DEWI WARA SRIKANDI MERAJUK

Keputren Madukara terasa sepi, berbeda dengan beberapa hari yang lalu sewaktu ada Dewi Wara Srikandi belajar memanah, kaputren Madukara terasa sumringah.

Terlihat Arjuna duduk melamun di taman di pinggir pohon beringin yang rindang setelah memarahi Semar beserta anak-anaknya. Dalam pikirnya andai saja para punakawannya nurut sama dia semua kejadian ini tidak akan terjadi. Namun sayang, Semar Badranaya matanya sudah tua sehingga salah menyampaikan pesan. Yang mestinya disampaikan ke Dewi Wara Srikandi malah di sampaikan pada Dewi Rarasati.

Terbayang wajah ayu Dewi Wara Srikandi, seorang putri perkasa yang kenes, rajin bekerja dan doyan ngomong sayang gak bisa masak, gara-gara sering di masakin sama emban pelayan kaputren. Namun demikian kekurangan tersebut tidak mengurangi rasa cinta Raden Arjuna terhadap Dewi Wara Srikandi. Bahkan saking cintanya, perasaannya tersebut tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Begitu juga dengan Srikandi yang rasa cintanya semakin mengebu-gebu setelah belajar memanah selama sebulan penuh dengan Raden Arjuna. Sentuhan tangan Arjuna yang sopan dan lemah lembut membuatnya merasa menjadi wanita seutuhnya. Apalagi rayuannya yang maut, menjadikannya gak bisa tidur.

Terbayang ucapan sang Dewi ketika itu:

Kakang jemput saya di cempala reja, pada hari ke enam sebelum bulan purnama ujar Dewi Wara Srikandi

Sedangkan Raden Arjuna hanya diam saja, tanpa komentar.

Melihat Arjuna yang diam saja, tanpa basa-basi lagi Dewi Wara Srikandi segera menaiki burung garuda dan melesat jauh ke awang-awang menuju negeri Cempalareja.

Arjuna yang seorang playboy, mengerti keinginan Dewi Wara Srikandi, namun dia sedang mempunyai pekerjaan yang belum beres, sehingga tidak segera menyusulnya.

Karuan saja Dewi Wara Srikandi semakin ketus dan mongsrang-mangsring gara-gara Arjuna tidak menyusulnya.

Sambil melihat-lihat suasana negara amarta dari atas angin, Dewi Wara Srikandi membuka Cupu Manik Astagina lalu mengirim pesan pada Raden Arjuna, yang isinya “JANGAN SUSUL SAYA SEKALIAN……………………..!!!!” dilihatnya lagi cupu maniknya, masih gak ada balasan dari Arjuna.

Dewi Wara Srikandipun semakin kesal, lalu dia kirimin sebuah icon emosi bergambar orang marah. Tapi dasar Arjuna masih tidak membalas pesan yang dikirim oleh Dewi Wara Srikandi. Sang Dewi pun tambah kesal.

Sepeninggal Dewi Wara Srikandi, Arjuna memberesakan semua pekerjaannya, Semar, Petruk dan Bagong serta punakawan lainnya digerakan untuk membereskan pekerjaan.

Namun pekerjaan nya banyak. Tambahan Semar tidak mau lembur, dia mau lembur kalau bayarannya naik.

Karena takut ada apa-apa dengan sang Dewi, Raden Arjunapun menaikan gaji lembur Semar beserta anak-anaknya sebanyak dua kali lipat.

Dasar Raden Arjuna lagi apes, walaupun sudah di lemburkan, pekerjaannya tetep tidak selesai pada hari ke 6 sebelum bulan purnama tapi molor selama seminggu dari jadwal yang telah ditentukan.

Kakang Semar, pekerjaan kita sudah beres. Walaupun telat, hari ini kita akan menjemput Dewi Wara Srikandi ke Cempalareja. Ajak anak-anak kakang Semar untuk menemaniku………… ujar Arjuna pada Semar

Siap…….. Raden!!!  jawab Semar

Setelah semuanya siap, Raden Arjuna mulai menaiki pedati menuju negeri Cempalareja.

Dan rombonganpun mulai bergerak mengikuti pedati Raden Arjuna.

Sementara itu Dewi Wara Srikandi ketar-ketir di Cempalareja. Takut terjadi apa-apa dengan Raden Arjuna, karena sudah seminggu Raden Arjuna tidak ada kabar beritanya. Mau menghubungi lewat cupu manik dia merasa gengsi, gak menghubungi gak bisa tidur serba salah ……………………

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pagi hari berikutnya, Raden Arjuna telah sampai ke negeri Cempalareja.

Rombonganpun disambut oleh para dayang negeri Cempalareja.

Gusti….gusti…………….Raden Arjuna datang!!!!! Ujar emban melapor kepada Dewi Wara Srikandi sambil tergopoh-gopoh.

Dewi Wara Srikandi yang sedari tadi duduk melamun meloncat kegirangan mendengar sang pujaannya Raden Arjuna telah datang ke Cempalareja untuk menemuinya. Dia segera bergegas keluar kamar menyongsong kedatangan lelaki impiannya……

Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang…………………………………..!!!! teriak Dewi Wara Srikandi menyambut kedatangan Arjuna.

Arjuna pun dipeluknya dengan erat. Seperti tidak akan dilepaskan lagi.

Arjuna pun membalas memeluk dan mencium sang Dewi, sambil membisikan kata-kata: Dewiku, walau kamu belum mandi dan masih pakai baju tidur, kamu tetap mempesonaku…………….!!!

Ah……. Kakang rajuk Dewi Wara Srikandi. Sambil mencubit pinggang Raden Arjuna.

Di cubit seperti itu Arjuna menghindar sambil tertawa cekikikan. Terobati sudah rasa kangennya pada sang Dewi yang tak terucapkan.

Sesampainya di dalam kaputren sang Dewi menceritakan perjalanannya kepada sang pujaan dan menyerahkan sebuah cindramata berupa “siger” berwarna merah kepada Arjuna.

Kakang, ini ada oleh-oleh dari negeri tetangga, mudah-mudahan cocok buat kakang …….. ujar sang Dewi sambil menggelayut memeluk leher sang Arjuna.

Dewiku, kedatangan mu ke negeri Cempalareja dengan selamat sudah merupakan hadiah teristimewa bagi kakang…………………!!! Jawab Arjuna sambil di kecupnya kening sang Dewi.

Karuan saja sang Dewi tambah klepek-klepek mendengar rayuan Raden Arjuna sang pujaan hatinya.

Kini kebahagiaan mereka tak bisa digambarkan dengan kata-kata, karena tiap gerakan badan, sentuhan tangan dan pandangan mata penuh dengan sejuta makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s