
sebentar saja ia sudah memasuki kebagian dalamnya.
Cian-tok Jin-mo, Kauwcu dari Hian kui kauw, tinggal
diatas loteng yang paling belakang. Ho Kie tahu benar
bahwa disitu siang malam ada terjaga keras oleh orang2nya
Hian kui kauw yang berkepandaian tinggi. oleh karenanya
agak sukar untuk masuk. Satu2nya jalan ialah dengan
kekerasan.
Saat itu ia sudah nekad benar2, dengan tekadnya yang
bulat, lantas lompat naik keatas loteng, terus menuju
kebelakang lembah,
Tapi baru saja melesat keatas, mendadak melihat
bayangan putih, sekejap saja sudah menghilang keempat
gelap dibelakaag lembah.
Ko Kie terkejut, dalam hati men-duga2, “Apa mungkin
dia?”
Dengan tanpa banyak pikir, ia lantas mengejar.
Bayangan putih itu setelah melalui dua payon rumah,
mendadak lari menuju kekanan, tidak terus kebagian
belakang.
Ho Kie lantas berhenti. Diam2 hatinya berpikir : “Dalam
Hian kui kauw ada terdapat banyak orang berkepandaian
tinggi, mengapa ia bisa masuk secara leluasa apa lagi
dengan pakaian serba putih yang sangat menyolok
demikian?”
Selagi masih berada dalam ke-ragu2an, tiba2 dengan
suara tanda bahaya berulang2, datangnya dari mulut
lembah!
Suara tanda bahaya itu telah menimbulkan panik,
sebentar saja, beberapa rombongan orang pada lari menuju
kemulut lembah sambil membawa obor.
Ho Kie menyesal tadi tidak menyingkirkan dua
bangkainya penjaga pintu itu, mungkin dua bangkai itu
diketahui oleh lain orang yang meronda, sehingga
menimbulkan kegegeran ini.
Dengan tiba2- ada sebuah benda menyambar didepan
mukanya. Ho Kie dengan cepat miringkan kepalanya.
dengan tangan kanan ia menyambar benda tersebut yang
ternyata ada segumpal kertas. Ketika ia buka, diatas kertas
itu ada terdapat tulisan yang berbunyi ;
“Ikut aku!!”
Ho Kie menduga bahwa itu ada perbuatannya sibaju
putih tadi, hingga diam2 berpikir sambil menghela napas :
“ah, enci Lim, aku sudah tidak menghiraukan jiwaku
sendiri masuk kegoa macan ini, mengapa kau juga
menempuh bahaya ini ?”
Ia coba mencari dimana adanya bayangan putih tadi,
ternyata dia tengah berdiri diatas sebuah rumah yang tidak
jauh dari tempatnya berdiri. Terhadap keadaan yang kalang
kabut dari orang- Hian-kui-kauw itu, ia agaknya tidak
perdulikan sama sekali.
Selagi Ho Kie hendak melesat kesana, tiba2 ada sesosok
bayangan hitam yang melayang menghampiri bayangan
putih itu. Ho Kie buru-buru sembunyi ke tempat gelap
sambil siap2 menghadapi segala kemungkinan,
bayangan hitam itu ketika didepan bayangan putih itu
lantas berdiri, ternyata ia ada seorang tua berewokan. yang
berpakaian imam.
Kedengaran suaranya bayangan putih itu menegur lebih
dulu:
“Cek Losu, ada urusan apa ?”
Imam itu agaknya kenal betul dengan bayangan putih
itu, ia menjawab sambil tertawa;
“Nona Jie,apa kau tidak dengar suara tanda bahaya
dimulut lembah? Selama 10 tahun lebih lamanya belum
pernah ada seorangpun yang berani menginjak kelembah
Kui-kok setindak saja, tidak nyana dimalam ini ada seorang
goblok yang berani mati coba menyabut kumisnya macan!”
“Ada kau Hui tun Thian cun Cek Losu yang menjaga
disini, siapa yang berani kemari untuk menghantarkan
jiwa?” jawabnya nona Jie.
“Adakah nona Jie pernah melihat hal yang aneh?”
“Tidak, kalau Cek Losu masih ada urusan, silahkan.”
“Baiklah, kalau begitu pinto akan menengok kemulut
lembah!” setelah itu lantas ia melesat dan menghilang
ketempat gelap.
Ho Kie terperanjat, diam2 mengagumi kepandaiannya si
imam yang disebut Hui tun Thian Cun itu.
bayangan putih itu. setelah imam tua itu pergi jauh,
lantas gapaikan tangannya kepada Ho Kie seraya berkata :
“Ho Siaohiap, mari ikut aku.”
Ho Kie saat itu sudah tahu bahwa bayangan putih itu
bukan Lim Kheng. melainkan Jie Peng. Maka dalam hati
merasa kurang senang. Dengan perlahan ia bangkit dan
menjawab :
“Aku si orang she Ho yang tidak berguna dulu pernah
menerima budi atas pertolongan nona, budi itu. aku ukir
selamanya dalam hatiku. Tapi malam ini kedatanganku
kemari, satu sama lain berdiri sebagai musuh, harap nona
bertindak hati2!”
Jie Peng mengelah napas. “Kau tidak perlu bicara terlalu
banyak, kawan atau lawan, itu tergantung pada pikirannya
orang sendiri. Apakah kedatanganmu ini bukannya hendak
mencari beritanya Toan-theng Lojin ? Disini bukan tempat
untuk bicara. mari kau ikut aku !”
Ho Kie tampak tertegun, “Mengapa kau tahu maksud
kedatanganku?”
Jie Peng ketawa hambar, mendadak dongakan kepala.
“Semua perbuatanmu dimulut lembah sudah kuketahui.
Tidak lama lagi ada banyak orang2 yang berkepandaian
tinggi akan mengadakan pemeriksaan ramai disini. Kalau
kau ingin tahu sejelas jelasnya perihal si orang tua, harap
kau suka ikut aku, nanti aku beritahu penjelasannya?”
Ho Kie bersangsi sejenak, kemudian lalu mengikuti
dibelakang Jie Peng yang lompat turun dari atas genteng.
Jie Peng ajak Ho Kie melalui jalanan membelok kekanan
dan kekiri, akhirnya sampai dibawah satu rumah. Ho Kie
lantas hentikan kakinya dan bertanya :
“Nona Jie hendak bicara apa? Harap sekarang suka
dijelaskan, aku masih ada urusan yang hendak dibereskan!”
Jie Peng menyelinap kepinggir tembok rumah, ia berkata
dengan suara perlahan,
“Apa kau dapat lihat surat yang kutinggalkan untuk kau
?”
Ho Kie yang mendengar pertanyaan itu, sekujur
badannya menggigil.
“Apa? Surat itu ada tulisanmu…..?” demikian tanyanya.
Jie Peng mengangguk, lalu menyahut dengan suara
rendah ;
“Aku tahu kau pasti akan datang kelembah Kui kok,
maka aku sengaja mengatur itu segala perabotan dan
meninggalkan surat, minta kau jangan menempuh bahaya,
kenapa kau tidak dengar kata…..”
Dengan mendadak Ho Kie menyambar jalan darah Ciok
ti hiat, si nona lalu berkata dengan suara tidak senang :
“Kiranya ini perbuatanmu? Sekarang aku hendak tanya,
apa dia siorang tua benar sudah binasa?”
Jie Peng tidak berkelit atau menyingkir ia membiarkan
lengan kirinya diceka oleh Ho Kie, kemudian menjawab
dengan suara perlahan :
“Sssttt.. jangan bicara terlalu keras, hati2
nanti mengejutkan orang. Kalau sampai hal itu terjadi,
kau nanti sukar meloloskan diri!!”
“Aku berani datang kemari, sudah tentu tidak takut
mengagetkan orang2nya Hian kui-kauw. Harap kau suka
jawab lekas, apakah Toan-theng Lojin sudah terjatuh
kedalam tangan kalian ?” berkata Ho Kie gusar
“Dengan terus terang, Toan theng Lojin memang benar
sudah terjatuh kedalam tangannya orang2 Hian kiu-kauw.
Aku justru mendapat pesan orang tua itu, baru pergi
kelembah Patah Hati dan meninggalkan surat itu!”
“Sekarang dia ada dimana? Benarkah sudah teraniaya
oleh orang2mu?”
“Dia siorang tua telah diketemukan orang2 kuat dari
Hian-kui kauw, setelah dikepung oleh beberapa puluh
orang, akhirnya karena kakinya tidak bisa bergerak dengan
leluasa, maka lantas tertangkap dan dibawa kelembah Kuikok,
Setiap hari dia disiksa untuk diminta keterangannya
tentang kitab Hian Kui Pit kip jilid ke III yang entah
disembunyikan dimana. Sampai hari ini, badannya sudah
penuh bekas tanda siksaan, jiwanya mungkin cuma tinggal
beberapa hari saja…..”
“Kalau begitu, dia siorang tua masih belum binasa.”
“Ai!! Siksaan demikian, meski tidak binasa, juga berarti
tidak jauh dari saat kematiannya.”
“Ngaco, dia tokh belum binasa, mengapa kau tinggalkan
surat yang bunyinya tidak keruan itu serta menaruh segala
meja sembahyang ? Apa kau sengaja hendak memancing
aku?”
Sehabis berkata, ia menekan lebih keras. Jie Peng
keluarkan seruan tertahan, keringat dingin mengucur deras
dijidatnya.
Tapi ia menahan rasa sakitnya, sambil ketawa getir ia
menjawab :
“Kau jangan salahkan aku membohongi kau, itu semua
meja sembahyang dan tulisan, adalah Toan-theng Lojin
sendiri yang menyuruh aku berbuat demikian, aku cuma
menurut perintahnya saja.”
“Hmm ! Kau masih mau menyangkal, siapa orangnya
yang sebelum mati menyuruh orang lain menyediakan meja
sembahyang?”
“Ini karena kau tidak mengerti maksud siorang tua itu.
Dia tahu kalau diberitahukan hal yang sebenarnya
kepadamu, kau pasti akan menempuh bahaya datang
kelembah Kui-kok untuk menolong dirinya. Biar bagaimana
dalam dirinya sudah terkena racun. dia sudah tahu pasti
kalau dirinya akan binasa, maka dia pikir supaya kau tidak
lantas bertindak, sebaliknya bertekun melatih ilmu ilmumu
dulu, untuk menuntut balas kelak …”
Bicara sampai disitu ia mendadak berhenti, dengan mata
layu ia memandang Ho Kie, kemudian tundukkan
kepalanya.
Ho Kie hatinya sangat pilu, Ia melepaskan tangannya Jie
Peng, kemudian berkata sambil mengucurkan air mata :
“Maksudnya orang tua itu memang baik, tapi aku setelah
mengetahui keadaan sebenarnya, sekalipun harus
korbankan jiwaku, aku juga tidak bisa tinggal peluk tangan..
!”
“Maka ketika aku melihat kau masuk ke lembah, lantas
sengaja pancing kau kemari. Sekarang kepandaianmu
belum cukup sempurna, sudah berani menempuh bahaya,
barang kali bukan saja tidak berhasil menolong diri siorang
tua, sebaliknya kau sendiri yang mendapat celaka. Kalau
kau mau turut perkataannya orang tua itu, Kau harus segera
berlalu dari sini, pulang untuk mempertinggi pelajaran ilmu
silatmu dulu baru nanti balik lagi..”
Ho Kie tiba2 delikkan matanya dan memotong ;
“Aku telah menerima budinya begitu besar, lagi pula ia
mempunyai permusuhan demikian dalam dengan Hian-kuikauw.
Biar bagaimana, aku tidak mau bikin habis begitu
saja. Nona Jie, kau adalah orang Hian-kui-kauw, dengan
menempuh bahaya besar kau telah memberitahukan semua
hal ini kepadaku, ini akan aku ingat baik-baik untuk selama
lamanya, pasti ada satu hari aku nanti akan membalas
budimu yang besar ini.”
Sehabis berkata, ia lantas hendak berlalu
Jie Peng agaknya sudah tidak dapat menguasai dirinya
sendiri, dengsn cepat menarik tangannya Ho Kie dan
berkata dengan suara rendah :
“Ho Siaohiap, kau hendak kemana?”
“Aku Ho Kie sekalipun harus mengucurkan darah
dilembah Kui kok ini, juga harus menolong Toan theng
Lojin supaya aku bisa membawa pulang keLembah Patah
Hati.”
“Tapi dengan kau seoraag diri, sekalipun mempunyai
kepandaian luar biasa, juga masih sulit….”
“Aku sudah mengambil keputusan tetap, nona mencegah
juga sudah tidak ada gunanya !”
Jie Peng menghela napas, akhirnya ia berkata :
“Ai ! Kau tidak mau dengar kata, terpaksa aku
mengiringi kehendakmu, mari ikutlah aku!!”
Ia lalu ajak Ho Kie naik keatas genteng lagi, kemudian
manunjuk kesebuah rumah batu sebelah kiri sembari
berkata dengan suara perlahan :
“Disana adalah rumah penjara, aka tidak bisa
mengawani kau, pergilah sendiri! Harap berlaku hati2!”
Ho Kie lantas angkat tangan memberi hormat seraya
berkata :
“Terima kasih atas petunjuk nona, budi kebaikanmu ini
kelak aku pasti membalas.”
Jie Ping menjawab sambil tertawa getir ;
“Aku justru tidak mengharap pembalasanmu. Malam ini
kedatanganmu sudah di ketahui orang, penjagaan didalam
lembah pasti diperkeras, Kuasa rumah penjara itu, Pun-Tuikhiu
Bo Pin, kepandaiannya cuma dibawah Kauwcu
seorang saja, Ho Siaohiap, kalau kau bisa maju, kau boleh
maju, tapi seandai tidak bisa, lebih baik kau bersabar,
tunggu lain kesempatan lagi!”
Ho Kie ketika mendengar disebutnya nama Bo Pin, sakit
hatinya mendadak berkobar, maka lantas menjawab dengan
ketus,
“Kekuatannya Bo Pin, sudab lama aku pernah
menghadapi, nona boleh tak usah kuatir”
Jie Peng tercengang, Selagi hendak menanyakan maksud
arti perkataan itu. Ho Kie sudah pergi jauh,
Saat itu hati Ho Kie sangat gelisah memikirkan nasib
Toan theng Lojin, disamping itu ia juga ingat sakit ayahnya.
maka sambil kertak gigi ia menuju kerumah penjara.
Rumah penjara itu mempunyai banyak kamar tahanan,
dibangun disepanjang lamping jurang dengan batu yang
amat kokoh kuat.
Ho Kie tidak tahu Toan-theng Lojin di sekap dikamar
mana, terpaksa mencari di setiap lubang anginnya.
Dalam kamar itu ternyata sangat gelap, cuma diterangi
oleh lampu kecil.
Ho Kie melongok kebelakang lubang, tetapi tidak
menemukan dimana adanya orang tua itu, sebaliknya
menyaksikan suata pemandangan yang mengerikan.
Orang2 yang disekap dan disika dalam kamar tahanan
terdiri dari banyak macam. Tua muda laki2 dan perempuan
semuanya ditelanjangi, badannya dirangket dan dibakar
dengan besi panas, sehingga badan mereka pada melepuh
tidak keruan rupanya.
Hampir semua kamar Ho Kie sudah longok, tapi tidak
menemukan Toan-theng Lojin hingga ia hampir menduga
Jie Peng telah menipu dirinya. Selagi hendak berlalu, tiba2
ia deagar suara orang berkata,
“Kauwcu masih memandang kau seorang yang
mempunyai kepandaian tinggi dalam rimba persilatan maka
sampai sekarang masih menahan jiwaku, aku nasehati kau,
sebaiknya kau berikan saja barang itu. Kalau tidak jangan
sesalkan aku siorang she Bo berlaku ganas. Kalau terpaksa
aku nanti akan menggunakan siksaan yang dinamakan Pektok
Kong-Sim, suruh kau merasakan kesengsaraan yang
sangat hebat !”
Ho Kie terperanjat, ia tahu bahwa suara itu datangnya
dari kamar paling belakang, maka dengan cepat gerakkan
badannya mengintip dari lubang angin…
-oo0dw0oo
KAMAR ITU penerangannya lebih terang dari pada
kamar2 lainnya, tapi lubangnya sangat kecil. Ho Kie tahu
bahwa Bo Pin bukan orang sembarangan, maka ia sangat
hati2 sekali sampai tidak berani bernapas.
Lebih dulu ia pusatkan semua kekuatannya, kemudian
dengan ilmu cecak merayap didinding, perlahan2 ia
mendekati lubang angin. Ia bertindak sangat waspada.
ia tahu bahwa Toan theng Lojin tertawan dalam kamar
itu, jika ia tidak hati2, bukan saja tidak akan dapat
menolong keluar orang tua itu bahkan bisa mencelakakan
dirinya.
Ia cuma bersendirian dalam sarang Hian-kui-kauw.
Untuk dapat menolong keluar seorang yang sudah tidak
bisa bergerak dari tempat yang terjaga kuat oleh orang2
pandai, sesungguhnya bukan suatu perbuatan mudah.
Tapi, ia harus dapat melaksanakan itu, sekalipun harus
mengorbankan jiwanya, ia juga akan membawa keluar diri
Toan-theng Lojin…..
Karena tekadnya yang bulat, ia sedikitpun tidak merasa
takut, setapak demi setapak ia mendekati lubang.
MENDADAK, ia dengar suaranya orang tertawa dingin,
lantas disusul dengan suara jeritan…………
Ho Kie hatinya berdebar keras, cepat2 melongok
kedalam.
Kamar itu ternyata cuma kira2 satu tumbak persegi
luasnya, adi 6 – 8 orang laki2 sedang mengerubungi dua
orang laki2 tua,
Satu diantaranya, rambut jenggot dan alisnya putih,
dipunggungnya ada menggemblok sebilah golok emas,
orang tua itu adalah Pun lui khin Bo Pin, musuh basar yang
membunuh mati ayahnya…………….
Orang tua lainnya, berusia kira2 50 tahun lebih, matanya
seperti mata tikus, kepalanya kecil, mukanya tirus,
dipundak kirinya ada tali panjang yang mengeluarkan sinar
berkaredepan.
Didepan mereka kira2 tiga kaki jaraknya, ada sebuah
kuali besar, yang dibawahnya ada api yang morong. Dalam
kuali terdapat sedikit air mendidih yang mengeluarkan bau
amis, Di-tengah2 air mendidih itu duduk seorang tua
berbadan kurus dan berambut putih seperti perak.
Orang tua itu duduk bersila, badannya telanjang,
rambutnya yang putih terurai menutupi wajahnya, sehingga
orang tidak bisa melihat dengan tegas. Ia agaknya sedang
menahan siksaan dari panasnya air mendidih itu, sedang
sekujur badannya mengucur darah dan nanah.
Hati Ho Kie berdebar keras. Apakah orang tua itu Toantheng
Lojin? ia sendiri tidak berani memastikan.
Karena orang tua itu telah menolong jiwanya, memberi
pelajaran ilmu silat padanya serta sudah pernah tinggal bersama2
dalam satu goa sebulan lamanya, tapi kalau itu ia
cuma tahu orang tua itu dengan dandanannya yang
istimewa serta wajahnya tertutup oleh kedok putih,
sehingga tidak mengenali wajah aslinya.
Meski api marong dan air mendidih, tapi orang tua itu
tetap duduk tanpa bersuara atau melawan.
Lewat sejenak, tiba tiba terdengar suara siorang tua yang
membawa tali panjang :
“Go tongtiu, tua bangka ini dengan mengandalkan
kekuatan ilmunya, hingga dapat menahan siksaan ini. Perlu
apa kita membuang buang banyak waku? Lebih baik kita
segera menggunakan siksaanku yang paling sempurna Pektuk
Keng-sim. Bikin rusak dulu isi perutnya , aku kepingin
tahu apa dia masih dapat bertahan?”
“Sebaiknya memang begitu, cuma Tio losu boleh kira
sendiri, karena perintah kaucu supaya jiwanya jangan
sampai binasa.” jawab Bo Pin sambil anggukkan kepala.
Orang the Tio itu menyahut: : “Biarlah!!” lalu
mengeluarkan kotak kecil.
Ho Kie memandang tanpa berkedip. Ia lihat orang she
Tio itu ulapkan tangannya, memerintahkan orang- yang
mengerumuni itu mengecilkan api. Dengan tangan meraba2
kotak kecil itu ia maju 2 langkah, dan membuka kotak
dengan hati2 sekali.,……
Apa yang terdapat dalam kotak itu ? Ternyata terdapat
binatang kelabang yang jumlahnya banyak sekali !
Tapi heran meski tutup kotak sudah terbuka, kelabang
itu tidak ada yang keluar,
Sambil mengajukan kelabang dalam kotak itu, si orang
she Tio berkata kepada orang tua dalam kuali sambil
ketawa dingin :
“Sahabat, kalau kau masih tidak mau mengaku, jangan
sesalkan aku si orang she Tio nanti akan menggunakan
siksaan ini!!”
Orang tua dalam kuali itu mendadak dongakan
kepalanya dan menjawab dengan suara dingin :
“Tio Go, kau sudah banyak melakukan kejahatan, nanti
ada suatu hari, kau pasti akan mendapat pembalasan!!”
Ho Kie pasang mata betul ketika orang itu
mendongakkan kepalanya. Dari sorot matanya Ho Kie
dapat memastikan bahwa orang tua itu adalah Toan theng
Lojin. Dalam kagetnya, ia hampir saja menjerit !
Ia tidak tahan menyaksikan keadaan si orang tua yang
menggenaskan itu, ia sudah hendak berlaku nekad.
Mendadak ia dengar siorang she Tio itu berkata pula :
“Tua bangka, dagingmu sudah hancur diseduh, sekalipun
kau masih bertahan, tapi apa gunanya? Sekarang kalau kau
akan kusiksa lagi dengan Pek to Kong sim ini, isi perutmu
akan berubah menjadi darah semuanya. Maka saat itu
jiwamu juga tidak dapat dipertahankan lagi, maka apa
perlunya kau kukuhi Pit kip itu? Lebih baik kau serahkan
kepada kaucu barangkali masih bisa mengampuni jiwamu!”
Orang tua dalam kuali itu tertawa hambar:
“Nasibku memang jelek, selama hidupku, aku belum
pernah memikirkan tentang matiku. Kalian mempunyai alat
siksaan apa saja, boleh keluarkan semua tapi kalau
menghendaki Pit kip, jangan harap !”
“Kalau kau memangnya mau mencoba, jangan sesalkan
aku berlaku ganas!” jawab Tio Go sambil tertawa dingin,
lalu mengambil sumpit, ia menjepit dua ekor kelabang
dimasukkan kedalam telinganya Toan-theng Lojin………….
Sebentar kemudian badannya Toan theng Lojin
kelihatan menggigil, wajahnya mengerut, agaknya sedang
menderita hebat.
Dilain pihak, Tio Go sudah memerintahkan orang2nya
membesarkan apinya, sehingga air didalam kuali mendidih
lagi.
Sambil ketawa bangga Tio Go berkata ;
“Hei,, Kau mengaku saja. Aku cuma menggunakan dua
ekor kelabang, ternyata kau sudah tidak tahan. Kalau aku
menggunakan semuanya, kau pasti tidak akan sanggup
menerima penderitaan ini.”
Toan theng Lojin bungkam sambil kertak gigi, badannya
menggigil semakin hebat, keringatnya mengucur dengan
deras. Sebentar sebentar kedengaran suara keluhannya
kemudian perkataannya dengan tidak lampias ;
“Tio…..Go…Kau….terlalu….buas !”
Bo Pin lantas menyelak :
“Kita ada menghargai kau sebagai orang dari tingkatan
tua, maka kita hanya menggunakan dua ekor kelabang saja.
Kalau kau masih tetap tidak mau menyerah, jangan
sesalkan……”
Tio Go kembali unjukkan ketawanya yang
menyeramkan, mendadak ia maju selangkah, kembali ia
membuka kotaknya.
Ho Kie yang berada diluar sudah tidak dapat menahan
sabarnya lagi, sayang ia tidak mengetahui dimana adanya
pintu kamar tersebut, lagi pula lubang angin itu amat kecil
sehingga tidak dapat memasuki oleh badannya. Dalam
gusarnya ia sudah tidak perdulikan jiwanya sendiri lagi,
dengan sekuat tenaga ia menggempur lubang kamar
tersebut.
Gempurannya telah berhasil, dinding lubang telah
hancur berantakan sehingga ia bisa segera melesat masuk
melalui lubang besar akibat gempuran tadi,
Orang2 didalam kamar telah dikejutkan oleh suara
gempuran keras. Bo Pin segera memutar tubuh sambil
membetatak:
“Siapa?” sambil mencabut golok dipunggungnya.
-oo0dw0oo-
Jilid 9
TIO GO mundur kepinggir pintu sambil menyiapkan
senjata talinya.
Setelah berada didalam kamar, tanpa banyak rewel lagi
Ho Kie dengan kedua lengannya menyerang Bo Pin dan
Tio Go.
Karena ia sudah berlaku nekad, serangannya itu telah
dilancarkannya dengan sepenuh tenaganya,
Bo Pin dan Tio Go yang tidak pernah menyangka dalam
tempat penting itu juga ada orang yang berani masuk,
dalam kagetnya mereka hanya bisa mengelakan seranganya
Ho Kie.
Apa mau serangannya Ho Kie yang hebat itu telah
nyelonong menggempur dua orang laki-laki yang sedang
menjalankan tugasnya memasang api, sehingga keduanya
lantas pada rubuh binasa seketika itu juga.
Orang2 yang lainnya coba mengurung Ho Kie, tapi Ho
Kie yang sudah kalap benar, sudah menyerang semua yang
dihadapannya dengan hebat sekali, sehingga sebentar saja
ada lima atau enam orang yang terbinasa di-bawah
tangannya. Segera ia sudah menyerbu kepinggir kuali
hendak menolong dirinya Toan-theng Lojin,
Mendadak didengarnya suara bentakan:
“Bangsat cilik, kau mencari mampus?”
Bentakan itu dibarengi dengan berkeredepnya sinar
kuning didepan matanya Ho Kie. Itu adalah senjata talinya
si orang she Tio.
Tio Go adalah seorang yang namanya sudah terkenal
dalam kalangan hitam. senjata talinya yang dinamakan Tali
Terbang itu entah sudah berapa banyak meminta korban
jiwa manusia, sehingga menarik hatinya kaucu dan pada
hari terakhir ini ia telah ditarik menjadi anggota Hian kuikauw.
Karena ia ingin membuat pahala, lagi pula melihat Ho
Kie yang masih muda belia, maka agaknya tidak dipandang
sama sekali.
“Bangsat kecil!! Kau tidak lekas2 menyerah? Nanti Tio
Go-ya mu suruh kau….”
Siapa tahu, perkataan kau baru saja keluar dari
mulutnya, Ho Kie sudah lenyap dari pandangannya.
Tio Go terperanjat. Pada saat itu suatu kekuatan yang
maha dahsyat telah menerjang dari belakang dirinya.
Tio Go yang masih belum mengenal ilmu silat Hong eng
sie sek, seketika itu terjadi kelabakan. Cepat2 ia menyabet
balik dengan talinya,
Meskipun gerakannya itu dilakukan dengan cepat, tetapi
tidak urung pundaknya telah terkena serangan Ho Kie
dengan telak.
Ho Kie yang sudah merasa gemas sekali terhadap orang
tua itu, telah melancarkan serangannya dengan kekuatan
penuh, sehingga Tio Go ter-huyung2 dan mulutnya
menyemburkan darah segar,…..
Bo Pin sangat kaget, ia lantas memburu pada Ho Kie,
Sambil lintangkan goloknya, ia menegur dengan bengis ;
“Bangsat cilik, kau siapa begitu berani bikin onar dalam
goa harimau ?”
Dengan mata merah, beringas Ho Kie menjawab sambil
ketawa dingin ;
“Bo Pin, apa kau sudah tidak kenali Siao-yamu? Ha, ha !
Siaoyamu hendak menagih atas serangan tanganmu tempo
hari diatas lembah Patah Hati!”
“Kau….apa kau…” Bo Pin berseru tidak
lampias,
“Rasakan dulu seranganku. Nanti kau mengetahui siapa
adanya Siaoyamu ini” kata Ho Kie yang segera
menggunakan ilmu “Tey lek kim kong cian”nya
menggempur dadanya Bo Pin.
Bo Pin sudah lama melupakan peristiwa diatas lembah
Patah Hati, maka ketika itu ia tidak dapat menduga siapa
adanya pemuda dihadapannya ini Tapi melihat pemuda itu
dengan hanya sekali pukul saja sudah dapat merubuhkan
Tio Go sampai terluka parah, segera ia mengerti bahwa
bocah dihadapannya ini bukannya bocah sembarangan.
Maka ia tidak berani memandang ringan lawannya,
setelah mengelakkan serangannya Ho Kie. dengan
kecepatan bagaikan kilat yang nyambar mukanya sianak
muda.
Bo Pin yang mempunyai gelar Pun lui khiu (tangan
kilat), terang ia mahir dalam pertempuran kilat, Sekali ini ia
menyambar pundak Ho Kie yang dibarengi dengan
kekuatan Iweekang Liong jiauw kang, bukan main
hebatnya. Tetapi malam itu Ho Kie bukan lagi merupakan
Ho Kie yang masih anak anak pada dua tahun berselang!
Ho Kie yang sudah bertekad bulat hendak menuntut
balas, sedikitpun tidak mempunyai rasa jeri atas serangan
Bo Pin.
Ketika diserang secara demikian, ia kelit secara gesit
sekali dan kemudian menggunakan Ilmu Hu kut hian kangnya,
sehingga sebentar saja ia sudah berada dibelakang Bo
pin,
Bukan main kagetnya Bo Pin. Untung ia tidak
memandang ringan pada musuh mudanya itu. Melihat Ho
Kie menghilang dari pandangan matanya. dengan tidak
menoleh lagi, goloknya lantas menyambar kebelakang
dirinya sedangkan mulutnya bersamaan dengan itu lantas
bar-kaok2 mendamprat orangnya ;
“Manusia goblok!! Mengapa tidak lekas bunyikan
kentongan ?”
Beberapa orang yang masih hidup, saat itu pada berdiri
melongo tidak berani berbuat apa2. Ketika mendengar
bentakan Bo Pin, mereka baru sadar, maka cepat2 mereka
lari keluar kamar.
Ho Kie mengetahui, jika mereka berhasil membunyikan
kentongan, tidak lama kemudian kamar itu tentu akan
berada dalam kepungan dan saat itu lebih sulit lagi baginya
untuk meloloskan diri. Oleh karena itu, maka ia segera
meninggalkan Bo Pin dan lompat ke-depan pintu sambil
menyerang seorang yang sudah berada dipintu. Tidak
ampun lagi sikorban lantas binasa disitu juga.
Bo Pin yang menyaksikan kejadian itu, amarahnya
memuncak segera ia menyerang Ho Kie dengan goloknya.
Dengan kekuatan Bo Pin pada kala itu, Sebetulnya Ho
Kie belum merupakan tandingannya yang setimpal, tetapi
Ho Kie sudah mata merah ( kesetanan ). Dengan tangan
kosong ia mencegat didepan pintu, tidak membiarkan
seorangpun bisa keluar dari dalam kamar,
Dua di antara orang2 yang masih hidup telah
menggunakan kesempatan selagi Ho Kie sedang bertempur
dengan Bo Pin, telah molos dari lubang angin.
Ho Kie yang harus melawan Bo Pin dengan sekuat
tenaga, hanya dapat menyaksikan keluarnya kedua orang
itu dengan hati gelisah dan mata mendelik.
Tepi heran, orang2 yang keluar dari lubang tadi,
bukannya lekas membunyikan kentongan untuk meminta
pertolongan, sebaliknya malah tidak ada kabar ceritanya.
Bo Pin jadi gelisah hatinya. Mendadak pada saat itu
kelihatan sesosok bayangan molos dari jendela, kemudian
disusul pula oleh bayangan yang lain.
Kedua bayangan itu ternyata adalah kedua orang yang
baru keluar tadi yang kini sudah balik kembali dalam
keadaan sudah menjadi mayat.
Bukan saja Bo Pin, Ho Kie sendiri juga merasa heran
karenanya.
“Bangsat cilik, kau datang dengan berapa kawan?,
Mengapa kau tidak suruh mereka menempur aku sendiri?”
kata Bo Pin dengan suara gusar.
Sudah tentu Ho Kie tidak bisa menjawab karena ia
datang hanya seorang diri saja.
Siapakah gerangan orang dimuka itu? Apakah mungkin
dia ada nona Jie Peng? sebab yang mengetahui Ho Kie
menyerbu kekamar hukuman itu, kecuali Jie Peng, tidak
ada orang keduanya lagi.
Tetapi kalau betul Jie Peng mengapa membantu dirinya
dan membinasaksa orang2nya sendiri?.
Ho Kie juga sudah tidak ragu2 lagi akan pertolongan
orang kedua, semangatnya lantas berkobar, serangannya
diperhebat dan dapat mendesak mundur Bo Pin,
“Orang she Bo!!” bentaknya dengan suara dingin,
“Sekarang dalam kamar ini hanya tinggal aku dan kau
berdua! Kalau aku membunuh kau, sudah tentu tidak ada
orang lain yang mengetahuinya.”
“Apa kau kira aku takuti kau? Hmm!! Mari kita adu
kekuatan” Bo Pin lemparkan goloknya
“Kau tidak usah berteriak! sekalipun tenggorokannya
pecah, juga tidak ada yang bisa dengar. Malam ini hanya
kematian saja akan menjadi bagianmu. Sebelum kau mati,
biarlah kau ketahui dulu siapa adanya aku ini, Apakah kau
masih ingat itu bocah kecil yang kau kejar2 pada dua tahun
berselang ?”
Bo Pin terperanjat, ia sekarang lapat2 mulai ingat
kembali, maka lantas lompat mundur sambil berseru:
“Aaii ! Kau adalah anaknya Ho In Bo.”
“Benar! Kalau begitu ingatanmu masih terang. Masih
ingatkah kau peristiwa berdarah itu?”
“Apa kau kira dengan kepandaianmu sekarang ini kau
dapat menggunakannya untuk menuntut balas kepada
Hian-kui-kiauw? Setan cilik. Kau sudah salah hitung !!”
“Belum tentu! Malam ini seolah2 ada kekuatan gaib yang
membimbing aku, telah mempertemukan kita berdua
didalam kamar ini. Orang she Bo, Perbuatanmu yang sudah
membinasakan ayahku, malam ini harus kau ganti dengan
jiwamu.”
Bo Pin menoleh kepada Tio Go yang terluka dan
kemudian mengawasi Toan-theng Lojin yang berada
didalam kuali serta orangnya yang sudah pada rubuh
binasa.
Memang benar, malam itu seperti ia berada berdua
hanya dengan pemuda itu. Dengan tidak dirasa, hatinya
mulai keder. Ia yang mempunyai kekuatan masih diatasnya
kekuatan Ho Kie, tetapi karena ia mengetahui bahwa
dirinya pernah berbuat salah, mau tidak mau hatinya
merasa gentar juga.
Tiba2 ia lantas membentak dengan suara keras, disusul
dengan serangannya yang hebat.
Ho Kie ketawa dingin, dengan berani ia, menyambuti
serangan lawannya itu.
Setelah kekuatan kedua orang itu beradu, kedua pihak
terpental mundur masing2 dua tindak-.
Bo Pin menggeram hebat, dengan mata beringas ia
menyerang lagi,
Ho Kie pusatkan kekuatannya dikedua tangannya, untuk
kedua kalinya ia hendak menyambuti serangannya Bo Pin.
Tetapi kali ini serangaannya Bo Pin ada lebih hebat, Ho Kie
merasakan dadanya bergolak …..
Bo Pin sendiri juga pucat wajahnya, matanya mengawasi
Ho Kie sambil kerutkan alisnya.
Terang ia sendiri, setelah mengadu kekuatan, telah
terluka parah didalamnya. Kedua pihak hanya saling
pandang sambil mengatur pernapasan masing2, siapapun
tidak berani bergerak, sehingga keadaan menjadi lebih sunyi.
Mendadak Ho Kie mendengar suara elahan napas
panjang, kemudian ada suara yang memanggil padanya.
“Anak, apakah kau……?”
Ho Kie terperanjat, sampai kekuatannya yang sudah
akan pulih kembali hampir buyar semuanya. Ia lihat mata
Toan theng lojin sedang mengawasi padanya.
Dengan badan bergemetaran Ho Kie berkata perlahan :
“Locianpwe, memanglah aku…..Dengan susah payah
aku mencari dirimu….”
Tian theng Lojin kembali menghela napas panjang.
“Kau…..Kau!! Mengapa tidak mau dengar perkataanku?
Dan mencari aku kemari?”
Ho Kie merasa sangat pilu, air mata mengalir keluar,
tetapi ia masih bisa menjawab dengan suara mantap.
“Aku hendak menolong kau keluar dari sini. Locianpwe,
aku hendak membunuh semua orang2 yang menyiksa
dirimu ”
“Anak bodoh, dengan kepandaianmu yang dimiliki
sekarang, apa kau kira bisa menolong aku? Kau tidak mau
dengar pesanku, dengan sembrono berani menerjang
kemari. Itu berarti antarkan jiwa dengan cuma2.”
“Sekalipun harus binasa, aku juga akan binasa dengan
kau bersama2.”
Pada saat itu mendadak Bo Pin membuka matanya
dengan per-lahan2, kemudian dengan meringis berkata :
“Kecuali binasa bersama2 memang kalian tidak
mempunyai jalan keduanya… ”
“Tutap mulut!” Ho Kie membentak, segera melancarkan
serangannya.
Bo Pin menyambuti dengan kertak gigi, setelah terdengar
suara benturan dari beradunya kedua kekuatan, keduanya
terpental mundur untuk kedua kalinya dan jatuh duduk
bersama2 ditanah.
Bo Pin kemudian jatuh pingsan karena benturan
kekuatan yang hebat tadi.
Ho Kie merasakan dadanya bergolak hebat, tetapi ia
masih tidak mau melupakan Toan-theng Lojin, Ia tidak
perdulikan lukanya sendiri, sambil memandang dengan
matanya yang layu ia berkata kepada Toan theng Lojin.
“Locianpwe, aku,…..aku barangkali……. benar2 tidak
mampu…. menolong dirimu…. keluar dari sini….”
“Aih ! ya sudahlah, kau anggap saja aku tidak pernah
menolong kau. Dua tahun berselang kau sudah binasa
dilembah Patah Hati….” Toan theng Lojin mengeluh.
Ho Kie yang mendadak dengar perkataan itu, hatinya
tergetar dan ia melompat berdiri sempoyongan, matanya
berkunang-kunang.
Tetapi ia paksakan berdiri. Dengan suara nyaring ia
berkata :
“Tidak! Kita tidak boleh mati disini……Aku pasti dapat
menolong kau keluar, dari sini …..Locianpwee, apa kau
masih bisa bergerak ?”
Toab-theng Lojin gelengkan kepalanya dan menjawab :
“Kau lenyapkan saja pikiranmu itu, badanku sudah kena
racun Thian tok Cin mo. Kedua pahaku sudah bercacat,
jalan darahku sudah ditotok, kepandaianku sudah musnah
semua. Sekarang kembali disiksa oleh Tio Go dengan Pektok
Kong-sim, Aku rasa, ajalku sudah hampir tiba.
Sekalipun kau bisa menolong aku keluar dari sini percuma
saja jiwaku tidak bisa tertolong.”
Ho Kie tidak mau pencaya, dengan berjalan
sempoyongan ia mau menubruk Toan-theng Lojin,
Tak disangka, tiba2 ia dengar Toan theng Lojin
membentak :
“Diam !”
Ho Kie terkejut, terpaksa urungkan maksudnya.
“Locianpwe,” ia meratap,” Harap supaya kau suka turut
aku sekali ini saja,”
Toan theng Lojin dongakkan kepala lalu berkata dengan
suara sungguh2:
“Lekas berlutut !”
Ho Kie tidak mengerti apa maksudnya, tetapi ia menurut
saja. Hatinya berdebaran, entah kenapa orang tua itu
demikian gusar.
Pada saat itu. Tio Go yang rebah dilain sudut perlahan
lahan membuka matanya.
Toan theng Lojin berkata pada Ho Kie dengan suara
perlahan:
“Kau dengar aku meskipun mempunyai hubungan
seperti murid dengan guru, tetapi namanya masih belum
menjadi muridku benar-benar. Sekarang, kalau aku binasa
masih ada dua soal yang masih belum kuselesaikan. Inilah
yang membikin aku mati tidak meram. Anak, asal kau bisa
keluar dari Kui-kok. dengan selamat, apakah dua soal ini
mau kau selesaikan ?”
“Locianpwe, kalau kau tidak mau ikut dengan aku pergi
bersama sama, aku juga tidak mau pergi dari sini……….”
Toan theng Lojin segera memotong :
“Ngaco ! Aku memberikan pelajaran ilmu silat padamu,
apakah pesan teakhirku ini juga tidak mau kau dengar ?”
“Aku suka turut pesan Locianpwe……” jawab Ho Kie,
gemetar suaranya ,
Toan theng Lojin tersenyum, dan anggukkan kepala.
“Kau dengar baik2 dua soal penting yang kukatakan
tadi,” katanya.
Ho Kie berlutut ditanah untuk mendengarkan pesannya
si orang tua, pada saat itu Tio Go yang sudah sembuh dari
luka2nya ia sudah menggeser tubuhnya dengan perlahan
dan hendak berdiri.
Toan-theng Lojin agak berpikir sejenak, lalu berkata :
“Pertama, setelah aku binasa kau harus meloloskan diri.
Sebelum kepandaianmu sempurna betul, aku larang kau
menyatroni lembah Kui kok ini- Selama kau mempertinggi
ilmu mu itu, kau harus pergi ke Lam hay pho tho mencari
seorang Nikow tua yang bergelar hian sim. Beritahukan
padanya tentang kematianku ini……”
Ho Kie terperanjat, ia bertanya sambil mengalirkan air
mata ;
“Hanya untuk memberi kabar sajA, apakah tidak ada
soal lainnya?”
Toan theng Lojin geleng2kan kepalanya, air mata
mengalir turun, ia berkata pula dengan suara parau :
“Kau katakan saja bahwa sebelum aku meninggal dunia,
aku telah hidup menyendiri beberapa puluh tahun lamanya
dan merasa sangat menyesal terhadap semua kesalahan
dimasa lampau yang sudah tinggal sudah, harap saja di lain
penitisan kita membalas untuk menebus dosaku !”
“Dan soal yang kedua?” Ho Kie bertanya. Toan theng
Lojin menghela napas panjang, matanya tiba2
memancarkan sinar aneh,
“Kalau kau tiba di Pho tho” jawabnya “Dia pasti akan
perlakukan kau dengan sikap yang dingin, tetapi kau harus
bersabar. Kalau dia menanyakan kau pernah apa dengan
aku, kau…….” Baru saja berkata sampai disitu. mendadak
sepasang matanya jadi
beringas, kedua tangannya menekan pinggiran kuali,
badannya melesat tinggi dan menubruk belakang Ho Kie.
Ho Kie terperanjat, ia tidak mengetahui apa sebabnya,
maka ia merasa serba salah
Dalam keadaan demikian tiba2 terdengar suara jeritan
ngeri. Tatkala Ho Kie menoleh dilihatnya Toan-theng Lojin
sudah jatuh ditanah, tangannya menggenggam erat seutas
tali emas, mulutnya tersungging senyuman puas,
suara jeritan itu datangnya dari luar kamar dan lama
tidak berhenti. Tatkala Ho Kie mengawasi keadaan
disekitar kamar itu. ternyata sudah tidak kelihatan
bayangan Tio Go,
ia lalu mengerti apa yang telah terjadi, maka cepat2
menubruk dan memeluk dirinya Toan-theng Lojin seraya
berkata ;
“Locianpwee, Locianpwee.”
Napasnya Toan-theng Lojin memburu, tetapi masih bisa
tersenyum bangga. Dengan susah payah ia berkata :
“Tidak sangka, selagi mendekati ajalku, aku masih bisa
memberi hajaran kepada Tio Go yang ganas itu…,!”
“Locianpwe, aku benar-benar seorang yang tidak
berguna,” kata Ho Kie dengan suara terharu,
Toan-theng Lojin mendadak berkata dengan suara keren
:
“Panggil aku suhu! Dengar tidak ?”
Ho Kie tercengang, tetapi lantas saja merasa girang.
“Suhu!! Suhu, kau….” serunya.
Toan theng Lojin anggukkan kepalanya dengan puas.
“Kalau dia tanya kau ada mempunyai hubungan apa
dengan aku. katakan saja bahwa kau adalah murid satu2nya
dari aku.” orang tua itu berkata puas.
“Suhu, suhu boleh legakan hati. Muridmu sudah
mengerti,”
Sinar matanya Toan theng Lojin makin lama makin
guram, ia menyuruh Ho Kie mendekatkan telinganya,
kemudian berkata dengan suara terputus putus ;
“Suhumu masih ada hal lain yang hendak dikatakan
padamu. Kau harus ingat, kau …… harus ingat …. baik2!” Ia
terhenti sebentar untuk bernapas, sebentar kemudian baru ia
berkata pula ;
“Mereka siang hari malam mendesak aku mengeluarkan
Kian kui-pit kip jilid ketiga, tetapi semua kepandaian yang
terdapat dalam kitab itu sudah kuberikan padamu. Kitab itu
sudah lama kubakar, coba pikirkan, bukankah mereka itu
bodoh sekali?”
Ho Kie tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka
hanya anggukkan kepala saja.
“Aku membakar sejilid kitab yang mati, tetapi
mendapatkan kitab yang hidup berupa dirimu. Sekalipun
aku binasa, akupun akan merasa puas…… ” Toan theng
Lojin tersenyum.
Ho Kie sangat pilu hatinya. “Suhu, aku gendong kau
keluar dari sini.” demikian ia bersuara sekali lagi memohon.
Sebelum sang suhu menjawab, dari jauh mendadak
terdengar suara terompet dan kentongan yang kemudian
disusul oleh suara ramainya orang2 berjalan kaki semakin
mendekati.
Toan-theng lojin berubah wajahnya, lantas berkata
sambil ulapkan tangannya :
“Jejakmu sudah diketahui. Lekaslah pergi ! Nanti tidak
keburu lagi.”
Ho Kie tidak mau meninggalkan suhunya begitu saja, ia
coba pondong dirinya orang tua yang bernasib malang itu.
Tapi, karena lukanya sendiri sangat parah, ia tidak bisa
berdiri dengan tegak, sudah tentu tidak dapat memondong
dirinya Toan-theng Lojin. Maka baru saja hendak berjalan,
ia sudah rubuh lagi
Toan theng Lojin tersenyum puas, lantas bisik2
ditelinganya :
“Giok Sie seng Jie Peng dari Hian kui-kauw, meskipun
berada dalam lumpur tapi tidak kena kotoran, orang
demikian jarang didapatkan. Maka kau harus baik2
perlakukan padanya!”
Setelah itu, mendadak angkat tangan kanannya,
menepok diatas jalan darah Khun-sim hiat Ho Kie sambil
berseru “Pergilah!!”
Ho Kie terkejut, tiba2 badannya gemetar, tapi segera
perasaannya tenang kembali, luka2 dalam badannya
seketika lantas lenyap sebadan!
Dengan cepat ia lompat bangun dan hendak pondong
dirinya Toan theng Lojin lagi, Tapi orang tua itu ternyata
sudah tidak bernyawa,
Dengan memondong tubuhnya Toan theng Lojin yang
sudah dingin, Ho Kie berdiri kesima……..
Diluar kamar suara orang yang datang hendak
menangkap padanya. tapi ia masih tetap berdiri seperti
orang linglung.
Orang2 Hian kui kauw lantas menyerbu masuk. mereka
dipimpin oleh Hui tun Thian-cun Tie Kong Han .
Dibelakangnya ada 7-8 hiocu yang pada membawa golok
dan pedang terhunus.
Tapi ketika melihat Ho Kie, tampaknya hanya pemuda
biasa saja mereka terheran heran.
“Bangsat kecil!! Kau mau kabur?” bentaknya Cek Kong
Han.
Ho Kie tidak ambil pusing, ia pondong Toan theng Lojin
diikat dengan sobekan pakaiannya sendiri.
Cek Kong Han yang tidak digubris sama sekali oleh Ho
Kie, lantas menjadi gusar, lalu perintahkan para hiocu
lantas turun tangan.
Dua hiocu lantas maju menyerang dengan goloknya,
mereka mengira Ho Kie bersedia menyerahkan diri maka
bermaksud hendak di tangkap hidup2. Siapa nyana saja
bergerak, Ho Kie sudah melancarkan serangannya yang
hebat!!
Meskipun dirinya masih terluka. hingga kekuatannya
agak berkurang, tapi sudah cukup untuk bikin lawannya
sungsang sumbel.
Ketika menampak kedua kawannya dibikin rubuh, yang
lainnya segera maju mengurung. Ho Kie tidak berani
berlaku ayal, ia sekarang mengerti keadaannya sendiri
sangat berbahaya, maka ia berkelahi seperti kerbau gila.
Sekejap saja sudah melancarkan serangannya yang sangat
hebat.
Dengan sisa tenaga yang masih ada. Ho Kie melawan
musuh2nya yang berjumlah lebih banyak. Karena ia
berkelahi secara nekad, sebentar saja sudah berhasil
merubuhkan 3 atau 4 musuh.
Cek Kong Han lalu turun tangan sendiri.
Ho Kie tahu bahwa musuh ini bukan orang
sembarangan, ia tidak berani bertindak dengan kekerasan,
dan kini memikirkan caranya untuk meloloskan diri.
Dengan cepat ia menggunakan ilmunya Hoan in Sie sak,
hingga sebentar saja sudah memutari sekitar kamar, 10 lebih
obor lampu telah dibikin padam, hingga keadaan dalam
kamar hukuman itu menjadi gelap gulita.
“Bangsat kau ingin kabur!” demikian bentak Cek Kong
Han yang segera menyerang dengan senjatanya.
Secara gesit sekali Ho Kie mengelakan serangan tersebut,
kemudian lompat melesat melalui lobang angin.
Cek Kong Han ketika mengetahui bahwa Ho Kie sudah
lolos dari lobang angin, ia segera msngejar.
Ho Kie setelah berada diluar, ketika mendongak kelangit,
keadaannya ternyata gelap gulita, tidak ada satu bintangpun
juga. Karena lukanya belum sembuh sama sekali, lagi pula
harus menggendong diri Toan-theng Lojin, sudah tentu
tidak bisa menyingkir jauh2. Tapi tempat itu sekitarnya
adalah merupakan sarang Hian kui kauw, kemana ia harus
menyembunyikan diri?
Selagi masih bingung memikirkan untuk sembunyikan
diri, Cekc Kong Han sudah menyusul dibelakangnya.
Terpaksa ia lari terus sambil kertak gigi !
Karena sudah tidak mengenali jurusan, Ho Kie lari
sekena kenanya, sedang Cek Kong Han yang mengejar
nampaknya makin lama makin dekat.
Ketika menampak didepannya ada sebuah rumah yang
menghalangi, dengan tanpa ragu2 Ho Kie lantas lompat
melesat keatas genteng !
Apa mau, baru saja menginjak genteng, dari samping
tiba tiba muncul satu bayangan hitam, sebentar saja sudah
berada di depan matanya……..
-oo0dw0ooBAYANGAN
hitam itu bergerak cepat sekali, sebentar
saja sudah berada didepan matanya.
Ho Kie tidak mendapat kesempatan untuk menegaskan
wajahnya orang itu, sambil kertak gigi ia hendak
menyerang.
Tapi tiba-tiba bayangan itu berkata dengan suara
perlahan.
“Ho Siaohiap, mari ikut aku!”
Ko Kie dengar suara orang itu seperti bukan suara Jie
Peng, buru2 bertanya sambil urungkan menyerang !
“Kau siapa?”
Bayangan hitam itu menjelinap ketempat gelap.
“Sekarang jangan tanya dulu, mari ikut aku !” ia berkata
sambil gapaikan tangannya.
Karena orang itu agaknya tidak mengandung maksud
jahat, Ho Kie lantas mengangguk. Dibelakangnya kembali
terdengar suara bentakan Hui tun Thian cun yang
kemudian loncat naik keatas genteng.
Bayangan hitam itu tidak berkata apa2, ia hanya ayun
tangan kirinya sambil membentak dengan suara perlahan ;
“Mampus kau !”
Sinar merah lantas meluncur, menyerang Hui-tun Thiancin
yang masih menginjak genteng.
Hui tun Thian cun ada membawa perisai yang berat,
maka ia tidak takuti senjata rahasia tersebut.
Siapa nyana sinar merah itu bukan senjata rahasia biasa,
begitu membentur perisai lantas meledak dan apinya
berkobar hebat !
Hui tun Thian cun terperanjat, ia buru2 mundur, apa
mau terpelanting jatuh kebawah!
Bayangan hitam itu kembali menggapai, dengan cepat
lari kebelakang lembah !
Ho Kie terus mengikuti, tapi ketika menampak bayangan
hitam itu lari menuju ketempat kediamannya Cian tok Jin
mo- lantas berhenti sembari bertanya :
“Sahabat, kau sebenarnya siapa ?”
Bayangan hitam itu nampak sangat gelisah, selagi
hendak menjawab, tiba2 terdengar suara orang ketawa aneh
dan menyeramkan, Kemudian disusul dengan munculnya
sesosok bayangan putih.
Ho Kie angkat kepala, ia lihat bayangan putih itu
ternyata adalah seorang aneh tinggi kurus dengan
pakaiannya serba putih sambil memegang ruyung orang
mati.
Orang itu wajahnya sangat seram, kepalanya terikat
sepotong kain putih seperti seorang sedang kematian orang
tuanya, matanya mendelong, mirip dengan malaikat
penunggu kelenteng……
Ho Kie mengawasi wajah orang itu seperti setan, hatinya
agak ragu2, dengan tanpa terasa ia mundur setengah tindak.
“Kamu berdua benar2 bernyali besar. Kenal kah kamu
aku siorang she Siang yang tidak berguna ini?” katanya
orang aneh itu dengan suara dingin,
Dari caranya orang itu mengunjukan diri, Ho Kie segera
mengerti bahwa orang yang seperti setan itu mempunyai
kepandaian tinggi. Dan oleh karena ia sendiri belum
sembuh benar dari lukanya, apa lagi sedang menggendong
jenazah suhunya, kalau harus bertempur padanya, rasanya
sulit dapat menyingkirkan diri.
Dalam keadaan demikian terpaksa ia cuma bisa
kerahkan seluruh tenaganya dikedua tangannya, apa bila
perlu ia akan gempur manusia seperti setan itu dengan
secara nekad.
Tapi orang berbaju hitam yang membawa Ho Kie kemari
itu lantas menghadang didepannya, dengan tenang ia
berkata kepada si-orang she Siang.
“Sahabat, kau menyebutkan dirimu orang she Siang,
apakah kau adalah Siang Seng-seorang kejam dan ganas
yang bergelar Im San Tiauw khek itu ?”
“Tepat ! Kau tokh kenal baik tabiatku, kenapa bukan
lekas menyerah ?” jawabnya orang aneh itu.
Tapi sibaju hitam tidak menjawab, sebaiknya lantas
bergerak dengan cepat, tangannya menghajar jalan darah
Ciang thay hiat di dada orang itu.
Setelah melakukan serangannya, lantas berkata kepada
Ho Kie.
“Ho Siaohiap, harap segera menerjang ke luar, biarlah
aku yang melayani orang ini….”
Siang Seng berkelit, dengan cepat lantas balas
menyerang, kemudian berkata :
“Satupun jangan harap bisa lolos. Aku si orang she Siang
selamanya tidak suka kasih lolos korbannya yang sudah
berada ditangannya!!”
Tapi si baju hitam itu terus mendesak dalam waktu
sekejapan saja mereka sudah bertempur sengit.
Ho Kie menampak sibaju hitam ternyata bisa menahan
Siang Seng, untuk sementara barangkali tidak sampai kalah,
maka ia segera kabur.
Siapa nyana baru saja bertindak, ia rasakan ada angin
menyambar dengan hebat dan ia hampir saja terjungkal.
Saat itu dengan suaranya Siang Seng :
“Sahabat kecil, kau juga harus rasakan pentungan
loyamu !”
Ho Kie terkejut, buru2 mengeluarkan ilmunya Hoan ing
sie sek , dengan secara gesit sekali dapat menghindarkan
serangannya orang she Siang itu.
Namun Ho Kie sudah keluarkan keringat dingin, ia
sungguh tidak menduga kepandaian orang itu ada demikian
tingginya, selagi masih bertempur dengan si baju hitam itu,
ia masih bisa menggunakan kesempatan menyerang
padanya.
Ho Kie meski berhasil menyingkirkan serangannya orang
she Siang itu. tapi nampak kepandaian orang she Siang itu
masih diatasnya sibaju hitam hingga buat bisa kabur dengan
selamat, rasanya tidak mudah. Maka-diam2 ia mengeluh.
Siapa nyana dalam keadaan putus asa, mendadak
terdengar suara bentakan nyaring. kemudian disusul dengan
suara jeritan. Ternyata Siang Seng badannya sudah
sempoyongan, sedang sibaju hitam itu nampak lengan
kirinya sudah diturunkan, agaknya juga sudah terluka.
Namun ia masih bisa ulapkan tangan kanannya sambil
berkata kepada Ho Kie :
“Ho Siaohiap, lekas pergi……..”
“Sahabat apa kau terluka……..?” tanya Ho Kie kaget,
Tapi pada saat itu mendadak terdengar suara dan
beberapa bayangan orang datang menyerbu kesitu.
Si baju hitam lompat menghampiri Ho Kie dan berkata
dengan suara perlahan:
“Dari sini jalan kebelakang lembah, dibawah sebuah
loteng dilamping gunung itu, ada sebuah goa tersembunyi,
kau lekas sembunyikan diri disana…………”
Karena mereka berdua berdiri dekat, Ho Kie segera
mengenali wajah orang itu maka lantas berseru :
“Aaaa! Kau bukankah Auw yang……”
Tapi orang itu segera ulapkan tangannya.
“Jangan berisik! Lekas pergi!” katanya.
Ho Kie sudah mengenali bahwa sibaju hitam itu adalah
Auw-yang Khiu yang membawa kabur kalajengking
emasnya.
Dalam keadaan kepepet ia mendapat pertolongan, malah
perbuatannya dilakukan nekad untuk membela padanya,
dalam hati merasa tidak enak atas anggapannya dulu
terhadap diri siorang tua itu. Maka ia marasa tidak tega hati
meninggalkan orang tua itu untuk menghadapi bahaya
sendiri……
“Locianpwe kau……” demikian ia berkata dengan suara
gemetar.
Tapi Auw yang Khiu tidak memberi kesempatan untuk
ia banyak rewel, maka Ho Kie terpaksa meninggalkan
orang tua itu untuk lari ketempat yang ditunjuk.
Saat itu ia lantas teringat akan beberapa kawannya yang
pada membela dirinya begitu nekad. Pertama ia ingat
dirinya Gouw Ya Pa. sitolol yang hampir binasa karena
diirinya, kemudian Jie Peng yang tidak segan menghianati
perguruannya sendiri dan Auw-yang Khia yang bersedia
pertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkan dirinya….
Dibelakangnya lapat2 terdengar suara orang bertempur,
ini membuat ia merasa sedih dan malu terhadap dirinya
sendiri,..
Ia tidak tahu apakah Auw-yang Khia mampu
menghadapi semua musuhnya? Apakah Auw yang Khia
mempunyai akal yang sempurna untuk menyingkirkan diri
dari kepungan musuh-musuhnya?,
Beberapa kali ia ingin balik untuk memberi bantuan
kepada Auw-yang Khia, tapi bila mengingat jenazah
suhunya, terpaksa ia menghela napas dan melanjutkan
perjalanannya.
Mendadak dibelakang dirinya kelihatan sinar merah,
suara bentakan terdengar saling susul..
Sinar merah itu ternyata adalah api yang dilepas oleh
Auw-yang Khia. mungkin itu adalah senjata rahasia si
orang tua untuk menolong dirinya lolos dari musuh-musuhnya.
Ho kie terkejut, selagi ia menghentikan kakinya,
ternyata ia sedang lari menuju kebawah sebuah kamar
bertingkat.
Tadi ia lari tanpa tujuan, sehingga sudah lupa, rumah
bertingkat mana yang ditunjuk oleh Auw-yang Khia.
Loteng didepan matanya itu ternyata tingginya setumbak
lebih, disekitarnya ada taman bunga yang menawan hati.
Disisinya tidak ada rumah2 lain.
Ho kie mengetahui bahwa dirinya sekarang berada
dalam pusatnya perkumpulan Hian Kui Kauw, jika kurang
hati2 sedikit saja, setiap saat jiwanya bisa melayang. Ia
berdiri diam dibawah loteng, sama skelai tidak berani
bergerak karena ia harus memperhatikan keadaan loteng itu
terlebih dahulu.
Ternyata loteng itu tidak mempunyai penerangan lampu,
keadaan didalamnya gelap gulita. Disebelah kanan kira-kira
sepuluh tombak jauhnya terdapat sebarisan rumah-rumah
yang pendek2 bangunannya, sedangkan disebelah kirinya
terdapat sebuah rimba pohon bambu serta gunung-gunungan
buatan manusia.
Taman bunga didekat rumah bertingkat itu ditanami
bunga2 beraneka warna. Dalam taman itu ada sebuah
jalanan kecil berliku liku yang menuju ke sebuah empang.
Melihat taman yang terhias sangat indah itu dapat
diduga bahwa orang yang bertempat tinggal diatas loteng
itu pasti salah satu orang terpenting dari Hian Kui Kauw.
Kemungkinan besar adalah tempat berdiamnya Cian Tok
Jin mo sendiri.
Pikiran Ho kie mulai bimbang. Ia memandang kearah
rimbunan pohon bambu, pikirnya ia hendak
menyembunyikan diri disitu dahulu. Tetapi beru saja
kakinya bergerak, tiba-tiba didengarnya orang bicara
dengan sangat perlahan,
“Ho siao hiap…”
Ho kie terperanjat, dengan cepat ia membalikan
tubuhnya.
Segera diketahuinya bahwa disebuah pohon yang tidak
berjauhan dengan tempatnya berdiri itu kelihatan seorang
wanita berbaju putih. Meskipun ia tidak dapat melihat
parasnya dengan tegas, tetapi dari bentuk badan serta
suaranya, dapat diduga bahwa wanita itu pasti cantik.
Ho kie merasa heran, mengapa wanita itu bisa
mengetahui namanya dan bagaimana pula ia bisa berada
didekat dirinya tanpa diketahuinya?
Ia lalu menjawab dengan sopan,
“Nona siapa? Mengapa mengetaui namaku yang
rendah?”
Wanita itu ketawa halus, dengan perlahan ia berjalan
menghampiri Ho kie
“Ho siao hiap, apa kau sudah tidak mengenali aku?”
tanyanya merdu.
Ho kie terpesona, Ia kini kenali wanita itu siapa,
matanya terbelalak
“Aaaa., kau adalah Jie….”
Ucapan “Peng” belum keluar dari mulutnya, wanita baju
putih itu kelihatan bergerak pundaknya, secepat kilat ia
sudah berada di dekatnya Ho kie dan dengan jari
telunjuknya ia mendekap mulut Ho kie.
“Jangan ribut2. Hati2 nanti kedengaran oleh orang
luar.” katanya dengan suara perlahan.
Ho kie tercengang, tetap disamping itu ia juga merasa
girang, takut dan malu.
Dengan seorang yang mempunyai kepandaian seperti Ho
kie pada saat itu, sebetulnya tidak mudah untuk mendekati
dirinya. siapa tahu Jie Peng dalam sekejap mata saja sudah
bisa berada di depannya, bahkan dengan sekali bergerak jari
si nona sudah berhasil mendekap mulunya. Ini benar2
merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa.
“Kiranya adalah nona Jie Peng. Aku yang rendah sangat
menyesal dengan perbuatanku yang kurang hormat tadi.”
Demikianlah ia berkata kepada si nona.
Jie Peng yang berdandan sebagai wanita kelihatannya
bersikap malu, dengan tangannya ia menepok kepalanya
sendiri, sambil ketawa berkata perlahan:
“Ouw, aku sungguh keterlaluan. Bagaimana aku telah
melupakan kau masih belum sembuh dari lukamu dan
lantas berlaku kasar terhadap kau. Ho siao hiap, kau toh
tidak begitu kaget bukan?”
Ho kie bertambah merasa tidak enak sendiri, maka ia
juga ketawa seraya berkata:
“Tidak apa, aku telah lari sampai disini, Tidak nyana
nona juga berada didekat sini.”
Jie Peng memandang padanya sejenak, tiba2 ia
mengerutkan alisnya.
“Ah!! Aku hampir saja lupa. Dari rumah penjara kan kau
menolong Toan theng lojin, mereka pasti akan mencari kau
kemana2. Lekas!! mari ikut aku sembunyi.”
Ia mengajak Ho kie jalan melalui taman bunga menuju
ke loteng.
Ho kie yang terus mengikuti dibelakang dirinya si nona,
seolah-olah terpengaruh oleh kekuatan gaib. Ketika berada
dibawah loteng mendadak seperti baru tersadar, maka ia
bertanya:
“Nona, apakah loteng ini….”
“Loteng ini adalah tempat kediamanku, tidak akan
berani sembarangan masuk kemari. Kau boleh legakan
dirimu, tidak nanti mereka bisa menemui kau.”
Ho kie mengangguk, ia mengikuti si nona naik ke loteng.
Dalam loteng itu hanya terdapat dua kamar, satu kamar
buku dan satu lagi kamar tidur.
Ho kie lalu meletakan jenazah Toan theng lojin diatas
kursi dalam kamar buku. Matanya mengawasi keadaaan
disekitarnya, ternyata bersih dan rapi sekali.
Saat itu Jie Peng sudah menghampiri sambil membawa
lampu lilin. Dengan sikap sopan sekali ia tanya Ho kie :
“Ho siao hiap, apa lukamu berat?”
“Barangkali tidak seberapa…”
Tetapi sebelum ucapannya itu habis, mendadak
dirasakannya puyeng, sehingga hampir saja ia jatuh dan
cepat-cepat duduk diatas sebuah kursi.
“Aaaa… lukanya tidak ringan, Parasmu sampai
berubah.” seru Jie Peng
“Didalam rumah penjara aku telah bertempur dengan Bo
Pin. Barang kali karena menggunakan tenaga terlalu
banyak, badanku terluka…”
“Pantas. Bo Pin terkenal dengan julukan Tangan Geledek.
Kekuatan lweekangnya sangat hebat. Baru2 ini ia kembali
telah mendapatkan kepercayaan Kaucu, ia mulai melatih
ilmu serangan Hu sie Hiat kut ciang lik. KAu telah kena oleh
serangan tangannya. Kalau tidak lekas diobati, akibatnya
akan hebat sekali.”
Si nona lalu masuk kamar dan mengambil sebuah botol
kecil, lalu mengeluarkan tiga butir pil dari dalamnya dan
diberikan kepada Ho kie, kemudian menyuruh Ho kie
rebahkan diri diatas kursi.
Dalam hati Ho kie merasa bersyukur terhadap nona ini,
ia lantas berkata sambil menyoja:
“Meskipun nona berada dalam Hian Kui Kauw, tetapi
tidak ketularan oleh perbuatan kotor dan jahat. Aku yang
rendah telah beberapa kali mendapatkan bantuanmu, entah
bagaimana aku dapat membalas budimu ini.”
Wajah Jie Peng segera memerah, lalu menjawab sambil
ketawa:
“Kau dengan kau meskipun belum lama berkenalan,
tetapi aku sudah mengetahui bahwa kau merupakan orang
gagah dijaman ini. Bisa berkenalan dengan kau saja aku
merasa bangga….”
“Bagaimana nona bisa berkata begitu? Sebelum suhu
menarik napas yang penghabisan, ia masih memuji diri
nona. Nona juga merupakan penolongku, maka selama
hidupku tidak nanti aku melupakan kau.”
Jie Peng kelihatan terperanjat, matanya terbuka lebar2, ia
bertanya dengan suara cemas:
“Apa? Kau kata Toan-theng lojin….”
“Ah, suhu sudah menderita sangat hebat? waktu aku
datang, sudah tidak keburu menolong jiwanya,”
Jie Peng seolah- terpukul hebat, mendadak ia lompat dari
kursinya dan berseru .
“Haaa, apa dia siorang tua sudah,……”
“Suhu sudah menderita seumur hidupnya.” Ho Kie
menjawab dengan sedih. “Waktu, dekat pada ajalnya,
kembali dia harus menerima siksaan yang sangat hebat.
Kalau diingat penderitaan siorang tua, sungguh membikin,
orang punya kegusaran meluap dan ingin membikin habis
orang2 Hian kui kauw….”
bicara sampai disini, mendadak ia ingat bahwa Jie Peng
juga termasuk orang dari Hian kui kauw, maka ia segera
menutup mulut dan tidak berani melanjutkan
perkataannya, tetapi sebaliknya Jie Peng lantas menyahut
sambil ketawa getir.
“Jangan kau keliru, karena aku juga orangnya Hian kui
kauw, lantas kau juga membenci diriku!”
“Nona Jie, kau sudah mengetahui bahwa Hian kui kauw
merupakan bencana besar bagi dunia dan banyak
kejahatan2 yang sudah dilakukan oleh mereka mengapa kau
masih….”
“Dalam hal ini, aku mempunyai kesulitanku sendiri!” Jie
Peng tiba2 memotong. “Sebaiknya kita jangan bicarakan
soal itu. Lukamu tidak ringan. Sungguh tidak kusangka kau
bisa lolos dari tangan Bo Pin. Aku sekarang hendak pergi
sebentar. kau baik2 mengaso disini.”
“Aku mempunyai seorang sahabat,” kata Ho Kie. “Oleh
karena dia hendak menolong aku bisa meloloskan diri.
sekarang ini dia telah kena dikurung oleh orang2nya Hiankui-
kauw. Kepergian nona ini jika mempunyai sedikit
kesempatan, tolong berikan bantuan nona kepadanya atau
tolong dengar kabar apakah dia sudah lolos dari kepungan.”
Jie Peng anggukkan kepala…..
Setelah Jie Peng berlalu, dengan seorang diri Ho Kie
menunggui jenazah Toan theng Lojin. Mengingat akan
nasibnya, air mata telah mengalir turun tanpa terasa.
Sekujur badan dirasakan sangat lelah, keringat mengucur
deras, ia tahu bahwa itu adalah reaksi dari bekerjanya obat,
Maka ia lantas merebahkan diri diatas kursi, sebentar
kemudian lama2 tidur pulas.
Entah berapa lama telah berlalu, mendadak ia dengar
suara tindakan kaki, hingga tersadar.
Tindakan kaki itu sangat perlahan, tidak berapa lama
sudah berada didepan pintu kamar
Ho Kie mengira Jie Peng yang kembali, buru2 berduduk
ia sudah kepingin tahu kabar tentang Auw-yang Khia.
Siapa nyana ketika pintu terbuka, yang melangkah
masuk ternyata ada satu nona tanggung…..
Nona itu berusia kira kira baru 14 atau 15 tahun,
parasnya sangat cantik.
Ho Kie terperanjat, entah dari mana datangnya
kekuatan, seketika itu lantas lompat turun dari kursinya.
Nona kecil itu rupanya juga tidak menduga dalam kamar
itu ada orang laki-laki, maka seketika itu juga terkejut,
kemudian keluarkan suara bentakan ;
“Siapa ? Sungguh berani mati! Ini tempat apa, kau berani
masuk sembarangan?”
Ho Kie takut nona itu nanti akan membuat gaduh,
sehingga ia susah terlolos, maka secepat kilat lantas menjual
pergelangannya. supaya nona itu jangan sampai membikin
ribut.
“Siapa nyana nona kecil itu ternyata mempunyai
kepandaian cukup berarti, dengan secara bagus sekali ia
bisa menghindarkan cekalannya Ho Kie, kemudian ia
membentak pula :
“Manusia liar dari mana? Kau benar2 hendak mencari
mampus ?”
Ho Kie tercengang, ia juga tidak menjawab, hanya ulur
tangan kanannya, kembali menyambar jalan darah Ciok tiehiat
si nona.
Nona kecil itu alisnya berdiri, sekali lagi ia berhasil
mengelakan sambaran tangan Ho Kie.. kemudian ulur
tangannya dan menyerang dada Ho Kie.
Ho Kie tidak menduga nona kecil itu mempunyai
kepandaian begitu tinggi karena sudah tidak keburu
menyingkir, terpaksa menyambuti serangan si nona !
Kalau pada waktu biasanya, nona kecil itu sudah tentu
bukan tandingan Ho Kie, tapi saat itu Ho Kie yang masih
belum sembuh betul dari lukanya, setelah kedua tangan
beradu, lantas mundur dua tindak dan duduk lagi dikursi.
Nona kecil itu juga mundur setindak, ia nampaknya
terkejut, tapi dengan cepat sudah maju hendak menyerang
lagi.
Tiba2 terdengar suara bentakan :
“Ah Bwee, kau mau apa ?”
Nona kecil itu buru2 menarik kembali serangannya dan
lompat mundur.
“Nona, kau……….” ia berkata dengan suara gugup
“Kau tidak boleh banyak mulut, Ho Siao-hiap ini adalah
sahabatku, bukan kau lekas minta maaf padanya?” berkata
orang yang di panggil nona, yang ternyata adalah Jie Peng
Nona kecil itu menatap nonanya dan Ho Kie dengan
bergantian, lalu ketawa sambil menekap mulutnya, selagi
hendak bertanya, Jie Peng sudah membentak lagi.
“Ah Bwee, kau dengar perkataanku tadi atau tidak?”
Nona kecil itu benar saja lantas memberi hormat dan
minta maaf kepada Ho Kie.
“Nona Jie, nona ini adalah…..” bertanya Ho Kie.
“ia adalah pelayanku yang aku boleh andalkan, tapi dia
agak berandalan, tidak tahu adat, harap Ho Siaohiap suka
memaafkan padanya !” jawab Jie Peng.
Ho Kie melongo, ia tidak nyana pelayannya saja sudah
mempunyai kepandaian begitu tinggi.
Jie Peng perintahkan Ah Bwee mengambil barang
hidangan, ia sendiri lantas duduk di sampingnya Ho Kie,
kemudian bertanya dengan suara lembut :
“Badanmu terluka, lagi pula tidak mendapat waktu
cukup untuk merawat diri sudah itu harus melakukan
pertempuran pula, bukankah itu tambah berat lukanya? Kau
baik2 beristirahat dalam kamarku ini dua hari. kalau sudah
sembuh betul, nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya!”
“Nona tadi keluar, apakah sudah dengar kabar tentang
sahabatku itu ?” tanya Ho Kie tidak sabaran.
“Sahabatmu itu bukankah Auw yang Khia, si pencuri
sakti yang terkenal digolongan hitam?”
“Sedikitpun tidak salah, entah bagaimana nasibnya dia
dikepung oleh orang Hian-kui kauw? Apakah bisa
meloloskan diri….?”
“Sahabatmu itu benar licin. entah dari mana dia dapat
mencuri senjata rahasia Ong kee-po yang mengandung api,
bukan saja sudah berhasil meloloskan diri dari kepungan 4-
3 orang kuat dari Hian kui kauw, bahkan sudah melukai
Hui tun Thian cun dan lain2nya, serta sudah membakar
habis dua buah rumah. Sekarang seluruh lembah sudah
terjaga keras, segala orang dilarang keluar masuk,
pemeriksaan dilakukan dengan teliti!!”
Hati Ho Kie baru merasa lega ketika mendengar
keterangan itu, ia lantas berkata sambil menghela napas :
“Kalau begitu syukurlah! Aku terus merasa kuatir
memikirkan nasibnya, karena jika ada terjadi apa2 atas
dirinya, sekalipun aku sendiri bisa terlolos dari bahaya,
hatiku juga merasa tidak enak !”
Jie Peng bantu Ho Kie membungkus jenazahnya Toan
theng Lojin dengan kain putih setelah itu mengawasi Ho
Kie mengobrol, sikapnya sangat open sekali.
Hari2 yang penuh kemesraan itu telah dilewati dengan
sangat cepat sekali rasanya, Ho Kie yang berada diloteng
kecil itu tahu2 sudah dua hari. Sekarang lukanya sudah
mulai berangsur2 sembuh seperti sedia kala.
Hari itu, selagi Jie Peng dan Ho Kie asyik mengobrol,
Ah Bwee tiba- datang tergopoh2. Dengan suara gugup ia
berkata kepada Ho Kie.
“Ho Siaohiap, lekas sembunyi. Lebih cepat lebih
baik………”
Jie Peng lantas lompat bangun.
“Ah Bwee apa yang telah terjadi ? Tidak perlu ribut2 ”
katanya.
“Celaka, kaucu segera akan datang sendiri kesini.” jawab
Ah Bwee.
Bukan main kagetnya Ho Kie mendengar keterangan itu,
ia lantas lompat bangun dan hendak menggendong
jenazahnya Toan-theng Lojin dibawa keluar.
Jie Peng mencegah seraya berkata :
“Tunggu dulu!!” Kemudian ia berpaling dan menanya
kepada Ah Bwee :
“Dari mana kau dapat kabar ini ? Bicaralah dengan
tenang!!”
“Kaucu sudah dua hari tidak melihat kau menengoki dia,
maka dia kuatir kau tidak enak badan. Barusan dia sudah
keluarkan perintah, dia segera hendak datang kemari
dengan membawa tabib………”
Jie Peng berubah wajahnya seketika.
“Apa benar?” tanyanya dengan suara perlahan.
“Siapa yang main2 dengan nona. Ho Siao-hiap, lekas kau
sembunyi. Sebentar lagi barangkali kaucu akan tiba!!”
Ho Kie lantas memberi hormat kepada Jie Peng.
“Terima kasih atas kebaikan nona yang sudah
memberikan tempat untuk aku merawat diri. Budimu ini
tidak akan kulupakan. Sekarang aku hendak pergi. Aku
tidak bisa membiarkan nona kerembet rembet oleh karena
urusanku!” Sehabis berkata, kembali ia hendak berlalu.
Jie Peng dengan erat sekali memegang baju Ho Kie,
setelah berpikir sejenak ia lalu berkata :
“Tengah hari bolong seperti ini, dirimu mudah dapat
diketahui orang. Apalagi selama dua hari ini penjagaan
dilembah dilakukan sangat keras, bagaimana kau mampu
menerjang keluar? Lebih baik kau sembunyi dalam
kamarku, mungkin lebih selamat.”
“Meskipun itu ada benarnya, tetapi jika sampai diketahui
oleh Thian tok Jin mo, bukankah akan menyusahkan diri
nona….?”
“Tidak apa. Sudah tentu aku bisa menghadapinya
sendiri.”
Dengan cepat Jie Peng bersama Ah Bwee mengajak
masuk Ho Kie kekamar tidurnya. Lebih dulu ia meletakkan
jenazahnya Toan theng Lojin dibawah pembaringan,
kemudian membuka lemari pakaian yang besar dan
menyuruh Ho Kie sembunyi didalamnya.
Ketika menutup pintunya, Jie Peng memesan supaya Ho
Kie menahan napas, jangan sampai kedengaran suaranya.
Jie Peng berkata pula dengan sungguh2:
“Aku tahu bahwa kau mempunyai permusuhan yang
sangat dalam dengan dia. tetapi sekarang kau hanya
seorang diri saja. Kepandaianmu diduga masih belum bisa
menandingi kepandaiannya. Aku minta supaya bisa
bersabar sedikit, jangan mengadakan gerakan apa2, apa kau
suka terima permintaanku ini?”
Sekalipun aku dengan dia mempunyai permusuhan yang
sangat dalam, tetapi sekali kali aku tidak mau berbuat untuk
menjerumuskan diri nona kedalam bahaya kecelakaan
maka sudah barang tentu aku bisa bersabar.”
Jie Feng ketawa puas, ia lantas mengulap tangannya,
dengan perlahan ia menepok pundaknya Ho Kie dan
berkata dengan suara yang lemah lembut sambil unjukan
ketawanya yang manis :
“Benar, Itulah baru namanya orang yang bisa dengar
kata……..”
Sebentar kemudian pintu lemari ditutup, keadaan
didalamnya menjadi gelap.
Ho Kie duduk bersih bersemedi, sedikit pun tidak berani
bernapas, karena Toan tok Jin-mo mempunyai kepandaian
yang sangat tinggi, jika kurang hati2 akibatnya bisa lenyap
bagi dirinya,,
Mati? Ia tidak takut mati, tetapi kalau ia mati siapa yang
akan menuntut balas sakit hati ayahnya? Siapa pula yang
akan menuntut balas sakit hati suhunya? Apa lagi jika hal
itu nanti akan merembet rembet dirinya Jie Peng, sekalipun
ia mati, juga rasanya tidak akan bisa meram.
Setelah mempasrahkan dirinya Ho Kie, Jie Peng lalu
membuka pakaiannya dan sengaja bikin kusut paras
mukanya dan rambutnya, kemudian lompat naik keatas
pembaringan, menutupi dirinya dengan selimut, seolah2
seorang yang tengah menderita sakit,
Tidak lama kemudian, dibawah loteng sudah kedengaran
suara ramai.
Seorang kacung sudah naik Iebih dahulu untuk
memberitahukan kedatangan Kaucunya.
Ah Bwee menyambut dengan sikapnya yang sangat
hormat, ia berlutut dipinggir pintu.
Kedatangan Kaucu ini seperti raja saja, ia diapit oleh 4
anak laki2 kecil yang membawa pedang, kebutan, tetabuhan
dan buli2 merah, Dibelakangnya sianak kecil itu diikuti
oleh si tangan geledek Bo Pin, Im-san Tiauw Khek Siang
Seng dan seorang imam tua berambut dan berjenggot putih.
Orang2 itu pada masuk kekamar buku menunggu
cukongnya.
Sebentar kemudian seorang tua berpakaian sangat
perlente dengan jenggotnya yang panjang serta badannya
yang tegap telah masuk dengan tindakan perlahan sambil
menggendong tangannya.
Ah Bwee lantas mengangguk2kan kepalanya sembari
berkata :
“Budakmu yang rendah disini Ah Bwee menyambut
kedatangan Kaucu!!”
Orang tua itu ternyata adalah iblis dunia persilatan.
Hian-kui-kuw Kaucu, Thian-tok Jin-mo Ujie-Hui !”
“Bangunlah, tidak perlu peradatan !” ber kata Jie Hui
sambil ulapkan tangannya.
Ah Bwee lantas berbangkit dan berdiri di samping
dengan sikap sangat hormat.
Jie Hui duduk diatas sebuah kursi, dengan matanya yang
tajam memandang Ah Bwee sembari bertanya;
“Beberapa hari ini tidak kelihatan nonamu, apa
badannya kurang enak ?”
Ah Bwee buru2 menjawab :
“Tidak seberapa penyakitnya, cuma ada sedikit tidak
enak badan saja, nona pesan hendak beristirahat dengan
tenang kira2 dua hari saja ”
Jie Hui anggukan kepalanya, diwajahnya yang sangat
dingin nampaknya ada sangat perhatikan anaknya.
Si tangan geledek Bo Pin tiba2 berkata.
“Kaucu tidak usah kuatir, kiranya nona Peng cuma
sedikit kurang enak badan, rasanya sudah cukup Leng-ho
Cianpwe memberian resep dan obat untuk diminum,
sakitnya tentu lekas sembuh.”
“Baiklah mari kisa tengok keadaannya” jawab Thiam-tok
Jin-mo sambil anggukkan kepala.
Jin Hui lalu ajak imam tua yang bernama Leng-Ho Ko
itu masuk kedalam kamar Jie Peng, diikuti oleh anak kecil
pengiringnya.
Jie Peng sudah dapat menangkap semua pembicaraan
mereka, maka baru saja Thian tok Jin-mo melangkah
masuk, lalu sengaja angkat dirinya sambil menunjang
dengan tangannya, kemudian berkata sambil ketawa :
“Ayah, kau datang ….”
Ucapan itu telah membikin terkejut Ho Kie yang
sembunyi didalam lemari !
Karena saking kagetnya, dengan tidak disengaja hatinya
telah tergetar sehingga badannya agak tergetar juga…….
Siapa nyana gelaran itu telah menimbulkan suara halus !
Bagi Cian tok Jin mo, seorang yang sudah mempunyai
kepandaian begitu tinggi, sedikit suara saja sudah cukup
menimbulkan kecurigaannya, maka ia lantas berhenti
sejenak, matanya memancarkan sinar tajam yang
menakutkan……… !
-oo0dw0oo-
JIE PENG juga terkejut, tapi ia sangat cerdik. Dengar
cepat ia tepok2 pinggir tempat tidurnya sembari berkata
dengan suara lemah lembut :
“Ayah.. Duduklah disini!!”
Cian tok Jin mo matanya berputaran sejenak, kemudian
anggukkan kepalanya sembari ketawa, lalu duduk dipinggir
pembaringan anaknya, ia bertanya :
“Sudah berapa hari tidak melihat kau, ada-apa yang
kurang enak? Sekarang ayah membawa tabib kenamaan
pada dewasa ini Lang ho Locianpwee untuk melihat
penyakitmu!”
Jie Peng lalu memberi hormat kepada ho Kow dan
berkata ;
“Sebetulnya tidak ada sakit apa2, bagaimana sampai
membikin repot Leng-ho Locianpwee ?”
Leng ho Kow tertawa bergelak . “Ah Bwee ambilkan
sebuah kursi untuk ia duduk.
Setelah memeriksa sejenak, tabib itu lantas berkata :
“Keadaan nona ada baik, barangkali tidak mendapat
gangguan apa2, nanti pinto berikan sedikit obat, sebentar
pasti baik.”
Cian tok Jin mo, menghela napas perlahan, kemudian
berkata ;
“Lohu cuma mempunyai satu anak perempuan ini,
ibunya meninggalkan ia terlalu pagi, sudah tentu agak
aleman. Sianseng tidak perlu merendah terhadap anak2,
kalau perlu diberi nasehat apa2, katakanlah saja terus
terang, supaya dia bisa belajar baik !”
Jie Hui yang gelarnya saja Thian tok Jin mo ( manusia
iblis beracun ), didalam rimba persilatan, orang yang baru
saja mendengar namanya sudah merasa jeri. Tidak nyana
begitu melihat anaknya, ternyata mempunyai perasaan
welas asih seperti manusia umumnya-Perkataannya dan
sikapnya yang begitu menyayang terhadap anaknya
sesungguhnya membuat orang susah percaya kalau ia ada
seorang manusia yang seperti iblis kejamnya.
Selagi tabib tua itu memeriksa nadinya Jie Peng, Cian
tok Jin mo sudah pasang telinga dengan ilmunya Cian
thong jie.
Tidak antara lama tabib tua itu selesai memeriksa
nadinya Jie Peng, setelah menghibur sebentar, lain mundur
kekamar buku untuk menulis resep obatnya.
Cian-tok Jin-mo membuka matanya, ia mengawasi
anaknya, tiba2 berkata sambil ketawa :
“Peng-jie, kali ini kau pergi pesiar dengan Kao-him Liemo.
apa selama beberapa hari itu tidak mendapatkan
pengalaman yang agak aneh ? coba ceritakan kepada
ayahmu !”
Jie Peng bingung atas pertanyaan ayahnya itu, ia cuma
bisa menjawab sambil gelengkan kepalanya :
“Tidak ada!! Bukankah aku begitu pulang lantas memberi
tahukan kepada ayah?”
“Maksud ayah, dalam perjalananmu itu apakah tidak
menemukan sahabat yang erat perhubungannya dengan kau
?”
“juga tidak!!” jawabnya Jie Peng agak tercengang.
“Dua hari berselang ada orang dengan berani mati masuk
kelembah Kui-kok, ia memasuki penjara dan membawa
kabur Toan-theng Lojin, apakah peristiwa ini kau ada
dengar ?”
“Dengar sih dengar, tapi saat itu aku sedang tidak enak
badan, tidak keluar kemana mana……”
Siapa nyana belum habis ucapannya, Cian tok Jin-mo
mendadak wajahnya berubah ia berkata dengan suara
dingin :
“Peng jie, kau tidak seharusnya membohongi ayahmu.
Malam itu, Cek siok siokmu telah melihat sendiri kau
datang kedepan lembah, berdiri tidak jauh diatas-genteng
rumah dengan rumah penjara itu, bagaimana kau
mengatakan tidak keluar pintu ?”
-oo0dw0oo-
Jilid 10
MENDENGAR pertanyaan itu bukan main kagetnya Jie
Pang- Tapi ia seorang cerdik. sebentar lantas dapat satu
pikiran, maka ia lantas pura2 gusar dan berkata :
“Ayah begitu menanya pada anak, apakah ayah
mencurigakan anak yang menolong dirinya orang itu,
bukan? jahanam tua she Tiek itu sungguh kurang ajar, dia
telah berani mengatakan ucapan yang tidak pantas terhadap
diriku didepan ayah. Anak tidak mau mengerti ! Sekarang
anak hendak membikin perhitungan dengan dia !”
Sembari berkata ia mendorong selimutnya dengan
uring2an, ia berlagak hendak turun dari pembaringan
sambil berkaok kaok :
“Ah Bwee, lekas ambilkan pakaianku….”
Aksinya Jie Peng itu nampaknya sungguh2, sehingga
seorang yang licin seperti Cian tok Jin mo juga sudah kena
diselomoti. Ia lalu menahan anaknya dan berkata sambil
ketawa :
“Adatmu masih seperti anak kecil saja! Ayahmu tokh
cuma iseng menanya saja, kau lantas gerubukan seperti
orang kebakaran jenggot. Lekas rebahkan lagi, hati2 nanti
masuk angin !”
Jie Peng makin tidak mau mengerti, sambil menekap
parasnya ia menangis terseduh-seduh. mulutnya berkaok
kaok :
“Semua adalah gara2nya simanusia tua bangka keparat
itu. setiap hari gawenya cuma makan tidur. Karena takut
tidak terpakai tenaganya, maka lantas cari2 muka, sampai
bapak juga hendak diadu domba dengan anaknya. Ayah,
lebih baik kau bubarkan saja perkumpulan Hian kui kauw
ini ! Sebelum maksud mu hendak menjadi jago tercapai,
kau sudah anggap anakmu sendiri menjadi maling. Aih!!
Apa artinya aku hidup ? Oh ibu ! Ibu.. Semua lantaran kau
meninggalkan aku terlalu pagi!! sehingga anakmu hidup
sendirian didalam dunia dan harus menerima penghinaan
segala manusia keparat!!”
ia menangis sembari banting badannya dan kakinya
sehingga tempat tidurnya menjadi murat marit tidak
keruan.
Cian tok Jin mo kewalahan benar2. Karena ia terlalu
sayang kepada anaknya itu, maka lantas ia menghibur :
“Peng jie, Peng jie, jangan begitu. Kalau nanti
kedengaran oleh Bo Siok siok sekalian bukankah, akan
menjadi buah tertawaan?”
Jie Peng masih tidak mau mengerti,
“Aku masih perlu menjaga muka apa lagi? Orang tokh
sudah menganggap aku sebagai maling, namaku sudah
dibikin tergoda.”
“Anak tolol, kau jangan mengucap demikian.”
Bo Pin, Siang Seng dan Leng-ho Kouw yang berada
didalam kamar buku telah dikejutkan oleh kejadian itu,
maka mereka buru2 masuk.
Jie Peng ketika melihat orang2 itu datang, Ia menangis
semakin keras.
Cian – tok Jin – mo yang melihat anaknya hanya
memakai pakaian tipis, lalu berkata sambil kerutkan alisnya
:
“Peng-jie, badanmu kurang enak, kenapa pakai pakaian
begitu tipis ? Haii… nanti kena hawa dingin, benar2 kau
menjadi sakit.”
kemudian ia berpaling, dan berkata kepada pelayannya :
“Ah Bwee, ambilkan pakaian tebal untuk nonamu.”
Ah Bwee yang mendengar perintah itu menjadi
kebingungan, sebab Ho Kie sedang bersembunyi didalam
lemari pakaian. jika lemari itu dibuka, sudah pasti Ho Kie
akan dapat diketahui. Tetapi perintahnya Kauwcu tidak
boleh tidak harus diturut.
Sebentar kelihatan ia bersangsi, Cian tok Jin mo yang
menyaksikan itu sudah merasa tidak sabaran, maka ia
lantas membentak pula :
“Aku suruh kau ambilkan pakaian tebal untuk nonamu,
kau dengar tidak ? Lekas!!!”
Terpaksa Ah Bwee keraskan hati, dengan cepat ia
berjalan menuju kearah lemari pakaian.
Dengan badannya menghadang didepan lemari, tangan
kirinya perlahan2 menarik pintu tangan kanannya dengan
cepat menyambar sepotong pakaian, kembali menutup
pintu lagi
Ho Kie yang sedang berada dalam lemari sudah
ketakutan setengah mati. Apa mau si Ah Bwee karena
terburu2, telah kesalahan mengambil baju sutra.
Cian tok Jin mo lantas berbangkit sembari berkata ;
“Dasar anak tolol. Nanti Ayahmu akan ambilkan
sendiri.”
Jie Peng terperanjat, cepat2 ia berkata ;
Ayah, aku tidak kedinginan..,….kau tidak usah capaikan
hati,”
“Lihat, kau masih seperti anak kecil saja-Kau adalah
anak satu2nya dari ayahmu apakah menjadi baju untuk kau
saja lantas menjadi repot?”
Orang tua itu sembari berkata, tangan yang lain menarik
pintu lemari……
Ah Bwee ketakutan setengah mati, wajahnya berubah,
badannya gemetaran, hampir saja ia jatuh pingsan.
Ho Kie sudah mendengar semua pembicaraan mereka,
terpaksa ia kerahkan seluruh kekuatan tenaganya siap sedia
untuk menghadapi segala kemungkinan.
Asal Cian tok Jin mo menarik pintu lemari, terpaksa ia
berlaku nekad karena sudah tidak ada jalan lain.
Sesaat suasana dalam kamar tersebut menjadi tegang.
Apa yang akan terjadi selanjutnya sukar sekali dapat
diduga………
Meskipun Jie Peng orangnya cerdik, tetapi dalam
keadaan gawat yang seperti itu, ia juga tidak berdaya.
Tangan Cian-tok Jin mo sudah menempel dipinggang
lemari, begitu ia menarik, Ho Kie sudah tidak dapat
sembunyikan dirinya lagi.
Jie Peng pejamkan matanya, terpaksa ia hanya
menantikan nasib jeleknya yang akan menimpa dirinya.
Siapa nyana, dalam keadaan yang sangat berbahaya itu,
tiba2 terdengar suara terompet yang ditiup berulang ulang.
Dalam kagetnya, Cian tok Jin mo dengar, sendirinya
lantas urungkan maksudnya membuka lemari.
Tidak lama, seorang anak murid dari Hian kui kauw,
kelihatan lari naik keatas loteng.
Empat orang anak kecil yang menjaga Kaucunya,
melihat kedatangan orang itu, lantas mencegat dipintu dan
membentak :
“Kaucu ada disini, lekas berhenti.”
Orang itu lantas berlutut, dengan suara gugup ia
memberikan laporannya:
“Hunjuk beritahu kepada Kaucu, bahwa Para ketua dari
sembilan partai besar dari rimba persilatan telah berkumpul
menyatroni lembah Kui-kok dan sekarang sudah berada
dimulut lembah.”
Semua orang yang mendengar laporan itu, lantas pada
berubah wajahnya. Hanya Cian tok Jin mo yang kelihatan
masih tenang saja.
“Sungguh besar sekali nyali mereka, Bo Tongcu kau
pimpin dulu para Tongcu dan Hiocu pergi menyambut.
Lohu segera akan menyusul.” Kauwcu keluarkan perintah,
Bo Pin terima baik perintah itu, bersama-sama dengan
Siang Seng lalu lari turun dari atas loteng.
Cian tok Jin mo kembali menghibur anaknya, kemudian
baru mengajak empat pengiringnya bersama Leng ho Kouw
pergi meninggalkan kamar Jie Peng……..
ooo0dw0ooo
Sekarang kita kembali kepada Gouw Ya Pa. sejak
ditinggal pergi oleh Ho Kie, didalam goa Pek giok kiong
setiap hari ia merasa gelisah. Sebetulnya ia sudah hendak
cepat2 menyusul kelembah Kui kok, tetapi karena harus
mentaati pesan Ho Kie, terpaksa ia harus menunggu sampai
tiga hari lamanya.
Karena sampai tiga hari kemudian ia juga tidak
mendapatkan kabar beritanya tentang diri Ho Kie, maka
pagi2 sekali ia sudah meninggalkan lembah Patah Hati
sambil membawa benda pusaka Kin hoan leng.
Siapa tahu, ketika ia tiba dibawah bukit Pek kit nia,
disitu keadaaannya tetap sunyi, tidak kelihatan bayangan
para ketua dari sembilan partai besar.
Gouw Ya Pa mencari berputar-putaran, Tidak berhasil
menemukan walaupun orang2nya dari sembilan partai
besar itu, ia lantas naik darah, lalu memaki-maki dengan
suara keras:
“Kurang ajar!! Hweeshio bangsat, Imam jahanam!
Perkataan kalian seperti kentut saja. Hari ini kalau kalian
tidak muncul, nanti Gouw Toaya akan mendatangi sarang
kalian sambil membawa Hou hoan-leng dan
memerintahkan kalian pada bunuh diri “…
Tiba tiba dibelakangnya ada orang yang berkata dengan
suara dingin :
“sicu ini kelihatannya marah2 sendirian. Siapakah yang
sicu maki2 tadi?”
Gouw Ya Pa berpaling, segera dilihAtnya seorang iman
yang sudah lanjut usianya sedang berdiri disebuah batu
besar yang tidak jauh dibelakang dirinya.
Karena ia sedang mendongkol, maka imam itu lantas
dibuat bulan-bulanan. Ia membentak dengan suara bengis :
“Jahanaaammm ! Kau dari golongan mana ?”
Imam itu tercengang, ia menjawab dengan suara dingin ;
“Pinto adalah Siong Leng, sekarang menjabat ketua Butong
pay…… ”
Gouw Ya Pa merasa girang, ia lalu membentak dengan
suara keras :
“Siong Leng, sungguh besar sekali nyalimu. Mengapa
tidak lekas berlutut?”
Siong Leng Totiang adalah Cian-bun dari Bu-tong-pay
pada waktu itu, sebetulnya ia adAlah seorang tua yang
sudah kenamaan dalam rimba persilatan, tetapi mendengar
perkataan dan juga melihat sikap Gouw Ya Pa yang, begitu
kasar, dalam hati juga merasa heran maka ia menanya
dengan sikapnya yang sungguh sungguh :
“Numpang tanya, sicu ada murid dari golongan mana?
Mengapa berani berlaku kasar dihadapan pinto ?”
“Kau berani bertanya aku murid dari golongan mana ?
Kalau aku sebutkan, nyalimu akan lompat keluar !” sahut
Gouw Ya Pa sambai ketawa dingin, kemudian tangannya
merogoh sakunya untuk mengambil Kiu hoan Leng yang
lalu diangkatnya tinggi- sembari berkata :
“Kenal tidak ? Ini permainan apa? Aku adalah muridnya
ini…….,…”
Ketika melihat benda pusaka itu, seketika itu wajah
Siong Leng Totiang berubah, cepat cepat ia memberi
hormat sembari berkata ;
“Melibat tanda pusaka seperti melihat Cau-wu. Pinto
Ciang-bun dari Bu-tong-pay keturunan kelima puluh dua
disini menghadap Seng Leng.”
Gouw Ya Pa merasa sangat bangga, tetapi ia tidak
merasa puas, maka kembali ia membentak :
“Apa begitu sudah cukup ? Lekas berlutut!!”
Siong Leng Totiang ada ketua dari satu partai besar,
diperlakukan secara demikian sudah tentu agak
mendongkol. Tetapi karena anak tolol itu membawa tanda
pusaka, tidak boleh tidak harus ia menurut perintahnya,
maka dengan terpaksa ia berlutut. Dalam hati diam2 ia
memaki : Thian Hian lojin sungguh membikin susah orang.
Kalau aku tahu pembawa tanda pusaka ini ada seorang
kasar macam ini, biar bagaimana juga aku tidak mau
menemuinya lebih dulu.”
Kembali Gouw Ya Pa berkata dengan suara keras;
“Hai jahanam! Suruh kalian datang semua kenapa kau
cuma sendiri yang muncul? Dimana itu kepala gundul dan
imam2 yang lainnya?”
Siong Leng Totiang benar2 sangat mendongkol, tetapi
juga merasa geli, dengan terpaksa ia menahan amarahnya,
Ia menjawab dengan, lakunya yang hormat sekali:
“Pinto yang kebetulan pesiar telah berpapasan dengan
Thian Hiao toyu dari Hua-san pay. Dari padanya pinto
mendapat kabar tentang maksud Leng-cu, maka malam itu
juga pinto sudah menuju kemari. Tentang partai lainnya
pinto tidak tahu.”
“Bohong ! Kalian berani tidak menepati janji. semua
harus dibunuh!!.”
Siong Leng Totiang terperanjat, diam2 ia berpikir :
“Kelihatannya Leng cu ini orang kasar, kalau begitu, kita
tidak boleh membuat ia gusar, Kalau dia perintahkan aku
bunuh diri, apa boleh aku tidak menurut?”
Berpikir sampai disitu, dia terperanjat, menahan rasa
marahnya, lalu menyahut dengan sangat hormat :
“Hari ini adalah tanggal sembilan bulan sembilan. Ciang
bun dari partai lainnya barangkali sebentar lagi akan datang
semua.”
“Dalam waktu yang begitu lama, apa masih belum cukup
? Apakah perlu harus berias segala baru menemui orang?”
Perkataan itu benar2 telah membuat Siong Long Totiang
tidak bisa menjawab.
“Baiklah.. Kau berlutut saja disini, kapan mereka datang,
saat itulah kau boleh berdiri,” kata Gouw Ya Pa pula.
Siong Leng Totiang terperanjat, ia berkata dengan suara
cemas :
“Pinto…………”
“Tidak perlu segala pinto pinto. Aku yang suruh kau
berlutut sampai tiga hari tiga malam.”
Selagi berkata begitu, kembali ia mendengar suara orang
berjalan, sebentar kemudian lantas kelihatan muncul dua
bayangan orang,
Gouw Ya Pa menoleh, seketika itu lantas berkata sambil
ketawa :
“Bagus ! Kembali datang dua orang yang akan menalangi
kau.”
Kedua orang yang baru datang itu ternyata adalah Tio
Thian Ek, ketua Tiam khong pay dan satunya lagi adalah
seorang yang sudah berusia kira-kira enam puluh tahun,
dipunggungnya menggemblok sebuah pedang panjang
tetapi belum dikenal oleh Gouw Ya Pa. Tio Thian Ek yang
melihat Siong Leng Totiang berlutut dihadapan Gouw Ya
Pha dengan laku yang sangat hormat, dalam hati merasa
sangat heran, maka ia lantas bertanya kepada Gouw Ya Pa
sambil menjura:
“Numpang tanya, Kiu hoan leng Lengcu, Ho siaohiap
sekarang ini ada dimana ?”
Gouw Ya Pa memandang kepadanya dengan sorot mata
dingin, ia menjawab:
“Hmmmm, apa kau masih ingat Ho Siaohiap. kalau kau
datang lebih lambat lagi mungkin dirinya Ho Siaohiap
sudah dicincang orang.”
Tio Thian Ek kenal Gouw Ya Pa ini sahabatnya Ho Kie,
pada pikirnya tidak perlu terlalu merendah terhadap orang
muda, maka ketika mendengar perkataan itu, hatinya
merasa kurang tenang.
“Aku telah mendapat perintah untuk menyampaikan
berita kepada khong-thong dan Kiong lay kedua partai, lalu
terus menuju kemari. Kalau aku tiba disini tidak
menemukan Ho Siaohiap, tokh tidak boleh disalahkan
kalau aku melanggar perintah.”
Gouw Ya Pa melototkan matanya, ia lalu mengangkat
Kiu hoan lengnya tinggi-tinggi sambil membentak:
“Kau masih mau membantah, lihat! ini apa ?”
Tio Thian Ek yang melihat Kiu hoan leng itu berada
ditangan anak tolol itu, ia diam-diam mengeluh sendiri.
Terpaksa ia tundukkan kepala, kemudian berlutut sambil
berkata.
“Tio Thian Ek menyumpai lengcu.”
Orang tua yang berdiri disampingnya juga lantas berlutut
sambil berkata:
“Cian bun Tecu dari Khong thong pay keturunan ketiga
puluh empat Lim Co Ek disini menjumpai Lengcu,”
Gouw Ya Pa berkata dengan suara dingin;
“Kedatanganmu berdua sungguh kebetulan sekali.
Sekarang yang lainnya tidak perlu dibicarakan. Imam dari
Bu tong ini tadi sudah berlutut lama, sekarang kalian
menggantikan dia untuk menantikan yang lainnya. Jika
yang lainnya itu tidak datang, kalian jangan bangun.”
Siong Leng lantas berbangkit sambil mengucapkan
terima kasih.
Tio Thian Ek coba membantah: “Aku siorang tua sudah
memerlu menyampaikan kabar dan kedatanganku juga
tidak terlambat, Kenapa…..”
“Aku juga tidak berkata kalian terlambat.” Gouw Ya Pa
memotong. “Hanya kuatir kalian mengaso sebentar.” si
tolol nyengir.
Tio Thian Ek menjadi gusar, ia mengawasi Lim Co Ek
sebentar. kelihatannya orang itu juga tidak puas terhadap
Lengcu ini, ma ka timbulah pikiran jahatnya. diam-diam ia
memberi isyarat kepada Lim Co Ek.
Kedua orang tua itu lantas melesat dari kanan dan kiri.
Lim Co Ek menyerang Gouw Ya Pa, sedangkan Tio Thian
Ek hendak merampas Kiu boan leng.
Siong Leng Totiang yang berdiri disampingnya juga
sudah siap sedia. Tio Thian Ek berhasil, ia juga akan turun
tangan.
Siapa tahu, selagi mereka bergerak Gouw Ya Pa yang
tadinya kelihatan memejamkan matanya mendadak
menbuka lebar-lebar matanya dan membentak:
“Kalian hendak berbuat apa?”
Tio Thian Ek terperanjat, cepat2 tangannya ditarik
kembali dan lompat mundur. Tetapi Lim Co Ek yang sudah
turun tangan, ketika mendengar bentakan itu. ia memaksa
menarik kembali serangannya. kembali berlutut ditanah.
Gouw Ya Pa lantas berkata sambil tertawa nyengir:
“Aku tahu, bahwa kalian berdua tua bangka pasti tidak
puas, tetapi kalian berani hendak merampas Kiu hoan leng
kalau tidak dikasih ajaran, Kalian nanti tidak tahu diri.”
Ia lalu mengangkat Kiu hoan lengnya dan berkata pula:
“Ketua Tiang khong dan Khong thong tidak menurut
perintah Lengcu serta sudah timbul pikiran jahat. Sekarang
harus dihukum tampar pipi masing-masing sepuluh kali.”
Tio Thian Ek, Lim Tio Ek saling pandang akhirnya
sama2 berkata.
Gouw Ya Pa lalu berkata kepada lim co ek, “Orang tua
she Lim, kau pukul dia dulu.”
Terpaksa Lim Co Ek angkat tangannya, sembari berkata
dengan suara perlahan:
“Tio heng ini jangan sesalkan aku.” dan lantas
menampar pipi Tio Thian Ek sampai sepuluh kali.
Kasihan Tio Thian Ek sebagai seorang jago kenamaan.
karena merasa malu terhina demikian rupa maka dengan
mendadak lantas menghunus pedangnya dan kemudian
hendak menggorok lehernya sendiri….
Mendadak ada sebuah benda menyambar,
Tio Thinn Ek. merasakan lengannya kesemutan.
pedangnya lantas terlepas jatuh ditanah, kemudian disusul
oleh suaranya orang yang berkata nyaring:
“Tio-heng adalah satu Ciangbunjin dari satu partai besar.
Apa artinya baru dihukum oleh Lengcu begitu saja sudah
berpikiran seperti seorang wanita ?”
Gouw Ya Pa menoleh, ia melihat dikanan kirinya sudah
berdiri seorang padri dan tiga orang imam. Orang yang
bicara tadi ada adalah ketua Ngo-bie pay, Hui Kak Siansu.
Padri tua itu lalu menghampiri Gouw Ya Pa dan lantas
berkata sambil rangkapkan kedua tangannya:
“Gouw Sicu yang telah mewakili Ho Siaohiap
menyampaikan kabar dengan membawa tanda pusaka,
sudah tentu kita orang harus menurut. Tetapi tidak tahu Ho
Siaohiap sekarang berada dimana?”
Gouw Ya Pa lantas merasa gusar, ia berkata dengan
suara bengis:
“Kau juga tanya aku, siapa suruh kalian datang begitu
lambat. Dia sudah pergi menerjang sendiri kelembah Kui
kok. Sampai hari ini, sudah tiga hari lamanya, tetapi masih
belum ada kabar beritanya. Kebanyakan tentu dia sudah
binasa.”
Hui Kak Siansu berubah wajahnya seketika.
“Lembah Kui kok bukan tempat sembarangan, dengan
seorang diri Ho Siaohiap menempuh bahaya, barangkali
betul-betul akan menemukan bahaya.” katanya agak gugup.
Gouw Ya Pa kembali membentak,
“Hei! Kalian tiga imam, apa kalian datang untuk
bertemu? Lekas beritahukan nama kalian supaya kita bisa
lekas berangkat.”
Hui Kak Siansu buru-buru ajak ke tiga imam itu
memberi hormat kepada Kin hoan leng, mereKa itu
ternyata adalah ketua Kun-lun pay keturunan kelima puluh
satu Bu wie Totiang ketua Ceng shia pay keturunan ketiga
puhluh sembilan. Liauw Tim Totiang dan ketiga Kiong lay
pay keturunan ketiga puluh tuiuh. Bun Hie Totiang.
Gouw Ya Pa menghitung jumlahnya orang, ternyata
masih kurang dua.
Bu wie Totiang dari Kun lun pay lantas memberi
keterangan: “Thian-hian Toyu dari Hoa san pay mungkin
sebentar lagi bisa datang,”
“Aku siorang tua juga pernah mengabarkan kepada
Tiauw Goan Taysu dari Siao-lim pay’ Sebelum tengah hari
pasti ia akan sudah sampai.” Hui Kak Siansu turut bicara.
Goauw Ya Pa terkejut, sebab ia sendiri adalah orang dari
Siao-lim-sie, terhadap ketua Siao-lim-sie Tiauw Goan
Taysu, selamanya ia sangat takut dan menghormat.
Tapi ia bisa sesukanya memberi perintah sama sekali
tidak memikirkan itu, maka bukan main kagetnya ketika
mendengar keterangan Hui Kak tadi. cepat berkata:
“Kita tidak usuh tunggu mereka. Mari kita pergi
menolong orang yang sangat penting. Sudah ada kalian
bertujuh. mungkin sudah cukup.”
Selagi ia hendak memberi perintah lebih lanjut. Lim Co
Ek tiba-tiba menunjuk dengan jarinya serta berkata:
“Apakah itu bukan Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian
Totiang ?”
Benar saja, dari jauh kelihatan seorang hweesio dan
seorang imam yang berlari mendatangi dengan cepat.
Gouw Ya Pa memang kenal kepada mereka seketika itu
lantas kelabakan, Cepat ia menarik tangan Hui Kak Siansu
seraya berkata.
“Toa Hosiang, lekas kau suruh Touw Goan Taysu dari
Siao lim-pay itu pulang sana.
Hui Kak Siansu terperanjat, lalu bertanya: “Apa artinya
ini? Tiaaw Goan Taysu adalah seorang yang berkedudukan
tinggi. Untuk menyerbu kelembah kui kok, justeru
membutuhkan dia sebagai ketua. Bagaimana kalau dia
disuruh pulang?”
Gouw Ya Pa menjawab sambil meringis, “Kau tidak
tahu. aku tidak bisa bertemu muka dengan dia.”
Kembali Hui Kak Siansu terperanjit. “Kenapa tidak
berani bertemu dia ?”
“Aih ! Kau benar benar cerewet.”
Pada Saat itu Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian
Totiang sudah sampai dan terus berkata kepada semua
orang sambil memberi hormat:
“Tuan-tuan sudah datang terlebih dulu, kami agak
terlambat. Harap dimaafkan.”
Goaw Ya Pa buru-buru menjawab sambil membalas
hormat, “Ooo, tidak apa, tidak apa.”
Semua orang merasa heran, mengapa Lengcu itu
adatnya sangat aneh. Tadi sikapnya begitu galak, tapi
kenapa terhadap Tiauw Goan Taysu dan Thian Hian
Totiang sikapnya begitu rendah?
Tiauw Goan Tayau agaknya tidak mengenali Gouw Ya
Pa, ini memang tidak mengherankan sebab gereja Siao limsie
mempunyai murid murid jumlahnya ribuan orang,
bagaimana Tiauw Goan Taysu bisa mengenali satu demi
satu, apa lagi Gouw Ya Pa yang merupakan muridnya
tukang masak dan sebagai orang biasa saja.
“Sicu inikah pemegang benda pusaka dari partai kita, Ho
Siaohiap adanya?” ia bertanya.
Gouw Ya Pa yang tidak tahu ketua Siao lim sie itu tak
mengenali padanya. ketika ditanya iapun gugup, cepat ia
jawab sambil goyangkan tangan.
“Aku bukan orang she Ho. Aku hanya mewakili saudara
Ho membawa pusaka untuk mewakili tuan tuan sekalian,
bagaimana berani disebut Lengcu?”
Gouw Ya Pa lalu angsurkan benda itu, “Ini adalah Kiu
hoan leng harap taysu periksa.” katanya hormat.
Tiauw Goan Taysu yang melihat Kiu hoan leng itu
adalah benda pusaka yang dibuat beberapa tahun berselang,
cepat ia mundur tiga tindak dan lantas berlutut seraya
berkata:
“Melihat tanda partai, seperti melihat Couwsu, pinceng
Tiauw Goan, Ciangbunjin Soao lim sie keturunan Kelima
puluh enam, disini menghadap beng leng.”
Gouw Ya Pa juga cepat berlulut:
“Lo-suhu lekas bangun, jangan menyulitkan aku Gouw
Ya Pa.”
Siapa tahu, perbutannya itu telah mengejutkan ketua dari
delapan partay yang lainnya, maka semuanya berlutut.
Tauw Goan Taysu juga terperanjat, cepat cepat ia
memimpin bangun Gouw Ya Pa sehingga semua lantas
pada bangkit.
“Ho Siaahiap membawa tanda partay menyampaikan
kabar menyuruh kita semua berkumpul disini. Apakah
karena urusan Hian kui kauw dari lembah Kui kok?”
bertanya Tiauw Goan Taysu.
“Benar. Sekarang dia sudah pergi sendiri kelembah Kui
kok, sudah tiga hari lamanya
sampai kini masih belum kedengaran kabar ceritanya.”
jawab Gouw Ya pa.
“Kalau begitu, kita tidak boleh terlambat kita orang
orang dari sembilan partai rasanya harus menemui juga
Cian Tok Jin Mo.”
Thian Hian Totiang mendadak ingat kalajengking
emasnya, maka ia lantas berkata dengan suara gusar:
“Hian kui kauw telah mengganas didunia. sudah lama ia
ingin membasmi sembilan partai besar kita. Taysu dan para
toyu sekalian, hari ini sangat beruntung kita bisa berkumpul
disini, mengapa tidak segera berangkat kelembah Kui kok?
pertama kita segera menolong dirinya Ho Siaohiap, kedua
kita suruh Hian Kui kauw juga kenal kelihayan kita
sehingga dikemudian hari tidak berani memandang rendah
lagi !”
Tiam cong, Khong tong, Kiong lay dan Ceng shia yang
anak muridnya sudah pernah dibikin susah oleh orang-orang
Hian kui kauw, segera mrnyetujui usul itu.
Sebaliknya dengan Hui kak Siansu yang berpikir
panjang. ia ini berkata:
“Hian kui kauw meski belum lama muncul dirimba
persilatan, tapi belakangan ini mengumpulkan banyak
orang-orang pandai. apa lagi lembah kui kok merupakan
markas besarnya, kalau kita hendak pergi, harus membuat
rencana yang sempurna, baru bisa bergerak,”
“Aku seorang kasar, tidak mengerti perkara begitu,
mengapa tidak mengangkat Tiaw Goan Taysu saja sebagai
pemimpin?” kata Gouw Ya Pa.
“Lolap cuma mendapat perintah untuk mengumpulkan
orang, bagaimara boleh berlaku melewati batas?” berkata
Tiauw Goan Taysu sambil ketawa.
“Taysu seorang berilmu tinggi. memang seharusnya yang
bertindak sebagai pemimpin.” kata orang banyak.
“Terima kasih atas kecintaan serta kepercayaan
saudara2. lolap merasa berat untuk menolak. Tapi menurut
pikiran lolap, Hian kui kaw ada mempunyai banyak orang
berkepandaian tinggi apa lagi ilmunya Hu sie Biat kut orang
dari cian tok Jin mo, barangkali disini tidak ada yang
mampu menandingi. Maka kali ini kita pergi kesana,
sebaiknya dengan secara hormat lebih dahulu, untuk
menanyakan dimana adanya Ho Siaohiap, kita lihat
bagaimana jawabannya?”
Usul itu telah diterima baik oleh semua orang, maka
lantas mereka berangkat bersama-sama menuju kelembah
Kui kok.
Ketua dari partai itu semua mempunyai kepandaian ilmu
lari pesat, maka sebentar saja sudah pada melesat
meninggalkan bukit Pek kutnya.
Tapi dengan secara demikian kasihan bagi Gouw Ya Pa
yang tidak mempunyai kepandaian ilmu pesat, hingga
untuk mengikuti mereka sudah empas empis dan toh masih
ketinggalan jauh.
Terpaksa ia keluarkan Kin hoan leng, paksa mereka
berjalan agak lambat.
Terpisah kira satu lie dari lembah Kui kok. tiba-tiba dari
sebuah rimba melesat seekor burung yang membawa kabar.
“Penjagaan lembah kui kok ini benar-benar sangat kuat,
masih sejauh 10 lie, perjalanan kita sudah diketahui oleh
mereka,” kata Hui Kak Siansu sambil tertawa.
“Kita lebih dulu menghadap dengan secara hormat,
sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi, kita harus tunjukan
diri secara terang,” kata Tiaw Goan Taysu,
Kembali berjalan beberapa li, kini sudah mendekati
mulut lembah.
Tiba-tiba muncul dua orang, masing-masing bawa
pedang dipunggungnya. Ketika tiba didepan rombongan
Tiauw Goan Taysu. lantas berkata sambil angkat tangan
memberi hormat:
“Bo Tongcu dari Hian kui kauw telah mendapat perintah
dari Kauwcu mewakilinya menyambut kedatangan
Ciangbunjin dari sembilan partai. Sekarang dia dimulut
lembah menantikan Ciangbunjin sekalian.”
“Kuarang ajar! Apa dia tidak bisa keluar menyambut
sendiri? Mengapa harus menunggu disana?” Gouw Ya Pa
membentak.
Gouw Sicu tidak boleh begitu. Ini hanya orang yang
menyampaikan kabar saja. Kita tidak perlu ribut dengan
mereka,” kata Tiauw Goan Taysu, kemudian berpaling
kepada kedua orang itu sembari ketawa berkata.
“Tolong kalian sampaikan kepada Bo Tongcu, katakan
saja bahwa Ciangbun dari Kun lun, Ngo-bie. Bu tong,
Khong-tong’ Ceng shia. Kiong lay, Hoa san Siao lim dan
Tiam cong sembilan partai, karena mempunyai sedikit
urusan, ingin bertemu dengan Kauwcu sendiri.”
Kedua orang itu angkat kepala. mengawasi Gouw Ya Pa
dengan sikapnya yang dingin lalu bertanya :
“Ingin tanya, Eng hiong ini dari partai mana ?”
Gouw Ya Pa gusar, ia lantas membentak: “Aku adalah
ketua dari partai sundel yang khusus mengurus kalian
bangsa sundel.”
Kedua orang itu menjadi gusar. mereka mundur dua
langkah. agaknya segera hendak turun tangan.
Gouw Ya Pa lantas menghunus pecutnya dan
membentak pula: “Kurang ajar! apa kalian mengajak aku
berkelahi? Nanti kubikin patah tulang2 kalian dulu!”
Tiauw Goan Taysu lalu maju dan menghadang ditengah,
berkata kepada dua orang itu,
“Tuan ini adalah Lengcu yang memegang tanda pusaka
partai Kiu hoan leng yang hari ini memimpin sembilan
partai untuk berkunjung kepada ketua kalian.”
Mereka mendengar keterangan itu pada terkejut,
wajahnya berubah seketika, agaknya merasa sangsi.
Gouw Ya Pa lalu berkata sambil acungkan Kiu hoan
lengnya:
“Kawanan bangsat, apa kau tidak percaya, Gouw
Toayamu tidak mempunyai apa-apa hanya ini saja hari ini
akan mencari setori dengan Hian kui kauw!”
Dua orang itu matanya membelalak, mereka lantas
angkat tangan menberi hormat, kemudian undurkan diri.
Tiauw Goan Taysu dan lain-lainnya pada merasa tidak
puas dengan sepak terjangnya Gouw Ya Pa, tapi karena
Kiu hoan leng berada d tangannva, apa yang mereka bisa
berbuat terhadap padanya?
Ketika rombongan Tiauw Goan Taysu tiba dimulut
lembah, dari jauh sudah kelihatan barisan yang menyambut
kedatangan mereka.
Ditengah-tengah rombongan barisan penyambut itu ada
berdiri seorang berewokan dengan alis yang putih ia itu
adalah ketua bagian kepengajaran Bo Tongcu, si tangan
geledek Bo Pin.
Di kedua sisinya berdiri Cek Kong Han, si Toata Tan
Liang. Giok bin Kim kong Ong Hoa Cu, Sie Lek, Siang
Hong Siang, Cian Siu, Tio GO, Siang Seng dan lainlainnya.
Dalam Hian kui kauw kecuali kaucunya sendiri dan
beberapa orang golongan tertua, boleh dibilang semua
sudah keluar menyambut menemui ketua dari partai
persilatan.
Inilah buat pertama kalinya Hian kui-kauw mengajukan
barisan yang demikian kuat sehingga membuat para ketua
partai itu pada terkejut.
Bo Pin yang maju lebih dulu dan berkata pula para
tamunya sambil menjura.
“Hari ini sungguh beruntung kami dapat menyambut
kedatangan tuan, siorang she Po atas nama kaucu, disini
mengucapkan selamat datang kepada tuan tuan!”
“Kau adalah Tongcu dari Hian kui kauw siapakah
kaucumu?” Gouw Ya Pa nyeletuk.
Bo Pin tercengang, dengan matanya yang tajam ia
menyapu Gouw Ya Pa kemudian berkata pula sambil
ketawa seram:
“Tuan ini tentunya adalah sahabat yang membawa Kiu
hoan leng?”
“Sedikitpun tidak salah, kau siorang tua benar-benar
pintar!” jawab Gouw Ya Pa.
“Kiu hoan leng sebetulnya adalah benda kepunyaan
partai kami, yang dicuri dan dibawa kabur oleh seorang
murid yang berkhianat, sehingga terjatuh ketangan orang
dunia Kang-ouw, apa yang dibuat heran? Lagi pula
perkumpulan kami bukan orang-orang dari partai. dulu
tidak pernah turut membuat tanda kepartaian itu. Benda itu
tidak ada dimata aku siorang she Bo.”
Ucapan Bo Pin itu sangat jumawa sekali, Se0lah-olah
dalam matanya tidak pandang sama sekali. semua ketua
sembilan partai besar itu, sehingga membuat mereka lantas
pada berubah wajahnya.
Tiauw Goan Taysu lalu maju dan berkata sambil
rangkap kedua tangannya:
“Bo Tongcu tidak kecewa menjadi kepala penjara,
kegagahanmu membuat kagum kita semua. Cuma saja lolap
sekalian hari ini hanya datang untuk menemui Kaucu untuk
merundingkan soal lain, bukan urusan Kiu hoan leng !”
“Aku si tua bangka juga untuk itu menyambut
kedatangan tuan-tuan, tapi lembah ini tempatnya sangat
kotor, tidak dapat dibandingkan dengan kediaman Taysu di
gereja Siao lim-sie. Maka kalau kurang sempurna
penyambutan Kami, harap minta dimaafkan banyak-banyak!”
Sehabis berkata ia lantas perkenalkan mereka dengan
semua orangnya, Kemudian serombongan anak-anak kecil
menyuguhkan arak berikut cawannya.
Setelah upacara penyambutan selesai para tetamunya
diajak oleh Bo Pin untuk menemui Kaucunya.
Mereka diajak mengasoh didalam satu kupel yang luas
didalam lembah itu.
Tidak diantara lama, tiba tiba muncul dua anak kecil
yang tangannya masing-masing membawa panci berwarna
kuning lantas berkata dengan suara nyaring:
“Kaucu mengucapkan selamat datang kepada para
Ciangbunjin sekalian!”
Semua orang pada berdiri. hanya Gouw Ya Pa yang
masih tetap duduk tidak bergerak.
Sesaat kemudian, dari lembah bagian dalam muncul
sebuah tandu kecil yang indah, dipikul oleh delapan orang
laki-laki kuat. serta diiringi dua anak laki-laki kecil.
Tandu itu dilarikan sangat pesat sekali, sebentar saja
sudah berada didepan kupel.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan itu diam-diam
merasa terkejut. Diam-diam ia mengakui bahwa Jie Hui ini
benar-benar bukan orang sembarangan, orang-orang
bawahannya saja kepandaiannya sudah demikian tingginya,
apa lagi ia sendiri. Maka kalau Hian kau kauw tidak lekas
dibasmi mungkin sepuluh tahun lagi akan merupakan
bencana besar bagi rimba persilatan !
Pada saat itu tandu itu sudah diletakan ditanah dari
dalamnya lalu kelihatan turun keluar seorang tua berbadan
tegap dengan dandanannya yang sangat mewah.
Orang-orang hian kui kauw yang berada dalarn kupel
semuanya membungkukan badan memberi hormat Tiauw
Goan Taysu dan lainnya cepat-cepat rangkapkan kedua
tangan memberi hormat.
Cian tok Jin mo dengan matanya yang tajam menyapu
semua orang. kemudian lantas berkata sambil ketawa
bergelak-gelak:
“Hari ini entah angin apa yang telah membawa para
ketua yang berkedudukan tinggi dalam rimba persilatan
kelembah yang seperti hutan belukar ini ?”
Tiauw Goan lalu menjawab sambil tersenyum: “Lolap
sekalian agak gegabah, harap Kaucu suka maafkan banyak-banyak.”
Cian tok Jin mo ketawanya bergelak gelak, suara
ketawanya itu menggema lama didalam lembah.
Mendadak Gouw Ya Pa menggeram, kemudian berkata:
“Ketawai apa ? Ada apa yang lucu? Kita datang untuk
mencari sotori bukan untuk mengandalkan tali
persahabatan, kau tua bangka ketawai apa ?”
Ucapan itu telah menggusarkan semua orang-orang Hian
Kui kauw, Cian tok Jin mo menghentikan ketawanya,
dengan sorot mata dingin ia mengawasi Gouw Ya Pa
sejenak.
“Apakah Tuan ini adalah Gouw Insu yang membawa
Kui hoan leng ?” ia bertanya.
“Kalau tokh sudah tahu, mengapa tidak lekas keluar
saudara Ho kita perlu apa masih berlagak?” jawab Gouw
Ya Pa dengan sikapnya yang angkuh.
Tiba-tiba Cian tok Jin-mo ketawa dengan perlahan, ia
memasuki kupel seraya berkata,
“GOuw losu ada seorang yang polos dan berbicara
seraya terang-terangan. Aku situa bingka sangat merasa
kagum.”
Sehabis berkata ia mempersilahkan Tiauw Goan Taysu
dan lain-lain duduk ditempat masing-masing dan ia sendiri
duduk di atas kursi kulit macan.
Setelah semuanya sudah minum, Tiauw Goan Taysu
berbangkit dan berkata sembari memberi hormat:
“Aku si tua bangka sudah lama mendengar nama besar
Kaucu, hari ini sungguh beruntung dapat menjumpai
sendiri. Lolap ada sedikit urusan, mohon Kaucu suka
memberi muka untuk memberi bantuan.”
“Taysu ada seorang pemimpin rimba persilatan dan
seorang beribadat tinggi. Ada urusan apa yang ingin minta
bantuan? jika aku si tua bangka masih mampu
melakukan. sudah tentu tidak merasa keberatan.” jawab
Cian tok Jin mo.
“Dulu kami sembilan partai telah membuat Seng leng
dan disumpah, siapa jang memegang Seng leng itu adalah
pemimpin dari sembilan partai kami. Lolap sekarang
sebagai muridnya sambilan partai itu, sudah tentu tidak
dapat tidak mentaati perintah Seng leng. Sekarang kita telah
mendapat kabar bahwa Kiu hoan leng Ho Siaohiap tiga hari
berselang telah datang kesini dan sampai sekarang masih
tidak ada kabar beritanya. Lolap sekalian hari ini dengan
menebalkan muka menjumpai kaucu, sadikah kiranya
kaucu memandang muka kita untuk memberi petunjuk.
dimana adanya Ho Siaohiap sekarang? Mengenai
perselisihan antara Ho Siohiap dengan Kaucu, lolap
sekalian bersedia menjadi orang pertengahan untuk
membereskan soal permusuhan itu.”
Cian tok Jin mo yang mendengar itu, tiba-tiba kerutkan
alisnya dan berkata dengan heran:
“Perkataan Taysu ini, sungguh membuat aku siorang tua
tidak mengerti, partai kami selamanya tidak mencampuri
urusan permusuhan dalam dunia Kang-ouw, juga tidak
mempunyai musuh seorang she Ho. juga tidak tahu bahwa
beberapa hari ini ada Ho siaohiap yang kesasar dalam
perkumpulan kami, apakah Taysu hanya mendengar berita
saja yang belum pasti kebenarannya ?”
Gouw Ya Pa yang mendengar jawaban itu lantas
menjadi gusar, mendadak ia berbangkit dan membentak
dengan suara bengis:
“Enak saja kau pungkir. Saudara Ho tiga hari berselang
sudah datang, sampai sekarang belum kelihatan
bayangannya. sudah tentu kalian yang sudah mencelakakan
jiwanya. SeKarang kau apakan dia? Hari ini kalau kau
serahkan orangnya, kita masih bisa berunding dengan cara
baik-baik. kalau tidak, aku akan mengubrak-abrik sarangmu
Hian kui kauw ini.”
Kaucu Hian kui kauw yang merasa terhina demikian
rupa, sudah menunjukkan sikap kurang senang, tetapi ia
tidak menjawab, hanya dengan matanya ia melirik Siang
Seng sejenak.
Siang Seng mengerti, ia lalu maju dan berkata dengan
suaru dingin.
“Lembah Kui kok apa kau kira bisa dibuat sembarangan
oleh manusia tolol seperti kau ini? Kalau merasa tidak puas,
aku si orang she Siang nanti suruh kau tahu tingginya langit
dan tebalnya bumi.”
Gouw Ya Pa lantas beringas, sambil mengeluarkan
pecutnya ia memaki dengan gusar:
“Jahanam, Gouw Toayamu sedang bicara dengan
Kauwcu kalian, kau adalah makhluk apa begitu berani turut
campur mulut?”
“Gouw Losu ini matanya tidak memandang orang
tentunya mempunyai kepandaian tinggi. Siang-heng boleh
coba-coba main-main beberapa jurus dengan dia,” kata Cian
tok Jin mo sambil tertawa seram.
Perkataan Kaucu ini tidak bedanya dengan menyuruh
Siang Seng turunkan tangan jahat untuk membinasakan
Gouw Ya Pa yang mulutnya bawel itu.
Siang Seng terima perintah dari kaucunya, lalu dengan
senjatanya ia menantang Gouw Ya Pa.
Kalau bicara tentang kepandaiannya, sekali pun sepuluh
Gouw Ya Pa juga masih bukan tandingan Siang Seng,
tetapi Gouw Ya Pa tidak mau perdulikan itu semua.
Dengan suara gusar ia menceburkan diri kedalam kalangan,
tanpa banyak rewel lagi ia lantas menghajar Siang Seng
dengan pecutnya.
Siang Seng hanya mengganda ketawa dingin, lalu
mengangkat senjata pentungannya untuk menangkis pecut
Gouw Ya Pa.
Tangan Gouw Ya Pa merasakan kesemutan. pecutnya
hampir terlempar dari tangannya. Hatinya terkejut.
badannya mundur sampai empat tindak.
Orang-orang Hian kui kauw tidak menyangka bahwa
pemuda wajah hitam yang galak itu ternyata tidak ada
gunanya, baru segebrakan saja sudah mundur oleh Siang
Seng maka lantas semuanya pada ketawa.
Wajah Gouw Ya Pa menjadi merah, dengan mata
mendelik ia menggeram hebat, kemudian menyapu lagi
dengan pecutnya ia sudah berlaku nekad, tidak memikirkan
lagi apa akibatnya, ia terus menyerbu Siang Seng dengan
pecutnya.
Kembali Siang Seng hanya mengganda dengan ketawa
dingin, dengan cepat ia berkelit, kemudian senjatanya
setelah menyingkirkan pecut Gouw Ya Pa lalu menghajar
pundak kiri si tolol.
Serangan Siang Seng itu amat ganas, pada pikirannya
anak tolol itu kalau tidak binasa, pasti akan terluka parah.
Tetapi apa yang telah terjadi sesungguhnya sangat diluar
dugaan semua orang.
Meskipun serangannya itu sudah berhasil mengenakan
dengan telak tetapi Gouw Ya Pa hanya kelihatan mundur
beberapa tindak, sedikitpun tidak terluka.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pada
terheran-heran tidak akan menyangka bahwa pemuda tolol
itu mempunyai kepandaian ilmu kebal yang sudah
sempurna.
Selagi masih kesima, Siang Seng sudah diserang lagi
dengan pecutnya Gouw Ya Pa.
Siang Seng dalam kagetnva menyambuti pecutnya Gouw
Ya Pa dengan senjatanya sendiri, pikirnya, ia hendak
membikin pecut itu terlepas dulu, baru kemudian
membinasakan jiwanya, siapa nyana bahwa perbuatannya
itu sudah masuk perangkapnya Gouw Ya Pa.
Kiranya, Meskipnn Gouw Ya Pa adalah orang yang
kasar, tetapi juga masih mempunyai akal licik. Dalam
gebrakan pertama tadi ia telah mendapatkan kerugian,
maka sekali ini hendak menarik keuntungan dengan
menggunakan akal licik.
Serangannya tadi tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh,
maka ketika ada sambutan senjata Siang Seng,
pecut itu lantas terpental ditengah udara,
Semua orang pada ketawa geli menyaksikan
ketololannya Gouw Ya Pa.
Siapa tahu, selagi ketawanya belam lagi sirna, pecut
Gouw Ya Pa yang ada ditangan kanannya dengan
kecepatan bagai kilat sudah merabu dada Siang Seng.
Siang Seng yang sedang merasa bangga tidak mengira
kalau Gouw Ya Pa bisa berbuat demikian, ia baru kaget
ketika pecut baja itu sudah berada didepan dadanya. Cepat-cepat
ia mendongakkan badannya, tetapi pecut yang sudah
didepan dadanya itu lantas didorong oleh Gouw Ya Pa
sehingga sudah menyodok janggutnya Siang Seng hingga
terhuyung-huyung rubuh.
Siang Seng kesakitan. ketika ia lompat bangun, ternyata
giginya sudah copot empat atau lima biji, darah mengucur
dari mulutnya.
Meskipun luka itu tidak berarti apa-apa baginya tetapi
nama Siang Seng sebagai jago kenamaan telah ludes
ditangan pemuda itu.
Gouw Ya Pa menarik kembali serangannya, sambil
ketawa dingin ia berkata: “Kau bukan tandingan. Aku
ampuni jiwamu. Suruh orang lain yang maju.”
Siang Seng, jago yang kenamaan telah terjatuh ditangan
Gouw Ya Pa, jangan kata orang-orangnya Hian Kui kauw,
sekali para ketua dari sembilan partay semuanya melongo
heran.
Mendadak terdengar suara bentakan bengis: “Bocah she
Gouw, kau jangan jual lagak. Aku si orang tua bangka ingin
menemui kau main-main berapa jurus.”
Gouw Ya Pa menoleh, keringat dingin mengucur
seketika karena rasa kagetnya ….
APA YANG IA LIHAT? Kiranya ada seorang laki-laki
tinggi besar dengan bengis dan rambut merah. Tangan
kirinya membawa senjata kecer dan tangan kanannya
membawa sebuah tombak berujung tajam, sedang
mengawasi dirinya dengan mata mendelik.
Meskipun Gouw Ya Pa orangnya bernyali besar, tetapi
ketika melihat wajah orang yang seperti setan itu, dengan
tidak terasa badannva sudah gemetaran. Tetapi kemudian ia
dapat berpikir lain, ia sekarang sebagai Lengcu, masakah
bisa kaget oleh orang semacam begitu saja, maka ia
bungkukan badanya dan maju sambil membentak;
“Bocah! Kau siapa? Manusia atau setan?”
“Aku adalah salah satu Tongcu dari Hian kui-kauw,
Namaku Siang Hong Siang.”
“Kau bukan tandinganku. aku harap supaya kau mundur
saja.”
Tetapi belum habis ucapannya, orang ita sudah
membentak dengan nyaring: “Ngaco. kau orang macam apa,
begitu berani menghina aku si orang tui ?”
“Perlu, apa kau ribut2! Kau hendak berkelahi atau
perlu ribut ?”
“Bocah jumawa, rasakan senjataku!” orangnya
membentak, lalu tombaknya menyerang kearah Gouw Ya
Pa.
Gouw Ya Pa miringkan badannya, lalu menangkis
dengan pecutnya, tetapi tangannya dirasakan sakit seketika
dan pecut yang tinggal satu-satunya itu telah terbang
ketengah udara.
Siang Hong Siang ketawa terkekeh-kekeh lalu maju
menyerang Goaw Ya Pa dengan kedua senjatanya
berbareng.
Gouw Ya pa sekarang sudah tidak memegang senjata
ditangannya. cepat-cepat ia lompat mundur sambil
berteriak: “Bocah, tahan dulu!”
Siang Hong Siang terkejut, maka dengan terpaksa ia
menarik kembali serangannya dan berkata:
“Kau sudah mau mampus masih mau meninggalkan
pesan apa lagi ?”
Gouw Ya Pa putar matanya sambil berkata:
“Kau hanya merupakan salah satu Tongcu dari Hian kui
kauw dan aku adalah Lengcu. Bagaimana bisa berpikir
seperti itu? Kau tunggu sebentar, aku nanti perintahkan
orang lain untuk melayani kau.”
Siang Hong Siang gusar, senjatanya diangkat dan sudah
hendak turun tangan lagi …
Mendadak Gouw Ya Pa putar tubuhnya dan lompat
balik kedalam kupel dan kemudian mengeluarkan Kiu hoan
lengnya yang diangkat tinggi-tinggi.
Cian tok Jin mo yang menyaksikan Kiu hoan leng itu,
seketika matanya terbuka lebar lalu saling pandang dengan
Bo Pin agaknya merasa terheran-heran.
Mereka sungguh tidak habis pikir, mengapa malam itu,
sehabis menewaskan Ho In Bo dan menghajar anaknya,
Kiu hoan leng yang dicari-cari setengah mati itu mengapa
bisa terjatuh ditangan bocah tolol ini.
Tetapi Kiu hian leng itu memang benar yang aslinya,
sedikitpun tidak salah.
Pada saat itu Gouw Ya Pa sudah berkata dengan suara
nyaring: “Ketua Tiam Khong pay. dengar perintah !”
Tio Tian Ek terperanjat, terpaksa ia harus berdiri sambil
menyahut. “Orang she Tio disini menantikan perintah Leng
Cu.”
“Kau ambil kepalanya itu bocah !” perintah Gouw Ya Pa
sambil menuding Siang Hong siang.
Tio Thian Ek. karena ia sudah mengetahui bahwa Siang
Hong Siang sangat tinggi kepandaiannya, ia merasa sangsi
apakah ia dapat menandinginya, tetapi Gouw Ya Pa sudah
berkata pula:
“Kalau kau berani melanggar perintah. bawa kepadamu
sendiri kemari !”
Ucapan itu telah membuat Tiaw Goan Taysu sendiri
juga diam-diam merasa kaget. Tetapi perintah sudah
dikeluarkan, siapa yang berani menentang ?
Terpaksa Tio Thian Ek keraskan kepala, lantas
menyerbu kedalam kalangan,
Ia sudah tahu bahwa pertempuran ini bukan saja ada
menyangkut jiwanya sendiri, tetapi juga ada hubungannya
dengan nama baiknya Tiam khong pay. Kalau ia tidak bisa
merebut kemenangan. dimana harus menaruh mukanya?
Maka selagi masih melayang di tengah udara. pedang
Tui hun kiamnya sudah dihunus dari serangkanya.
Ia menghampiri Siang Hong Siang.
Tio Thian Ek, sebagai ketua dari salah satu partai besar
ilmu pedangnya sudah terkenal dalam dunia persilatan,
Orang-orang dan Hian kui kauw diam-diam pada
kuatirkan Siang Hong Siang mempunyai kepandaian tinggi
dan tangannya telengas maka diam2 mereka kuatirkan
dirinya Tio Thian Ek.
Hanya Gouw Ya Pa, setelah keluar perintahnya dapat
bernapas lega, dengan tenang ia duduk kembali.
Dengan mata mendelik Siang Hong Siang memandang
Tio Thian Ek.
“Orang she Tio.” katanya, “Kau adalah ketua dari salah
satu partai. mengapa mau diperintah oleh satu bocah tolol?”
“Perintah dan Seng leng tidak dapat kubantah, aku tidak
bisa berbuat apa-apa.” jawabnya.
“Kalau kau ingin ada jiwa dengan aku siorang she Siang,
jangan sesalkan kalau aku nanti berlaku telengas!”
“Kau boleh keluarkan semua kepandaianmu.”
Sebelum ucapannya selesai, Siang Hong Siang sudah
keluarkan bentakan nyaring yang segera maju menyerang
Tio Thian Ek dengan senjata tumbaknya.
Tio Tian Ek geser kakinya, dengan ujung pedang ia
sambut tumbak Siang Hong Siang. Kemudian kedengaran
suara beradunya senjata, orangnya masing-masing mundur
dua tindak.
Tio Thian Ek yang mendongkol mendadak berpekik
nyaring, ia maju menyerang dengan pedangnya.
Begitu turun tangan, ia sudah menggunakan ilmu
pedangnya Tui hun kiam -hoat, yang terdiri dari dua belas
jurus sehingga sebentar saja dirinya Siang Hong Siang
sudah terkurung dalam sinar pedang.
Tetapi Siang Hong Siang juga bukannya orang lemah,
kecernya diputar bagaikan titiran sehingga menimbulkan
suara berisik dengan itu ia berhasil membendung serangan
pedangnya Thio Thian Ek.
Ketua Tiam cong pay tidak berhasil dengan serangannya,
selanjutnya serangannya mulai kendor, kesempatan itu
telah digunakan se-baik2nya oleh Siang Hong Siang untuk
rebut kedudukan berbalik sebagai penyerang.
Pertempuran sengit itu sebentar saja sudah berlangsung
dua atau tiga puluh jurus, kekuatan kedua pihak
kelihatannya berimbang satu sama lain masih belum
kelihatan siapa yang menang.
Diantara 9 partai itu, hubungannnya ketua Khong tong
pay Lim Co Ek dengan Tio Thian Ek paling rapat, maka
ketika melihat Thio Thian Ek masih belum mampu
merubuhkan lawannya, ia berkali-kali sudah ingin turut
campur tangan.
Sebentar terdengar suara nyaring dari beradunya dua
senjata, Tio Thian Ek dan Siang Hong Siang pada mundur
tiga tindak, wajahnya berubah, pada kecerannya Siang
Hong Siang terdapat lobang dalam bekas tusukkan pedang
Tio Thian Ek.
Siang Hong Siang merasa sakit hati, wajahnya yang jeiek
nampak semakin jelek, dengan suaranya seperti gembreng
pecah ia berkata:
“Orang she Tio, kau sambuti lagi seranganku tumbak
terbang!”
Baru saja menutup kata-katanya, senjata tumbaknya
yang bergigi tiga sudah meluncur keluar dari tangannya
bagaikan terbang!
Tio Thian Ek matanya ditujukan kearah tumbak, siapa
nyana sebelum tumbak sampai matanya telah dibuat kabur
oleh sinarnya yang gemerlapan menyilaukan matanya,
sehingga tidak dapat menangkap kemana arahnya tumbak
itu ….
Ia terperanjat, segera mengetahui gelagat tidak baik.
Maka lantas putar pedangnya, tapi
ternyata sudah terlambat.
Tiba-tiba ia merasakan sambaran angin dingin. Tio
Thian Ek terpaksa berkelit, tapi pundak kirinya dirasakan
sakit sekali, sehingga ia mengeluarkan seruan tertahan,
badannya mundur sampai lima enam tindak.
Tiauw Goan Taysu dan lain-lainnya semua pada pucat
wajahnya sedang Lim Co Ek saat itu lantas loncat keluar
sambil berseru:
“Tio heng, jangan takut siaotee. . . .”
Belum habis ucapannya itu. Tio Thian Ek sudah menarik
tumbak yang menancap dipundak kirinya sehingga darah
menyembur keluar seperti air mancur.
Tio Thian Ek nampak pucat wajahnya, keringatnya
keluar menetes, ia lalu mendongak keatas sambil berkata
dengan suara bengis:
“Tiam cong pay Khay-san Couwsu, teecu Thio thian Ek
telah menbuat malu nama baik perguruan, tak ada muka
untuk hidup, maka hanya ingin mati saja untuk menebus
dosa!”
Begitu habis mengucapkan perkataannya pedangnya
lantas diangkat hendak menggorok lehernya sendiri….
Lim Co Ek segera berseru: “Tio heng, jangan!….”
Ia coba melesat dan dengan jari tangannya ia coba
menotok jalan darah Yang ko-hiatnya Tio Thian Ek, tapi
sebelum jarinya sampai, Tio Thian Ek tiba-tiba menyerang
dengan tangan kiri yang luka.
Lim Co EK terkejut. selagi merandek, kepala Tio Thian
Ek sudah menggelinding ditanah, sedang badannya masih
tetap berdiri sambil memegang pedang….
Tiauw Goan Taysu rangkapkan dua tangannya.
menyebut nama Buddha, sedang Hui Kak Siansu, Bu Wie
Totiang dan lain-lainnya pada mengucurkan air mata.
Orang-orang dari Hian kui kauw yang menyaksikan
keadaan itu juga pada kesima. Siang Hong Siang sendiri
juga merasa bergidik, tanpa berasa mundur dua tindak.
Lim Co Ek dengan mata beringas membentak dengan
suara bengis: “Orang she Siang jangan bergerak !”
Siang Hong Siang terkejut, tapi ia masih berlaku tenang.
“Kau mau apa ?” tanyanya.
“Aku si orang she Lim ingin belajar kenal dengan
tumbakmu yang terkenal namanya didunia Kang-ouw !”
“Apa kau lihat karena ditanganku cuma ada kecer pecah
ini, maka hendak mencari keuntungan?”
“Ambil tumbakmu, mari kita bertempur lagi.”
Siang Hong Siang ketawa terkekeh-kekeh dengan
perlahan menghampiri mayat Tio Thian Ek! Tiba-tiba ada
berkelebat satu bayangan orang.
“Siang Tongcu! Silahkan mengaso dulu, orang she Lim
ini biarlah aku situa bangka yang melayani!” kata bayangan
tadi.
Lim Co Ek lintangkan pedang didadanya ia melihat
orang itu sudah putih seluruh rambutnya, usianya mungkin
sudah lebih enam pulah tahunan. Badannya kurus kering,
kulit mukanya sudah keriputan. ditangannya membawa
tongkat bambu hijau.
Orang tua itu menghadang didepannya Siang Hong
Siang, lalu berkata:
“Aku situa bangka adalah Cian Siu. salah satu Tongcu
dari Hian kui kauw Kini ingin mewakili Siang Tiongcu
untuk menyambuti ilmu silat Khong-tong pay!”
“Kau tentunya ada itu orang tua yang bergelar orang tua
sakti bertongkat hijau yang namanya sangat kesohor
didunia Kang-ouw, bukan ?”
“Julukkan yang tidak berarti itu. bagaimana bisa
direndengkan dengan nama Lim-heng ?”
“Baiklah aku si orang she Lim ingin belajar kenal dengan
senjata tongkatmu yang ternama itu!”
Lim Co Ek lalu angkat pedangnya, badannya bergerak
laksana kilat menyerang lawannya.
Cian Siu tidak menyambuti, dengan gesit ia egoskan
dirinya untuk mengelakkan serangan tersebut. Tongkatnya
sekali menotol ke tanah, dirinya lantas melesat keudara.
Lim Co Ek menarik kembali serangannya dengan
perasaan kagum, sambil memutar pedangnya ia bergerak
mundur.
Siapa tahu Cian Siu yang masih berada ditengah udara
mendadak memutar tubuhnya. tongkatnya hendak
mengemplang kepala Lim Co Ek.
Sambil membentak keras, Lim Co Ek kerahkan seluruh
kekuatannya untuk menangkis serangan lawan.
Sebertar kemudian, pedang dan tongkat saling beradu
sehingga menimbulkan suara nyaring.
Cian Siu melayang turun, lalu berkata sambil tertawa:
“Tidak kecewa Khong tong pay termasuk salah satu
partai besar. Dengan mengadu kekerasan ini, baru kelihatan
kekuatan aslinya!”
Dalam mengadu kekuatan tadi, Lim Co Ek sudah
mengetahui bahwa orang tua itu. kecuali mempunyai ilmu
mengentengkan tubuh yang luar biasa, ternyata kekuatan
tenaga dalamnya tidak begitu mahir. Dengan tidak banyak
bicara pula ia maju lagi menyerang.
Benar saja, Cian Siu tidak berani menyambuti serangan
secara kekerasan, ia selalu mencari kesempatan untuk
melesat ke udara.
Kedua orang itu sebentar saja sudah bertempur sepuluh
jurus lebih.
Lim Co Ek keluarkan seluruh kepandaiannya, setelah
berhasil dengan pedangnya ia menyingkirkan tongkat
lawannya, tangan kirinya secepat kilat mengirim satu
serangan kearah Cian Siu yang sedang berada ditengah
udara.
Cian Siu sudah tidak mempunyai tempat lagi untuk
berkelit, maka terpaksa harus menyambuti dengan
kekerasan.
Karena Lim Co Ek mengeluarkan seluruh kekuatan
tenaganya, maka Cian Siu tidak sanggup menyambuti
serangan itu dirinya terpental sampai jungkir balik tiga kali,
lalu melayang turun sejauh tujuh tombak.
Ketika kakinya menginjak tanah. badannya
sempoyongan. . . .
Tiba-tiba timbul pikiran keji Lim Co Ek. ia lalu
mengambil senjata tombak Siang Hong yang dilemparkan
oleh Tio Thian Ek, kemudian membentak dengan suara
keras:
“Orang she Cian, kau juga boleh menyambuti tombak
terbang ini.”
Ia lantas menyambit dengan tombak itu orangnya
berbareng juga melesat menerjang Cian Siu yang sudah
terluka didalam barusan berhasil menyingkirkan senjata
tombak, tahu-tahu Lim Co Ek sudah berada didepan
matanya yang hendak menikam dengan pedangnya.
Kelihatannya terhadap serangan tersebut Cian Siu sudah
tidak mempunyai daya untuk menyambutnya.
Lim Co Ek yang sudah bernapsu hendak membalas sakit
hati Tio Thian Ek, ia memutar pedangnya untuk
mengurung dirinya Cian Siu supaya tidak mempunyai
tempat untuk meloloskan diri lagi.
Siapa tahu, selagi ia hendak turun tangan, dibelakang
dirinya tiba-tiba merasa ada sambaran angin kuat.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 11
LIM CO Ek tahu bahwa dibelakangnya ada orang yang
membokong dengan senjata gelap, dalam gusarnya ia
menyampuk dengan tangan kirinya, pedang ditangan
kanannya tetap meneruskan serangannya.
Sesaat lalu terdengar suara jeritan ngeri, darah
berhamburan.
Telapak tangan Lim Co Ek dirasakan seperti ada benda
yang menembus dalam. Sambil kertak gigi, ia menarik
kembali pedangnya dada kiri Cian Siu sudah berlubang dan
badannya lantas rubuh ditanah.
Lim Co Ek ketika memeriksa tangannya, ternyata ada
jarum halus, Hong bwee ciam yang sangat berbisa
menancap ditelapak tangannya. Racunnya kelihatan sudah
mulai menjalar.
Ia keluarkan suara ketawanya yang menyeramkan, lantas
mengangkat pedangnya untuk membacok tangan kirinya,
kemudian ia menutup jalan darah dilengan kirinya itu dan
lantas membentak dengan suara bengis;
“Manusia keparat. siapa yang tidak tahu malu,
membokong orang dengan senjata gelap. Lekas unjukkan
diri!”
Dari dalam kupel saat itu lantas muncul seorang yang
menjawab dengan suara dingin.
“Sungguh mengecewakan kau menjadi ketua dari partai
yang baik-baik. Ternyata begitu kejam turun tangan
terhadap lawan. Aku hanya memberikan kau sebuah jarum
kecil sekedar untuk memberi peringatan padamu, itu hanya
terhitung sebagai suatu tanda peringatan saja.”
Lim Co Ek melihat orang itu, usianya tidak lebih dari
empat puluh tahun, dipunggungnya terlihat sebuah golok
tanto. Diketiak kanan dan kirinya tergantung tujuh atau
delapan kantong kulit.
“Kiranya adalah Siek Lek Losu. Aku si orang she Lim
cuma tinggal satu tangannya. Apakah Losu berani
mengeluarkan senjatamu untuk kita main-main beberapa
jurus?” demikian Lim Co Ek menantang.
Siek Lek ketawa dingin, ia lantas menghunus golok
tantonya.
Siapa tahu, Lim Co Ek pada saat itu sudah gusar benar-benar,
begitu Siek-lek muncul, diam-diam ia sudah
mengambil keputusan untuk membinasakan orang-orang
yang membokong dirinya itu.
Saat itu, Siek-lek sedang mengangkat lengannya untuk
merghunus golok, hingga ketiak kanannya terbuka satu
lowongan.
Lim Co Ek ketawa dingin, mendadak pundaknya
bergerak, ia menggunakan kesempatan itu, ujung
pedangnya menotok jalan darah Ciang bun-hiat dibawah
ketiak kanan!
Perbuatan itu sudah tentu berlawanan dengan peraturan
Kang-ouw, juga membikin jelek nama baiknya Khong tong
pay. Tapi Lim Co Ek yang hendak membalas sakit hati Tio
Thian Ek, dalam keadaan gusar ia sudah tidak perdulikan
itu semua.
Siek Lek sama sekali tidak menduga perbuatan Lim Co
Ek, maka bukan kepalang kagetnya.
Dalam keadaan gugup ia buru-buru loncat mundur,
berbareng dengan itu ia gerakkan pundak kirinya dan
bawah pundaknya meluncur keluar batang senjata rahasia
yang sangat berbisa.
Siek Lek yang mempunyai julukan manusia biruang
berlengan, hampir sekujur badannya terdapat senjata
rahasia, Dalam keadaan kepepet demikian ia masih bisa
menolong dirinya, dengan melepaskan tiga batang senjata
rahasia, yang mengarah muka dan dada Lim Co Ek.
Lim Co Ek terpaksa menangkis dengan pedangnya. tapi
dengan demikian Siek Lek sudah dapat kesempatan untuk
singkirkan dirinya dari ancaman pedang.
Selagi Siek Lek hendak menyerang musuhnya. tiba-tiba
berkelebat bayangan merah menghalang ditengah mereka,
kemudian terdengar suaranya:
“Orang she Lim, percuma saja kau menjadi ketua dari
satu partay besar. apakah kau sudah tidak tahu malu ?”
Orang itu badannya tegap, suaranya seperti genta,
rambutnya diikat dengan benang emas, berpakaian seperti
taoto, ia adalah Tongcu dari Hian kui-kauw. Ang-in Taoto
tan-liang.
Tiauw Gouw Taysu dengan suara perlahan-lahan
berkata kepada Hui kak Siansu yang berada disampingnya.
“Urusan hari ini barangkali tidak bisa dibereskan dengan
baik. Liu Sicu sudah terluka, tolong Siansu bawa balik dia !”
Hui kak Siansu lantas bangkit dari tempat duduknya
menghampiri mereka dan berkata kepada Tan Liang sambil
rangkapkan kedua tangannya:
“Apa Taysu menpunyai kegembiraan untuk main-main
beberapa jurus dengan pinceng ?”
Ang-in Taoto melirik sejenak, hatinya bercekat. Sebab ia
tahu bahwa ketua partay Ngo-bie-pay ini bukan saja sangat
tinggi kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga
dalamnya. tapi juga merupakan satu ahli senjata rahasia
yang kenamaan. Dengan munculnya ia, Siek Lek
barangkali akan terancam kedudukannya.
Saat itu, Lim Cu Ek sudah bertempur sengit dengan Siek
Lek. Angin Taoto lantas menghadang didepan Hui kak
Siansu sambil berkata,
“Sudah lama aku mendengar nama Ngo-bie pay sudah
tentu suka sekali menerima pelajaran Siansu!”‘
Keduanya lalu saling menyerang. Mendadak terdengar
suara bentakan, kemudian disusul dengan suara beradunya
senjata. Ketika Ang-in Taoto menoleh, ternyata Siek Lek
sudah terpukul mundur oleh Lim Co Ek.
Oleh karena hatinya tergoncang, pundak kirinya telah
terkena serangan Hui Kak Siansu, dirasakan sakit sekali dan
kekuatan dalamnya juga lantas merasa buyar, maka buru-buru
lompat mundur!
Hui Kak Siansu tidak mau mendesak, ia membiarkan
lawannya itu berlalu, kemudian menyerbu Siek-lek.
Badannya masih ditengah udara, tangan kanannya
diayun mengirim empat buah Pho-tih cu, untuk mengempur
panah beracun yang dilancarkan oleh Siek Lek, hingga
jatuh berhamburan ditanah.
Lim Co Ek semakin kalap, ia sudah seperti banteng
mengamuk. Dalam serangannya yang sangat hebat, lengan
kanan Siek Lek telah terkutung dan terlepas dari badannya.
Lim Co Ek masih belum mau berhenti, pedangnya masih
hendak menyambar kepala musuhnya.
Hui Kak Siansu yang melayang turun lalu mencegah:
“Lim-sicu, kalau kita masih bisa mengampuni, ampunilah
jiwanya. Dia bukan penjahat utamanya, biarlah tinggalkan
dia hidup !”
Melihat dalam sekejapan saja sudah ada orangnya
terluka. Cian tok Jin-mo wajahnya mendadak berubah, ia
sudah hendak berbangkit untuk turun tangan sendiri. Tapi
Bo Pin lantas maju kedepan dan berkata:
“Bo Pin minta izin untuk menemani Hui Kak Siansu dari
Ngo bie pay!”
Cian tok Jin mo ketawa dan ia angguk-anggukkan
kepalanya.
“Siansu adalah seorang beribadat tinggi, namun kesohor
dalam kalangan rimba persilatan. Bo kongcu harap hati-hati
menghadapi dia, dan suruh mereka semua balik.”
Bo Pin terima baik pesan cukongnya, lalu masuk
kekalangan pertempuran. Setelah suruh Ang-in Taoto dan
lain-lainnya balik kedalam kupel, ia lantas berkata kepada
Hui Kak Siansu:
“Aku siorang she Bo sudah lama mendengar lihaynya
ilmu silat Thay hun Jin khiu-hoat dari dari Ngo-bie pay yang
namanya ke sohor diseluruh dunia, hari ini dengan berani
mati ingin mendapat sedikit pelajaran dari Siansu!”
Ucapan Bo Pin ini merupakah satu tantangan terang-terangan
terhadap diri Hui Kak Siansu, siapa lantas
menjawab sambil merangkapkan tangan;
“O Mie To Hud, orang beribadat tidak mempunyai
kepandaian apa-apa, bagaimana bisa dibandingkan dengan
Tongcu?”
“Kita hanya belajar kenal dengan kepandaian masing-masing,
perlu apa Siansu merendahkan diri? Silahkan!” si
tangan geledek kata dengan suara dingin.
Perkataan yang terakhir itu baru saja keluar dari
mulutnya, mendadak badannya sudah bergerak maju,
dengan kecepatan kilat telah melancarkan serangan.
Ia menggunakan tenaga kekerasan serta menerjang
secara tidak kepalang tanggung, kesombongannya orang
she Bo itu benar-benar sangat nyata.
Kalau Hui Kak Siansu tidak menyambuti keras lawan
keras bukan saja akan memalukan Ngo bie pay, tapi juga
akan kehilangan kesempatan untuk menyerang dan
selanjutnya orang she Bo itu pasti akan mendesak terus.
Hui Kak Siansu meski seorang beribadat tinggi, melihat
musuhnya yang bersikap congkak dan tidak memandang
mata, seketika itu juga lantas marah.
Ia lantas tancap kaki, tidak menyingKir dan berkelit,
lengan kirinya dikibaskan untuk menyingkirkan kekuatan
serangan Bo Pin, sedang tangan kanannya digunakan untuk
menyambuti serangan.
Bo Pin tertawa, kekuatannya mendadak ditambah 3
bagian lagi. ketika kedua kekuatan beradu, lantas terdengar
suara benturan keras.
Bo Pin merasa kesemutan tangannya orangnya mundur
tiga tindak. Tapi Hui Kak Siansu terkena serangan telah
terpental mundur sampai tujuh delapan tindak, dadanya
bergolak dan mulutnya menyemburkan darah segar.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan kejadian itu,
bukan kepalang kagetnya. Tapi sebelum turun tangan untuk
memberi pertolongan, Bo Pin sudah mengirim satu
serangan lagi.
Hui Kak Siansu dengan sisa tenaganya yang masih ada,
mengeluarkan ilmunya Toy-hud Khiu in dari Ngo-bie pay,
pada menyambut serangan Bo Pin.
Getaran angin pukulan telah membuat rontok daun-daun
diatas pohon yang jauhnya dua tombak lebih. Kedua orang
itu terpental mundur masing-masing empat tindak.
Hui Kak Siansu sudah kehabisan tenaga tidak mampu
menahan bergolaknya dada, maka kembali menyemburkan
darah segar ….
Ketua Bu tong pay Siong Leng Totiang yang
menyaksikan kejadian itu lantas kerutkan alisnya,
kemudian berkata dengan suara nyaring:
“Biarlah pinto menyambut serangan Bo Tongcu !”
Dengan cepat ia sudah menghadang didepannya Hui
Kak Siansu,
Ketua Ngo bie pay itu mengawasi padanya dengan sorot
mata bersyukur. lantas duduk ditanah sambil pejamkan
mata untuk mengatur pernapasannya.
Bo Pin sendiri setelah mengadu kekuatan dua kali itu
juga sudah mendapatkan luka tidak ringan. dan sekarang
harus menghadapi Bu tong pay yang kekuatannya cuma
dibawah Siao lim sie, sudah tentu tidak berani gegabah.
maka segera menjawab:
“Maksud Totiang, apakah juga hendak mengadu
kekuatan tangan ?”
“Kekuatan tangan Bo Tongcu barusan pinto sudah
menyaksikan sendiri. sayang pinto selamanya tidak suka
menggunakan tangan. sudilah kiranya tongcu mengadu
kekuatan memakai senjata ?”
Tanpa memperdulikan orang she Bo itu setuju atau
tidak, ia sendiri sudah menghunus pedangnya.
Dengan demikian, terpaksa Bo Pin harus melayani
dengan senjata juga dan lantas mengeluarkan goloknya yang
tebal.
Sambil menenteng golok emasnya yang tebal Bo Pin
berjalan berputaran, matanya terus mengawasi Siong Leng
Totiang.
Siong Leng Totiang tetap tidak bergerak, ia hanya berdiri
tenang sambil memegang pedangnya, siap sedia untuk
menghadapl segala kemungkinan.
Sebentar saja Bo Pin sudah berpular tiga kali.
Tetapi Siong Leng Totiang hanya mengawasi tingkah
lakunya orang itu sambil tersenyum, sehingga Bo Pin tidak
mempunyai kesempatan untuk menerjang.
Kembali ia memutar lagi tiga kali, keadaan demikian
telah memperhatikan suasana yang sangat tenang, tetapi
bagi orang yang mengerti satu diantara kedua orang itu juga
sudah mengeluarkan serangannya, sudah pasti sangat hebat.
Ilmu pedang Bu tong pay, meskipun hebat, tetapi Bo Pin
yang dalam dua gebrakan telah menjatuhkan diri ketua Ngo
bie pay, juga bukan orang sembarangan.
Orang banyak dalam kupel itu tidak ada seorang pun
yang berani buka suara, masing-masing menguatirkan
pihaknya sendiri.
Sang waktu sedikit demi sedikit berjalan terus, dalam
suasana sesunyi itu mendadak terdengar suara bentakan
keras, golok Bo Pin dengan mengeluarkan sinar kekuning-kuningan
dibarengi sambaran angin yang hebat sekali telah
menyerang diri Siong Leng Totiang.
Siong Leng Totiang ketawa dingin, ia menantikan
serangan itu dengan tenang sampai ujung golok sudah
berada dekat dirinya, baru ia bertindak secara mendadak.
Secepat kilat pedangnya menangkis, sehingga suara
beradunya kedua senjata kedengaran nyaring sekali.
Masing-masing lalu mundur serta memeriksa
senjatanya….
Begitu memeriksa goloknya mendadak kelihatan Bo Pin
menjadi gusar. Kiranya golok emas yang sangat di
sayangnya itu ternyata sudah dibikin gompal oleh pedang
Siong Leng Totiang.
“Sungguh tidak kusangka. ketua dari Bu tong pay
ternyata hanya mengandalkan tajamnya pedang saja!” ia
mengejek dengan muka beringas.
Siong Leng Totiang lalu menjawab sambil ketawa
dingin: “Meskipun senjata ini tajam sakti, tetapi masih
harus dilihat berada ditangan siapa. Meskipun pinto tidak
menggunakan senjata, apa kau kira pinto takut padamu?”
sambil simpan pedangnya.
Diam-diam Bo Pin merasa terheran-heran iapun lantas
menyimpan goloknya dan menyerang hebat dengan tangan
kosong.
Siong Leng Totiang melindungi dadanya dengan tangan
kirinya, tangan kanannya dengan mendadak melancarkan
serangannya.
Sambaran angin yang tajam dan sangat hebat telah
menyambar diatas kepala Bo Pin.
Bo Pin terperanjat, ia mundur dua langkah. Ketika ia
memeriksa kepalanya, ternyata rambutnya yang panjang
sudah terpapas oleh karena serangan Siong Leng totiang
tadi.
Bukan kepalang kagetnya siorang she Bo, Ia selamanya
sangat jumawa, ia menganggap kecuali Cian tok Jin mo
seorang didunia ini sudah tidak ada orang lain yang mampu
menandingi dirinya. Tidak nyana, diantara para ketua dari
sembilan partai besar itu ternyata masih ada juga orang
yang mampu menandingi dia.
Ia merasa keder, hanya kuncup seketika, sikap
jumawanya lantas lenyap dengan sendirinya.
Karena mengingat bahwa dirinya merupakan ketua
penjara Hian Kui kauw, kalau hari ini terguling ditangan
Siong Leng Totiang, bagimana masih ada muka untuk
tunjukan muka didunia Kang-ouw, Maka sekarang ia tidak
berani memandang ringan musuhnya, kekuatannya
dipusatkan seluruhnya, setindak demi setindak ia berjalan
mendekati Siong Leng.
Siong Leng Totiang masih tetap seperti tadi, menantikan
musuhnya dengan tenang, sedikitpun tidak menunjukkan
sikap jumawa.
Diam-diam sudah mengerahkan ilmu Bu-sie biat kut
ciang leknya baru-baru ini dipelajari dari Cian tok Jin mo
yang dipusatkan pada kedua lengannya.
Kemudian, diantara gerakan tangannya yang
melancarkan serangan, ada sambaran angin yang berbau
amis.
Siang Leng Totiang mengetahui benar sampai dimana
kelihayan seorang she Bo itu, sebentar kemudian ia
membentak keras, lalu tangannya diayun. Ia mengeluarkan
kekuataa tenaga dalam yang sangat dahsyat.
Bo Pin perdengarkan suaranya yang menyeramkan,
kedua tangannya bergerak dengan cepat, sekaligus sudah
melancarkan tujuh atau delapan kali serangan, sehingga
Siang Leng Totiang terpaksa harus mundur.
Sebentar saja pertandingan sudah berlangsung sepuluh
jurus lebih.
Siong Leng Totiang dengan tenang menghadapi Bok Pin,
setelah diserang begitu gencar dan setelah berhasil
mengalahkan semua serangan itu, barulah ia melancarkan
serangan simpanannya dari partai Bu-tong, ia balas
menyerang dengan kekuatan yang hebat.
Perlahan-lahan mundur sampai setumbak lebih jauhnya.
Kekuatan tenaga keras dan lunak dari dua orang itu
saling bentur, kesudahannya ternyata seri.
Setelah bertempur lima puluh jurus Bo Pin kelihatan
sudah mulai kewalahan.
Selagi Siong Leng sudah mau turun tangan terhadap
lawannya yang sudah tidak berdaya itu, mendadak
terdengar suara bentakan seram.
“Tahan !”
Meskipun suara itu tidak begitu keras tetapi Siong Leng
Totiang yang mendengar itu terperanjat, dengan sendirinya
serangannya lantas ditarik kembali dan segera lompat
mundur.
Ketika ia dongakkan kepalanya, didalam kalangan ada
bediri Cian tok Jin mo sendiri.
Dengan wajah seram Cian tok Jin-mo berkata sambil
kebutkan lengan bajunya: “Bo Tongcu mundur biarlah aku
sendiri, jangan kau menemui para ketua partai besar ini.”
Si tangan geledek Bo Pin lantas undurkan diri.
Cian tok Jin-mo setelah berada dikalangan, lalu berkata
kepada Siong Leng Totiang sambil menjoya;
“Jie Hui ada seorang pegunungan yang kasar,
mendirikan perkumpulan Hian kui kaw maksudnya cuma
hendak mencari suatu tempat untuk tancap kaki didalam
masyarakat. Totiang sekalian yang anggap diri sebagai
ketua dari golongan orang baik-baik hari ini dengan
beramai-ramai telah memasuki lembah Kui kok, kalau Jie
Hui tidak menyambut sendiri tentunya akan ditertawakan
oleh orang-orang dari rimba parsilatan, harap Totiang suka
memberi pengajaran, tak usah merendah.”
“Sudah lama pinto mendengar nama besar dan
kepandaian yang luar biasa dari Kauwcu, hingga selamanya
tidak pandang mata kepada 9 partai, justru inilah maka
pinto ingin minta pelajaran dari Kauwcu sendiri.” jawabnya
Siong Leng Totiang.
“Totiang ada seorang yang berterus terang, kalau begitu
tidak perlu banyak berkata yang tidak ada gunanya lagi,
silahkan To tiang turun tangan !”
Dengan gerakannya yang sangat gesit, Kauwcu itu
sekejap saja sudah berada didepan lawan lawannya.
Siong Leng Totiang terkejut menyaksikan gerakan
demikian gesit. ia buru-buru mundur dua tindak sambil
bersiap-siap.
Meskipun ia belum pernah bertanding dengan Kauwcu
Hian kui kauw ini namun sudah lama ia dengar
kepandaiannya, maka ia tidak berani gegabah.
“Totiang mengapa tidak lekas turun tangan?” tanya Cian
tok Jin Mo sambil ketawa aneh.
“Pinto adalah tamu, bagaimana berani lancang tangan.”
jawab Siong Leng.
“Kalau Totiang begitu merendah. jangan heran kalau
lohu berlaku kurang ajar!” berkata Ciau tok Jin Mo sambil
ketawa.
Kemudian dengan tiba-tiba kebutkan lengan bajunya,
entah dari mana datangnya angin yang
mengandung bau amis tahu-tahu sudah menyambar
muka Siong Leng Totiang !
Sudah tentu Siong Leng Totiang tidak berani
menyambuti dengan kekerasan. Ia geser kakinya, badannya
segera bergerak hendak menyingkir. . . .
Tapi ia lantas dengar suara bentakkan Cian tok Jin Mo.
“Totiang hendak kemana ?”
Siong Leng Totiang merasakan suara itu seolah-olah
keluar dari belakang dirinya dalam kagetnya, buru-buru
melesat tinggi keatas !
Tapi baru saja melesat tinggi kira-kira tiga kaki,
mendadak merasakan ada bau amis luar biasa menusuk
hidungnja, rasa mual segera menusuk ulu hati, sehingga
seluruh kekuatannya menjadi buyar,
Ia masih hendak mengatur pernapasannya, tapi sudah
tidak bisa lagi !
Badannya tampak bergoyang, wajahnya pucat, kakinya
lemas, dan lantas rubuh ditanah. Dari dalam kupel segera
melayang turun seseorang yang lantas menghadang
didepannya.
Cian tok Jin Mo, sambil anggukan kepala orang itu
berkata:
“Kaucu benar-benar lihay, Pinto tidak mengukur
kekuatan sendiri, ingin meminta sedikit pelajaran dari
kauwcu !”
Cian tok Jin Mo mengawasi orang yang baru datang itu,
ternyata ia adalah ketua dari Kun lun pay. Bu Wie Totiang.
“Kedatangan Totiang sangat cepat, mengapa tidak
bimbing dulu dirinya Siong Leng Totiang kedalam kupel?”
berkata Cian tok Jin Mo dengan suara kaku.
Bu wie Totiang wajahnva merah, lalu ia menyambar
lengan Siong Leng Totiang kemudian dengan sekali gentak,
ia sudah berhasil mengangkat tubuh Siong Leng Totiang,
yang besar kedalam kupel,
Tubuh Siong Leng Totiang segera disambut oleh Tiauw
Goan Taysu, lalu diletakkan diatas kursinya dan diberi
pertolongan sebagai mana mestinya.
Cian tok Jin Mo yang menyaksikan perbuatan Bu wie
Totiang ini, bukan saja tidak terkejut, sebaliknya malah
ketawa menghina, “Benar tidak kecewa Totiang sebagai
seorang gagah dalam rimba persilatan, lohu sangat kagum.
Tapi entah Totiang bisa menggunakan senjata kebutanmu
ini untuk membikin lohu menggeser sampai dua tindak atau
tidak?” demikian katanya.
“Coba saja!” jawab Bu wie sangat mendongkol.
Segera maju dan kebutannya digunakan untuk menotok
jalan darah Kian kin-hiat, Kun lun pay yang selamanya
mengutamakan ilmu kekuatan tenaga dalam atau lweekang,
maka meski begitu kecil tidak berarti seperti kebutan itu,
didalam tangan Bu wie Totiang bisa berubah menjadi
senjata yang tidak kalah tajamnya dengan pedang atau
pecut baja.
Cian tok Jin Mo lantas kebutkan lengan bajunya,
badannya menggeser, berada dikirinya Bu wie Totiang ,
Kemudian ulur tangan kirinya, sehingga kelihatannya kaku
dari lima jari tangannya. dengan kecepatan bagaikan kilat
menyambar geger lawannya,
Bu wie yang gagal serangannya pertamanya, dalam hati
merasa kaget, buru-buru ia memutar tubuhnya, kebutan
ditangannya berbalik menyapu.
Tapi Cuma dengan suara ketawanya Ciat tok Jin Mo.
orangnya sudah menghilang dari samping dirinya.
Mendadak angin keras menyambar punggungnya.
Belum sampai memikirkan apa akan terjadi, pundak kiri
Bu wie Totiang tiba-tiba merasa sakit, ternyata sudah kena
ditepok oleh tangan Cian tok Jin Mo.
Ia lantas keluarkan seruan tertahan, badannya
sempoyongan, keringat dingin mengucur keluar.
Dengan perasaan malu Bu wie Totiang terpaksa balik
ketempat duduknya sambil tundukkan kepalanya.
Dari kupel kembali melayang keluar dua imam tua,
Dengan berdiri berendeng kedua imam itu maju kedepan
Cian tok Jin Mo.
“Kaucu benar-benar seorang gagah yang bukan cuma
nama kosong belaka. Pinto berdua dengan tidak memikir
diri sendiri. ingin minta sedikit pelajaran dari Kauwcu!”
demikian mereka berkata sambil memberi hormat.
Cian tok Jin Mo memandang dengan mata dingin,
mereka ternyata adalah ketua Ceng shia pay Liao Tim
Totiang dan ketua Kiong lay pay Goan Hie Totiang.
“Di daerah Sucuan benar ada terdapat banyak orang
gagah, diantara sembilan partay besar Ngo bie dan Kiong
lay sudah mendapati dua bagian. Ini benar-benar
merupakan suatu pertemuan yang jarang terjadi!” Cian tok
Jin Mo berkata sambil ketawa.
“Kita hendak adu tenaga, tidak ingin adu lidah.” Goan
Hie Totiang membentak.
Dengan tidak sungkan-sungkan lagi, keduanya lantas
melancarkan serangan dari kanan dan kiri dengan
berbareng.
Jie Hui perdengarkan suara ketawanya yang aneh,
kemudian mengebutkan kedua lengan bajunya, badannya
dengan gesit sudah mundur lima kaki, sehingga serangan
kedua imam itu mengenai tempat kosong.
Sebaliknya, karena terpengaruh oleh kekuatan kebutan
Jie Hui, kedua kekuatan Goan Hie dan Liauw Tim
terdorong sehingga keduanya harus mundur sejauh dua
tindak.
Kedua imam itu meujadi gusar, mereka lalu maju lagi
dan sekali lagi melancarkan serangan berbareng.
Serangan yang dilancarkan karena dengan tenaga penuh,
anginnya saja sudah menyambar hebat bajunya Cian tok Jin
Mo.
Orang-orang Hian kui kauw yang menyaksikan itu pada
terperanjat dan berubah wajah seketika. Meskipun mereka
semuanya orang-orang yang selamanya mengagulkan
dirinya sendiri, tetapi melihat serangan yang demikian
hebatnya, mau tidak mau jadi merasa sangsi atas
kesanggupan kauwcunya menghadapi serangan tersebut.
Mendadak Cian tok Jin Mo mengebutkan kedua
tangannya, tapi badannya kelihatannya terdorong mundur
oleh kekuatan serangan tadi.
Bo Pin sendiri ketika menyaksikan kejadian itu merasa
terkejut, ia kuatirkan kalau nanti kauwcu akan kalah, Hian
kui kauw pasti akan ludes
Siapa tahu, badan Cian tok Jin Mo yang terhuyung-huyung
mundur itu, setelah kekuatan kedua imam tadi
ditarik kembali lagi, badannya juga sudah melesat balik lagi.
Bersamaan dengan itu, dalam medan pertempuran lantas
tercium bau busuk yang sangat hebat,
Goan Hie Totiang dan Liaw tim totiang berdua yang
tengah kegirangan, tidak menduga sudah kena diserang
oleh kekuatan membalik yang dibareng dengan bau busuk
tadi. maka pada saat itu juga rasa mual lantas mengaduk
dadanya, kepala mereka dirasakan puyeng, sehingga harus
mundur sempoyongan sampai lima tindak jauhnya.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan kejadian itu,
mereka tidak puas, kemudian ia melesat dan turun sendiri
di medan pertempuran.
Dengan tangan kirinya ia melancarkan serangannya
jarak jauh untuk mencegah sambaran bau busuk, sedangkan
tangan kanannya mengeluarkan ilmu kekuatan tenaga
dalamnya untuk mendorong diri Goan Hie dan Liau tim.
Dengan demikian, kedua imam itu telah terhindar dari
serangan Cian tok Jin Mo yang amat dahsyat.
Melihat kedatangan Tiauw Goan Taisu sendiri, Cian tok
Jie mo lantas berkata; “Apakah Taysu juga ingin main-main
dengan aku ?”
“Kauwcu, kau dalam waktu sekejapan saja sudah
merubuhkan empat ketua partai. Kepandaian semacam ini
sungguh jarang didapatkan. Kepandaian lolap yang tidak
ada artinya ini, bagaimana bisa dibandingkan dengan
kepandaian Kauwcu? Segala apa didalam dunia ada
batasnya dan takdirnya, tapi Kauwcu telah berlaku
sewenang-wenang dengan mengandalkan kepandaian
sendiri untuk mencelakakan banyak jiwa, hal ini barangkali
tidak diinginkan oleh Tuhan,” jawab Tiauw Goan Taysu
sambil rangkapkan kedua tangannya.
“Lohu bukan orang dari golongan Buddha, maka tidak
mengerti apa artinya welas asih segala, aku hanya tahu
bahwa rimba persilatan selama ini telah dikuasai oleh
sembilan partai besar, sehingga orang-orang gagah dan
golongan orang kasar tidak mendapat tempat untuk tancap
kaki. Bukannya aku si orang she Jie bicara takabur, taysu
sekalian hari ini telah memasuki lembah Kui kok cuma ada
dua jalan yang dapat kalian tempuh, kecuali jika taysu
dengan kepandaian sesungguhnya dapat menandingi Lohu,
kalau tidak . . . Ha…,ha…Hanya tinggal satu jalan, ialah
kematian saja !”
Perkataan Cian tok Jin mo yang terakhir itu seolah-olah
suara geledek ditengah hari bolong, sampai-sampai Gouw
Ya Pa yang sejak tadi tidak pernah buka mulut juga lantas
lompat bangun dan membentak dengan suara keras.
“Kentut ! Kau kehendaki kami mati, kami juga akan
suruh kau tidak bisa hidup lagi.”
Pemuda dogol itu selain memaki kalang kabut,
tangannya tidak tinggal diam. Sepasang pecutnya bergerak,
sehingga poci dan cawan arak dimeja pada hancur
berantakan.
Ia masih belum puas agaknya, maka sambil angkat hiu
hoan lengnya tinggi-tinggi, ia mengeluarkan perintah
dengan suara nyaring:
“Para ketua dari sembilan partai dengar! Kalian tidak
perlu banyak mulut dengan dia. Semua harus maju
berbareng.”
Tetapi pada saat itu, diantara ketua dari sembilan partai
tersebut, selain Tio Thian Ek yang sudah binasa, Tiauw
Goan Taysu berhadapan dengan Cian tok Jin mo, disitu
yang masih ada dan bisa dengar perintahnya hanya Lim Co
Ek, Bu Wie Totiang dan Thian Hian Totiang bertiga.
Sementara Siong Leng, Liauw Tim dan Goan Hie serta Hui
Kak Siansu semuanya masih terluka dan dalam keadaan
pingsan,
Tadi mereka datang dengan sebarisan dari sepulah orang
dan sekarang, yang masih bisa bergerak hanya tinggal lima
orang lagi. Dengan demikian, kerugiannya adalah
separuhnya, sedangkan pihak Hian kui kauw kecuali Cian
Sin yang binasa dan Siang Hong bersama Siang seng yang
terluka, masih ada lagi Kaucunya sendiri yang belum
mendapatkan tandingan yang setimpal, maka dalam
pertandingan itu selanjutnya, sudah terang bahwa sembilan
partai itu yang akan menderita kerugian besar.
Tiauw Goan Taysu yang mengetahui keadaan
dipihaknya sendiri, sangat menguatirkan Gouw Ya Pa
keluarkan perintah tidak karuan, maka cepat-cepat
menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga
orang, ia berkata kepada Wie Totiang sekalian:
“Lim Sicu dan Jiwie Totiang harus melindungi yang
terluka, berdaya keluar dari lembah ini. Disini lolap akan
berusaha mencegah tindakan mereka selanjutnya.”
Thian hian Totiang dan Bu Wie Totiang berdua cepat-cepat
menghampiri Siong Leng dan Goan Hie, bersedia
hendak menerjang keluar.
Tetapi Gouw Ya Pa yang menyaksikan itu, lantas marah
dan berkata dengan suara keras:
“Semua jangan bergerak sembarangan. Kalau tidak bisa
berhasil menolong keluar saudara Ho, kalian juga jangan
harap bisa hidup terus!”
Bu Wie Totiang dan lain-lainnya jadi saling pandang,
terpaksa urungkan maksud mereka.
Dilain pihak, Bo Pin sudah memimpin orang-orang Hian
kui kauw keluar dari kupel sambil menghunus senjata
masing-masing.
Keadaan demikian telah membayangkan segera akan
terjadinya suatu pertempuran hebat.
Tiauw Goan Taysu hanya bisa berkata sambil menghela
napas, “Siancay, siancay, begitu dimulai, pembunuhan ini
akan merupakan suatu malapetaka untuk selama -amanya.”
Cian tok Jin-Mo sambil tertawa dingin kebutkan lengan
bajunya, dirinya mundur setombak lebih, sedangkan dua
belas anak buahnya yang berada dibelakangnya lantas maju
mengurung dirinya Tiauw Goan Taysu.
Para ketua yang berada didalam kupel, semua sudah
terkurung rapat oleh orang-orangnya Hian kui kauw.
Gouw Ya Pa sedang berdiri diatas meja sambil angkat
Kiu goan lengnya tinggi-tinggi.
Pada saat itu, Bo Pin lantas keluarkan suara:
“Para ketua dari sembilan partai, dengar, Kalau sudah
separuh lebih yang terluka dan terbinasa semuanya
sekarang terkurung didalam kupel yang sudah ditanami
bahan peledak maka mati atau hidup kalian hanya dalam
waktu sekejapan saja. Kalau tidak segera menyerah, begitu
bahan peledak dinyalakan, semuanya akan hancur lebur.”
Bu Wie Totiang terperanjat, ia berkata kepada kawan-kawannya
dengan suara perlahan:
“Benar saja kita sudah kena jebakan. Kopel ini pasti
tempat yang berbahaya, mari kita menerjang keluar” sehabis
berkata, ia lantas bertindak cepat, tetapi baru saja badannya
bergerak, mendadak didengarnya suara bentakan nyaring.
Ang-in Taoto dan Hui tun Thian cun sudah bergerak
berbareng melancarkan serangan tangan dari jarak jauh.
Bu Wie Totiang lantas menyambuti dengan tangannya,
setelah kedua kekuatan itu beradu, meskipun Ang-in Taoto
dan Hui tun Thian cun terpental mundur, tetapi Bu Wie
Totiang sendiri yang dengan seorang diri harus melawan
dua orang, sudah terpental mundur lagi kedalam kupel.
Lim Co Ek lantas membentak keras, kembali bergerak
hendak menerjang keluar, tetapi segera dicegah oleh Siek
Lek dan Ong Hoa Cie yang sejak tadi belum pernah turun
tangan.
Thian hian Totiang merasa gelisah, ia berkata dengan
suara perlahan: “Kita harus bergerak berbareng. Masing-masing
menerjang keluar.”
Ketiga orang itu lalu menerjang keluar kupel sambil
menghunus pedang masing-masing, tetapi baru saja mereka
melangkah keluar, dari empat penjuru sudah dihujani oleh
rupa-rupa senjata gelap, maka Thian hian Totiang dan
kawan-kawannva terpaksa harus kembali lagi kedalam
kupel.
Sementara itu orang-orang Hian kui kauw juga tidak
mendesak. asal musuhnya balik kedalam kupel, mereka
juga menghentikan serangannya, hanya mengurung dari
jarak jauh.
Gouw Ya Pa sendiri juga sangat gelisah mulutnya
memaki-maki kalang kabut. Baru saja ia hendak
mengeluarkan perintahnya lagi, mendadak mendengar
suara Tiaw Gaon taysu berseru:
“O mie to hud! Maafkan lolap akan membuka
pantangan membunuh !”
Padri tua itu lantas kebutkan lengan jubahnya memukul
mundur bocah yang yang mengurung dirinya kemudian
melayang keluar dengan tangan kirinya melancarkan dari
jarak jauh menyerang Ang-in taoto.
Ang-in taoto coba menyambuti serangan itu, tetapi
kesudahannya ia mundur sampai 5 tombak.
Tiauw Goan Taysu melancarkan serangannya bagaikan
kilat cepatnya setelah memukul mundur dirinya Ang-in
Toato, tangan kanannya melancarkan tinjunya kim kong
cie, salah satu ilmu terhebat, 2 macam ilmu kepandaiannya
Siao lim pay, menyerang dirinya Siek Lek.
Tidak ampun lagi Siek Lek lantas keluarkan seruan
tertahan, tubuhnya mundur sempoyongan
Sebentar saja Tiauw Goan Taysu sudah berada dipinggir
kupel. Lalu berkata kepada kawan-kawannya:
“To-heng sekalian. lekas ikut lolap menerjang kepungan
!”
Lim CnoEk sambil menggeram lebih dulu menerjang
keluar dengan pedang terhunus. Thin Hian Totiang dan Bie
wa Totiang juga lantas bergerak.
Gouw Ya Pa mengawasi keadaan disekitarnya, ia cuma
dapat melihat diri Tio Thian Ek yang sudah menjadi
bangkai dan Hui kak siansu. Liao Ham. Siong Leng serta
Goan Hie Totiang yang sudah terluka tidak ingat orang.
Saat itu ia sudah tidak perdulikan mereka lagi, sambil
tenteng pecutnya, juga lompat keluar dari dalam kupel.
Baru saja Gouw Ya Pa berlalu, mendadak terdengar
suara ledakan hebat, sampai Gouw Ya Pa tidak bisa berdiri
dan jatuh tengkurap.
Setelah suara ledakan berhenti, ia baru angkat kepalanya.
Ketika ia melihat keadaan kupel tadi, ternyata sudah
menjadi tumpukan puing. Tidak usah dikatakan lagi,
dirinya para ketua Ngo bie pay, Bu tong-pay dan Kiong-lay
pay beserta bangkainya Tio Thian Ek juga sudah menjadi
hancur lebur.
Ini ada suatu pembunuhan yang sangat keji partai besar
didunia Kang-ouw, dalam waktu sekejapan saja sudah
kehilangan lima ketuanya !
Semua kejadian ini seolah-olah ditimbulkan oleh Gouw
Ya Pa seorang.
Dengan perasaan tertegun pemuda tolol itu memandang
sekitarnya, orang-orangnya Hian kui kauw ternyata sudah
tidak kelihatan bayangannya.
Dalam keadaan sunyi itu, Gouw Ya Pa melihat Tiauw
Goan Taysu dan Bu Wie Totiang berlutut ditanah sembari
membaca doa.
Lim Co Ek keadaannya seperti orang gendeng ia duduk
bersila ditanah pedangnya menggeletak ditanah matanya
keluar airnya.
Gouw Ya Pa tiba-tiba ingat dirinya Thian Hian Totiang
dari Hoa san pay. Ketika ia mencari-cari ditempat sejauh
sepuluh tombak lebih ia dapat lihat dirinya seorang’imam
yang tubuhnya tengkurap tidak bergerak pedangnya
terlempar jatuh ditempat sejauh satu tombak lebih.
Dengan cepat Gouw Ya Pa menghampiri tapi ia lantas
merendek. Karena imam tua itu digegernya sudah terpantek
oleh sepotong kayu yang menembus sampai kedadanya . . .
Lembah Kui kok telah berubah menjadi lembah neraka,
saat itu yang tertampak hanya reruntuhan puing.
Tapi kemana perginya orang-orang dari Hian kui-kauw ?
Mungkin mereka sudah pada meninggalkan tempat itu
untuk menghindarkan diri dari ledakan. kalau benar
demikian halnya, mereka tentunya masih berada didekat
situ, belum berlalu jauh.
Sekarang orang-orang sembilan partay cuma ketinggalan
tiga orang kalau terpegat oleh mereka, benar-benar sangat
Sulit untuk meloloskan diri.
Gouw Ya Pa merasa pilu hatinya ia lalu berkata dengan
cemas:
“Taysu kalian lekas pergi!”
Tiauw Goan Taysu perlahan-lahan mengangkat
kepalanya, dengan sorot mata tajam ia menjawab dengan
suara dingin:
“Pergi ? Kau suruh kita pergi kemana ?”
“Kalian sudah mengeluarkan sepenuh tenaga untuk
kepentingan partai semua, sekarang boleh keluar dari Kui
kok.”
Tiauw Goan Taysu mendadak matanya kelihatan merah
beringas, ia berkata dengan suara gusar.
“Perbuatannya Hian kui kauw begitu kejam. Mereka
telah membunuh banyak kawan-kawan kita, Kalau kita
lantas pergi begitu saja, apa masih ada muka berkelana
didunia Kang-ouw ? Kalian boleh berusaha keluar dari Kui
kok, tetapi lolap belum puas sebelum bertanding dengan
Cian tok Jin mo.”
Lim Co Ek juga lantas lompat bangun dan berkata
dengan suara bengis,
“Benar! Aku si orang she Lim rela mengorbankan jiwaku
yang tua ini, biar bagaimana juga aku harus menuntut balas
sakit hati kawan-kawan kita ini.”
Sehabis berkata demikian. sambil menenteng pedangnya,
ia berjalan menuju kedalam lembah dengan tindakan lebar.
Tindakannya ia segera di ikuti oleh Bu Wie Totiang.
Tiauw Goan Taysu berkata pula:
“Gouw Sicu yang membawa tanda pusaka dan minta
pertolongan buat kawan2 sekarang ternyata telah mendapat
kekalahan begitu hebat, lolap sungguh merasa malu,
Mengapa sicu tidak mau meninggalkan tempat yang
berbahaya ini dulu, lalu dengan tanda pusaka itu
mengumpulkan lagi semua orang gagah didunia untuk
kembali lagi kesini?”
Alisnya Gouw Ya Pa kelihatan berdiri, ia menjawab
dengan suara gagah:
“Kalian semua telah bersedia mengorbankan jiwa untuk
membela kawan, kalian yang sudah binasa, apakah kalian
kira aku Goaw Ya Pa yang juga hendak membela
sahabatku harus sayangi selembar jiwaku ?”
Sehabis berkata begitu, ia lantas lari menyusul Bu Wie
Totiang.
Empat manusia yang keras kepala ini meskipun sudah
mengalami kekalahan yang hebat, tetapi ternyata masih
bertekad bulat hendak mencapai maksud mereka.
Lim Co Ek yang keadaannya sudah mirip dengan
banteng terluka, berjalan lebih dulu. dengan kecepatan
bagaikan kilat sebentar saja sudah berada dilembah Kuikok.
Tetapi, apa yang mengherankan. ialah disepanjang jalan
itu mereka tidak menemukan orang2nya Hian kui kauw.
Kalau begitu mungkin orang-orang itu sudah
mempersiapkan diri lebih dulu maka keadaan yang
kelihatannya sesunyi itu mungkin sebenarnva ada lebih
berbahaya. Mungki juga mereka dengan sengaja hendak
menjebak musuhnya sampai masuk ke dalam, kemudian
dibasmi semuanya.
Tetapi orang sisa-sisa dari sembilan partai dan Gouw Ya
Pa itu semua sudah tidak menghiraukan lagi semua bahaya
yang akan mengancam mereka, dengan berani pula mereka
terus menerjang maju.
Tidak berapa lama, mereka sampai didepan serentetan
bangunan rumah, tetapi disitu pun keadaannya sangat
sunyi.
Lim Co Ek lantas membentak dengan suara keras:
“Kawanan penjahat dari Hian kui kauw! kalau tidak
lekas unjukkan diri. jangan sesalkan kalau aku si orang she
Lim nanti akan membakar habis tempat ini.”
Perkataan baru saja ditutup, mendadak terdengar suara
orang yang berkata sambil tertawa dingin:
“Kalian sudah dekat mampus, masih mau jual lagak?”
Lim Co Ek lantas mencari-cari darimana datangnya
suara tadi. Ia sudah mengetahui bahwa suara itu adalah
suaranya Bo Pin, tetapi suara itu sebentar kedengarannya
dari sebelah kiri sebentar kemudian dari sebelah kanan
sehingga hal ini telah membuat orang sukar mendapatkan
tempat sembunyinya yang jitu.
Pada saat itu, ia sudah tidak mampu lagi mengendalikan
hawa amarahnya. dengan tidak ayal lagi ia lantas
mengeluarkan alat pembakarannya, dan sudah bersedia
hendak membakar rumah.
Siapa tahu, tiba-tiba kedengaran suara aneh seperti
burung hantu yang keluar dari rumah tinggi dan kemudian
disusul oleh melayang turunnya bayangan orang.
Lim Co Ek setelah mengawasi, baru kenali orang yang
baru tiba itu ternyata adalah satu nenek-nenek berambut
putih yang membawa tongkat kepala naga.
Lim Co Ek dengan tidak berpikir panjang gerakan
pedangnya menikam nenek-nenek itu.
Perbuatannya itu telah mengejutkan si nenek.
Sebab dalam suatu ilmu silat, orang harus
mengutamakan keadaan dirinya sendiri lebih dahulu,
kemudian baru melakukan serangan terhadap musuhnya.
Tetapi, bagi Lim Co Ek yang kesetanan tidak ada pikiran
demikian. Serangan tongkat sinenek tidak digubris, ia
malah menyerang dengan pedangnya, maksudnya ialah
supaya sama-sama rubuh,
Maka, sekalipun serangan nenek itu bisa melukai
dirinya, tetapi nenek itu sendiri juga mungkin akan binasa
oleh karenanya.
Dalam keadaan yang membahayakan demikian, terpaksa
si nenek harus melindungi dirinya lebih dulu, maka
tongkatnya lantas memapak pedang lawannya!
Suara ‘trang’, lalu terdengar nyaring, Lim Co Ek
merasakan kesemutan pada lengannya, kakinya mundur
tiga langkah.
Tetapi nenek itu lantas lompat mundur sejauh setumbak
lebih, kemudian berkata sambil ketawa dingin :
“Lim Co Ek kenalkah kau padaku?”
Lim Co Ek lantas memandang, lalu ketawa bergelakgelak.
“Aku kira siapa.” jawabnya, “Tidak tahunya adalah kau,
Kauw hun Lie mo, manusia tidak tahu malu itu, Apa kau
juga menyerahkan dirimu menjadi budak Hian-kui kauw
untuk sesuap nasi! Jangan pergi! Sambuti seranganku ini…”
setelah berkata, dengan cepat ia maju menyerang.
Tiauw Goan Taysu yang pada saat itu juga sudah sampai
disitu lantas mencegah perbuatan Lim Co Ek seraya
berkata.
“Lim Sicu, silahkan mundur dulu. Biarlah serahkan iblis
ini padaku.”
Kauw hun Lie mo ketawa terkekeh-kekeh sejenak.
“Pantas didepan tadi ada begitu ramai. Tenyata kalian
kawanan kepala gundul dan hidung kerbau telah datang
semuanya….” Perkataannya diteruskan setelah berhenti
sejenak, “Aku situa bangka sudah banyak tahu tidak mau
campur urusan luar, tetapi hari ini kita harus bertempur
sampai puas he…he…”
Tiauw Goan Taysu tidak menjawab. ia segera
menentang kedua tangannya dan menyambar pundak Kauw
hun Lie mo.
Ternyata padri tua itu sudah membuka pantangan
membunuhnya. begitu turun tangan ia sudah menggunakan
ilmu Liong-jiauw-kangnya yang sangat hebat. Dari ujung
jarinya saja sudah mengeluarkan suara yang hendak
menembusi badan orang.
Kauw hun Lie mo. sebangsa orang berkepala batu juga,
tetapi ia tahu benar kelihayan padri tua itu, maka ia tidak
berani bertindak gegabah dihadapannya, dengan tongkat
kepala naganya ia mencoba menangkis serangan Tiauw
Goan Taysu.
Ketua Siao-lim-pay itu ketawa dingin, mendadak
gerakan tangannya dirubah, kali ini tidak menyambar
pundak orang, tetapi menyekal dan merebut tongkat.
Kedua orang itu sama-sama mengeluarkan seluruh
kekuatannya dan disalurkan ke tongkat sehingga seketika
itu keduanya lantas berkutetan.
Gouw Ya Pa yang menyaksikan itu, karena menganggap
sudah hendak nekad-nekadan maka tidak perdulikan
peraturan dunia Kang-ouw lagi. Setelah berpikir sejenak ia
lantas memutar pecutnya sambil menggeram hebat ia
menghajar kepala Kauw hun Lie mo.
Pada saat itu, Kauw hun Lie mo sedang memusatkan
kekuatannya pada tongkatnya untuk mengadu kekuatan
dengan Tiauw Goan Taysu, bagaimana dapat menahan
serangan Gouw Ya Pa ini, maka sebentar saja pecut Gouw
Ya Pa sudah hampir menghajar punggungnya.
Ternyata Kauw hun Lie mo cukup lihay sebelum pecut
Gouw Ya Pa mengenai dirinya, mendadak ia membentak
dan melepaskan tangan kirinya untuk menyerang balik,
sehingga Gouw Ya Pa sampai jungkir balik. Tetapi ia
sendiri yang melepaskan tangan kirinya itu, telah terdesak
oleh kekuatan Tiauw Goan Taysu, sehingga darah segar
keluar dari mulutnya.
Gouw Ya Pa merayap bangun lagi, kembali menyerbu
dengan pecutnya.
Kauw hun Lie mo yang sudah luka didalam tidak dfj-Et
n enjirgl ir diri. maka serangan Gouw Ya Pa kali ini telah
mengenai dirinva dengan telak. Ia lalu mundur
sempoyongan lagi beberapa tindak, kembali memuntahkan
darah segar.
Lim Co Ek tidak mau tinggal diam, pedang ditangannya
bergerak hendak mengambil kepala Kauw hun Lie mo.
Mendadak terdengar suara bentakan keras: “Tahan!”
yang lain disusul oleh munculnya dua bayangan orang.
Lim Co Ek terpaksa menarik kembali serangan
pedangnya, pada saat itu dilihatnya didepannya berdiri satu
padri dan satu imam tua.
Pada pundaknya imam tua itu menggemblok dua batang
genta, jenggotnya yang putih panjangnya sampai dada,
Ternyata ia adalah seorang gagah yang terkenal dari
golongan hitam pada tiga puluh tahun berselang namanya
Song Pin bergelar Tiok beng le su,
Disampingnya, ada seorang padri berjubah merah yang
membawa sebuah bokor tembaga, yang sangat berat
kelihatannya.
Dengan ketawa dingin padri itu berkata:
“Kalian semua adalah orang-orang ternama dari
golongan orang-orang baik, tetapi ternyata hendak
mengandalkan jumlah yang banyak untuk meraih
kemenangan, sekarang aku ingin mencoba kepandaian
kalian.”
Bu Wie Totiang segera maju menghampiri seraya
berkata:
“Toa Ho Siang ini apa bukan Tong Pun Hwesshio yang
pada empat puluh tahun berselang diusir dari Ngo tap san
?”
Si Paderi merah wajahnya, ia menjawab dengan suara
bengis: “Manusia sombong, kau berani membikin jelek
namaku, hari ini aku nanti suruh kau merasai bokor
tembagaku !”
Baru habis berkata, bokor tembaganya yang berat sudah
melesat keluar dari tanggannya dan menyambar diri Bu
Wie Totiang.
Bu Wie Totiang terperanjat, ia buru-buru menyontek
dengan pedangnya.
Siapa nyana dalam bokor itu ternyata ada rahasianya,
ketika ujung pedang Bu Wie Totiang menotol badan bokor,
badan itu lantas berputaran, lalu menyemburkan barang
cair berwarna hijau.
Bukan kepalang kagetnya Bu Wie Totiang dengan cepat
ia menggunakan lengan bajunya untuk menutupi wajahnya,
kemudian lompat mundur.
Tapi gerakannya itu ternyata masih agak terlambat,
sebab barang cair itu sudah jatuh dilehernya laksana air
hujan. Sebentar saja kulit leher Bu Wie Totiang sudah
terbakar.
Bu Wie Totiang kesakitan setengah mati, ia lantas
bergelidingan ditanah.
Tong Pun Hweeshio maju menghampiri, dengan tangan
kirinya ia menyambuti bokornya, tangan kanannya sudah
bersedia hendak menghantam kepala Bu Wie Totiang.
Tapi Lim Co Ek sudah lompat maju merintangi sambil
membentak:
“Padri ganas, kau berani melukai sahabatku ?”
Gouw Ya Pa buru-baru memondong dirinya Bu wie
Totiang, siapa nyata sudah terkena racun jahat, napasnya
memburu, lehernya penuh air kuning berbau busuk.
Tiauw Goan Taysu gelengkan kepala. dari dalam
sakunya ia mengeluarkan sebuah obat pil. lalu dimasukkan
kedalam mulut Bu wie Totiang sembari berkata:
“Gouw sicu, kau baik-baik melindungi dirinya lolap akan
menuntut balas untuk dia.”
Gouw Ya Pa mengangguk. Tiauw Goan Taysu lalu
keluarkan pekikan nyaring. dari dalam pinggangnya ia
mengeluarkan sepasang roda terbang yang menancarkan
sinar gemerlapan.
Tatkala sepasang roda terbang itu dirangkap lantas
terdengar suara yang amat nyaring.
Kemudian ia berkata dengan suara bengis: “Hian kui
kauw telah menggunakan senjata beracun yang sangat
ganas, jangan sesalkan lolap hendak turun tangan jahat !”
Secepat kilat ia sudah menerjang diri Tong Pun
Hweeshio!
Siok Beng le su lantas berseru: “Taysu apa juga ingin aku
turun tangan sekalian?”
Ia lantas maju sambil lintangkan kedua gaetannya.
Tiauw Goan Taysu tidak menjawab, roda ditangan
kirinya diputar, tapi roda ditangan kanannya yang melesat
keluar.
Siok Beng le su tidak tahu sampai dimana kelihaian
sepasang roda itu, ia tidak berani menyambuti dengan
kekerasan. Ia putar tubuhnya, kedua gaetannya dipakai
untuk melindungi tubuhnya.
Tiauw Goan Taysu ketawa dingin. tangan -kanannya
menggapai, roda terbang itu segera balik kembali berbareng
dengan itu, roda ditangan kirinya lantas melesat keluar!
Siok Beng le su mencoba beberapa kali melindungi diri
dengan gaetannya.
Melihat sepasang roda itu cuma beterbangan bergantian,
tidak ada apa-apanya yang luar biasa, dalam hati mulai
merasa lega. Diam diam hati mulai berpikir: “Ilmu
kepandaian Siao-lim pay ternyata cuma begitu saja.”
Karena ia pandang ringan senjata lawannya, sekarang ia
coba menyambuti dengan kekerasan.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 11
SIAPA tahu dengan demikian ia telah terjebak !
Ketika kedua senjata itu beradu, lantas terdengar suara
‘crak’ sepasang gaetannya Siok-beng Ie su lantas dibabat
olah rodanya Tiauw Goan Taysu.
Siok-beng Ie su terperanjat, ia kerahkan seluruh kekuatan
tenaga dalamnya, hendak menarik kembali senjatanya.
Siapa tahu saat itu dari samping ada angin tajam yang
menyambar badannya.
Ternyata Tiauw Goan Taysu ketika roda ditangannya
sedang melibat senjata lawannya tangan kanannya lantas
bergerak, roda yang tajamnya luar biasa itu dengan cepat
lantas menyambar Song Pin !
Siok beng Ie su tidak keburu menyingkir, bawah
ketiaknya lantas terbelah, setelah mengelurkan jeritan ngeri,
ia lantas rubuh.
Tong Pun hweeshio yang menyaksikan kejadian tersebut,
bukan kepalang kagetnya, hampir saja tertikam oleh pedang
Lim Co Ek.
Setelah menyingkirkan serangan Lim Co Ek ia buru-buru
mundur tubuhnya dan loncat naik keatas genteng.
Lim Co Ek tidak mau mengerti, ia memburu dan lompat
naik keatas genteng juga.
Tapi baru saja menginjak genteng, dari empat penjuru
lantas terdengar suara riuh: “Lepaskan anak panah 1”
Sebantar saja, anak panah dari berbagai panjuru lantas
menyambar seperti hujan.
Betapapun tingginya kepandaian Lim Co Ek. apa lagi
lengan kirinya sudah kutung dan mengeluarkan banyak
darah serta sudah lama bertempur, sudah tentu tidak
sanggup melayani datangnya anak panah seperti hujan.
Sebentar saja sudah ada beberapa batang anak panah yang
menancap dibadannya.
Ia merasa pundaknya yang kena anak panah itu seperti
kesemutan, maka lantas mengerti kalau anak panah itu ada
racunnya. ia lalu lompat melesat keatas genteng yang
berdekatan, pedangnya diputar laksana titiran, ia menyerbu
kepala orang-orang yang melepaskan senjata gelap itu.
Sebentar saja dari sana sini terdengar suara jeritan saling
berganti, ternyata sudah ada kira-kira delapan orang binasa
dibawah pedangnya.
Tapi badannya Lim Co Ek sendiri juga sudah seperti
binatang landak, penuh dengan anak panah yang
menancap.
Sebentar saja dari sana sini terdengar suara jeritan saling
berganti, ternyata sudah ada kira-kira delapan orang binasa
dibawah pedangnya.
Tapi badannya Lim Co Ek sendiri juga sudah seperti
binatang landak, penuh dengan anak panah yang
menancap.
Sambil dongakkan kepala dan ketawa bergelak-gelak ia
berseru:
“Puas ! Puas. .. . !” kemudian badannya menggelinding
dari atas genteng.
Sekarang diantara ketua sembilan partai itu, keculi Bu
Wie Totiang yang terluka, cuma tinggal ketua Siao-lim pay,
Tiauw Goan Taysu seorang saja yang masih hidup dalam
keadaan utuh.
Gouw Ya Pa mengucurkan air mata, dalam hati berkata;
“Saudara Ho, jangan salahkan aku tidak bisa menolong
dirimu, siapa nyana ketua dari sembilan partai, hari ini
hampir semuanya binasa dilembah Kui kok.”
Diluar dugaan, dalan keadaan putus asa itu, tampak satu
bayangan orang yang muncul dari lembah bagian belakang
dan mendatangi kearah mereka dengan cepat sekali.
Gouw Ya Pa berdiri dengan mata beri- ngas, lalu berkata
kepada Tiauvv Goan Tay- su :
“Taysu harap kau suka keluar dari lembah ini, biarlah
aku yang adu jiwa dengan kawanan bangsat dari Hian kui
kauw ini !”
Sababis berkata, sambil menenteng pecutnya, ia maju
menyambuti orang itu.
Siapa nyana ketika orang itu sudah berada dekat lantas
berseru: “Gouw Toako, apakah kau yang berada disitu ?”
Gouw Ya Pa hampir saja menjerit kegirangan. . . .
bukankah itu saudara Ho nya yang ia hendak ditolong ?
Memang besar! Orang itu adalah Ho Kie yang pada tiga
hari berselang menyerbu kelembah Kui kok dengan seorang
diri.
Gouw Ya Pa dalam girangnya lantas melompat keatas
genteng, tapi baru saja kakinya menginjak genteng, anak
panah sudah menyambar dari berbagai penjuru.
Karena ia ada mempunyai ilmu kebal yang tidak takut
segala senjata terhadap anak panah yang menyambar
dirinya seperti hujan ia tidak hiraukan sama sekali. Bahkan
ia lantas menerjang kearah orang-orang yang melepaskan
anak panah itu.
Maka sebentar saja sudah banyak jiwa melayang
ditangannya, sisanya terpaksa pada melarikan diri.
Gouw Ya Pa lantas menghampiri Ho kie dengan suara
sember ia berkata: “Saudara Ho, aku mencari kau setengah
mati !”
Ho Kie belum sempat menjawab, tiba-tiba ada satu
bayangan putih dengan kecepatan bagaikan kilat lari keluar
dari belakang lembah.
Ketika Ho Kie melihat siapa orangnya. wajahnya
nampak aneh sambil menarik dirinya Gouw Ya Pa berkata:
“Gouw Toako, mari kita lekas pergi!”
Dari sikapnya Ho Kie rupa-rupanya merasa segan
bertemu dengan orang baju putih itu.
Ketika Gouw Ya Pa mengawasi, orang baju putih itu
ternyata ada Lim Kheng, ia lantas berkata:
“Saudara Ho, itu apa bukannya nona Lim Kheng?”
“Dia bukan nona Lim, melainkan anak perempuannya
Cian tok Jin Mo dari Hian kui kauw !”
Gouw Ya Pa yang mendengar keterangan itu matanya
lantas merah, ia berkata pelan
“Kita jangan pergi dulu. para ketua dari partai telah
binasa ditangan ayahnya, biarlah kita dari dirinya mencari
sedikit modal.”
Sehabis berkata, ia lantas maju memapaki sambil
menenteng pecutnya.
Ho Kie buru-buru menarik tangannya seraya berkata:
“Gouw toako mari kita pergi! Kita tinggalkan lembah Kui
kok ini dulu!”
Sebentar kemudian, Jie Peng sudah berada didepan
mereka.
Nona itu dengan air mata berlinang tanganya membawa
sebuah panji kecil warna merah. Begitu berada didepan Ho
Kie, lantas berkata dengan suara duka.
“Engko Kie, sekalian kalau hendak pergi. seharusnya
juga mengijinkan aku yang bernasib malang ini turut
mengantarkan. Bendera kecil ini kau boleh bawa!”
“Terima kasih atas budi kebaikan nona, budi
kebaikanmu ini aku siorang she Ho tidak akan melupakan
untuk selama-lamanya.”
“Sayang, kita satu sama lain berdiri sebagai musuh.
Dengan perbuatanmu yang mencuri bendera untuk
mengantarkan aku, apakah tidak takut nanti akan dapat
marah Kaucu?” berkata Ho Kie dengan suara terisak-isak.
“Aku merasa bersyukur bisa mendapat kecintaanmu,
badanku ini mesti akan hancur lebur juga tidak mampu
membalas kecintaanmu. Sekalipun untuk kau aku harus
dihukum mati oleh ayah, aku juga rela !”
Ho Kie merasa sangat terharu, ia tidak bisa menjawab
apa-apa, kemudian berpaling dan berkata kepada Gouw Ya
Pa:
“Mari kita pergi !”
DENGAN mata mendelong dan mulut menganga.
Gouw Ya Pa merasa heran atas perhubungan nona itu.
dengan sahabatnya, ada apa sebetulnya diantara mereka ?
“Kau…. dia?” tapi apa yang hendak ditanyakan, ia
kebingungan sendiri.
Ho Kie nampak bimbang. tapi kemudian bisa mengambil
keputusan dengan cepat, ia segera melompat melesat sambil
mengajak kawannya;
“Gouw-toako jangan sia-siakan waktu! Kita bisa masuk,
masakah tidak bisa keluar?” Sehabis berkata, orangnya
sudah berada tiga tombak lebih jauhnya.
Tapi baru saja ia melayang turun, mendadak dari atas
sebuah rumah ada melayang turun dua bayangan didepan
matanya, kemudian berkata sambil ketawa dingin:
“Bocah she Ho, kau anggap sepi lembah Kui kok ini ?”
Dua orang itu satu adalah Hiantun Thian cun Cee Kong
Han. seorang satunya lagi adalah seorang perempuan
pertengahan umur berwajah putih kelimis, yang Ho Kie
belum pernah lihat. Ia adalah Ong Hoa Cu, salah satu
Tongcu dari Hian Kui kauw.
Ho Kie yang sedang gusar dan cupat hatinya, dengan
tanpa banyak bicara lantas menyerang kedua orang itu
dengan hebat.
“Anjing cilik, sungguh besar nyalimu!” bentaknya Cee
Kong Han, seraya menyambuti serangan Ho kie,
Tiauw Goan Taysu yang saat itu sudah menyusul lantas
maju dan berkata dengan suara bengis;
“Dengan berduaan mengerubuti satu orang apa itu
perbuatan orang gagah? Marilah kalian mencoba mengadu
dengan tulang-tulangku yang sudah bangkotan ini !”
Sehabis berkata. lalu mendorong kedua tangannya. dari
situ meluncur keluar satu kekuatan tenaga dalam yang
sangat hebat.
Hui tun Thian-cun ketawa terkekeh-kekeh bersama Ong
Hoa Cu coba menyambuti serangan Tauw Goan Taysu.
Setelah terdengar suara beradunya kekuatan tenaga
dalam dari kedua pihak, ketiga orang itu nampak pada
mundur satu tindak.
Ong Hoa Cu sambil menenteng tongkatnya yang
bentuknya aneh, maju membentak:
“Kepala gandul, kematianmu sudah berada didepan
mata, apa kau masih berani berlaku ganas?”
Tiauw Goan Taysu dengan kedua rodanya. menyambuti
tongkatnya Ong Hoa Cu.
Hui tun Thian cun turut menyerbu, dengan berduaan
mengerubuti Tiauw Goan Taysu. Pertempuran berjalan
sepuluh jurus lebih. Tiauw Goan Taysu lalu mengeluarkan
bentakan keras, sepasang rodanya melesat keluar dari
tangannya.
Ong Hoa Cu berdua lantas memencarkan diri, mereka
lalu pentang jalannya yang terbuat dari benang baja untuk
menjaring Tiauw Goan Taysu.
Roda Tiauw Goan Taysu yang berbentuk jaring telah
jatuh ditanah.
Saat itu dari empat penjuru lantas muncul Siang Hong
Siang, Bo Pin, Tong Pun Hweeshio Tio Go dan lain-lainnya
mengurung Tiauw Goan Taysu.
Tiauw Goan Taysu menampak keadaan demikian. telah
menghela napas panjang, lalu berkata pada Gouw Ya Pa
dan Ho Kie:
“Lolap sudah keluarkan kepandaian dan tenaga, apa mau
musuh terlalu kuat, rupa-rupanya agak sukar keluar dari
kepungan ini, Biarlah Lolap korbankan jiwa sendiri biar
bagaimana juga akan berusaha untuk melindungi sicu
keluar dari bahaya!”
“Bagaimana Taysu bisa berkata begitu? Kita bersama-sama
mati juga kita bersama-sama !” menjawab Ho Kie.
“Ucapan Ho sicu benar. Kalau begitu biarlah lolap
dengan sepasang tangan ini yang membuka jalan, untuk
kawanan iblis ini…” berkata Tiauw Goan Taysu sambil
anggukkan kepala, Kemudian keluarkan pekikkan nyaring
dan gerakkan kedua tangannya, benar saja ia menerjang
lebih dulu!
Ho Kie dan Gouw Ya Pa cepat menyerbu untuk
menerobos keluar dari kepungan.
Orang-orang Hian Kui kauw jumlahnya semakin
banyak. hingga mereka bertiga terkurung semakin rapat.
Tapi karena Tiauw Goan Taysu bertiga sudah bertekad
bulat hendak melawan sampai titik darah penghabisan,
maka sedikitpun tidak merasa keder !
Bertempur sudah hampir satu jam lamanya badan Ho
Kie bertiga sudah pada terluka. hingga darah membasahi
tubuh mereka.
Pertempuran demikian berlangsung terus sampai
setengah hari lamanya, Tiauw Goan Taysu sudah
membinasakan 5-6 hiucu, di badannya sudah penuh darah.
Tapi orang-orang Hian Kui kauw bukan menjadi kurang,
bahkan semakin banyak jumlahnya.
Tiauw Goan Taysu lalu berkata sambil menghela napas:
“Jika sicu kalau tidak mau dengar perkataan lolap,
sekarang aku terkubur bersama-sama
dalam lembah Kui kok. sehingga tidak seorang pun juga
yang bisa menyampaikn kabar!”
“Satu laki-laki bisa binasa dimedan perang. juga
merupakan satu kehormatan besar. Taysu kita bunuh saja.
…” jawab Ho Kie.
Tapi baru berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar
seruan Gouw Ya Pa yang sudah terkena senjata bokornya
Tong pun Hweeshio, sehingga badannya sempoyongan.
Tiauw Goan Taysu buru-buru mendekati Gouw Ya Pa
untuk memberi perlindungan. tiba-tiba didampingnya ada
menyambar angin dingin, ia menyambuti, tangannya telah
beradu dengan tangan Bo pin.
Pada saat itu juga, lengan kiri Tiauw Goan Taysu
mendadak merasa sakit, agaknva ada hawa dingin yang
menyusup masuk terus masuk terus kedalam dada !”
Tiauw Goan Taysu terperanjat, ia buru-buru kerahkan
kekuatan tenaga dalamnya untuk menutup jalan darahnya.
Dengan demikian ia cuma bisa melayani musuh2nya
dengan satu tangan kanan saja.
Tidak antara lama Ho Kie pundaknya juga keserempet
senjatanya Hui tun Thian Cun dan ketika menerjang maju
kebetulan berpapasan dengan Bo pin.
Bo Pin lantas berkata sambil ketawa dingin.
“Bocah, apa kau masih ingin menuntut balas? Orang she
Bo akan suruh kau merasai rasanya Hui sie Biat kut Ciang
!”
Ucapan Bo Pin itu ditutup dengan satu serangan yang
dinamakan Hui sie Biat kut-ciang itu.
Ho Kie terpaksa menyambuti dengan kedua tangannya.
Ketika tangan mereka beradu, bau amis lantas menusuk
hidung Ho Kie. ia lantas merasa seperti ada hawa dingin
menyerbu kedalam badannja, kepalanya pujeng, sehingga
mundur sempoyongan.
Siang Hong Siang yang menampak keadaan demikian,
senjatanya lantas meluncur keluar dari tangannya mengarah
geper Ho Kie.
Tiauw Goan Taysu menampak Ho Kie seperti orang
bingung, bukan main kagetnya. lalu menyambar senjata
pecutnya Gouw Ya Pa, kemudian disambitkan menyambuti
serangan Siang Hong Siang.
Tatkala kedua senjata itu beradu, kedua duanya lantas
jatuh ditanah.
Saat itu mendadak terdengar suara bentakan nyaring
halus, “Kaucu ada perintah, semua berhenti bertempur !”
Hui-tun Thian cun yang mendengar itu, terpaksa
urungkan maksudnya ketika ia berpaling, lantas dapat lihat
Jie Peng berdiri diatas genteng sambil membawa lengkie
(bendera perintah).
Orang-orang Hian kui-kauw yang melihat Leng kie itu
lantas pada berhenti dan bergerak mundur.
Bo Pin lantas maju dan bertanya sambil menyoja:
“Nona Peng, bukankah kau sedang tak enak badan?
Mengapa tidak mengaso dikamar, sebaliknya datang kemari
menyampaikan perintah ?”
“Kaucu ada perintah, supaya mengantar keluar Ho
Siaohiap bertiga dari lembah Kui-kok siapa saja dilarang
merintangi, barang siapa yang melanggar perintah ini akan
mendapat hukuman berat,” jawab Jie Peng sambil ketawa
hambar.
Semua orang yang mendengar itu pada saling
memandang.
Ho Pin agaknya tidak percaya tapi ia tidak berani
mengutarakan hanya serunya: “Benarkah Kauwcu ada
perintah mengeluarkan mereka bertiga dari lembah ini?”
“Bo Tongcu, ucapanku mungkin bisa bohong, tapi
apakah lengkie ini juga palsu?”
Bo Pin merah wajahnya. tapi ia masih merasa sangsi.
Maka diam-diam memberi isyarat kepada salah satu hiocu
supaya berlaku dengan diam-diam untuk mencari
keterangan pasti, kemudian ia berkata pula sambil ketawa:
“Kalau benar nona Jie ada membawa perintah kaucu,
sudah tentu Kita akan turut,” Sehabis berkata, ia lantas
ulapkan tangannya, hingga orang-orang yang mengurung
Ho Kie bertiga lantas membuka jalan.
Tiauw Goan Taysu yang menyaksikan orang-orangnya
Hian kui kauw benar saja lantas pada mundur, lalu ajak
Gouw Ya Pa berlalu.
Gouw Ya Pa meski tolol. tapi dalam saat bahaya masih
ingat sahabatnya. Ketika hendak berlalu ia masih ingat
dirinya Ho Kie yang dalam keadaan pingsan. Ia lantas
gendong sahabatnya itu, lalu berjalan dengan tindakan
lebar.
Jalan belum berapa jauh tiba-tiba dibelakangnya ada
suara orang berkata, “Taysu harap suka tunggu sebentar!”
Tiauw Goan Taysu hentikan tindakannya, ia dapat lihat
bahwa orang yang menyusul itu ternyata Jie Peng adanya,
Karena belum tahu apa maksudnya, paderi itu diam-diam
sudah waspada.
Jie Peng menyaksikan Tiauw Goan Taysu masih
bersangsi. ia tahu bahwa paderi itu ternyata salah faham,
maka lalu berkata padanya,
“Taysu jangan bingung, aku datang ada membawa obat
buat Ho Siaohiap.” Ia lalu mengeluarkan dua botol kecil
dan diberikan kepada Tiauw Goan Taysu.
Setelah menyambuti obat itu, Tiauw Goan Taysu sudah
hendak berlalu lagi.
“Taysu tunggu dulu aku hendak bicara.” Jie Peng berkata
pula dengan cemas.
“Harap Li sicu lekas sedikit, pinceng tidak bisa tunggu
lama-lama!”
“Obat dalam botol itu ada obat pemunah racun khusus
bikinan kami, sebetulnya sangat berbisa, maka hanya
khusus untuk menyembuhkan orang yang kena serangan
Hu sie Biat kut ciang. Kalau digunakan buat penyakit
lainnya, bukan saja tidak berhasil. bahkan sangat
membahayakan jiwanya. Dan lagi kalian hendak keluar
dari depan ada sangat sukar karena disana telah terjaga
ketat. Tapi dibelakang kosong. . . .”
Jie Peng selagi masih bicara mendadak berhenti,
kemudian berkata pula dengan perasaan gelisah,
“Mereka sudah mengejar lagi, lekas ikut aku.”
iauw Goan Taysu pasang telinga, benar saja ada suara
riuh. yang makin lama makin dekat. maka lantas menarik
tangan Gouw Ya Pa, mengikuti jejaknya Jie Peng lari
kebelakang lembah.
Bo Pin sebetulnya mencurigai perbuatan Jie Peng, tapi
takut kepada Lengkie, ia tidak berani merintangi berlalunya
Tiau Goan Taysu bertiga.
Pada saat itu mendadak orang yang disuruh oleh Bo Pin
sudah balik sambil berseru, “Bo Tongcu, celaka. perintah
norn Jie Peng tadi adalah palsu, lengkie juga ia dapat
mencuri. Kaucu kini sedang gusar, perintahkan kita supaya
lekas kejar mereka !”
Bo Pin sangan gusar, ia segera perintahkan semua orang2
Hian kui kauw mengejar serta menjaga semua tempat,
jangan sampai mereka lolos. Sedang ia sendiri bersama dua
dua hiocu lari mengejar kebagian belakang.
Jie Peng yang memimpin Tiaow Goan Taysu bertiga,
ketika tiba dibelakang lembah telah dapat lihat ada empat
anak buah Hian kui kauw yang menjaga.
Jie Peng memberi isyarat kepada Tiauw Goan Taysu,
paderi tua itu mengerti, lalu kerahkan kekuatan tenaga
dalamnya. sebentar kemudian sambaran angin hebat
menyerang pada empat orang itu.
Kasihan bagi mereka yang belum tahu apa yang sedang
terjadi. tahu-tahu sudah dibikin terpental oleh serangan
Tiauw Goan Taysu bersama Jie Peng sampai empat tombak
jauhnya dan lantas binasa seketika itu juga.
Menampak empat orang itu sudah binasa. Jie Peng buru-buru
berkata:
“Mereka segera akan mengejar kalau terlambat
barangkali sulit keluar dari lembah ini. Tolong Taysu
lindungi Ho Siaohiap berlalu dari sini, Biarlah disini aku
yang merintangi mereka.”
Tiauw Goan Taysu memandang Jie Peng sejenak, lalu
menjawab.
“Bagaimana nona bisa berkata demkian? Menolong Ho
sicu adalah kewajiban lolap, kalau nona berada disini
sendiri, lolap merasa tidak enak, mengapa tidak bersama
lolap keluar dari lembah kui kok ini, kemudian kita mencari
daya upaya lagi!”
“Taysu tidak boleh berdiam disini terlalu lama, kalau
terlambat sedikit, barangkali tidak bisa keluar lagi. Aku
memang aaa orang Hian kui kauw. mereka tidak bisa
berbuat apa-apa terhadap diriku. Aku cuma ada sedikit
perkataan, tolong Taysu sampaikan kepada Ho Siaohiap,
katakanlah saja bahwa aku Jie Peng yang bernasib malang
akan menantikan padanya di lembah Kui kok. …”
Belum habis perkataannya, Jie Peng sudah menangis
sedih sekali.
Sesaat itu, suara riuh sudah semakin dekat, maka Jie
Peng lantas mendesak Tiauw Goan Taysu supaya lekas
berlalu.
Ketika Bo Pin bersama orang-orang Hian kui kauw tiba
disitu, Tiauw Goan Taysu bertiga sudah berada enam
tombak lebih dari lembah kui kok, maka terpaksa ia balik ke
Kui kok untuk memberi laporan.
Setelah berada jauh dari Kui kok dan melihat sudah tidak
ada orang mengejar. Tiauw Goan Taysu baru bisa
bernapas. Tapi ketika menampak Ho Kie Keadaannya
sangat payah, lantas berkata kepada Gouw Ya Pa;
“Gouw sicu, aku lihat Ho sicu lukanya sangat parah,
mari kita mencari tempat untuk menolongi Ho sicu lebih
dulu.”
Gouw Ya Pa mendengar perkataan Tiauw Goan Taysu,
baru ingat kalau Ho Kie masih pingsan, maka lantas
menjawab:
“Aku tidak mempunyai pikiran apa-apa. asal bisa
menolong jiwanya saudara Ho, bagaimana saja kehendak
Taysu, aku menurut.”
Tidak antara lama, mereka menemukan sebuah kuil tua
yang sudah rusak keadaannya, mungkin sudah banyak
tahun tidak pernah ada orang menempati.
Tiauw Goan Taysu tidak mau ambil perduli, ia buru2
membersihkan meja bekas sembahyang, lalu letakkan diri
Ho Kie diatasnya, ia suruh Gouw Ya Pa yang menjaga
sedang ia sendiri pergi mencari air.
Setelah kembali dengan air, ia lantas keluarkan obat
pemberian Jie Peng, kemudian dimasukkan kedalam
mulutnya Ho Kie.
Gouw Ya Pa menampak Ho Kie yang sudah minum
obat, tapi masih saja belum segar hatinya sangat gelisah.
Sebentar duduk sebentar bangun dan sebentar berjalan
mondar-mandir sambil menghela napas.
Sebentar lagi mendadak perutnya Ho Kie terdengar
keruyukan, baru saja Gouw Ya Pa hendak melihat apa yang
terjadi, Ho Kie sudah menyemburkan air warna hitam
darinya, air itu berbau busuk. Sebentar kemudian dari
lubang pantatnya juga mengeluarknn air yang serupa.
Muntah dan berak air hitam berbau busuk itu kira-kira
satu jam lamanya baru berhenti.
Kasihan bagi Gouw Ya Pa yang hendak membela
kawannya, dengan tanpa merasa jijik, ia membersihkan
semua kotoran yang ada dibadan dan pakaian Ho Kie,
kemudian diganti dengan pakaian baru Setelah semua
selesai, ia baru duduk disampingnya.
Tapi, Ho Kie meski sudah muntah-muntah dan berak-berak
begitu banyak, namun masih belum mendusin,
bahkan tidur pulas.
Saat itu cuaca sudah gelap, Tiauw Goan Taysu telah
selesai bersemedi, sedang Gouw
Ya Pa baru meram hendak tidur
Mendadak terdengar Ho Kie menjerit, “Aduh mati aku!”
Gouw Ya Pa yang baru saja pejamkan matanya
mendadak kaget dan lantas menghampiri dan bertanya:
“Saudara Ho, apa kau sudah baikan ?”
Ho Kie membuka mata memandang keadaan sekitarnya.
Ia telah dapatkan dirinya berada didalam kuil tua,
disampingnya ada Gouw Ya Pa dan Tiauw Goan Taysu. Ia
merasa heran maka lantas bertanya pada Gouw Ya Pa:
“Gouw Toako. bagaimana kita bisa berada disini.
Dimana orang-orang yang lainnya?” Ia hendak bangun, tapi
baru saja badannya bergerak, ia sudah pingsan lagi.
Ilmu Hui se Biat kut-ciang, ciptaan Cian tok Jin mo
benar-benar lihay, Ho Kie meski sudah makan obat dan
mengeluarkan banyak racun, tapi kekuatannya belum bisa
lantas pulih.
Gouw Ya Pa yang menyaksikan keadaan demikian,
sudah ketakutan setengah mati. sehingga menangis
menggerung-gerung seperti anak kecil.
Tiauw Goan Taysu terkejut, ia buru-buru memeriksa
keadaan Ho Kie, ternyata Ho Kie cuma tidur, tidak ada
halangan apa-apa maka lantas berkata kepada Gouw Ya Pa:
“Gouw sicu, harap sedikit tenang, Ho-sicu yang terluka
karena serangan ilmu Hui- se Biat kut ciang, barusan sudah
muntah2 dan berak, sehingga tenaganya keluar terlalu
banyak. untuk sementara tenaganya belum bisa pulih
kembali. Tidak ada bahaya apa-apa, kau boleh tak usah
kuatir,”
Gouw Ya Pa masih belum mau percaya, tapi ketika
melihat wajah Ho Kie perlahan-lahan berubah merah, ia
baru merasa lega.
Kira-kira setengah jam Ho Kie telah siuman lagi, ia coba
gerakkan badannya ternyata sudah tidak terasa sakit maka
lantas duduk.
Gouw Ya Pa nampak sahabatnya sudah sembuh, lalu
menceritakan bagaimana ia telah terluka dan bagaimana
sudah terlolos dari Lembah Kui kok.
Ho Kie buru2 menghampiri Tiauw Goan Taysu ia
berlutut seraya berkata, “Terima kasih atas pertolongan
Taysu, selama Ho Kie masih hidup budi ini tidak akan Ho
Kie lupakan.”
Tiauw Goan Taysu buru2 pimpin bangun Ho Kie, ia
menjawab:
“Lolap terhadap Ho sicu tidak melepas budi apa-apa,
hanya anak perempuannya Jie Hui, nona Jie Peng ia sudah
keluarkan banyak tenaga untuk memberi sicu Budi.
kecintaan nona itu kepada sicu benar-benar sungguh besar
sekali.”
Paderi itu lalu menceritakan bagaimana Jie peng dengan
tidak menghiraukan segala bahaya sudah memerlukan
mengantar obat.
Setelah berhenti sejenak. Tiauw Goan Taysu
melanjutkan perkataannya:
“Gadis itu sungguh mulia hatinya tidak boleh disamakan
dengan orang-orang Hian kui kauw lainnya. Kali ini barang
kali akan menanggung dosa atas perbuatannya yang sudah
mengkhianati ayahnya dan perguruannya. mungkin agak
sukar terhindar dari bahaya. Maka dikemudian hari Ho
Sicu harus baik-baik perlakukan padanya.”
Ho Kie tundukkan kepala tidak menjawab, sedang
hatinya berpikir Jie Peng ada begitu cinta terhadap diriku,
beberapa kali ia telah turun tangan menolong, tanpa
menghiraukan bahaya apa yang menimpa dirinya sendiri.
Jika di ingat bagaimana kejamnya orang-orang Hian kui
kauw. barangkali jiwanya kini ada terancam bahaya.
Tapi, ia sendiri sekarang keadaannya masih lemah
sekalipun hati ingin menolong si nona, percuma saja tidak
mempunyai kemampuan.
Ho Kie ada seorang yang berbudi luhur serta penuh
cinta, terhadap kecintaannya Jie Peng, bagaimana ia tidak
tahu. Maka akan ia ingat itu semua, air matanya lantas
mengalir turun.
Tiauw Goan Taysu lantas menghibur padanya.
“Ho sicu harus pentingkan kesehatan sendiri, kita tidak
boleh meneruti perasaan hati. Soal membalas budi masih
ada banyak waktu.”
“Aih! Lantaran urusanku seorang, dari sembilan partay
sudah ada delapan yang kehilangan ketuanya didalam
lembah kui kok.” jawab Ho Kie sambil menghela napas.
Gouw Ya Pa yang mendengarkan lalu nyeletuk:
“Saudara Ho, perkatannmu ini salah, kau harus tahu
bahwa mereka telah datang karena takut tanda pusaka Kiu
hoan leng hal ini tidak bisa menyalahkan kau.”
“Tapi bagaimara dengan nona Jie Peng? Apa sebabnya ia
membela aku? Pendak kata aku Ho Kie meski binasa masih
belum mampu membalas budinya!” kata Ho Kie.
“Saudaraku yang baik, jangan sekali-sekali kita berbicara
tenang kematian. Apa yang kau ucapkan tadi sebetulnya
sangat mudah dibereskn. Tunggu kalau lukamu sudah
sembuh betul, kita pergi kepuncak gunung Sin-heng, minta
kepada Dit cie Sin liong locianpwee supaya mau mengajari
ilmu silat yang ada didalam kitab bagian pertama. Lalu kita
balik lagi ke lembah Kui kok. bunuh habis semua orang
Hian kui kauw dan tolong diri nona Jie Peng, kemudian
kawin padanya. Bukankah sudah beres ?”
Ho Kie selagi hendak berkata. tiba-tiba terdengar suara
orang ketawa kemudian disusul oleh munculnya dua orang
didalam kuil tua.
Tiauw Goan Taysu mengira ada orang-orangnya Hian
kui kauw yang datang hendak menantikan mereka, maka
bersama Ho Kie dan Gouw Ya Pa, hampir dalam saat
berbareng telah melancarkan satu serangan yang hebat.
Tapi kedua orang itu tidak menyingkir atau berkelit,
bahkan maju menghampiri mereka dengan kecepatan
bagaikan kilat. sudah menyekal pergelangen tangan Tiauw
Goan Taysu kemudian berkata dengan suara perlahan,
“Taysu jangan kaget. akulah yang datang.” Sehabis
berkata lantas keluarkan ketawanya bergelak-gelak.
Ketika ketiga orang itu menegasi lantas pada berdiri
melongo.
Oo0dw0ooO
KIRANYA ORANG YANG menyekal tangan Tiauw
Goan Taysu tadi adalah seorang tua yang berambut putih.
tapi mukannya masih kelihatan merah segar.
Orang tua itu memakai pakaian ringkas warna kelabu,
alisnya yang putih meletak itu panjang sekali hingga hampir
menutupi matanya. Tongkat kanannya lebih panjang dari
pada tangan kirinya. Dengan mata yang tajam ia
mengawasi ketiga orang didepannya.
Ketiga orang itu tidak kenal pada orang tua yang baru
datang itu. Selagi mereka masih pada merasa keheran-heranan,
dibelakang orang tua itu tiba-tiba terdengar suara
orang tertawa:
Gouw Ya Pa yang adatnya tolol beranggasan tidak
memikirkan apa yang akan terjadi, sudah lantas lompat
mau menghajar orang yang ketawa barusan. Tapi. . . ketika
melihat siapa orangnya ia bengong sejenak, kemudian
berseru:
“Saudara Ho, apakah orang ini bukannya nona Lim
Kheng yang kau pikiri siang hari malam?”
Pada saat itu. Ho Kie baru bisa melihat tegas bahwa
orang tua itu memang bukan lain
Lim Kheng adanya, dengan girang ia lantas berseru:
“No. . ..”
Lim Kheng tidak menantikan Ho Kie melanjutkan
pertanyaannya, dengan wajah merah jengah ia menegur:
“Saudara Ho Kie, kau bagaimana sih !”
Ho Kie mengerti, maka ia lantas merubah perkataannya.
“Lim. . .Lim Hiantee, apa selama ini
kau ada baik?”
Lim Kheng lalu menjawab sambil kedipkan matanya:
“Apa saudara Ho juga baik-baik saja ?”
Ho Kie menanya pula sambil menunjuk si orang tua
beralis putih: “Cianpwee ini apakah. . ..”
Dengan cepat Lim Kheng menjawab, “Oh, ia. . . Aku
belum perkenalkan kepada kalian. Ini adalah suhuku.”
Ia lalu menunjuk, Ho Kie dan berkata kepada suhunya.
“Ini adalah Ho Siaohiap, Ho Kie.”
Ho Kie juga diperkenalkan Tiauw Goan Taysu dan
Gouw Ya Pa kepada Cit-cie Sin ong. Orang tua itu lalu
berkata;
“Aku siorang tua pernah mendengar Kheng-jie berkata
bahwa kau ingin pergi ke Kui kok untuk menuntut balas
sakit hati ayahmu. Sayang aku datang terlambat, sampai
Taysu sekalian mengalami kesulitan. Harap Taysu dapat
memaafkan.” Kemudian ia berkata kepada Ho Kie, “Kau
sungguh sangat berani. Dengan seorang diri berani
menerjang Kui kok, benar-benar nyalimu tidak dapat
dibandingkan dengan orang biasa, cuma. . . .”
Ho Kie tidak menantikan orang tua itu berkata sampai
habis, ia segera memotong:
“Boanpwa bukan tidak tahu akan kekuatan diri sendiri,
karena Cian-tok Jin Mo itu dengan Boanpwee mempunyai
permusuhan yang sangat dalam. Boanpwee juga tahu
bahwa diri sendiri tidak bisa menandingi dia, tapi
Boanpwee baru merasa puas jika sudah menyerbu Kui kok
sekalipun harus mengorbankan jiwa.”
“Apa dengan tindakanmu ini tidak menyia-nyiakan
harapan dari ayahmu dialam baka?”
Ho Kie tidak bisa menjawab, ia berdiri sambil
menundukkan kepala.
Tiba-tiba ia ingat kembali akan kematian ayah dan
suhunya maka dengan tidak terasa lagi air matanya
mengalir deras.
Cit cie Sin ong melihat keadaan yang mengharukan
demikian, lalu menghela napas berulang-ulang. kemudian
berkata pula,
“Urusan sudah menjadi begini, sebaiknya tidak perlu
menyalahkan kau, Lohu yang masih bertetangga dengan
suhumu dan dengan Kheng-jie kau juga bersahabat, biarlah
aku sekarang membantukan supaya kau dapat mencapai
maksudmu. Semua pelajaran terdapat dalam Hian kui pit
kip bagian pertama lohu akan ajarkan kepadamu.”
Tetapi Ho Kie lantas menjawab:
“Maaf Locianpwee, suhu boanpwee Toan-theng Lojin,
sebelum menutup mata telah memerintahkan boanpwee
menyelesaikan satu urasan besar. Sampai kini belum
sempat Boanpwee melaksanakan, maka andaikata
Boanpwce turut locianpwee ke Sin-hong, rasanya tidak
tidak mempunyai hati untuk belajar, oleh karenanya
mungkin akan mengecewakan jerih payah boanpwe.
Tentang pelajaran ilmu silat itu, terpaksa boanpwe akan
terima setelah boanpwe kembali dari Lam hay.”
“Aiyaa, kau sungguh berbakti. Toan-theng Lojin yang
mempunvai murid seperti kau ini, aku percaya arwahnya
dialam baka tentu merasa puas,” kata Cit cie Sin ong sambil
menghela napas.
Ho Kie lalu berkata kepada Gouw Ya Pa: “Gouw-toako,
kau boleh temani taysu ikut Cit cie Locianpwe pergi ke
puncak gunung Sin hong untuk berdiam sementara waktu
lamanya. Kalau nanti aku berdiam sementara lamanya.
Kalau nanti aku sudah kembali dari Lam hay, nanti aku
akan mencari kau lagi. . . .”
Tetapi Gouw Ya Pa lantas menjawab sambil
menggoyang-goyangkan tangannya:
“Tidak bisa, tidak bisa kau mau suruh aku tinggal
seorang diri, aku tidak mau. Kemana saja kau pergi aku
mau ikut. Sekali pun kau pergi mati, aku juga mau turut
terus…”
Lim Kheng mendengar ucapan orang tolol itu yang
mengoceh tidak keruan, lantas membentak!
Gouw Ya Pa mendelikkan matanya dan berkata dengan
suara gusar:
“Ada urusan apa dengan kau lelaki palsu? Saudara Ho
adalah sahabat karib. Aku boleh sesuka hati mengucapkan
apa saja, ada hubungan apa dengan kau ?”
Perkataan Gouw Ya Pa ini membuat Lim Kheng malu
dan gusar, maka ia jadi sengit dan menyerang.
Gouw Ya Pa yang diserang Lim Kheng. jatuh jungkir
balik dan membentur tembok, tetapi Gouw Ya Pa segera
lompat bangun lagi dan berkata pula dengan suara gusar:
“Kau berani-berani permainkan aku? Apa kau kira Gouw
Toayamu takut padamu?” Cepat-cepat ia mencabut
pecutnya lalu dengan senjata ini ia menantang Lin Kheng
berkelahi.
Ho Kie yang menyaksikan keadaan demikian lalu
menarik tangan Gouw Ya Pa.
“Gouw Toako,” katanya. “Kau benar-benar keterlaluan.
Sedikit-sedikit hendak marah. Masih banyak urusan yang
harus kita selesaikan dan nona Lim ini tokh tidak
mengatakan apa-apa kepadamu, buat apa kau jadi gusar
serupa ini ?”
Tetapi Gouw Ya Pa yang hatinya masih mendongkol,
lantas menjawab: “Kenapa dia maki-maki orang, aku Gouw
Ya Pa tokh bukan anak kemarin sore ?”
Ho Kie sudah mengetahui, memang begitu tolol adatnya
sahabatnya ini, maka hanya bisa gelengkan kepala sembari
berkata,
“Sudah, sudah. Aku ajak kau jalan sama-sama, jangan
ribut-ribut lagi dengan nona Lim.”
Gouw Ya Pa baru kegirangan, lalu simpan kembali
senjatanya.
Lim Kheng yang masih mendongkol, lalu menarik
tangan suhunya sambil berkata: “Suhu, mari kita pergi.
Kelihatannya mereka tidak bisa ikut kita.”
Tapi Cit cie Sin ong lantas menjawab sambil tersenyum:
“Kheng-jie. kau jangan marah dulu. Bocahh she Gouw
itu tidak jahat, cuma adatnya agak kasar, lagi pula tolol.”
“Suhu masih mengatakan dia tidak jahat. tadi dia
memaki Kheng-jie begitu rupa, nanti Kheng-jie akan hajar
mulutnya sampai giginya rontok.”
“Kheng-jie jangan membawa adatmu sendiri, kalau kau
tidak mau dengar perkataan suhumu, nanti suhumu tidak
sayang lagi padamu.”
Lim Kheng justru paling takut kalau tidak disayang oleh
Suhunya maka ketika mendengar ancaman suhunya itu
lantas diam.
Cit cie Sin ong lalu berkata kepada Ho Kie.
“Begitu juga baik, kalau kau sudah kembali dari Lam
hay, lekas datang ke puncak gunung Sin hong mencari aku,
jangan membuang-buang waktu.”
Sehabis berkata begitu, bersama Tiauw Goan Taysu dan
Lim Kheng meninggalkan kuil tua itu.
Beberapa lama kemudian Ho Kie bersama Gouw Ya Pa
juga berangkat menuju ke Lam-hay.
Hari itu mereka tiba disatu kota dipantai laut. Kota itu
sangat ramai. tapi Ho Kie tidak mempunyai kegembiraan
menikmati keramaian kota, ia hanya mencari rumah
penginapan untuk bermalam.
Esok paginya setelah menanyakan kepada pelayan
rumah penginapan tentang jalanan yang menuju ke Lam
hay, lantas berlalu. Tiba-tiba dibelakangnya ada orang yang
memanggil:
“Ho Siaohiap, apakah kau hendak ke Lam-hay ?”
Ho Kie terperanjat, mengapa ada orang yang tahu kalau
ia hendak ke Lam hay? Ketika ia berpaling ternyata orang
yang menegur padanya itu adalah Auw yang Khia.
“Auw yang Cianpwce, mengapa kau juga berada disini ?”
ia balik bertanya.
“Aku barusan tanya kau, sekarang sebaliknya kau yang
tanya aku. Sungguh bagus sekali perbuatan kalian, kabur
keluar dari Kui-kok meninggalkan aku sendirian disana.
hampir saja tulang-tulangku yang bangkotan ini hancur
dilembah Kui kok.”
Ho Kie tidak bisa menjawab, mukanya merah seketika.
“Kau.jangan kesal dulu.” Auw Yang Khia berkata pula.
“Masih ada soal yang mengenaskan, aku nanti beritahukan
kepadamu. Hmm, asal kau jangan gelisah.”
“Auw Yang Cianpwee,..soal apakah ini?” Ho Kie
bertanya.
Auw Yang Khia lalu menceritakan bagaimana Jie Peng
telah berhasil mencuri Leng-ki dan kemudian mengeluarkan
perintah palsu untuk menolong Ho Kie dan kawan-kawannya
keluar dari Kui kok. Setelah Ho Kie dan kawan-kawannya
berlalu Cian-tok Jien mo lalu mengejar sendiri,
tapi tidak berhasil menyandak diri mereka. Dalam
gusarnya, ia lantas tangkap Jie Peng dan dimasukkan
kedalam penjara.
Ho Kie yang mendengar berita itu lantas naik darah.
Tapi ia tahu bahwa saat itu meskipun ia kembali ke kui kok
juga tidak ada gunanya, bahkan akan mengantar jiwa saja.
Maka lalu berkata kepada Auwyang Khia :
“Lo Cianpwee, kita sekarang hendak mencari perahu itu
untuk ke Lam hay. Loo-cianpwee hendak kemana silahkan
!”
Tapi Auw yang Khia lantas menjawab sambil tertawa:
“Ho Siaohiap, aku juga akan ke Lam-hay.”
“Apa ? Kau juga akan ke Lam-hay?” Ho Kie melengak.
“Aku bahkan sudah menyediakan perahu untuk kalian.”
Ho Kie memandang Auw Yang Khia dengan sorot
matanya penuh keheranan.
“Apa kau tidak percava? Baiklah aku beritahukan
padamu. Setelah aku kabur dari Kui kok, aku terus
mengikuti jejakmu. Tadi malam ketika kau dan Gouw Ya
Pa menumpang dirumah penginapan, aku lantas pergi
kepantai menyewa satu perahu besar, untuk kita pakai
belayar hari ini. Sekarang kau tentunya akan percaya
ucapanku!”
Ho Kie sangat girang. berulang-ulang ia berkata:
“Locianpwee kau begitu baik terhadap aku, sungguh aku
tidak tahu harus bagaimana aku membalas budimu ini.”
“Kita berkenalan bukan satu hari saja, apaka perlu bicara
tentang budi? Mari kita jangan menyia-nyiakan waktu lagi
kita segera berangkat.”
Bertiga lalu naik perahu yang sudah disewa oleh Auw
Yang Khia lalu belayar.
Dalam perjalanan di atas air itu. Auw-yang Khia dengan
duduk dibagian kepala perahu sambil menenggak arak
sepuas-puasnya.
Ketika sang malam tiba, Auw Yang Khia masih saja
belum mau masuk kedalam, nampaknya ia sudah mulai
mabuk.
Saat itu mendadak geledek berbunyi kemudian disusul
oleh jatuhnya badai dan angin puyuh.
Tapi, Auw Yang Khia tetap enak-enakan minum arak,
tidak perdulikan datangnya hujan dan angin, seolah-olah itu
semua tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dirinya.
Hujan dan angin makin lama makin lebat. Tukang
perahu berusaha sebisa-bisanya untuk menahan perahunya
jangan sampai terkena oleh ombak tapi nampaknya tidak
berhasil. Setelan keadaan sudah sangat berbahaya sekali.
tukang perahu lantas memanggil Ho Kie supaya lekas ajak
Auw-yang Khia masuk kedalam.
Ho Kie nampak orang tua itu sudah basah kuyup dengan
air hujan, tapi nampaknya masih tidak ambil perduli, ia
masih enak-enak minum araknya. Terpaksa Ho Kie
pondong padanya dan setelah berada didalam, lalu disuruh
tukar pakaiannya. Mendadak seperti ada benda keras
menimpa badan perahu, kemudian disusul oleh suara
tukang perahu yang memberikan peringatan.
“Tuan-tuan…hati-hati…!”
Tapi kemudian perahu itu lantas disapu oleh badai,
setelah terdengar suara jeritannya tukang perahu, badan
perahu itu lantas hancur berkeping-keping.
Ho Kie hendak menolong kedua kawannya tapi sudah
tidak keburu, maka lantas menyambar sepotong kayu yang
mengembang diatas air.
Meski mengamuknya badai itu tidak lama, tapi sudah
tidak dapat menolong nasibnya tukang perahu itu.
Ho Kie seorang diri terumbang ambing sambil peluki
sepotong kayu dalam keadaan setengah pingsan. Tidak tahu
sudah berapa lama sang waktu sudah berlalu tahu-tahu
sinar matahari sudah kelihatan disebelah timur.
Tatkala ia mendusin dan membuka matanya, ia telah
dapatkan dirinya sudah menggelatak di pantai.
Ia tahu saat itu ia masih belum aman.
Ia ingin berduduk, tapi ketika menggerakkan tangannya
ia merasa tidak bertenaga. Bahkan
seperti terikat oleh tambang lemas.
Ia merasakan mulutnya kering dengan susah payah ia
baru keluarkan perkataannya: “Air, aku mau minum !”
Lapat-lapat ia seperti mendengar suara orang berkata:
“Hati2, dia sudah mendusin.”
Ia lantas merasa ada setetes air masuk ditenggorokannya.
Air dingin itu telah membuat Ho Kie sadar benar-benar.
Ia telah dapat kenyataan bahwa disekitarnya ada enam
atau tujuh orang wanita muda dalam pakaian setengah
telanjang. Rambutnya yang panjang dan hitam, kelihatan
terurai melambai-lambai.
Mendadak ia mendengar orang berkata:
“Kalian gotong orang ini dan bawa kedalam rumahku.”
Ramai terdengar suara orang banyak, Ho Kie
mendapatkan dirinya diletakkan diatas sepotong papan, tapi
tidak begitu keras seperti papan biasanya.
Ho Kie tidak merontak, ia membiarkan dirinya digotong.
Tak antara lama, Ho Kie sudah digotong masuk kedalam
sebuah kamar, ia lalu diletakkan diatas sebuah pembaringan
yang empuk. Bau harum lantas menusuk hidungnya, ia
merasakan sangat segar.
Sekarang ia sudah sadar benar-benar, diam-diam telah
mengeluh.
Apa maksudnya kawanan wanita itu membawa dirinya
kedalam kamar itu? Bau harum tadi sangat mencurigakan
hatinya, entah apa namanya tempat ini? Dan sahabat Gouw
Ya Pa serta Auw yang Khia apakah sudah mati tertelan
oleh ombak? Apa yang mengherankan, ialah kenapa tidak
tertampak barang satu orang laki-laki? Apakah itu suatu
pulau kaum hawa seperti apa yang pernah ia dengar dari
cerita orang? Kalau demikian halnya, ini sesungguhnya
akan menyulitkan dirinya.
Pikiran Ho Kie tidak keruan.. ..
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang dipinggir pantai
tadi:
“Melihat sikap kalian, tidak beda seperti kucing
menemukan tikus. Orang tokh sudah dibawa masuk, perlu
apa kalian berdiri disini?”
Sebetulnya beberapa wanita itu sedang pada berebutan
menonton diri Ho Kie. Mereka nampak ramai
membicarakan diri Ho Kie, meski keadaan mereka setengah
telanjang, tapi nampaknya tidak malu. Ketika mendengar
perkataan tadi. agaknya mereka merasa takut maka lantas
pada berlalu.
Kembali terdengar suara itu lagi.
“Kalian jangan cuma memikirkan baiknya saja, kalau
yang satunya itu nanti sampai mendapat kesempatan
meloloskan diri, hati-hati dengan tulang-tulangmu.”
Ho Kie terperanjat, dalam hatinya berpikir, dalam mulut
mereka yang dikatakan yang satu tadi entah siapa
orangnya? Gouw Ya Pa ataukah Auw yang Khia? Rasanya
dua-duanya tidak mungkin, karena ketika perahu yang
ditumpangi tadi malam telah hancur, ia masih ingat benar
bahwa Gouw Ya Pa masih tidur menggeros, sedang Auwyang
Khia masih dalam keadaan mabuk, bagaimana bisa
ingat dirinya?
Selagi Ho Kie memikirkan perkatan-perkataannya
wanita tadi, tiba-tiba seorang dengan suara kasar berkata:
“Hai! Kau sudah mendusin atau belum? Bagaimana
enak-enakan tidur saja? Kita disini bukan rumah
penginapan, lho?”
Ho Kie tidak tahu suara kasar itu ditujukan kepada siapa,
ia lantas bangun dan duduk, melihat kearah bicara orang
tadi. Tapi ketika ia menampak keadaan orang itu, wajahnya
merah seketika, hatinya berdebaran, buru-buru tundukan
kepalanja.
Kiranya orang yang suaranya kasar itu juga seorang
wanita. Alisnya tebal, matanya lebar, badannya gemuk dan
kulitnya hitam persis seperti tong leger, rambutnya
mengurai panjang sampai dikibulnya. Seperti juga yang
lainnya, wanita ini juga dalam keadaan telanjang. Sambil
pentang lebar sepasang matanya yang gede, terus
mengawasi diri Ho Kie.
Wanita itu ketika melihat Ho Kie duduk dan lantas
tundukan kepala serta tidak bicara apa-apa, bahkan
memandang saja tidak berani, mendadak menjadi marah.
Dengan suara yang keras dan kasar ia berkata pula:
“Bocah! nonamu sedang bicara dengan kau, kau dengar
apa tidak? Mengapa kau tidak menggubris?”
Ho Kie masih tidak berani angkat kepala hanya gerakan
sedikit badannya lantas menjawab:
“Nona ada disini, aku merasa kurang leluasa. Harap
nona keluar dulu, aku baru menjawab pertanyaan nona.”
Wanita itu ketawa geli. “Kau hendak berbuat apa suruh
aku keluar? Apa hendak kabur ?”
“Nona jangan salah mengerti, aku sekali pun ada
mempunyai pikiran itu, ditempat yang masih asing ini,
sekalipun ada sayap juga tidak bisa terbang. Harap nona
jangan kuatir.”
“Kalau begitu apa sebabnya?”
“Tidak apa-apa, cuma kalau nona ada disini aku merasa
tidak leluasa saja.”
“Apa yang tidak leluasa? Tocu kita suruh aku bawa kau
kekamar penjara untuk diperiksa, Perlu apa bicara leluasa
atau tidak ?”
Ho Kie menampak wanita itu ngotot membawa caranya
sendiri, dalam hati merasa mendongkol, maka lantas
berkata dengan sengit:
“Aku maksudkan, kau tidak memakai pakaian, aku tidak
enak melihat kau, kau sudah mengerti atau tidak !”
Tapi wanita itu malah ketawa terkekeh-kekeh.
“Kau ini sungguh keterlaluan.” katanya dengan terang-terang,
“kuberitahukan padamu, pulau kami ini semua
penduduknya adalah kaum wanita, tidak pernah melihat
orang lelaki. Kedatangan kalian berdua adalah untuk
pertama kalinya ini. Kami sejak kanak-kanak sudah biasa
dalam keadaan begini, apa yang tidak enak atau leluasa ?”
Ho Kie yang mendengar keterangan wanita itu, merasa
setengah percaya dan setengah tidak, dalam hatinya
berpikir tapi barusan ketika berada dipantai, sebetulnya
memang tidak pernah melihat ada satu orang laki-laki kalau
tidak bagaimana mereka bisa tidak kenal malu seperti ini?
Memikir sampai disitu, Ho Kie cuma bisa gelengkan
kepala dan lantas turun dari pembaringan. Sebentar lagi
tiba-tiba ia sudah diserbu oleh 5-6 orang yang membawa
pergi dirinya.
Ho Kie coba memberontak, tapi badannya merasa lemas
tak bertenaga maka terpaksa mudah dibawa oleh mereka.
Sebentar kemudian Ho Kie telah tiba disatu ruangan
besar, ia didudukan diatas sebuah kursi, wanita-wanita yang
membawa dirinya itu lantas pada berlalu.
Ruangan itu dihiasi sangat mewah, terutama gambar-gambar
yang tergantung didinding, semua merupakan buah
tangannya ahli seni lukis yang terkenal. Dibawah digelari
permadani hijau muda, begitu pula semua meja dan
kursinya juga berwarna hijau muda. Selain dari itu, dalam
ruangan itu ada tersiar bau harum menyegarkan semangat.
Ditengah tengah ruangan, diatasnya sebuah kursi besar,
ada duduk seorang wanita muda berusia kira-kira dua puluh
tahun, sedang mengawasi padanya sambil bersenyum.
Wanita itu berbeda dengan yang lain ia mengenakan
pakaian sutera putih, alisnya lentik. bibirnya kecil merah,
matanya hitam jeli cantik menarik dilihatnya.
-oo0dw0oo-
Jilid 13
HO KIE saja yang memandang sejenak, hatinya lantas
merasa berdebaran, hingga tidak berani memandang lagi.
Wanita itu memanggil Ho Kie, baru membuka mulutnya
berkata,
“Kongcu datang dipulau kami, mendapat perlakuan
selayaknya, harap Kongcu tidak kecil hati.” Ho Kie tidak
bisa menjawab. Dalam hatinya diam-diam berpikir, wanita
ini sungguh cantik sekali, budi bahasanya juga sangat sopan
santun, adakah mungkin ia sebangsa peri.
Berpikir sampai disitu Ho Kie menggigil dan tak berani
memandang wajah sinona.
Wanita itu ketika menampak Ho Kie tundukkan kepala
tidak menjawab perkataannya telah menduga Ho Kie tentu
merasa malu karena disekitarnya ada banyak wanita muda
dalam keadaan setengah telanjang. Maka buru-buru
memberi isyarat kepada orang-orangnya sambil berkata:
“Kalian mundur dulu, kalau aku tidak panggil jangan
sembarangan masuk.”
Setelah orang-orang bawahannya berlalu, wanita itu
berkata pula:
“Sudah, sekarang mereka sudah pergi semua kau tak
usah malu lagi. Dipulau kami ini, kecuali tidak ada orang
lelakinya, yang lainnya tak ada yang kelewat aneh.”
Hok Kie angkat kepala perlahan setelah mengawasi
wanita yang sangat misterius itu sejenak, baru menjawab:
“Aku yang rendah bernama Ho Kie, hendak pergi ke
Lam hay, apa mau dikata telah terdampar oleh badai,
sehingga perahunya pecah. Aku yang rendah sangat
bersyukur telah mendapat pertolongan tocu, disini aku
ucapkan terima kasihku.”
Ho Kie Coba berdiri hendak memberi hormat. siapa
nyana baru saja bergerak, dalam badannya merasa sakit
sekali sehingga ia urungkan berdiri.
Wanita itu buru-buru berbangkit menghampiri Ho Kie,
lalu ulur tangannya diletakan diatas pundak Ho kie dengan
suara seolah-olah orang yang sedang merayu ia berkata.
“Kongcu jangan bergerak dulu. ketika kau kecebur
kedalam laut, sudah lima hari lima malam berada didalam
air, Maka tentu saja lantas merasa sakit dadamu kalau mau
bergerak.”
Ho Kie pikirannya lantas bekerja wanita ini mengapa
tahu begitu banyak, apakah ia juga seperti mengerti ilmu
silat ?
Apa yang diduga oleh Ho Kie tidak salah wanita muda
itu bukan cuma pandai ilmu silat saja. bahkan ilmu silatnya
tinggi sekali. Ketika Ho Kie terdampar dipulau itu dan
dapat ditolong oleh orang-orangnya, begitu melihat ia
sudah tahu bahwa pemuda itu adalah seorang gagah yang
berkepandaian tinggi. maka tidak menunggu sampai Ho Kie
sadar, diam-diam sudah dikerjai, maka Ho Kie merasa
lemas sekujur badannya, kalau bergerak sedikit saja lantas
merasa sakit.
Wanita itu ketika menampak wajah Ho Kie berubah.
lantas mengerti apa yang sedang dipikiri, tapi ia tidak
berkata apa-apa.
Dengan tindakan perlahan ia balik lagi ke tempat
duduknya, lalu berkata pula:
“Kongcu jangan takut. Penduduk dipulau ini bukan
sebangsa peri atau iblis, cuma mereka sejak kecil dibesarkan
dalam pulau tanpa laki-laki, tidak pernah melihat orang
laki-laki lebih-lebih tidak kenal urusan suami-isteri, maka
jadi tidak kenal perasaan malu. Sebetulnya ini juga tidak
apa-apa, harap Kongcu legakan hatimu.”
“Aku ada sesuatu urusan, ingin bertanya kepada tocu. . .
.” menyahut Ho Kie sambil anggukan kepala. tapi
perkataannya itu lantas dipotong oleh si nona.
“Kita semua adalah orang yang mengerti pelajaran ilmu
silat, maka Kongcu tak usah terlalu merendah. Kongcu
kalau ingin menyatakan apa-apa, harap bicara saja terus
terang supaya kita bisa merundingkan bersama.”
Aku sudah ditolong oleh tocu, budi ini aku tidak bisa
lupakan, Tapi entah apa sebabnya setelah aku sadar, telah
dibikin tidak berdaya, apakah ini memang merupakan
sesuatu peraturan memperlakukan tetamu dari pulau tocu
ini ?”
Wanita itu agaknya tidak merasa kaget dari atas
pertanyaan Ho Kie, bahkan menjawab sambil ketawa:
“Kongcu, jangan gusar, ini adalah perbuatannya orang-orangku
itu yang tidak kuketahui pada sebelumnya.
Sebentar aku pasti suruh mereka minta maaf kepada
kongcu. Ada suatu hal yang ingin aku menyatakan, tapi
rasanya susah membuka mulut. Asal kongcu terima baik
semua urusan mudah dirundingkan,”
“Asal aku Ho Kie mampu melakukan, seharusnya aku
suka memberi bantuan, harap tocu sebutkan saja.”
Sepasang mata wanita itu memandang Ho Kie dengan
tidak berkedip, wajahnya nampak merah seringah, tiba-tiba
tundukkan kepalanya, nampaknya sangat malu untuk
membuka mulut.
Ho Kie yang menyaksikan sikapnya wanita itu, dalam
hatinya juga timbul rasa heran, tetapi ia hanya sebentar saja
lantas berkata:
“Tocu hendak memerintahkan apa? Silahkan.”
Setelah didesak oleh Ho Kie, wanita muda itu rupanya
baru tersadar, kemudian baru kembali kepada keadaan
semula.
“Urusanku ini mudah sekali. Asal kau mempunyai hati
jujur. segera bisa dilaksanakan. Kalau kau sudah terima
baik soal ini, aku tanggung kau akan dapat mencicipi segala
kesenangan dunia,” demikian si nona berkata sambil melirik
Ho Kie.
Ho Kie yang diperlakukan secara demikian, hatinya
berdebaran, ia menundukkan kepala, tidak bisa menjawab.
iba-tiba terdengar suara si nona pula, “Bagaimana? Apa
kau tidak sudi ?”
Ho Kie didalam hati berpikir. Wanita ini sebenarnya
mau apa? Mengapa tidak mau menjelaskan persoalannya
secara terus terang.
Berpikir demikian ia lantas menjawab: “Tocu masih
belum menjelaskan persoalannya bagaimana aku sudi atau
tidak menerima tocu sudah ketahui?”
Wanita itu melirik kepada Ho Kie kemudian berkata
sambil gertak gigi:
“Baiklah aku jelaskan padamu Kongcu. Aku berdiam di
pulau ini sudah beberapa puluh tahun, selamanya belum
pernah ada orang laki-laki yang datang kemari. Beberapa
hari berselang, setelah angin puyuh mengamuk, anak
buahku telah memberikan laporan bahwa banyak papan
dan barang-barang yang mengapung diatas permukaan laut.
Kala itu aku lantas berpikir. tentu ada perahu yang hanyut
atau tenggelam, maka aku lantas menyuruh mereka
memeriksa diseluruh pulau untuk mencari jika ada orang
yang terdampar di pulau ini. Benar saja. mereka lantas
memberi laporan pula bersama seorang laki-laki kasar
hitam. Ini seolah-olah ada pemberian dari Tuhan yang
merasa kasihan kepada umatnya yang hidup tersendiri
dipulau ini, sehingga telah mengantarkan kau kemari. kalau
kau suka berjanji mau berdiam disini, aku tidak akan
mengecewakan kau. Aku rasa kau tentunya tidak akan
menampik,”
Sehabis berkata, nona itu lantas unjukkan ketawanya
yang menggiurkan. tetapi Ho Kie lantas menjawab sambil
menggoyangkan tangannya.
“Tocu terhadap diriku yang merendah telah membuang
budi yang sangat besar, budi ini dikemudian hari pasti akan
kubalas.. . Tetapi kalau tocu menyurah aku tinggal disini,
ini bagiku merupakan soal yang berat, sebab aku masih ada
dendam sakit hati atas kematian ayahku yang sampai
sekarang masih belum bisa dibalas. Disamping itu, juga
pesan suhuku untuk menyelesaikan satu urusannya juga
belum kulaksanakan, maka dalam hal ini aku harap agar
Tocu suka memberi maaf.”
Wanita itu lantas nyeletuk:
“Semua urusan ini tidak perlu Kongcu urus sendiri.
Beritahukan saja nama dan alamatnya musuhmu itu, nanti
aku akan menyuruh orang-orangku pergi untuk
menyelesaikan. Harap Kongcu tidak usah banyak pikiran.”
“Urusan ini hanya aku sendiri yang dapat melaksanakan,
kalau meminjam tangan orang lain, sudah tentu akan gagal,
maka harap tocu memberi maaf saja.”
Wanita muda itu melihat Ho Kie bersikap keras, tidak
mau menerima permintaannya, maka lantas memberi
perintah kepada orang-orangnya membawa keluar kawan
Ho Kie yang turut ditawan disitu juga.
Sebentar kemudian, rombongan wanita muda telah
menggotong seorang lelaki yang terikat kencang, kemudian
dilemparkan ketengah ruangan.
Ketika Ho Kie menegasi, lelaki yang dilemparkan itu
bukan lain adalah Gouw Ya Pa.
Melihat Ho Kie juga berada disitu. Gouw Ya Pa lantas
uring-uringan:
“Saudara Ho, aku tidak tahu, kawanan perempuan liar
ini pada menggunakan ilmu gaib apa. sehingga ilmuku
sendiri menjadi tidak berguna lagi. . .”
Ho Kie kuatirkan kawannya yang tolol ini nanti
mengacau belo tidak karuan. maka lantas pendelikan
matanya supaja ia jangan banyak bicara.
Gouw Ya Pa mengerti, Maka ia lantas menutup
mulutnya.
Wanita muda itu lantas berkata kepada Ho Kie dan
Gouw Ya Pa berdua.
“Ho Kongcu orang ini barangkali juga kau kenal.”
“Benar, ia adalah sahabatku.” jawab Ho Kie
“Kalau begitu, soal ini mudah sekali dipecahkan. Tapi
bukankah kau mengatakan bahwa masih ada urusan yang
masih belum kau selesaikan? Sekarang aku mendapat suatu
cara yang paling baik, asal kau setuju. aku boleh mengantar
pulang sahabatmu ini dan urusanmu itu dipasrahkan saja
padanya. suruh dia yang membereskan.”
“Dalam hal apa saja aku suka menerima tetapi hanya
dalam soal ini aku tidak dapat menyetujui.” jawab Ho Kie.
“Demikian juga dengan aku. segala apa bisa dibereskan.
hanya tidak akan membiarkan kau berlalu dari pulau ini.”
wanita itu juga kukuh.
Ho kie melihat si nona kukuh hendak memendam ia
dalam pulau itu, maka ia segera berkata dengan suara gusar:
“Mengapa Tocu memaksa orang yang sedang berada
dalam kesulitan? Aku sekalipun harus binasa, tidak nanti
akan menurut permintaanmu.”
Wanita muda itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Aku tidak takut kau tidak menurut, kalau kau tidak
percaya, tunggulah saja. sekali pun kau mempunyai dua
sajap juga jangan harap bisa keluar setengah tindak saja dari
pulau ini.”
Setelah berkata, ia lalu gapaikan tangannya orang-orangnya
dan memerintahkan supaya pemuda itu dikurung
dalam kamar tahanan.
Rombongan wanita muda itu dengan cepat telah
bertindak. mereka menggotong dirinya Ho Kie dan Gouw
Ya Pa kesebuah rumah batu yang letaknya tidak berjauhan
dengan pantai laut.
PADA saat itu, hari sudah gelap Ho Kie dan Gouw Ya
Pa yang ditutup dalam kamar batu itu, sudah merasa agak
dingin, ketika hendak bersemedi untuk melawan hawa
dingin ternyata jalan darahnya sudah tertotok.
“Saudara Ho, nasib kita sesungguhnya sangat jelek
dalam waktu beberapa hari ini, rupa-rupa kejadian yang sial
telah menimpa diri kita, dan sekarang kembali terjatuh
kedalam tangan kawanan kaum wanita liar ini.” berkata
Gouw Ya Pa.
“Gouw toako biar bagaimana kita harus bersabar, jangan
sembarangan bertindak, kita sudah tertotok jalan darah kita,
kalau kita salah bertindak. akibatnya lebih hebat.” Ho kie
menasehati.
Gouw Ya Pa pikir perkataan Ho Kie itu memang benar
sekalipun ia mempunyai ilmu kebal tapi sekarang dalam
keadaan tidak berdaya, dan juga tidak ada gunanya. Bahkan
kalau sampai menimbulkan kegusaran para wanita itu,
salah-salah bisa mati konyol. Maka ia lantas bertanya
kepada Ho Kie.
Ho Kie, saat itu sebetulnya juga sudah tidak berdaya,
terpaksa cuma menghela napas. dan menjawab dengan
perlahan:
“Terpaksa kita melihat peruntungan kita sendiri
bagaimana, siapa tahu kalau masih ada harapan!”
Mendadak pintu terbuka, lalu disusul oleh suara seorang
wanita:
“Ho kongcu bolehkah aku masuk untuk beromong-omong?”
Ho Kie dengar seperti suara wanita lagi, maka ia segera
menjawab: “Asal nona tidak takut badanmu kotor silahkan
masuk saja.”
Kamar batu itu biasanya untuk menyekap orang yang
membuat salah maka didalamnya tak ada perlengkapan
apa-apa. Wanita muda itu ketika berada didalam. lalu
mencari tempat sembarangan untuk duduk, lantas berkata
pada Ho Kie.
“Dengan demikian kita berlaku tidak pantas terhadap
kongcu, harap kongcu tidak kecil hati.”
“Mana bisa begitu, aku yang rendah sudah ditolong oleh
nona, sehingga tidak binasa didalam laut, untuk
mengucapkan syukur dan terima kasih saja rasanya masih
belum cukup!”
Wanita itu perdengarkan suara ketawanya yang manis.
“Aku sengaja menengoki kau, apakah kongcu merasa
betah berada didalam tanah ini? Barusan permintaanku
terhadap kongcu, harap kongcu suka pikir baik-baik, besok
saja kau beri jawabannya.” berkata wanita. itu, yang lantas
memandang Ho Kie dengan sorot mata yang mengandung
arti. Kemudian lantas berbangkit dan meninggalkan kamar
itu.
Ho Kie tundukan kepala tidak berkata apa-apa.
Sebenarnya ia merasa sangat jemu terhadap kelakuan
wanita yang terus menerus mengganggu.
Gouw Ya Pa yang menampak kawannya begitu kesal,
memberi nasehat padanya:
“Saudara Ho, kau terima baik saja permintaannya! Kalau
dia sudah melepaskan aku nanti, aku datang lagi untuk
menolong dirimu. Kalau tidak, kita berdua tak ada yang
hidup satupun.”
Perkataan Gouw Ya Pa ini benar telah membuat sadar
pikiran Ho Kie maka ia lantas berkata;
“Benar, kalau kau tidak katakan, aku tidak tahu akan
akal ini, besok aku akan bicara padanya.”
Dua orang itu selagi enak ngobrol, tiba-tiba terdengar
suara nyaring, kemudian muncul diri seorang.
Ho Kie mengira orang yang datang itu adalah itu wanita
muda, selagi hendak berkata tiba-tiba ia melongo
mengawasi orang yang datang itu.
Kiranya orang yang baru muncul itu adalah si pencuri
sakti Auw yang Khia. Dalam keadaan demikian Ho Kie
bertemu dengan Auw-yang Khia, bukan main girangnya.
“Saudara Ho, ini bukankah Auw-yang locianpwee?
Sekarang kita telah tertolong.” begitulah Gouw Ya Pa lantas
berseru ketika munculnya orang tua itu.
Auw yang Khia buru-buru taruh telunjuk dimulutnya,
untuk memberi isyarat supaya mereka jangan berisik.
Setelah berada didalam, ia lantas rapatkan pintu, baru
mendekati Ho Kie dan berkata dengan suara perlahan,
“Ho Siaohiap bagaimana nona-nona ini tokh boleh juga ?
Ha ha !. . .”
Ho Kie membiarkan dirinya digoda, ia balas bertanya:
“Locianpwee bagaimana bisa terlepas dari bahaya ?”
“Kau jangan cemas, nanti aku ceritakan dengan
perlahan,” jawab orang tua itu sambil tersenyum,
Kiranya, ketika badai mengamuk hebat, Auw-yang Khia
sedang mabuk arak. Tapi ketika terdampar oleh air laut, ia
telah tersadar.
Dan ketika melihat perahunya sudah pecah serta dirinya
telah ditelan ombak, keinginan untuk hidup telah membuat
ia terus berusaha mencari potongan kayu. setelah
mendapatkan kayu pecahan perahu, dengan itu ia terus
mengambang di atas lautan.
Di lautan ia terumbang ambing tiga hari tiga malam
lamanya. seperti juga Ho Kie, ia juga terdampar ke pulau
kaum Hawa itu.
Ia juga melihat bagaimana ketika Ho Kie dan Gouw Ya
Pa ditolong dan dibawa pergi oleh gerombolan wanita
muda itu.
Ia kuatir dirinya dapat dilihat oleh kawanan wanita itu,
maka dengan sisa kekuatannya tenaga yang masih ada, ia
coba selulup didalam air.
Kira-kira setengah jam lamanya, ia baru berani muncul
lagi. Setelah dapat kenyataan kawanan wanita muda itu
sudah berlalu, ia baru berani muncul lagi dan mencari
tempat untuk sembunyikan diri. Ditempat sembunyinya ia
mencari buah-buahan untuk tangkal perutnya dan tempat
tidurnya diatas pohon.
Ketika ia bangun, ternyata itulah hampir malam.
Ia buru-buru lompat turun, memakai pakaiannya, dan
coba atur pernapasannya ternyata tidak mendapat halangan
suatu apa, hingga hatinya mulai merasa lega.
Mendadak ia ingat diri Ho Kie dan Gouw Ya Pa,
bakankah dibawa pergi oleh kawanan kaum wanita itu ?”
Auw-yang Khia bisa mengambil keputusan dengan
cepat, sebentar saja sudah tiba di sebuah perkampungan.
Dengan akalnya yang cerdik akhirnya ia dapat menemukan
tempat tawanannya Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Disekitar batu itu berputar-putaran sambil mencari
pikiran untuk menolong diri Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Kebetulan pada saat itu seorang wanita muda dengan anak
kuncinya yang khusus dibuat telah memasuki kamar
tawanan, setelah agak lama berdiam didalam, lalu keluar.
Sebagai seorarg pencuri ulung, dengan mudah saja Auwyang
Khia dapat mengambil anak kunci dari tangannya
wanita yang sedang bertugas itu.
Begitulah ia akhirnya dapat masuk ke kamar tahanannya
Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Setelah mendengarkan cerita Auw-yang Khia. Goaw Ya
Pa lantas berkata:
“Locianpwee, dengan sejujurnya aku Gouw Ya Pa
semula tidak menandang mata atas perbuatanmu sebagai
pencuri itu, tapi kali ini aku sungguh merasa sangat kagum
atas kecerdikanmu.”
“Kepandaian yang cuma sebegitu saja apa lagi artinya,
Kau terlalu memuji ” jawab Auw-yang Khia sambil ketawa.
“Auw-yang Cianpwee, sekarang sudah masuk, tapi
sebaiknya cianpwee mencari akal lagi bagaimana supaya
kita bisa lolos dari sini.” kata Ho Kie.
“Hal ini tidak usah kalian kuatirkan. Aku sudah siap. . ,
.”
“Apa? Kau sudah siap hendak lari dengan kita?” tanya
Gouw Ya Pa kaget.
Dengan tidak memikirkan keadaan sendiri ia lantas
hendak berdiri. Tetapi baru saja ia bergerak, lantas ia
menjerit dan lantas roboh pingsan.
Auw-yang Khia tidak mengetahui apa sebabnya ia hanya
mengira bahwa Gouw Ya Pa mendapat sakit keras. maka
sesaat itu ia serdiri tertegun.
Ho Kie cepat-cepat memberikan keterangannya.
“Locianpwee, Gouw toako bukan karena sakit, dia sama
keadaannya dengan boanpwee entah dengan cara
bagaimana jalan darah kita telah dikuasai. Begitu bergerak
lantas merasakan sakit sekali. Barusan Gouw toako karena
menggunakan tenaga terlalu banyak, maka lantas jatuh
pingsan. Sebentar dia pasti bisa siuman sendiri.”
Auw-yang Khia coba membuka totokan mereka, ternyata
telah berhasil.
Ho Kie dan Gouw Ya Pa lantas berdiri keduanya, setelah
menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, begitu pula jalan
pernapasannya, ternyata sudah tidak ada halangan apa lagi,
maka legalah perasaan hati mereka.
Auw-yang Khia segera mengajak Ho Kie dan Gouw Ya
Pa lantas berlalu tetapi Ho Kie lantas memegang tangan
Auw-yang Khia sembari berkata:
“Sabar dulu, para wanita yang menjaga disekitar rumah
ini, mungkin akan mengetahui semua gerakan kita.”
Gouw Ya Pa juga tidak menantikan sampai siorang itu
menjawab lantas sudah nyeletuk:
“Saudara Ho. kau sebetulnya terlalu hati-hati. Dulu aku
Gouw Ya Pa tertotok jalan darahku oleh orang-orang
perempuan itu, sehingga tidak berdaya terhadap mereka
tetapi sekarang aku sudah bebas, kalau mereka mau coba-coba
merintangi aku nanti akan menghajar mereka dengan
pecut bajaku ini supaya mereka juga tahu rasa !”
“Auw-yang Khia yang mendengar Gouw Ya Pa nyerocos
terus, cepat-cepat berkata sambil goyangkan tangannya:
“Jie-wie jangan terlalu ribut. Tempat yang sebetulnya
tidak ada orang. kalau saudara Gouw begitu ribut, bukanlah
berarti menarik perhatian mereka? Ji-wie tidak usah gelisah.
wanita yang menjaga disekitar kamar tahanan satu persatu
telah kubikin tidak berdaya. Kita boleh jalan dengan
leluasa.”
Orang tua itu lalu memimpin kedua kawanannya dan
diam-diam mereka meninggalkan kamar tahanan tersebut.
Belum jauh mereka berjalan tiba-tiba terdengar suara
riuh.
“Celaka, kedua orang itu sudah kabur. Lekas laporkan
kepada Tocu!.. .” Suara itu lantas disusul dengan suara
tanda bahaya. Sebentar seluruh pulau itu sudah menjadi
ramai sekali.
Ho Kie bertiga ketakutan mereka lari semuanya kedalam
rimba. Sekali hendak bersembunyi mendadak terdengar
suara bentakan:
“Manusia goblok yang tidak tahu diri. Apakah kalian
ingin cari kematian?”
Ho Kie lalu memasang matanya, yang bicara itu ternyata
adalah perempuan muda yang sekarang sedang berdiri
didepannya sejauh kira-kira satu tombak. Ia mengawasi
ketiga orang itu dengan wajah dingin.
Ho Kie mundur tiga langkah lalu berkata:
“Nona jangan terlalu mendesak. Harus kau ketahui
bahwa Ho Kie juga bukan sembarang orang yang boleh kau
perlakukan seenaknya saja.”
“Nonamu justru kepingin tahu sampai dimana
kepandaianmu. kalau kau tahu gelagat lekas balik kekamar
batu kalau tidak, berarti mencari mampus sendiri.”
“Adakah nona yakin benar kalau usaha nona itu akan
berhasil?”
“Dalam pulauku ini ada satu ketentuan orang-orang yang
datang kepulau ini, barang siapa yang menurut kehendakku
hidup, dan yang melawan berarti mati. Nonamu tidak
percaya kau mempunyai sayap bisa terbang dari sini,” kata
si nona dengan mata melotot.
Menampak sikap si nona yang membawa caranya
sendiri. Ho Kie juga menjadi tidak senang, maka ia lalu
menjawab.
“Aku si orang she Ho kepingin melihat kepandaian nona,
aku kepingin coba, bisa keluar dari pulau ini atau tidak?”
Sehabis berkata, ia memberi isyarat kepada Auw-yang Khia
dan Gouw Ya Pa supaya masing-masing siap sedia.
Wanita itu dengan tanpa bicara apa-apa lagi, lantas maju
kira-kira lima tindak didepannya Ho Kie kemudian
menyerang dengan tangannya.
Ho kie menyaksikan serangan wanita itu begitu ganas,
tidak berani menyambuti, buru-buru mengelakkan dirinya
dari serangan tersebut. Tetapi kasihan bagi Gouw Ya Pa
yang berdiri dibelakang Ho Kie.
Ia mengira Ho Kie akan menyambuti diri. hingga
serangan wanita itu dengan telak mengenakan dirinya.
sampai ia terpental satu tumbak jauhnya dan jungkir balik.
Kalau ia tidak mempunyai ilmu kebal. niscaya sudah binasa
seketika itu juga.
Dengan wajah dan badan penuh debu, Gouw Ya Pa
segera melonpat bangun, kemudian menerjang ke arah si
wanita sambil berkata dengan gusarnya.
“Perempuan liar, kau berani menghina orang, aku Gouw
Ya Pa kepingin mencoba sampai dimana kepandaianmu.”
begitu berkata lantas hendak mengeluarkan senjata pecut
bajanya. tapi ternyata pecutnya sudah tidak ada
ditempatnya.
Kiranya pecut Gouw Ya Pa sudah terbawa oleh ombak
ketika terjadi kecelakaan dilaut betul-betul lucu lagaknya si
tolol.
Wanita itu rupanya tidak mau memberi hati kepada
lawannya, begitu melihat Gouw Ya Pa tercengang lalu
maju menyerang lagi.
Serangan itu hebat sekali, Gouw Ya Pa hendak
menyingkir, tapi sudah tidak keburu. Selagi dalam keadaan
sangat berbahaya, Ho Kie, dari samping dengan
menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, menyambuti
serangan wanita itu.
Ketika kekuatan itu beradu, lalu menimbulkan suara
gemuruh, batu-batu dan daun-daun pohon pada
berterbangan, Sedang badannya Gouw Ya Pa yang turut
kesambar anginnya juga tidak bisa berdiri tegak dan jatuh di
tanah.
Ho Kie merasa dadanya bergolak, mulutnya
menyemburkan darah segar.
Wanita itu yang maksudnya hendak membinasakan diri
Gouw Ya Pa tidak nyana mendapat perlawanan begitu
hebat dari Ho Kie,
Untung ia berlaku gesit, sebelum serangan Ho Kie
mengenakan dirinya dengan telak sudah mundur beberapa
tindak sehingga terhindar dari kematian, Tapi tidak urung
serangan Ho Kie, ia sendiri juga lantas terpental sejauh satu
tombak lebih, lantas duduk sambil menyemburkan arah dari
mulutnya.
Ho Kie buru-buru menghampiri Gouw Ya Pa untuk
menanyakan keselamatannya. Ketika menampakkan
pemuda tolol itu tidak terluka apa-apa baru merasa lega.
Tapi apa yang disaksikan pada saat itu?
Kiranya ada beberapa ratus wanita penduduk pulau
tersebut, ketika menampak tocunya terluka, setiap orang
nampaknya sangat gusar dengan membawa anak panah dan
gendawa. mereka telah mengurung diri Ho Kie bertiga.
Ho Kie yang menyaksikan keadaan demikian, diamdiam
mengeluh. Kalau kawanan wanita itu nanti benar-benar
melepaskan anak panahnya bagi Gouw Ya Pa yang
mempunyai ilmu kebal masih tidak mengapa. tapi ia sendiri
dan Auw Yang Khia pasti akan terpanggang dibawah hujan
panah itu.
Mengingat akan diri Auw Yang Khia. ia lantas berpaling
mencari orang tua itu, tapi ternyata sudah tidak kelihatan
batang hidungnya,
Ho Kie semakin cemas.
“Saudara Ho. perla apa kau merasa gelisah, ilmu kebalku
justru dapat digunakan untuk menghadapi senjata anak
panah ini. Masih ada aku disini, perlu apa takut?”
Dalam keadaan terpaksa, Ho Kie lalu panggil Gouw Ya
Pa, mereka lalu berdiri saling membelakangi, Jika benar
kawanan wanita itu nanti menghujani anak panah Ho Kie
akan melindungi depannya dengan sepasang tangannya,
Sedang Gouw Ya Pa melindungi bagian belakang.
Para wanita sembari memegang gendewa masing-masing
dan mengawasi Ho Kie dan Gouw Ya Pa dengan mata
mendelik perlahan geser maju kakinya, Kepungan makin
lama jadi makin ciut.
Sebentar kemudian, pulau misterius itu telah diliputi oleh
hawa peperangan dan kekuatiran.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring, kemudian
disusul dengan menyambarnya anak panah yang datang
seperti hujan kearah Ho Kie dan Gouw Ya Pa.
Ho Kie menampak lawannya sudah mulai melakukan
serangannya anak panah, dengan kedua tangannya yang
digunakan secara bergantian untuk menangkis setiap anak
panah yang menyambar kearah dirinya. Sedangkan Gouw
Ya Pa juga tidak tinggal diam dengan kedua tangannya juga
ia repot menyambuti setiap batang anak panah yang
meluncur kebadannya.
Tapi karena jumlah musuh makin lama makin banyak
kedua orang itu perlahan-lahan sudah mulai kewalahan.
Selagi dalam keadaan ripuh demikian, mendadak
terdengar suara riuh yang mengatakan:
“Api, api…. Kebakaran! Kebakaran! Ada orang melepas
api!”
Wanita-wanita itu ketika mendengar jeritan ada api,
wajahnya pada berubah kaget dan khawaiir, dengan tanpa
menghiraukan Ho Kie dan Gouw Ya Pa, mereka lantas
bubar. pada lari kekampung untuk menolong bahaya api.
Ho Kie buru-buru menarik tangan Gonw Ya Pa, juga
hendak lari menuju kekampung.
Gouw Ya Pa mengira Ho Kie mau ajak bantu menolong
memadamkan api, maka lantas menolak sambil berkata:
“Saudara Ho, apa sudah gila! Kita baru saja terlepas dari
keganasan mereka, mengapa kau hendak lari kesana?
Apakah kau sudah tidak ingin pergi ke Lam-hay?”
Ho Kie tidak sempat memberi keterangan, ia hanya
berkata: “Lekas kita cari kesana, entah dia ada atau tidak?”
Jawaban Ho Kie tambah membikin bingung Gouw Ya
Pa.
Ho Kie baru hendak menjelaskan bahwa ia hendak
mencari Auw-yang Khia, tiba-tiba orang tua itu ternyata
sudah muncul didepan matanya.
Ho Kie menampak Auw-yang Khia dalam keadaan
selamat, hatinya merasa lega.
Orang tua itu dari badannya mengeluarkan sebuah
benda. lalu diberikan kepada Ho Kie sambil berkata:
“Ho Siaohiap, barang ini tentunya ada kepunyaanmu!”
Ho Kie terperanjat, karena barang yang ditunjukkan itu
adalah tanda pusaka Kiu-hoan leng yang berada dilehernya.
“Locianpwee, dari mana kau dapatkan barang ini?”
demikian ia bertanya.
“Barusan kau dan saudara Goaw Ya Pa melayani
musuh, aku telah menyingkir, diam-diam nyelundup
kekampung. Maksudku semula ialah hendak mencari
barang makanan, tak nyana aku ketemukan barang ini,
maka aku lantas bawa balik untuk dikembalikan padamu.”
Berulang-ulang Ho Kie menyatakan terima kasihnya. Ia
masih ingin menyatakan apa-apa lagi Gouw Ya Pa yang
berdiri disamping sudah merasa tidak sabaran lagi, maka
lantas berkata.
“Saudara Ho, orang-orang perempuan itu kini sudah
berlalu semua, perlu apa kita masih berada disini mengobrol
saja, bukan lekas pergi menyelamatkan diri?”
Auw-yang Khia lalu berkata;
“Kalian tidak usah cemas, hal ini aku sediakan, mari ikut
aku!” Orang tua itu lalu ajak mereka kesatu tempat dekat
jurang, lalu berkata pula sambil menunjuk kesana.
“Dibawah sana aku telah dapatkan beberapa potong
kayu, sekarang kita tinggal cari talinya untuk mengikat
kayu-kayu itu, kita duduk diatasnya bukankah urusan akan
menjadi beres?”
Selagi mereka repot mencari-cari tali, tiba-tiba terdengar
suara keresekan. Itu ternyata suara sebuah sampan yang
didayung oleh seorang tua.
Ho Kie lalu pentang mulutnya, berkata dengan suara
nyaring. “Locianpwee tolong bawa sampanmu kemari!”
Tapi orang tua itu seperti tidak mendengar, ia masih
mendayung sampannya sambil menyanyi, tidak
menghiraukan panggilannya Ho Kie.
Ho Kie menganggap orang tua itu mendengar, maka
lantas lari turun mendekati, lantas berkata pula;
“Locianpwe tolong dekatkan sampanmu, boanpwe Ho
Kie disini menjumpai Locianpwe.”
0rang tua itu angkat kepalanya, lalu menjawab dengan
suara seperti gusar.
“Orang begitu muda, mengapa terlalu bawel ?”
Ho Kie agak mendelu, tapi ia lantas berkata pula.
“Loncianpwe jangan marah. Tolong dekatkan
sampanmu nanti boanpwe beritahukan lagi tentang
pengalaman boanpwe sekalian.”
Orang tua itu meskipun tadi nampaknya, gusar ia tidak
urung ia dayung juga sampannya menghampiri Ho Kie.
Tatkala sudah berada dekat, Ho Kie baru tahu bahwa
sampan itu ternyata cuma kira-kira satu kaki lebarnya,
panjangnya kira-kira satu tumbak lebih. Kalau orang biasa.
jangan kata buat berlayar dilautan, sedang buat berdiri saja
rasanya masih sulit.
Orang tua itu rambutnya sudah putih seluruhnya,
pelipisnya nampak sangat menonjol tinggi, sinar matanya
tajam sekali begitu melihat sudah dapat diduga kalau ia itu
ada orang rimba persilatan yang bukan sembarang orang.
Ho Kie buru-buru memberi hormat, dengan sikapnya
yang sangat sopan ia berkata pula:
“Locianpwee, boanpwee Ho Kie dengan kedua kawan,
tadinya hendak ke Lam-hay dengan menumpang sebuah
perahu, apa lacur ditengah jalan perahu telah tenggelam
diterjang badai, sehingga kita bertiga terdampar sampai
kesini. Entah locianpwee bisa memberikan pertolongan
untuk memecahkan kesulitan kita atau tidak.”
Orang tua itu tertawa tergelak-gelak, suara ketawanya itu
begitu lama tidak bisa buyar, sehingga membuat pemgng
telinga yang mendengarnya.
Setelah merasa puas ketawa barulah ia berkata:
“Bocah cilik kau berkata setengah harian selalu
mengucapkan cianpwee boanpwee, aku siorang tua
sesungguhnya tidak dapat menangkap maksudmu.
Bicaralah yang terang supaya orang bisa mengerti !”
Ho Kie mengerti bahwa orang tua itu sengaja berlagak
pilon, maka juga lantas berkata dengan sewajarnya.
“Boanpwee bertiga ingn pergi ke Lam-hay. disini tidak
ada perahu, bolehkah kau si orang tua tolong antarkan kami
kesana, entah kau orang tua sudi utau tidak?”
“Kau tanya aku sudi atau tidak? Aku sekarang
beritahukan padamu, aku siorang tua tidak sudi carilah
orang lain!”
Menampak orang tua itu tidak mau, Ho Kie tidak bisa
berkata apa-apa.
Selagi masih berada dalam kesangsian, Gouw Ya Pa tiba
tiba berkata dengan suara gusar:
“Hai tua bangka, tidak perduli kau mau atau tidak aku
Gouw Ya Pa juga hendak menumpang sampanmu!”
Sehabis berkata, lantas lompat dan berdiri didalam
sampan.
Ho Kie menampak perbuatan Gouw Ya Pa yang sangat
ceroboh. Ia kuatirkan akan membikin gusar orang tua itu
hingga tambah tidak mau ditumpangi, maka lantas
membentak kepada kawannya itu:
“Gouw-toako jangan berlaku tidak pantas terhadap orang
tua. Kalau Locianpwee ini tidak sudi, kita juga tidak bisa
memaksa.” sehabis berkata lalu berkata pula kepada orang
tua itu:
“Barusan sahabatku ini berlaku kasar terhadap
Locianpwee, boanpwee disini mohon locianpwee supaya
suka memberi maaf.”
Jawaban orang tua itu sungguh-sungguh diluar dugaan
orang bukan saja tidak gusar terhadap Gouw Ya Pa yang
perlakukan padanya begitu kasar sebaliknya malah berkata
kepada sitolol itu sambil tertawa:
“Mendingan sitolol yang berterus terang, aku siorang tua
justru tidak suka banyak pernik. Mari, mari aku nanti antar
kau kesana.”
menggapai kepada Ho Kie dan Auw-yang Khia.
“Mengapa kalian berdua masih berdiri seperti patung?
Apakah kalian masih ingin mencari isteri dipulau ini?”
Ho Kie dan Auw-yang Khia lantas lompat kedalam
sampan. Selagi hendak mencari tempat duduk mendadak
orang tua itu berkata pula:
“Aku antar kalian kesana tidak apa tapi kalian haras
menpunyai liangsim, tidak boleh mencuri barangbarangku.”
Auw-yang Khia yang mendengar perkataan si orang tua
itu, hatinya merasa tidak boleh mencuri barang-barangku.
Auw-yang Khia yang mendengar perkataan siorang tua
itu hatinya merasa tak enak, wajahnya merah seperti
kepiting direbus.
Siapa tahu orang tua itu malah menggoda padanya:
“Hai, laoko ini bagaimana sih? Apakah terserang
penyakit panas mendadak? Mengapa wajahnya begitu
merah?”
Auw-yang Khia sejak melihat orang tua itu belum pernah
membuka mulut. Ia merasa seperti pernah kenal dengan
orang tua ini, tapi tak ingat lagi dimana pernah bertemu.
Tatkala dengar perkataan orang tua itu yang seolah-olah
menggoda dirinya, ia sadar maka cepat ia memberi hormat
seraya berkata:
“Locianpwee. ini tentu adalah orang tua yang disebut
mempunyai gelar Nelayan empat penjuru lautan yang
namanya sangat kesohor! Disini Auw yang Khia memberi
hormat!”
Orang tua itu lantas tertawa bergelak-gelak, kemudian
berkata: “Auw-yang Khia, aku kira kau sudah tidak kenal
aku siorang tua lagi!”
“Boagpwee tadi kesalahan mata, kalau tidak locianpwee
yang mengingatkan, hampir saja tidak berani mengenali.”
jawab Auw-yang Khia sambil tertawa.
Kiranya si Nelayan empat penjuru lautan ini adatnya
sangat kukoay ia benci sekali terhadap kejahatan, asal saja
urusan begitu terjatuh ditangannya, Kalau tidak binasa pasti
orang bersangkutan akan cacad seumur hidupnya.
Tapi, ia sebaliknya ada orang yang paling gemar
menolong orang yang berada dalam kesulitan. Ho Kie
bertiga kali ini kalau tidak bertemu dia, jangan kata bisa
sampai ke Lam bay, mungkin jiwanya sudah hilang
ditengan jalan.
Tidak sampai setengah hari, Nelayan empat penjuru
lautan itu sudah mengantarkan Ho Kie. Kala hendak
meninggalkan padanya, ia masih memberi pesanan
demikian:
“Kau sampaikan kepada Cit-cie Sin ong bahwa aku si
nelayan tua tidak lama kemudian hendak menjumpai
padanya.”
Ho Kie bertiga setelah mengucapkan terima-kasih, lantas
berjalan menuju ke Pho-tho untuk mencari si Nikouw tua
Thian sim Sin-ni . .
Tidak antara lama dari jauh mereka sudah dapat melihat
ada sebuah kuil yang dikelilingi oleh banyak pohon, hingga
nampaknya seperti rimba.
Saat itu cuaca sudah mulai gelap, didalam kuil lapat-lapat
ada sinar lampu.
Ho Kie lalu berkata kepada Auw-yang Khia: “Auw-yeng
cianpwee, tempat ini terpisah dari Pho tho rasanya sudah
tidak jauh lagi, bagaimana kalau kita jalan cepat sedikit?”
Belum sampai Auw-yang Khia menjawab, Gouw Ya Pa
sudah nyeletuk,
“Pergilah kalian berdua. aku Gouw Va Pa memang ada
seorang yang tidak ada gunanya, pergi dangan kalian tidak
beda sebagai rintangan, ada lebih baik kalian jalan dengan
jalan kalian sendiri, dan aku akan jalan dengan jalan
sendiri.”
Ho Kie menampak ia ngadat, buru-baru lompat
mencegah padanya seraya berkata: “Gouw toako, kau
kenapa? Tanpa sebab mengapa kau ngambek?”
Gouw Ya Pa sebetulnya belum pernah berani ngambek
terhadap Ho kie, kali ini entah apa sebabnya ia mendadak
jadi demikian.
“Kau masih tanya aku mengapa tidak tanya dirimu
sendiri? Kalian berdua dengan mengandalkan ilmu lari
pesat yang lebih atas dari padaku si orang she Gouw.
sengaja lari semaunya, ini masih tidak apa, dan sekarang
setelah sudah dekat ditemgat tujuannya, kau lantas minta
orang jalan lebih lekas, bukankah ini berarti kau sengaja
hendak meninggalkan aku si orang she Gouw ?”
Ho Kie pikirannya selalu ditunjukan kepada Thian Sim
Sin-nie, sehingga tidak memperhatikan keadaannya Gouw
Ya Pa. Dan setelah Gouw Ya Pa mengucapkan demikian ia
baru lihat bahwa sahabatnya ini memang benar keadaannya
sudah sangat lelah sekali, keringatnya sudah membasahi
sekujur badannya, napasnya memburu seperti kerbau. Maka
ia buru-buru menghibur:
“Gouw toako, barusan karena aku memikiri ingin lekas-lekas
bisa menemui Thian sim Sin-nie sehingga tidak
memperhatikan keadaan toako, harap toako maafkan saja
kekeliruanku ini.”
Auw-yang Khia juga membujuk supaya Gouw Ya Pa
jangan mengambil dihati terus. Dengan demikian barulah
sitolol itu menjadi tenang.
Tiga orang itu sekarang terpaksa jalan perlahan-lahan,
ketika sudah gelap baru tiba didepan kuil.
Kuil itu dibangun dibawah kaki bukit, ternyata ada
merupakan bangunan yang megah. Disamping kuil yang
sangat besar, masih ada bangunan rumah yang tidak kurang
dari ratusan jumlahnya.
Ruangan sembahyang berada ditengah-tengah kuil
kamar tempat semedi terpisah di kedua sisi. Disamping itu
masih ada lagi ruangan belakang yang terpisah beberapa
tombak dengan ruangan tengah, mungkin untuk
kepentingan menginap para tamu.
Kuil itu terpancang sebuah papan nama yang tertulis
dengan huruf emas PHO THO SIE.
Ketika mereka bertiga tiba didepan pintu kuil, selainnya
suara ketokan bokhie dan suara membaca kitab, tidak
terdengar suara lainnya juga tidak kelihatan ada orang
berjalan mundar mandir.
Ho Kie diam-diam lantas berpikir, nampaknya disini ada
tempatnya orang-orang beribadat tinggi kalau kita bertiga
masuk sekarang sembarangan para padri yang tidak tahu
apa sebabnya, mungkin akan menimbulkan kesalah
paham.Lebih baik aku masuk dulu untuk menyampaikan
maksud kita semua,
Ia lalu minta Auw Yang Khia dan Gouw Ya Pa
menunggu dulu diluar.
Auw Yang Khia adalah seorang kang-ouw ulung, sudah
tentu mengerti. Tapi Ho Kie kuatir nanti Gouw Ya Pa
ngambek lagi, maka ia lantas memberi penjelasan.
Dengan seorang diri Ho Kie masuk kedalam kuil.
Dalam kuil itu ternyata sunyi sekali, tidak kelihatan satu
orang pun juga. Tapi lampu didalam kamar pada menyala.
hingga keadaannya terang benderang. Sedang suara orang
membaca kitab bisa terdengar sangat nyata.
Ho Kie tidak berani berlaku semberono, tapi kalau
menunggu terlalu lama ia kuatir Gouw Ya Pa dan Auw
Yang Khia tidak sabar. Oleh karenanya, maka terpaksa
memberanikan diri. ia ulurkan tangannya untuk mengetok
pintu dengan perlahan. tapi tidak ada jawaban apa-apa.
Pada saat itu, entah sejak kapan Goaw Ya Pa sudah
berada dibelakang dirinya, menampak ketokan pintu Ho
Kie tidak dapat mendapat jawaban. sebagai seorang yang
beradat kasar menyaksikan keadaan demikian. sudah tentu
lantas menjadi gusar.
Maka dengan tidak banyak bicara, ia lantas mengetok
pintu dengan kepalan tangannya sedang mulutnya lantas
berkaok-kaok:
“Hei, didalam ada orang apa tidak? Lekas bukakan pintu!
Aku Gouw Toaya ada sedikit urusan hendak menanya
kalian.”
Kuil Pho tho sie yang selamanya tenang malam ini entah
dari mana telah dapat kunjungan orang sembrono yang
gembar-gembor sembari mengetok-ngetok didepan pintu.,
Kalau hal ini terjadi ditempat lain, mungkin sudah bisa
menirmbulkan kerewelan.
Namun para paderi didalam kuil ini semuanya ada
orang-orang beribadat tinggi-tinggi, selamanya tidak pernah
menyampuri urusan luar, juga tidak ada orang yang datang
Kesitu untuk mencari satori.
Dan kini perbuatan sitolol yang tidak tahu diri itu benarbenar
mengejutkan para paderi didalam kuil tersebut.
Sebentar kemudian pintu yang besar dan tebal itu telah
terbuka, dari dalam keluar seorang paderi tua yang usianya
kira-kira sudah seratus tahun lebih.
Paderi tua itu lantas dapat melihat seorang muda sedang
mengomeli seorang pemuda tinggi besar berwajah hitam:
“Gouw toako, bagaimana kau berbuat begini sembrono?
tahukah kau ini tempat apa? Apakah kau kira boleh kita
memasuki secara sembarangan? Kalau toako berbuat
demikian, bukan saja menggagalkan pesan suhu, tapi juga
akan membahayakan jiwaku dan toako sendiri. Selanjutnya
aku harap toako suka berpikir dulu sebelum bertindak.”
Gouw Ya Pa rupanya tahu kalau dirinya telah bersalah,
maka ia diam saja diomeli oleh Ho Kie.
Padri tua itu yang menyaksikan keadaan demikian
kembali melihat dandanannya sang tetamu lantas
mengetahui kalau mereka dari tempat jauh, maka ia juga
tidak terlalu menpermasalahkannya.
Sambil merangkapkan kedua tangannya padri tua itu lalu
memberi hormat seraya berkata:
“Sicu datang dari mana dan ada keperluan apa
mengunjungi gereja kami ini?”
Ho Kie menampak padri itu memperlakukan padanya
dengan sikap yang sopan santun, ia juga tidak berani
berlaku ayal, dengan cepat ia menghampiri untuk memberi
hormat kemudian baru menjawab.
“Boanpwee Ho Kie. datang dari lembah Patah Hati, atas
perintah suhu almarhum, datang kegereja ini hendak
mencari Thian sim Sin-nie Locianpwee. entah Losiansu
sudi memberitahukan atau tidak ?”
Padri tua itu setelah mendengar perkataan Ho Kie
nampak berpikir kemudian baru berkata pula:
“Sicu datang dari tempat yang sangat jauh lagi pula juga
ada membawa tugas suhu. lolap seharusnya. . . .”
Ho Kie yang melihat padri tua itu agaknya mempunyai
kesulitan apa-apa yang tidak bisa dijelaskan kepada orang
lain, ia mengetanui bahwa dalam hal ini pasti ada sebabsebabnya
maka lantas baru-buru berkata:
“Losiansu, ijinkan boanpwee memberi sedikit keterangan
lagi. Suhu boanpwee adalah Toan-theng Lojin, ketika
hendak menutup mata telah memberikan pesan terakhir,
Boanpwee diminta dengan sangat agar setelah suhu
meninggalkan dunia, boanpwee harus mengunjungi gereja
ini untuk menjumpai Thian sim Sin-nie untuk
menyampaikan berita tentang kematian suhu. Lain dari itu
boanpwee tidak mempunyai niat apa-apa lagi. Mohon
Losiangu memaafkan banyak-banyak.”
Padri tua itu melihat Ho Kie berkemauan keras dengan
sujud, maka lantas berkata:
“Lolap bukannya tidak mau mengantarkan sicu kesana,
hanya orang yang hendak kau ketemui itu adatnya sangat
aneh luar biasa. Sejak datang kegereja kami ini, sampai
sekarang sudah dua puluh tahun lebih lamanya, selama itu
ia tidak suka menemui siapa saja. Barangkali sicu juga
tidaK akan dikecualikan.”
“Ucapan Locianpwee memang benar. Suhu boanpwee
sebelum menutup mata juga pernah menyebutkan tentang
adatnya Thian sim Sin-nie Locianpwee, maka ia memesan
boanpwee harus bisa menahan sabar?”
Paderi tua itu menghela napas dan akhirnya berkata,
“Baiklah, kalau sicu berkeras hendak menemui dia, lolap
akan mencoba membantu sebisanya.” lalu ia panggil paderi
kecil seraya berkata:
“Kau ajak ketiga sicu ini pergi ke Pek-in-gay dibelakang
gunung untuk menemui Thian-sim Sin-nie. Kau antar
mereka sampai ditepi bukit dan segera balik.”
Selanjutnya paderi tua itu berpesan kepada Ho Kie,
“Ho sicu, jika dia berkeras tidak suka menerima kau. kau
juga tak usah memaksa, lekas kembali saja.”
“Losiansu tidak usah kuatir. boanpwee sudah mengerti.”
jawab Ho Kie sambil menjura.
Paderi tua itu lalu memberi hormat.
“Sicu pergilah, Hati-hati sedikit, segala hal semua
tergantung pada kemauan Tuhan. maaf lolap tidak bisa
mengawani kau lama-lama.”
Setelah berkata begitu si padri tua itu lantas masuk
kedalam gereja lagi.
Si paderi kecil yang mengantarkan Ho Kie bertiga tidak
lama kemudian sudah sampai dibelakang bukit yang
dimaksud. Paderi kecil itu lalu menunjuk kesebelah kiri
bukit dan berkata kepada Ho Kie:
“Itu adalah Pek-in gay. Silahkan sicu pergi sendiri
Siaoceng tak berani mengawani lebih lanjut.”
Ho Kie mengucapkan terima kasihnya pada paderi kecil
ini dan kemudian berkata kepada Gouw Ya pa dan Auwyang
Khia:
“Disini adalah kediamannya Thian Sim Sin-nie
locianpwee. Kalau kita mengunjungi bersama-ama,
Locianpwee pasti tidak suka menemui kita. Aku lihat lebih
baik jiewie suka bersabar sedikit aku akan menjumpai
seorang diri. Jika Thian sim Sin-nie mengijinkan aku
mengunjungi padanya, itu ada lebih baik. Seandainya tidak,
aku pasti akan memberitahukan kepada jiewie.”
Auw-yang Khia lalu berkata: “Adat orang tua itu kalau
betul-betul begitu aneh, barangkali tidak berhasil, kau harus
berusaha sedapat mungkin agar tak kecewa pesan Suhu.”
Kala itu Ho Kie hatinya berduka maka ia hanya
menjawab sambil pejamkan mata: “Aku mengerti.”
Ketika Ho Kie sudah dekat berada dimulut goa, keadaan
disekitarnya sangat indah pemandangannya dan tenang
suasananya.
Pohon-pohon kembang dengan menyiarkan bau harum
yang semerbak hampir memenuhi sekitar lapangan didekat
goa itu.
Di kedua sisi mulut goa terdapat air mancur yang
mengalirkan airnya yang jernih. Diam-diam Ho Kie
berpikir: “Diluar goa saja yang mempunyai pemandangan
yang begini menarik hati, siapa sangki didalamnya di diami
seorang luar biasa dari rimba persilatan yang dirundung
nasib malang.”
Ho Kie sudah tidak mempunyai kegembiraan untuk
menikmati pemandangan disekitar tempat itu maka lantas
berjalan menuju kemulut goa!
Baru saja kakinya menginjak mulut goa tepat didepan
Ho Kie kira-kira tiga tindak jauhnya
Ho Kie dengan cepat mundur beberapa tindak, diamdiam
ia merasa bersyukur yang kepalanya tidak kena
ketimpa batu besar itu.
Selagi hendak berjalan terus, tiba-tiba dari dalam goa
terdengar suara wanita yang sangat dingin:
“Bocah dari mana? Apakah kau tidak tahu kalau Pek-in
gay tidak mengijinkan orang luar menginjakkan kakinya
disini?”
Ho Kie yang mendengar suara itu diam-diam merasa
bergidik. Setelah berpikir sejenak, ia lalu menjawab dengan
suara nyaring:
“Boanpwee adalah Ho Kie, dengan membawa pesan
suhu boanpwee sengaja datang kemari untuk menemui
Locianpwee hendak menyampaikan soal pentingnya
dihadapan Locianpwee sendiri.”
“Tidak perduli kau datang dari mana juga. aku tetap
melarang kau masuk kemari. Lebih baik kau lekas berlalu.
Kalau tidak, Kau nanti hendak pergi juga sudah tidak
keburu lagi.” katanya pula dari dalam goa dengan suaranya
yang tetap dingin.
-oo0dw0oo-
Jilid 14 Tamat
KALAU DIRINYA ditolak untuk menemui Nikouw tua
itu. hal itu menang sudah diduga oleh Ho kie semula, maka
ia tak terlalu susah hati dan masih bisa menjawab dengan
tenang:
“Boanpwee hanya ingin menemui Cianpwee sekejap
saja. Jika boanpwee sudah menyampaikan pesan suhu.
boanpwee akan segera berlalu, tidak mempunyai
permintaan lainnya.”
Suara dari dalam goa itu menjawab dengan gusar,
“Aku suruh kau segera pergi! Dengar atau tidak. Perlu
apa mesti banyak rewel?” Ucapan itu lalu disusul oleh suara
bentakan dan sambaran angin kuat kearah diri Ho Kie.
Ho Kie yang tidak berjaga-jaga, selagi hendak maju lagi
setindak mendadak merasa disambar oleh angin yang kuat.
Cepat ia memutar tubuhnya hingga terhindar dari sambaran
angin dahsyat itu.
Sesaat itu hampir saja Ho Kie naik darah menghadapi
perlakuan yang agak keterlaluan dari Thian-sim Sin-nie,
tetapi ketika ia ingat pula pesan suhunya almarhum, maka
sebisanya ia menahan perasaan gusarnya.
Dengan tekad bulat, perlahan-lahan Ho Kie masuk lagi
kedalam goa seraya berkata,
“Locianpwe, sekalipun kau binasakan boanpwee dissni,
boanpwee juga ingin menjumpai kau dulu barang sekejap.”
“Baiklah! Kalau kau benar-benar tidak takut mati,
bolehlah coba-coba!”
“Boanpwee bukannya tidak takut mati, kalau Lociapwee
menghendaki boanpwee mati, terpaksa boanpwee akan
menantikan kematian itu dengan pejamkan mata.”
Selagi bicara itu. Ho Kie berjalan sudah semakin dekat
sehingga suara itu terdengar semakin jelas.
Selagi Ho Kie hendak maju lagi, mendadak terdengar
suara bentakan bengis,
“Berdiri disitu! Tidak boleh maju setengah langkah lagi.
Kalau tidak, aku akan benar-benar bikin kau binasa.”
Ho Kie tundukkan kepala, tidak menjawab masih tetap
berjalan kedalam goa.
Pada saat itu terdengar pula ketawa dinginnya Thian sim
Sin-nie yang lalu disusul oleh ucapannya.
“Baik! Kau benar-benar tidak takut mati!”
Sebentar saja kelihatan debu berbamburan keadaan
dalam goa itu menjadi sangat gelap. Ho Kie mengetahui
bahwa kekuatan tenaga dalam itu sangat hebat sekali. maka
ia tidak berani menyambari. Cepar-cepat ia mendekati
dinding goa dan dia berpegangan teguh pada dindingnya
sambil mempersiapkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Tapi pada saat hendak bersiap-siap, kekuatan yang hebat
itu sudah menyambar kearah dirinja.
Ho Kie hanya merasakan seperti ada batu ribuan kati
beratnya yang menerjang dari depan dadanya, sehingga
dadanya dirasakan bergolak hebat dan lantas hilang
ingatannya.
Ternyata Ho Kie yang terpental oleh kerena serangan
tangan Thian Sim Sin-nie tadi telah melayang seperti
layang-layang yang putus talinya dan akhirnya jatuh
ditanah tidak ingat orang lagi.
Entah berapa lama, ketika Ho Kie siuman kembali. ia
merasakan badannya sudah tidak mempunyai kekuatan
jang berarti lagi, ia coba merayap bangun, tetapi akhirnya
jatuh lagi. Dadanya dirasakan sakit darah segar keluar dari
mulutnya. sehingga membasahi sekujur badannya dan
lantai didalam goa.
Tetapi semua penderitaan itu tidak mau membuat Ho
Kie melupakan pesanan suhunya. Asal jiwanya masih ada
ia pasti tidak akan mengecewakan mendiang suhunya.
Keadaan Ho Kie saat itu sesungguhnya sangat
mengenaskan, ia kertak gigi untuk mempertahankan dirinya
jangan sampai terseret oleh tangan maut, Dengan
sempoyongan ia coba masuk kedalam goa lagi. tetapi baru
saja jalan beberepa tindak. kembali jatuh tengkurap.
Mulutnya menyemburkan darah segar.
Entah sudah beberapa banyak waktu dibuang dengan
jatuh bangun ia terus memasuki goa.
Ketika ia membuka matanya yang lain, dilihatnya
didalam goa itu ada sedikit penerangan. Lapat-lapat ia
dapat melihat seorang wanita berbaju hijau sedang duduk
bersila pejamkan mata, ia pikir, ia tidak boleh membiarkan
wanita itu mengetahui keadaan mukanya, karena hal itu
mungkin akan menunjukkan kelemahannya sendiri.
Sesuatu pikiran yang kuat telah memaksa Ho Kie terus
bertahan. Sambil kertak gigi dan mengerahkan sisa
tenaganya yang tersisa ada ia paksa berdiri.
Dengan badan sempoyongan ia berjalan maju lagi, apa
alia kemudian ketika lima tindak didepan Thian sim Sinnie,
mendadak kepalanya dirasakan puyeng dan akhirnva
jatuh rubuh.
Thian sim Sin-nie yang sedang bersemedi, agaknya
dikejutkan oleh suara jatuhnya Ho Kie, ketika ia membuka
matanya mengawasi Ho Kie, lantas berbangkit dan dari
sakunya ia mengeluarkan sebuah botol Kecil, ia keluarkan
dua butir obatnya dimasukkan kedalam mulut Ho Kie,
setelah mana ia duduk lagi ditempat semula.
-oo0dw0oo-
APA sebabnya Thia sim Sin-nie yang semula begitu
dingin turunkan tangan telengas pada Ho Kie, sekarang
ketika melihat Ho Kie dalam keadaan pingsan lantas
memberikan obat untuk menolong jiwanya ?
Sejak ia meninggalkan Toan-theng Lojin. dengan hati
patah ia telah datang kegereja Pho tho ini. tetapi ia tidak
mau tinggal didalam gereja yang dianggapnya masih ramai,
ia mengasingkan dirinya didalam goa Pek-in gay yang sunyi
tenteram. Sudah dua puluh tahun lebih lamanya ia berdiam
didalam goa yang sunyi itu. diam-diam telah bersumpah
tidak akan menemui siapa juga.
Selama dua puluh tahun ini hatinya sudah tenang jernih
seolah-olah air dari sumber mata air. ia sudah bisa hidup
menyendiri secara demikian, tidak menghendaki orang lain
datang mengganggu padanya.
Ho Kie baru tiba didepan mulutnya goa, ini sudah
mencegah sedapat mungkin. Karena peringatannya tidak
digubris, maka dalam gusarnya ia lantas melancarkan
serangan tangannja.
Tetapi setelah ia melancarkan serangan lantas timbul
perasaan penyesalnya, ia menyesalkan dirinya sendiri yang
tidak seharusnya turunkan tangan begitu berat terhadap
orang yang belum dikenalnya.
Semula ia mengira Ho Kie pasti binasa karena
serangannya tadi, Maka ia tadi pejamkan mata untuk
menghilangkan rasa menyesalnya.
Tiba-tiba ia telah dikejutkan oleh rubuhnya badannya Ho
Kie. ia girang si korban tak sampai binasa, maka ia lantas
memberikan obatnya.
Setelah menelan obat pilnya Thian sim Sin-nie yang
sangat mujarab, tidak berapa lama kemudian Ho Kie sudah
siuman kembali. Ia coba menjalankan pernapasannya, ia
merasa tidak ada yang sakit urat-urat dan darahnya sudah
jalan seperti biasa.
Ketika ia mendongak, dilihatnya Thian-sim sin-nie
tengah mengawasi dirinya maka lantas hendak berbangkit.
Tetapi baru saja hendak menggerakkan badannya. Thian
sim Sin-nie sudah berkata padanya,
“Lukamu sangat parah nak, meskipun sudah makan
obatnya yang sangat mujarab, tetapi untuk sementara belum
bisa memulihkan kesehatanmu.”
Ho Kie melihat wanita itu tidak begitu dingin lagi
sikapnya, bahkan katanya sudah memberi obat kepadanya,
hatinya merasa sangat terharu, maka lantas berkata
dengaan suara terputus-putus.
“Locianpwee, kau….kau….kau….”
Thian Sim Sin-nie lantas cepat-cepat mencegah: “Sudah,
sudah, kau mengaso dulu sebentar. Nanti aku hendak
bertanya beberapa hal kepadamu.”
Sehabis berkata ia lalu memejamkan lagi matanya
membisu.
Ho Kie melihat Thian sim Sin-nie memejamkan mata
tidak berani mengganggu. terpaksa hanya bisa duduk
didepannya sambil bersemedi untuk memulihkan kekuatan
tenaga.
Hanya oleh karena merasa badannya terlalu letih,
dengan tidak terasa ia telah tertidur kepulasan. Ketika ia
mendusin dilihatnya Thian-sim Sin-nie masih duduk
bersila. sambil pejamkan mata.
Ho Kie tidak berani mengganggu, terpaksa ia
menantikan lagi didepannya.
Lama sekali sang waktu berlalu..,.
Tiba-tiba Thian sim Sin-nie membuka matanya dan
bertanva kepada Ho Kie:
“Kau kata kau bernama Ho Kie sebetulnya atas perintah
siapa kau datang kemari?”
Ho Kie cepat-cepat berlutut dan menjawab: “Kedatangan
boanpwee adalah atas pesan suhu untuk menyampaikan
beberapa kata dihadapan Locianpwe”
“Siapa suhumu itu? Pesan apa yang hendak disampaikan
kepadaku? Dan bagaimana dia mendapatkan kematiannya.
coba kau jelaskan.”
“Suhu boanpwe adalah Toan-theng lojin.”
Thian sim Sin-nie ketika mendengar disebutnya nama
Toan-theng Lojin. wajahnya yang dingin kelihatan berobah.
Tetapi sesaat kemudian sudah pulih menjadi tenang
kembali.
“Dengan cara bagaimana dia mendapat kematiannya?
Dan pesan apa yang dia suruh kau sampaikan padaku?”
Ho Kie lantas menceritakan bagaimana Toan-theng
Lojin telah dibikin celaka oleh Hian kui-kauw. Ia
menuturkan ceritanya itu sembari menangis terisak-isak,
sehingga orang yang berhati bajapun rasanya juga tidak
dapat menahan rasa pilunya.
Akhirnya Ho Kie berkata,
“Sesaat sebelum menarik napas yang penghabisan Suhu
telah berkata demikian; ‘Aku telah hidup menyendiri telah
beberapa puluh tahun lamanya, Aku merasa sangat
menyesal terhadap semua kesalahan yang sudah lalu.
Tetapi yang sudah aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya
memperbaiki kesalahanku untuk menebus dosa. dosaku
yang sudah lalu.”
Thian sim Sin-nie yang mendengarkan bicaranya Ho Kie
tadi, sesaat seolah-olah seperti sudah berobah menjadi
seorang yang linglung, mulutnya berkemak-kemik berkata
pada dirinya sendiri,
“Sudan dua puluh tahun. Ya sekejap saja dua puluh
tahun sudah berlalu, dilain penitisan hendak memperbaiki
kesalahan. Sekalipun ada lain penitisan. apa yang akan bisa
diperbaiki?”
Setelah mengeluarkan kata-kata ini matanya kelihatan
mengembang air matanya.
Thian sim Sin-nie adalah seorang wanita yang kukuh
dengan adatnya sendiri apa yang sudah dilakukan
selamanya belum pernah ia merasa menyesal. Tetapi dalam
soal itu, rupa2nya ia mempunyai sedikit penjelasannya itu,
apakah patut diceritakan kepada pemuda yang berada
didepannya sekarang ini? Tidak! Riwayat yang mengenakan
atas dirinya itu akan disimpan didalam lubuk hatinya
sendiri untuk selamanya, juga terpaksa seperti apa yang
dikatakan oleh Toan-theng Lojin, ia akan memperbaiki
dilain penitisan.
Setelah ia menenangkan pikirannya kembali, lalu ia
berkata kepada Ho Kie.
“Yang kau sebutkan Hia kui kauw tadi sebetulnya ada
orang berupa apa? Mengapa partai besar pada peluk tangan
saja ?”
“Cianpwee masih belum tahu, boanpwe karena berusaha
hendak menolong diri suhu telah masuk kelembah Kui-kok
dengan menempuh bahaya, sedangkan diantara sembilan
ketua partai besar yang juga datang kelembah Kui Kok itu,
delapan diantaranya sudah binasa. Menurut pikiran
boanpwee, untuk dewasa ini barangkali sudah tidak ada
orang lagi yang dapat menandingi Hian kui kauw lagi.”
“Apa kau tidak ingin menuntut balas untuk suhumu ?”
“Boanpwee bukan saja hendak menuntut balas bagi suhu
tetapi juga hendak menuntut balas sakit hati ayah serta
jiwanya delapan ketua partai besar yang binasa dilembah
Kui kok.”
“Apa kau yakin kuat menandingi Hian kui kauw ?”
“Sekalipun boanpwee harus binasa dilembah Kui kok
juga akan mencoba.”
Thian sim Sin-nie berpikir sejenak, lalu berkata:
“Aku seharusnya juga mesti turut membantu kau terapi
sudah berapa puluh tahun lamanya aku tidak muncul
didunia Kangouw, lagi pula aku juga tidak ingin ceburkan
diri dalam kancah pergolakan itu. Tetapi biar bagaimana
juga aku tidak akan membiarkan kedatanganmu ini secara
cuma-cuma. Beberapa puluh tahun lamanya, kediamanku
ini aku tidak ijinkan dimasuki oleh seekor burungpun.
Tetapi ketulusan hatimu terhadap suhumu sehingga tidak
menghiraukan jiwanya sendiri kau telah masuk kedalam
goaku ini, kuanggap kau berjodoh denganku, maka aku
hendak memberikan sedikit bantuan padamu dengan
beberapa pil obat ini yang mungkin ada paedahnya bagimu
dikemudian hari.”
Ia lalu mengeluarkan dua botol yang berwarna merah
dan kuning, Sambil perlihatkan dua botol itu ia berkata;
“Aku telah gunakan waktuku beberapa puluh tahun
lamanya, baru berhasil membuat dua macam obat ini. Obat
dalam botol kuning ini isinya hanya tiga butir pil kalau kau
hendak bertanding dengan musuh, lebih dulu kau ambil
satu butir, taruh dalam mulutmu. Ia adalah pemunah
terhadap segala macam racun berbisa. Sedangkan obat yang
berada dalam botol merah ini tadi kau sudah makan. Dalam
botol ini masih ada delapan butir. Asal orang yang terluka
masih bernapas sesudah minum pil ini dalam waktu satu
jam pasti akan bisa sembuh kembali.”
Selagi hendak menyerahkan dua botol obat itu, mata
Thian Sim Sin-nie menatap wajah Ho Kie.
“Aku seperti merasakan,” katanya pula, “dirimu telah
diliputi napsu membunuh yang sangat hebat, maka obat ini
setelah kuberikan padamu. kau harus ingat betul
nasehatku.”
“Nasehat Cianpwee, sudah tentu boanpwee akan
memperhatikannya baik-baik.”
“Sebetulnya juga bukan apa-apa, hanya kali ini kau pergi
menuntut balas, sedapat mungkin jangan sampai
membinasakan jiwa orang yang tak berdosa. Kau harus
tahu bahwa dalam pelajaran Buddna ada kepercayaan
adanya hukum timbal balik. Apakah dalam hal ini kau
sanggup menerima?”
Ho Kie menyahut sambil angguk kepala: “Nasehat
Cianpwe yang sangat berharga akan boanpwee ingat
selamanya.”
Thian sim Sin-nie lalu menyerahkan kedua botolnya itu.
Ho Kie menyimpan dua botol itu dalam sakunya dan
mengucapkan terima kasih kepada Thian sim Sin-nie. Baru
saja ia hendak berlalu tiba-tiba dipanggil oleh Thian sim
Sin-nie.
Ho Kie merasa heran, ia mengira Nikow tua itu masih
mempunyai pesanannya apa-apa lagi, maka buru-buru
urungkan maksudnya berlalu.
Ia lihat Thian sim Sin-nie dengan air mata berlinang
memandang dirinya,
Ho Kie dengan hati haru bertanya,
“Locianpwce, masih ada yang hendak dipesan kepada
hoanpwee?”
Ditegor demikian, Thian sim Sin-nie agaknya tersadar
dari lamunannya, maka buru-buru menjawab,
“Aaa.. ! Tidak apa-apa, pergilah!” tetapi kemudian ia
berkata pula. “Yah, Ho-siaohiap kepergianmu ini entah
kapan kau akan balik lagi untuk menengok aku?”
Pertanyaan ini diluar dugaan Ho Kie. hingga ia tidak
bisa menjawab. Sesaat lamanya ia berdiri terpaku.
Thian sim Sin-nie mengira anak muda itu masih ingat
perlakuannya yang kurang pantas barusan, maka dengan
tak terasa telah mengucur air mata.
Ho Kie merasa aneh orang tua itu telah mengucurkan air
mata, buru-buru berkata:
“Locianpwee, jangan terlalu bersedih hati. Ho Kie asal
urusan pribadinya selesai pasti akan balik lagi untuk
menengok Locianpwee.”
Mendengar jawaban jang sungguh-sungguh itu, Thiansim
Sin-nie agaknya merasa puas, maka lantas berkata pula
sambil angguk-anggukkan kepala.
“Sudah. kau pergilah! Asal kau sudah berkata demikian,
aku mati juga mataku meram ….”
Sekarang kita balik melihat Go Ya Pa dan Auw-yang
Khia yang menunggn Ho kie dipinggir goa Dengan tanpa
dirasa, dua hari dua malam sudah berlalu, tapi masih belum
kelihatan Ho Kie Keluar dari dalam goa.
Selagi mereka hendak menerjang masuk untuk mendapat
kepastian tentang nasibnya Ho Kie, pada saat itu justru
telah dapat melihat anak muda itu berjalan keluar dari
dalam goa.
Begitu melihat Ho Kie keluar dalam keadaan selamat.
Gouw Ya Pa lantas maju menghampiri dengan lagak seperti
anak kecil.
“Saudara Ho apa kau tidak mendapat halangan?
Mengapa begitu lama kau berada didalam? membuat aku
gelisah. Karena tidak mendapat izinmu. aku tak berani
masuk ke goa. Kini setelah dapat melihat kau, barulah lega
hatiku!”
Ho Kie lantas bercerita pengalamannya didalam goa
kepada kedua kawannya. Auw-yang Khia lalu bertanya:
“Nikouw tua tu adalah seorang yang beradat sangat aneh
luar biasa. Biasanya untuk dapat menemukannya saja
sangat sulit. Bagaimana dia mau memberikan ooat yang
telah berhasil dibuatnya selama seumur hidupnya.”
Ho Kie lantas menjawab sambil menghela napas:
“Auw-yang Cianpwee. kita dulu hanya mendengar saja,
Thian Sim Sin-nie Cianpwee ternyata seorang ketus. Kali
ini aku setelah menemui orang tua itu telah merasa bahwa
dia sebetulnya adalah seorang yang penuh cita rasa. Cuma
oleh karena terpengaruh oleh terjadinya sesuatu perubahan
dalam hidupnya sehingga telah membuat dia merubah
sifatnya demikian rupa.”
“Aih, kalau begitu, kita juga tak boleh salahkan dia.
Memang nasib manusia kadang-kadang dapat merubah
jalan penghidupan dan siapakah yang dapat menduga hari
akhir kita nanti?” kata Auw-yang Khia sambil menghela
napas.
Ho Kie lalu mengalihkan perkataannya kelain soal, ia
berkata kepada Auw-yang Khia dan Gouw Ya Pa,
“Kita sudah hampir tiga bulan lamanya meninggalkan
Cit cie Sin ong Locianpwee. Barangkali ia sudah merasa
kesal menantikan kedatangan kita. Aku pikir, sebaiknya kita
lekas pulang.”
Malam itu juga mereka kepantai, kebetulan saat itu ada
perahu besar yang menunggu muatan
Ho Kie lalu berunding dengan kapten kapal, mereka
segera berangkat keteluk Tin-hay.
Oleh karena tidak ada gangguan angin dan ombak,
perjalanan mereka kali ini sangat lancar, maka belum cukup
satu hari sudah sampai kekota yang dituju.
Dari teluk Tin-hay ini Ho Kie bertiga lantas berjalan kaki
menuiu bukit Sin hong. Belum berapa lama bukit Sin hong
itu sudah kelihatan nyata didepan mereka.
Mendadak sesosok bayangan putih dengan melompat
kilat kelihatan lari turun dari atas bukit Sin hong menuju
kearah datangnya mereka.
Goaw Ya Pa yang pertama-tama dapat melihatnya lantas
berkata: “Apa itu bukannya silelaki palsu Lim Kheng ?”
“Gouw Toako, kau jangan begitu.” sahut Ho Kie,
“Mengapa kau begitu buka mulut lantas mau melukai
orang? Kalau perkataanmu tadi didengar olehnya bukankah
akan menimbulkan keonaran lagi?”
Gouw Ya Pa coba memikir, ia merasa bersalah maka ia
tidak berani menjawab.
Kedua orang itu selagi masih bicara, bayangan putih itu
sudah berada didepan mereka. Ketika melihat sibaju putih
memang benar nona Lim Kheng, bukan main rasa
girangnya Ho Kie, maka ia cepat-cepat bertanya,
“Lim-hiantee. bagaimana kau tahu kalau kami akan
kembali hari ini?”
Lim Kheng segera menyahut: “Siapa yang mengetahui
kalian pulang hari ini. Aku hanya kebetulan saja
menjumpai kalian disini.”
Ho Kie yang mendengar jawaban itu, merasa seolah-olah
kepalanya diguyur air dingin.
Kedengaran Lim Kheng sebetulnya memang hendak
menyambut Ho Kie, tetapi karena melihat Gouw Ya Pa dan
Auw-yang Khia yang juga ada disitu, maka ia merasa malu
untuk mengakui maksud sebenarnya.
Sebaliknya, Gouw Ya Pa yang merasa mendongkol.
lantas nyap-nyap (menggerutu) yang bukan-bukan. hingga
Lim Kheng panas hatinya.
“Tolol ! Siapa suruh kau banyak mulut.” bentaknya.
Gouw Ya Pa tidak mau mengalah. sehingga keduanva
lantas bertengkar dan hampir berkelahi.
Auw-yang Khia yang menyaksikan keadaan demikian,
hanya bisa geleng-gelengkan kepala dan minta supaya Ho
Kie yang memisahkan.
Sebetulnya Ho Kie juga tidak berdaya menghadapi
Gouw Ya Pa, maka hanya bisa memberi nasehat dengan
perkataannya yang layak.
Siapa tahu, Gouw Ya Pa yang biasanya dengar segala
perkataan Ho Kie, kali ini entah apa sebabnya ia tidak mau
mendengar lagi, bahkan ia menganggap Ho Kie mengeloni
Lim Kheng sehingga keadaan jadi semakin runyam.
Auw-yang Khia terpaksa turut campur tangan, dengan
susah payah akhirnya baru bisa meredakan amarah kedua
pihak, Dengan demikian, mereka berempat lalu berjalan
menuju ke bukit Sin hong.
Disana kedatangan mereka sudah dinantikan oleh Cit cie
Sin ong dan Tiauw Goan Taysu.
Setelah memberi hormat kepada mereka, Ho Kie lantas
menceritakan semua pengalamannya.
Cic ki Sin ong yang mendengar penutur- an itu lantas
berkata sambil menghela napas:
“Asmara . . .Manusia karena asmara banyak yang
menjadi rusak dirinya dan namanya. Laki-laki yang
betapapun keras hatinya. juga tidak akan luput dari
cengkramannya. . .”
Kemudian ia berkata kepada Ho kie: “Kelihatannya
kalian semua sudah terlalu lelah, sebaliknya pergi mengaso
dulu, sebentar kita berunding lagi.”
Ho Kie bertiga lalu masuk kekamar belakang untuk
beristirahat.
Esok harinya. pagi-pagi sekali Ho Kie sudah menemui
Cit cie Sin ong dan Tiauw Goan Taysu diruang depan.
Tidak lama kemudian Auw Yang Khia, Gouw Ya Pa
dan Lim Kheng juga pada datang saling susul.
Cit cie Sin-ong setelah mengawasi semua orang dengan
matanya yang tajam lalu berkata: “Lohu telah mendengar
kabar bahwa pengaruhnya Hian kui kauw makin lama
makin besar. Banyak orang kuat yang ditarik olehnya.
Sebetulnya bukan orang kuat sembarangan dari dunia Kang
Ouw yang dapat ditandingi. Bukan Lohu hendak
mengecilkan artinya kekuatan diri sendiri menurut
kemampuan kita dewasa ini. kalau hendak menggempur
Hian kui kauw. sebetulnya seperti telur membentur batu
dan akan mengantarkan jiwa dengan secara cuma-cuma.”
Ho Kie tidak menantikan Cit-cie Sin ong berkata habis
sudah lantas berbangkit dan berkata:
“Locianpwee, meskipun boanpwee tahu benar tidak
mampu menandingi Cian tok Jit-mo, tetapi setiap kali
boanpwee teringat kematian ayah, dan delapan ketua partay
besar yang binasa ditangan mereka, boanpwee merasa
sangat gemas dan ingin segera menuntut balas bagi
mereka.”
Setelah mengatakan demikian. air matanya mengalir
bercucuran.
Cit cie Sin ong lalu berkata sambil menghela napas.
“Barusan ucapan lohu masih belum habis, Lohu
bukannya hendak merintangi pergi menuntut balas pada
Hian kui kauw, lohu hanya menganggap bahwa soal ini
sangat penting. Kita harus rundingkan baik-baik supaya
gerakan kita kali ini nanti jangan sampai gagal.”
“Kali ini menuntut balas kelembah Kui kok, boanpwee
tidak ingin merembet-rembet orang lain lagi. Dulu karena
soal ini telah mengakibatkan binasanya delapan ciangbunjin
dari partai besar. boanpwee merasa tidak enak terhadap
sembilan partai besar itu, maka kalau boanpwee ingin
menuntut balas seorang diri saja kelembah Kui kok.”
Lim Kheng yang berdiri disamping lantas berkata.
“Ho Kie. kau sudah gila? Apakah kau hendak antarkan
jiwa secara cumu-cuma?”
Ho Kie mengawasi Lim Kheng dengan matanya yang
guram, lalu menjawab dengan suara duka:
“Ho Kie masih belum ingat mati, cuma Ho Kie tidak
ingin merembet-rembet diri orang lain. Sekalipun lembah
Kui kok merupakan sarang macan dan sarang naga Ho Kie
juga akan menyerbunya.”
Tiauw Goan Taysu lantas berkata.
“Ho Kie, harap kau suka sedikit tenang. Soal ini bukan
hanya menyangkut dirimu seorang saja, tetapi juga ada
hubungannya dengan keselamatannya seluruh orang-orang
rimba persilatan, terutama kami dari sembilan partai besar
yang sudah mempunyai permusuhan yang begitu dalam
terhadap Hian kui-kauw. Sekalipun orang lain hendak peluk
tangan tetapi bagi kami, Siao-lim pay. tidak gampang
menghapuskan permusuhan begitu saja. Kalau kau berbuat
tanpa perhitungan, bukankah seperti apa yang dimaksudkan
dengan Cit cie Locianpwee tadi, bahwa perbuatanmu ini
seperti juga telur membentur batu?”
Auw-yang Khia lantas turut berkata juga:
“Aku sipencuri sakti ada satu akal tetapi entah boleh
dijalankan atau tidak?”
“Coba kau sebutkan. Nanti kita pelajari bersama-sama,”
jawab Tiauw Goan Taysu.
“Maksudku ialah kalau menurut pendapat Ho Siaohiap
hendak membiarkan dirinya dengan sendirian menyerbu
kelembah Kui kok, ini sesungguhnya memang sangat
berbahaya dan selali-kali jangan sampai dilakukan. Tetapi
kelihatannya dia tidak bolen tidak pergi. maka disini aku
ada mempunyai satu akal yang rasanya cukup sempurna,
tetapi terpaksa harus minta pertolongan Tiauw Goan Taysu
untuk capaikan hati mengundang orang-orang kuat dari
sembilan partai supaya semua berkumpul dibukit Sin hong
ini Untuk sementara, Ho Siaohiap boleh tinggal disini,
belajar kepandaian ilmu yang tertera dalam Hian-kui pit kip
kepada Cit cie Locianpwe. Setelah orang-orang yang
diundang oleh Tiauw Goan Locianpwee itu semua datang
berkumpul kepandaian yang dipelajari oleh Ho Siaohiap
juga mungkin sudah berhasil, saat itulah baru nanti kita
pergi bersama-sama. Bagaimana kalian pikir rencanaku
ini?”
“Caramu itu cocok benar dengan pikiranku.”
Cit cie Sin ong berkata, “Baiklah, begitu saja kita atur,” ia
lalu menoleh dan berkata kepada Tiaow Goan Taysu,
“Pikiran Taysu bagaimana? Kalau setuju harap Taysu
suka capaikan hati sedikit.”
Tiauw Goan Taysu juga menyetujui pikiran itu, maka ia
lantas berbangkit dan berkata kepada semua orang.
“Selambat-lambatnya satu bulan dan secepat-cepatnya
dua puluh hari lolap akan balik lagi kesini beserta orang-orang
kuat dari berbagai partai, sekarang Lolap hendak
minta diri dulu.”
Dan saat itu juga ia lantas meninggalkan ruangan untuk
berlalu melakukan tugasnya.
Ho Kie juga sejak hari itu dibawah pengunjukan Cit cie
Sin ong setiap hari sampai malam bertekun menyakinkan
ilmu kepandaian yang terdapat dalam Hian kui kip jilid
pertama.
Dalam Hian kui pit kip jilid pertama itu ada satu tipu
serangan yang dinamakan San Pek Tui hun ciang. Ini
adalah tipu serangan dengan tangan kosong yang hanya
terdiri dari tiga jurus, tetapi setiap jurusnya mengandung
rupa-rupa tipu yang sangat luar biasa hebatnya dan setiap
jurus juga mempunyai rupa-rupa perubahan.
Mula-mula belajar, memang Ho Kie menemukan
beberapa kesulitan, tetapi ia seorang yang cerdik, ditambah
lagi dengan pengunjukan yang cermat dari Cit cie Sin ong
maka dalam waktu beberapa hari saja ia sudah berhasil
mempelajari ilmu serangan yang sangat hebat itu, selain
dari pada itu, semua pelajaran yang terdapat dalam Hian
kui pit kip jilid pertama itu juga selama beberapa puluh hari
itu sudah dapat dipelajari seluruhnya dengan baik.
Pada suatu hari, Tiauw Goan Taysu telah kembali
bersama para ketua delapan partai besar yang
menggantikan ketua lama mereka yang telah binasa.
Cit cie Sin ong telah mengajak para tetamunya
berkumpul disebuah ruangan besar. lalu menuturkan
maksud dikumpulkannya orang-orang kuat dari berbagai
partai besar itu, ialah hendak diajak bersama-sama
menumpas Hian kui kauw yang semakin lama hidupnya
merupakan bencana bagi rimba persilatan.
Pengganti ketua dari partai Kun lun pay Leng Hie
Totiang lantas berbangkit dan berkata:
“Hian kui kauw sangat ganas dan bermaksud hendak
menguasai dunia Kangouw sudah diketahui oleh semua
orang rimba persilatan maka setiap orang boleh
membinasakan pada mereka. Jangan kata Cit cie sicu
mengajak kami, sekalipun tidak diajak juga kami tentu akan
pergi kelembah Kui kok untuk menuntut balas atas
kematian Ciangbunjin kami yang lalu.”
Para ketua partai lainnya juga semuanya menyatakan
setuju atas ucapan ketua partai Kun lun pay ini dan ingin
segera pergi kelembah Kui kok.
Maka oleh Cit cie Sin ong ditetapkan bahwa besok pagi-pagi
akan berangkat kelembah Kui-kok.
Keesokan paginya, Cit cie Sin-ong lantas mengusulkan
supaya orang itu dibagi menjadi dua rombongan.
Tiauw Goan Taysu bersama delapan ketua partay besar
dalam rombongan yang menyusul dari belakang lembah
untuk menyerepi keadaan Hian kui kauw. Jika belum
mendapat tanda dari orang-orang dari sebelah depan, tidak
boleh bergerak.
Ho Kie. Gouw Ya Pa, Auw Yang Khia dan Lim Kheng
dibawah pimpinan Cit cie Sin ong sendiri masuk dari
lembah depan.
Ho Kie ditugaskan yang keluar menantang perang.
Setelah pertempuran terjadi, lalu dengan api sebagai tanda
akan memberitahukan kepada rombongan Tiauw Goan
Taysu. dengnn demikian lembah kui kok akan diserbu diri
dua jurusan dengan berbareng.
Demikian rombongan orang-orang kuat dalam waktu
beberapa jam saja sudah tidak jauh terpisahnya dari lembah
Kui kok.
Sekarang kita ajak pembaca menengok keadaannya Hian
kui kauw.
Sejak mereka berhasil menbinasakan ketua dari delapan
partai mereka telah mengatur penjagaan sangat kuat untuk
menjaga pembalasan dari delapan partai besar itu. maka
kedatangan mereka untuk kedua kalinya ini bukan
merupakan soal luar biasa.
Tidak heran kalau kedatangan Cit cie Sin ong dan
kawan-kawannya sudah disambut oleh orang-orang Hian
kui kauw dalam keadaan siap,
Si tangan geledek Bo Pin dengan memimpin para
Tongcu yang lainnya, berdiri diatas bukit kira-kira sepuluh
tumbak jauhnya dari mulut lembah.
Ketika melihat kedatangan orang-orang yang dipimpin
oleh Cit cie Sin ong sendiri. lantas maju menghampiri dan
berkata sambil memberi hormat:
“Hian kui kauw ada mempunyai kebijaksanaannya
sampai mendapat kunjungan Cit cie Locianpwee, Bo Pin
sekalian belum menyambut kedatangan Locianpwee
sekalian hanya mewakili Kauwcu minta maaf sebesar-besarnya.”
Orang she Bo ini meskipun mulutnya berkata, tapi
sepasang matanya terus mengawasi orang2 kaucu dengan
bergiliran. Maka diam2 ia merasa begitu aneh, mengapa
orang tua ini hanya membawa beberapa gelintir bocah cilik,
mengapa tak kelihatan bayangan orang-orang dari sembilan
partai besar?
Tapi siorang she Bo ini seorang yang sangat lihay, setelah
berpikir sejenak, ia lalu mengambil keputusan dengan diam-diam.
Karena ia adalah seorang yang sangat licin, meski dihati
heran, tapi diluarnya tidak menunjukkan perubahan,
bahkan masih ber-kata2 manis terhadap Cit cie Sin ong.
Gouw Ya Pa yang berdiri di samping nyeletuk:
“Bo Pin, kau tak perlu jual lagak, kedatangan kami ini
hendak ambil batok kepalamu. Kematian sudah
didepanmu, perlu apa pura2 tak tahu?”
Dengan sorot matanya yang tajam dan dingin, Bo Pin
mengawasi Gouw Ya Pa sejenak tapi ia tidak berubah sikap
apa-apa, ia hanya memberi isyarat kepada Hui tun Thian
cun, yang berdiri disamping.
Hui tun Thian cun lantas lompat maju dan berkata
sambil tertawa dingin:
“Kui kok ada tempat apa? Apa kira orang macam kau ini
boleh bertingkah? Aku siorang she Cek hendak memberi
hajaran pada orang goblok seperti kau ini.”
Gouw Ya Pa yang dimaki-maki sebagai orang goblok,
darahnya naik seketika, ia lalu mencabut senjatanya pecut
yang khusus dibuat oleh Cit cie Sin ong, dengan tanpa
banyak rewel lantas menghajar kepala orang she Cek itu.
Serangan Gouw Ya Pa itu tidak memakai peraturan lagi
ia merasa senjata ganas, sebab hatinya sudah merasa panas
terhadap orang Hian kui kauw.
Sebagai seorang Kang-ouw kawakan, Cek Kong Han.
atas segala tingkah laku Gouw Ya Pa, ia hanya berkelit
kesana kemari untuk menghindarkan serangan pecutnya.
dan setelah dapat kesempatan baik, ia lalu meluncurkan
senjata perisai ditangan kanannya menyodok pundak kiri
GouW Ya Pa.
Gouw Ya Pa keluarkan seruan tertahan, badannya
mundur sempoyongan sampai beberapa tindak, akhirnya
jatuh ditanah.
Hui tun Thian cun Cek Kong Han yang sangat ganas,
segera lompat maju hendak menghabiskan jiwa Gouw Ya
Pa.
Ho Kie yang menyaksikan dari samping lantas mengirim
satu serangan yang amat dahsyat. Karena tujuannya hendak
menolong jiwa sahabatnya, maka serangannya itu ditujukan
kedada siorang she Cek.
Bo Pin terlambat memperingatkan kawannya, sebab
serangan Ho Kie sudah bersarang didada Cek Kong Han,
sehingga orang she Cek itu badannya lantas terpental satu
tumbak jauhnya, kemudian jatuh ditanah untuk tidak
bangun lagi.
Gouw Ya Pa ternyata tak terluka, ketika ia merayap
bangun. ia telah menyaksikan bahwa musuhnya sudah
binasa ditangan Ho Kie. Maka ia lantas berseru:
“Saudara Ho, tindakanmu sangat tepat, mari kita maju!”
Pada saat itu, seorang yang berwajah mirip dengan setan,
tiba-tiba sudah muncul didepan Ho Kie.
Ho Kie mengawasi manusia seperti setan itu sejenak, lalu
berkata;
“Orang-orang Hian kui kauw dengar hari ini Siaoya
menyerbu kelembah Kui-kok untuk kedua kalinya, hanya
ditujukan kepada Cian tok Jin-mo dan Bo Pin berdua. Aku
tidak akan membunuh orang2 yang tidak berdosa, maka
siapa yang kenal gelagat harap lekas keluar dari Hian kui
kauw. Mungkin aku dapat mengampuni jiwa kalian. Tapi
jika masih tetap kepala batu, saat itu nanti jangan sesalkan
aku siorang she Ho kalau berlaku keterlaluan!”
Siang Hong Siang yang mendengar perkataan Ho Kie,
lantas membentak:
“Bocah sombong, jangan kau agulkan diri, mari rasakan
tumbak yayamu!”
Ho Kie melihat datangnya serangan yang begitu ganas,
buru-buru berkelit kesisi.
Siang ketika nampak serangannya mengenakan tempat
kosong, lalu maju lagi setindak, kemudian ia putar
senjatanya, sehingga Ho Kie terkurung dalam putaran
senjata tombaknya.
Tapi Ho Kie dengan tenang-tenang saja melayani dengan
ilmunya Hoan ing Sie sek, bukan saja sudah dapat
menyingkirkan serangannya Siang Hong Siang, bahkan
sudah berhasil mengirim sekali serangan tangannya yang
dahsyat.
Siang Hong Siang yang tidak berhasil menyenggol diri
Ho Kie, lantas menjali kalap serangannya.
Ho Kie yang menampak Siang Hong Siang sudah seperti
binatang terluka, lalu mengerti bahwa orang she Siang ini
tidak mau diberi pengertian begitu saja, maka ia lancarkan
serangan dahsyat.
Badan Siang Hong Siang melesat tinggi sambil menjerit,
darah berceceran sepanjang jalan.
Kiranya setelah lengan Siang Hong Siang sudah
terkutung oleh serangan Ho Kie tadi. Cit cie Sin ong tahu
bahwa pertempuran sudah dimulai. maka buru-buru bisiki
Auw-yang Khia, supaya menyalakan api pertandaan untuk
memberi tanda kepada rombongan yang dipimpin oleh
Tiauw Goan Taysu, agar segera bergerak,
Bo Pin menyaksikan Auw Yang Khia rmenyalakan api,
lantas mengetahui bahwa gelagat tidak baik, maka buru2
suruh beberapa Tongcu pergi kelembah belakang disamping
itu ia mengirimkan orang untuk melaporkan kepada
Kauwcunya.
MENAMPAK dalam waktu sekejap saja sudah
membikin luka dua musuh2nya, Ho Kie semangatnya
makin meluap-luap.
Pada saat itu, mendadak terdengar suara orang ketawa
dingin, kemudian disusul oleh sesosok bayangan orang
yang segera berdiri di depan Ho Kie.
Ketika Ho Kie mengawasi. ternyata dia adalah musuh
besarnya Bo Pin !
Seketika itu juga darah Ho Kie lantas mendidih sambil
kertak gigi dan mata mendelik ia berkata:
“Bo Pin. ayahku dengan kau mempunyai permusuhan
apa? Mengapa kau dengan menggunakan pengaruh Jie Hui
telah membinasakan ayahku ? Karena perbutanmu itu maka
hari ini aku datang hendak menagih hutang!”
“Bocah yang tidak tahu diri. Tempo hari aku sudah
mengampuni jiwamu. juga karena peruntunganmu yang
bagus sehingga kau tidak binasa. Hari ini rupanya kau
datang untuk mengantarkan jiwa. Apa boleh buat aku
terpaksa membantu keinginanmu.”
Sehabis berkata demikian, dengan gerakannya yang
cepat luar biasa ia sudah menyerang Ho Kie.
Serangannya itu kelihatannya sangat bernapsu, agaknya
ingin sekali pukul saja sudah dapat membinasakan musuh.
Ho Kie yang datang dengan tekad yang bulat serta
dengan persiapan yang cermat maka sebelum menghadangi
Bo Pin, ia sudah menelan obat pil yang diberikan oleh
Thian Sim Sin-nie, begitu ia melihat Bo Pin menjerang
dengan sengaja ia hendak memperlihatkan kelihayannya
dihadapan Bo Pin. Ia tidak menyingkir atau berkelit, hanya
mengibaskan tangan kirinya untuk menghalaukan sebagian
tenaga lawannya dan dengan tangan kanannya ia
menyambuti serangan Bo Pin.
Bo Pin yang melihat Ho Kie tetap berdiri ditempatnya,
diam-diam merasa girang. ia lalu menambah kekuatannya.
Ketika kekuatan kedua pihak beradu Ho Kie merasakan
lengan kanannya kesemutan, ia mundur tiga tindak baru
bisa berdiri tegak.
Tetapi keadaan Bo Pin sungguh mengenaskan, ia telah
terpental mundur sepuluh tindak lebih oleh kekuatan Ho
Kie, dadanya dirasakan bergolak, hampir saja muntah
darah, hampir tidak percaya hanya dalam beberapa bulan
saja kekuatan Ho Kie sudah bertambah demikian pesatnya.
Sebagai seorang Kang-ouw kawakan sekalipun hatinya
tidak percaya. tetapi ia tidak berani memandang ringan lagi
pada lawannya itu.
Ia lantas kertak gigi dan memusatkan seluruh
kekuatannya, setindak demi setindak ia maju menghampiri
Ho Kie lagi.
Ho Kie juga mengerahkan seluruh kekuatannya.ia
memandang segenap gerakan musuhnya, dengan penuh
perhatian.
Secara diam-diam Bo Pin sudah mengerahkan ilmu Hu
sie hiat kut ciang pada kedua tangannya. Ketika ia
melancarkan serangannya, sambaran angin yang keluar dari
tangannya itu mengandung bau busuk dan semua rumput
dan daun-daun pohon yang kena diterjang sambaran angin
itu telah berubah menjadi hitam.
Tetapi Ho Kie yang sudah mengisap obat pemberian
Thian sim Sin-nie, ternyata masih berdiri tegak tidak
mengalami perubahan apa-apa.
Kemudian dengan mendadak Ho Kie membentak keras,
tangan kanannya diputar mengirim satu serangan yang
dahsyat kearah Bo pin.
Pertempuran berlangsung dengan sengit, kelihatannya
kekuatan kedua pihak seimbang. Bo Pin tidak akan
menyangka bahwa bocah kemarin sore itu ternyata
merupakan tandingannya yang amat kuat, maka dengan
tidak ayal lagi ia mengeluarkan serangannya yang paling
ampuh, sebentar saja pertempuran sudah berjalan beberapa
puluh jurus lamanya.
Ho Kie memberikan lawannya terus beraksi setelah
serangan ber-tubi2 itu sudah agak reda, barulah ia
mengeluarkan ilmu serangan Tay liek kim kong ciang yang
terdapat dalam kitab Hian kui kip.
Dengan kecepatan sangat luar biasa Ho Kie sekaligus
sudah melancarkan tiga kali serangannya
Serangannya makin lama semakin hebat.
Semula Bo Pin masih kelihatan berimbang kekuatannya,
tetapi serangannya yang dilancarkan bertubi-tubi itu tidak
berdaya menggerakkan musuhnya, hatinya mulai ciut, perlahan2
ia mulai keteter.
Tan Liang yang berdiri disamping sebagai penonton
telah dapat menyaksikan seluruh pertempuran itu dengan
tegas maka lantas berseru;
“Bo Tongcu, aku Tan Liang mesti bantu kau!”
Sambil menenteng golok Kayto ini orang she Tan itu
sudah menyerbu kedalam kalangan.
Auw-yang Khia yang menyaksiksn perbuatan Tan Liang
itu lantas menggeram.
“Toako. kalau kau merasa gembira, aku Auw-yang Khia
nanti menemani kau !”
Ia lalu mengeluarkan senjatanya untuk melayani Tan
Liang.
Tio Go dan dan Cian Su dari pihaknja Hian kui kauw
yang turut menyerbu lantas sudah disambut oleh Gouw Ya
Pa dan Lim Kheng.
Hanya Cit cie Sin ong yang kelihatan dari penonton.
Sekarang kita tengok Tiauw Goan Taysu dengan
rombongannya yang masuk dari bagian belakang lembah.
Kedatangan mereka itu telah disambut oleh Siok lek Ong
hoa Cie dan Siang Seng serta orang2 kuat lainnya.
Siang Seng adalah orang yang pertama bertempur
dengan It Sin Tojin. ketua Hoa san pay yang baru. Kedua
orang itu kelihatannva sama-sama kekuatannya sehingga
pertempuran berlangsung dengan amat sengitnya.
Sedangkan ketua dari Thiam cong pay, Tio Thian Kui
yang mendapatkan musuh Si ek tek ternyata kelihatannva
agak unggul sehingga Si ek tek tidak berdaya. ia hanya bisa
melawan sambil mundur, napasnya senin kemis, badan
berkeringat.
It Hie Totiang dari Ceng shia pay dan Leng Hie Totiang
dari Kan lun pay berdua mengerubuti Ong Hoa Cie.
Belum sampai sepuluh jurus, Ong Hoa Cie napasnya
sudah senin kemis juga.
Orang-orang kuat Hian kui kauw lainnya telah disambut
oleh para ketua dari Kiong-lay pay, Bu tong pay dan Khong
tong pay hingga pertempuran kelihatannya kalut.
Karena jumlah orang-orang Hian kui-kauw lebih banyak
maka mereka bisa bertempur bergiliran. Tapi pihak
sembilan partai yang sudah diliputi perasaan dendam.
Maka selama pertempuran berlangsung suara jeritan korban
terdengar dimana-mana, korban tangan para ketua partai
itu.
Pertempuran belum lagi berlangsung satu jam, pihak
Hian kui kauw sudah separuh lebih yang binasa atau
terluka, tetapi orang-orang Hian kui kauw terus menerus
mendapat bala bantuan, maka para ketua dari sembilan
partai itu dengan terpaksa berlaku seperti kerbau gila,
membunuh setiap orang. Sebentar saja lembah Kui-kok
merupakan tempat jagal manusia, bangkai berserakan
dimana-mana.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.
“Anjing! Kau bendak lari kemana? Serahkan jiwamu!”
Tiauw Goan Taysu terkejut mendengar suara bentakan
tadi, ketika ia menengok, ia melihat Bo Pin dengan rambut
riap-riap dan pakaian compang camping serta badan yang
penuh dengan darah telah lari kepihaknya seperti anjing
kena pukul. Ho Kie mengejar sambil berseru pada Tiauw
Goan Taysu:
“Harap Taysu tolong pegat anjing buduk itu. Jangan
kasih dia lolos!”
Tiauw Goan Taysu lantas mengangkat tangannya
merintangi kaburnya Bo Pin.
Kiranya Ho Kie dan rombongan Cit Cie Sin ong
dibagian depan, dalam pertempuran sengit telah
membinasakan beberapa tongcu. Bo Pin sendiri telah
terluka parah karena merasa tidak sanggup melawan
musuhnya, maka ia hendak kabur.
Dalam keadaan tergesa-gesa ia lari sekenanya dan
akhirnya terjatuh ditangan rombongan Tiauw Goan Taysu.
Bo Pin yang mengetahui dirinya sudah terkurung, lantas
menghela napas panjang, kemudian mengayunkan
tangannya menghajar batok kepalanya sendiri sehingga
kepalanya hancur berantakan dan mati seketika.
Ho Kie lantas mengambil kepala Bo Pin kemudian
berlutut dan berdoa kepada arwah ayahnya.
Pada saat itu mendadak terdengar suara orang dengan
bentakannya yang menyeramkan:
“Semua berhenti!”
Suara itu tidak keras, tetapi semua orang yang berada
disitu terkejut, dengan tidak terasa semua menghentikan
gerakannya.
Ketika semua mata ditujukan kepada orang yang baru
datang itu, semua orang pada berubah wajahnya. Kiranya
orang itu adalah Cian tok Jie-mo sendiri.
Orang itu dengan mata yang tajam mengawasi semua
orang sejenak, lalu perdengarkan suara ketawanya yang bisa
membuat bulu roma berdiri. Sesudah itu dengan tindakan
perlahan ia menghampiri Tiauw Goan Taysu, lalu berkata
sambil angkat tangan menyoja memberi hormat:
“Jie Hui cuma ada seorang kasar. Kalau Jie Hui berani
mendirikan perkumpnlan Hian kui kauw ini, maksudnya
hanya ingin mencari tempat meneduh dikalangan
masyarakat ini. Tuan-tuan semua merupakan orang-orang
dari golongan orang baik-baik serta beribadat tinggi,
mengapa berkali-kali menyatroni lembah Kui kok dan
membinasakan anak muridku. Jie Hui meskipun
merupakan orang yang tidak berguna, tetapi ingin minta
keadilan dari tuan-tuan. Kalau tidak, jangan harap satu pun
bisa keluar dari lembah Kui kok ini!”
Sebelum ada orang yang menjawab, tiba2 terdengar
suara orang ketawa, yang kemudian disusul oleh
munculnya sesosok bayangan orang yang berdiri beberapa
tindak jauhnya didepan Jie Hui, orang itu berkata:
“Benar saja Tidak kecewa kau sebagai Kauwcu dari
suatu perkumpulan. Barusan ucapanmu yang kau katakan,
aku si orang tua yang mendengarkannya juga merasa sangat
kagum. Cuma aku si orang tua juga ingin mengajukan
beberapa pertanyaan harap Kaucu suka menjawab terlebih
dahulu.”
Sehabis berkata orang tua itu lalu tertawa pula.
Cian tok Jin mo yang mendengar itu semula merasa
sangat heran, tetapi kemudian pikirannya tenang kembali.
Setelah mengetahui siapa adanya orang yang baru datang
ini, diam-diam juga ia merasa kaget.
Ia lalu membungkukan badan sambil menjawab:
“Cit cie Locianpwee, mengapa tidak menikmati
kesenangan dipuncak bukit Sin-hong? Ada urusan apakah
yang menuntun Locianpwee datang ke lembah Kui kok ini?
Harap Cianpwee suka maafkan yang Jie Houi tidak
menyambuti dari jauh.”
Cit cie Sin ong lantas menjawab sambil ketawa.
“Kauwcu tidak perlu merendahkan diri. Lohu hanya
ingin bertanya sedikit urusan. harap Kauwcu suka
memberikan sedikit petunjukmu.”
“Cianpwe hendak menanyakan apa? Silahkan. Kalau Jie
Hui mengetahui. tentu Jie Hui akan memberikan jawaban
sepuasnya.”
“Ada tiga hal yang lohu tidak habis mengerti, Pertama,
beberapa tahun berselang, salah satu tongcu dari
perkumpulan yang bernama Ho In Bo, apa sebabnya
Kauwcu membinasakan dia?”
“Ho In Bo itu sebetulnya adalah seorang penghianat dari
perkumpulan kami, sudah seharusnya mendapatkan
kematian. Mengapa cianpwe menyebutkan orang itu?”
“Sungguh bagus ucapanmu itu. Kalau Ho In Bo adalah
seorang penghianat dari perkumpulanmu, memang
seharusnya dihukum mati, tetapi anaknya Ho In Bo ini
yang kala itu belum dewasa apa dosanya terhadap
perkumpulamu? Mengapa kau juga hendak
membinasakannya sekarang Lohu ingin tahu. Aii, ketika
anaknya Ho In Bo terkurung dilembah Kui kok, para ketua
dari sembilan partai yang hendak menolong diri bocah itu
telah kau binasakan delapan diantaranya. kalau kau tadi
minta keadilan dari mereka. apakah kau sendiri juga tidak
harus memberikan keadilan kepada mereka?”
Cian tok Jin-mo Jie Hui yang mendapat teguran
demikian wajahnya merah padam, akhirnya cuma bisa
menjawab secara serampangan.
“Anaknya Ho In Bo telah mencuri barang pusaka
perkumpulan kami, sudah tentu kami hendak minta
kemhali. tidak bermaksud untuk membinasakan jiwanya.
sementara mengenai urusan para ketua dari sembilan partai
mereka tidak memandang mata pada perkumpulan kami
maksud mereka ialah hendak membasmi perkumpulan
kami, sehingga berkali-kali menyetroni tempat ini. Kalau
delapan orang ketua itu binasa ditempat kami itu adalah
karena kepandaian mereka yang pangpak (rendah)
bagaimana bisa menyalahkan aku siorang she Jie?”
It Siu Totiang dari Hoa-san pay mendengar jawaban
yang melantur itu harus maju kedepan Jie Hui dan
membentak dengan suara gusar.
“Manusa tidak tahu malu! Kembalikan jiwa suhengku!!”
Ia lalu menyerang dengan pedangnya sampai tiga kali.
Cian tok Jin-mo ketawa, entah dengan cara bagaimana ia
bergerak. hanya terlihat pundaknya saja sedikit bergerak. ia
sudah berhasil memusnahkan serangan It Siu yang hebat
itu, kemudian ia membalas menyerang dengan tangan
kosong
Mendadak It Siu Totiang mencium bau yang amis
menusuk hidung dalam kagetnya cepat-cepat ia melesat
keatas,
Tetapi baru saja ia lompat kira-kira tiga kaki, bau amis
itu seperti memenuhi dadanya maka dengan tidak ampun
lagi It Siu Totiang lantas rubuh ditanah.
Jie Hui ketawa girang, selagi hendak mengajukan
tangannya lagi tiba-tiba seorang lompat menghadang
dihadapannya sambil berkata, “pinto ingin melayani
kauwcu beberapa jurus saja.” kemudian kebutannya
digerakan menuju jalan darah kiun kin-hiat.
Imam itu adalah Leng Hie Totiang dari Kun lun pay.
Jie Hui memandang padanya dengan sorot mata dingin,
kemudian berkata sambil ketawa hambar:
“Aku kira siapa, tidak tahunva cuma satu manusia yang
tidak berguna. Baiklah Kauwcu nanti akan membantu kau.”
Belum habis ucapan Jie Hui itu, tangannya sudah
bergerak dengan kecepatan luar biasa, dengan jari kukunya
yang tajam itu menyambar pinggangnya Leng Hie Totiang.
Belum sempat Leng Hie Totiang memutar tubuhnya.
pinggang kirinya dirasakan sakit sehingga sempoyongan
beberapa tindak kebelakang, dadanya dirasakan bergolak,
muluynya lantas menyemburkan darah.
Belum turun tangan Jie Hui dengan mudah telah dapat
melukai dua orang kuat. Selagi masih merasa bangga,
sesosok bayangan orang telah berkelebat didepan matanya
sembari keluarkan bentakannya yang keras,
“Cian tok Jin-mo serahkan jiwamu!”
Orang itu ternyata bakan lain adalah si jago muda Ho
Kie sendiri. Dengan mata mendelik dan gigi bercatrukan
Ho Kie mengawasi Cian tok Jin-mo dengan tidak berkedip.
Begitu pun keadaan Cian tok Jin-mo.
Kedua-duanya saling pandang dengan mata beringas.
siapapun tidak berani mulai turun tangan secara
sembarangan.
Setelah berhadapan beberapa menit lamanya kedua
musuh besar itu lalu mulai bergebrak.
Sementara suara keras dari beradunya kekuatan kedua
pihak telah terdengar nyaring, masing-masing telah
terpental mundur.
Cian tok Jin-mo mundur tiga tindak baru bisa berdiri
tegak dadanya dirasakan sakit, hampir saja ia tidak tahan.
Sedangkan Ho Kie terpental tujuh atau delapan tindak,
mulutnya mengeluarkan darah segar. Cepat-cepat ia
mengeluarkan obat pemberian Thian sim Sin-nie dan
dimamah dalam mulut.
Semua orang yang menonton tidak dapat melihat dengan
tegas, dengan cara bagaimana mereka berdua bertempur.
Setelah Ho Kie menenangkan pikiran lantas lompat maju
lagi.
Tetapi tidak demikian halya dengan Cian tok Jin-mo.
Orang tua itu berpikir keras, ‘Bocah ini beberapa hari tidak
kulihat, mengapa kekuatan tenaga dalamnya bertambah
begitu pesat?’
Serangannya Ho sie biat kut ciang ternyata tidak dapat
melukai padanya. Benar-benar sangat mengherankan.
Ketika ia melihat Ho Kie maju lagi, ia tidak berani
berlaku ayal.
Dengan tidak banyak bicara Ho Kie lantas melancarkan
ilmu Sam Pek Tui bun yang baru didapatkan dari Cie cie
Sin ong, Dengan sekaligus ia melancarkan tiga kali
serangan.
Baru saja Jie hui hendak balas menyerang mendadak ia
merasakan suatu kekuatan yang hebat secepat kilat telah
menghantam dirinya.
Jie Hui terkejut ia hendak menyingkirkan diri, tetapi
sudah terlambat, maka terpaksa sambil kertak gigi ia
menyambuti serangan tersebut.
Mendadak terdengar suara amat nyaring sampai
menggetarkan tempat sekitar satu tormbak dan sebetar
kemudian dalam kalangan pertempuran itu telah terjadi
kekacauan hebat!
Kiranya Cian-tok Jien Mo yang mendapat serangan Ho
Kie dengan sekaligus melancarkan tiga jurus, telah terpental
dua tumbak jauhnya dan lantas jatuh mendekam ditanah.
Didekatnya kelihatannya darah berceceran terang
Kwaucu itu sudah terluka didalamnya oleh karena serangan
Ho Kie tadi.
Gouw Ya Pa yang menyaksikan itu lantas lari
menghampiri leher Jie Hui sehingga kepala Cian tok Jien
Mo kutung seketika itu juga.
Melihat Cian tok Jien Mo binasa anak murid Hian kui
kauw lantas menerjang seperti kerbau gila.
Ho Kie dan kawan-kawannya terpaksa harus melawan
sehingga terjadi lagi pertempuran kalut.
Tidak sampai setengah jam kemudian orang-orang Hian
kui kauw itu sebagian besar telah binasa. Siapa yang masih
hidup terpaksa melarikan diri serabutan.
Selagi pertempuran sudah hendak siap, sesosok
bayangan manusia telah melayang dihadapan Ho Kie yang
berkata sambil ketawa,
“Bocah yang masih muda begini mengapa melakukan
pembunuhan besar-besaran? Sudahlah, Berhenti saja,”
Ketika Ho Kie mendongak, baru diketahui bahwa orang
itu adalah si Nelayan Empat Penjuru Lautan maka ia lantas
berseru:
“Loeianpwee, kau. . . .”
“Tidak usah. tahukah kau pelajaran kaum buddha?
Sudahlah! Hentikan pertempuran.”
Saat itu Cit cie Sin ong juga sudah menghampiri lalu
berkata sambil tertawa:
“Aku kira siapa, kiranya adalah kau nelayan tua bangka
yang belum mati ini, angin apa yang membawa kau kemari
?”
“Aku belum tanya, kau, sebaliknya kau sudah menanya
aku, sebetulnya aku hendak kebukit Sin hong hendak
melihat kau, Tidak nyana sudah terlambat dan kau sudah
datang kelembah Kui kok ini, maka terpaksa aku menyusul
kau kemari, Kau memimpin banyak orang dan merusak
rumah tangga orang. Apakah kau juga tega hati?”
“Jo ! Sejak kapan kau menganut agama Buddha?
Mengapa hatimu menjadi begini welas asih? Kalau kau si
tua bangka ini datang yang lebih siang sedikit saja. Lembah
Kui-kok ini barangkali tidak ada sejengkal tanah yang
masih utuh.”
Kedua orang tua itu berkelekar sambil ketawa bergelak-gelak.
Pada saat itu hari sudah mulai malam. Tiauw Goan
Taysu dengan para ketua partai lain-lainnya sudah pada
berlalu.
Cit cie Sin ong juga mengajak Ho Kie dan lain-lainnya
balik kembali ke Sim hong.
“Celaka ! Hampir saja aku lupa !” Mendadak Ho Kie
berseru. Tanpa penjelasan persoalannya, ia lantas lari
menuju ke pusat Hian kui kauw.
Semua orang yang tidak mengerti terpaksa mengikuti
saja dibelakangnya.
Setibanya Ho Kie ditempat pusat perkumpulan itu,
kelihatannya tengah mencari apa-apa. Tidak lama
kemudian ia lantas lari kebagian taman dan berhenti
didepan sebuah kamar batu.
Kamar batu itu tertutup dengan pintu besi yang terkunci
secara istimewa, sekitarnya tertutup rapat. hanya ada
sebuah lubang kecil yang digunakan untuk memasukkan
barang makanan.
Ho Kie kelihatannya sangat gelisah, merasa tidak
ungkulan membuka pintu besi itu, tapi ia coba menggempur
dengan tangannya, pertama kali tidak berhasil. setelah
menggunakan seluruh kekuatannya, akhirnya pintu itu
terbuka juga.
Dengan tidak memperdulikan didalamnya ada bahaya
atau tidak, Ho Kie lantas lompat masuk kedalam.
Keadaan dalam kamar itu sangat gelap, hawa demak
memasuki hidungnya. Dengan tidak menghiraukan itu
semua Ho Kie terus berjalan masuk.
Tiba-tiba kakinya membentur satu tubuh orang hingga
Ho Kie sangat terperanjat.
Ketika ia jongkok memeriksa, kiranya Jie Peng dalam
keadaan yang sangat mengenaskan tengah meringkuk
didalam kamar itu, kelihatannya sudah payah betul.
Ho Kie dengan rasa sangat terharu lalu memondong
tubuh Jie Peng. dibawa keluar dan diletakkan di atas
rumput.
Wajah Jie Peng sudah kotor penuh tanah matanya
kelihatan pada benggul, mungkin karena ia menangis setiap
hari dan malam.
Ho Kie sangat pilu menyaksikan keadaan si nona, saat
itu tidak bisa berkata apa-apa hanya air matanya yang
mengalir turun bercucuran.
Ketika air mata Ho Kie netes diwajah Jie Peng, nona itu
lantas membuka matanya tetapi setelah mengawasi Ho Kie
sejenak lalu pejamkan matanya pula.
Ho Kie lalu berkata dengan suara parau; “Adik Peng,
kau mendusinlah. Apa kau masih kenal aku? Aku adalah
Ho Kie ?”
Dengan pejamkan matanya Jie Peng berkata dengan
suara terputus-putus:
“Ho . . .Kie kau adalah, . . Ho Kie. .. bagaimana . . bisa
datang kesini?”
Ho Kie yang mendengar ia bisa bicara, hatinya sangat
girang, maka lantas menjawab, “Ya. aku adalah Ho Kie,
adik Peng, aku datang hendak menolong kau …”
“Kau . . Benarkah engko Ho Kie . . Mengapa . .kau . .
sudah tidak membenci aku lagi?”
“Adik Peng, aku bukan saja tidak benci padamu bahkan
aku suka padamu. Cinta padamu. Mendusinlah. bukalah
matamu untuk melihat aku.” Ho Kie menyerocos.
Jie Peng sudah kehabisan air matanya, maka ia cuma
bisa menghela rapas, kemudian berkata dengan suara
terputus-putus;
“Tetapi.. engko Ho Kie…kedatanganmu. . sudah
terlambat . aku.. aku.. sudah tidak ada harapan lagi. Cuma..
.sebelum… aku mati aku bisa . .melihat… kau lagi, aku . .
.sudah merasa puas….”
“Adik Peng, kau mendusinlah! Kau tidak boleh mati.
Aku akan menolong kau keluar dari sini, kau bisa sembuh.
Adik Peng, adik Feng!”‘ ia menggoyang-goyang tubuh
sinona.
Tetapi benar seperti apa yang dikatakan oleh Jie Peng,
Kedatangan Ho Kie sudah terlambat, sekalipun Ho kie
menjerit sampai pecah tenggorokannya atau menangis
sampai kering matanya juga percuma saja, sebab pada saat
itu Jie Peng sudah putus jiwanya.
Ho Kie memeluk jenazah Jie Peng sambil menangis
menggerung-gerung seperti anak kecil.
Pada saat itu Cit cie Sin ong dan lain-lainnya juga sudah
sampai disitu. Ketika mereka melihat Ho Kie memeluk
jenazahnya Jie Peng sambil menangis gegerungan mereka
juga pada mengucurkan air mata turut berduka atas
kematian nona yang berhati mulia itu.
Setelah diberi nasihat oleh Cit-cie Sin ong, Ho Kie
membuat lubang untuk mengubur jenazahnya Jie Peng,
sehabis itu Ho Kie seperti orang yang kalap telah membakar
pusat Hian kui kauw.
Sebentar saja pusat Hian kui kauw yang megah telah
menjadi abu dimakan si jago merah.
Ho Kie diantara berkobarnya api telah perdengarkan
ketawanya yang aneh, kemudian menghilang ditempat
gelap.
Cit cie Sin ong cuma bisa menghela napas sambil
berkata.
“Ooh asmara. Oleh karena soal asmara entah berapa
banyak pemuda dan pemudi yang menjadi korbannya,
Berapa banyak orang yang gagah dalam rimba persilatan
karena soal asmara telah hancur lebur nama baiknya. Ho
Kie dan Jie Peng juga lantaran asmara. Yang mati, tinggal
mati, tetapi yang hiduap kemana perginya. Ah! Manusia….”
Cit cie Sin ong sehabis menghela napas berulang-ulang
lantas mengajak orang-orangnya yang masih ada pulang
kebukit Sin-hong.
-T A M A T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s